Fanfiction—KaiHun.
Cast : Jongin!GS, Sehun
Genre : Romance, Drama
Summary : Jongin terlahir dari keluarga kaya raya, namun hal itu yang membuat hidupnya semakin sulit, karena dia tidak seperti anggota keluarganya yang lain. Tidak seperti kedua saudaranya, Jongin bukanlah gadis yang cantik—tidak jelek juga kok, dia tidak memiliki nilai akademik yang patut dipamerkan atau keahlian yang membuat dia pantas diperhitungkan. Jongin benar-benar tidak memiliki sesuatu yang spesial. Hidup Jongin jungkir balik hanya dalam semalam, hidupnya berubah. Pangeran yang selalu dia khayalkan bukanlah sekedar khayalan lagi.
Chapter One
Sebuah kasur king size yang dipenuhi dengan boneka-boneka binatang terletak didalam ruangan yang sangat besar, kamar seorang gadis remaja, terlihat dari dekorasi manis disetiap sentinya. Tirainya yang berwarna baby pink, meja rias yang dipenuhi berbagai macam peralatan perang wanita, dan juga bra yang tergeletak dipinggir kasur tersebut. Permukaan kasur tersebut bergerak perlahan, menandakan ada seseorang dibawah selimut tebal itu. Sebuah tangan menarik ujung selimut menutupi seluruh permukaan kulit yang terekspos udara dingin diruangan bersuhu sangat dingin, mencari kehangatan yang harus ia tinggalkan beberapa menit lagi.
Jongin, gadis menjelang enam belas tahun yang berusaha melanjutkan mimpinya sebelum beberapa menit lagi alarm paginya mengusik kebahagian yang hanya ia dapatkan dalam tidur. Bibirnya menyunggingkan senyuman yang sangat mencerminkan betapa hatinya bahagia, senyum yang jarang ia perlihatkan ketika ia terjaga seutuhnya.
Kriingggggg….
Please, lima menit lagi..
"…ngan berlari terlalu cepat! Taman itu tidak akan kemana-mana!"
Biarkan aku melihat taman itu bersamanya sejenak..
"….terlalu bersemangat? Matahari terbenam masih satu jam lagi! Pelankan larimu Jongin!"
Kriiinnnggg….
Hah, see you later my Prince, wait for me tonight..
Jongin menyibakkan selimut yang tadi ia tarik untuk menutupi seluruh permukaan tubuhnya. Dingin. Itulah yang pertama kali ia rasakan, bukan hanya kulitnya yang tersengat hawa dingin bulan Desember, namun seluruh sel-sel ditubuhnya seolah kehilangan kehangatan yang beberapa detik lalu masih menyelimutinya. Kehangatan itu hilang dengan sangat cepat, secepat ketika ia membuka kelopak matanya, menatap langit-langit kamarnya yang membawa Kai menuju dunia nyata yang pahit untuk gadis enam belas tahun.
Kriiingggg….
Tangan Jongin berusaha meraih alarm ponselnya yang masih berdering mengesalkan. Jongin sengaja memilih nada dering untuk alarmnya nada yang paling memekakkan dan norak, agar ia segera bangun alasannya. Itu berhasil. Jongin hampir tidak pernah menekan snooze button ketika bunyi itu mulai menariknya dari dunia mimpi.
Bibir Jongin masih menyungginggkan senyuman. Mimpinya kali ini benar-benar indah, ia bersama dengan seorang laki-laki berlari menuju taman disebuah bukit yang dipenuhi bunga-bunga liar, menanti matahari terbenam. Hanya itu bagian dari mimpinya yang masih ia ingat—Jongin sangat kesal dengan fakta bahwa manusia akan melupakan setengah mimpinya dalam lima menit, padahal mimpi-mimpinya selalu bisa memberikan kehangatan yang selalu ia cari. Apakah mimpinya kali ini berdurasi pendek ya? Kenapa ia hanya ingat sepersekian bagian dari mimpinya? Tak apalah, yang penting beberapa detik itu akan terus memberikan alasan untuk Kai tetap bersemangat menjalani hari ini.
