Fanfiction

Cast : Jongin!GS, Sehun

Genre : Romance, Drama

Summary : Jongin terlahir dari keluarga kaya raya, namun hal itu yang membuat hidupnya semakin sulit, karena dia tidak seperti anggota keluarganya yang lain. Tidak seperti kedua saudaranya, Jongin bukanlah gadis yang cantik—tidak jelek juga kok, dia tidak memiliki nilai akademik yang patut dipamerkan atau keahlian yang membuat dia pantas diperhitungkan. Jongin benar-benar tidak memiliki sesuatu yang spesial. Hidup Jongin jungkir balik hanya dalam semalam, hidupnya berubah. Pangeran yang selalu dia khayalkan bukanlah sekedar khayalan lagi.

Chapter Six

Jongin makan es krimnya yang ketiga. Ini hari Sabtu, dan Sehun baru saja menghubunginya—Sehun akhirnya meminta nomor ponsel Jongin dan sejak saat itu Jongin selalu memandangi ponselnya seolah bisa meledak kapan saja, Jongin menunggu pesan atau telepon dari Sehun—jika rencana mereka ke Busan diundur hingga besok. Jongin tidak masalah, Sehun sepertinya memang sangat sibuk belakangan ini. Sejak acara jalan-jalan mereka ke Myeongdong, Sehun berkata padanya jika ia akan sibuk beberapa hari kedepan jadi tidak bisa melanjutkan rencana eksplor Seoul yang mereka buat.

Sehun sibuk apa ya? Apa dia membantu ayahnya bekerja? Sibuk sekali ya Sehun? Biasanya dia setiap pagi akan meneleponku, tapi kenapa sudah hampir siang ia tidak menghubungiku sama sekali? Masa aku yang menghubungi dia duluan? Uh, aku maluuuu..

Jongin memandangi ponselnya lagi sambil menyuapkan sendok es krim ke dalam mulutnya. Bodo amat dengan diet yang Luhan perintahkan agar Jongin jalani. Hati Jongin sedang tidak karuan karena merindukan Sehun.

Drrttt… Drrrttt…

Ponsel Jongin bergetar. Dengan kecepatan cahaya Jongin melihat layarnya, wajah Jongin langsung merengut. Ibunya.

"Aku sedang dirumah Bu, ada apa?"

"Aku tidak ada rencana hari ini."

"Kerumah keluarga Sehun?" Jongin langsung antusias begitu mendengar nama Sehun.

"Iya Bu, aku akan siap-siap." Jongin memutus panggilan dari ibunya dan langsung loncat-loncat kegirangan. Ibunya baru saja pulang dari Jepang dan langsung meneleponnya untuk mengunjungi rumah keluarga Oh, katanya Nyonya Oh ingin mengajak mereka makan siang bersama. Jongin membongkar lemarinya, ia tidak boleh tampil jelek. Jika kemarin-kemarin Jongin sedikit cuek dengan penampilannya, sekarang Jongin akan menghabiskan ekstra setengah jam hanya untuk memilih pakaian.

"Unnie! Aku pinjam bajumu dong!" Jongin masuk kedalam kamar Luhan yang pemiliknya masih tertidur pulas. Semalam bazaar yang diikut Kris dan Luhan akhirnya selesai dan mereka pulang sangat larut karena ada pesta perayaan, dan ini hari Sabtu, tidak ada salahnya sekali-sekali bangun siang kan?

"Huh?" Luhan setengah sadar.

"Aku mau pinjam baju Unnie." Jongin berkata lebih jelas.

"Buat apa? Tidak biasanya kau pinjam bajuku?" Luhan sedikit heran dengan adiknya, biasanya Jongin mengomentari pakaian-pakaian Luhan yang kelewat banyak dan feminin. Sekarang Jongin ingin meminjam pakaiannya?

"Uhm, ibu mengajakku kerumah Sehun." Luhan tertawa mendengar jawaban adik kesayangannya. Sehun sepertinya sangat hebat bisa merubah Jongin yang sedikit cuek menjadi wanita yang peduli dengan penampilan.

