Fanfiction—KaiHun.
Cast : Jongin!GS, Sehun
Genre : Romance, Drama
Summary : Jongin terlahir dari keluarga kaya raya, namun hal itu yang membuat hidupnya semakin sulit, karena dia tidak seperti anggota keluarganya yang lain. Tidak seperti kedua saudaranya, Jongin bukanlah gadis yang cantik—tidak jelek juga kok, dia tidak memiliki nilai akademik yang patut dipamerkan atau keahlian yang membuat dia pantas diperhitungkan. Jongin benar-benar tidak memiliki sesuatu yang spesial. Hidup Jongin jungkir balik hanya dalam semalam, hidupnya berubah. Pangeran yang selalu dia khayalkan bukanlah sekedar khayalan lagi.
Chapter Four
"Sehun, ayo sekali lagi ke rumah hantu!"
"Jangan rumah hantu lagi please. Kakiku masih sakit." Sehun meneguk air dingin dari botol banyak-banyak. Keringat Sehun bercucuran banyak sekali. Mengunjungi taman bermain dengan Jongin merupakan tantangan ternyata. Jongin sangat rewel minta naik wahana macam-macam. Bukan Sehun tidak mau atau takut, tapi Jongin hanya semangat diawal dan selalu merengek minta segera menyudahinya membuat Sehun kewalahan.
"Aku janji tidak akan berlaku kasar padamu lagi." Jongin mengacungkan jari kelingkingnya. Wajahnya sangat serius.
"Iya, iya baiklah, tapi istirahat dulu. Panas sekali." Sehun mengipasi tubuhnya dengan topi baseball miliknya. Udara Bulan Desember memang dingin, tapi Sehun merasa sangat kepanasan. Gara-gara siapa lagi kalu bukan Jongin yang sekarang membeli minuman tidak jauh dari bangku Sehun duduk.
Jongin berdiri termenung menatap daftar menu dihadapannya. Matanya memang membaca jenis minuman dan makanan yang tersedia. Ice Tea. Kenapa Sehun bersikap begitu ya tadi pagi? Orange Juice. Apple Juice. Apa mungkin Sehun juga menyukaiku? Ice Coffee. Sehun waraskan? Cowok waras tentu saja akan memilih cewek seperti Barbie, bukan Chucky seperti aku. Aku tidak sejelek Chucky sih, tapi kan tetap saja diluar sana banyak cewek seperti Barbie. Ice Latte. Ice Chocolate.
"Mau pesan apa Nona?" Kesadaran Jongin kembali.
"Ice Chocolate." Jongin mengucapkan menu terakhir yang ia baca. Ketika minumannya dibuat, Jongin melamun lagi. Jongin menatap Sehun yang sedang serius dengan ponselnya, mengingatkan Jongin pada satu hal. Kalau dia benar menyukaiku kenapa ia tidak pernah menanyakan nomor ponselku ya? Kalau dia tidak menyukaiku tapi kenapa dia sangat baik padaku? Terlalu baik malah. Dia selalu mendengarkan ocehanku, dia tidak pernah bermain ponsel ketika denganku, dia selalu tersenyum ketika bersamaku. Hahhh, apa aku yang terlalu percaya diri ya? Selama ini aku kan hanya mempelajari dan mengamati teori yang Luhan Unnie dan Kyungsoo lakukan, aku belum pernah mengalami sendiri bagaimana rasanya didekati cowok, jadi mungkin aku memang terlalu cepat menyimpulkan. Siapa tahu tadi pagi Sehun memang hanya bercanda. Hmm, mungkin, setelah ini aku rasanya perlu konsultasi dengan Luhan Unnie dan Ky—
"Ini Nona pesanan Anda."
"Ah iya, terima kasih."
Sehun segera memasukkan ponselnya begitu ia melihat Jongin berjalan kearahnya. Senyum manisnya muncul lagi, membuat Jongin rasanya melupakan segala kecemasan ia rasakan. Rasanya seperti Jongin sedang berdiri di altar dan Sehun menunggu diujung sana. Jongin, bangun dong, tidak ada pengantin wanita yang berjalan membawa ice chocolate dan pengantin pria juga tidak ada yang wajahnya seperti habis lari marathon seperti itu.
"Kau itu, dingin-dingin tapi beli es." Sehun berkomentar begitu Jongin ikut duduk disampingnya. Jongin hanya menatap botol minum air mineral milik Sehun yang mengeluarkan bulir-bulir air dingin. Sehun sadar dan hanya nyengir lebar.
