Fanfiction
Cast : Jongin!GS, Sehun
Genre : Romance, Drama
Summary : Jongin terlahir dari keluarga kaya raya, namun hal itu yang membuat hidupnya semakin sulit, karena dia tidak seperti anggota keluarganya yang lain. Tidak seperti kedua saudaranya, Jongin bukanlah gadis yang cantik—tidak jelek juga kok, dia tidak memiliki nilai akademik yang patut dipamerkan atau keahlian yang membuat dia pantas diperhitungkan. Jongin benar-benar tidak memiliki sesuatu yang spesial. Hidup Jongin jungkir balik hanya dalam semalam, hidupnya berubah. Pangeran yang selalu dia khayalkan bukanlah sekedar khayalan lagi.
Chapter Seven
"Ya, aku menyukai. Aku sangat menyukaimu." Sehun menjawab setelah beberapa detik memandangi wajahnya. Tatapan itu sangat tajam, suaranya juga sangat tegas, tidak ada keraguan sedikit pun. Jongin termangu dengan jawaban yang Sehun berikan. Sehun menyukaiku? Sungguh? Ini bukan mimpikan?
"Aku tahu aku belum banyak mengungkapkan ceritaku karena semuanya sangat rumit. Tapi satu hal yang aku tahu pasti adalah aku menyukaimu, walaupun aku belum ingin mengungkapkannya sekarang karena aku tidak ingin menyakitimu." Sehun masih menatap wajah Jongin yang masih berdiri didepannya.
"Kau menanyakan hal ini padaku, dan aku tidak ingin berbohong padamu lagi. Aku menyukai Kim Jongin." Sehun kembali menyatakan perasaannya. Jongin menelan ludahnya, bingung harus mengatakan apa. Sewaktu dikamar mandi tadi pikiran Jongin memang sangat kalut, dan dengan dorongan adrenalin yang muncul entah dari mana ia tiba-tiba menanyakan hal ini pada Sehun. Lalu sekarang bagaimana? Aku harus bilang apa? Aku tidak berpikir sampai sini? Ya Tuhan aku bodoh sekali. Jongin kebingungan dengan akibat perbuatannya yang tidak ia pikir panjang.
"Uhh—benarkah? Memangnya apa yang rumit?" Jongin bertanya lagi. Sudah terlanjur basah, ya berenang sekalian saja.
"Aku tidak bisa menceritakannya sekarang, tapi aku berjanji akan menyelesaikan semuanya dan akan bercerita padamu." Sehun memasang wajah serius. Sehun pikir Jongin marah padanya karena sikap penuh rahasianya, jadi dia berusaha bersikap seserius mungkin. Tidak tahu Sehun jika sebenarnya Jongin kebingungan dengan situasinya saat ini, Jongin tidak tahu apa yang harus ia lakukan ketika seorang cowok mengungkapkan perasaan padanya.
"Uh baiklah. Ka-kalau begitu ayo makan." Jongin mendudukkan dirinya dan mengambil sendok didepannya, mulai makan. Adrenalin Jongin yang tadi memicu dirinya untuk bertanya sedemikian frontal tampaknya sudah hilang, Jongin kembali menjadi Jongin yang pendiam dan pemalu. Sehun mengernyit heran. Bukankah Jongin harusnya menuntut penjelasan? Atau paling tidak mengatakan sesuatu selain 'ayo makan'. Apa dia benar-benar marah padaku? Atau jangan-jangan dia…..malu?
"Jongin kau bertanya begitu apa karena kau menyukaiku?" Senyum usil Sehun sangat kentara. Sepertinya Sehun ingin menggoda gadis manis didepannya.
"UHUK! Dari mana kau menyimpulkan hal seperti itu?" Jongin yang mengira sudah bisa mengalihkan pembicaraan tersedak oleh kuah sup yang sedang ia sendokkan kedalam mulutnya.
"Untuk apa kau bertanya begitu jika kau tidak menyukaiku?" Senyum Sehun berganti menjadi seringaian. Lucu sekali wajah Jongin yang memerah dimata Sehun.
