Fanfiction—KaiHun.

Cast : Jongin!GS, Sehun

Genre : Romance, Drama

Summary : Jongin terlahir dari keluarga kaya raya, namun hal itu yang membuat hidupnya semakin sulit, karena dia tidak seperti anggota keluarganya yang lain. Tidak seperti kedua saudaranya, Jongin bukanlah gadis yang cantik—tidak jelek juga kok, dia tidak memiliki nilai akademik yang patut dipamerkan atau keahlian yang membuat dia pantas diperhitungkan. Jongin benar-benar tidak memiliki sesuatu yang spesial. Hidup Jongin jungkir balik hanya dalam semalam, hidupnya berubah. Pangeran yang selalu dia khayalkan bukanlah sekedar khayalan lagi.

Chapter Two

Sabtu pagi ini Jongin tidak bisa tidur dengan nyenyak seperti Sabtu-Sabtu yang lainnya. Luhan sudah menarik-narik tangannya pukul 6 pagi, mengatakan sesuatu tentang sepatu dan rambut keriting. Dua hal itu cukup mengingatkan Jongin dengan hari besar perusahaan ayahnya.

"Jong, sepuluh menit kau tidak berada dikamarku aku akan membakar seluruh koleksi komikmu." Blam. Pintu kamar Jongin tertutup lagi.

Agh, acaranya masih dua belas jam lagi. Orang menikah saja tidak perlu bersiap-siap selama dua belas jam kan? Walaupun aku belum pernah menikah tapi aku tahu pasti tentang hal itu. Hah, gara-gara mimpi menikah sih aku melantur begini..

Jongin tidak khawatir dengan ancaman Luhan, jadi ia masih tergeletak diatas kasurnya, berusaha mengingat-ingat mimpinya. Gaun pernikahan, itu yang ia ingat. Lalu ada Kyungsoo yang meloncat-loncat kesenangan, dan Luhan yang menatap iri akan kecantikannya hari itu. Hanya di dalam mimpi Luhan Unnie iri dengan kecantikanku, batin Jongin sebelum melirik kaca besar dikamarnya. Jongin pun melangkah ke kamar mandi dengan hati yang pahit menerima kenyataan.

"Jong, tahun ini kita bakal pakai warna putih."

"Kenapa warna putih? Itu bikin aku…." …kelihatan makin kumal.

"Apa?"

"Nggak papa."

"Percaya padaku, ini akan terlihat sangat cantik untukmu."

"Unnie, aku selalu percaya padamu, apa rambutku akan keriting hari ini?"

Luhan menghentikan kegiatannya membongkar laci-laci meja riasnya, keningnya berkerut. "Kau ingin rambutmu keriting?"

"Tentu saja tidak, kau sendiri yang bilang tadi waktu membangunkanku!"

Tawa Luhan meledak dan membuat Jongin kesal. Ia sadar jika kesadarannya tadi pagi belum penuh dan bayangan ia dengan rambut keriting membuatnya ikut tertawa bersama Luhan. Hampir tiga jam mereka memilih jenis make-up dan model rambut untuk malam ini. Bagi Jongin menghabiskan waktu berbincang dengan Luhan adalah waktu yang sangat menyenangkan, cowok tampan, make-up, model pakaian terbaru hingga masalah sekolah Jongin dan kuliah Luhan.

Obrolan mereka terhenti begitu pintu kamar Luhan terbuka. Sebuah kepala muncul dari celah pintu, kepala yang dihiasi wajah tampan namun kali ini wajah tampan itu menampilkan senyum mengesalkan. Sangat mengesalkan. Kris.

"Mau apa kau?" Luhan melempar bantalnya kearah Kris, yang dengan mudah Kris hindari. Senyum menyebalkan Kris semakin lebar. Jongin juga tersenyum lebar, ia sangat menyukai hal ini. Kris yang mencoba mengganggu Luhan dan Luhan yang akan marah dan mengomel sampai Kris akhirnya memberi Luhan makanan yang ia inginkan. Bukan yang Luhan inginkan, tapi yang Jongin inginkan dan Luhan akan selalu mengiyakannya lalu Kris akan membelikannya. Kris dan Luhan memang terlalu menyayangi adik kecil mereka.

"Tidak. Wah, majalah porno." ujar Kris begitu ia mendudukkan dirinya di kasur Luhan. Matanya langsung tertuju pada majalah wanita yang sedang menampilkan halaman wanita-wanita mengenakan bikini seksi.

