Fanfiction

Cast : Jongin!GS, Sehun

Genre : Romance, Drama

Summary : Jongin terlahir dari keluarga kaya raya, namun hal itu yang membuat hidupnya semakin sulit, karena dia tidak seperti anggota keluarganya yang lain. Tidak seperti kedua saudaranya, Jongin bukanlah gadis yang cantik—tidak jelek juga kok, dia tidak memiliki nilai akademik yang patut dipamerkan atau keahlian yang membuat dia pantas diperhitungkan. Jongin benar-benar tidak memiliki sesuatu yang spesial. Hidup Jongin jungkir balik hanya dalam semalam, hidupnya berubah. Pangeran yang selalu dia khayalkan bukanlah sekedar khayalan lagi.

Chapter Five

Tak! Tak! Tak! Pukul enam pagi dikediaman keluarga Kim, terdengar suara pisau beradu dengan talenan. Anak bungsu keluarga Kim sedang memotong beberapa bahan masakan didapur, pemandangan yang sudah lama tidak terlihat. Matanya sesekali memandang sebuah gelas kertas didepannya, senyum akan muncul dibibirnya. Masih terbayang jelas bagaimana sikap manis Sehun semalam.

"Jong, tunggu sebentar." Sehun menahan lengan Jongin yang sudah akan turun dari mobil begitu Jongin sukses memarkinkan mobilnya tanpa menabrak apapun.

"Kenapa?"

"Ini untukmu." Sehun menyodorkan sebuah gelas kertas yang familiar.

"Huh? Apa ini?" Jongin bingung.

"Apa sekarang kau buta huruf?" Sehun berkata seraya membuka pintu mobil. Itu adalah cokelat panas. Cokelat panas yang sama seperti yang Sehun minum di Sungai Han tadi. Jadi Sehun benar-benar membelikan Jongin madu hangat karena ia terlalu banyak minum manis-manis? Bukan karena cokelat hangatnya tinggal satu gelas? Jongin segera mengikuti langkah Sehun yang sudah masuk kedalam rumahnya untuk berpamitan, senyum lebar terukir diwajah Jongin.

Sehun. Sehun. Sehun. Itulah yang berada dibenak Jongin sejak semalam. Ia sangat ingin bertemu dengan unnie-nya, juga Kyungsoo untuk berkonsultasi, sayang Kyungsoo sedang sibuk bersama Taemin semalam dan juga bazaar Luhan baru akan selesai beberapa hari lagi. Apa maksud dari semua ini? Jongin saat ini sudah tidak peduli apapun lagi, apakah dia cukup cantik untuk Sehunatau apakah ia pantas menjadi orang terdekat Sehun, yang ia tahu adalah Sehun sangat manis padanya. Berdasarkan rencana yang Jongin dan Sehun buat, hari ini rencana mereka akan ke museum-museum atau pameran kesenian. Jongin juga berencana untuk mengajak Sehun ke toko buku bekas yang menjual buku-buku langka yang sudah tidak lagi terbit.

Jongin memasak sambil terus memikirkan Sehun, salah satu yang sangat melekat jelas dalam pikiran Jongin adalah perkataan Sehun. Aku juga tidak mahir menjahit. Satu-satunya yang bisa aku jahit adalah kain-kain bekas yang aku satukan menjadi selimut. Bagi orang lain mungkin kalimat itu tidak akan berarti apa-apa, namun untuk Jongin, kalimat itu menjadi penyemangat untuknya, seolah Sehun mengatakan 'aku tidak pandai menjahit dan aku tetap melakukannya. Karena aku menyukainya dan aku melakukannya untuk membuat diriku senang, bukan untuk membuka brand fashion agar semua orang menyukai hasil karyaku'.

"Jongin? Kau memasak pagi-pagi sekali." suara hangat Nyonya Kim mengagetkan Jongin. Ia hanya tersenyum lebar, dan melanjutkan kegiatannya. Nyonya Kim mengusap sayang rambut anaknya dan meninggalkan dapur. Bukan hanya senyum Jongin yang belakangan ini semakin lebar, senyum kedua orang tuanya juga menyiratkan kebahagiaan yang sama. Tuan dan Nyonya Kim bisa merasakan Jongin mereka sudah kembali menjadi Jongin yang dulu, lebih ceria dan banyak tertawa. Apalagi pagi ini, Nyonya Kim ingin menangis karena bahagia, anaknya kembali menekuni hobinya yang lama ia tinggalkan.