"Jadi tidak ke rumah hantu lagi?"
"Jadi! Jadi! Jadi!"
"Tapi jangan mencakar, menendang atau berteriak terlalu keras. Oke?"
"Oke." Jawab Jongin percaya diri. Jari kelingking Sehun mendadak berada didepan wajah Jongin, perlu beberapa saat bagi Jongin untuk menguasai dirinya dan mengaitkan jari kelingkingnya ke jari didepannya. Wajah Jongin menghangat saat jari mereka bertautan. Sepertinya Jongin perlu mengecek kesehatan jantungnya setelah ini, semua yang Sehun lakukan membuat jantung Jongin bekerja terlalu cepat.
"Jongin! Jangan terlalu cepat larinya! Dia tidak akan kemana-mana!" Jongin berlari menyusuri pelataran parkir yang sudah mulai sepi. Dia mendengar teriakan Sehun tapi tetap saja tidak memperlambat langkahnya.
"Cepat Hun! Nanti spot terbaikku akan dipakai orang lain!"
"Ya! Jongin! Sunset masih lama!"
Kini Jongin melambatkan langkahnya, bukan karena ia lelah atau karena ia sadar jika ia tidak perlu terburu-buru untuk menyaksikan matahari terbenam. Gelombang rasa familiar itu kembali lagi. Rasanya ia pernah merasakan hal seperti ini. Tapi dimana? Dengan siapa? Kapan?
"Hosh hosh, kau ini cepat sekali…" Sehun berhasil menyusul Jongin yang kini berdiri mematung. Kerutan dikeningnya sangat dalam. Jongin benci hal ini, mengingat sesuatu tapi tidak seutuhnya. Rasanya seperti gatal tapi tidak bisa digaruk.
"Kau kenapa? Ayo, nanti keburu tempat yang kau bangga-banggakan itu diambil orang lain." Kali ini Sehun yang bersemangat.
"Huh? Ayo! Kita harus benar-benar cepat, itu adalah spot terbaik untuk melihat matahari terbenam." Jongin segera menyingkirkan semua yang ada dipikirannya. Jongin tidak mau merusak momen-momen langka bersama cowok tampan seperti ini dalam hidupnya.
"Awas saja jika pemandangannya tidak sebagus yang kau bicarakan." Sehun berujar setengah mengancam, lalu senyum usilnya muncul. "Aku akan menyuruhmu mengantarku ke Busan dengan mobilmu."
"Oke! Fine! Aku akan menyetir sampai Busan jika kau tidak puas dengan matahari terbenam ditempat favoritku. Belum pernah ada yang kecewa dengan spot pilihanku ini, kau tahu?" Jongin berkata dengan sangat yakin.
"Oh ya? Memang berapa orang yang kau beri tahu tentang spot ini?" Sehun menaikkan alisnya penasaran. Omo, tidak mungkin Sehun cemburu kan? Jongin mulai lagi dengan pikiran-pikiran anehnya.
"Hanya Luhan Unnie dan Kris Oppa, lalu Kyungsoo. Terus Taemin, juga Xiumin Oppa, siapa lagi ya? Uhmm.." Jongin tidak bisa mengingat dengan jelas karena kini ia fokus dengan jalanan didepannya. Lalu lintas menjelang sore sangat padat, sehingga Jongin perlu lebih berhati-hati.
"Oh, Taemin..? Xiumin..?" Suara Sehun jadi mengambang. Omo, omo! Benarkah Sehun cemburu? Awww! Wait, stop stop Jongin. Jangan mengambil kesimpulan terlalu cepat.
"Taemin itu siapa ya..uh..bagaimana ya menjelaskannya?" giliran Jongin yang mencoba menggoda Sehun. Sekaligus mengetes dugaannya, benarkah Sehun cemburu? Wajah Sehun terlihat sangat tenang, tapi alisnya masih terangkat, seolah menunggu jawaban Jongin.
"Dia itu teman rasa pacarnya Kyungsoo." Helaan nafas Sehun terdengar lebih keras dari biasanya. Hal ini membuat Jongin menjerit dalam hati.
"La-lalu.." Sehun mencoba menanyakan siapa Xiumin, tapi rasa gengsinya sebagai pria membuat lidahnya kelu.
"Lalu Xiumin Oppa adalah teman rasa pacarnya Luhan Unnie."