"A-aku kan c-cuma bertanya. Aku tidak bilang pernah aku me-menyukaimu." Jongin mengelak. Jongin memang tidak pernah mengatakan hal itu secara langsung, tapi untuk apa Jongin gugup jika dia memang tidak memiliki maksud apa-apa dibalik pertanyaannya?
"Jangan berbohong. Aku tahu kau menyukaiku." Sehun semakin bersemangat menggoda Jongin. Gadis berkulit kecoklatan itu sekarang benar-benar menyesal telah mengikuti insting gilanya. Dia sekarang dibuat malu habis-habisan oleh cowok yang baru saja mengatakan cinta padanya.
"Kau percaya diri sekali. Aku tidak pernah bilang apa-apa tentang perasaanku padamu." Jongin masih terus mengelak, matanya bergerak resah. Tidak mau memandang ke arah Sehun.
"Makanya katakan padaku bagaimana perasaanmu." Sehun nyaris tertawa melihat usaha Jongin menahan malu karena terus-terusan ia goda.
"Pe-perasaanku? Perasaanku yang mana? Aku sudah selesai makan, ayo segera lanjutkan perjalanan." Jongin cepat-cepat berdiri, padahal supnya baru ia makan beberapa suap.
"Ya! Kim Jongin! Jangan mengelak terus!" Sehun tertawa sambil mengikuti langkah Jongin.
"Aku tidak mengelak!"
"Katakan padaku sekali saja."
"Katakan apa?"
"Katakan 'aku menyukaimu Sehun Oppa'. Sekali saja." Sehun menyeringai jahil,
"Uh, kalimat apa itu? Seperti drama saja." wajah Jongin memerah lagi mendengar ucapan Sehun. Kalimat yang Sehun suruh ia ucapkan memang norak sekali.
"Maka rating drama yang kau bintangi tinggi sekali."
"Ih kau ini, cepat masuk atau aku tinggal." Jongin benar-benar ingin topik ini cepat selesai. Jongin juga berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi bertindak gila.
Hampir dua jam mereka terus berkendara. Selama dua jam itu pula Sehun terus-terusan menggoda Jongin, suasana didalam mobil tidak lagi tegang seperti sebelumnya. Tawa Sehun dan rengekan Jongin memenuhi mobil. Keduanya benar-benar sedang dimabuk asmara.
"Jong, berhenti disana sebentar." Sehun menunjuk sebuah papan jalan yang bertuliskan 'kebun strawberry'. Jongin menurut saja dan mengikuti arah panah papan jalan yang Sehun tunjuk.
Kebun strawberry yang dikunjungi Jongin dan Sehun sangat indah. Terletak dikaki gunung dan memiliki tempat peristirahat yang sangat cantik. Menenangkan dan bagus sekali. Apalagi bagi Jongin yang baru saja mendapat pernyataan cinta dari cowok idamannya. Pemandangan seindah ini rasanya berkali-kali lipat indahnya.
Pengunjung kebun strawberry hari itu lumayan padat jadi keduanya hanya membeli beberapa bungkus strawberry segar dan memandang kebun strawberry yang luas. Sehun dan Jongin memilih untuk duduk di kafe yang mereka sediakan, Sehun mengajak Jongin untuk melihat pemandangan dari sana sambil minum kopi hangat.
"Wah, sayang sekali ya kita tidak bisa memetik strawberry." Jongin memandang iri anak-anak kecil yang berlarian dengan keranjang penuh strawberry.
"Kau bisa berlarian dengan keranjang penuh strawberry nanti dirumah." Sehun berkomentar jahil. Jongin memberi tatapan kesalnya pada Sehun yang dibalas dengan cubitan pelan pada pipinya. Sehun tidak tahan dengan Jongin yang menggemaskan.
"Jongin?" Jongin menoleh setelah meletakkan cangkir kopinya. Sehun melihat ada bekas krim dibibir Jongin segera membersihkannya dengan tisu yang ada diatas meja. Kali ini Jongin merasa seperti pemeran utama wanita dalam sebuah drama romantis.
