Fanfiction

Cast : Jongin!GS, Sehun

Genre : Romance, Drama

Summary : Jongin terlahir dari keluarga kaya raya, namun hal itu yang membuat hidupnya semakin sulit, karena dia tidak seperti anggota keluarganya yang lain. Tidak seperti kedua saudaranya, Jongin bukanlah gadis yang cantik—tidak jelek juga kok, dia tidak memiliki nilai akademik yang patut dipamerkan atau keahlian yang membuat dia pantas diperhitungkan. Jongin benar-benar tidak memiliki sesuatu yang spesial. Hidup Jongin jungkir balik hanya dalam semalam, hidupnya berubah. Pangeran yang selalu dia khayalkan bukanlah sekedar khayalan lagi.

Chapter Eleven

Jongin memandang kaca besar dikamar mewah yang ia gunakan selama tinggal dikediaman mewah kekasihnya, Oh Sehun. Air matanya masih mengalir. Jongin semakin membenci pantulan yang ia lihat, wajah yang menurutnya tidak seberapa cantik jadi semakin tidak cantik karena bengkak oleh air mata.

Dari luar kamar ia masih bisa mendengar suara Sehun yang memohon agar Jongin membukakan pintu kamarnya. Jongin tahu jika dirinya menangis dan mengurung diri dalam kamar tidak menyelesaikan masalah, malah hanya akan memperunyam masalah antara dirinya dan Sehun. Tapi, hatinya masih teriris mengingat ucapan-ucapan Jessica padanya.

"Jongin, tolong buka pintunya. Jangan membuatku cemas.." Sehun kembali mengetuk pintu kamar Jongin perlahan. Jongin yang masih sesenggukan mencoba menenangkan dirinya, jangan sampai kedua orang tua Sehun tahu mengenai pertengkaran mereka hari ini.

"Jong, aku berkata jujur padamu. Aku tidak pernah menganggapmu hanya sebagai pelarian semata. Aku selalu serius dengan perasaanku padamu.." Jongin masih diam saja mendengar suara Sehun dari balik pintu.

Klek.

"Maaf, aku kekanakan.." Jongin akhirnya membuka pintu kamarnya dan berbicara pada Sehun dengan suara pelan, nyaris berbisik. Sehun langsung memeluk Jongin erat-erat dalam dadanya, lega sekali akhirnya ia bisa melihat wajah Jongin. Lelaki itu sudah berpikir yang tidak-tidak karena Jongin sama sekali tidak meresponnya dari tadi.

"Tidak, tidak, kau sama sekali tidak kekanakan." Sehun menggiring Jongin untuk masuk ke dalam kamar, ia tidak mau drama percintaan mereka dijadikan tontonan oleh pelayan-pelayan rumah besarnya.

"Jong, aku tidak tahu—"

"Kau sama sekali tidak salah Hun, aku hanya…merasa…" Jongin tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya.

"Sudah, jangan dibicarakan lagi. Aku hanya ingin kau tahu jika aku tidak pernah menganggapmu sebagai pelarian, kau selalu menjadi seseorang yang spesial sejak pertama kali kita bertemu." Sehun berkata sambil menatap mata sembab Jongin dalam-dalam.

"Iya.."

"Kau percaya padaku kan?" Sehun masih belum puas mendengar jawaban Jongin.

"Iya.." Jongin kembali menjawab dengan suara lemah.

"Jongin, maafkan aku.."

"Tidak, maafkan aku. Aku terlalu kekanakan—"

"Ssst, sudahlah. Jangan bicarakan masalah ini lagi. Oke?" Sehun tidak ingin mendengar Jongin menyalahkan dirinya lagi. Sudah cukup ia tadi mendengar Jongin yang terus-terusan menyalahkan dirinya sendiri. Ah, Sehun jadi teringat akan memori yang sama sekali tidak menyenangkan beberapa jam yang lalu.

"Apa aku merusak hubungan kalian? Apa benar aku hadir ketika hubungan kalian sedang renggang? Apa aku pada awalnya hanyalah sebuah pelampiasan karena kau sedang kesepian?"

Sehun memandang nanar kekasihnya, sorot mata gadis itu benar-benar terluka. Ingin sekali ia menyentuh wajah manis itu dan menenggelamkannya ke dadanya. Sehun benci sekali melihat sepasang mata yang biasanya selalu ceria menjadi berair seperti itu.

