Fanfiction

Cast : Jongin!GS, Sehun

Genre : Romance, Drama

Summary : Jongin terlahir dari keluarga kaya raya, namun hal itu yang membuat hidupnya semakin sulit, karena dia tidak seperti anggota keluarganya yang lain. Tidak seperti kedua saudaranya, Jongin bukanlah gadis yang cantik—tidak jelek juga kok, dia tidak memiliki nilai akademik yang patut dipamerkan atau keahlian yang membuat dia pantas diperhitungkan. Jongin benar-benar tidak memiliki sesuatu yang spesial. Hidup Jongin jungkir balik hanya dalam semalam, hidupnya berubah. Pangeran yang selalu dia khayalkan bukanlah sekedar khayalan lagi.

Chapter Nine

Sehun belum pernah setegang ini seumur hidupnya. Lebih tegang dibandingkan ketika ayahnya begitu marah dan ia nyaris diusir dari rumah. Atau ketika Sehun menabrak mobil polisi karena balapan liar. Seseorang didepannya membuat Sehun begitu tegang sampai ia tidak henti-hentinya bergerak dalam duduknya.

"Apa bibirmu sudah lebih baik?" Sepasang mata tajam itu menatap Sehun seolah sedang menilainya. Laki-laki didepannya adalah Kris, kakak kekasihnya yang beberapa hari lalu baru saja menghajarnya.

"B-baik Hyung. Sudah sembuh seutuhnya." Sehun yang selalu tenang kini selalu gugup didepan seluruh anggota keluarga Kim. Padahal sangat jelas jika bibir tipis itu masih memiliki bagian yang membiru.

"Aku tidak akan minta maaf karena sudah memukulmu."

"Uh..ehm..i-iya Hyung. Aku memang bersalah." Sehun menundukkan kepalanya.

"Apa kau memang selalu mabuk-mabukkan dan mencium setiap gadis yang kau temui?" Kris bertanya dingin.

"A-aku tidak..tidak pernah mabuk Hyung. Baru sekali itu saja. A-aku berjanji—"

"Oppa! Sudah aku bilang jangan memarahi Sehun lagi! Apa kemarin tidak cukup?" Jongin turun dari tangga dengan wajah galak. Matanya memandang penuh ketidak setujuan dengan Kris yang mengintrogasi kekasihnya.

"Aku tidak memarahinya. Aku cuma mengobrol!" Kris membela diri.

"Memangnya aku tidak dengan Oppa berkata apa pada Sehun?!" Jongin berdiri sambil berkacak pinggang didepan dua lelaki itu.

"Sudahlah, masih beruntung Kris Oppa tidak mematahkan lehernya." Suara Luhan terdengar dari arah tangga. Sehun yang mendegar hal itu langsung mengelus lehernya, membayangkan jika Kris sungguhan mematahkan lehernya.

"Ayo berangkat! Kita akan bersenang-senang malam ini!" Luhan memekik ceria. Empat pasang muda-mudi—Kyungsoo dan Taemin, Luhan dan Xiumin, Kris dan Tao, Sehun dan Jongin—ini merencanakan untuk menghabiskan malam Natal bersama-sama. Mereka sudah memesan ruangan VVIP di restoran mewah di pusat Kota Seoul.

"Sebentar! Lipstik-ku belum rapi!" Kyungsoo berteriak dari arah dapur, rupanya gadis itu sedang berkaca sekali lagi untuk memastikan penampilannya sudah sempurna.

"Iya! Tunggu sebentar! Alis kanan dan kiriku berbeda." Tao yang berdiri disebelah Kyungsoo juga mulai mengeluarkan tempat make-upnya.

"Ah iya, tunggu sebentar. Tadi sepertinya alisku juga belum begitu rapi." Luhan langsung menyusul kedua gadis-gadis itu bercermin. Kris dan Taemin menghela nafas lelah melihat kelakukan kekasih-kekasih mereka. Jika mereka tidak segera berangkat mereka akan terkena macet yang panjang, tapi gadis-gadis itu tak kunjung usai juga memoles wajah mereka.

