Fanfiction
Cast : Jongin!GS, Sehun
Genre : Romance, Drama
Summary : Jongin terlahir dari keluarga kaya raya, namun hal itu yang membuat hidupnya semakin sulit, karena dia tidak seperti anggota keluarganya yang lain. Tidak seperti kedua saudaranya, Jongin bukanlah gadis yang cantik—tidak jelek juga kok, dia tidak memiliki nilai akademik yang patut dipamerkan atau keahlian yang membuat dia pantas diperhitungkan. Jongin benar-benar tidak memiliki sesuatu yang spesial. Hidup Jongin jungkir balik hanya dalam semalam, hidupnya berubah. Pangeran yang selalu dia khayalkan bukanlah sekedar khayalan lagi.
Chapter Eight
"Kyung, apa menurutmu Jongin akan menghabiskan es krimnya sendirian?" Taemin menatap sekotak besar es krim dipangkuan Jongin penuh harap.
"Ya! Kau kan bisa beli lagi nanti, biarkan saja!" Kyungsoo mendelik tajam kearah kekasihnya yang merengut manja.
"Tapi kan itu aku yang beli….." Taemin masih berusaha mendapatkan kembali es krim yang ia beli dengan susah payah dibawah dinginnya kota Seoul bulan ini. Aneh memang, Jongin dan Taemin suka sekali dengan es krim meskipun cuacanya dingin.
"Nanti akan aku belikan lima box, jangan rewel. Kerjakan cepat PR-nya, aku mau mencontek nanti." Kyungsoo membujuk Taemin agar merelakan es krim tersebut. Taemin sendiri hanya menghela nafas panjang sebelum kembali mengerjakan PR, sedangkan Kyungsoo sibuk membolak-balik majalah mode.
Jongin? Gadis ini sedang melahap es krim sambil menonton drama di televisi kamarnya. Sekarang tiga remaja ini sedang berada di kamar mewah Jongin. Sebagai anak sekolahan yang rajin, mereka tidak lupa mengerjakan PR yang diberikan guru-guru mereka selama libur Natal. Menyebalkan bukan, meskipun libur tetap saja harus ada tugas sekolah yang harus dikerjakan.
Kyungsoo yang biasanya selalu cerewet hari ini hanya diam dan membaca majalahnya tanpa berkomentar apapun. Bukannya Kyungsoo sedang sariawan atau bau mulut, tapi Kyungsoo sedang menghormati sahabatnya yang sedang tidak bisa tertawa.
Sudah tiga hari sejak kepulangan Jongin dan Sehun dari Busan. Jongin memang terlihat baik-baik saja pada hari pertama dan kedua, tapi hari ini sudah hari ketiga sejak Jongin mendapat kabar dari Sehun. Tiga hari. Tiga hari tanpa kabar sedikitpun dari Sehun. Jongin sedikit menyesali keputusannya untuk sama sekali tidak mencampuri urusan Sehun, kini dia jadi yang tersiksa karena menahan rindu.
Baru sekali ini Kyungsoo melihat Jongin depresi karena laki-laki, dan ternyata jauh lebih menyeramkan dari dirinya yang dulu sempat menangis berhari-hari gara-gara Taemin pergi kencan dengan adik kelasnya. Jongin jadi seperti zombie, hanya makan dan tidur sepanjang hari. Luhan dan Kyungsoo berusaha mengajak Jongin berbelanja, nonton dan segala macam kegiatan lainnya agar Jongin melupakan Sehun sejenak tapi tidak ada yang berhasil.
Well, bagaimana mungkin Jongin bisa tidak bersikap seperti zombie jika dia tahu cowok yang ia sukai mungkin sedang bersama dengan gadis lain yang pernah memacari calon pacarnya? Selama tiga hari pula. Jongin bertanya-tanya dalam hati, apakah Sehun tidak sampai hati memutuskan gadis itu? Jongin memang belum pernah bertemu atau mendengar cerita tentang gadis itu, tapi Jongin pernah sekilas melihat fotonya dan Jongin mengakui betapa cantiknya gadis yang dipanggil teman Sehun sebagai nenek sihir.
Satu-satunya hal yang bisa mengalihkan pikiran Jongin dari Sehun adalah DVD drama yang Kyungsoo bawakan untuknya. Sudah berapa episode yang ia habiskan dalam sehari untuk bisa menyingkirkan Sehun sejenak dari kepalanya? Banyak sekali, untung saja Kyungsoo si maniak drama terus-terusan membawakannya DVD drama.
"Kyung, nanti ceweknya tidak mati kan?"
"Tonton saja dulu, tidak seru jika aku memberitahumu."