Jongin duduk di tempat tidurnya, hal pertama yang ia lihat adalah pantulan dirinya. Rambut ikal sebahu yang super berantakan, wajah tidak menarik—menurutnya—dengan mata yang tidak memikat, hidung tenggelam, bibir yang terlalu tebal, dan pipi tembam. Tak lebih dari sedetik Jongin melihat pantulannya, ia langsung mengalihkan pandangannya. Kakinya menapak diatas karpet bulu halus, dengan berat melangkah menuju kamar mandi, bersiap untuk menjalani hari.
Itulah Jongin, sering merasa insecure dan kurang percaya diri dalam banyak hal. Hal yang biasa dialami gadis enam belas tahun atau semua gadis berbagai umur atau semua orang karena pada dasarnya semua orang memiliki insecurity. Namun tingkat insecurity dalam diri Jongin sangatlah tinggi, ditambah pula dengan kenyataan bahwa diantara kedua saudara-saudaranya ia terlahir dengan fisik yang tidak semenarik mereka. Jongin juga tidak berprestasi dan aktif dalam organisasi seperti kakak laki-lakinya, Kris. Atau ahli memasak dan part-time model, plus kemampuan bersosialisasi yang luar biasa seperti kakak perempuannya, Luhan.
Jongin tidak memiliki semua itu, tidak mendapatkan gen cantik seperti Luhan, otak cemerlang atau satu pun bakat non-akademik. Jongin pernah mencoba untuk mencoba beberapa jenis cabang olahraga tapi tubuhnya bersikeras bahwa olahraga bukanlah bidangnya. Jongin selalu jatuh sakit ketika terlalu banyak melakukan aktifitas fisik. Menjahit? Belum pernah ada yang memberikan pujian dari semua baju-baju yang ia buat. Memasak? Hasilnya tidak jauh berbeda dengan hasil jahitannya. Menggambar? Kai menyerah dalam dua bulan setelah melihat ia tidak melakukan progres sama sekali, tidak seperti teman-temannya yang langsung terlihat kemajuannya hanya dalam beberapa minggu.
Ayahnya tampan, sangat tampan malah untuk pria memasuki kepala lima. Otak cemerlang Kris jelas keturunan dari ayahnya yang sangat ahli dalam bisnis. Perusahannya tersebar diseluruh Asia, penghasilannya bisa menghidupi seluruh masyarakat di kota kecil. Ibunya? Ibunya adalah pemenang kontes kecantikan tingkat nasional semasa muda, dan menggunakan gelarnya untuk mengkampanyekan kesejahteraan anak-anak cacat. Saat ini, Nyonya Kim memiliki organisasi peduli sosial yang luas dan membuka berbagai butik pakaian yang sebagian besar hasilnya diberikan untuk keperluan organisasi tersebut.
Di ulang tahunnya yang kelima belas tahun lalu, Jongin mulai menerima kenyataan bahwa ia terlahir bukan untuk melakukan hal berarti di dunia ini. Ia berpikir untuk berhenti mencari apa yang membuatnya spesial dari orang lain, bahkan untuk mencapai standar lulus nilai MIPA yang ditentukan sekolahnya, Jongin sudah kerepotan. Jongin hanya akan menerima apapun yang dunia berikan padanya, mungkin jika dewasa nanti ia akan menjadi pegawai kantoran biasa lalu menikah dengan siapapun yang menyukainya.
Pernah terbersit dalam benak Jongin untuk menjalankan salah satu bisnis ayah atau ibunya, tapi Jongin tidak ingin merusak citra keluarga mereka yang sangat terpandang. Muncul di masyarakat membawa nama keluarga Kim adalah hal yang membanggakan dan juga beban yang sangat berat. Jongin merasa ia tidak memenuhi segala kriteria untuk melanjutkan apa yang kedua orang tuanya lakukan, sehingga ia berpikir untuk hidup sederhana menggunakan segala kemampuan yang ia punya begitu ia lulus sekolah.