"Adik kecilku sudah dewasaaaa!" Luhan mencubiti pipi Jongin yang gembul. "Pilih sendiri dilemari. Aku masih ingin tidur." Luhan kembali merebahkan badannya dan menarik selimut menutupi kepalanya.

"Jangan tidur lagi Unnie! Kau juga ikut!"

"Hah? Untuk apa?" Kepala Luhan kembali muncul dari balik selimut.

"Ibu yang suruh." Luhan mengerang, kesal tidak bisa tidur lebih lama lagi.

Satu jam kemudian, Jongin, Luhan dan Nyonya Kim sudah berada di depan apartemen mewah yang ditinggali keluarga Oh selama tinggal di Korea Selatan. Keluarga Oh memang tidak memiliki rumah sendiri di Korea karena mereka sangat jarang tinggal dalam jangka waktu panjang, jadi biasanya mereka menyewa apartemen atau hotel.

"Jangan gugup. Kau kan sudah pernah bertemu calon mertuamu." Luhan berbisik. Jongin memang terlihat sedikit tegang. Mendengar pernyataan kakaknya, Jongin langsung memberengut, kakaknya ini malah menggoda dirinya.

Ting Tong.

Nyonya Kim membunyikan bel kamar apartemen keluarga Oh. Tidak lama kemudian seseorang membukakan pintu, yaitu Nyonya Oh. Wajahnya langsung cerah melihat kedatangan ketiga tamunya.

"Ayo masuk! Aku disini kesepian, cowok-cowok lainnya selalu sibuk." Nyonya Oh membicarakan Sehun dan suaminya. Sehun masuk kedalam apartemen mewah itu, memang tidak terlalu besar tapi cukup besar untuk ditinggal tiga orang. Sepertinya lumayan mahal jika menyewa apartemen semewah ini hanya untuk beberapa minggu.

"Kalian sudah lapar? Ayo makan, makanannya sudah siap. Baru saja keluar dari dapur." Nyonya Oh menggiring tamunya kearah ruang makan. Diatas meja makan banyak sekali makanan yang disajikan, hanya saja piring yang disiapkan hanyalah empat. Sepertinya penghuni apartemen yang lain tidak ikut makan siang bersama mereka, hal ini membuat selera makan Jongin sedikit surut.

"Makan yang banyak ya Jongin dan Luhan. Tidak usah diet-diet, kalian sudah sangat cantik." Nyonya Oh mempersilahkan tamu-tamunya makan. Kedua ibu sibuk berbincang, sedangkan Jongin dan Luhan menikmati makan siang mereka. Jongin benar-benar makan yang banyak, Luhan pun begitu, sepertinya mereka lupa dengan program diet mereka.

"Jongin, ku dengar kau sering menemani Sehun jalan-jalan ya?" Nyonya Oh tiba-tiba bertanya pada Jongin yang sedang mengunyah makanan dengan mulut penuh, sama sekali tidak anggun.

"Uhuk…Ehm, i-iya bibi." Jongin mencoba menelan makanannya secepat mungkin, membuat ia tersedak.

"Apakah Sehun memperlakukanmu dengan baik? Dia itu kadang bisa jadi tidak sensitif seperti ayahnya." Tanya Nyonya Oh lagi.

"Sehun sangat baik bibi. Dia teman yang menyenangkan untuk diajak jalan-jalan. Seleranya sama denganku, jadi kami dekat dengan mudah." Jongin menjawab. Sehun memang sangat baik, terlalu baik malah. Mendengar jawaban Jongin, Nyonya Oh raut wajahnya langsung terlihat cerah.

"Bibi, makanan ini enak sekali." Luhan berkata spontan ketika ia menyendokkan sup krim jagung kedalam mulutya.

"Benarkah? Bibi sendiri yang membuatnya, terima kasih pujiannya."

"Sungguh? Jongin juga suka memasak lho bibi, siapa tau bisa dijadikan teman memasak, atau mungkin calon—AW!" Jongin menendang kaki Luhan dibawah meja. Tidak perlu mendengar seluruh kalimat Luhan, Jongin sudah tahu apa kelanjutannya. Pipi Jongin langsung terasa panas, Luhan memang sering usil. Tingkat keusilan itu meningkat sejak Jongin dekat Sehun. Luhan selalu menggoda Jongin setiap ada kesempatan.