"Kenapa banyak sekali teman rasa pacar? Sedang jadi tren ya di Korea Selatan?" Sehun mengerutkan keningnya. Menurutmu kita ini tidak seperti teman rasa pacar bagiku Hun?
Jongin benar-benar mengerahkan seluruh kemampuan menyetirnya untuk bisa menyalip mobil-mobil dijalanan yang padat, demi spot untuk melihat matahari terbenam di Sungai Han. Ia juga tidak mau menyetir ke Busan, bisa mati stress dia dijalan. Untung saja tempat itu belum begitu ramai, mungkin karena saat ini udara sudah dingin jadi tidak banyak yang mau menghabiskan waktu diluar ruangan.
"Kau mau minum?" tawar Sehun. Jongin mengangguk sambil menggosokkan kedua telapak tangannya, dingin.
"Yang hangat ya Hun." teriak Jongin kepada Sehun yang sudah mulai menjauh. Sehun hanya mengacungkan jempolnya tanpa berbalik, pertanda ia mendengar teriakan Jongin. Pikiran Jongin kembali melayang begitu melihat punggung Sehun yang menjauh, kemana lagi jika tidak kembali melayang ke kejadian tadi pagi?
"Bercanda ya? Hehe. Sayang sekali." Jongin menoleh kaget. Ia masih enam belas tahun, pendengarannya masih sehat kan?
"Huh?" hanya itu yang mampu Jongin katakan.
"Sayang sekali cuma bercanda. Pasti menyenangkan punya pacar yang mau menyupirimu kemanapun kau mau. Hahaha." Jongin langsung merengut begitu mendengar jawaban Sehun. Tidak tahu apa dia sudah membuat hatinya berhenti berdetak selama beberapa saat.
"Hei, hei aku cuma bercanda. Aku tahu kok Luhan Noona cuma bercanda, aku kan cuma mengimbangi candaan Luhan Noona." Jongin masih memberikan tatapan membunuhnya. Jika tatapan bisa membunuh, Sehun pasti sudah mati dengan cara paling sadis.
"Jangan marah begitu. Maaf, maaf aku cuma bercanda. Kau boleh minta apapun deh nanti di taman bermain." Sehun mengkerut dibawah tatapan Jongin.
"DASAR KAU JAHAT SEKALI SIH!" Jongin memukuli Sehun, melampiaskan rasa kesalnya karena telah merasa dipermainkan. Sehun pikir Jongin kesal karena dipanggil supir, tapi ia tidak tahu Jongin nyaris mati kaget dengan pernyataan suka tidak langsung tersebut yang ternyata hanya candaan.
"Jong, karena kau tadi sudah minum cokelat, sekarang kau minum madu hangat ini saja ya. Aku saja yang minum cokelat." Sehun menyodorkan gelas kertas pada Jongin. Kau beri aku racunpun akan aku minum Hun.
"Hmm baiklah. Kau baik sekali sih. Terima kasih." Jongin mulai melayang-layang lagi karena perlakuan Sehun. Belum pernah ada yang berlaku semanis ini terhadapnya.
"Sebenarnya itu karena cokelat hangatnya tinggal satu gelas saja. Hahahaha." Sehun tertawa menggoda. Lagi, Jongin rasanya jatuh dari langit ketujuh.
"YA! Aku ternyata aku salah menilaimu Hun! Kau mengesalkan sekali! Ugh!" Jongin berusaha mengejar Sehun yang sudah melarikan diri dari cubitan Jongin.
Lelah. Jongin dan Sehun kini sudah duduk bersebelahan lagi. Mata mereka menatap langit yang mulai berwarna orange. Hening. Tenang. Tidak seperti beberapa menit yang lalu. Keheningan yang mengingatkan Jongin pada malam pertama ia bertemu dengan Sehun. Menenangkan.
"Sebentar lagi Hun! Belum terbenam saja sudah bagus kan? Lihat langitnya! Bagus sekali kan?" Jongin mulai bersemangat kembali begitu melihat matahari mulai mendekati garis cakrawala. Sehun hanya diam saja, memperhatikan suasana di sekitar Sungai Han yang tidak begitu ramai.
"Benarkan? Benarkan? Baguskan?" Jongin menuntut Sehun untuk mengakui keindahan tempat yang ia pilih untuk melihat matahari terbenam.