"Semua yang dia katakan tidak ada yang benar Jong. Aku tidak pernah…aku tidak pernah sekalipun menganggap kau sebagai pelarian saja.." Sehun ingin sekali menjelaskan banyak hal, ia ingin menjelaskan betapa manipulatifnya Jessica, betapa sifat gadis itu yang menyerupai nenek sihir, tapi lidahnya kelu. Mata memerah Jongin membuat Sehun kehilangan kata-kata.

"Ta-tapi…dia sampai menangis seperti itu Hun, dia terlihat…benar-benar terluka. Apa aku gadis jahat yang mencuri kekasihnya?" Puding yang tadi masih Jongin pegang jatuh. Dapat dipastikan makanan itu hancur karena berbenturan dengan lantai, krim pemanis puding tersebut pun terlihat mengalir keluar dari bungkusnya.

"Jangan percaya apapun yang ia katakan Jong, dia adalah pendusta terbaik. Air matanya palsu. Aku berkali-kali tertipu oleh air mata palsu itu, tolong…percaya padaku.." Sehun mencoba meyakinkan Jongin sampai nyaris memohon.

"A-aku…" Jongin merasa matanya semakin panas, pipinya mulai basah karena air matanya sendiri. Pikirannya kacau, haruskah ia percaya pada Sehun yang tampak sangat mencintainya? Atau pada gadis yang baru saja menangis histeris didepannya dan menyebutnya perusak hubungan orang?

"Jong.." Sehun berusaha mendekati Jongin yang tubuhnya bergetar karena menahan agar air matanya tidak tumpah semakin banyak.

"Hiks..aku..aku.." Jongin juga tidak tahu apa yang harus ia katakan, hatinya mengatakan jika Sehun berkata jujur tapi…air mata Jessica tampak memilukan tadi..

"Jongin, aku sudah berpisah dengan Jessica jauh sebelum kita bertemu. Dia yang tidak pernah menerima fakta bahwa hubunganku dan dia sudah berakhir. Lalu…lalu…aku bertemu denganmu, dan aku jatuh hati padamu.." Sehun menelan ludahnya kasar dan menarik nafas panjang, ia berharap kata-katanya mampu meredakan kesedihan dan kebingungan diwajah Jongin.

"Apa kau benar-benar jatuh hati padaku? Aku..aku..tidak ca-cantik, tidak seperti di—" Jongin menutupi wajahnya yang memerah dengan kedua telapak tangannya, malu dengan hidung merah dan mata sembabnya.

"Jongin, jangan pernah sekalipun membandingkan dirimu dengan gadis semacam dia." Amarah Sehun nyaris meledak mendengar ucapan Jongin. Entah pada siapa amarah itu ia tujukan, pada Jessica, dirinya atau Jongin. Sehun melangkah mendekati Jongin dan mencengkram lengan gadis itu. "Kau jauh, sangat jauh lebih baik, lebih cantik, lebih segalanya dari dia. Dia adalah gadis sampah dan kau adalah gadis paling sempurna yang pernah aku temui."

"Hiks.." Jongin malah menangis semakin keras.

"Jongin…maafkan aku…" Sehun melepaskan cengkraman pada lengan Jongin saat gadis itu bergerak tidak nyaman didepannya. Sehun tidak sadar ia bisa saja melukai lengan Jongin karena terlalu terbawa emosi.

"Hiks..aku percaya padamu.." Jongin berkata sambil masih menangis dan mengusap kedua lengan yang baru saja dicengkram erat oleh kekasihnya. Biarpun Jongin adalah gadis yang berhati kuat, ia tetaplah seorang gadis, dan jangan lupa statusnya sebagai anak bungsu membuat ia tidak pernah dibentak atau diperlakukan dengan kasar.

"Jongin..maaf..maaf.." Sehun hanya bisa mengulang kata maaf, ia hanya takut Jongin akan meninggalkannya setelah kedatangan mengejutkan Jessica.

"Aku ingin ke kamar." Jongin berlalu meninggalkan Sehun yang tidak tahu harus berbuat apa. Sehun masih belum yakin jika Jongin benar-benar tidak akan meninggalkannya dan ia masih merasa bersalah sudah menyakiti fisik Jongin karena terlalu terbawa emosi.

Setelah hampir satu jam mengetuk pintu kamar Jongin, akhirnya disinilah Sehun. Memeluk kekasihnya dan berusaha meyakinkan gadis itu jika dia adalah satu-satunya gadis yang ia cintai didunia.

"Aku sudah memutuskan satu hal." Sehun melepaskan pelukannya pada Jongin.

"Apa itu?"

"Aku akan berkuliah di Seoul saja agar tidak perlu berjauhan denganmu."