"Calon asisten!" Luhan menyelesaikan kalimatnya, berusaha ngeles dari pandangan galak adiknya. Padahal aslinya memang bukan asisten kelanjutan kalimatnya.

"Wah! Kebetulan sekali, bibi punya banyak resep untuk dicoba. Tinggallah disini lebih lama, ayo memasak bersama bibi."

"Ah, kemampuan memasak saya tidak terlalu bagus bibi. Saya belum bisa membuat makanan seenak ini." Jongin merendah, tidak mau Nyonya Oh kecewa dengan kemampuannya jika mereka memang akan masak bersama.

"Kalau tidak dilatih mana mungkin bisa masak dengan enak? Bibi juga masih sering gagal kok." Nyonya Oh tersenyum menyemangati Jongin. "Jika kalian tidak ada acara disini tinggallah sampai makan malam nanti. Kita makan malam bersama dengan suamimu sekalian." Usul Nyonya Oh dan langsung disetujui oleh mereka semua.

"Harusnya kau berterima kasih padaku! Bukan malah menendangku!" Luhan berdesis pada Jongin ketika keduanya sedang didapur, memotong-motong buah sebagai pencuci mulut.

"Iya, iya. Aku minta maaf dan terima kasih. Aku masih ragu jika Sehun memang hanya ingin berteman denganku, jadi aku tidak ingin orang tuanya atau orang tua kita tahu tentang semua ini." Jongin curhat pada kakaknya.

"Mana ada orang ingin berteman tapi mengucapkan selamat pagi dan selamat malam setiap hari? Aku benar-benar iri padamu, Xiumin Oppa tidak pernah mengirimiku ucapan selamat pagi." Luhan cemberut, teringat kisah cintanya yang sedang mampet. Memang benar sih, tidak ada pertemanan yang saling bertukar pesan setiap pagi dan sebelum tidur.

Keempat wanita itu duduk diruang tengah sambil mengobrol. Jongin dan Luhan hanya sesekali menyahuti obrolan itu, selebihnya mereka hanya mendengarkan sambil menonton televisi yang menayangkan drama romantis terbaru. Pikiran Jongin tidak konsentrasi dengan drama didepannya—berbeda dengan Luhan yang tidak konsentrasi karena pemeran utama prianya terlalu tampan. Jongin memikirkan Sehun, dan melihat Nyonya Oh, ia jadi semakin memikirkan Sehun karena Nyonya Oh memiliki mata yang sama dengan Sehun dan itu membuat Jongin tidak konsentrasi.

Ketika pembicaraan ibunya dan ibu Sehun mulai merambah ke anak-anak mereka, Jongin sama sekali tidak menghiraukan drama didepannya, meskipun matanya terpaku pada layar kaca tapi telinganya terpasang tajam untuk mendengarkan pembicaran ibu-ibu disampingnya.

Di bagian lain Kota Seoul, Sehun meminum gelas ke delapan alkoholnya. Di depannya Chanyeol terus memandangi sahabatnya itu. Memang masih terlalu pagi untuk minum alkohol tapi Sehun tidak peduli, ia butuh cairan yang sudah ia hindari selama setahun terakhir.

"Jika kau memang menyukai si Jongin ini, untuk apa kau masih menangisi Jessica seperti bayi?" Chanyeol bertanya tidak paham. Beberapa hari lalu Jessica tiba-tiba menghubunginya, mengatakan jika ia datang ke Seoul. Hal itu sontak membuat Chanyeol terkejut, kenapa Jessica menghubunginya? Bukan Sehun? Chanyeol yakin jika kedatangan Jessica ke Seoul untuk memperbaiki hubungannya dengan Sehun. Begitu Chanyeol bertemu dengan Jessica, gadis itu berkata jika Sehun tidak mau mengangkat telepon darinya. Jadi Jessica meminta bantuan Chanyeol untuk bertemu dengan mantan kekasihnya tersebut.