"Sssh, menonton matahari terbenam itu harus dihayati." Sehun tidak bergeming sedikitpun, matanya sangat terpaku dengan pemandangan didepannya. Bibir Jongin rapat seketika, lalu ia senyum penuh kemenangan. Jongin juga berhasil membuat Oh Sehun mengakui keindahan matahari terbenam di Sungai Han.
Matahari sudah sepenuhnya terbenam. Lampu-lampu penerangan sudah mulai dinyalakan. Mengganti keindahan matahari terbenam dengan keindahan pemandangan malam warna-warni lampu kota. Jongin dan Sehun belum beranjak dari tempat duduk mereka.
"Aku ingin makan ramen." Perut Jongin memecah keheningan.
"Baiklah, ayo cari kedai ramen."
"Aku ingin makan ramen instan dari mini market."
"Oke."
"Aku akan mengajarimu seni menyantap ramen. Suasananya sangat cocok, udaranya sedang dingin, dipinggir Sungai Han pula."
Lima belas menit mereka berdua sudah kembali duduk menghadap Sungai Han. Dihadapan mereka ada dua cup ramen kuah, dua kotak nasi instan dan bermacam-macam makanan dari mini market.
"Aku jarang sekali makan ramen karena ibu selalu melarangku. Jadi aku akan makan ramen sembunyi-sembunyi dengan Kyungsoo." Jongin menceritakan pengalamannya dengan mulut penuh.
"Aku juga jarang makan ramen karena ramen mahal di Eropa."
"Sungguh? Berapa harganya?"
"Bisa dua sampai tiga kali lipat dari harga disini. Aku sering minta dikirimi berkardus-kardus ramen dari sini."
"Oh ya? Bukankah kau tidak punya keluarga disini?"
"Huh? A-aku minta tolong ayah agar te-temannya yang mengirim."
"Begitu ya. Kau tinggal lama di Eropa tapi kenapa Bahasa Korea-mu lancar sekali?"
"Keluargaku menggunakan Bahasa Korea dirumah."
Jongin dan Sehun melanjutkan makan malam mereka. Sederhana memang makan malam kali ini. Tapi bagi Jongin, ini adalah makan malam paling berkesan. Wajah Sehun yang juga terlihat menikmati ramennya membuat Jongin merasa sangat senang. Seseorang menyukai dia apa adanya, mungkin bukan sebagai pacar tapi sebagai teman, dan itu sudah sangat membahagiakan bagi Jongin. Seseorang mau menghabiskan waktu dengannya, meskipun berkali-kali Jongin membuat orang itu kerepotan dengan sifat manjanya. Seseorang yang mungkin juga memiliki rasa yang sama seperti yang ia rasakan sekarang.
"Hun, bagaimana? Baguskan tadi matahari terbenamnya?" Jongin kembali mengingat taruhan mereka. Merasa menang, Jongin bertanya penuh keyakinan.
"Uhm, bagaimana ya? Memang bagus sih, tapi…" Sehun menyunggingkan senyum usilnya.
"Tapi apa? Kau bahkan menyuruhku diam tadi!" Jongin langsung menyerang.
"Aku kan cuma menyuruhmu diam, tidak bilang apa-apa tentang mataharinya." Sehun membela dirinya. Memang benar sih, Sehun tidak berkomentar apapun tentang matahari terbenamnya.
"Oke, jadi bagaimana pendapat Anda mengenai sunset hari ini Tuan Oh Sehun?" Jongin mengerucutkan bibirnya. Perasaan Jongin sudah tidak enak, pasti Sehun akan mengerjainya lagi.
"Sunsetnya lumayan…" Jongin menunggu, alis kanannya terangkat. "Hanya saja tetap membuatmu mengantarku ke Busan."
"Sehun! Kau tega sekali sih! Kau berbohong kan? Kau cuma mengerjaiku kan supaya aku menyetir ke Busan?" Jongin merajuk. Sudah Jongin duga jika Sehun akan tetap memintanya untuk menyetir hingga Busan.
"Memang kau tahu apa tentang Busan? Disana tidak ada apa-apa tahu. Untuk apa kau pergi kesana?" Strategi satu, Jongin berusaha sedikit berbohong supaya Sehun berubah pikirian. Padahal Busan banyak sekali tempat menarik untuk dikunjungi.
"Kau kira aku percaya? Aku semalam melihat di internet, Busan banyak tempat wisata. Bohongmu kurang bagus Jong." Sehun mendengus mendengar kebohongan Jongin.