Pukul sepuluh pagi, Jongin mondar-mandir cemas karena Sehun belum juga muncul dirumahnya. Ingin ia menghubungi Sehun, tapi ia ingat jika sampai saat ini ia belum mempunya nomor ponsel Sehun. Sempat terbersit dibenak Jongin untuk meminta ayahnya menghubungi Sehun, atau ayahnya mungkin. Namun Jongin mengurungkannya, ia akan terlihat terlalu bersemangat jika ia sampai harus melibatkan orang tua hanya untuk keluar dengan Sehun.

Ponsel Jongin berdering. Kyungsoo.

"Halo?"

"Iya aku dirumah."

"Entahlah aku belum tahu pasti."

"Baiklah, aku tunggu." Kyungsoo sedang perjalanan menuju rumah Jongin, ingin menagih cerita kencan Jongin ke taman bermain. Tidak sampai sepuluh menit Jongin sudah bisa mendengar deru mobil Kyungsoo dihalaman rumahnya.

"Ahhh! Bukan hanya kau saja yang kencan kemarin!" Seperti biasa, Kyungsoo langsung berteriak begitu melihat Jongin yang berbaring dikamarnya.

"Sungguh? Kau kencan dengan Taemin? Tu-tunggu, kenapa rambutmu warna biru begini?" Jongin langsung terperangah. Rambut Kyungsoo seperti tokoh anime, bagus sih. Hanya saja Jongin lebih suka rambut asli Kyungsoo, cokelat tua. Ah, cokelat. Jongin jadi teringat dengan Sehun.

"Jong, Taemin dan rambutku bukanlah prioritas sekarang. Bagaimana kau kemarin dengan Sehun?" Kyungsoo mengibaskan rambutnya. Jongin tidak tahan untuk tidak terus memperhatikan rambut Kyungsoo sekarang, rambutnya panjang sepinggang dan berwarna biru—bukan biru langit yang menenangkan atau biru laut yang indah. Biru rambut Kyungsoo kali ini berwarna bitu norak. Jongin tidak paham dengan pilihan warna rambut Kyungsoo yang sekarang.

"Ehm, ya seperti itu lah." Jongin menjawab malu-malu.

"Ceritakan padaku seluruhnya. Jangan ada satu detail yang terlewatkan." Nada Kyungsoo memerintah, yang berarti tidak seorangpun bisa mengatakan tidak. Jongin menceritakan seluruhnya—kecuali bagian dejavu aneh yang tidak ia pahami dan pengakuan Jongin mengenai kekurangannya. Mulai dari bagaimana bercanda Sehun sebelum berangkat ke taman bermain yang membuat jantung Jongin mau lepas sampai cokelat panas yang Sehun berikan kepadanya sebelum ia pulang. Sepanjang Jongin bercerita kening Kyungsoo berkerut dan kerutan itu semakin dalam begitu Jongin menyelesaikan ceritanya. Dia memang menyukaimu." Kyungsoo menjentikan jarinya, yakin dengan kesimpulan yang tarik.

"Aku tidak tahu Kyung, aku masih tidak yakin." Jongin termangu. Jujur saja, Jongin juga merasa jika Sehun memang menganggapnya lebih dari teman, tapi ada sebuah suara yang membisikkan sesuatu yang berlawanan.

"Percaya padaku Jo—"

"Kyung, aku tahu jika dia memang menyukaiku—itu terlalu berlebihan tapi aku tahu jika dia menganggapku lebih dari sekedar teman, hanya saja perasaanku merasakan ada yang sedikit ganjil." Jongin menatap Kyungsoo. Seketika Kyungsoo merasa sangat bersimpati pada sahabatnya tersebut, wajah Jongin terlihat sangat cemas dan khawatir, seolah dunia akan kiamat besok dan ia tidak boleh mengerjakan hal lain selain latihan soal matematika.

"Perasaan seperti apa?"

"Seperti apa ya? Aku tidak bisa menjelaskannya, pokoknya begitu. Misalkan, sampai sekarang dia belum meminta nomor ponselku. Itu adalah contoh yang paling sederhana." Kyungsoo menghela nafasnya lelah, sulit memang membicarakan masalah cinta dengan orang yang tidak punya pengalaman sama sekali.