"Selamat pagi Nona Jongin." Sapa maid yang menunggu Jongin didepan pintu kamarnya. Pukul 6.30. Jongin selalu keluar kamarnya pukul 6.30 dari hari Senin hingga Jumat untuk sarapan dan berangkat sekolah. Hari ini hari Jumat, maid sudah siap menunggu perintah Jongin—yang jarang ia berikan—untuk dilaksanakan pagi itu, misalkan menyiapkan segala sesuatu untuk harinya.
"Pagi Minah." Jongin tersenyum.
"Jongin, bisa kah aku menggunakan Song Ahjussi hari ini? Tolong ya, aku harus sampai dikampusku setengah jam lagi. Kau pakai mobilku saja ya? Atau dengan Kyungsoo?" Luhan setengah berteriak saat Jongin sudah setengah jalan menuruni tangga. Rambutnya masih berantakan dan make-upnya setengah selesai.
"Santai saja, aku memang hari ini berangkat dengan Kyungsoo kok."
"Ah! Kau memang adik paling baik sedunia, akan aku belikan pizza dan bubble tea nanti ya! I love you Jongin!" Blam. Pintu kamar Luhan tertutup lagi. Jongin tersenyum kecil, memang Jongin sering merasa iri dengan Luhan dan Kris, tapi ia tidak memiliki alasan untuk menjadi adik yang menyebalkan bagi mereka.
Meja ruang makan sudah dipenuhi dengan berbagai jenis makanan kesukaan keluarga Kim. Jongin adalah orang pertama yang duduk dimeja makan setiap pagi, disusul ayahnya, lalu ibunya yang keluar dari dapur membawakan sejumlah makanan lagi, Kris dan yang terakhir Luhan. Benar saja, Tuan Kim muncul begitu Jongin meletakkan pantatnya di kursi.
"Pagi Ayah!" Tuan Kim mencium puncak kepalanya.
"Pagi Princess."
"Ayah! Berhenti memanggilku princess!" Jongin cemberut.
"Kau selamanya princess ayah." kata Tuan Kim sambil meneguk jus apel, membuat Jongin tambah cemberut, namun dalam hatinya Jongin senang, memiliki ayah yang selalu berusaha semampunya untuk membuat anak-anaknya adalah hal yang paling berharga didunia.
Kris berlari menuruni tangga dan hal pertama yang ia lakukan adalah mencubit pipi Jongin, mengambil setangkup roti dan berlari keluar. Belum sempat Jongin berteriak marah kepada Kris, ia sudah menghilang. Jongin hanya mengusap pipinya yang sakit sambil mengomel kecil.
"Ibu, Kris Oppa tidak mau berhenti menggangguku." Sungut Jongin begitu ibunya muncul dari dapur membawakan sepiring omelet. Ibunya mengelus sayang kepala Jongin, tidak tahu harus berkata apa.
"Sudahlah, itu tandanya Kris sayang padamu." Ayahnya tersenyum.
"Tapi dia tidak pernah mengganggu Luhan Unnie. Kenapa cuma aku? Nanti pipiku makin besar, dicubit setiap hari." Jongin menusuk-nusuk rotinya dengan kesal, melampiaskannya pada roti yang tak bersalah.
Kedatangan Luhan menghebohkan ruang makan, penampilannya tanpa cela diikuti beberapa maid yang membawakan berbagai macam perlengkapan show-nya hari ini. Ya, akhir tahun ini Kris dan Luhan sangat sibuk. Kris menjadi panitia bazaar fashion and beauty disebuah convention hall besar selama dua minggu, Luhan adalah salah model catwalk untuk bazaar tersebut, dimana ia juga sedang dikontrak selama setahun untuk menjadi model sebuah brand fashion baru yang membuka booth di bazaar tersebut.