"Ya! Hal pertama yang langsung menarik perhatianmu majalah seperti ini? Ckck, dasar mesum!" Luhan menjauhkan majalahnya dari jangkauan Kris.

"Kalian pasti sedang membicarakan jenis bra kan?" Kris tersenyum mesum.

"Oppa, kau benar-benar menjijikkan. Dari mana kau tahu hal-hal seperti itu Oppa?" Jongin menjauhkan posisi duduknya dari Kris.

"Tao selalu berbicara hal seperti itu dengan teman-teman ceweknya, bra, lalu lipstick, dan..dan…uhm, hal-hal seperti itu."

Jongin dan Luhan memutar bola mata mereka. Kris dan pacar manjanya, Tao, memang pasangan yang serasi. Kris sebagai lelaki normal dan juga sangat mesum, memiliki pacar manja dan tidak kalah mesumnya. Berkali-kali Jongin tidak sengaja memergoki mereka sedang bercumbu di kamar Kris saat Tuan dan Nyonya Kim sedang keluar kota.

"Oppa, kau harus mengurangi frekuensi bercintamu dengan Tao. Ayah akan menghajarmu jika kau menghamili Tao diluar nikah." Luhan memperingatkan.

"Aku selalu pakai pengaman Han. Dan Tao juga selalu minum pilnya."

"Pil itu membuat kandungan kering, Tao akan sulit punya anak nanti."

"Dari mana kau tahu? Kau minum juga?" Kris bertanya lugu.

Wajah Luhan berubah warna menjadi merah. "Ya! Oppa! Aku ini gadis baik-baik! Enak saja aku minum pil seperti itu!" Luhan dengan sangat cepat mengeluarkan protesnya.

"Tao juga gadis baik-baik, dia hanya melakukannya denganku! Memangnya minum pil membuat dia bukan gadis baik?" Kris membalas sengit.

"Bukan begitu Oppa, kau ini sensitif sekali jika menyangkut Tao. Aku hanya khawatir dengan kalian. Aku tidak mau menjadi bibi di usia muda, kau mau Jongin?" Luhan menyenggol lengan Jongin yang sedari tadi diam. Jongin bukannya tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Tiga bersaudara ini memang sangat dekat dan terbuka satu sama lain, hanya saja Jongin memang terlalu muda untuk merasa nyaman membicarakan tentang seks. Pacar saja tidak punya apalagi berciuman. Jongin masih merasa malu untuk ikut serta pembicaraan mereka jika sudah berkaitan dengan seks.

Hubungan Kris dan Tao memang sudah melewati batas, namun Jongin dan Luhan tau jika mereka serius dengan hubungan mereka. Tao juga bukan gadis murahan hanya karena berhubungan intim dengan pacarnya selama tujuh tahun, hanya saja Jongin dan Luhan khawatir jika Tao hamil karena kelalaian mereka saat mereka dikuasai oleh nafsu.

"Sudahlah, aku berjanji pada kalian aku akan menjaga Tao dengan sangat baik. Kalian jangan khawatir, oke? Nanti malam aku akan datang terlambat jadi kalian berangkat tanpa aku, ayah dan ibu berangkat duluan seperti biasa. Nanti kalian datang pukul tujuh, aku mungkin akan sampai disana pukul delapan atau setengah sembilan." Kris mengeluarkan ponsel dari sakunya, mengecek jadwalnya hari itu.

"Kenapa Oppa? Apa masih ada yang perlu diurus lagi di bazaar?" Jongin bertanya.

"Tidak, ayah memintaku untuk menjemput koleganya. Pesawatnya agak terlambat jadi aku juga terlambat."

"Memangnya kenapa harus Oppa yang menjemput? Tidak seperti biasanya." Jongin berkomentar. Jarang ayahnya menyuruh Kris untuk menjemput rekan bisnisnya, biasanya hal ini terjadi karena rekan bisnisnya sangat penting yang mempertaruhkan kelangsungan perusahaan keluarga Kim.

"Entahlah, ayah tidak memberi tahuku. Mestinya orang ini sangat penting, bukan hanya satu orang sebenarnya tapi satu keluaraga. Ayah memintaku membawa mobil yang cukup besar." Kris juga tidak mengetahui siapa yang akan ia jemput malam ini.