"Baiklah, baiklah. Tapi, berdasarkan ceritamu, hampir 90% aku yakin jika Sehun menyukaimu. Masalah nomor ponsel menurutku dia hanya lupa saja karena kalian terlalu sibuk dan saat pulang ia sudah lelah." Kyungsoo mencoba mencari alasan yang logis. Mereka berdua sama-sama termenung. Percintaan remaja memang tidak pernah mudah kan?

"Oh iya bagaimana dengan Taemin? Aku baru sibuk dua hari kau sudah jadian saja dengan Taemin. Ugh." Jongin cemberut. Kyungsoo hanya cengar-cengir malu.

"Kemarin tiba-tiba dia datang kerumahku, dan waktu itu Jooyoung juga sedang dirumahku. Taemin langsung menyalakan PS-ku dan main sampai Jooyoung pulang, sumpah waktu itu awkward banget Jong! Habis gitu waktu Jooyoung sudah pulang, Taemin langsung bilang 'Besok aku jemput jam empat sore, kita kencan' begituuu…" Kyungsoo menirukan nada bicara Taemin yang sok-sok jutek saat mengajaknya berkencan.

"Sebenter, sebentar. Jooyoung…." Jongin tidak mengingat siapa itu Jooyoung.

"Mantanku Jong, astaga. Lalu, lalu dia langsung pulang begitu saja. Dan aku telepon dia untuk menanyakan maksudnya 'Tae, apa maksudmu dengan kencan?'—Kyungsoo menggunakan nada suara yang ia gunakan kemarin malam—'Ya kencan, kau tidak tahu kencan? Yang dilakukan orang pacaran bodoh'—Kyungsoo kembali meniru suara Taemin yang terdengar jutek. Terus aku tanya lagi 'Memang kita pacaran?' dan kau tahu Taemin menjawab apa?" Kyungsoo bercerita penuh ekspresi. Berbeda dengan Jongin yang mendengarkan tanpa ekspresi, ia berusaha mencerna setiap kata-kata berkecepatan super yang keluar dari bibir Kyungsoo.

"Apa?"

"Dia bilang 'Memangnya selama ini kita tidak pacaran?' begitu Jong! Kyaaaa! Aku senang sekali!" Kyungsoo melonjak-lonjakkan badannya diatas kasur. Jongin akui cerita membosankan akan menjadi menarik jika Kyungsoo yang menceritakan.

"Wah tidak aku sangka kau akhirnya jadian juga dengan Taemin. Rekor terlama ya kau mengejar-ngejar cowok, hampir satu semester lho!" Jongin mengucapkan selamatnya dengan tulus. Jongin tahu jika Kyungsoo benar-benar menyukai Taemin—tidak seperti ketika Kyungsoo dengan mantan-mantannya, dan Taemin juga memiliki rasa yang sama. Hanya saja keduanya sama-sama aneh dan keras kepala.

"Jong, didapurmu ada cupcake punya siapa? Aku mau dong." Ucap Kyungsoo begitu puas terkikik karena mengingat kejadian semalam. Sudah biasa bagi Kyungsoo untuk menjelajah dapur rumah Jongin untuk mencari cemilan, rupanya tadi ia sempat mampir kedapur terlebih dahulu.

"Aku yang membuatnya. Hehehe." Jongin mengaku dengan suara pelan.

"Sungguh? Aku mau dong!" Kyungsoo sudah lari saja keluar kamar Jongin.

"Ya! Kyungsoo! Jangan dimakan!" Jongin mengejar Kyungsoo berusaha menyelamatkan cupcake-nya.

"Kyuuung! Jangan dimakaaan!" Nyaris saja cupcake-nya masuk kedalam mulut Kyungsoo. Wajah Kyungsoo langsung cemberut. "Kenapaaaaa? Aku sudah lama tidak makan masakanmu."

"Hehe, ini untuk Sehun." Jongin menjawab malu-malu, membuat Kyungsoo memutar kedua bola matanya malas. Dasar orang kasmaran!

"Unnie! Aku sudah jadian dengan Taemin!" Pekik Kyungsoo tiba-tiba. Jongin menoleh kebelakangnya. Kakak perempuannya muncul dengan rambut acak-acakan dan wajah mengantuk.

"Apa? Ya! Kau meninggalkanku! Xiumin Oppa bahkan belum pernah mengajakku makan malam romantis." Tetap saja, suaranya akan penuh semangat jika berkaitan dengan gosip terkini.