Chanyeol tidak tahu keberadaan Sehun, dan dia juga tidak tahu jika Sehun sedang berkencan dengan gadis lain, yang Chanyeol tahu Sehun sedang patah hati dengan perselingkuhan Jessica yang kesekian kali. Untung saja malam itu Sehun menemukan Chanyeol dan Jessica terlebih dahulu sehingga bisa langsung menghindar.

"Jessica merubahku menjadi lelaki yang lebih baik Chan, aku tidak bisa dengan mudah melupakannya." Sehun berbicara dengan wajah merah karena pengaruh alkohol.

"Lupakan Jessica, dia tidak membuatmu jadi lelaki lebih baik, dia membuatmu jadi pembantunya." Chanyeol menuangkan alkohol kedalam gelas Sehun yang sudah kosong. Ini adalah hari ketiga setelah kedatangan Jessica, dan Sehun masih tidak mau menemuinya. Alasannya ia takut hatinya luluh begitu melihat wajah Jessica.

"Jongin gadis yang sangat manis Chan, sangaaaat manis. Cupcake-nya juga manis." Sehun mulai melantur. Chanyeol menghela nafasnya, sudah tiga hari juga Chanyeol mendengar Sehun berkata jika Jongin itu manis dan lucu dan manis dan lucu dan manis lagi. Sudah jelas jika Sehun memang menyukai Jongin, tapi kenapa Sehun masih terus-terusan bersedih memikirkan Jessica. Sejujurnya Sehun memang banyak berubah sejak berhubungan dengan Jessica, ia berhenti minum alkohol dan merokok, dia juga berhenti mempermainkan hati perempuan, tapi semua itu ia lakukan hanya agar Jessica tidak memutuskan dirinya.

Sedangkan Jessica? Ia malah berselingkuh dengan teman-teman Sehun di London, dia menggunakan kartu-kartu kredit Sehun—walaupun Sehun yang memberi kartu-kartu itu, tapi dimata Chanyeol, Jessica adalah wanita yang terlalu gila harta. Mungkin ini adalah karma untuk Sehun, dia terlalu banyak menyakiti perasaan wanita sebelum ia bertemu dengan Jessica. Sekarang Sehun tahu bagaimana rasanya dipermainkan dan hanya digunakan untuk kesenangan sesaat.

"Sehun, selesaikan urusanmu dengan Jessica. Jadilah laki-laki sejati." Chanyeol berusaha menasihati Sehun. Semakin cepat Sehun lepas dari Jessica, akan semakin baik.

"Aku mau Jongin."

"Jangan dekati Jongin sebelum kau menyelesaikan masalahmu dengan Jessica, kau mau dibunuh ayahmu?" Chanyeol berusaha bersabar menghadapi kelakuan temannya yang jadi sangat manja jika sedang mabuk. Chanyeol adalah dalang dibalik menjauhnya Sehun dan Jongin beberapa hari terakhir, hanya saja ia memiliki niat yang baik. Chanyeol tahu jika Jongin bukan gadis yang bisa Sehun permainkan, jadi ia berusaha menjauhkan Sehun dari masalah. Setiap hari Chanyeol akan memastikan jika Sehun dan Jongin tidak bertemu, tapi kadang ia tidak tega melihat Sehun yang selalu memohon padanya dan Chanyeol mengizinkan Sehun menghubungi Jongin sesekali.

"Apa aku—hik—bisa melupakan—hik—Jessica—hik." Sehun cegukan, sepertinya ia terlalu banyak minum alkohol.

"Tentu saja kau bisa, kau tidak ingat ia membuatmu dimarahi ayahmu karena pergi ke Paris hanya untuk berfoto di Eiffel? Berapa banyak uang yang kau habiskan untuk perawatan kuku Jessica?! Itu hanya kuku! Belum yang lainnya."

"Tapi—hik—Jessica jadi sangaaaat—hik—cantik."

"Dia akan jelek begitu silikon di hidungnya kadaluarsa Hun."

"Akan aku belikan—hik—dia silikon baru—hik."