"Uh, benar-benar kejam ibu mertuanya. Seharusnya kau melarikan diri saja dasar cewek bodoh." Jongin mengomel sambil terus menyuapkan es krim ke dalam mulutnya. Taemin akan memasang wajah sedih setiap suap es krim yang Jongin telan, dia kan juga mau makan es krim…
"Jong, Luhan Unnie akan segera pulang, dia bertanya kau mau menitip apa?" Kyungsoo membuka pesan masuk yang ternyata dari Luhan. Kakak perempuan Jongin memang sengaja tidak menghubungi adiknya langsung, karena ia tahu jika Jongin tidak akan membalas pesannya. Jongin hanya akan melirik ponselnya dan membiarkan ponselnya terus berbunyi jika itu bukan Sehun, Luhan benar-benar akan membotaki Sehun jika dia bertemu dengan cowok yang sudah mengacaukan adiknya.
"Uhm, aku mau pizza." Jongin menjawab tanpa berpikir. Dia mengucapkan makanan yang sedang dimakan pemain drama didepannya, menonton aktor dan aktris tersebut makan pizza membuat Jongin juga ingin makan pizza.
"Halo adik-adikku yang cantik dan tampan!" Pintu kamar Jongin terbuka dibarengi teriakan cempreng Luhan yang tidak cocok dengan paras cantiknya.
"Unnie? Katanya baru perjalanan pulang? Pizza-ku bagaimana?" Jongin memalingkan wajahnya dari layar televisi.
"Xiumin Oppa yang akan membelikannya." Luhan duduk di sofa empuk kamar Jongin, tepat disebelah Taemin. Pacar Kyungsoo itu langsung bangkit dari duduknya dengan terburu-buru, mengundang tawa Luhan dan Kyungsoo. Meskipun Kyungsoo lebih terkesan galak dari Luhan, tapi Taemin sangat takut dengan kakak sahabat pacarnya itu. Taemin ingat betul bagaimana Luhan menggodanya hingga hampir menangis pada pertemuan pertama mereka, meskipun begitu Taemin tahu jika Luhan adalah orang baik, hanya sedikit usil.
"Xiumin Oppa kesini? Wah sudah naik level dong berarti." Mata besar Kyungsoo semakin besar mendengar ucapan Luhan barusan.
"Hehehe, mungkin sebentar lagi akan resmi." Luhan sedikit malu-malu mengakuinya, membuat Taemin menatap Luhan dengan pandangan heran. Gadis berkelaluan gila seperti Luhan ternyata bisa malu-malu juga ya.
"Bagaimana Jongin hari ini?" Luhan menggerakkan bibirnya tanpa mengeluarkan suara. Orang yang dibicarakan Luhan sudah kembali sibuk menonton drama yang kini menampilkan seorang laki-laki menangisi wanita yang terbaring diatas kasur rumah sakit.
"Masih diam." Kyungsoo menjawab tanpa suara. Luhan mengangguk paham dengan wajah geram, dia benar-benar akan menjitak kepala Sehun hingga gegar otak. Luhan tidak tega melihat adik kecilnya yang pendiam menjadi semakin pendiam, apalagi karena ulah seorang cowok yang sudah menggantunggkan hati adiknya.
Luhan dan Kyungsoo sudah mendengar seluruh cerita Jongin. Mengenai Sehun yang menyukai Jongin dan memintanya untuk menunggu, lalu dugaan Jongin tentang gadis lain dari masa lalu Sehun. Dua teman curhat Jongin itu memang tidak menyalahkan pilihan Jongin untuk memberi Sehun kesempatan walaupun sepertinya Sehun adalah cowok yang cukup rumit kisah asmaranya meskipun berdasarkan cerita Jongin, Sehun adalah cowok baik-baik. Luhan dan Kyungsoo hanya tidak ingin suatu hari nanti masalah dari masa lalu Sehun muncul dan merusak hubungan Jongin dengan Sehun.
"Jongin sayaaaang, kau sudah nonton berapa episode hari ini? Apa matamu tidak lelah? Tatap kakakmu yang cantik ini sebentar saja supaya matamu fresh." Luhan memeluk Jongin yang bergelung dikasur.
"Ugh, kau berapa lama tidak mandi?!" Luhan langsung melepas pelukannya ketika mencium wangi tidak sedap dari rambut adiknya.
"Baru sehari Unnie! Jangan berlebihan." Jongin merengut melihat reaksi Luhan yang sekarang sedang berpura-pura muntah.
"Mandi sana!"
"Tidak mau!"
"Mandi atau pizza?"
"Unnie!"
"Mandi!" Luhan melotot galak pada adiknya, membuat sang adik bangkit dari kasur dan berjalan ke kamar mandi sambil mengomel.
Jongin tidak menyesal dipaksa mandi oleh Luhan. Mandi air dingin benar-benar membuat kepalanya jauh lebih ringan. Apalagi begitu keluar kamar mandi Jongin langsung disambut dengan wangi pizza.
"Yeay, pizza! Terima kasih Oppa!" Jongin melonjak kegirangan sambil membawa satu kotak penuh pizza ke atas kasurnya, melanjutkan drama yang tadi sempat ia tinggalkan.