"Unnie, kan yang penting kau sudah pernah diajak makan malam. Itu kemajuan sekali mengingat Xiumin Oppa orangnya sangat sibuk dan pemalu jika berhadapan dengan wanita." Jongin mengingatkan Luhan akan makan malamnya dengan Xiumin beberapa malam yang lalu.

"Ah ngomong-ngomong tentang makan malam, Jongin juga sudah makan malam romantis dengan kekasih hatinya Unnie! Hihihi." Kyungsoo mulai membeberkan gosip Jongin yang terpanas. Mulai deh.

"Ahhh! Sungguh?" Luhan langsung memekik. Jongin mengangguk lemah.

"Benar! Mereka makan malam dipinggir Sunga Han Unnie." Kyungsoo menambah bumbu dalam gosipnya.

"SUMPAH? Restoran dipinggir Sungai Han kan romantis sekali Jong!" Luhan mengguncang-guncang tubuh Jongin tidak percaya.

"U-unnie! Lepaskan! A-ku tidak makan direstoran manapun! Aku makan di dekat minimarket!" Jongin kesulitan menjelaskan situasinya. Kyungsoo membeberkan fakta hanya setengah, jadi begini deh.

"Hah?" Luhan terkejut.

"Unnie, Sehun itu kelas tiga atau empat sepertinya. Masih belum begitu jelas." Kyungsoo berkata pada Luhan. Kepala Luhan mengangguk-angguk mengerti dan menggumamkan kalimat yang terdengar seperti 'dasar laki-laki'.

"Kelas apa?" Jongin tidak mengerti perkataan Kyungsoo.

"Kelas satu, dia hanya ingin berteman denganmu. Kelas dua, dia hanya ingin menjadikanmu 'teman dekat' karena dia mengharapkan sesuatu darimu. Kelas tiga, dia menyukaimu tapi situasi percintaannya rumit. Kelas empat, dia menyukaimu tapi masih ragu atau belum berani menyatakan perasaan. Kelas lima, dia menyukaimu dan melakukan progres untuk hubungan kalian." Kyungsoo menjelaskan.

"Hah? Dari mana kalian menemukan hal seperti itu?"

"Kami membuatnya sendiri Jongin sayang. Sudah ya aku duluan aku harus segera pergi ke bazaar." Luhan melangkah meninggalkan dapur sambil mencium pipi Jongin gemas. Kenapa sih adiknya ini bisa selugu ini? Dia jadi tidak tega melepaskan Jongin ke dunia percintaan yang kejam, dan yang pasti Jongin akan seperti anak ayam yang hilang.

"Unnie! Kau jorok sekali menciumku padahal belum sikat gigi!" Jongin mengelap pipi kirinya yang baru saja dikecup Luhan.

—-

"Hai Jong, maafkan aku. Aku terlambat, aku harus menemin ayahku ke suatu tempat." Sehun saat ini berdiri diruang tengah. Jongin terkejut dengan kedatangan Sehun yang tiba-tiba, kaki Jongin yang sebelumnya tergeletak diatas meja langsung diturunkan. Malu, Sehun memergokinya bertingkah tidak selayaknya wanita yang manis.

"Se-sehun? Sejak kapan ka-kau…" Jongin gelagapan.

"Baru saja. Ayo! Kita jadi pergi hari ini?"

"Te-tentu saja." Sehun memang penuh kejutan. Datang kerumahnya tanpa peringatan, memberikan sikap manis yang selalu diluar dugaan Jongin, dan yang pasti Sehun mencuri hatinya yang belum pernah ia buka untuk siapapun.

Sepuluh menit kemudian Jongin sudah siap dengan membawa sebuah kantung berwarna merah muda. Mereka memasuki mobil dan Jongin segera menjalankan mobilnya menuju keramaian Bulan Desember yang dihiasi suasana Natal.

"Maaf Jong, kita jadi tidak bisa ke museum hari ini." Sehun membuka suara, suaranya benar-benar terderngar sangat bersalah.