"Apakah perusahaan ayah dalam bahaya?" Jongin bertanya pelan, wajah Luhan pun terlihat sedikit cemas. Perusahaan keluarga Kim memang terkenal sebagai perusahaan yang sangat kuat, sangat jarang terjadi gangguan besar yang dapat menjatuhkannya dengan mudah. Selama ini perusahaan tersebut selalu menjadi perusahaan yang dijamu, bukan menjamu. Sehingga menjemput rekan bisnis yang datang dengan pesawat pribadi keluarga Kim, dan juga anak sulungnya dijadikan supir untuk menjemput tamu tersebut, ada kemungkinan jika rekan bisnisnya kali ini dapat menentukan hidup dan mati perusahaan tersebut.

"Tidak, setahuku tidak. Aku membaca laporan akhir tahun dan tidak ada satupun yang ganjil." Kris memutar kembali memorinya. Mencari hal ganjil dalam perusahaan yang ia mulai tangani setahun terakhir. Peran Kris memang belum besar, ia hanya membantu ayahnya sebelum benar-benar mewarisi perusahaan keluarga tersebut.

"Sudahlah, semoga memang tidak terjadi sesuatu. Ayah bukan orang yang suka menyembunyikan hal penting dari keluarganya, aku yakin jika semua baik-baik saja." Kris menenangkan adik-adiknya. Wajah Jongin dan Luhan ikut tersenyum begitu Kris mengeluarkan senyum penuh wibawanya. Kris memang anak sulung yang bisa diandalkan, walaupun sedikit mesum, toh ia setia pada pasangannya.

"Kau mau kemana?" sebuah suara dari belakang Jongin menghentikan langkahnya.

"Tidak kemana-mana, memangnya kenapa?" senyum Jongin merekah melihat orang yang berdiri dihadapannya. Jongin memang tidak melihat wajahnya dengan jelas, namun ia tahu jika orang ini adalah orang yang sama dengan orang yang menjadikan malam-malamnya lebih indah.

"Bantu aku menyelesaikan puzzle ini, sudah lama tapi tidak selesai juga."

"Tentu saja. Kau tahu aku sangat suka puzzle." Jongin tidak dapat berhenti tersenyum. Begitu banyak perasaan yang bergolak dalam hatinya. Gugup, bingung, takut dan tentu saja perasaan bahagia yang seolah akan meledakkan dadanya. Jongin bisa mencium bau hujan diluar sana, lalu susu cokelat yang baru saja ia habiskan, lilin aromatherapy beraroma lily dan juga parfum orang disebelahnya. Semuanya membaur menjadi satu, menenangkan Jongin. Entah aroma-aroma tersebut atau kenyataan jika pangerannya tersenyum lebar kepadanya sambil memasang kepingan terakhir puzzle didepan mereka.

"Jong, bagaimana mungkin kau bisa tidur? Astaga." suara Luhan kembali membangunkan Jongin kedua kalinya hari ini. Jongin tersenyum kecil. Mencoba menahan memori mimpinya barusan. Ah, andaikan aku bisa melihat bagaimana wajahnya. Tapi aku yakin jika ia sangat mengagumkan!

"Hey, jangan melamun! Cepat sana mandi! Sudah jam tiga sore." Jongin tersentak dari lamunannya. Jam 3? Astaga, aku ketiduran lama sekali! Tapi kenapa mimpinya pendek sekali? Ugh.

Dalam kamar mandi Jongin masih tersenyum-senyum sendiri. Mengulang film pendek hasil mimpinya. Sudah beberapa bulan terakhir mimpi-mimpi itu terasa semakin nyata, namun sayangnya Jongin tidak pernah bisa mengingat siapa yang berada bersamanya dalam mimpi-mimpi tersebut. Satu hal yang Jongin tahu, orang itu adalah orang yang sama setiap malamnya. Pernah Jongin mencoba mempelajari mengenai mimpi secara ilmu pengetahuan. Bagaimana mimpi bisa terjadi dan mengapa mimpi sering mempengaruhi tingkah laku kita di dunia nyata. Namun hasilnya hanya menunjukkan jika mimpi merupakan ungkapan pikiran terdalam kita, dan Jongin sedikit kecewa karena berarti mimpi-mimpinya selama ini tidak memiliki arti yang spesial. Mimpi-mimpinya hanyalah buah kesepian hatinya yang merindukan rasa diinginkan oleh orang yang juga ia inginkan.