"Apa? Kau akan berkuliah di Seoul?" Jongin membelalakkan matanya terkejut. "Aku melarang, aku melarangnya dengan keras. Kau tahu, orang-orang Korea Selatan berlomba-lomba untuk mendapatkan pendidikan di Eropa dan kau malah mau kuliah disana."

"Kenapa? Di Seoul banyak universitas bagus! Dan aku tidak perlu merasa khawatir kalau terjadi apa-apa denganmu."

"Memangnya akan terjadi apa denganku? Aku akan baik-baik saja Hun, aku bukan bayi." Jongin masih menolak keras ide Sehun yang menurutnya tidak masuk akal. Keduanya saling berpandangan sebelum akhirnya Sehun menghela nafas panjang pertanda ia mengalah dalam perdebatan mereka kali ini.

"Bagaimana jika aku mendaftar ke Seoul National University? Apa aku boleh kuliah disana?" Jongin terdiam mendengar usulan Sehun. SNU adalah universitas paling bergengsi di Korea Selatan dan hanya orang-orang terpandai yang bisa masuk kesana. Meskipun membayangkan Sehun tinggal di Seoul bersamanya akan sangat menyenangkan, Jongin tidak ingin alasan menjadi pembatas dalam hidup Sehun.

"Hun, disini ada Cambridge, universitas terbaik nomor dua di dunia."

"Kau tahu jika aku bukanlah orang yang cukup genius untuk bisa diterima disana." Sehun berkata sangat jujur membuat Jongin tertawa kecil. Kejujuran Sehun akan kekurangannya memang menjadi salah satu kelebihan Sehun yang Jongin sukai.

"Baiklah, SNU. Kalau kau tidak diterima disana jangan harap kau masih bisa jadi pacarku." Jongin memeluk Sehun lagi sebelum mengecup pipi kekasih tampannya itu. Perasaan Jongn memang sudah lebih stabil, namun dalam lubuk hatinya masih ada rasa yang mengganjal. Jongin memiliki firasat jika hubungannya dan Sehun tidak akan setenang dulu.

Mata Jongin terasa berat dan semakin berat tapi ia belum ingin tidur, ia tidak boleh tidur. Dihadapannya ada ponsel miliknya yang sedari tadi ia pegangi, baterai ponsel itu sudah berwarna merah menunjukkan dayanya sudah akan habis.

"Hmm, pantas saja. Ya, ya.." Jongin bergumam pelan. Matanya masih sibuk menelusuri setiap kalimat dan gambar yang ditampilkan ponselnya.

"Astaga.." Jongin bergumam kaget. Matanya yang sempat mengantuk terbuka lebar, dipandanginya gambar gadis cantik yang mengenakan bikini super seksi dan memegang botol bir.

Jongin menghela nafas panjang lagi, ia tahu yang dilakukannya saat ini adalah hal yang salah. Mencari informasi tentang Jessica di internet, benar-benar tidak keren. Seharusnya ia sama sekali tidak membiarkan dirinya meluangkan sedikit pun waktunya untuk segala hal yang bersangkutan dengan gadis itu, tapi sebagai seorang wanita yang merasa hubungan romantisnya terancam, Jongin merasa tidak bergitu bersalah mencari tahu tentang Jessica sedikit. Mengetahui satu dua hal tentang rivalnya mungkin akan sedikit membantunya nanti.

Selama tiga jam berselancar diinternet, Jongin banyak menemukan foto-foto kehidupan mewah Jessica. Jongin bisa melihat semua barang yang melekat ditubuh gadis itu adalah barang-barang mahal, belum lagi tempat-tempat seluruh foto diambil. Sepertinya Jessica mengelilingi dunia dalam kemewahan, pesawat pribadi, hotel-hotel bintang lima hingga restoran-restoran mahal. Jongin heran, jika Jessica begitu kaya, kenapa ia mengencani Sehun hanya karena uang yang Sehun miliki?

PRAANGG!

Jongin terlonjak dari duduknya. Rumah yang sudah sunyi dari tadi tiba-tiba terdengar bunyi memekakkan yang membuat bulu kuduknya merinding. Jongin meletakkan ponselnya dan membuka pintu kamarnya sedikit, ia ingin mengetahui bunyi apa yang baru didengarnya.

"—kau tidak pernah mendengarkan ayah! Jika kau tidak mengencani wanita semacam itu tidak mungkin Jongin sampai menangis seperti itu!" Jongin merasa tubuhnya membeku, ia sangat yakin jika suara teriakan yang ia dengar barusan adalah suara Tuan Oh.

PRANGG!