"Kau sudah sempurna." Sehun berkata pelan ketika Jongin juga mulai merapikan rambutnya gelisah. Jongin langsung bersemu mendengar pujian Sehun barusan.

"Aku mendengarnya." Kris berkata datar dan dingin. Kesal mendengar adik kecilnya digombali cowok lain selain dirinya.

"Oppa!" Wajah Jongin bertambah memerah karena ternyata kakaknya mendengar ucapan Sehun.

"Ck, kalian sudah sempurna girls, sesempuran Jongin dimata Sehun. Ayo berangkat kalau tidak mau terjebak macet." Kris sudah lelah menunggu, sekaligus mengambil kesempatannya untuk menyindir Sehun.

Bukannya Kris tidak menyukai Sehun, Kris sudah mendengar sekilas tentang Sehun. Hanya saja sebagai seorang kakak, Kris sedikit tidak rela adik manisnya mulai berkencan, hal ini membuat Kris berkali-kali memperingatkan Sehun agar tidak pernah menyakiti Jongin. Luhan pun begitu, kakak perempuan Jongin itu juga berkali-kali menceramahi—bukan ceramah sebenarnya, tapi mengancam—Sehun jika suatu hari nanti Jongin tersakiti hatinya oleh Sehun, Luhan tidak akan segan-segan menjadikan Sehun sebagai umpan memancing Tuan Kim. Sehun yang sudah diceramahi oleh Kris selama berjam-jam hanya mengiyakan setiap perkataan Luhan, lagi pula Sehun tidak pernah memiliki niat sedikit pun untuk menyakiti Jongin.

Jongin dan Sehun satu mobil dengan Kris dan Tao. Kris menawarkan dirinya untuk menyetir, dan Sehun hanya mengiyakan saja. Sehun malah senang bisa berduaan dengan Sehun dikursi belakang. Sehun jadi bisa terus memandangi wajah Jongin yang sangat cantik dimatanya.

Sehun melingkarkan lengannya pada bahu Jongin diam-diam. Perlahan-lahan ia mendekatkan dirinya pada Jongin, membawa Jongin pada pelukannya. Jongin merasa jika kekasihnya itu merangkul dan berusaha duduk lebih dekat dengannya, tapi Jongin hanya diam. Tidak menolak atau ikut menempelkan dirinya pada Sehun, Jongin masih terlalu malu untuk berbuat hal semacam itu.

"Sehun! Lepaskan tanganmu itu!" Kris tiba-tiba bersuara. Sehun langsung menarik lengannya dari bahu Jongin. Wajahnya menoleh kearah luar jendela, ia malu ketahuan oleh kakak Jongin yang super protektif. Tao tertawa kecil melihat kekasihnya yang jadi sangat galak sejak Jongin resmi berpacaran dengan Sehun.

"Sayang, jangan galak-galak dengan Sehun." Tao mengelus lengan Kris pelan.

"Aku hanya belum mempercayainya seratus persen sayang. Tidak setelah ia membuat adikku seperti zombie selama tiga hari." Kris mengingat momen ketika Jongin hanya keluar kamarnya untuk mengambil makanan selama tiga hari berturut-turut.

"Oppa! Sudah jangan bicarakan hal itu!" Jongin langsung mencubit Kris, menyuruhnya diam.

"Zombie?" Sehun tidak paham.

"Kau tidak tahu? Wah..kau tidak tahu betapa Jongin bertingkah seperti orang gila setelah dari Bus—" Jongin mencubit lengan Kris lagi, kali ini cubitannya sangat keras hingga membuat Kris menjerit.

"Oppa! Aku tidak pernah seperti zombie! Aku cuma sedang tidak ada kerjaan saja jadi aku terus-terusan dikamar!" Jongin mengarang alasan. Sehun hanya memandangi wajah memerah Jongin yang rahasianya baru saja terbongkar. Sehun langsung tahu apa maksud Kris barusan, Jongin stress selama ia tidak menghubunginya sepulang dari Busan. Bagi Sehun, tiga hari tersebut juga seperti di neraka.

