Fanfiction—KaiHun.

Cast : Jongin!GS, Sehun

Genre : Romance, Drama

Summary : Jongin terlahir dari keluarga kaya raya, namun hal itu yang membuat hidupnya semakin sulit, karena dia tidak seperti anggota keluarganya yang lain. Tidak seperti kedua saudaranya, Jongin bukanlah gadis yang cantik—tidak jelek juga kok, dia tidak memiliki nilai akademik yang patut dipamerkan atau keahlian yang membuat dia pantas diperhitungkan. Jongin benar-benar tidak memiliki sesuatu yang spesial. Hidup Jongin jungkir balik hanya dalam semalam, hidupnya berubah. Pangeran yang selalu dia khayalkan bukanlah sekedar khayalan lagi.

Chapter Three

Pukul sebelas pagi Jongin menyeret kakinya menuju dapur. Haus sekali. Semalam Jongin baru tidur menjelang pagi. Sehun tidak mau hilang dari kepalanya. Akibatnya pagi ini ia melewatkan sarapan dan berimbas sekarang. Berjalan setengah tertidur untuk mengambil air minum.

Astaga Sehun, tidak cukupkah kau membuatku tidak bisa tidur semalam. Sekarang kau mengagetkan aku lagi. Sudah menghilanglah, aku masih mengantuk. Jangan muncul tiba-tiba didapur orang, untung saja aku tidak sedang pegang pisau.

Langkah Jongin sempat terhenti sebentar melihat sosok yang familiar dari semalam, Oh Sehun. Tapi apa yang Sehun lakukan didapurnya? Pasti karena Jongin terlalu memikirkannya semalam, jadi halusinasinya masih berlanjut hingga saat ini. Jongin melanjutkan langkahnya ke lemari pendingin sambil bergumam menyuruh Sehun pergi.

"Baiklah, aku akan pergi." Suara Sehun. Sangat jelas karena dapur itu sepi. Jongin mengentikan gerakannya menuangkan air ke dalam gelas. Matanya mengerjap cepat, berusaha menajamkan penglihatannya. Apakah sekarang halusinasiku sudah naik level bukan hanya visual tapi juga audio?

Sosok Sehun berjalan pelan meninggalkan Jongin yang masih setengah sadar. "Hei, hei, tunggu dulu." Jongin melangkah mendekati Sehun. Telunjuknya menyentuh lengan Sehun. Kali ini matanya terbuka dengan lebar. Wangi itu, sama seperti tadi malam.

"Ma..maaf.. Aku tidak tahu jika kau Sehun sungguhan." Jongin menurunkan jarinya yang tadi menyentuh lengan Sehun. "Jangan pergi.."

Astaga Jongin. Jangan pergi? Kalimat macam apa itu? Dimana harga dirimu sebagai perempuan? Lihat dirimu sekarang! Tadi malam mungkin kau masih kelihatan oke, tapi sekarang kau masih memakai piyama Spongebob.

"Maksudku, aku tidak mengusirmu. Aku pikir aku berhalusinasi lagi.. Jadi.. Aku menyuruhmu pergi supaya tidak menggangguku terus. Sungguh! Aku tidak ada niat untuk mengusirmu!" Jongin cepat-cepat meralat ucapannya. Terlalu banyak berkhayal akan pangeran dalam mimpinya ternyata sangat membahayakan, bisa membuat seseorang tidak bisa membedakan mana khayalannya dan kenyataan.

"Kau berhalusinasi lagi? Memangnya kau berhalusinasi apa sebelumnya?" Aku menghalusinasikan kau, gara-gara kau aku jadi kacau pagi ini.

"Ah tidak. Aku suka sekali film horror jadi aku sering berhalusinasi." Kebohongan yang sangat bodoh Jong. Sehun mengerutkan keningnya.

"Film horror?" Sehun tidak paham.

"Tapi, kau sedang apa didapurku?" Otak Jongin sepertinya sudah kembali waras.

"Oh, ayah dan ibuku berkunjung kesini. Jadi, ya disinilah aku." Jawab Sehun ringan, senyumnya mengembang hingga kedua matanya membentuk sabit yang sangat indah. Jantung Jongin berulah lagi.

"Ah, begitu? Uhm, ka-kalau begitu, uhm, aku akan mandi dulu." Jongin menundukkan kepalanya dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Duh, ketahuan kalau gugup kan Jong.