Suara pecah belah terdengar lagi. Jongin baru akan berlari keluar dari kamar ketika ada dua orang pelayan rumah keluarga Oh muncul dan membungkuk hormat padanya.

"Nona, lebih baik Nona jangan kebawah." Salah seorang pelayan berkata hormat.

"Kenapa? Aku harus melihat keadaan Sehun!"

"Nona, saya diberi pesan oleh Nyonya agar Nona tidak turun kebawah."

"Hah?" Jongin mengernyit heran, kenapa ibu Sehun melarangnya turun? Baru saja Jongin akan bertanya lebih lanjut perihal perintah ibu Sehun yang terdengar aneh ditelinganya, tiba-tiba wanita pemilik rumah muncul dengan wajah tegang dan juga kimono tidur yang berantakan.

"Bibi.."

"Kita bicara dikamar saja sayang.." Nyonya Oh tersenyum lembut pada Jongin, senyuman yang ia harap bisa menenangkan gadis didepannya. "Sehun sedang dimarahi ayahnya." Nyonya Oh berkata pelan.

"Ta-tapi.."

"Paman memang kadang sedikit berlebihan mendidik anaknya, tapi bibi yakin jika beliau tidak mungkin akan menyakiti anaknya sendiri." Nyonya Oh berhenti sebentar, menatap wajah Jongin yang masih dipenuhi pertanyaan-pertanyaan.

"Paman tidak sengaja mengetahui kedatangan Jessica tadi sore kesini. Beliau sangat marah karena Sehun berkata pada kami jika nama Jessica sudah tidak akan pernah disebut lagi dalam pembicaraan dirumah ini. Sehun berkata jika Jessica tidak akan mengganggunya atau mengganggumu."

Jongin tertegun mendegar ucapan Nyonya Oh. Pantas saja Sehun selalu dirundung cemas setelah mereka resmi berkencan, ternyata ia sedikit berbohong pada orang tuanya. Jongin tahu jika Sehun dilarang mendekatinya sebelum masalah dengan Jessica benar-benar tuntas. Jongin pikir 'tuntas' disini berarti keduanya resmi tidak berpacaran lagi, tapi rupanya kata tuntas itu bermakna lebih dalam. Sehun memang bersalah, dia berbohong. Tidak hanya pada orang tuanya tapi juga pada Jongin. Tapi Jongin merasa jika kebohongan yang dilakukan Sehun kali ini bukanlah jenis kebohongan yang patut dipermasalahkan olehnya meskipun jelas sekali ayah Sehun sangat mempermasalahkan hal tersebut.

"Bibi.." Jongin merasa gamang. Sehun memang melakukan kesalahan, tapi kekasihnya itu tidak sepenuhnya bersalah. Jongin ingat betul bagaimana mereka menjadi resmi menjadi sepasang kekasih dan ketika itu semuanya diluar kuasa mereka. Jongin dan Sehun berpacaran tanpa ada pernyataan cinta romantis atau semacamnya, keduanya hanya mengetahui perasaan masing-masing dan tiba-tiba mereka sudah berpacaran.

"Apa Paman se-sering marah pada Sehun?" Jongin bertanya cemas karena baru saja ia mendengar suara pecah belah lagi.

"Ini kedua kalinya paman semarah ini pada Sehun. Bibi tadi sudah berusaha menenangkan paman, tapi sepertinya tidak banyak membantu.." Nyonya Oh terlihat cemas ketika mendengar pecahan kaca lagi.

"Kalau begitu kenapa kita diam disini saja? Kita harus meredakan amarah paman!" Jongin berdiri dengan terburu-buru namun tangannya ditarik lagi oleh Nyonya Oh.

"Sehun meminta bibi agar menahanmu disini. Dia tidak ingin kau melihat dirinya yang sedang lemah." Nyonya Oh berkata pelan.

"Astaga, orang itu. Apa hal itu sekarang penting?" Jongin berdecak kesal. Sehun selalu berusaha bersikap seperti kesatria, selalu membiarkan dirinya terluka hanya untuk Jongin. Padahal Jongin ingin mereka menghadapi segala sesuatu bersama-sama, Jongin tidak ingin hanya berbagi kesenangan dengan Sehun, tapi juga duka mereka adalah milik bersama juga.

"Pahami ego lelaki Jong, mereka tidak pernah mau terlihat lemah dihadapan ratunya." Nyonya Oh berusaha memberikan pengertian pada Jongin. Gadis itu hanya menghela nafas panjang dan duduk dengan cemas disamping Nyonya Oh yang sama cemasnya dengan dia.