"Kau tega sekali sih? Kau tahu betapa jauhnya Busan? Kau tega menyuruhku menyetir hingga kesana? Belum perjalanan pulangnya?" Strategi dua, merajuk dan memohon belas kasihan.
"Tentu saja aku tega. Kau kan sudah setuju tadi." Sehun berusaha sangat keras membuat wajahnya tetap datar. Padahal dalam hati ia tertawa terbahak-bahak melihat usaha-usaha Jongin agar selamat dari taruhannya. Gagal sudah dua strategi yang Jongin lakukan.
Drrt… Drrrtt… Drrrt..
Ponsel Sehun yang ia letakkan dibangku tempat mereka duduk bergetar. Pandangan keduanya otomatis menuju benda tersebut. Foto seorang cewek muncul, dan langsung rasanya ramen yang barusan Jongin makan ingin keluar. Siapa cewek itu? Sehun sendiri langsung menyambar ponselnya, tersenyum pada Jongin sebagai tanda ia memohon diri sejenak untuk mengangkat panggilan masuk tersebut.
Kebahagian Jongin selama dua hari rasanya langsung menguap hanya dalam sedetik begitu ia melihat foto cewek yang ia yakini adalah orang yang sedang bicara dengan Sehun sekarang. Siapa ya cewek itu? Tidak mungkin pacar Sehun kan? Dia sendiri bilang kalau tidak punya pacar. Masa dia berbohong padaku? Untuk apa? Tapi belum tentu juga cewek tadi pacarnya kan? Hiks, cewek tadi sepertinya cantik sekali.
Tidak lebih dari semenit Sehun sudah kembali duduk disebelah Jongin. "Cepat sekali, temanmu ya?" Jongin menjaga nada suaranya agar tidak bergetar atau gugup atau sedih atau mengandung segala jenis emosi yang sedang ia rasakan. Matanya tertuju pada sisa kuah ramen didepannya, mengaduk-aduk dengan sumpit. Bersikap seolah tidak terjadi apa-apa dengan dirinya.
"Huh? Iya dia temanku. Kami satu klub SMA dulu, jadi kami lumayan dekat." Cuma teman ya? Tapi kenapa harus bicara jauh disana? Jongin masih mengaduk-aduk kuah ramennya.
"Oh begitu, kau ikut klub apa dulu di SMA?" Ingat Jong, dia bukan siapa-siapamu. Lagi pula dia sudah bilang kan kalau tadi hanya temannya. Untuk apa Sehun berbohong padamu.
"Ah, sebenarnya ini memalukan. Aku…ikut klub…me-menjahit." Jongin mengangkat sedikit wajahnya, terkejut dengan jawaban Sehun. Ia pikir Sehun berbohong, tapi begitu melihat wajah Sehun yan memerah ia tahu jika Sehun berkata jujur. Baru kali ini Jongin melihat wajah Sehun memerah. Sangat menggemaskan, kulit putihnya kontras dengan warna merah diwajahnya, bahkan telinganya juga ikut memerah.
"Menjahit? Sungguh?" Jongin tertawa kecil, bukan karena fakta bahwa cowok setampan Sehun ikut klub menjahit, tapi karena wajah Sehun yang lucu dengan rona merah yang merambat hingga leher dan telinganya.
"Kau menertawaiku!"
"Tidak! Sungguh! Aku tertawa karena wajahmu lucu sekali karena malu." tawa Jongin lebih keras kali ini. Sehun juga bisa merajuk ternyata.
"Kalau boleh tahu, apa alasanmu ikut klub menjahit?" tanya Jongin begitu ia bisa mengontrol tawanya.
"Ehm, ka-karena aku…membutuhkan nilai untuk kegiatan non-akademik."
"Benarkah? Mengambil kegiatan klub itu wajib ya disana? Kalau disini sih tidak wajib. Wah, sulit ya sekolah disana.." Jongin membayangkan dirinya harus mengikuti kegiatan klub, pasti melelahkan. Belum lagi ia pasti tidak akan diterima di klub manapun karena kemampuan non akademiknya sangat terbatas.
"Kau tidak ikut klub apapun?"
"Tidak."
"Kenapa?"
"Kenapa ya?" Masa iya aku jujur mengatakan karena aku tidak bisa apa-apa?
"Uhm, karena aku tidak tahu mau masuk klub apa.." Jongin akhirnya berkata apa adanya. Sehun sudah mengungkapkan sebuah fakta tentang dirinya, jadi tidak ada salahnya kan Jongin juga membuka dirinya.