"Tidak apa-apa Hun. Ayahmu juga butuh perhatian anaknya." canda Jongin menenangkan, tidak lupa tersenyum kepada Sehun yang sedari tadi terus-terusan memperhatikannya. Jongin benar gadis yang baik. Apa aku benar menyukainya? Bukan hanya sebagai teman disaat patah hatiku? Dia berbeda dengan gadis lain sampai aku tidak tega untuk membatalkan janjiku dengannya hari ini, Sehun masih terus memandangi Jongin yang sedang konsentrasi menyetir.

"Benar tidak apa-apa Hun. Jangan memandangiku terus aku jadi tidak tenang menyetir." Jongin sekali lagi menenangkan Sehun. Mendengar Jongin berbicara begitu, Sehun mengalihkan pandangannya keluar jendela. Hati Sehun berkecamuk. Telepon Jessica semalam membuat hati Sehun yang sudah hampir melupakannya kembali teringat saat-saat indah mereka bersama. Juga rasa bersalah Sehun kepada Jongin karena ia sudah banyak berkata kurang jujur terhadapnya. Sehun memang tidak terlalu banyak berbohong kepada Jongin, hanya tidak menceritakan semuanya. Seperti alasan ia mengambil kelas menjahit, Sehun mengambil kelas menjahit karena ia saat itu sedang berusaha untuk mendapatkan Jessica berada dikelas tersebut meskipun pada akhirnya Sehun mulai menikmati kegiatan ektrakurikulernya tersebut. Juga yang mengiriminya ramen, sebenarnya Chanyeol lah yang juga merupakan anak teman bisnis ayahnya yang selalu mengirimnya. Lalu alasan keterlambatannya hari ini juga tidak menceritakan sebenarnya. Memang benar Sehun diajak pergi oleh ayahnya, namun Tuan Oh tidak menyuruhnya untuk ikut Sehun sudah memiliki janji dengan Jongin. Sehun memilih untuk ikut ayahnya agar ia bernafas sejenak dari gadis yang membuatnya mempertanyakan isi hatinya sendiri. Begitu sampai dirumah Sehun tidak tahan untuk tidak menemui Jongin, dan dengan kecepatan tinggi ia menuju rumah Jongin.

"Sehun, ayo turun kita sudah sampai! Sehun! Sehun Oppa!" Jongin melambaikantangannya didepan wajah Sehun yang terlihat kosong. Jangan panggil aku Oppa Jong, kau satu-satunya orang yang memanggilku oppa dan itu membuatku sangat nervous, perhatian Sehun langsung menuju Jongin begitu ia mendengar kata oppa keluar dari bibirnya.

"Kau kelelahan ya Hun? Tidak usah pergi hari ini bagaimana? Kau mau pulang? Mau aku antar?" Jongin langsung menyerang Sehun dengan banyak pertanyaan.

"Tidak apa-apa Jong. Aku hanya sedang mengamati Seoul saja. Indah sekali ya menjelang Natal begini." Sehun tidak berbohong, ia memang mengamati Seoul yang begitu indah, sekaligus membayangkan kencan manis dengan gadis disebelahnya itu.

"Indah ya? Aku juga suka Seoul menjelang Natal. Aku sering berjalan-jalan diluar untuk menikmati suasana Natal." Jongin ikut mengamati suasana diluar mobilnya.

"Benarkah? Jalan-jalan kemana? De…apa tempat yang kau rekomendasikan untukku?" Nyaris saja Sehun menanyakan Jongin pergi dengan siapa.

"Aku biasanya pergi ke daerah Myeongdong atau Hongdae, karena disana Kyungsoo atau Luhan Unnie bisa berbelanja. Hehe. Disana sangat bagus jika sedang Natal. Jalannya sangat cantik." Jongin menjawab jujur. Ia selama ini hanya mengiyakan kemanapun sahabat dan kakaknya ingin pergi.

"Hmm, begitu? Kau mau menemaniku ke Myeongdong setelah ini?" Sehun bertanya, ia ingin merealisasikan khayalannya berjalan-jalan dengan Jongin dijalan cantik bernuansa Natal yang menyenangkan. Mungkin mereka akan makan malam direstoran Itali dan Sehun akan mengajak Jongin ke arena bermain lalu Sehun akan memenangkan hadiah boneka lucu untuk Jongin.