"Aku sungguh-sungguh dengan perkataanku. Aku sangat menyukaimu." Sehun meremas tisu yang tadi ia gunakan untuk membersihkan sisa krim pada bibir Jongin. Mata Sehun tidak lepas dari gadis polos dan lugu didepannya.
Jongin mengerti jika saat ini Sehun sedang serius. Meskipun dia masih malu untuk membicarakan hal ini, tapi Jongin tidak mencoba mengalihkan pembicaraan. Jongin juga sebenarnya ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya, tapi ia belum siap. Jongin belum siap untuk bangun dari mimpi indahnya, dimana dia adalah seorang putri dan Sehun adalah pangerannya. Bagaimana jika Sehun suatu saat akan meninggalkannya ketika ia sudah benar-benar mencintainya?
"Aku sangat menyukaimu, tapi aku tidak bisa menjadikanmu kekesihku." Jongin menatap Sehun. Pandangannya langsung muram dan sedih, pikirannya benar. Sehun memang tidak bisa menjadi miliknya. "Tidak sekarang." Sehun melanjutkan. "Aku masih harus menyelesaikan beberapa hal sebelum aku pantas menjadi kekasihmu. Apa kau menungguku?" Sehun menyentuh tangan Jongin, pertanda jika Sehun ingin memandang wajah Jongin. Sehun ingin Jongin tahu jika dirinya serius dengan perkataannya.
"Berapa lama aku harus menunggumu?" Jongin bertanya polos.
"Tidak akan lama, aku janji." Sehun berjanji, bukan hanya berjanji kepada Jongin tapi juga pada dirinya sendiri. Sehun tidak bisa terus-terusan lari dari masalahnya dengan Jessica.
"Apa masalahnya serius?"
"Iya, serius sekali."
"Apa kah tidak apa-apa kau berada disini bersamaku?" Jongin teringat kalimat Chanyeol tadi pagi.
"Tentu saja tidak apa-apa. Kenapa kau bertanya begitu?"
"Ta-tadi pagi aku mendengar sedikit pembicaraanmu dengan temanmu." Jongin berkata jujur. "Maaf." Dan dia masih merasa bersalah karena sudah mencuri dengar.
"Aku boleh kemana saja, kapan saja asalkan itu bersamamu." Perut Jongin rasanya dipenuhi kupu-kupu. Belum pernah seorang pun yang memperlakukannya seperti ini. Mengatakan hal-hal manis seperti ini. Menggenggam tangannya seperti ini.
"Uh, ehm, a-aku…" Jongin tidak tahu harus berkata apa. Hatinya berbunga-bunga dengan ungkapan cinta yang Sehun katakan, dan itu membuat Jongin kehilangan kemampuan berbicaranya.
"Apa kau tidak mau menungguku?" Sehun langsung terlihat panik dengan jawaban Jongin yang terbata-bata. Apakah Jongin akan menolaknya? Apakah Jongin ragu dengan perasaan Sehun?
"Aku tahu aku tidak adil karena mengatakan aku menyukaimu tapi malah tidak memberikan kepastian padamu. Tapi aku sungguh-sungguh dengan perasaanku. Aku hanya tidak ingin kau terluka karena masa laluku." Sehun belum pernah memohon seperti ini supaya perasaannya diterima, bahkan tidak pada Jessica, gadis yang memporak porandakan hidupnya.
"Memangnya masa lalumu kenapa?" Jongin mengernyitkan dahinya. Pikiran-pikiran mengerikan muncul dalam benak Jongin. Lalu Jongin ingat dengan panggilan-panggilan yang masuk kedalam ponsel Sehun ketika mereka sedang berdua, dan juga perkataan teman Sehun tentang nenek sihir.
"A-aku…aku…tidaklah sebaik yang kau kira." Sehun berkata lesu, padangannya kebawah. Tangan yang tadi dengan penuh percaya diri menggenggam tangan Jongin kini memainkan cangkir kopinya.