"Ayah, Ibu, aku berangkat ya. Nanti aku akan pulang terlambat. Aku akan pergi dengan Kyungsoo jalan-jalan." Jongin mencium pipi ayah dan ibunya. Tuan dan Nyonya Kim mengiyakan perkataan putri bungsunya, ditambah berbagai pesan untuk berhati-hati dan juga menjaga diri dari pria-pria yang menggodanya.
Seperti ada saja Bu, batin Jongin.
Kelas sudah ramai begitu Jongin dan Kyungsoo masuk. Sebagian anak menyalin PR, ada yang bergosip, tidur, membaca komik, dan pacaran. Jongin dan Kyungsoo duduk diam bersebelahan, diam. Keduanya bukan kehabisan pembicaraan, kesunyian diantara mereka sudah direncanakan sebelumnya, hari ini Kyungsoo sedang berusaha tampil berbeda. Jika biasanya Kyungsoo berpenampilan ajaib—rambutnya terkadang merah muda, ungu, kuning—hari ini rambut Kyungsoo coklat tua, warna asli rambutnya. Biasanya pula, Kyungsoo tidak pernah berhenti berbicara, selalu ada bahan untuk dibicarakan hingga terkadang Jongin menghilang secara misterius karena lelah dengan ocehan Kyungsoo.
"Wah, rambutmu sudah waras ya Kyungsoo." sebuah suara dari belakang mereka. Wajah Kyungsoo terlihat berubah warna, Jongin menahan tawanya. Rencana mereka berhasil, Taemin—cowok yang Kyungsoo suka memberi respon terhadap perubahan Kyungsoo. Gadis remaja kasmaran itu sendiri sedang berusaha menahan nada bicaranya, dan sikap anggunnya yang sudah berlangsung selama sepuluh menit.
"Apasih Tae, aku ingin tampil beda." Kyungsoo berkata kalem. Sangat tidak Kyungsoo. Saat ini Jongin harus menggigit bibirnya untuk mencegah tawanya keluar, Taemin menyipitkan matanya dan mulutnya perlahan menganga. Terlihat jelas kekagetan diwajah Taemin.
"Kau tak apa Kyungsoo? Apa kamu sakit parah dan akan meninggal?" Taemin bertanya sambil menyentuh dahi Kyungsoo.
"YA! Kau ingin aku mati?" Lady-like Kyungsoo turned off already. Kyungsoo sudah berusaha menjambak rambut Taemin dan meneriakan berbagai umpatan kepadanya. Jongin akhirnya bisa tertawa puas, sungguh menghibur tingkah Kyungsoo saat ini. Ah, seharusnya masa remaja memang dipenuhi kejadian-kejadian manis seperti itu, mungkin hal-hal manis bukan untukku…
"JONGIN! ADA YANG NYARIIN TUH!" teriak seseorang. Lamunan Jongin buyar, melihat sosok tinggi tegap membelakangi jendela kelasnya. Minho, cowok super ganteng kakak kelas Jongin. Wah, cowok ganteng mencari Jongin?
"Ada apa?" tanya Jongin begitu berdiri dihadapan Minho. Hati Jongin berdebar sangat kencang. Tidak, Jongin tidak naksir Minho. Hanya saja Minho sangat tampan, setiap cewek normal akan berdebar dua kali lebih cepat jika berhadapan dengan Minho bahkan yang sudah memiliki pacar. Dan ini adalah Jongin, sangat jarang ia memiliki kesempatan berbicara dengan lawan jenisnya, dan lawannya kali ini adalah cowok yang sangat ganteng.