Sehun memutuskan untuk mencoba melupakan Jessica ketika ia mengasingkan diri sepanjang pagi tadi dengan ayahnya di lapangan golf dan ia ingin mencoba memulai kisah baru dengan Jongin. Hanya saja sedikit rasa ragu menyelimutinya, peringatan ayahnya. Sehun selalu teringat perkataan ayahnya sepulang mereka dari pesta perusahaan keluarga Kim. Belum pernah ayahnya peduli dengan kisah cinta Sehun, dan malam itu Tuan Oh memberi Sehun sebuahperingatan. Jauhi Jongin jika kau hanya akan memperlakukannya seperti gadis lain. Kalimat itu terus-terusan terngiang ditelinga Sehun.

Sehun mengerti mengapa ayahnya kini ikut campur dalam masalah percintannya. Jongin dan keluarganya adalah teman baik ayah. Beberapa kali Sehun sudah bertemu dengan Tuan dan Nyonya Kim saat keduanya mengunjungi London, tapi Sehun belum pernah bertemu dengan ketiga buah hati Tuan dan Nyonya Kim hingga pesta beberapa waktu yang lalu. Selama ini ayahnya tidak mempermasalahkan Sehun mempermainkan wanita asalkan tidak sampai melakukan hal-hal diluar batas seperti seks bebas, dan begitu ayahnya melihat Sehun dekat dengan salah satu anak kolega bisnisnya tentu saja ia diberi peringatan.

Jongin adalah salah satu gadis yang tidak bisa ia permainkan, bukan hanya ia tidak tega untuk merusak keluguan Jongin tapi karena ia juga tidak mau merusak nama baik keluarganya dengan mempermainkan hati anak mitra bisnis ayahnya. Peringatan itu membuat Sehun takut mengambil langkah? Bagaimana jika sifat playboy-nya yang sudah sempat menghilang kembali lagi? Bagaimana jika Jongin hanyalah pelampiasan sementara bagi Sehun karena putus cinta dengan Jessica? Berbagai keraguan terus merongrong Sehun, namun ia akan tetap mencoba menjadikan Jongin lebih dari teman dan juga akan berkata sejujurnya pada Jongin nanti jika saatnya sudah tepat.

"Sungguh? Kau mau kesana? Tentu saja aku mau!" Jongin menjawab bersemangat.

"Baiklah, ayo kita ke masuk ke pameran dulu lalu baru ke Myeongdong." Sehun lega dengan jawaban Jongin.

Myeongdong menjelang Natal memang sangat indah. Apalagi saat malam hari seperti ini. Suasananya yang romantis membuat Sehun kesulitan menahan diri untuk tidak menggandeng tangan Jongin yang sedari tadi bersentuhan dengannya. Berapa lama mereka sudah berjalan? Entahlah, lama sekali. Pipi Jongin sudah memerah karena kedinginan dan akhirnya mereka memutuskan untuk ke cafe sejenak.

"Sehun, aku mau teh hangat ya. Kau juga harus teh hangat." Jongin berkata pada Sehun begitu mereka sudah ada didepan kasir untuk memesan. Sehun mengerutkan dahinya, namun ia menuruti keinginan Jongin.

"Kenapa aku harus minum teh juga Jong?" Sehun bertanya begitu mereka duduk di sofa empuk untuk menikmati minuman yang mereka pesan.

"Karena aku membawa ini!" Jongin mengeluarkan kantung kertas merah muda yang ia bawa kesana kemari. Jongin membukanya dan mengeluarkan empat buah cupcake yang tadi pagi ia buat.

"Well, aku tidak tahu apakah ini cukup enak. T-tapi—" kalimat Jongin terhenti begitu Sehun mengambil sebuah cupcake berhiaskan potongan-potongan kecil Oreo. Mata Jongin menatap penuh harap.

"Wah, ini yang kau sebut tidak begitu pandai memasak?" Sehun langsung menghabiskan seluruh cupcake dalam sekejap. Wajah Jongin terlihat sangat senang, seseorang memuji masakannya, dan orang itu adalah Sehun.

"Jadi ini sebabnya kau menyuruhku memesan teh, benar-benar cocok makan cupcake dengan teh hangat." Sehun berbicara dengan mulut penuh.

"Hehe iya, minum teh tawar saja karena cupcake itu sudah cukup mengandung banyak gula. Tunggu dulu, apa betul-betul enak? Kau tidak hanya sedang mengerjaiku kan?" Jongin bertanya penuh curiga. Ia mulai mewaspadai sifat Sehun yang terkadang bisa sangat usil.