"Sungguh Hun!" Jongin yang menyadari pandangan Sehun yang terus terpaku padanya berusaha meyakinkan cowok itu dengan alasannya.

"Jika itu benar juga tidak apa-apa. Tiga hari itu juga seperti neraka untukku." Sehun berkata jujur. Kalimat Sehun barusan terdengar seperti rayuan dan lagi-lagi wajah Jongin memerah. Kris hanya mendengus kata-kata Sehun barusan.

Diam-diam Sehun meletakkan tangannya didekat tangan Jongin. Pelan-pelan tangan Sehun menggenggam tangan Jongin, ia tidak mau Kris memergokinya lagi. Jari-jari Sehun masuk diantara jari-jari kurus Jongin. Gadis itu menunduk dan tersenyum, merasakan betapa hangatnya genggaman tangan Sehun. Keduanya diam tanpa suara, membagi kasih sayang melalui jari-jari mereka yang bertautan.

Merasa Jongin membalas genggaman tangannya membuat Sehun merasa bahagia. Rasa bahagia yang sama dengan beberapa hari lalu ketika keduanya pertama kali mengungkapkan perasaan mereka. Pikiran Sehun jadi melayang pada pagi itu..

"Aku juga mencintaimu Oh Sehun bodoh!"

"Kenapa kau memanggil pacarmu bodoh?" Sehun masih memeluk Jongin erat-erat.

"Karena kau sangat bodoh mengira diriku akan dengan mudah melepaskanmu hanya untuk..untuk hal seperti itu." Jongin berbisik pada telinganya. Sehun jadi bertanya-tanya seberapa banyak yang Jongin dengar.

"Kalau begitu jangan pernah lepaskan aku Kim Jongin."

"Tidak akan. Kau sudah terikat denganku selama-lamanya."

"Selama-lamanya? Rasanya masih kurang, aku bahkan akan menghantuimu jika nanti aku mati."

"Aku juga akan mati kalau begitu. Kita akan jadi hantu bersama-sama." Sehun tidak bisa menahan senyumannya mendengar kalimat-kalimat yang mereka ucapkan. Norak memang, apalagi ini masih pagi dan mereka masih bau iler. Tapi Sehun tidak peduli, yang penting kini ia sudah bisa memiliki Jongin seutuhnya. Sehun langsung merasa lebih kuat untuk menhadapi apapun kedepannya nanti.

"Guys, jangan di apartemenku tolong." Suara kesal Chanyeol membuat mereka melepaskan pelukan mereka dengan berat hari.

Sehun masih ingat jelas dengan kejadian pagi itu. Mungkin hal itu akan menjadi hal yang paling diingat Sehun seumur hidupnya. Sehun benar-benar merasa beruntung memilih Jongin sebagai kekasihnya. Jongin bahkan tidak meminta penjelasan seutuhnya dari Sehun. Jongin sudah paham dengan keadaan yang dihadapinya, dan itu sudah cukup.

Bagaimana Sehun tidak terpikat dengan Jongin? Sikapnya yang mandiri dan kuat. Meskipun berasal dari keluarga terpandang, Jongin tidak bertingkah seperti gadis-gadis lain yang menghabiskan waktu dan uangnya untuk bersenang-senang. Jongin juga sangat keibuan, membuat Sehun merasa hangat ketika bersama Jongin.

Ruang yang disewa oleh Kris sungguh luar biasa. Pemandangan malam Kota Seoul, lalu makanan yang disajikan semuanya nikmat dan berkelas, pelayannya memutar lagu-lagu Natal yang keren, dan yang jelas privasi dan pelayanan yang mereka dapatkan sangat memuaskan.