"Uhm, sebenarnya…" Minho menggaruk belakang kepalanya. "Aku ingin minta nomor ponsel kakakmu, Luhan Noona." Minho menatap Jongin malu-malu. Belum sempat Jongin mengucapkan sepatah kata…
"Aku pertama kali bertemu dengan Luhan Noona kemarin lusa saat aku sedang latihan band untuk bazaar, dan aku langsung menyukainya. Aku bersumpah aku tidak pernah mempermainkan perasaan perempuan, aku juga sedang tidak berkencan dengan sia…."
"Baiklah, ini nomor ponsel Luhan Unnie." Jongin mengeluarkan ponsel dari saku roknya. Minho tampak sangat kaget, namun segera menguasai diri dan juga mengeluarkan ponselnya. Begitu Minho mengucapkan terima kasih yang seakan tanpa akhir, ia akhirnya pergi meninggalkan kelas Jongin dengan setengah menari setengah berlari dan juga terkadang melompat-lompat. Jongin menatap punggung Minho yang mulai tidak tampak, terhalang siswa-siswi yang berlalu-lalang.
Setidaknya aku terlihat cool hari ini, tidak tampak seperti cewek super culun yang gagap menghadapi cowok ganteng.. Kapan ya ada cowok yang menar-nari seperti orang gila hanya karena nomor ponselku? Kapan ya ada cowok yang mendatangiku bukan untuk menanyakan Luhan Unnie ataupun Kyungsoo?
Jongin dan Kyungsoo kini berjalan menyusuri pertokoan elit di kawasan Gangnam. Tangan mereka sudah menggenggam berbagai macam belanjaan dengan merk-merk ternama. Jongin membeli tas jinjing karena milik sebelumnya sudah rusak, juga beberapa pakaian baru atas rayuan Kyungsoo—"Ini sedang diskon Jong, sangat sayang tidak membelinya! Pakaian yang kau pakai hanya itu-itu saja setiap kita keluar bersama.", "Kau harus beli baju yang ini supaya aku bisa mendapatkan diskon, oke?". Jangan tanya berapa banyak belanjaan Kyungsoo, karena Jongin ikut membawakan beberapa kantung belanjaannya.
"Hey, bagaimana jika kita istirahat sejenak? Kau ingin makan apa?" Kyungsoo mengusulkan untuk beristirahat yang disambut Jongin dengan anggukan penuh semangat. Kini mereka sudah memasuki restoran mewah Italia kesukaan Kyungsoo. Kehadiran mereka disambut sangat hangat oleh pelayan-pelayannya begitu melihat pelanggan setia mereka.
Tempat seperti ini adalah salah satu tempat yang enggan Jongin datangi. Jongin merasa sangat kontras dengan segala sesuatunya, merasa tidak cocok berada ditempat yang dipenuhi berbagai macam orang dengan penampilan kelas satu dan hal yang paling dibenci Jongin adalah…
"Kim Jongin?" suara wanita yang lembut memanggil Jongin kurang dari lima menit Jongin memasuki restoran mewah tersebut. Seorang wanita setengah baya dengan gaun selutut berwarna biru muda tanpa lengan menatap Jongin terkejut, sedangkan Jongin hanya memasang wajah tanpa ekspresi. Benarkan, ini terjadi lagi…
"Aku Bibi Im Yoona! Ingat? Bibi rekan kerja ibumu di acara amal beberapa bulan lalu? Astaga, kau ini masih remaja sudah pikun." Im Yoona memeluk Jongin. Ah, ya aku ingat, yang membawa seratus buket bunga sangat cantik untuk diberikan kepada gadis-gadis kecil dirumah sakit.
"Aku tidak lupa Bibi, bagaimana aku lupa Bibi membawakanku banyak bunga-bunga cantik untukku." Ia juga berusaha mengajarkan aku untuk merangkai bunga-bunga dalam keranjang, yang berakhir memalukan..
"Ah, tidak juga. Bagaimana kabar ibumu? Aku dengan ia sedang sibuk dengan penjualan kerajinan tangan hasil anak-anak luar biasa ya?" Jongin mengangguk pelan, kepalanya masih dipenuhi hasil rangkaian bunganya. Membuatnya tidak ingin memandang Im Yoona.