"Kau suka melakukan apa?"
"Aku…suka membaca. Aku suka memasak, aku suka berenang." Jongin menjawab pertanyaan Sehun. Menerawang kembali kejadian-kejadian kurang mengenakkan yang membuatnya berhenti melakukan hal-hal yang ia sukai.
"Lalu, kenapa tidak ikut klub memasak atau olahraga? Apa tidak ada di sekolahmu?" Sehun bertanya penasaran. Jongin berasal dari keluarga terpandang, pasti bersekolah di sekolah elit di Seoul, tidak mungkin kan klub-klub seperti itu tidak ada di sekolah elit?
Jongin sendiri bingung harus menjawab apa. Jika biasanya ia hanya menjawab 'tidak apa-apa' atau 'malas saja', kali ini Jongin sangat ingin mengungkapkan alasan yang sesungguhnya. Mata Sehun yang hangat dan sikap gentleman yang ia lakukan kepada Jongin, membuat Jongin ingin mencoba membuka rahasia terdalamnya.
"Uh..aku..aku..a-aku tidak begitu mahir memasak, d-dan fisikku terlalu lemah untuk melakukan aktivitas yang terlalu berat.." Jongin semakin serius dengan sumpitnya. Mengakui kelemahan diri sendiri adalah hal yang berat untuk dilakukan, apalagi didepan orang yang ingin kita beri kesan baik. Jongin malu menatap Sehun.
"Aku juga tidak mahir menjahit. Satu-satunya yang bisa aku jahit adalah kain-kain bekas yang aku satukan menjadi selimut." Mendengar jawaban Sehun membuat Jongin semakin malu. Sehun bukan hanya tampan, sopan, baik dan lucu. Dia juga teman yang baik, ia mampu membuat orang lain merasa lebih baik hanya dengan satu kalimat. Jongin merasa dirinya semakin jatuh hati dengan pesona Oh Sehun.
"Kau tahu Sehun? Kau benar-benar teman bicara yang menyenangkan." Jongin akhirnya mengangkat kepalanya dari cup ramennya. Matanya menatap langsung ke arah mata hazel Sehun, Jongin jatuh hati pada mata terindah yang pernah ia lihat.
"Berarti kau setuju mengantarku ke Busan kan?" Dan senyum jahil itu, Jongin juga jatuh cinta pada senyum konyol yang mengesalkan itu.
"Ya! Aku tarik ucapanku! Aku lupa kau sangat mengesalkan!" Sehun tertawa. Tawa itu, Jongin tidak bisa menahan dirinya untuk tidak jatuh hati pada tawa itu.
Disebuah apartemen mewah di tengah kota Seoul, Sehun membuka pintu kamarnya dengan kasar. Wajahnya menunjukkan ekspresi sangat marah dan lelah. Rambutnya sudah tidak beraturan dan langkahnya terlihat sangat berat, tangan kanannya membawa sebotol alkohol yang isinya tinggal setengah.
"Sehun? Kau baru pulang?" seorang pria sudah cukup tua mengejutkan Sehun. Botol itu cepat-cepat ia letakkan dibalik punggungnya.
"Iya ayah."
"Kau pergi dengan Jongin lagi? Sampai tengah malam begini?"
"Aku pergi dengan Jongin hanya sampai jam tujuh malam tadi Ayah, aku pergi dengan Chanyeol barusan." Sehun menjelaskan.
"Jangan memperlakukan Jongin seenakmu Sehun, dia anak baik." Nada bicara ayahnya memperingatkan. Sehun mengangguk tanda ia mengerti maksud ayahnya dan melanjutkan langkahnya masuk kedalam kamarnya.
Musik klasik terdengar lirih dari kamar Sehun. Sudah pukul tiga dini hari dan Sehun belum juga terlelap. Pikirannya berkecamuk, ia berharap ia tidak hanya membeli satu botol alkohol saja tadi. Sekarang botol itu sudah habis dan ia lempar begitu saja di lantai kamarnya.
"Untuk apa kau meneleponku lagi?"
"Aku merindukan pacarku Hun. A-aku sungguh minta maaf. A-aku ti—"
"Kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi J."
"Aku tidak pernah setuju kau memutuskan aku. Aku tahu kau ma—"
"Sudah lah J, kita bicarakan itu nanti. Aku sedang sibuk." Sehun menutup panggilan tersebut. Ia berjalan kearah gadis itu, yang kini berpura-pura sibuk dengan ramen didepannya.