Makan malam berjalan sangat menyenangkan. Kyungsoo menceritakan kejadian-kejadian lucu ketika orang-orang melihat model rambutnya yang sering ajaib, Luhan juga bercerita tentang pekerjaannya yang mulai terasa melelahkan, Tao sedari tadi hanya sesekali mengomentari pembicaraan Luhan dan Kyungsoo karena sibuk menyuapi Kris yang super manja jika sedang bersama kekasihnya. Kris dan Taemin sedari tadi saling melempar pandang kemudian mereka berdua akan memperhatikan Xiumin yang hanya makan dengan wajah seperti ingin ke kamar mandi. Jongin memang tidak mengerti apa yang terjadi, tapi Jongin yakin ketiga lelaki itu menyimpan sesuatu dari pacar-pacarnya.

Sehun? Sehun menyendokkan makanannya sesekali tapi kebanyakan Sehun hanya memperhatikan Jongin. Pipi gadis itu sampai merona terus karena Sehun terus memandanginya. Sudah berkali-kali Jongin menyuruh Sehun agar fokus pada makanan didepannya namun Sehun hanya memasukkan makanan ke dalam mulutnya asal-asalan dan kembali memandangi kekasihnya.

"Sehuuunnn, jangan melihatku teruuuus.." Jongin berkata manja. Hal ini membuat Sehun semakin menatap Jongin lekat-lekat.

"Apa ada yang salah denganku?" Jongin menyentuh pipinya.

"Iya." Jawab Sehun.

"Sungguh? Apa yang salah?" Jongin langsung panik dan segera mengeluarkan ponselnya untuk digunakan sebagai cermin.

"Kau terlalu sempurna." Sehun menjawab sambil tersenyum.

"Uhh..Sehuuunnn.." Jongin langsung menurunkan ponselnya dan memasang wajah kesal yang terlihat luar biasa menggemaskan dimata Sehun.

"Berhenti bersikap menggemaskan seperti itu Jongin. Aku tidak tahan." Kini Sehun sudah mendorong piringnya menjauh. Gadis disampingnya ini jauh lebih menarik dari pada makanan-makanan itu. Sehun memiringkan duduknya agar bisa melihat wajah Jongin lebih leluasa.

"Kau tidak makan?" Jongin bertanya heran.

"Aku sudah kenyang." Sehun menjawab pelan.

"Tapi kau baru makan makanan pembuka tadi." Jongin berkata tidak setuju. Sehun harus makan. Udara belakangan ini sangat dingin dan Jongin khawatir jika tubuh Sehun akan mudah terkena penyakit jika Sehun tidak makan dengan teratur.

"Aku tidak mau makan, aku mau melihatmu saja." Sehun berkata manja. Jongin sungguh terkejut dengan sikap Sehun barusan. Sehun sepertinya tidak habis minum alkohol? Tapi kenapa sikapnya seperti ini? Biasanya kan Sehun yang manja hanya ketika mabuk?

"Jongiiiiinnn..Suapi akuu.." Sehun mulai membuat wajah memelas ala anak anjing yang tersesat. Kini Jongin yang terpana oleh Sehun. Jongin tidak menyangka Sehun yang tampak seperti patung es memiliki sikap manja seperti ini.

"Su-suapi?" Jongin sedikit malu dengan ide untuk menyuapi Sehun didepan banyak orang seperti ini, tapi wajah manja Sehun seperti ini tidak bisa ia tolak.

"Iya. Aaaaa.." Sehun membuka mulutnya.

"Ba-baiklah.." Jongin menyerah. Tingkah imut Sehun sepertinya akan menjadi kelemahannya. Jongin memotong steak dipiringnya kemudian menusuknya dengan garpu sebelum ia suapkan ke dalam mulut Sehun yang terbuka lebar.

Sehun menerima suapan pertamanya dari Jongin dengan wajah secerah matahari, steak itu langsung dikunyahnya penuh semangat. Pandangan mata Sehun sama sekali tidak lepas dari Jongin yang masih malu-malu menyuapi Sehun. Jongin tidak ingin digoda oleh Luhan, apalagi Kyungsoo.