"Silahkan lanjutkan…apapun yang tadi yang sedang kau lakukan.." Jongin nyaris berlari meninggalkan dapur. Wajahnya sangat panas sekarang. Senyum seorang Oh Sehun bisa membuat Jongin kehilangan kewarasan.

Oke, baiklah. Jongin. Sudah cukup kau mempermalukan dirimu. Mana Jongin yang selalu cool? Tarik nafas Jong, dia cuma cowok ganteng seperti cowok-cowok disekolahmu. Dia ada disini bukan karena dia naksir kamu Jong. Tadi malam kau sudah melewati berjam-jam bersamanya, jika Sehun menyukaimu paling tidak ia akan mengajakmu mengobrol kan? Semalam saja kalian hanya duduk diam berdua berjam-jam. Jangan terlalu percaya diri Jong, ingat siapa dirimu. Kau bukanlah tipe cewek yang bisa membuat Sehun jatuh hati padamu pada pandangan pertama. Jangan gila lagi Jong, apalagi sampai benar-benar menyukainya.

Jongin tidak langsung mandi, namun hanya mondar-mandir dikamarnya. Sesekali berdiri didepan kaca besar, memperingatkan dirinya bahwa ia bukanlah siapa-siapa untuk berpikir Sehun menganggapnya lebih dari sekedar anak rekan bisnis ayahnya.

Tok! Tok! Tok!

"Ya, masuk." Jongin menyahut, masih berkaca. Memperhatikan jerawat yang tumbuh didagunya.

"Jongin, kau belum mandi juga?" suara Nyonya Kim terdengar terkejut. Jongin masih asyik memperhatikan wajahnya.

"Sebentar Bu. Memangnya kenapa? Ibu mau mengajakku kema—Sehun?" Jongin menoleh begitu melihat pantulan Sehun yang mengekor Nyonya Kim dikacanya.

"Ibu, kenapa Sehun dibawa kemari?" Wajah Jongin tidak bisa untuk tidak memanas lagi. Dirinya tidak lebih baik dari beberapa menit lalu saat ia sedang didapur. Kini Sehun ada dikamarnya, melihat betapa kekanakannya Jongin, dekorasi kamarnya yang masih seperti princess—pink dengan banyak rumbai-rumbai, dan kasurnya yang dipenuhi boneka-boneka binatang. Untung saja Jongin tidak meletakkan branya sembarangan seperti biasa.

"Ibu kira kau sudah selesai mandi. Ibu ingin kau menemani Sehun jalan-jalan sebelum ia kembali ke Eropa. Apa kau mau?" MAU BU! AKU MAU SEKALI!

"Jalan-jalan? Kemana?" Jongin tidak langsung mengiyakan, mempertahankan gengsinya. Luhan selalu mengajarkan padanya bahwa cewek tidak boleh terkesan murahan, dari cara berpakaian, bertingkah laku hingga berbicara. Jongin bersyukur ia sesekali mendengarkan nasehat Luhan yang terkadang masuk akal.

"Kemana saja boleh. Sehun kau ingin kemana? Ke tempat wisata alam, wahana-wahana permainan atau ke mall?" Nyonya Kim bertanya pada Sehun yang hanya diam sedari tadi.

"Ah, kemana saja saya suka Bibi." Sehun menjawab sopan.

"Baiklah. Jongin, segera mandi. Berangkatlah setelah makan siang, oke?" Nyonya Kim tersenyum senang. Ia mengisyaratkan Sehun untuk duduk di sofa kamar Jongin dan memandang Jongin penuh arti agar segera mandi dan tidak membuat tamunya menunggu.

"Ibu, aku dan Sehun akan makan siang diluar saja. Aku sedang ingin makan pizza. Boleh kan Bu?" Jongin mendekati ibunya yang sedang menyiapkan makan siang untuk tamu-tamunya.

"Ya ampun Jongin, jangan terlalu banyak makan fast food. Lagi pula di Eropa banyak pizza, ajak Sehun makan yang lain." Ibunya tidak setuju dengan permohonan Jongin. Anak bungsu keluarga Kim memajukan bibirnya.

"Baiklah, aku akan makan tteokbokki saja kalau begitu." Jongin melangkah keluar dapur.

"Ya! Kim Jongin! Itu sama saja tidak sehat!" Nyonya Kim setengah berteriak, lalu menggelengkan kepalanya menghadapi kelakukan anak bungsunya.