"Bagaimana Kris dan Luhan? Wah, sekarang mereka jadi semakin tampan dan cantik ya. Kris sebentar lagi akan lulus kuliah kan? Tapi dia masih bisa mengerjakan berbagai macam kegiatan organisasi.. Luhan juga, Bibi dengar dia banyak dikontak oleh agensi modelling ya? Tapi ditolak semua oleh Luhan, memang ya, Luhan itu tidak jauh beda dengan ibunya, seleranya sangat tinggi…" Kalimat selanjutnya terasa seperti dengungan di telinga Jongin. Pikirannya seolah mati, tidak berdaya. Rasa yang sama ketika ia dihadapkan dengan orang-orang disekitarnya, ia tidak berdaya, Jongin selalu kalah dibandingkan dengan mereka semua.
"…ngin? Kau ingin pesan apa?" suara Kyungsoo mengembalikan Jongin ke alam nyata. Wajah Kyungsoo jelas menunjukkan ke khawatiran, namun begitu melihat senyum Jongin, ia ikut tersenyum cerah.
"Uhm, yang terakhir kali kau pesankan untukku itu apa?"
"Ah ya, baiklah."
Setengah jam kemudian mereka sudah mulai memakan pasta pesanan mereka, sesekali diselingi obrolan ringan. Kyungsoo mengajak Jongin untuk manicure dan pedicure serta hair spa, yang langsung disetujui Jongin. Hari ini Jongin memang ingin menghabiskan waktunya untuk melakukan hal-hal yang cewek remaja biasa lakukan. Setelah sekian lama berkutat dengan ujian kenaikan semester, Jongin ingin menghilangkan stress. Meskipun Jongin mengakui jika ia bukanlah gadis secantik ibu dan kakaknya, bukan berarti Jongin tidak peduli dengan penampilannya. Ia berusaha semampu mungkin untuk menjaga penampilannya tetap bersih dan rapi, serta tidak mempermalukan nama baik keluarganya.
Kali ini, Jongin dan Kyungsoo sudah kembali melintasi pertokoan dengan belanjaan mereka yang sudah mereka letakkan didalam mobil Kyungsoo. Sekarang mereka ingin makan dessert sebelum mengakhiri sore mereka yang panjang. Jongin sudah menghabiskan gelas kedua bubble tea-nya, sedangkan Kyungsoo sedang memakan es krimnya yang kedua tapi mereka belum bisa memutuskan cafe apa yang akan mereka datangi.
"Kyungsoo, kita tidak boleh membeli apapun selain cake, oke? Kita harus menjaga berat badan untuk acara-acara akhir tahun. Kau harus mencegahku membeli makanan kecil apapun, oke?" Jongin terdengar gugup saat melihat estalase kafe-kafe yang memamerkan menu-menu mereka.
"Iya, kau juga harus melakukan hal yang sama untukku." ucap Kyungsoo sambil memandangi es krimnya, berpikir untuk membuangnya karena ia merasa bersalah telah makan begitu banyak hari ini.
Bruukkk!
Jongin tidak melihat seseorang berlari kearahnya, dan sedetik kemudian Jongin sudah tergeletak ditanah dengan area dada dan perut yang terasa sangat dingin. Disebelahnya, Jongin melihat pemuda tampan dengan wajah berlumuran eskrim warna-warni. Jongin berusaha duduk tapi lengan kanannya terasa sakit.
"Aw, aw.." Jongin kembali berusaha duduk.
"Jongin! Jongin! Kau tak apa? Apa perlu aku panggilkan ambulan?" Kyungsoo membantu Jongin untuk berdiri dan mengecek keadaan Jongin dengan sedikit berlebihan. Begitu Jongin sudah berdiri, ia baru menyadari pemuda tampan tersebut juga telah berdiri disebelahnya, sebagian eskrim diwajahnya sudah menghilang, dan ia juga terlihat khawatir dengan keadaan Jongin.