"Ugh!" Chanyeol frustasi. Sepertinya ia harus menyingkirkan alkohol dari atas meja mereka agar Sehun dapat berpikir waras. Sehun harus segera bertemu dengan Jessica karena besok Sehun sudah berjanji untuk pergi ke Busan dengan Jongin. Chanyeol bangkit dan memapah badan Sehun menuju kamar mandi apartemennya, Chanyeol harus melakukan cara yang ekstrim agar Sehun sadar dari mabuknya.

"Baiklah, sekarang kau sudah sadar?" Chanyeol mematikan keran yang mengucurkan air es. Sehun mengangguk sambil memeluk tubuhnya, kedinginan. Bajunya sudah basah semua, membuat Sehun merasa lebih dingin.

"Jawab aku Sehun. Apa yang harus kau lakukan sekarang?" Chanyeol berjongkok didepan Sehun, berusaha melihat sorot mata Sehun, apa benar temannya ini sudah sadar?

"Menemui Jessica dan mengatakan padanya aku dan dia sudah tidak punya hubungan apapun." Chanyeol mengangguk puas. Caranya yang sedikit kejam membuahkan hasil, paling tidak besok ia masuk kuliah lagi bukannya mengurusi bayi besar seperti Sehun.

"Baiklah, ganti bajumu dan kuantar kau tempat Jessica. Kau harus memutuskannya oke? Bukan kembali padanya." Sehun mengangguk mengerti. Saat ini Sehun benar-benar seperti anjing liar yang kehujanan dan kedinginan, ia rela melakukan apapun agar ia merasa lebih baik.

"Jongin, bisa kah kau tolong aduk adonan ini? Bibi harus mengecek ikan salmon sebentat, takutnya tidak cukup untuk banyak orang." Nyonya Oh meminta bantuan Jongin yang baru saja selesai memotong-motong daging dan merebusnya dengan sayur-sayuran.

"Tentu saja bibi." Jongin mengambil alih pekerjaan Nyonya Oh membuat cake sederhana untuk dimakan nanti. Hati Jongin sangat senang, Nyonya Oh berkali-kali memuji keterampilan memasak Jongin. Membuat Jongin semakin percaya diri dan membayangkan jika ia sungguhan menjadi menantu keluarga Oh. Bayangan itu membuat Jongin terkikik geli, dan Luhan melayangkan pandangan penuh tanda tanya padanya.

Luhan mengerti perasaan bahagia Jongin, ia pun akan bahagia jika berada diposisi Jongin. Makan siang bersama uhuk calon mertua uhuk, lalu memasak bersama dan juga banyak dipuji kemampuannya. Siapa yang tidak senang jika ibu gebetanmu memujimu?

"Bibi sudah berkali-kali menghubungi Sehun tapi ia tidak juga mengangkat teleponnya, sepertinya dia tidak ikut makan malam dengan kita." Nyonya Oh masuk ke dapur lagi setelah beberapa saat, memberi kabar pada tamu-tamunya. Perut Jongin rasanya langsung berat, Sehun tidak bisa dihubungi? Apa yang dia lakukan? Bukankah dia membantu ayahnya dikantor? Jongin merasa ganjil, jika Tuan Oh akan bergabung dengan mereka untuk makan malam, kenapa anaknya yang berkata sedang membantu ayahnya malah tidak bisa?

"Sayang sekali bibi. Memangnya Sehun sedang dimana bibi?" pertanyaan Luhan mewakili rasa penasaran Jongin. Kakaknya itu mungkin punya koneksi telepati yang kuat dengannya.

"Bibi juga kurang paham, mungkin ia disuruh lembur oleh ayahnya." Nyonya Oh menjawab ragu, tidak penuh percaya diri seperti biasanya. Seolah ia sedang menutupi sesuatu. Jongin dan Luhan pun terlihat sedikit ragu dengan jawaban Nyonya Oh, tapi mereka tidak betanya lebih jauh.