"Sehun, ibu tidak memperbolehkan kita makan pizza. Katanya tidak sehat." Jongin mendatangi Sehun yang sedang menunggu diruang tengah dengan bibir masih manyun. Ketika mandi tadi Jongin mengubur semua khayalan gilanya tentang Sehun, ia tidak ingin bertingkah seperti orang gila yang akan berujung mempermalukan dirinya dan keluarganya. Jongin memberi peringatan keras pada dirinya agar tidak jatuh pada pesona Oh Sehun.

"Ah, benarkah? Lalu kau mau makan apa?"

"Pizza."

"Tapi kan tidak boleh."

"Sudahlah ayo ikut aku saja." Jongin menarik lengan Sehun untuk berdiri. "Ibu, aku dan Sehun akan makan salad di dekat sekolahku! Kami berangkat Bu!" Jongin berteriak dari ruang tengah. Setelah mendengar jawaban dari ibunya, Jongin keluar rumahnya, menuju halaman.

"Sehun, sebenarnya aku ingin mengakui satu hal. Kemampuan menyetirku masih buruk—tapi aku bisa sungguh! Cuma tidak bagus saja. Apakah tidak apa-apa? Mobil-mobil di Eropa kemudinya disebelah kanan kan? Kalau di sini berada di sebelah kiri, lebih aman aku yang menyetir. Bagaimana? Kau siap?" Jongin baru menyadari jika ia belum terbiasa menyetir mobil begitu sampai digarasi. Sehun yang sedari tadi hanya menurut saja kini memasang wajah terkejut.

"Hah? Dari skala satu hingga sepuluh, berapa kemampuan menyetirmu?" Nada bicara Sehun jelas ia sangat meragukan kemampuan menyetir Jongin.

"Uhm, lima. Percaya padaku! Kita akan baik-baik saja!" Jongin berusaha meyakinkan Sehun. Dengan helaan nafas panjang, Sehun mengangguk dan membuka pintu disamping pengemudi.

"Wah! The Conjuring 2 sudah keluar!" Jongin melihat poster film-film yang diputar di bioskop hari itu. Jongin benar-benar bersemangat melihat poster The Conjuring 2, meloncat-loncat kecil sambil menarik lengan Sehun untuk mendekat. Jongin tampaknya sudah bisa merubah sikap malu-malunya dihadapan Sehun, sekarang malah Jongin sedikit tidak tahu malu, dari tadi seenaknya menarik lengan Sehun.

"Kau mau nonton dulu? Aku belum begitu lapar. Mumpung antrian masih sepi." Sehun tersenyum melihat tingkah Jongin yang sangat bersemangat begitu melihat poster The Conjuring 2.

"Benarkah? Tidak apa-apa?" Jongin tambah berseri-seri mendengar perkataan Sehun. Sehun mengangguk, ia ikut bersemangat melihat Jongin yang sekarang sudah melesat menuju loket pembelian tiket yang masih kosong.

"Sehun, aku beli tiket yang paling awal. Filmnya diputar sepuluh menit lagi." Jongin sudah membeli dua tiket ketika Sehun baru saja menyusul Jongin.

"Oke. Kau mau beli makanan apa?"

"Kau ingin apa? Aku yang traktir lho!" Mata mereka memperhatikan menu yang dijual di kafetaria bioskop.

"Kau sudah beli tiket, jadi aku yang beli makanannya." Sehun mendorong tangan Jongin yang sudah mengeluarkan dompetnya.

"Tapi kan aku yang mengajakmu menonton."

"Itu peraturan dasar dalam nonton film." Sehun melangkah mendekati kasir untuk memesan makanan mereka.

"Siapa yang membuat peraturan seperti itu? Aku baru dengar."

"Kau tidak pernah berkencan ya?" pertanyaan Sehun membuat Jongin melotot.

"Maksudku…maksudku…sebenarnya itu adalah peraturan berkencan modern, ta-tapi aku rasa itu harus diterapkan da-dalam banyak hal, bu-bukan hanya untuk berkencan saja." Sehun sadar dengan pertanyaannya yang terlalu personal.

"Peraturan berkencan modern? Apa—"

"Selamat datang, silahkan pesanannya." pegawai kafetaria memotong pembicaraan mereka. Jongin segera fokus dengan menu didepannya, ia tidak sadar ekspresi kelegaan diwajah Sehun. Seolah ia baru saja lolos dari pemilik pohon mangga yang baru saja ia curi buahnya.