Hampir dua puluh menit kedua wanita itu duduk berdampingan tanpa banyak bicara, mereka berharap suara teriakan-teriakan Tuan Oh segera selesai. Setelah suasana rumah kembali tenang, barulah Jongin dan Nyonya Oh keluar dari kamar Jongin dan langsung menuju lantai bawah.

"Sehun!" Jongin langsung menghambur kearah Sehun yang duduk di sofa ruang tengah. Keadaan diruangan itu tidak seburuk yang Jongin bayangkan, hanya sebuah vas bunga dan dua hiasan meja yang pecah berkeping-keping dilantai. Wajah Sehun juga tidak babak belur, hanya sebuah memar diujung bibir.

"Astaga Sehun!" Nyonya Oh histeris sekali melihat luka kecil diujung bibir Sehun. "Dasar orang itu! Dia berjanji tidak akan melayangkan tangannya padamu, dasar!" Nyonya Oh mengelus-elus rambut Sehun dengan wajah prihatin dan juga kesal.

"Kau tidak apa-apa? Mana lagi yang terluka Hun?" Jongin tidak menyangka dia akan setenang ini melihat luka Sehun, mungkin karena Jongin pernah melihat Sehun terluka lebih parah lagi dan ironisnya luka itu dibuat oleh kakak kandungnya sendiri.

"Tidak apa. Aku tidak apa-apa." Sehun berkata tenang pada dua wanita yang sangat mencintainya itu.

"Biar ibu omeli ayahmu itu!" Nyonya Oh meninggalkan ruang keluarga dengan langkah sedikit menghentak-hentak yang membuat Jongin dan Sehun bertukar senyum. Nyonya Oh ternyata masih sedikit kekanakan juga ya.

"Akan ku ambilkan es batu." Jongin berinisiatif untuk meredakan luka Sehun yang pasti nyeri.

"Minta ambilkan pelayan saja. Duduklah disini bersamaku." Sehun menarik tangan Jongin agar gadis itu tidak meninggalkannya.

"Naiklah ke kamarku saja. Tunggu aku disana, aku akan membuatkanmu teh hangat dan es batu. Oke?" Jongin mengecup puncak kepala Sehun dan meninggalkan ruangan sebelum Sehun dapat protes.

Sehun tersenyum dengan sedikit kesakitan akibat luka dibibirnya. Hanya dengan ciuman singkat dari Jongin saja dia sudah mati kutu dan lemah, rasanya luka ringan dibibir tidak ada apa-apanya dengan kebahagian memiliki Jongin sebagai seorang kekasih. Sehun sama sekali tidak menyesal sudah sedikit melanggar peraturan ayahnya, ia mau kok dihajar lagi oleh ayahnya asal dengan begitu ia diijinkan menjadi kekasih Jongin.

Jongin dan Sehun sudah duduk berdua di sofa kamar Jongin. Gadis itu dengan telaten membersihkan luka sobek yang tidak seberapa lebar dan sedikit bengkak itu. Setelah memastikan luka dibibir Sehun bersih, Jongin mengompres bengkaknya dengan lembut.

"Terima kasih." Sehun bergumam pelan karena bibirnya masih nyeri untuk bicara.

"Untuk apa? Sudah semestinya aku merawatmu." Jongin tersenyum manis.

"Bukan hanya untuk hal ini, tapi karena kau tidak marah aku sudah berbohong padamu. Seharusnya aku tidak menyatakan cintaku padamu dulu sebelum semua masalahku selesai."

"Sejujurnya aku merasa tersanjung.." Jongin memandang dalam-dalam mata Sehun sambil tersenyum lebar.

"Tersanjung?"

"Apa kau sangat menyukaiku sampai tidak sabar untuk jadi kekasihku? Bahkan kau rela mengambil resiko besar hanya untuk bisa bersamaku." Jongin berkata dengan mata bersinar jahil.

"Aw! Aw!" Sehun yang ingin tertawa karena ucapan Jongin malah mengaduh, ia lupa jika bibirnya sedang terluka. "Aku memang sangat mencintaimu sampai aku kehilangan akal sehat." Sehun mengelus pipi Jongin mesra.

"Kalau kau mencintaiku, berbagilah suka dan dukamu. Jangan tanggung semuanya sendiri. Kau mau melakukan itu?" Jongin berkata lembut.

"Maaf, aku tidak akan menyembunyikan apapun lagi mulai sekarang." Sehun meminta maaf dengan sorot mata menyesal. Seharusnya ia menceritakan semuanya dari dulu pada Jongin, ia terbiasa menyimpan semuanya sendiri sampai lupa jika kini ada Jongin yang sangat dewasa, berbeda dengan mantan-mantan kekasihnya.