"Jong, kau menyuapi Sehun seperti menyuapi hewan buas saja. Jangan kaku begitu dong. Yang mesra Jong, yang mesra. Seperti ini." Kyungsoo menyuapkan sepotong besar steak pada Taemin, membuat pacarnya nyaris tersedak. Benarkan, Kyungsoo langsung berkomentar begitu melihat gerakan kaku Jongin ketika menyuapi Sehun.

"Uhh. Manisnya sudah suap-suapan." Luhan menatap Jongin dan Sehun gemas. Pasangan baru yang masih malu-malu memang asyik untuk digoda.

"Apanya yang manis. Sehun saja yang manja." Kris langsung menceletuk kesal.

"Kau memangnya dari tidak aku suapi?" Tao berkata tajam.

"Kau ini kekasihku kenapa dari tadi membela Sehun terus sih?" Kris yang biasanya selalu tampil keren dan penuh kharisma ternyata juga bersikap seperti anak anjing yang menggemaskan didepan Tao.

"Aku hanya kasihan pada Sehun." Tao menyuapkan sepotong besar daging ke dalam mulut Kris agar Kris tidak mendebatnya. Hal ini mengundang tawa seluruh orang yang berada dimeja karena wajah Kris terlihat kesal dengan adanya Tao dipihak Sehun.

Sehun sudah tidak peduli dengan tatapan kesal Kris padanya, toh Kris sudah dijinakkan oleh Tao. Sehun hanya ingin bermesraan dengan Jongin saat ini, ia tidak peduli dengan tatapan iri Kyungsoo dan Luhan. Juga tatapan Taemin dan Xiumin yang bertukar pandang heran, tentu saja mereka heran. Selama beberapa hari mereka mengenal Sehun, mereka jarang melihat Sehun berbicara atau tersenyum. Begitu ada Jongin baru Sehun tingkahnya berubah seratus delapan puluh derajat. Seperti sekarang ini.

"Kalian makan di balkon saja sana. Sehun akan tersedak jika makan Kris terus memandanginya seperti akan membunuh." Tao melambai ke arah pelayan yang stand by dipojok ruangan. Tao memberi perintah pada mereka untuk membawakan makanan Sehun dan Jongin menuju meja di balkon luas yang menampilkan pemandangan Kota Seoul.

Sehun nyaris berlari dan memeluk Tao ketika gadis panda itu mengusulkan hal hebat itu. Makan berdua dengan Jongin sambil menikmati kelap-kelip lampu kota dan yang paling penting jauh dari tatapan membunuh Kris.

Meja mereka siap kurang dari lima menit, kerja pelayan profesional memang luar biasa. Jongin dan Sehun kini sudah duduk bersebelahan, bukan hanya bersebelahan sebenarnya. Sehun akhirnya bisa merangkul Jongin sekaligus menghangatkan tubuh Jongin dari udara dingin Bulan Desember. Meskipun balkon itu memiliki perapian yang dinyalakan tapi Seoul di Bulan Desember sangat dingin.

"Apa kau ingat malam pertama kita bertemu?" Sehun bertanya sambil mengunyah dan matanya memandang pemandangan kota.

"Huh? Tentu saja. Kita berdiri memandangi…Seoul.." Jongin tersenyum mengingat malam itu. Malam ini mereka kembali berada di rooftop gedung pencakar langit dan memperhatikan keindahan malam Kota Seoul. Hanya saja kini diantara mereka tidak lagi ada jarak dan Jongin tidak perlu mencuri-curi pandang seperti dulu.

"Sepertinya nanti jika kita menikah aku akan membeli apartemen dilantai yang paling tinggi agar bisa melihat pemandangan seperti ini setiap malam denganmu." Sehun langsung merasa tubuhnya hangat hanya dengan khayalan ia menghabiskan setiap malam dengan Jongin memandangi pemandangan malam bersama.

"Me-menikah?" Jongin kaget. Baru beberapa hari mereka resmi berpacaran, Sehun sudah membicarakan pernikahan?

"Kau tidak mau menikah denganku?" Sehun berpura-pura kaget dan sakit hati.