Habislah sudah harapannya untuk bisa bersama Jongin. Setelah ini pasti Jongin akan membencinya jika ia tahu bagaimana masa lalunya. Gadis polos dan manis seperti Jongin pasti tidak akan mau menerima Sehun yang dulunya selalu mempermainkan wanita. Apalagi Sehun akan menjadi pacar pertamanya, pasti Jongin akan berpikir berulang kali untuk menerimanya.
"Kau pernah membunuh seseorang?" Sehun menggeleng.
"Apa kau pernah memperkosa seseorang?" Sehun menggeleng lagi.
"Atau kau sudah punya istri dan anak?"
"Tentu saja belum!" Sehun menjawab. Kenapa pertanyaan Jongin melantur seperti ini?
"Jika kau tidak pernah melanggar hukum dan belum berkeluarga aku rasa aku mau menunggumu." Jongin tersenyum. Sehun mengangkat kepalanya, wajahnya tidak lagi lesu karena ketakutan-ketakutan tidak berdasarnya barusan.
"Benarkah?" Senyum langsung mengembang diwajah Sehun.
"Tentu saja. Tapi kau tidak menyuruhku menunggu bertahun-tahun kan?"
"Tidak. Tentu saja tidak! Aku adalah orang paling jahat jika aku menyuruhmu menunggu bertahun-tahun!" Sehun menggenggam tangan Jongin lagi, kali ini lebih erat, lebih hangat, lebih percaya diri. Sehun memang beruntung bertemu dengan gadis penuh pengertian seperti Jongin.
"Tapi Jong, aku pernah beberapa kali kena tilang." Sehun berkata jujur. Melanggar lalu lintas berarti juga melanggar hukum kan?
"Kalau itu aku juga sering." Jongin tertawa mendengar perkataan Sehun. Perasaan Sehun saat ini benar-benar bahagia, bukan kebahagiaan seperti yang pernah ia rasakan ketika mendapat mobil baru atau berhasil menggaet gadis tercantik disekitarnya. Perasaan bahagia ini terasa lebih memabukkan dan membuat Sehun merasa seperti orang paling bahagia dimuka bumi.
"Ayo lanjutkan perjalanan. Biar aku saja yang menyetir." Sehun berdiri dan menarik tangan Jongin agar ikut berdiri. Tangan satunya meminta kunci mobil.
"Jangan! Aku tidak mau mati dijalan!" Jongin menolak mentah-mentah usul Sehun.
"Aku bisa menyetir Jong."
"Kau bisa menyetir di London, tapi disini kan berbeda." Jongin masih terus menggenggam kunci mobil ditangannya.
"Percaya padaku. Kau akan selamat sampai tujuan. Kita bisa sampai minggu depan jika kau yang menyetir." Sehun merebut kunci yang ada ditangan Jongin.
"Ya! Kembalikan! Aku kan pelan-pelan supaya kita selamat!" Jongin berusaha menggapai kunci yang berada ditangan Sehun. Sedangkan Sehun menaikkan tinggi-tinggi tangannya agar Jongin tidak bisa mencapainya.
"Sungguh? Bukan supaya kau bisa berduaan denganku lebih lama?" Sehun mulai berlari kearah parkiran mobil, ia tahu Jongin akan menyerangnya dengan cubitan-cubitan karena sedari tadi ia tidak henti-hentinya menggoda Jongin.
"Ya! Oh Sehun! Aku tidak jadi menunggumu!" Jongin mengejar Sehun dengan wajah merah padam. Sehun hanya tertawa mendengar ancaman kosong Jongin, ia tahu Jongin tidak akan meninggalkannya. Jika hal itu terjadi pun Sehun mau mengejar Jongin hingga ujung dunia.
—
"Selamat malam Jongin." Sehun berdiri didepan pintu kamar hotel yang mereka pesan dengan perasaan sedikit berat. Setelah seharian menghabiskan waktu bersama Jongin, rasanya sungguh tak rela harus berpisah dengannya.
"Selamat malam Sehun." Berbeda dengan Jongin. Wajahnya masih malu-malu meskipun saat ini statusnya sudah naik menjadi calon pacar Sehun.