Meskipun begitu, Jongin tetap senang setiap kali ia bangun tidur, seperti saat ini. Jongin keluar dari kamar mandi dengan senandung ringan, entah lagu apa yang ia nyanyikan, namun semua orang bisa melihat betapa bagusnya mood Jongin sore ini.

"Unnie, apakah tidak apa-apa kita datang ketika acara sudah akan dimulai? Nanti ayah dan ibu akan marah." Jongin duduk dengan tidak tenang dikursi belakang mobil sedan mewah milik keluarga Kim.

"Jong, aku ingin kedatangan kita seperti Cinderella. Semua akan melihat kita karena kita akan datang dengan dramatis, ketika semua orang sedang mendengerkan pembawa acara membuka pesta, kita akan masuk—"

"Apa? Unnie! Kita bisa dihajar ibu melakukan hal seperti itu!" Belum sempat Luhan menyelesaikan kalimatnya, Jongin sudah memekik kaget. Tidak setuju dengan ide gila Luhan untuk muncul di pesta perusahaan ala drama-drama percintaan di televisi.

"Percaya padaku, ibu tidak akan marah." Luhan berusaha membujuk Jongin.

"Unnie, apakah Xiumin Oppa datang malam ini?" Jongin memicingkan matanya, curiga dengan sikap kakak perempuannya yang kelewat tidak waras malam ini. Luhan sendiri hanya tersenyum tidak jelas, rona dipipinya menunjukkan bahwa tebakan Jongin benar.

"Astaga Unnie, mau berapa lama lagi kau melakukan hal gila seperti ini hanya untuk pria seperti dia? Dia bahkan tidak pernah membalas pesan selamat pagi dan selamat malam-mu kan?" Jongin mendesah lelah.

"Jangan seperti itu, kau tahu betapa baiknya dia kan. Xiumin Oppa hanya terlalu pemalu. Sudahlah jangan membahas hal itu sekarang, Acara akan dimulai lima belas menit lagi. Kita harus menentukan langkah sekarang. Kau ingin masuk sendiri atau denganku?" Luhan menaikkan sebelah alisnya. Jongin mendengus kesal. Ia kalah malam ini.

Jongin berdiri dibalik pintu megah yang menjadi satu-satunya penghalang dari ruang pesta. Luhan bolak-balik mengecek riasannya dari kamera ponsel, Jongin mencoba berhenti mondar-mandir dan menenangkan hatinya yang cemas karena dua hal.

Pertama bagaimana ia akan melalui malam ini bertemu dengan rekan-rekan bisnis ayahnya yang akan menilainya, dan juga menyakan pertanyaan-pertanyaan yang sulit untuk Jongin jawab, seperti pacar dan prestasinya. Jongin takut akan mengecewakan ayah-ibunya dan juga mempermalukan dirinya dihadapan ratusan orang jika ia melakukan sedikit saja kesalahan. Kedua, jika Jongin berhasil melalui malam ini dengan lancar masih ada ayah dan ibunya yang harus ia hadapi karena terlambat dan membuat sedikit kericuhan dengan cara kedatangannya.

"Jong, kau siap? Acara sudah akan dimulai." Luhan terlihat sama cemasnya dengan Jongin, walaupun alasan kecemasan mereka sangatlah berbeda. Jongin mengangguk ragu.

Kriett..

Kedua daun pintu megah itu terbuka. Prediksi Luhan benar, semua mata menatap kedatangan Jongin dan Luhan. Dengan cepat Jongin memasang senyum terbaiknya, seperti yang sudah diajarkan Luhan. Senyumlah dengan lebar, jangan terlalu lebar. Senyum dengan manis dan juga sedikit malu-malu sambil menunjukkan sedikit rasa bersalah karena telah menganggu acara. Begitu pesan Luhan sebelumnya. Mudah saja bagi Luhan yang terbiasa menjadi pusat perhatian, namun Jongin mulai berkeringat dingin begitu semua mata dalam ruangan luas itu menatap kearahnya. Perutnya benar-benar mulas.

Jongin mencoba semampunya untuk tersenyum manis dan malu-malu disertai sedikit rasa bersalah. Ia tahu jika usahanya gagal, ia juga merasa jika senyumnya bukan seperti yang Luhan instruksikan padanya. Jongin tidak tersenyum tapi menyengir, seperti kuda, seketika Jongin sangat menyesal karena memutuskan datang malam ini hanya untuk mempermalukan dirinya. Jongin mencoba sebisanya tersenyum kecil dan memandangi sepatu-sepatu para tamu pesta.