"Kau tak apa? Aku benar-benar minta maaf, aku berlari dan tidak melihatmu." wajah pemuda itu penuh penyesalan. Kyungsoo mendelik kesal kepadanya.
"Ah, aku tidak apa-apa. Aku juga tidak memperhatikan jalan, apa kau ada yang terluka?" Jongin juga merasa bersalah karena ia terlalu sibuk memperhatikan makanan-makanan dijalan. Kyungsoo makin mendelik kesal, kali ini kepada Jongin.
"Aku tidak apa. Apa benar kau tak apa-apa? Lenganmu pasti sakit sekali, apa perlu kita ke rumah sakit? Dan baju seragammu juga jadi kotor…"
"Sungguh aku tidak apa-apa." Jongin meyakinkan si pemuda tampan.
"Ah, setidaknya pakailah ini untuk menutupi bekas eskrim itu." Si pemuda mengeluarkan kemeja flanel berwarna abu-abu dari dalam tas ranselnya.
"Tidak, tidak usah. Aku tidak apa-apa." Jongin kembali menolak bantuannya.
"Tolong paling tidak terima ini, sebagai permohonan maafku." Ia masih bersikeras memberikan kemejanya, yang akhirnya Jongin terima. Setelah meminta maaf sekali lagi, si pemuda tampan berlari meninggalkan Jongin dan Kyungsoo. Dari kejauhan, Jongin melihat si pemuda tampan menghampiri seseorang yang tingginya hampir menyamai si pemuda tampan. Ia mengenakan jaket hijau tua dan celana jeans hitam. Jongin memang tidak bisa melihat jelas wajahnya, tapi ia yakin orang yang menunggu si pemuda tampan dari kejauhan sama tampannya dengan orang yang barusan mengotori seragam sekolahnya.
"Wah, untung saja rambutmu tidak kenapa-napa." Ujar Kyungsoo begitu si pemuda tampan meninggalkan mereka.
"Kau lebih memikirkan nasib rambutku?" Jongin memicingkan matanya, Kyungsoo hanya tersenyum tanpa dosa. Lengannya semakin nyeri, sehingga mereka memutuskan untuk masuk ke kafe terdekat. Kyungsoo memesankan dessert untuk mereka dan Jongin ke kamar mandi, berusaha membersihkan dirinya sebisa mungkin.
Astaga, ternyata gara-gara eskrim itu bajuku jadi transparant! Pantas saja cowok tadi ngotot memberikan kemejanya. Dadaku telihat jelas, ya ampun. Memalukan sekali, kenapa Kyungsoo tidak bilang padaku? Ah, anak itu hanya memikirkan rambutku saja sejak keluar dari salon gara-gara hair spa 100.000 won. Aduh, malunyaaaaa. Cowok tadi tampan lagi, duhhhh!
"Nona Jongin, Nyonya dan Tuan menunggu Nona di ruang tengah." Jongin menoleh kearah pintu kamarnya, dan mengiyakan perkataan maid barusan. Ditutupnya buku yang tengah ia baca dan segera keluar dari kamarnya menuju ruang tengah.
"Ada apa Bu? Yah?" Jongin duduk diantara ayah dan ibunya. Jongin adalah anak bungsu, sangat wajar jika ia lebih manja dengan kedua orang tuanya dibanding Kris dan Luhan. Nyonya Kim mengelus-elus rambut Jongin.
"Kau habis dari salon?" Tanya Nyonya Kim, menghiraukan pertanyaan anaknya. Jongin hanya mengangguk.
"Ibu dan Ayah merindukanmu." Sang ibu berkata pelan.
"Merindukanku? Ih, apa sih Bu, setiap hari kan kita ketemu." Jongin meringis geli mendengar perkataan ibunya. Tuan Kim tertawa mendengar ucapan anak bungsunya.