"Uh, baiklah. Selamat malam." Sehun menutup pintu kamar Jongin perlahan-lahan, tidak mau berpisah dengan wajah manis itu. Sangat jarang Jongin melihat sikap gugup Sehun, dan itu sangat menggemaskan. Sehun yang selalu terlihat dingin bisa bertingkah malu-malu dan gugup hanya karena seorang Kim Jongin.
Malam ini mereka berdua menginap disebuah hotel mewah di Busan. Berbeda kamar tentu saja. Sehun sangat menghargai kehormatan Jongin, dan Sehun sendiri juga tidak pernah berbuat terlalu jauh dengan mantan-mantannya. Jadi Sehun berjanji tidak akan menyentuh Jongin sedikitpun. Bahkan dia tidak akan sekedar memeluk Jongin sebelum ia resmi menjadikan Jongin kekasihnya.
Sehun dan Jongin sampai Busan lewat tengah hari. Mereka makan siang di tepi pantai dengan bekal yang dibuatkan Nyonya Oh tadi pagi. Hawa dingin pantai di bulan Desember sama sekali tidak mempengaruhi mereka, keduanya tetap berjalan-jalan ditepi pantai hingga menjelang sore.
Setelah meninggalkan pantai, tujuan mereka selanjutnya adalah mencari hotel. Hari ini adalah hari Sabtu, dan hotel-hotel mewah di Busan banyak dipesan oleh keluarga-keluarga kaya raya seperti Sehun dan Jongin untuk menghabiskan akhir pekan. Sehun tentu saja tidak mau Jongin menginap di hotel ala kadarnya apalagi ia memiliki segunung uang direkeningnya. Jongin harus mendapatkan yang terbaik.
Sore itu Jongin menolak ajakan Sehun untuk jalan-jalan karena Jongin tahu Sehun sudah lelah menyetir berjam-jam. Sehun yang lelah pun setuju untuk tinggal dihotel dan menikmati fasilitas yang disediakan hotel, kolam renang dan kafe misalnya. Sisa hari itu mereka menghabiskan waktu hanya untuk mengobrol ringan. Sehun menceritakan masa kecilnya di London yang sulit karena tidak bisa berbahasa Inggris, dan juga cerita-cerita detektif kesukaannya.
Jongin sengaja tidak ingin membahas masa lalu Sehun yang tadi siang sempat diungkit. Jongin menghargai privasi Sehun, apapun itu Jongin yakin Sehun akan jujur padanya jika waktunya sudah tiba. Jongin percaya pada Sehun, dan Jongin ingin memberi kesempatan pada Sehun untuk menyelesaikan masalahnya terlebih dahulu. Jika ini memang berkaitan dengan seorang gadis dari masa lalu Sehun, Jongin ingin semua masalah terselesaikan dulu. Jongin tidak ingin dianggap mengambil kekasih orang lain. Bagi Jongin saat ini bisa menghabiskan waktu dengan Sehun saja sudah lebih dari cukup, Jongin tidak mau menuntut terlalu banyak.
Jongin tidak tahu dirinya berada dimana, tapi hatinya terasa familiar dengan bangunan-bangunan disekelilingnya. Dingin, hujan, dan Jongin nyaris tidak bisa melihat apapun karena langit sangat gelap. Didepannya ia melihat sepasang kaki, ingin Jongin mengangkat kepalanya untuk melihat siapa pemilik kaki itu sayangnya kepalanya tidak mau digerakkan. Sepatu itu juga rasanya sangat familiar, seolah Jongin melihatnya setiap hari.
Jongin merasa sebuah kain tersampir dibahunya, sebuah kemeja. Orang didepannya pasti yang meletakkan kemeja itu dipundaknya. Badan Jongin rasanya jauh lebih hangat. Tapi perasaan hangat itu tidak berlangsung lama. Kaki itu berbalik dan melangkah menjauh, meninggalkan Jongin yang kedinginan dan kehujanan sendiri. Badan Jongin masih tidak bisa digerakkan, hanya air mata yang mengalir dan menyatu dengan air hujan yang membahasi tanah.