"Hei, angkat kepalamu." Itu suara Kris. Jongin langsung mengangkat kepalanya. Kris disebelahnya, menawarkan lengannya dan tersenyum menyemangati. Senyum gugup Jongin langsung menghilang. Jongin mengaitkan lengannya di lengan Kris dan berjalan menuju meja keluarga Kim dengan senyum yang lebih percaya diri,

"Ayah, sebenernya siapa yang aku jemput barusan?" Kris bertanya dengan suara berbisik, namun seluruh keluarga Kim dapat mendengarnya dengan jelas. Jongin dan Luhan memasang telinga mereka tajam-tajam, menunggu jawaban dari ayah mereka.

"Itu teman ayah." jawab Tuan Kim singkat.

"Hanya teman? Tapi kenapa harus aku jemput segala?"

"Dia itu teman dekat ayah, teman awal ayah membangun perusahaan."

"Tapi kena—"

"Memangnya kau menyesal sudah menjemput mereka?" Sang Ibu ikut angkat bicara.

"Bukan begitu, hanya penasaran saja. Tidak biasanya aku disuruh menjemput tamu. Apa dia orang penting Bu?" Tuan dan Nyonya Kim bertukar senyum.

"Mereka orang yang sangat penting. Ayahmu bisa begini karena keluarga tersebut. Mereka membantu ayahmu bertahan hidup ketika muda dulu." Ibunya menjelaskan. Penjelasan itu terpotong karena pembawa acara meminta hadirin untuk berdiri dan memberi tepuk tangan atas kesuksesan Kim Corporation tahun ini. Kris, Luhan dan Jongin memandang kearah keluarga kecil tersebut dengan penuh tanda tanya.

Seorang pria menjelang enam puluh tahun yang masih terlihat sangat bugar, wanita disebelah kanannya dibalut gaun lengan panjang sepanjang mata kaki berwarna putih gading yang hampir dapat dipastikan istrinya. Disebelah kirinya kemungkinan besar adalah anaknya, laki-laki muda dibalut jas biru tua. Jongin melihat posturnya yang tinggi dan tegap. Kulit lehernya yang putih bersih dan rambut hitamnya yang tersisir rapi. Hanya melihat belakangnya saja Jongin sudah tahu jika laki-laki itu tidak termasuk kategori cowok yang bisa didapatkannya.

Tamu undangan mulai berdiri dan menikmati hidangan makan malam yang disajikan. Jongin hanya mengekor Luhan yang sedang mengambil kue-kue coklat di buffet makanan ringan. Makanan-makanan itu sangat menggiurkan, sungguh, tapi perut Jongin belum bisa diajak bekerja sama. Masih melilit karena rasa gugup, sepatu hak tingginya juga tidak membantu sama sekali. Ketakutan terjatuh dimuka umum benar-benar membuat Jongin tidak bisa bernafas dengan nyaman.

"Luhan, Jongin, sini sebentar. Kenalkan ini teman Ayah." Sudah dimulai sesi wawancaranya. Kuatlah Jongin, hanya beberapa jam saja. Senyum dan jangan berjalan seolah sedang menahan kentut! Jongin menyemangati dirinya sendiri.

"Luhan, Jongin, ini teman Ayah, mereka tinggal di Eropa dan datang untuk memenuhi undangan Ayah malam ini." Tuan Kim mengenalkan keluarga kecil yang tadi dijemput Kris. Pria itu tampan bahkan untuk ukuran pria berumur enampuluhan, istrinya juga sangat cantik. Mereka benar-benar serasi.

"Wah, cantik-cantik sekali anakmu. Sayang sekali aku tidak punya anak perempuan. Senang sekali selalu dikelilingi perempuan-perempuan cantik seperti mereka." Pria itu melontarkan pujian ketika Luhan dan Jongin menyalaminya dan istrinya. Tuan Kim hanya tertawa mendengar komentar tersebut.

"Walaupun begitu, anak Anda sunggu sangat tampan. Mirip sekali dengan Anda ketika muda." Tuan Kim memberikan pujiannya. Jongin menunduk, memainkan jarinya. Ia benci basa-basi seperti ini.