"Jangan kau habiskan semuanya Jong! Ingat dengan diet kita!" Kyungsoo terkejut dengan Jongin yang membawa satu porsi besar pizza untuk dirinya sendiri.
"Hanya hari ini saja aku tidak diet."
"Kemarin kau juga bilang begitu."
"Baiklah, baiklah. Aku cuma akan makan tiga slices saja." Jongin menjawab asal, walau dalam hati ia tidak yakin tidak akan tidak menghabiskan pizza ini sendirian.
Xiumin selalu terkejut dengan kelakuan dua anak gadis keluarga Kim yang tidak ada malunya. Jangan tanya Luhan yang memang bertingkah aneh-aneh, tapi Jongin? Jongin benar-benar seperti gadis pendiam yang manis ketika Xiumin pertama kali bertemu dengannya. Harus Xiumin akui, Kim bersaudara memang tidak ada yang waras, termasuk temannya, Kris.
"Jong, Oppa malam ini ada acara di bar. Kau mau ikut?" Jongin tersedak, Xiumin mengajak dirinya ke bar? Dihadapan Luhan?
"Hah? Oppa gila ya? Mana mungkin aku pergi ke tempat seperti itu?"
"Luhan dan teman-temanmu juga ikut, kau yakin mau sendirian dirumah malam ini?" Jongin lebih kaget lagi. Kakak dan teman-temannya ikut? Apa dia sekarang tuli atau memang orang-orang didepannya sudah tidak waras semua?
"Jangan melotot seperti ikan koki begitu, event organizer Kris Oppa sedang ada acara disana dan dia dapat banyak tiket gratis. Kau mau ikut tidak?" Luhan menjelaskan.
"Ta-tapi kan bar itu tempat yang…"
"Tidak semua bar itu selalu berkonotasi negatif sayang. Kris, sebagai kakak yang super protektif terhadap kita, tidak mungkin mengundang kita jika ia tahu tempat itu berbahaya." Luhan berusaha membujuk adiknya untuk ikut. Jongin benar-benar harus meninggalkan rumah dan sedikit bersantai.
"Uh, entahlah, drama—"
"Ambil saja DVD-ku, ambil semuanya dan tonton semuanya berulang kali sampai kau mati. Tapi kau harus ikut." Kyungsoo berkata tegas, dan itu berarti Jongin ikut mereka malam ini.
—
Tidak buruk.
Pengunjungnya juga tidak seperti yang aku bayangkan.
Bahkan mereka menjual minuman non-alkohol.
Ah, apa Sehun juga minum-minuman seperti itu ya?
Sehun lagi, Sehun lagi, apa dia tidak bisa meninggalkan gadis itu?
Apa Sehun cuma main-main denganku ya?
Berapa lama aku harus menunggu Sehun?
Apa aku harus menghubunginya dulu?
Tapi kan aku sudah terlanjur bilang akan menunggu kabar darinya.
Nanti kalau aku menghubungi duluan dia akan menganggapku cewek tidak sabaran?
Apa dia benar-benar hanya mempermainkanku ya?
Jongin memainkan gelas kaca artistik ditangannya yang berisi cola. Biarpun hanya minum cola, gelasnya harus keren dong seperti sedang minum alkohol. Pikiran Jongin tidak berada didalam bar yang riuh itu, telinga Jongin sama sekali tidak mendengar obrolan orang-orang yang berada dimejanya, atau live music yang bermain dengan sangat keren. Pikiran Jongin cuma ada Sehun, Sehun, Sehun. Mungkin karena ini kali pertama Jongin jatuh cinta jadi dia sama sekali tidak bisa memikirkan hal lain selain orang yang mencuri hatinya.
Sehun.
Sehun sedang apa sekarang?
Apa dia sedang bersama gadis itu?
Apa dia juga memikirkanku?
Ah, Sehun kau membuatku gila.
Tunggu, tunggu. Sepertinya aku harus benar-benar melupakan Sehun. Aku mulai berhalusinasi lagi. Kenapa mataku ini, aduh…
Jongin menutup matanya rapat-rapat, berusaha menghilangkan bayangan Sehun dari matanya. Setelah beberapa detik, kedua matanya ia buka lagi. Masih ada Sehun. Sosok itu mengenakan kaus hitam dan celana hitam, kepalanya bergoyang-goyang mengikuti irama musik dan tangan kanannya menggenggam gelas berisi cairan berwarna keemasan.
Sehun terlihat terlalu nyata untuk sekedar halusinasi. Jika saat ini Jongin sedang berhalusinasi tidak seharusnya ia bisa sampai melihat bintik-bintik kemerahan diwajah Sehun yang mengindikasikan lelaki itu sudah dibawah pengaruh alkohol. Juga rambut Sehun yang mencuat kesana kemari tidak beraturan, belum lagi cairan yang menetes-netes didagu wajah tampan tersebut.