Hosh…hosh…hosh…
Jongin terengah-engah, matanya basah. Mimpi buruk rupanya.
Jongin benci mimpi seperti ini. Membuat ia sulit melanjutkan tidurnya. Ada sedikit keinginan untuk menghubungi Sehun karena mungkin mendengar suara Sehun bisa menenangkan hatinya. Mengingat ini pukul dua pagi membuat Jongin mengurungkan niatnya. Dirinya hanya berguling-guling dikasur, berusaha kembali tidur.
Beberapa malam terakhir Jongin memang tidak pernah mengingat mimpi-mimpinya lagi. Apa karena dia terlalu memikirkan Sehun? Selain itu mimpi-mimpinya tidak lagi seindah dulu. Jika dulu Jongin selalu bertemu dengan pangeran mimpinya, sekarang pangeran itu jarang datang ke mimpinya. Sekalinya datang malah membuat Jongin menangis.
Jongin berusaha menghilangkan kegelisahan hatinya dengan mengingat-ingat momen-momen kebersamaannya dengan Sehun. Perlahan, Jongin mulai mengantuk lagi. Tidak lama kemudian Jongin terlelap dengan hati gelisah, masih terbayang pangeran yang selalu mendatanginya setiap malam perlahan mulai menghilang.
Kriiinggg…Kriiiingggg…
Telepon kamar Jongin berbunyi. Jongin berusaha menggapai gagang telepon itu.
"Halo?" Jongin menjawab dengan suara mengantuk. Matanya melihat jam diponselnya, hampir pukul sepuluh pagi
"Halo Jongin. Selamat pagi." Suara diseberang sana langsung membuat Jongin membelalakkan matanya. Sehun. Malu rasanya Jongin ketahuan bangun sesiang ini.
"Ha-halo Sehun. Selamat pagi."
"Aku ingin mengajakmu sarapan, tapi tidak apa jika kau masih ingin istirahat."
"Ah tidak, aku akan sarapan bersamamu." Jawab Jongin cepat, ia tidak ingin terlihat seperti gadis pemalas. Memang bukan, gara-gara sulit tidur semalam yang membuat Jongin bangun terlambat.
"Baiklah, lima belas menit lagi aku tunggu didepan pintu kamarmu. Bagaimana?"
"Oke. Lima belas menit." Begitu gagang telepon sudah diletakkan pada tempatnya, Jongin langsung lari ke kamar mandi. Berusaha tampil sebaik mungkin dalam lima belas menit.
Lima belas menit tepat bel pintu kamar Jongin berbunyi. Pasti Sehun. Jongin berkaca sekali lagi, masih tidak puas sebenarnya tapi bagaimana lagi dirinya tidak secantik Luhan. Waktu lima belas menit tidak cukup untuk membuatnya tampil mempesona.
"Hai Sehun, ayo sarapan." Jongin berusaha tersenyum cerah. Dalam hatinya ia gugup jika Sehun terkejut dengan penampilan bangun tidur yang tidak ada cantik-cantiknya.
"Kau selalu terlihat lucu ketika bangun tidur." Sehun tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Jongin bahkan ketika mereka sudah mulai berjalan menyusuri lorong.
"Selalu? Kau kan baru sekali ini melihatku bangun tidur…"
"Sekali? Kau tidak ingat mengusirku ketika kau masih mengenakan piyama?" Sehun mengungkit salah satu hari paling memalukan bagi Jongin. Ah ya, pagi itu. Ketika Jongin pikir ia berhalusinasi melihat Sehun didapurnya.
"Astaga, kau masih ingat? Aku jelek sekali saat itu!" Jongin menutup wajahnya karena malu. Tidak menyangka Sehun sudah melihat sisi kacau pagi harinya.
"Jelek dari mana? Kau lucu waktu bangun tidur, pipimu itu benar-benar menggemaskan, lalu bibirmu…" Sehun tidak melanjutkan kalimatnya, ia malu harus mengakui jika bibir Jongin membuatnya panas dingin.