"Ah, ini dia. Perkenalkan ini anak tunggal Paman, Oh Sehun." Jongin mengangkat kepalanya untuk melihat si anak. Oh Sehun. Memang sangat tampan, benar-benar tampan. Ayahnya tidak hanya basa-basi. Anak tunggal temannya kali ini benar-benar tampan.

Astaga, sungguh tidak manusiawi tampannya. Apa dia benar-benar manusia? Apa benar wajahnya seperti? Bukan karena operasi kan? Jongin benar-benar terpana dengan Oh Sehun. Bukan hanya dia, Luhan juga memiliki reaksi yang sama. Oh Sehun memang terlalu tampan.

"Perkenalkan, saya Oh Sehun." Sehun mengulurkan tangannya. Luhan mendapatkan kesadarannya pertama kali, diikuti dengan Jongin. Tangan Sehun terasa dingin dikulit Jongin ketika mereka bersentuhan. Matanya sangat tajam dan tegas. Bibirnya terukir senyum penuh wibawa, dan kulit putihnya akan membuat Putri Salju iri.

"Jongin." Ucap Jongin lirih. Kesadarannya kembali begitu Luhan mengarahkan pandangannya kepada sosok yang baru saja melewatinya. Xiumin, teman seangkatan Kris yang sudah lama Luhan taksir. Hubungan Luhan dan Xiumin yang awalnya hanya sebatas dongsaeng dan oppa menjadi rumit ketika Luhan mulai berpacaran dengan mantan terakhirnya.

"Permisi, saya ingin menemui rekan saya dulu." Luhan memberikan senyum termanisnya. Jongin dengan cepat ikut serta menyunggingkan senyumnya dan mengikuti langkah Luhan.

"Oppa! Kau datang juga?" Luhan menjajarkan langkahnya disamping Xiumin. Kalimat selanjutnya tidak dapat Jongin dengar, langkahnya yang pendek-pendek karena sepatu berhak tertinggal oleh Luhan yang terlalu bersemangat. Jongin memutuskan untuk ke kamar mandi saja dari pada harus mendengar Luhan bermanja-manja dan mencari perhatian Xiumin. Dia bisa berlama-lama dikamar mandi dan berjalan-jalan di area gedung tersebut. Selama ia sudah menunjukkan wajahnya didepan ayah dan ibunya bahwa ia sudah hadir dipesta tersebut, Jongin merasa tidak masalah sedikit badung.

Lorong panjang ini adalah salah satu bagian kesukaan Jongin dari gedung Kim Corporation. Menghubungkan hall dimana pesta diselenggarakan dan ruang santai VIP dengan rooftop dan mini bar milik keluarga Kim. Ruang santai itu indah, sangat indah, hanya saja Jongin lebih suka berada di lorongnya, lebih sunyi—ia bisa mendengar pertengkaran Kris dan Luhan dari lorong tersebut jika mereka sedang di ruang santai—dan pemandangan langitnya sama bagusnya dengan ruang santai.

Sehun ya tadi namanya? Bahkan namanya saja sangat bagus. Dia sepertinya belum setua Kris Oppa. Apa dia masih SMA seperti aku? Ah, sudahlah, jangan pikirkan dia, nanti kau benar-benar suka kan repot. Cowok tampan semacam itu pasti sud—

"Hai Jongin." suara bass menganggu monolognya. Jongin menoleh, badannya seperti beku. Sehun. Baru saja dia memikirkannya, tiba-tiba dia sudah berada didepannya. Pikiran pertama Jongin adalah apakah ini Sehun sungguhan? Bukan hantu yang menyamar kan? Jongin memang sangat tergila-gila dengan cerita hantu.

"Uhm. Hai. Sehun." sapa Jongin. Wajahnya masih mencoba keganjilan dari sosok Sehun. Kaki menapak ditanah. Check. Badan tidak transparan. Check.

"Ada apa?" Jongin mendongak menatap wajah Sehun. Damn, tampan sekali.

"Apa? Ti..tidak. Tidak apa-apa."

"Apa ada yang salah?"

"Tidak, tidak ada."

"Baiklah, boleh aku ikut berdiri disini?" Hah? Ikut berdiri disini?

"Huh?" Jongin bingung.

"Ayah dan Ibuku sibuk berbincang-bincang dan aku bosan. Boleh?"