"Se-sehun…?"
"Huh?" Kyungsoo terkejut dengan Jongin yang tiba-tiba seperti orang kerasukan. Matanya melotot dan badannya menegang.
"Jong—Jongin?"
"Aku tahu kau stress dengan masalah Sehun, coba kau nikmati musiknya dan rileks sedikit. Aku yakin dia tidak akan meninggalkanmu.." Luhan meremas pundak adiknya pelan. Benar-benar iba Luhan melihat adiknya yang stress seperti ini.
"Tidak Unnie. Lihat! Itu Sehun!" Jongin menunjuk ke arah Sehun. Luhan, Kyungsoo dan Taemin memusatkan pandangan mereka pada sesosok lelaki yang duduk sendirian dan kepalanya bergoyang-goyang tidak karuan.
"Astaga, itu benar-benar Sehun!" Kyungsoo menutup mulutnya kaget. Belum sempat ketiga orang itu pulih dari kekagetannya, Jongin sudah beranjak dari kursi menuju meja Sehun.
"Jong—" Kyungsoo berusaha menghentikan langkah Jongin
"Biarkan dulu saja, mereka harus menyelesaikan masalah. Kita awasi saja dari sini, kalau Sehun bertindak aneh-aneh biar Taemin yang menghajar Sehun." Luhan menarik Kyungsoo agar duduk kembali.
"Hah? Kenapa aku dibawa-bawa?" Taemin terkejut namanya dibawa-bawa dalam percakapan gadis-gadis itu, apalagi dia tiba-tiba disuruh menghajar orang yang bahkan tidak ia kenal.
"Ya! Kau mau Jongin kenapa-kenapa! Lihat itu! Sehun sedang mabuk, nanti kalau Jongin diapa-apakan pokoknya kau harus maju!" Kyungsoo berkata galak. Sebagai pacar yang baik dan penurut, Taemin hanya mengangguk lemah. Bagaimana bisa ia menghajar Sehun yang terlihat jauh lebih kekar dan tinggi darinya? Bisa-bisa dia yang pingsan kena pukul. Walaupun begitu Taemin tidak mau mengecewakan kekasih galaknya dan hanya mengiyakan saja.
"Oh my God! Jongin! Jongin!" Belum lama mereka menutup mulut, kejadian yang mereka takutkan terjadi. Sehun tiba-tiba bangkit dari duduknya dan memeluk Jongin. Luhan bisa melihat Sehun berusaha mencium Jongin yang sedang ketakutan, Kyungsoo sendiri langsung mendorong pacarnya untuk maju dan menghajar Sehun seperti rencana mereka.
BUGH!
Belum sempat Taemin mendekati Sehun yang sempoyongan berusaha mencium Jongin, tiba-tiba sesosok lelaki tinggi sudah meninju wajah Sehun dan membuat Sehun tersungkur dilantai.
"Jongin! Jongin! Kau tidak apa-apa?!" Lelaki itu tidak lain adalah kakak laki-laki Jongin dan Luhan. Kim Kris.
"Kenapa kau memukulku? Aku kan mau mencium pacarku sendiri…Kau jahat sekali padaku…." Sehun merengek sambil berusaha untuk bangkit dari jatuhnya. Kris kembali mengepalkan tinjunya dan bersiap untuk menghajar lelaki mabuk itu lagi.
"Oppa! Oppa! Jangan!" Jongin menarik kemeja kakaknya ketakutan, belum pernah Jongin melihat orang berkelahi. Apalagi yang berkelahi adalah kakaknya sendiri dan calon pacarnya.
"Jongiiiiinnnn…sini peluk aku.. Aku rindu…kau kenapa tidak pernah meneleponku..hiks.." Sehun mulai bertingkah manja, kebiasaannya ketika mabuk.
"Se-sehun..kenapa kau bisa ada disini..?" Jongin menghampiri Sehun yang bibirnya berdarah. Wajah Sehun benar-benar terlihat kacau. Sehun yang sedang berada dihadapan Jongin bukanlah Sehun yang yang tampan dan berwibawa seperti biasanya.
"I-ni Sehun?" Kris baru memperhatikan laki-laki yang dipukulnya. Luhan dan Kyungsoo sudah mengerubungi Jongin dan Sehun yang masih di lantai.
"Ayo bangun Sehun, kau kenapa bisa mabuk begini?" Jongin berusaha menarik tubuh besar Sehun dari lantai. Hatinya sangat kalut melihat Sehun yang kacau seperti ini, pertanyaan-pertanyaan dikepalanya juga bermunculan tiada henti.
"Astaga!" Sebuah suara bass menyedot perhatian orang-orang yang sedari tadi melihat Sehun terkapar. Sosok tinggi yang Jongin kenali muncul dengan wajah terkejut.
"Chanyeol?"