"Bibirku kenapa?" Jongin berkaca didalam lift yang keempat sisinya dilapisi kaca dan memperhatikan bibirnya. Sepertinya tidak ada yang salah dengan bibirnya.
"Bi-bibirmu jadi…j-jadi seperti disengat lebah." Jawaban macam apa itu Sehun? Jongin yang sedang berkaca jadi lebih teliti memperhatikan bibirnya. Benarkah? Apa benar kalau bangun tidur bibirku jadi bengkak? Sepertinya tidak kok, kalau pipiku mungkin iya, Jongin memperhatikan bibirnya dengan seksama.
Sehun kebingungan bagaimana memperbaiki kata-katanya barusan. Padahal maksud Sehun bibir Jongin terlihat lebih seksi ketika bangun tidur bukan seperti disengat lebah. Kemana perginya kemampuan merayu Sehun yang biasanya luar biasa?
"Mak-maksudku, bibirmu terlihat le-lebih…lebih…"
"Lebih tebal begitu maksudmu?" Jongin bertanya sambil merengut.
"Bukan! Bukan begitu!" Sehun tambah pusing menjelaskannya.
"Lalu apa?"Jongin semakin merengut.
"Uh, ehm, le-lebihseksi." Sehun berkata cepat-cepat. Malu. Kenapa Sehun jadi malu-malu begini sih? Hilang sudah kesan playboy yang ia miliki, berubah jadi seperti anak sekolah yang seolah pertama kali jatuh cinta.
"Huh?" Jongin malu mendengar jawaban Sehun. Seksi? Tidak ada yang pernah memuji dirinya cantik, apalagi seksi. Wajah Jongin tidak tahan untuk tidak merasa panas. Untung saja pintu lift terbuka, jadi mereka tidak perlu melanjutkan percakapan mereka tentang bibir Jongin.
"Kau mau omelet? Aku akan pesankan." Sehun menawari Jongin yang sedang memotong-motong roti dengan pisau makannya.
"Iya, satu saja. Terima kasih." Sehun bangkit dari duduknya.
Satu hal yang paling ia sukai dari Sehun adalah dia sangat menghormatinya. Sehun selalu bertanya apa yang Jongin mau, apakah dia baik-baik saja, apakah makanannya kurang enak, apakah suhu didalam mobil terlalu dingin. Jongin memang belum banyak memiliki pengalaman dalam hal percintaan, tapi ia tahu jika Sehun adalah laki-laki yang baik. Hal ini membuat Jongin lebih yakin dengan pilihannya untuk menunggu Sehun.
Belum lima menit berlalu sejak Jongin memuji sikap gentleman Sehun, kini matanya menangkap Sehun berbincang dengan tiga orang wanita. TIGA. Bukan hanya satu. Tangan salah satu wanita itu menyentuh lengan Sehun, memang hanya sebentar sih, tapi itu kan lengan Sehun-nya Jongin? Ehm, Sehun-nya Jongin? Belum Sehun-mu Jong.
Jongin merengut dan berusaha mengalihkan matanya dari pemandangan menyebalkan tersebut. Kesal sekali rasanya, ditambah lagi Jongin tidak bisa mengungkapkan kekesalannya. Sehun kan belum resmi jadi miliknya, hak untuk merasa cemburu belum ia miliki. Walaupun begitu, Jongin sangat tahu jika Sehun disana sama sekali tidak ada niatan untuk menggoda tiga wanita tersebut, memang pada dasarnya Sehun itu magnet untuk wanita jadi Jongin berusaha memahami jika wanita-wanita itu bertingkah seperti lebah ditaman bunga. Kegirangan. Meskipun Jongin sadar akan hal itu, dia tidak bisa menahan rasa kesal ketika Sehun dan tiga wanita itu menunggu omelet sambil mengobrol akrab.
"Ini omeletmu." Sehun meletakkan sepiring omelet didepan Jongin.
"Terima kasih." Jongin menjawab singkat, tangannya masih sibuk memotong-motong roti didepannya meskipun roti-roti itu sudah sangat kecil.
"Hari ini kau mau kemana? Kita tidak bisa pulang terlalu siang karena aku berjanji membawamu pulang sebelum pukul sepuluh malam."