"Uh, ten..tentu." Jongin mengiyakan. Masih tidak sepenuhnya paham dengan situasi yang ia hadapi. Berhadapan dengan cowok tampan bukanlah situasi yang sering Jongin alami, jadi ia sedikit kebingungan harus bagaimana. Jongin memang sangat bodoh jika harus berhadapan dengan lawan jenis, apa lagi lawan jenisnya setampan ini.

Sunyi.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Tiga puluh menit.

Tidak ada yang berbicara. Anehnya, Jongin merasa nyaman. Tidak ada suasana canggung diantara mereka. Keduanya melihat pemandangan kota yang disuguhkan dibalik kaca transparan yang menyelubungi lorong penghubung.

"Sehun, apa kau lelah? Ingin duduk sejenak?" Jongin memberanikan dirinya memecah kesunyian setelah lima menit mempertimbangkan dengan seksama. Jongin tidak ingin merusak suasana sunyi yang menenangkan itu, namun kakinya tidak mau bekerja sama. Menyesal Jongin untuk menggunakan sepatu berhak sangat tinggi tersebut.

"Ah, aku tidak lelah." Jawaban Sehun membuat Jongin ingin lompat dari atas gedung.

"A-apa kau lelah?" Sehun bertanya kepada Jongin yang menggigiti bibir bawahnya, gugup dengan suasana yang mendadak canggung.

"Huh? I-iya, sedikit lelah. Aku tidak terbiasa menggunakan sepatu seperti ini." Jongin menunduk melihat sepatunya, begitu juga dengan Sehun, mengikuti arah mata Jongin.

"Oh, kau mau kembali..?" Sehun terlihat sedikit gugup. Dia tidak mungkin gugup karena aku kan?

"Kau ingin kembali? Well, aku ada tempat yang nyaman untuk…uhm, untuk menikmati pemandangan disini." Jongin benar-benar malu mengatakannya, seolah-olah ia cewek genit yang mengajak Sehun untuk terus berduaan.

"Oh ya? Benarkah? Aku mau sekali." Sehun langsung terlihat cerah. "Ikut aku."

Jongin berjalan menuju pintu yang berlawanan arah dari kedatangannya. Sehun mengikutinya dari belakang. Dengan cepat Jongin mengetik kode keamanan di pintu tersebut, dan sebuah ruangan gelap terpapar didepan mereka. Jongin meraba-raba saklar disamping pintu, dalam sedetik, ruangan berukuran sedang dengan sofa-sofa empuk, rak-rak yang dipenuhi buku-buku, lemari kecil dan mini bar terlihat jelas. Jongin membuka tirai ruangan tersebut, kaca transparan dengan pintu kaca yang menghubungkan ruang santai itu dengan balkon luas. Jongin membukakan pintu kaca tersebut dan mengisyaratkan agar Sehun mengikutinya, namun setelahnya Jongin kembali masuk tanpa menutup pintu kaca tersebut.

"Wow, terima kasih." ucap Sehun begitu Jongin berada disebelahnya lagi, membawakan sekaleng soda dingin. Jongin hanya tersenyum. Ia juga akan berterima kasih jika seseorang membawanya ke tempat seindah ini. Ini jauh sangat lebih baik dari pada pesta membosankan itu.

"Sandalmu lucu sekali." Sehun tersenyum geli melihat sandal rumah berbulu berwarna merah muda yang Jongin kenakan.

Wajah Jongin memanas dengan cepat, belum pernah ada yang memujinya lucu. Bukan Jongin yang dipuji padahal tapi sandalnya. Jongin hanya meringis mendengar ucapan Sehun, tidak berani mengeluarkan suaranya karena ia tahu kalimat yang ia keluarkan tidak akan masuk akal karena terlalu gugup.

Apa ini rasanya kencan? Hihi. Aku tidak berhenti berdebar-debar. Ya Tuhan, jangan sampai dia dengar suara jantungku. Pasti akan sangat memalukan. Jangan biarkan malam ini berakhir ya Tuhan. Walau cuma berdiri diam seperti ini tidak apa-apa kok..

Kesunyian diantara mereka hadir lagi. Kesunyian yang sama seperti sebelumnya, menenangkan. Jongin benar-benar merasa beruntung sudah memutuskan untuk ikut pesta perusahaan ayahnya tahun ini. Berdiri mendengarkan lalu-lalang kendaraan dan pemandangan malam Kota Seoul, ditemani oleh cowok tampan lagi. Sekali dalam beberapa tahun terakhir, Jongin tidak ingin tidur dan menemui pangerannya.

To Be Continue