"Jo-jongin? Kenapa kau bisa ada disini?"
"Bukankah harusnya aku yang bertanya begitu? Kenapa Sehun bisa mabuk disini dan sama sekali tidak memberi kabar padaku?" Jongin menatap tajam ke arah Chanyeol yang kebingungan.
"A-akan aku jelaskan, tapi biarkan aku membawa Sehun pulang dulu." Chanyeol menarik tubuh Sehun dari lantai. "Akan aku jelaskan ditempat yang lebih tenang."
"Oppa, Unnie. Aku pergi dulu ya."
"Ya! Jongin!" Kris menarik lengan Jongin sebelum Jongin sempat melangkah pergi.
"Aku akan baik-baik saja Oppa, percaya padaku." Jongin memahami kekhawatiran Kris sebagai seorang kakak. Adiknya pergi dengan cowok mabuk yang tadi berusaha melecehkannya, ditambah Jongin belum pernah pergi dengan laki-laki tanpa pengawasan Kris atau Luhan, atau setidaknya ditemani oleh Kyungsoo.
—
"Silahkan diminum dulu." Chanyeol meletakkan segelas air putih dingin didepan Jongin. Sebenarnya Jongin ingin segera menanyakan semua pertanyaan yang ada didalam kepalanya, tapi ia ingat ia harus tetap sopan jadi Jongin meneguk sedikit air dingin tersebut.
"Jadi…" Chanyeol terlihat bingung, lelaki itu tidak tahu harus memulai dari mana.
"A-apa Sehun baik-baik saja?" Jongin bertanya dengan suara pelan. Jongin bertanya kondisi Sehun terlebih dahulu karena baginya Sehun baik-baik saja adalah hal yang paling penting.
"Besok pagi dia sudah akan baik-baik saja." Chanyeol mengerti mengapa Sehun jatuh hati pada Jongin, disaat semua wanita akan berteriak-teriak histeris meminta penjelasan, Jongin malah menanyakan keadaan Sehun.
"Bu-bukan itu maksudku, Sehun sepertinya sedang tertekan. Apa masalah yang dia hadapi akan segera selesai?"
"Ah, aku tidak tahu pasti. Keadaannya bertambah rumit sebenarnya."
"Bertambah rumit?" Jongin menegang.
"Iya. Begitulah. Agak sulit menjelaskannya, dan aku tidak tahu apakah aku orang yang tepat untuk menjelaskannya. Sehun memiliki alasan untuk tidak menceritakan hal ini sebenarnya, dan aku tidak tahu apakah ini saat yang tepat untuk bercerita.."
"Ah begitu. Aku sudah berkata pada Sehun untuk menyelesaikan semuanya dulu dan aku akan menunggu. Tapi melihat Sehun seperti itu tadi…aku jadi cemas jika masalahnya adalah sesuatu yang serius. Sehun sepertinya bukan orang yang lemah, jadi jika Sehun sampai seperti itu…"
"Well, memang serius." Chanyeol menatap Jongin tajam, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu. "Tapi satu yang pasti aku bisa katakan padamu adalah Sehun benar-benar menyukaimu. Aku tidak pernah melihat dia segila ini karena ingin mendapatkan hati seorang wanita."
Jongin sedikit bersemu mendengar perkataan Chanyeol, namun rasa khawatir dan was-wasnya masih terus menyelimuti hatinya.
"Sehun benar-benar sedang berusaha keras, namun semua tidak selancar yang ia duga. Jadi dia tidak bisa menemuimu dulu, Sehun takut jika kau akan tersakiti." Jongin bingung, kenapa dirinya bisa tersakiti? Oleh apa? Oleh siapa?
"A-aku sangat bingung sebenarnya. Semua informasi yang hanya sepenggal-sepenggal membuat kepalaku pusing."
"Kau tidak perlu khawatir Jongin, semua akan baik-baik saja." Chanyeol memberikan senyum simpatinya. "Maaf aku tidak bisa berkata banyak padamu, aku hanya ingin kau mendengar semuanya dari Sehun."
"Tidak apa-apa. Aku juga berterima kasih kau sudah mau menjaga Sehun."
"Tentu saja. Itulah gunanya teman." Jongin tersenyum meskipun hatinya masih sangat gundah.
"JONGINNNNN! HAHAHAHA JONGIIIN!" Chanyeol dan Jongin terkejut dengan teriakan keras dari arah kamar Chanyeol. Pasti Sehun. Keduanya langsung menuju kamar tersebut dan menemukan Sehun tergeletak dilantai sambil memeluk selimut.
"Astaga, kau benar-benar harus berhenti minum." Chanyeol menarik Sehun dari lantai dan memapahnya kembali menuju kasur.
"Channieeee, aku mau Jongiiiiin…" Sehun merengut manja. Chanyeol menghela nafas panjang, seolah ia sudah lelah berkali-kali menghadapi situasi seperti ini. "Ayo kita bertemu dengan Jongin." Chanyeol kembali memapah Sehun. Jongin heran, dirinya disini namun kenapa Chanyeol membawanya ke kamar mandi?