"Chan, bisa jemput aku?"
"Sepuluh menit, jika kau tidak sampai juga akan kubunuh kau."
Pikiran Sehun memang sedang kalut. Sehun berpamitan pulang dengan keluarga Jongin dan beralasan akan menggunakan taksi untuk pulang, padahal ia saat ini berjalan-jalan seorang diri ditengah kota yang ia tidak begitu kenal. Setelah satu jam hanya berputar-putar ia memutuskan untuk menghubungi sahabatnya, Park Chanyeol. Sehun butuh alkohol sekarang.
Suara musik berdentum memekakkan. Panas dan pengap. Itulah yang Sehun rasakan, entah bagaimana ada orang yang ketagihan datang ke diskotik. Jarang sekali Sehun mendatangai tempat hingar bingar seperti ini, hanya waktu-waktu tertentu. Seperti saat ini, ketika hatinya sedang sangat kalut. Sehun memperingatkan Chanyeol agar menghentikannya jika ia sudah mulai mabuk. Hanya saja teman bodohnya itu malah menggoda bartender yang melayani mereka. Begitu Sehun memberikan tatapan mencela, baru perhatian Chanyeol teralihkan dari bartender seksi tersebut.
"Sudahlah Hun, ini memang karmamu. Terima saja. Beberapa minggu lagi kau juga akan baik-baik saja. Jangan terlalu berlebihan Hun. Tidak keren sekali playboy kelas dunia mabuk karena putus cinta."
"Kau tidak mengerti. Aku benar-benar mencintainya Yeol."
"Iya, iya aku tahu, Jika kau masih mencintainya kenapa kau selalu menolak ajakannya untuk kembali? Tinggal kembali saja, apa rumitnya?"
"Harga diriku"
"Makan itu harga diri sampai kenyang. Jangan berlarut-larut Hun, jika kau ingin kembali pada Jessica kembalilah, sepertinya dia benar-benar menyesal. Jika tidak aku akan mengenalkanmu pada gadis paling seksi dikampusku. Bagaimana?" Tawaran Chanyeol terdengar menggiurkan. Andaikan Chanyeol menawarkan hal itu beberapa minggu yang lalu, Sehun pasti akan menerimanya. Hanya saja pikirannya sudah terisi dengan gadis lain. Gadis yang mungkin akan menyembuhkan luka dihatinya, dan juga mengubahnya menjadi sosok baru yang selalu diharapkan kedua orang tuanya.
Drrt…drrt…drrtt…
Jessica is calling.
Aku sudah tidak mencintainya, aku tidak perlu mengangkat panggilan ini.
Drrt…drrt…
Aku sudah tidak mencintainya, panggilannya sudah tidak berarti untukku.
"Apa apa J?"
"Aku tahu kau masih mencintaiku. Kau masih memanggilku J."
"Tidak."
"Lalu untuk apa kau masih mengangkat panggilanku? Disana lewat tengah malam kan?" Sehun diam saja.
"Jangan begini Hun. Kita masih saling mencintai. Aku tahu itu. Jangan membohongi dirimu sendiri." Sehun masih diam saja. Apa benar aku masih mencintainya? Jika aku memang tidak lagi mencintainya kenapa aku tidak bisa menolak panggilannya?
"Sehun, dengarkan aku. Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak pernah sungguh-sungguh dengan Mark. Aku berada dibawah pengaruh alkohol waktu itu." Bullshit, memangnya aku tidak tahu kau sering pergi dengannya dibelakangku?
"Sehun, kembalilah padaku. Kembalilah ke London. Aku sangat mencintaimu Hun."
"Entahlah Jess, aku tidak yakin dengan semua ini. Selamat malam."
Sehun memperhatikan langit-langit kamarnya. Jessica memenuhi pikirannya malam itu. Haruskah ia sekali ini menekan harga dirinya dan kembali pada Jessica, kekasihnya selama setahun terakhir?
To Be Continue
Terima kasih sekali lagi review-nya hehe.
Cerita ini sebenarnya murni ide author, mungkin ide author lumayan pasaran jadi bisa samaan sama manga hehehe.
Author ngga mau kasih spoiler biar pada makin penasaran wkwk
Summary author udah bener kan ya? HunKai?
Mohon review-nya ya, kritik dan saran juga ditunggu!^^