"Aku tidak ingin kau terluka—"

"Kau tahu, itu adalah hal paling tidak masuk akal yang pernah aku dengar darimu." Jongin berhenti mengompres bibir Sehun dan memandang lelaki didepannya dengan tajam. "Aku menjadi kekasihmu bukan ingin diperlakukan sebagai puteri kerajaan, tapi aku ingin jadi partner hidupmu. Aku ingin kita berbagi suka dan duka, aku ingin kita menghadapi segalanya bersama. Tidak akan ada yang terluka disini karena aku akan melindungi dan kau akan melindungiku. Gadis semacam dia bukan lah hal yang berat untuk dihadapi kita berdua, bukan?" Jongin memberikan senyum optimisnya pada Sehun.

"Kenapa sekarang kau jauh lebih romantis dari aku Jong? Kau pintar sekali mengatakan hal-hal manis seperti itu.." Sehun merapikan anak rambut Jongin yang sedikit berantakan.

"Sehuuuun, aku serius!" Jongin kesal karena suasana romantisnya dirusak oleh komentar mengesalkan Sehun.

"Aku juga serius. Kau sekarang sangat romantis Jong." Sehun mengelus wajah Jongin yang cemberut. "Aku berjanji dia tidak akan menyakitimu barang satu helai rambut, pegang janjiku."

"Bagaimana dengan ayahmu?"

"Ayahku tadi hanya marah saja padaku. Tidak mungkin aku disuruh memutuskan anak gadis kesayangannya. Beliau ingin aku besok bertemu dengan Jessica lagi untuk berbicara supaya dia tidak melakukan sesuatu yang buruk pada kita."

"Memangnya dia bisa berbuat apa Hun?"

"Banyak, tapi aku tidak bisa menebak apa."

"Baiklah, paling tidak aku sudah tahu kalau seseorang akan berusaha merebut kekasihku. Aku akan mengikatmu sampai kau tidak akan bisa pergi dariku."

"Hahahahaha, ikatlah aku. Seerat mungkin." Sehun membawa tangan Jongin agar menyentuh pipinya. "Jangan tinggalkan aku apapun yang terjadi. Percaya padaku, cintai aku, manjakan aku, cium aku.." Sehun mendekatkan wajahnya pada wajah Jongin.

"Ya!" Jongin mendorong jauh-jauh wajah tampan Sehun sambil tertawa. "Jangan coba-coba mengambil kesempatan!"

"Hehehe, baiklah. Tidur yang nyenyak Oh Jongin." Sehun berdiri dan mengecup puncak kepala Jongin dengan mesra.

"Kau belum melamarku tahu! Jangan ganti-ganti margaku!" Jongin melempar bantal ke arah Sehun yang berjalan keluar kamarnya.

"Unnie! Oppa!" Jongin setengah berlari menuju kedua kakaknya, Luhan dan Kris yang sudah menunggu kedatangannya dan Sehun.

"Jongin!" Kris melambai dengan senyum kecil. Bukan senyuman yang biasa Kris berikan pada adik kecilnya.

"Kenapa wajah kalian seperti itu sih? Kalian tidak senang aku pulang?" Jongin merengut melihat sambutan kedua kakaknya yang tidak seperti ia harapkan. Luhan yang biasanya selalu cerewet dan riang juga tidak menampilkan senyum lebarnya pada Jongin.

"Tentu saja aku senang. Mana oleh-oleh untukku?" Luhan memeluk erat adik manisnya itu dengan erat. Jongin bisa menangkap jika sesuatu sedang terjadi tapi ia tidak punya bayangan sama sekali. Apakah kedua orang tuanya sedang bertengkar? Atau ada masalah serius dalam perusahaan?

"Ada dikoper, tenang saja! Aku belikan Unnie clutch Hermes yang dulu kita kehabisan itu!" Jongin bercerita penuh semangat.

"Kalau Oppa kau belikan apa?"

"Oppa…aku belikan cokelat." Jongin meringis.

"Cokelat? Hanya cokelat? Kau sayang tidak sih dengan Oppa?"

"Hahahaha, habis aku tidak tahu apa yang harus aku belikan untuk Oppa."

"Ah, baiklah. Asalkan dari adikku, diberi apa saja Oppa terima kok."

Sehun yang berjalan dibelakang Jongin dan mendorong troli berisi koper-koper besar mereka tersenyum melihat interaksi antara kakak beradik itu, ia penasaran bagaimana rasanya memiliki saudara yang selalu bisa diajak bercanda.