"AHHH! SUDAH CHANNIE!" Jongin langsung merinding mendengar teriakan Sehun dari dalam kamar mandi. Pikiran-pikiran aneh memenuhi kepala Jongin, apa jangan-jangan Chanyeol dan Sehun…..?
"DINGIIINNN! SUDAH HUWAAAA!" Dingin? Jongin memberanikan diri mengintip dari celah pintu kamar mandi yang sedikit terbuka. Sehun duduk didalam bath up dan Chanyeol menyiraminya dengan air.
"Aku sebenarnya tidak tega melakukan hal ini padamu, tapi kau harus benar-benar segera memberi penjelasan pada Jongin. Aku tidak tega melihat wajahnya." Chanyeol terus-terusan membiarkan air shower menyiram tubuh Sehun. Kini dirinya ikut basah karena berusaha menenangkan Sehun yang terus-terusan memberontak.
"Jongin?! Sehunnie mau Jonginieeeee!" Sehun tampaknya masih belum juga menunjukkan tanda-tanda akan segera sadar.
"Sehun aku benar-benar minta maaf melakukan hal ini padamu." Chanyeol mulai menampari wajah Sehun dengan tangan raksasanya. Bunyinya memang tidak terlalu keras, tapi sepertinya lumayan menyakitkan.
"Ya! Ya! Sudah! Sudah! Sehun jangan kau pukuli begitu!" Jongin tidak tahan melihat Sehun yang disiksa oleh Chanyeol. Jongin mematikan air keran tersebut dan memeluk tubuh basah kuyup Sehun.
"Apa tidak ada cara lain untuk menyadarkannya dari mabuk?" Jongin menatap Chanyeol kesal pertanda ia tidak menyetujui tindakan kekerasan yang dilakukan Chanyeol.
"Kemarin berhasil kok." Chanyeol berusaha membela diri. Chanyeol sungguh heran dengan Jongin, jika ia berada diposisi gadis itu, dirinya pasti sudah menghajar Sehun habis-habisan karena tidak kunjung diberi kepastian. Kenyataannya Jongin masih bersikap penuh kasih sayang pada sahabatnya itu.
"Bantu aku." Jongin berusaha menggendong Sehun yang masih terus menggumam tidak jelas. Chanyeol dengan mudah membawa Sehun kembali ke atas kasurnya. Tubuh basah kuyup Sehun terasa semakin dingin, Jongin segera mengambil handuk dan menyelimuti tubuh Sehun dengan handuk tersebut.
"Aku akan menggantikan baju untuk Sehun sebentar."
"Baiklah." Jongin keluar kamar sejenak agar Chanyeol bisa menggantikan baju basah Sehun.
"Kau sudah bisa masuk." kepala Chanyeol muncul dari balik pintu kamarnya. Jongin masuk kembali ke dalam kamar Chanyol. Sehun sudah berbaring dengan menggunakan celana olahraga dan hoodie.
"Wah! Jonginku ada disini!" Sehun menatap Jongin dengan pandangan berbinar-binar, seperti anak kecil yang baru saja mendapat hadiah ulang tahun.
"Aku akan membuatkan sesuatu untuk Sehun, badannya mulai panas." Chanyeol meninggalkan Jongin dan Sehun berdua. Jongin yang mendengar bahwa suhu tubuh Sehun naik mulai cemas, disentuhnya dahi Sehun. Memang sedikit hangat.
"Sehun kau berbaring ya, pakai selimut biar hangat." Jongin mendorong perlahan tubuh Sehun agar berbaring.
"Tidak mau! Sehunnie tidak mau tidur! Nanti Jonginie pergi kalau Sehunie tidur!" Sehun merengek manja meskipun tubuhnya tetap saja menuruti perintah Jongin untuk berbaring.
"Aku tidak akan pergi." Jongin mengusap rambut Sehun yang masih setengah basah. Ditariknya selimut sebatas dada Sehun agar lelaki tampan itu merasa lebih hangat. Jongin beranjak dari duduknya untuk meminta air hangat dan handuk pada Chanyeol agar bisa menurunkan suhu tubuh Sehun.
"Tuh kan! Jonginie meninggalkan Sehunie!" Sehun langsung bangkit dari tidurnya dan menarik lengan Jongin. Kekuatan Sehun jelas jauh lebih besar dari Jongin, tubuh Jongin langsung oleng dan jatuh kedalam pelukan Sehun.
"Huhuhuhu..Sehunie nggak mau pisah lagi sama Jonginie. Apa Jonginie pergi karena marah pada Sehunie? Huhuhuhu…" Sehun memeluk Jongin sambil terisak. Jongin tidak tahu harus berkata apa-apa, jantungnya berdegup kencang ketika ia merasakan hangatnya pelukan Sehun. Apakah pelukan Sehun memang sehangat ini atau karena suhu badan Sehun yang sedang tinggi?