Dua jam kemudian makanan sudah siap diatas meja, tinggal menunggu Tuan Kim dan Tuan Oh agar makan malam bisa dimulai. Semenjak Nyonya Oh mengatakan jika Sehun mungkin tidak akan makan malam bersama mereka, Jongin jadi tidak terlalu bersemangat. Belum lagi perasaan yang mengganjil dihatinya sekarang. Apa benar Sehun membantu ayahnya? Luhan yang melihat wajah Jongin muram berusaha menyemangati dan mengingatkan jika ia masih bisa bertemu Sehun besok. Luhan tidak tahu jika penyebab utama keresahan Jongin bukanlah Sehun tidak hadir pada makan malam ini, tapi keraguan Jongin akan alasan Sehun yang seolah mengindarinya beberapa hari terakhir.

"Jongin, ayahmu dan paman sudah datang. Ayo kita makan malam." Nyonya Oh membuyarkan lamunan Jongin. Senyum palsu Jongin langsung terpasang dan mengikuti seluruh orang keruang makan.

"Sayang, ini semua Jongin yang masak lho." Nyonya Oh berkata pada suaminya.

"Benarkah? Wah, ini terlihat sangat enak." Tuan Oh kini ikut memujinya.

"Tidak semua Paman. Aku hanya membantu Bibi saja." Jongin merendah.

Makan malam dimulai, dan pujian-pujian untuk Jongin terus mengalir. Membuat Jongin menjadi tidak nyaman. Belum pernah selama hidupnya ia dipuji seperti ini. Obrolan santai mengalir didalam ruang makan, Luhan bercerita tentang kuliahnya dan profesi modelling paruh waktu yang ia jalani. Nyonya Oh pun banyak menasihati Luhan agar tidak terbawa pengaruh buruk dunia modelling yang kadang bisa merusak moral seseorang. Ibunya juga menyetujui hal itu, sebagai mantan model tentu saja Nyonya Kim tahu betul bagaimana bahayanya dunia modelling.

"Ibu maaf aku tidak bisa menjawab teleponmu, aku sedang bersama Chanyeol dan ia terus menahanku jadi aku—" Sebuah suara yang diyakini mereka suara Sehun terdengar dari ruang tengah. Kalimat itu tidak bisa ia selesaikan begitu melihat siapa saja yang ada diruang makannya.

"Jo-jongin?" Sehun terkejut dengan kehadiran gadis yang terus-terusan ia pikirkan beberapa hari terakhir.

"Hai Sehun." Jongin menjawab pelan. Berusaha mengontrol suaranya agar tidak terdengar terlalu senang.

"Ma-maaf aku tidak tahu jika ada tamu." Sehun membungkuk setelah ia menguasai diri. Untung saja ia tidak pulang dengan keadaan mabuk, Sehun berjanji akan membelikan Chanyeol apapun yang dia inginkan karena telah menyiraminya dengan air dingin selama satu jam.

"Tidak apa, ayo bergabung dengan kami." Nyonya Oh berkata lembut. Sehun menarik kursi didepan Jongin. Mata keduanya bertemu, Jongin tersenyum malu-malu. Senang sekali akhirnya ia bisa melihat Sehun. Jongin lupa dengan keganjilan yang ia rasakan tadi, semuanya terasa baik-baik saja setelah melihat mata hazel Sehun. Makan malam jadi semakin menyenangkan setelah kedatangan Sehun.

Jongin kini ada dibalkon apartemen Sehun. Pemandangannya sangat indah, apalagi disebelahnya ada cowok super tampan yang terus-terusan memandanginya. Setelah makan malam selesai, Nyonya Oh menyuruh Jongin agar mengobrol diruang tengah saja. Sehun segera mengajak Jongin ke balkon agar bisa berduan dengan Jongin. Sehun sangat merindukan Jongin. Beberapa hari tidak bertemu Jongin sepertinya menyadarkan Sehun betapa berartinya Jongin untuknya.

"Jangan memandangiku terus Hun." Jongin berkata lirih. Jongin malu terus-terusan dipandani Sehun.

"Kita tidak bertemu beberapa hari saja kau sudah berubah." Sehun berkata.

"Berubah bagaimana?" Jongin bertanya panik. Ia teringat dengan semua makanan yang ia makan karena stress merindukan Sehun, apalagi tiga es krim yang ia makan tadi pagi. Rasanya Jongin langsung menyesal.

"Pipiku makin menggemaskan saja." Sehun mencubit pelan pipi Jongin, membuat Jongin cemberut. Ternyata benar kan, Jongin memang tambah gendut.