"Jong, kita cuma berdua disini." Sehun mengedarkan pandangannya di studio tempat mereka menonton The Conjuring 2.

"Wah, pasti seru. Tapi kau jangan tinggalkan aku ya, jangan ke kamar mandi di tengah-tengah film diputar. Oke?" Jongin melihat siluet Sehun yang duduk sebelahnya. Hatinya tiba-tiba merasa aneh dengan perasaan familiar yang hangat, seolah semuanya sudah pernah terjadi. Siluet Sehun, wangi Sehun, juga tangan mereka yang kadang bersentuhan saat mengambil popcorn. Rasa familiar yang aneh bagi Jongin, karena Jongin sangat yakin ia tidak pernah nonton film dengan cowok berdua saja.

"Tidak usah memandangiku begitu, aku janji tidak akan ke kamar mandi." Sehun menyalah artikan tatapan Jongin. Ia pikir tatapan Jongin menuduhnya dia akan meninggalkan Jongin ditengah film nanti.

"Film horror apa yang paling kau sukai Jong?" Sehun bertanya sambil mengigit sepotong pizza. Jongin mengerutkan keningnya, berpikir.

"Apa ya? Ouija bagus, Sinister juga. Banyak sebenarnya, cuma aku lupa hehe. Kau suka jenis film seperti apa?" Jongin ganti bertanya. Sehun mengunyah pizza-nya cepat dan menelannya.

"Aku suka sekali film detektif, bukan cuma film, tapi novel-novelnya juga."

"Detektif? Seperti Sherlock Holmes?" Jongin tersenyum. Sangat kentara jika Sehun menyukai cerita detektif, sama sepertinya menyukai cerita horror.

"Iya, dia detektif favoritku." Jongin menganggung-angguk. "Kau tahu, sejujurnya, aku kemarin bisa berada bertemu denganmu di lorong saat pesta karena cerita detektif." Sehun tersenyum usil.

"Hah? Kok bisa? Apa kau mata-mata untuk perusahaan ayah?"

"Hahaha, tentu saja bukan. Aku sering berkhayal jika sebuah gedung itu mempunyai lorong-lorong rahasia dan biasanya disaat pesta berlangsung, ada kejahatan yang berlangsung, seperti mencuri berlian." jelas Sehun. Ternyata Sehun juga sedikit tidak waras.

"Wah, sepertinya kau benar-benar menyukai cerita detektif ya."

"Kau juga sepertinya sangat menyukai cerita horror, setiap melihatku kau seperti melihat hantu." Iya juga sih, aku sering mengiranya hantu. Tapi itu kan karena aku kaget ada cowok tampan yang mendatangiku. Cowok tampan yang waras biasanya tidak mau dekat-dekat denganku, makanya aku mengira kau hantu, batin Jongin.

Begitu selesai makan pizza—kali ini Jongin bersikeras membayar pizzanya—Jongin dan Sehun memutuskan untuk berjalan-jalan ditempat wisata paling populer bagi turis, Istana Gyeongbokgung. Jongin mengusulkan tempat ini karena hasil pencarian yang ia lakukan di internet, tempat ini adalah tempat yang harus dikunjungi oleh wisatawan. Sehun setuju karena ia memang belum pernah melihat langsung sejarah di Korea Selatan. Sepanjang perjalanan, Jongin dan Sehun menjadi sangat akrab. Mereka membicarakan film dan makanan dan juga tempat-tempat yang harus mereka kunjungi sebelum Sehun kembali ke Eropa. Pembicaraan mereka semakin seru dengan adanya jeritan Sehun dan Jongin sesekali karena Jongin terlalu bersemangat bercerita hingga tidak konsentrasi menyetir.

Sehun bercerita panjang mengenai kehidupannya di Eropa. Ia adalah anak tunggal dan baru saja lulus dari SMA, tapi ia belum memutuskan untuk melanjutkan studi dimana. Sehun menceritakan tempat-tempat favoritnya di Eropa dan juga cita-citanya untuk menjadi penulis cerita detektif.