"Apa Sehun memperlakukanmu dengan baik?" Kris bertanya tajam begitu Sehun tiba disamping Jongin.

"Oppaaaa, jangan mulai deh. Sehun selalu bersikap baik kok padaku."

"Oppa kan hanya berjaga-jaga.." Kris memandang Sehun sedikit sinis, rupanya Kris masih belum bisa menerima kenyataan jika Jongin bukan lagi gadis manjanya.

"Aku menjaga Jongin dengan baik Hyung." Sehun memberikan senyumnya yang paling ceria pada Kris.

"Ah, tentu saja kau menjaga Jongin dengan baik." Kris berkata dengan nada sinis, dipandangnya Sehun dalam-dalam seolah sedang berusaha membaca isi kepala kekasih adiknya itu.

"Aku akan membelikan roti kesukaan ibu dulu." Kris berkata, roti kesukaan Nyonya Kim memang hanya ada dibandara jadi setiap salah satu anggota keluarga Kim sedang ada dibandara pasti akan membawa pulang roti tersebut. "Ayo temani aku Hun."

Sehun sedikit terkejut dengan ajakan Kris yang tiba-tiba, tidak biasanya kakak kekasihnya ini bersikap begini. Tapi sebagai calon adik ipar yang baik tentu saja Sehun mengikuti langkah Kris menerobos keramaian bandara di awal tahun.

"Kau tahu kan jika aku tidak hanya mengajakmu sekedar membeli roti?"

"Uh, iya.." Sehun menjawab jujur. Memang sangat aneh tiba-tiba Kris mengajaknya untuk menemani membeli roti.

"Aku tidak akan memarahimu lagi, tenang saja." Kris tersenyum pada Sehun untuk pertama kalinya. "Ada yang ingin aku katakan padamu."

"Tentang apa Hyung?" Degup jantung Sehun langsung berpacu, keringat mulai membasahi telapak tangannya.

"Kau dan Jongin muncul diberita." Kris berkata pelan. Jika tadi jantung Sehun berpacu dengan cepat, kini jantungnya serasa berhenti.

"Be-berita?"

"Iya, judulnya 'Pasangan Terbaru dari Oh Corp dan Kim Group, Serasi kah?'. Bagaimana menurutmu judulnya?" Kris bertanya dengan suara tenang, namun siapapun tahu jika suara tenang itu tidak mencerminkan suasana hatinya.

"Aku tahu jika hubungan dari dua anak pewaris dua perusahaan besar tidak mungkin tidak akan menjadi perhatian publik, hanya saja aku kurang menyukai judul beritanya." Kris melanjutkan. "Apakah ini salah satu perbuatan orang yang dulu juga menghalangimu berpacaran dengan adikku?"

"I-itu…aku masih belum yakin Hyung.." Sehun yang sedari diam sebenarnya memikirkan kemungkinan-kemungkinan ada campur tangan Jessica dalam berita yang baru saja ia dengar. Hubungan keduanya baru seumur jagung dan mereka berdua tidak pernah menghadiri acara resmi yang menjadi pusat perhatian wartawan, dari mana media tahu hubungan mereka?

Sehun tidak pernah memiliki rencana untuk menutupi hubungannya dengan Jongin dari siapapun, bahkan ia ingin seluruh dunia tahu jika dirinya adalah milik Jongin seorang. Tapi tidak sekarang, tidak ketika masih ada Jessica yang berusaha menghancurkan hubungan mereka yang masih sangat baru ini.

Sehun juga tidak terkejut jika Kris tahu tentang orang dari masa lalunya yang masih mengganggu hubungannya dengan Jongin. Melihat betapa akrabnya kakak beradik itu, Sehun yakin jika Kris dan Luhan tahu semua tentang seluk beluk kisahnya dengan Jongin. Hal ini membuat Sehun sangat menghormati Kris dan Luhan, mana ada kakak yang merelakan adiknya yang lugu dan naif berpacaran dengan mantan playboy yang dikejar-kejar mantannya yang sedikit psycho.

"Aku tidak ingin Jongin mengetahui tentang berita ini karena dia akan terluka. Komentar-komentar yang ditinggalkan orang-orang dalam forum berita ini sangat menyakitkan. Kau tahu kan bagaimana Jongin sering rendah diri akan penampilannya?"