"A-aku.." Jongin bisa mendengar degup jantung Sehun yang juga berdetak terlalu kencang dari kecepatan normal.
"Huhuhuhu..Sehunie sudah berusaha tapi dia mengancam Sehunie. Sehunie nggak mau Jonginie kenapa-kenapa nanti. Huhuhu..Maafin Sehunie nggak bisa jagain Jonginie..Huhuhuhu.." Hah? Apa? Jongin semakin tidak mengerti. Sehun diancam? Menjaga Jongin?
"Sehun, semua akan baik-baik saja. Sehun akan baik-baik saja, begitu juga dengan Jongin." Jongin tidak tega mendengar suara Sehun yang sedang menahan tangis. Entah apapun masalahnya Jongin menjanjikan pada Sehun bahwa semua akan baik-baik saja, karena Jongin juga berjanji pada dirinya untuk bertahan dan menghadapi apapun itu.
"Uh..maaf." Chanyeol masuk dan membawa segelas mug yang mengepul. Chanyeol terlihat kaget dengan posisi Sehun dan Jongin yang berpelukan, ia pikir ia mengganggu quality time calon pasangan ini.
"To-tolong aku.." Jongin memandang Chanyeol memohon pertolongan. Pelukan Sehun memang hangat dan nyaman, tapi Sehun perlu berbaring dan segera istirahat sebelum sakitnya semakin parah.
"Apa Sehun selalu bersikap seperti ini ketika mabuk?" Jongin bertanya ketika mereka berhasil membuat Sehun berbaring dengan tenang dibawah selimut. Jongin sama sekali tidak bisa pergi kemana-mana karena Sehun tidak mau melepaskan cengkramannya pada tangan Jongin.
"Tidak. Dia tidak pernah mabuk sebelumnya."
"Sehun tidak pernah minum alkohol sebelumnya?" Jongin terkejut, ia pikir Sehun adalah seorang peminum alkohol yang aktif melihat jumlah botol yang ada diatas meja bar yang ditempati Sehun tadi.
"Sehun sering minum alkohol tapi itu dulu sekali, dan dia tidak pernah minum sampai kehilangan kontrol seperi ini. Jadi aku tidak pernah tahu bagaimana tingkahnya saat mabuk. Ternyata dia benar-benar menjijikkan ketika mabuk. Channie? Ih, benar-benar ingin kutendang dia ketika memanggilku seperti itu." Chanyeol menjelaskan sambil mengomel. Jongin tertawa kecil, memang Sehun yang mabuk sangat menggelikan.
"Chanyeol, apa tidak masalah aku menemani Sehun disini?"
"Sebenarnya itu sangat bagus, aku punya beberapa tugas kuliah yang harus aku selesaikan. Dan juga aku tidak yakin Sehun akan membiarkanmu melangkah keluar dari kamar ini." Chanyeol memandang Sehun yang sudah mulai tertidur.
"Ah, baiklah. Kau kerjakan tugasmu saja. Biar aku yang menjaga Sehun. Aku akan menelepon kakakku dulu." Jongin mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Kris.
Setelah lima belas menit berdebat, memohon dan merajuk pada Kris akhirnya Jongin mendapat ijin agar bisa menginap di apartemen Chanyeol. Kris sebenarnya memberi ijin dengan sangat berat hati, mana ada kakak laki-laki yang suka rela mengijinkan adik perempuannya yang masih polos menginap dengan dua laki-laki yang salah satunya baru saja dia hajar?
Jongin terus memandangi wajah Sehun yang sedang tertidur. Diusapnya lembut bibit Sehun yang memar akibat pukulan Kris. Sehun masih terlihat sangat sempurna meskipun ada luka dibibirnya, Jongin merasa beruntung dirinya telah memiliki tempat spesial dihati lelaki ini. Meskipun Jongin tahu jika hubungannya dan Sehun akan memiliki hambatan, namun Jongin merasa jika Sehun adalah seseorang yang pantas untuk diperjuangkan. Jongin yakin jika Sehun memiliki perasaan untuknya yang sama besar dengan perasaannya untuk Sehun.
—
"—menginap semalaman?" Jongin mendengar sayup-sayup suara yang familiar ditelinganya. Suara Sehun. Jongin melihat sekelilingnya, ia berada dikamar Chanyol. Tertidur ditempat Sehun tidur semalam dengan menggunakan selimut. Siapa yang memindahkannya ke atas kasur? Seingatnya semalam ia tertidur di kursi?
"Iya, kau demam semalam."
"Kris Hyung memberinya ijin bahkan setelah aku dihajar olehnya?"
"Hmm."
"Apa aku terlihat bodoh semalam?"
"Sangat."
"Apa menurutmu Jongin masih mau menerimaku?"