"Benar Jong. Ini sangat enak, hanya saja untuk beberapa orang akan menganggap ini terlalu manis, tapi aku suka manis. Jadi menurutku enak." Jawab Sehun jujur. "Siapa yang bilang kau tidak bisa masak? Biar aku jejalkan cupcake ini ke mulutnya?" Sehun mengambil sebuah cupcake lagi.

"Hehehe. Sebenarnya aku berhenti memasak karena aku dipermalukan habis-habisan saat mengikuti lomba memasak." Jongin berhenti bicara. Namun wajah Sehun menunjukkan ia sedang menunggu kelanjutan cerita Jongin.

"Hasil masakanku tidak disentuh sama sekali oleh pengunjung yang hadir. Lalu pembawa acaranya, uhm, menyindirku. Yah, begitulah intinya. Aku jadi tidak percaya diri untuk memasak lagi." Jongin memainkan cangkir tehnya. Sehun sebenarnya mengerti Jongin yang sering merasatidak percaya diri. Hal itu terlihat dari caranya ia bicara, berjalan dan melakukan segala hal. Sehun akui, Jongin memang tidak cantik seperti Luhan atau Jessica atau mantan-mantannya, tapi Jongin memiliki kharisma tersendiri dimatanya. Jongin itu manis. Jongin itu menggemaskan. Jongin itu sedikit manja dan kekanakan. Jongin itu polos dan jujur. Jongin tidak bertingkah seperti cacing kepanasan disekitarnya—kau tidak tahu saja Hun kalau didalam sana Jongin hampir gila karenamu.

"Mereka kan tidak merasakan masakanmu, jadi mereka tidak tahu enak atau tidak. Cupcake ini benar-benar enak sekali Jong." Cupcake ketiga sudah Sehun habiskan. Seiring dengan habisnya cupcake Oreo diatas meja, senyum Jongin semakin mengembang. Bibirnya tidak berhenti menyunggingkan senyum yang membuat cupcake didalam perut Sehun bergolak karena pemiliknya nervous.

Drrtt…Drrttt…

Ponsel Sehun bergetar. Sehun mengecek siapa yang meneleponnya. Jessica. Lagi. Untung saja ponselku tidak diatas meja, aku tidak mau Jongin merasa canggung lagi gara-gara cewek sialan ini, batin Sehun. Dengan cepat ia menolak panggilan tersebut.

"Kenapa tidak diangkat? Siapa tahu penting." Jongin bertanya.

"Tidak kok. Nomor ini terus-terusan meneleponku, kebanyakan hanya menawarkan produk pembersih rumah. Jadi aku tolak saja." Maaf Jong aku harus berbohong lagi padamu.

"Ah iya. Aku juga kadang menerima panggilan seperti itu." Sehun semakin merasa bersalah karena Jongin selalu mempercayai kebohongan yang ia katakan.

"Oh iya. Bagaimana kalau minggu ini kita ke Busan?" Sehun tiba-tiba teringat dengan Busan. Jongin langsung cemberut, ia pikir Sehun sudah lupa dengan taruhan mereka agar Jongin menyetir sampai Busan.

"Ya! Kau benar-benar akan membuatku menyetir sampai Busan?" Jongin bertanya kesal. Ini lah yang membuat Sehun suka menggoda Jongin, wajah cemberutnya sangat menggemaskan.

"Tentu saja. Kau kan sudah kalah taruhan." Sehun memulai aksi usilnya.

"Please please batalkan saja ya taruhannya. Aku akan menraktirmu apa saja yang kau inginkan. Ya Sehun? Ya? Ya? Ya?" Jongin memohon dengan mata lucu seperti anak anjing. "Aku akan membuatkanmu cupcake sepuasmu, atau kau mau makanan yang lain?"

"Tidak. Aku hanya mau kau mengantarku ke Busan."

"Aku belikan tiket deh ke Busan. Dengan pesawat, kelas satu!" Bujuk Jongin lagi.

"No-no." Sehun menggeleng. Alasan sebenarnya Sehun bersikukuh agar Jongin mengantarnya ke Busan karena Sehun ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan Jongin.

"Ugh. Tunggu sebentar, bukankah minggu ini kau kembali ke Eropa?" Jongin tiba-tiba teringat sesuatu yang dikatakan ibunya beberapa hari yang lalu.