"Bu-bukan begitu. Ha-hanya saja kita baru saja memulai—" Jongin langsung panik melihat wajah Sehun yang bersedih. Tentu saja Jongin mau menikah dengan Sehun.

"Jadi kau mau menikah denganku?" Senyum jahil Sehun muncul.

"Ahhh..Sehuuunnn. Kau menggodaku lagi!" Jongin menutup wajahnya malu karena ia lagi-lagi dikerjai oleh Sehun.

"My baby is so cute!" Sehun mencubit pipi Jongin yang memerah.

"My baby? Panggilan macam apa itu.."

"Ah benar itu kurang bagus. Bagaimana dengan Mrs. Oh?"

"Sehuuunnnn.." Belum sepenuhnya hilang warna merah muda diwajah Jongin, Sehun sudah membuatnya malu lagi.

"Baiklah, baiklah. Ayo suapi aku lagi. Aku masih lapar.." Sehun mengeratkan rangkulannya pada Jongin dan memasang wajah manja lagi, "Tapi aku serius akan menjadikanmu Mrs. Oh suatu hari nanti." Sehun menambahkan dengan wajah serius.

"Baiklah aku tunggu kau berlutut membawa cincin untukku." Jongin tidak memungkiri menjadi Mrs. Oh Jongin sepertinya akan membuat hidupnya semakin bahagia.

"Berlutut? Akan aku ingat-ingat hal itu." Sehun membuka mulutnya lebar-lebar ketika Jongin mendekatkan garpu pada bibirnya.

"Jong, meskipun kau tidak bertanya. Aku ingin kau tahu beberapa hal tentang diriku. Hal-hal yang tidak aku banggakan dari diriku." Sehun berkata santai, namun Jongin bisa merasa jika Sehun sedang serius. Jongin memasang telinganya tajam-tajam.

"Aku sudah banyak tahu tentang dirimu. Sedangkan yang kau tahu tentang diriku hanya…hal-hal seperti itu saja. Dulu, sebelum aku bertemu dengan mantanku, aku adalah seorang playboy." Sehun menatap lekat-lekat wajah Jongin, menunggu perubahan ekspresi pada raut kekasihnya. Sungguh mengejutkan, ekspresi Jongin sama sekali tidak berubah.

"Kau tidak marah?" Sehun bertanya pelan.

"Marah? Kenapa aku harus marah? Itu kan dirimu yang dulu." Jongin tersenyum sebelum kembali memotong steak untuk Sehun. "Lalu?" Jongin bertanya.

"A-aku berubah banyak setelah berpacaran dengannya. Aku pikir…aku berubah menjadi lelaki baik, tapi tidak dengan orang-orang disekitarku. Mereka berpendapat jika aku hanyalah peliharaan." Sehun melanjutkan ceritanya.

"Peliharaan?" Jongin menyodorkan sepotong daging lagi untuk Sehun.

"Hmm, begitulah. Aku baru menyadarinya beberapa minggu sebelum aku berpisah dengannya. Terlambat sekali ya?" Sehun mendengus dan sedikit terkekeh mengingat betapa bodohnya dia dulu.

"Jadi..dia seperti karma untukmu?"

"Itulah yang Chanyeol katakan padaku." Sehun terus memandangi wajah Jongin yang sama sekali tidak marah atau kesal atau setidaknya cemberut.

"Aku sama sekali tidak akan merubah perasaanku padamu, jika itu arti tatapanmu." Jongin seolah bisa membaca pikiran Sehun. "Seperti yang kau tahu, aku adalah gadis yang pendiam. Aku tidak banyak bicara dan berinteraksi dengan banyak orang. Diamku menjadi kesempatan untuk memperhatikan bagaimana orang-orang disekitarku." Jongin meletakkan garpu dan pisaunya. Mata Jongin menatap mata Sehun dalam-dalam.