Jongin hanya mengangguk, ia tidak tahu harus berkomentar apa. Sehun jelas bukan seperti apa yang ia bayangkan semalam. Jongin pikir Sehun seperti Kris yang selalu dikelilingi orang-orang populer dengan kegiatan tanpa henti, atau Minho yang luar biasa tampan dan sibuk mengejar cewek-cewek tercantik di Seoul. Kenyataannya hobi Sehun adalah membaca bukan nongkrong-nongkrong di kafe, ia suka mengunjungi museum bukan kelab malam, dan yang penting ia mau menghabiskan waktu bersama Jongin, tidak seperti cowok-cowok lainnya yang menganggap Jongin tidak ada atau datang ketika ada butuhnya.

"Bagaimana dengan kau? Kau masih SMA kan?" Sehun bertanya, lamunan Jongin buyar seketika. Ah, aku benci pertanyaan seperti ini. Kenapa sih aku tidak memiliki sesuatu apapun yang bisa dibanggakan?

"Aku? Uhm, aku masih kelas dua SMA. Terus apa lagi ya? Aku suka cerita horror, dan uhm, begitulah. Hanya siswa SMA biasa." Jongin berpura-pura konsentrasi memperhatikan jalan, padahal mobilnya sedang berhenti karena lampu merah.

"Bukankah harusnya kau memanggilku Oppa?" Lagi. Pertanyaan Sehun kembali membuat hati Jongin lompat-lompat tidak karuan. Jongin tidak menyadari sinar mata Sehun yang usil.

"A-aku tidak tahu kau lebih tua dari aku!" Jongin mencoba membela diri.

"Kalau begitu panggil aku Oppa!" Jongin melepas rem mobilnya agak terlalu cepat membuat mereka berdua tersentak.

"Apakah harus?" Jongin masih tidak mau melihat kearah Sehun.

"Tentu saja. Aku kan lebih tua darimu." Ish, jantung jangan terlalu cepat. Ingat, Oh Sehun bukanlah orang yang bisa kau raih. Anggap saja dia seperti Xiumin Oppa, atau teman-teman Kris Oppa yang lain.

"Baiklah, baiklah. Oppa!"

"Apa itu? Panggil Sehun Oppa."

"Huft. Sehunoppa." Sehun tertawa terbahak-bahak, tidak tahan melihat bibir Jongin yang sudah maju.

"Kau tertawa? Dasar! Kau mengerjaiku ya? Kau mau aku menabrakkan mobil ini biar kita mati bersama-sama? Huh ternyata kau mengesalkan!" Bibir Jongin semakin maju, mengomel panjang dan Sehun tertawa semakin keras.

Tawa Sehun berhenti begitu ponsel Jongin berbunyi. Jongin memasang earphone-nya.

"Halo? Ada apa?"

"Aku sedang diluar."

"Bersama temanku."

"Hehehe. Besok saja. Eh tidak bisa besok. Aku ada acara."

"Baiklah, jangan terlalu malam."

"Pacarmu ya?" Sehun bertanya.

"Huh? Bukan temanku dari sekolah, dia cewek kok. Namanya Kyungsoo." Jongin menjelaskan, seolah menjelaskan agar Sehun tidak salah paham. Dalam lubuk hatinya Jongin memang berharap Sehun salah paham.

"Hun, memangnya peraturan dasar berkencan modern itu apa saja?" Sehun tersedak tteokbokki-nya. Jongin buru-buru menyodorkan botol minum.

"Sampai tersedak begitu. Memang apa itu Hun?" Sehun terlihat berpikir sebelum menjawab, ia heran bagaimana Jongin masih mengingat hal itu. Padahal sekarang sudah senja, kejadian itu sudah berjam-jam yang lalu.

"Ehm, bagaimana ya menjelaskannya. Dulu, setiap kencan, pria yang selalu membayar semua makanan, tiket nonton, bensin dan lainnya. Tapi sekarang wanita juga banyak yang ikut membayar bill ketika kencan supaya mereka tidak dianggap remeh oleh pria. Sekarang sudah banyak istri yang jadi kepala rumah tangga." Sehun mencoba menjelaskan.

"Aku…aku…aku belum pernah berkencan jadi aku tidak tahu." Jongin secara tidak langsung menjawab pertanyaan yang tadi Sehun ajukan.

"Terlihat kok. Kau benar-benar…lugu." Jongin tertegun mendengar perkataan Sehun. Lugu? Biasanya mereka menganggapku culun atau menatapku kasihan karena aku tidak pernah ada yang naksir.