"Uhm, ehm, a-ayahku memperpanjang kunjungannya ke-kesini." Sehun berbohong lagi. Apa susahnya sih Hun mengaku jika kau memperpanjang liburanmu karena Jongin?

"Oh ya?" Suara Jongin terdengar lega. Sehun tersenyum mendengarnya, ia hampir yakin jika Jongin menyukainya. Well, belum ada gadis waras yang tidak menyukai dirinya.

"Jadi, bagaimana? Aku akan meminta ijin pada orang tuamu jika kau khawatir masalah ijin, dan kau bisa mengajak temanmu dan teman rasa pacarnya jika kau khawatir aku akan, uhm, me-me-melak—melakukan hal ya-yang an-aneh… Kau tahu uhmm…" Sehun tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Wajah Sehun memerah, namun lebih merah wajah Jongin yang sudah semerah jubah Santa Clause.

Drrttt…Drrrttt…Drttt…

Ponsel Sehun kembali bergetar. Masih orang yang sama. Jessica. Sehun kembali menolak panggilan tersebut dan mengubah ponselnya menjadi mode diam agak tidak mengganggu kencannya dengan Jongin.

"A-aku, en-entahlah. Ak-akan kutanyakan kepada Kyungsoo dulu." Jongin yang sudah mudah gugup menjadi super gugup dengan kalimat Sehun barusan. Ya ampun Sehun apa yang barusan kau katakan? Bisa-bisanya kau mengatakan hal seperti itu, pada gadis polos macam Jongin pula! Bagaimana kalau dia mengiramu seorang pervert? Sungguh aku belum pernah segugup ini hanya berhadapan dengan seorang gadis.

Suasana diantara mereka berdua menjadi hening. Keduanya masih sangat malu untuk bertukar pandang apalagi mengobrol. Jongin memainkan cangkirnya lagi, dan Sehun memandang keluar cafe. Hening. Lama-lama keduanya hanya menikmati keheningan sakral seperti perjumpaan pertama mereka.

Sehun teringat bagaimana kakinya kram sepulang dari pesta tempo hari. Berdiri berjam-jam diudara Desember yang dingin. Tapi semua itu terbayar karena ia, pertama dalam hidupnya, bertemu dengan gadis yang tidak mengejar-ngejarnya seperti orang gila. Malam itu Sehun belum jatuh hati pada Jongin, tapi malam itu ia mengetahui jika ia sudah bertemu gadis yang tidak akan pernah ia lupakan. Yaitu Jongin, yang tidak memperdulikan Sehun selama berjam-jam.

Sehun dan Jongin sekarang sudah berjalan menyusuri jalanan Myeongdong lagi. Hanya saja kali ini mereka ditemani oleh teman baru Jongin, boneka beruang cokelat yang Jongin peluk erat didadanya. Sehun berhasil memenangkan boneka itu setelah usahanya yang kesembilan, sungguh memalukan karena ia sampai ditertawakan anak-anak kecil yang melihat delapan kegagalannya. Semua itu terbayar karena saat ini ia melihat senyum menggemaskan Jongin yang terus-terusan memandangi boneka dalam dekapannya.

Jongin sedang memandangi estalase sebuah toko sepatu bermerek ketika Sehunmenangkap sebuah sosok yang familiar, Chanyeol. Sehun pun tersenyum lebar, bibirnya sudah hampir meneriakkan nama sababatnya tersebut. Namun suara Sehun terhenti dan senyumnya langsung mengilang begitu ia melihat siapa yang berjalan disamping Chanyeol. Jessica, mantan pacar Sehun yang ingin ia lupakan.

To Be Continue

Jessica siapa ya?

Uhm, yah pokoknya Jessica aja lah yaa. Jessica Jung juga nggak papa. Waktu ngasih nama Jessica agak ngarang juga sih, engga tau mau dinamain siapa mantannya Sehun ini.

Di chapter ini author nyoba bikin Sehun POV juga, jadi biar nggak pada salah sangka sama Sehun yang aslinya baik cuma mantan playboy aja hehe. Author hanya selalu berterima kasih atas review-reviewnya, bikin author semangat nulis disela kesibukan.

Silahkan tinggalkan review, kritik dan saran yaa. Thank you^^

By the way, ada yang tau provider apa yang engga ngeblock ffn? Soalnya wifi author mati jadi susah mau update ffn. Harunya chapter ini dipost semalem tapi gara-gara wifi mati jadi...huhuhu