"Kau itu bodoh atau idiot? Jika dia tidak mau menerimamu untuk apa dia sampai mau merawatmu semalaman?" Jongin bisa mendengar suara Chanyeol yang meninggi.
"Astaga, apa yang harus aku lakukan?" Suara Sehun terdengar sangat frustasi.
"Sehun, kau harus berani mengambil langkah. Jika dia ingin menghancurkan Jongin itu tidak akan mudah. Aku bisa melihat Jongin adalah gadis yang kuat. Kau harus berani mengambil resiko Hun."
"Baiklah, baiklah." Tenang. Jongin tidak mendengar suara apapun. Jongin tidak kunjung bangun dari kasur karena sejujurnya ia sangat ingin mendengar percakapan Sehun dan Chanyeol. Jongin menekan rasa bersalah karena sudah mencuri dengar sesuatu yang seharusnya belum boleh ia ketahui.
"Halo? Aku tidak akan berbicara panjang lebar…Kau boleh melakukan segala upayamu itu karena aku tidak takut. Aku akan berusaha melindunginya meskipun nyawaku taruhannya. Mulai saat ini kau sudah tidak punya alasan untuk menghubungiku lagi."
Suasana tenang lagi, tapi tidak bagi Jongin. Jantung Jongin berdegup sangat kencang, ia yakin jika ada seseorang yang duduk disebelahnya pasti bisa mendengar suara jantungnya tersebut.
"Terserah kau. Coba saja lakukan, kau tahu kau berhadapan dengan siapa." Jongin mendengar nada yang berbahaya dalam suara Sehun.
"Itu baru laki-laki sejati!" Suara Chanyeol memecahkan keheningan.
"Aku benar-benar berutang penjelasan yang banyak pada Jongin. Oh ya, kemarikan ponselmu."
"Untuk apa? Apa ponselku juga harus kau tenggelamkan seperti itu?" Chanyeol terdengar terkejut.
"Tentu saja. Agar dia semakin sulit melacakku dan kau juga tidak akan terganggu." Sehun berhenti sejenak. "Akan aku belikan ponsel model terbaru Yeol! Jangan memasang wajah seperti itu!"
Jongin tertegun dibawah selimutnya. Ia mulai bisa membaca situasi yang ia hadapi, Sehun tidak kunjung menjadikan dirinya sebagai pacar bukan karena Sehun tidak serius. Sehun sering menghilang bukan karena Sehun tidak peduli. Sehun melakukan itu semua karena Sehun sangat serius dengan Jongin, karena Sehun sangat peduli dengan Jongin. Pagi itu Jongin diterpa gelombang rasa cinta yang besar untuk Sehun, semua rasa curiga dan keraguan yang pernah ia miliki langsung sirna.
"Jongin? Kau sudah bangun?" Jongin tidak sadar jika pintu kamar Chanyeol sudah terbuka lebar dan Sehun berdiri diambang pintu tersebut. Adrenalin yang dulu membuat Jongin menanyakan hal bodoh pada Sehun datang kembali, kini Jongin turun dari kasur dan berlari menuju Sehun. Jongin memeluk leher Sehun, membuat Sehun sedikit terhuyung.
"Kau bodoh sekali Oh Sehun!" Jongin tidak bisa menjaga suaranya untuk tidak bergetar.
"Huh?" Sehun masih belum bisa menguasai diri dari keterkejutannya.
"Kau benar-benar orang paling bodoh didunia!" Jongin mengeratkan pelukannya, sesaat kemudian Jongin bisa merasakan lengan Sehun melingkari tubuhnya.
"Aku mencintaimu Kim Jongin." Bisik Sehun lirih, sepertinya nanti Sehun tidak perlu menjelaskan terlalu panjang karena Jongin sudah mengerti garis besar dari kisahnya.
"Aku juga mencintaimu Oh Sehun bodoh!" Sehun tersenyum mendengar pernyataan cinta yang Jongin katakan. Lengannya memeluk gadis itu lebih erat.
Keduanya tidak peduli dengan Chanyeol yang mengernyit jijik dengan pasangan baru itu, kenapa pagi-pagi dia harus sudah melihat kejadian melankolis seperti ini? Sisi baiknya kini ia tidak harus menjadi baby sitter Sehun karena sepertinya Sehun sudah tidak butuh dirinya untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan si nenek sihir. Kau yakin Yeol? Kau yakin Sehun tidak akan lagi menghubungimu untuk meminta bantuanmu melenyapkan si nenek sihir dari hidupnya?
To Be Continue
Akhirnya jadian juga hmm..
Semoga pada suka sama chapter ini ya hehehe..
Kalian pada suka ngga sama seri ini? Author ngga tahu gimana pendapat kalian jadi author sering bingung mau lanjut engga sama seri ini..
Mohon review, kritik dan sarannya yaa^^
*kisskisskiss*