"Uhm, terserah kau saja." Jongin masih menjawab dengan nada dingin. Sehun merasakan perbedaan dari nada bicara Jongin. Apa dia melakukan kesalahan? Apa gara-gara…..?
"Jongin?" Sehun ingin memastikan dugaannya.
"Hm?" Jongin ganti memotong-motong omeletnya.
"Jong?"
"Apa?" Perhatian Jongin masih sibuk dengan telur didepannya.
"Lihat aku." Jongin menatap wajah Sehun.
"Kau cemburu ya?" Wajah Sehun tiba-tiba mendekat, seolah sedang memeriksa sesuatu diwajah Jongin. Gadis itu langsung memundurkan wajahnya yang memerah. Terkejut dengan wajah tampan yang sangat dekat dengannya dan juga pertanyaan yang diajukan padanya. Dari mana Sehun tau jika ia cemburu?
"Cemburu pada siapa? Telur?" Jongin bertanya melantur.
"Pada tiga wanita yang tadi mengajakku mengobrol." Sehun berkata lagi. Sangat jujur, hingga kejujurannya membuat Jongin malu.
"Kau mengobrol dengan siapa memangnya? Aku tidak memperhatikan." Jongin pura-pura cuek.
"Aku tadi diajak mengobrol dengan tiga wanita cantik tadi." Sehun sepertinya ingin kembali menggoda calon kekasihnya.
"Oh ya?" Jongin masih bersikap seolah tidak peduli. Perhatiannya kini terpusat pada botol kaca berisikan garam dan blackpepper yang ada diatas meja.
"Iya, mereka juga minta nomor ponselku."
"Hmm begitu…" Tangan Jongin mulai memainkan botol-botol itu.
"Kau tidak cemburu?" sebelah alis Sehun terangkat.
"C-cemburu? Untuk apa?"
"Berarti kau tidak menyukai dong kalau kau tidak cemburu?" Sehun rupanya ingin mendengar dengan jelas Jongin mengatakan 'aku menyukaimu'. Dari kemarin Jongin memang belum benar-benar mengatakannya meskipun sikapnya sudah cukup menggambarkan perasaan suka Jongin pada Sehun.
"Aku tidak cemburu karena aku tahu kau tidak menggoda mereka. Aku tidak cemburu karena kau tidak bisa hanya berinteraksi dengan satu wanita. Aku tidak cemburu karena aku tahu kau menyukaiku." Jongin menjawab tanpa memandang wajah Sehun. Jongin tidak bisa menatap mata tajam Sehun, karena organ-organ tubuh Jongin rasanya seperti meleleh.
Jawaban Jongin membuat Sehun terdiam. Bukan jawaban seperti itu yang ia harapkan, tapi ternyata jawaban yang ia dapatkan jauh lebih baik. Jongin mungkin memang masih SMA, tapi dia jauh lebih dewasa dari semua gadis yang pernah ia pacari. Jongin memang bukan yang paling cantik, tapi hatinya jauh lebih cantik dari gadis tercantik yang pernah ia kencani.
Sehun memutuskan untuk kembali ke Seoul setelah mereka menyelesaikan sarapan mereka. Bukan karena ia ingin menyudahi liburan mereka, melainkan untuk menyelesaikan semua urusannya dengan Jessica. Sehun ingin bisa segera mengumumkan pada dunia jika Jongin adalah miliknya.
"Jong, setelah ini kita langsung pulang ya. Aku ingin segera menjadikanmu sebagai kekasihku." Sehun berkata datar. Tapi kalimat itu mampu membuat Jongin menatap wajah Sehun yang sedang menatapnya dengan tatapan memuja, membuat Jongin malu.
"Huh?" Jongin kembali kehabisan kata-kata karena Oh Sehun.
To Be Continue
Akankah Oh Sehun dan Kim Jongin bisa langsung jadian setelah ini? Jeng Jeng Jeng. Tunggu chapter selanjutnya yaa ^^
Ditunggu reviewnya biar author makin semangat kekeke