"Apa kau punya pacar?" Mulutmu Jongin! Perlu dibelikan rem sepertinya. Untuk apa bertanya hal seperti itu? Pertanyaan itu memang meluncur begitu saja dari bibir Jongin, mewakili rasa penasaran Jongin yang sejak semalam ia pendam.

"Uhm, aku…ti-tidak punya pacar juga. Hehe." Kali ini jawaban Sehun tidak membuat jantung Jongin lompat-lompat atau ingin loncat dari atas gedung tinggi. Hati Jongin justru terasa tenang, seolah ia baru diberi tahu bahwa ia mendapatkan nilai matematika diatas rata-rata sehingga tidak perlu mengikuti ujian perbaikan. Apa aku berpikir aku punya kesempatan untuk bersama Sehun?

"Kau mau makan malam apa? Aku yang traktir kali ini. Tidak boleh membantah." Sehun membereskan bungkus-bungkus makanan yang mereka beli di minimarket sebelah taman tempat mereka menghabiskan sore mereka.

"APAAA? KAU SEHARIAN PERGI DENGAN COWOK TAMPAN?" Kyungsoo tidak tanggung-tanggung jika berteriak. Telinga Jongin berdengung mendengar teriakan Kyungsoo.

BLAMM! Pintu kamar Jongin terbuka lebar, Luhan masuk tergesa-gesa mengenakan maskernya. Wajahnya terlihat sangat bersemangat.

"Kau pergi dengan siapa hari ini Jong?" Luhan rupanya mendengar teriakan Kyungsoo. Jongin menepuk dahinya. Berkumpul sudah dua cewek paling suka gosip dikamarnya. Dapat dipastikan malam ini Jongin tidak akan tenang.

Begitu Jongin menceritakan semua kejadian yang ia alami hari ini dan kemarin malam, tentu saja. Kyungsoo dan Luhan mengelus-elus janggut mereka, mencoba memecahkan teka-teki sikap Sehun terhadap Jongin.

"Sudahlah, percaya padaku. Sehun itu hanya menganggapku sebagai teman saja. Kami bahkan tidak bertukar nomor ponsel dan ia tidak mencoba merayuku. Dia hanya menganggapku teman. Akupun begitu." Kalimat terakhir Jongin jelas suatu kebohongan.

"Unnie, apa menurutmu begitu?" Kyungsoo masih berada dalam mode detektif.

"Entahlah, memang sih sepertinya Sehun hanya menganggap Jongin sebagai teman. Tapi sebenarnya jika Jongin mau, ia bisa membuat Sehun menyukainya. Kau mau Sehun menyukaimu Jong?"

"Tidak." Jongin menjawab sambil memandangi kaca besar dikamarnya. Kali ini ia menjawab jujur, ia tidak ingin membuat Sehun menyukainya. Ia akan sangat kasihan jika Sehun mendapatkan pacar seperti dia, pacar yang sama sekali tidak bisa dibanggakan, tidak pintar, tidak memiliki keahlian apapun, tidak cantik.

"Sungguh? Kalau begitu aku saja yang mendekatinya bagaimana?" Cepat-cepat Jongin menoleh kearah Luhan. Matanya berkilat, seolah ingin membunuh.

"Unnie! Akan kuadukan kau dengan Xiumin Oppa!"

"Tuh kan! Kau menyukainya!" Luhan langsung tertawa terbahak-bahak. Mungkin Sehun benar, ia sangat lugu jika berkaitan dengan masalah percintaan.

Jongin berdiri diam dalam kerumunan yang sangat padat. Apakah ia sedang berada di konser? Atau festival? Atau mall yang sedang diskon setengah harga? Entahlah, Jongin juga tidak mengetahuinya. Matanya hanya terfokus pada sosok yang membelakanginya beberapa meter di depannya. Tinggi, rambutnya tersisir rapi, dengan kemeja flanel. Jongin berdoa semoga sosok itu berbalik, ia ingin sekali melihatnya. Semakin sungguh-sungguh ia berdoa, rasanya sosok itu semakin jauh, jarak diantara mereka semakin luas. Jongin merasakan dadanya amat sesak. Sedih dan takut ia tidak akan pernah bertemu dengan sosok itu lagi.