"Aku mempelajari bahwa semua orang memiliki cerita yang panjang dan alasan kenapa mereka menjadi seperti diri mereka yang sekarang. Aku juga mempelajari jika tidak adah sesuatu yang terjadi tanpa alasan, bahkan angin yang bertiup pun memiliki peran yang penting untuk dunia ini. Termasuk mengapa hal-hal baik dan buruk terjadi pada diri kita." Sehun terpaku dengan setiap kata-kata yang keluar dari bibir Jongin. Sehun semakin kagum dengan kedewasaan Jongin, juga dengan ketenangan Jongin menghadapi apapun.

"Aku..aku bukan Sehun yang dulu lagi. Aku berubah sepenuhnya ketika aku bertemu denganmu. Belum pernah aku merasa sebahagia ini karena seorang wanita." Jongin tersipu dengan ucapan Sehun. "Aku perlu berpikir berulang kali untuk mendekatimu. Dan ketika aku sadar aku tidak bisa jauh darimu, aku berani mengambil resiko besar."

"Resiko? Apa ini karena…"

"Bukan." Sehun bisa membaca pertanyaan yang ada dikepala Jongin. "Bukan karena mantanku. Tapi karena ayahku."

"Ayahmu?" Jongin tidak tahu jika ayah Sehun akan ada sangkut pautnya dengan hubungan mereka.

"Ayahku tidak pernah peduli aku berkencan dengan siapa saja asalkan bukan anak teman-teman kolega terdekatnya. Dan ayahmu adalah teman terbaik ayahku. Aku sudah berkali-kali bertemu orang tuamu sejak kecil." Jongin tidak tahu tentang hal ini. Jongin terkejut orang tuanya sudah sering bertemu Sehun sejak dulu.

"Sungguh?"

"Iya. Dan ayahku memarahiku habis-habisan ketika kita pergi bersama nonton film horror waktu itu. Ayahku tidak mau membuat persahabatannya buruk karena aku yang suka bergonta-ganti pacar. Ketika aku berkata pada ayahku kalau aku serius denganmu, beliau hanya nyaris menghajarku."

"Menghajarmu?" Jongin langsung merinding.

"Yang perlu aku lakukan sekarang adalah menjagamu dan terus mencintaimu. Ayahku pasti akan langsung percaya padaku jika beliau melihat kita sekarang. Betapa romantisnya kita malam ini." Sehun langsung nyengir lebar sambil melihat sekelilingnya. Hanya dirinya dan Jongin. Tubuh mereka yang berdekatan dan senyum bahagia yang tidak pernah luput dari wajah keduanya.

"Hahaha. Ayahmu baik sekali. Wah, aku tersanjung beliau nyaris menghajarmu demi aku." Jongin kini berkata usil.

"Kau merasa beruntung karena aku hampir dihajar?" Sehun memandang Jongin tidak percaya. Namun setelah melihat senyum jenaka diwajah Jongin, Sehun langsung menghujani Jongin dengan cubitan-cubitan kecil pada pipi kekasihnya.

"Sehun, kalau aku boleh tahu. Kapan kau mulai..ehm..menyukaiku?"

"Kapan ya? Uhm..waktu kau sedang menyetir?"

"Menyetir?" Alis Jongin bertautan.

"Waktu kau menyetir wajah panik dan gugupmu sangat lucu. Aku jatuh cinta padamu saat kau sedang menyetir." Jongin mencoba mendengar nada bercanda pada kalimat Sehun, namun tidak ia temukan. "Bagaimana denganmu? Apa kau jatuh cinta pandangan pertama denganku?"

"Kau terlalu percaya diri Oh Sehun."

"Tidak? Wah, apa aku kurang tampan?"

"Kau laki-laki paling tampan yang pernah aku temui. Dan aku jatuh cinta padamu ketika kita berdiri berdampingan di rooftop melihat Seoul semalaman. Kau..kau tidak seperti orang yang lain yang menganggapku transparan.." Jongin menjawab pelan.

"Kau tidak pernah transparan dimataku Kim Jongin. Kau adalah gadis paling sempurna yang pernah aku temui, dan aku rasa tidak ada gadis lain yang sesempurna dirimu."