"Tapi kan Ibu sudah lama tidak peluk-peluk kamu." Nyonya Kim mulai mencium-cium pipi Jongin.
"Ih, Ibu kenapa sih? Ibu dan Ayah mau pergi yang lama ya?"
"Enggak kok, Ayah dan Ibu cuma pengen sama kamu aja. Kamu sebentar lagi kan naik kelas 3, pasti bakal sibuk banget kan?" kini ayahnya ikut bicara. Jongin mengangguk setuju, memang sekarang Jongin jarang menghabiskan waktu dengan orang tuanya. Sekolah benar-benar menyita waktunya beberapa bulan terakhir.
"Jongin, nanti pesta Natal tahunan kantor Ayah, kamu datangkan?" Jongin terdiam sejenak. Sudah dua tahun terakhir Jongin selalu beralasan untuk menghidar dari acara semacam ini. Benar-benar deh, untuk apa sih mengadakan acara yang hanya menghabiskan biaya sebesar itu hanya dalam beberapa jam? Belum lagi orang-orang yang datang ke acara itu pasti menghabiskan biaya yang banyak pula untuk pakaian, perhiasan dan riasan.
"Iya Ayah, aku akan datang." Jongin memutuskan untuk datang tahun ini, ia merasa sangat bersalah karena ia jarang menghabiskan waktunya dengan keluarga. Selain itu, Jongin tahu ayah dan ibunya sudah cukup merasa kecewa selama dua tahun terakhir dengan absennya Jongin dari acara puncak tahunan kantor ayahnya.
Jongin menghabiskan sisa malam dengan mengobrol dengan Nyonya dan Tuan Kim. Ia menceritakan kejadian-kejadian disekolahnya, teman-temannya, dan berbagai hal sederhana yang ia alami. Jongin selalu menghindari pembicaraan rumit mengenai masa depannya, Jongin takut jika hasil dari pembicaraan tersebut tidak memenuhi harapan orang tuanya.
"Yah, bagaimana dengan Jongin?" Nyonya Kim menaikkan selimut menutupi bahunya. Kini Tuan dan Nyonya Kim sudah berada dikamar mereka, bersiap-siap untuk mengakhiri hari mereka.
"Apanya yang bagaimana? Ia akan baik-baik saja, ia adalah seorang Kim." Tuan Kim memeluk istrinya yang berbaring disebelahnya, berusaha menenangkannya.
"Apakah kau yakin membiarkan dia seperti ini adalah hal terbaik? Aku benar-benar sedih, juga khawatir…" Nyonya Kim tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.
"Jongin akan menjadi gadis terhebat jika ia mampu melewati ini semua. Ini adalah bagian dari fase anak remaja, kita hanya perlu mengarahkannya. Aku percaya dia akan baik-baik saja, dia adalah seorang Kim." Tuan Kim mengeratkan pelukannya. Istrinya mengangguk pelan, dan mereka segera terlelap. Seperti pada umumnya orang tua, Tuan dan Nyonya Kim merasa khawatir dengan sikap anak bungsunya yang berubah menjadi lebih tertutup dan menjauh. Mereka mengerti alasan perubahan sikap anaknya, namun itu adalah hal yang harus Kim Jongin hadapi tanpa campur tangan siapapun. Menghadapi rasa takutnya sendiri, menemukan kekuatannya sendiri.
Dikamarnya, Jongin bersiap-siap untuk tidur. Hatinya selalu lebih ringan disaat-saat seperti ini, ketika harinya akan berakhir, ketika ia sudah memakai piyamanya, dibawah selimut tebalnya dan pikirannya meninggalkan dunia nyata. Senyumnya semakin mengembang seiring matanya mulai memberat. Jongin berdoa semoga malam ini ia ditemukan dengan pangerannya, ia tidak tahu kurang dari dua puluh empat jam pangeran yang biasa ia impikan akan hadir tidak hanya dalam mimpinya.