Jongin terbangun dengan mata yang basah. Jantungnya berdegup sangat kencang, bukan jenis degupan seperti ketika ia sedang bersama Sehun. Degupan kali ini menyakitkan. Jongin mengingat mimpinya barusan, cowok memakai kemeja flanel itu adalah pangerannya. Pangeran yang setiap malam ia mimpikan. Hanya saja, kenapa malam ini pangerannya seolah-olah akan meninggalkannya? Jongin tidak mengerti kenapa ia bermimpi seperti itu, yang jelas hatinya terasa sangat mengganjal. Mimpi-mimpi yang selama ini ia nanti-nanti akankah berubah menjadi mimpi buruk?

Jongin menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir mimpi itu dari ingatannya. Itu hanyalah mimpi, bahkan pangeranmu itu tidak nyata. Mungkin kau terlalu kelelahan, Jongin mengusap matanya dan membenahi selimut yang ia gunakan bersama Kyungsoo malam itu.

"Jong! Jong! Bangun! Sehun ada dibawah! Dia sedang sarapan dengan orang tuamu!" Kyungsoo mengguncang-guncang badan Jongin yang masih tidur. Kesadaran Jongin langsung penuh begitu mendengar nama Sehun.

"Apa? Bagaimana bisa?"

"Ya bisa saja, dia masuk lewat pintu depan, lalu berjalan ke ruang mak—"

"Kyung! Jangan bodoh! Bukan itu maksudku!" Jongin mengerti mengapa ia tidak pernah mendapat peringkat disekolahnya, temannya saja sama bodohnya seperti dia.

"Sudahlah, aku disuruh ibumu memanggilmu kebawah untuk ikut sarapan!" Kyungsoo dengan cepat menarik lengan Jongin untuk segera turun kebawah.

Suasana meja makan sungguh canggung bagi Jongin. Kyungsoo dan Luhan bolak-balik melihat kearah Jongin dan Sehun bergantian, bahkan Kyungsoo dengan sengaja menendang kaki Jongin saat Sehun tersenyum kearah Jongin. Bukan membalas senyum Sehun, Jongin malah tersedak pancake-nya. Sehun sendiri makan dengan tenang, sesekali mengobrol ringan dengan ayah Jongin.

"Hari ini kalian jadi pergi ke taman bermain?" Nyonya Kim bertanya.

"Ba-bagaimana Hun? Jadi tidak?" Jongin bertanya tergagap. Luhan dan Kyungsoo menahan tawanya. Sangat jarang mereka melihat momen seperti ini, Jongin yang gugup karena cowok. Biasanya Jongin hanya diam dan menyingkir begitu ada cowok disekitarnya.

"Tentu saja. Aku kesini pagi-pagi memang untung menjemputmu." Kali ini Kyungsoo yang tersedak. Tuhkan, ada kemungkinan dia menyukaimu, begitulah arti tatap mata Kyungsoo kepada Jongin jika diartikan.

"Hehe, baiklah. A-aku akan siap-siap dulu. Kalian mau ikut gadis-gadis?"

"Tidak bisa! Aku ada kencan!" jawab Kyungsoo dengan cepat.

"Aku juga ada kencan!" Luhan sama cepatnya.

Setengah jam kemudian, Jongin sudah berada diruang tengah dimana Sehun menunggunya. Kyungsoo dan Luhan mengikuti dari belakang. Kyungsoo sudah membawa tas ranselnya, bersiap untuk kembali kerumahnya setelah malam panjang bergosip dengan Luhan—Jongin hanya mendengarkan saja. Luhan sendiri mengatakan ia ingin mengantarkan adiknya menuju medan kedewasaan sekaligus menilai apakah mungkin Sehun memang menaruh perasaan kepada adik bungsunya ini.

"Selamat berkencan!" Luhan berteriak sebelum Jongin dan Sehun menutup pintu mobil. Pintu rumah Jongin langsung tertutup rapat, meninggalkan Jongin yang wajahnya memerah dan Sehun yang duduk tak nyaman disamping kursi pengemudi.

"Jangan dengarkan! Luhan Unnie memang suka bercanda." Jongin mencoba mencairkan suasana yang mendadak canggung dan panas.

"Bercanda ya? Hehe. Sayang sekali." Jongin menoleh kaget. Ia masih enam belas tahun, pendengarannya masih sehat kan?

To Be Continue

Nonton The Conjuring 2 satu studio cuma berdua itu pengalaman pribadi Author lho hehe, tapi sayangnya engga sama Sehun kekeke

Makasih review-nya hehe, bikin semangat ngelanjutin ^^