"Ugh. Kau benar-benar seorang playboy rupanya. Ahli sekali merayu.." Jongin kembali memerah dengan ucapan Sehun. Jongin mengambil kembali garpu dan pisau yang tadi sempat ia telantarkan.

"Sekarang keahlian merayuku hanya untuk merayumu kok." Jongin tidak tahu harus bagaimana dengan rayuan-rayuan Sehun yang semakin membuatnya berdebar. Jongin menusuk sepotong kentang goreng untuk dirinya untuk menutupi dirinya yang salah tingkah.

"Tentu saja, awas kalau kau sampai menggoda gadis lain. Akan aku adukan pada ayahmu agar kau dihajar." Jongin berkata sebelum memasukkan makanan ke dalam mulutnya.

Cuppp!

Sehun mengambil kentang goreng yang menyembul dari bibir Jongin. Tanpa dosa Sehun langsung berpaling dari wajah terkejut Jongin dan mengunyah potongan kecil kentang yang ia dapatkan.

"Ya! Sehun!" Jongin menyentuh bibirnya yang baru saja dicium oleh Sehun. Wajah gadis itu semerah tomat. Pipinya terasa panas di udara malam yang dingin, ciuman pertamanya baru saja terjadi.

"Hehehe. Maaf, aku..aku.." Sehun menggaruk-garuk tengkuknya salah tingkah.

"Setidaknya bilang dong kalau mau menciumku." Jongin berkata dengan wajah yang masih merah padam.

"Huh?" Alis Sehun terangkat mendengar perkataan Jongin. Jadi…Jongin mengijinkannya untuk mencium bibir itu lagi?

"Akuakanmenciummulagi." Sehun berkata cepat dan mencium lagi bibir Jongin. Ketika bibir mereka bersentuhan kali ini, dunia seolah berhenti. Jongin menutup matanya menikmati hangatnya bibir Sehun dibibirnya, juga hembusan nafas Sehun pada pipinya. Sehun tidak jauh berbeda, matanya terpejam begitu merasakan kenyalnya bibir Jongin. Sehun bisa mencium wangi shampoo milik Jongin.

Bibir mereka mulai bergerak dan melumat satu sama lain. Jantung Jongin berdegup sangat kencang dan tangannya meremas pelan kemeja Sehun. Sehun juga semakin mengeratkan rangkulannya pada Jongin, membawa tubuh itu lebih dekat dengannya. Sehun merasa nafas Jongin mulai sesak dan melepaskan tautan bibir mereka.

"Uhh.." Jongin melepaskan genggamannya pada kemeja Sehun, membuat pakaian mahal itu sedikit berantakan. Jongin langsung menunduk dalam-dalam, malu karena ciumannya kali ini bukan hanya kecupan seperti sebelumnya. Sehun kembali menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil meringis kesenangan.

"Jongin, kau mau menghabiskan malam tahun baru bersamaku di London?" Sehun memecah keheningan.

"London?"

"Iya. Aku ingin menunjukkan banyak hal padamu. Aku ingin kau tahu semua tentang diriku, makanan kesukaanku, kopi kesukaanku, tempat-tempat dimana aku tumbuh.."

"Aku belum ijin—"

"Aku akan bicara pada orang tuamu. Juga Kris Hyung. Bagaimana?"

"Tentu saja aku mau." Jongin tersenyum. Sehun ikut tersenyum. Kepala Sehun sudah dipenuhi dengan bayangan-bayangan kencan romantis yang akan ia lakukan dengan Jongin. Malam ini menjadi malam Natal terindah bagi keduanya. Meskipun udara di balkon sangat dingin dan Sehun masih harus menghadapi Kris lagi setelah ini atau seseorang dari masa lalunya yang ingin merusak hubungannya dengan Jongin. Sehun siap dengan semua kemungkinan yang akan ia hadapi, karena Sehun memiliki Jongin yang membuatnya lebih kuat.

To Be Continue

Kencan romantis dulu ya sebelum badai menerjang hehe.

Gimana pendapat chingudeul tentang chapter ini? Kurang romantis nggak?

Mohon review, kritik dan saran ya^^