"Kau terlihat lebih cantik dengan pipi gembul." Sehun melanjutkan. Pipi Jongin yang sudah panas jadi semakin panas. Siapa yang tidak melayang jika dipuji cantik oleh Sehun?

"Uh, kau ini." Jongin tidak mampu berkata-kata karena berusaha mengontrol jantungnya yang berpacu terlalu cepat. Keduanya terdiam. Keheningan menenangkan itu datang lagi.

"Jongin, besok pagi aku akan kerumahmu dan kita akan pergi ke Busan." Sehun membuka suara. Dirinya tidak peduli lagi dengan Jessica dan segala dramanya yang tak kunjung selesai. Juga tidak peduli lagi dengan peringatan Chanyeol agar menyelesaikan masalahnya satu persatu. Sehun hanya ingin menghabiskan waktu bersama Jongin.

"Uh, baiklah." Jongin juga tidak jauh berbeda. Dia rela menyetir selama berjam-jam asalkan Sehun ada disampingnya.

"Sehun, sepertinya lebih baik aku menjemputmu saja. Lebih dekat kearah jalan tol menuju Busan dari apartemenmu." Jongin mengusulkan.

"Baiklah, aku tunggu. Jam enam pagi. Bagaimana?" Jongin mengangguk setuju.

"Bibi aku ingin pergi ke Busan dengan Sehun hari ini." Keesokan paginya Jongin datang tepat waktu. Sekarang ia sudah berada diaparemen keluarga Oh, mengobrol bersama Nyonya Oh sambil menyiapkan sarapan.

"Ah iya. Bibi sudah menyiapkan bekal untuk dibawa. Supaya kalian tidak banyak makan diluar. Makanan diluar itu banyak yang tidak sehat." Nyonya Oh tidak jauh berbeda dengan ibunya ternyata. Sama-sama memilih untuk repot memasak agar keluarganya mendapatkan makanan yang terbaik.

"Terima kasih bibi." Jongin senang dengan perhatian Nyonya Oh padanya.

"Bibi tinggal mandi sebentar ya. Bekalnya tinggal dimasukkan kedalam kotak saja. Kau bisa melakukannya sendiri kan?"

"Tentu saja bibi."

Jongin sudah selesai merapikan bekal yang akan ia bawa. Ia juga sudah membersihkan dapur yang tadi sedikit berantakan. Sehun atau Nyonya Oh tidak kunjung tampak juga.

"Jangan bodoh Sehun!" Sebuah suara terdengar cukup keras dari arah kamar Sehun—Jongin tahu letak kamar Sehun karena semalam Sehun menunjukkan kamarnya.

"Aku sudah berusaha sebisaku kemarin. Tapi dia tetap saja keras kepala." Suara Sehun kini terdengar.

"Jangan minta bantuanku jika terjadi sesuatu."

"Ya! Park Chanyeol!"

"Kau hanya perlu menunda kepergianmu paling tidak sampai besok. Selesaikan dulu urusanmu dengan nenek sihir itu! Jangan membuat Paman Oh marah Hun, kau tahu betapa bahayanya menganggu singa yang tertidur." Jongin mengernyitkan dahinya. Apa kepergian yang dimaksud adalah kepergian Sehun ke Busan hari ini? Nenek lampir? Siapa nenek lampir? Dan kenapa Paman Oh harus marah? Ribuan pertanyaan meledak-ledak dalam kepala Jongin. Tidak terasa langkahnya sudah sampai didepan pintu kamar Sehun, Jongin melangkah mendekat untuk mendengar percakapan itu lebih jelas. Bukannya Jongin bermaksud tidak sopan, tapi hati kecilnya merasa perdebatan didalam kamar Sehun itu berhubungan dengannya.

"Sudahlah Chan, kau harus segera pergi sebelum di—" Sehun membuka pintunya. Matanya membesar melihat Jongin berdiri didepannya. Seberapa banyak yang Jongin dengar?

"Jongin? K-kau sudah datang?" Sehun bertanya gugup.

"Ehm, begitulah." Jongin juga gugup karena ketahuan mencuri dengar pembicaraan Sehun dengan temannya.

"Ke-kenalkan ini Park Chanyeol, dia anak teman ayahku." Sehun membuka pintu kamarnya lebih lebar. Seorang cowok tinggi yang tidak kalah tampan dengan Sehun tersenyum kikuk.

"Hai, aku Chanyeol."

"Jongin." Mereka berjabat tangan. Dibelakang Jongin, Sehun mengisyaratkan agar Chanyeol segera pulang.

"Baiklah, aku akan pulang dulu Hun. Hubungi aku jika kau butuh bantuan." Chanyeol melangkah keluar kamar Sehun. Setelah kepergian Chanyeol, kecurigaan Jongin terhadap Sehun semakin meningkat. Keganjilan yang ia rasakan kemarin kembali dan kini lebih kuat. Sehun sepertinya bukanlah Sehun yang seperti Jongin kenal, meskipun begitu rasa suka Jongin sudah terlanjur tumbuh. Jongin tidak bisa begitu saja berhenti menyukai orang dihadapannya ini.

"Kita berangkat sekarang?" Sehun bertanya, membuat kesadaran Jongin kembali.

"Uh, baiklah. Aku akan mengambil bekal yang disiapkan ibumu." Jongin segera keluar kamar Sehun. Dia tidak mau merusak acara hari ini karena kecurigaan yang ia rasakan. Semuanya masih belum jelas, jadi Jongin tidak mau terlalu cepat menyimpulkan.

Sudah satu jam mereka didalam mobil, pemandangan diluar mobil juga bukan lagi gedung-gedung tinggi yang menjulang. Semuanya digantikan dengan pemandangan hijau yang indah. Suara radio menjadi satu-satunya suara didalam mobil. Sehun bimbang, apakah ia harus jujur pada Jongin sekarang? Ia tidak mau Jongin jadi membencinya jika Jongin tahu bagaimana Sehun dulu, tapi Sehun lebih tidak mau lagi Jongin akan mengetahui perilah Jessica dari orang lain. Nasib Sehun sudah cukup beruntung karena hubungannya yang rumit dengan Jessica belum diketahui Jongin, dan ia sudah cukup lelah menyembunyikan hal itu dari Jongin.

Jongin sendiri menyetir dengan hati yang gusar. Sangat jelas jika Sehun memang menyembunyikan sesuatu, tapi Jongin tidak dapat menerka sedikitpun tentang apa itu. Ingin rasanya Jongin bertanya langsung pada Sehun, tapi ia ingat jika ia bukanlah siapa-siapa Sehun. Jongin sangat tersiksa dengan semua pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa ia temukan jawabannya.

"Hun, kau mau istirahat? Didepan sana ada rest area." Jongin buka suara.

"Kau lelah? Tentu saja ayo kesana." Sehun mengiyakan.

Jongin tidak konsentrasi menyetir, pikirannya terbelah antara jalanan dan Sehun. Ditambah suasana di mobil yang kaku tidak membantu Jongin lebih rileks. Jongin butuh berhenti sejenak, mencuci wajahnya dan minum sesuatu yang hangat.

"Sehun, aku akan ke kamar mandi sebentar." Jongin meninggalkan Sehun yang sedang mengantri untuk memesan makanan di rest area. Sehun memandang punggung Jongin yang berjalan menjauh. Tubuh mungil Jongin terlihat sangat renta dimata Sehun sekarang, karena Sehun tahu jika Jongin sedang kalut. Sehun tau jika Jongin merasa ganjil dengan sikapnya, tapi Sehun belum bisa mengatakan semuanya. Sehun tidak siap jika Jongin tiba-tiba menjauhinya.

"Hun, apa aku boleh bertanya sesuatu?" Jongin bahkan belum duduk ketika menanyakan hal tersebut pada Sehun yang duduk didepan dua mangkuk sup ayam yang mengepul.

"Ten-tentu saja." Perasaan Sehun mendadak was-was.

"Apa kau menyukaiku?" Jongin menatap dalam-dalam mata Sehun.

To Be Continue

Terima kasih responnya hihi.

Ditunggu review-nya ya ^^