"Aku tahu Hyung." Sehun tahu benar jika Jongin kurang percaya diri dengan penampilannya. "Tapi…dengan segala tekhnologi yang ada, nyaris mustahil Jongin tidak tahu tentang berita ini." Sehun berkata jujur. "Selain itu aku berjanji pada Jongin agar tidak menutupi apapun."

"Tidak menutupi apapun? Meskipun kau tahu hal itu akan menyakiti dirinya?"

"Aku…"

"Jongin akan benar-benar terluka membaca bagaimana masyarakat berkomentar tentang dirinya, Sehun. Jongin akan depresi berat dan dia akan segera menghadapi ujian akhir." Kris berkata dengan nada putus asa.

"Hyung, aku berjanji akan mencari tahu siapa dibalik pemberitaan ini dan juga apa motivasinya. Aku juga akan berusaha menghapus berita ini dari internet, tapi aku tidak ingin merahasiakan hal ini dari Jongin. Aku sudah berjanji pada Jongin, Hyung." Sehun berkata mantap.

Kris menghela nafas panjang, ditatapnya Sehun dalam-dalam. "Baiklah, terserah kau. Aku hanya tidak ingin Jongin terluka." Kris tersenyum sedih, ia tahu jika idenya agar melindungi Jongin dari membaca berita tidak masuk akal. "Jangan ragu untuk menghubungiku jika kau butuh bantuan." Kris menambahkan.

"Tentu saja Hyung." Sehun tersenyum.

"Maafkan aku Paman." Sehun menunduk malu dihadapan Tuan Kim.

"Apa yang perlu paman maafkan?" Sehun diam saja. "Paman sudah berusaha mencari tahu siapa dibalik pemberitaan ini tapi tidak ada yang mau buka mulut."

"Aku akan segera mencari tahu Paman." Sehun berkata cepat. Saat ini baru kurang dari dua belas jam dari kedatangan Sehun dan Jongin di Korea Selatan dan suasana sudah terasa sangat tegang. Jongin membaca berita tentang hubungannya dengan Sehun secara tenang, tidak ada tangisan atau emosi yang bergejolak. Namun hal ini malah sangat menunjukkan betapa berpengaruhnya berita ini pada jiwa Jongin.

Gadis yang biasanya selalu menghindar dari kerumunan tiba-tiba menjadi pusat perhatian masyarakat Korea Selatan, belum lagi ia bukan disorot karena prestasi atau hal positif lainnya. Melainkan karena orang-orang menganggapnya tidak pantas bersanding dengan pewaris tunggal Oh Corp yang merupakan dambaan banyak gadis.

Hal ini bisa terlihat bagaimana Jongin berusaha menyibukkan dirinya dengan memasak. Sudah tiga jam Jongin berkutat dengan adonan roti didapur rumahnya, sudah dua jenis roti yang matang dan kini roti ketiga sedang diolahnya. Kyungsoo pun ikut hadir dikediaman keluarga Kim untuk menemani Jongin agar tidak kesepian, tapi sepertinya temannya itu butuh waktu untuk dirinya sendiri. Alhasil Kyungsoo malah berkutat didepan komputer dikamar Jongin untuk membalas komentar-komentar kejam yang ditujukan pada sahabatnya itu.

Di ruang tengah, Sehun duduk bersama Tuan Kim yang terlihat sangat gusar. Sebagai salah satu pemilik perusahaan ternama di Asia, Tuan Kim segera menyelidiki pemberitaan tidak menyenangkan yang membawa-bawa nama anaknya. Namun hasilnya nihi, tidak ada satu pun informasi yang ia dapatkan tentang siapa dibalik pemberitaan ini.

Sehun berpikir keras, jika semua ini ada kaitannya dengan Jessica, siapa orang yang cukup kuat yang menjadi pendukung nenek sihir itu? Jessica bukan lah berusaha dari keluarga yang kaya raya, hanya saja gadis itu memiliki sejuta pengikut yang mau melakukan apa saja untuknya.

"Paman, Hyung, aku rasa aku memiliki teman yang bisa membantuku menyelidiki hal ini. Aku akan menemuinya." Sehun teringat seseorang, Park Chanyeol. Pemuda jangkung itu sama seperti Jessica, tidak berasal dari keluarga kaya raya namun memiliki sejuta teman yang setia membantunya. Bukan sekedar pengikut seperti Jessica, itu yang membedakan Chanyeol dengan si nenek sihir.

"Pergilah." Tuan Kim berkata pelan dan Kris mengangguk. Sehun segera beranjang dari duduknya, menuju dapur dimana Jongin menyibukkan diri.

"Jongin?" Sehun memanggil nama Jongin lembut.

"Ya?" Jongin mendongak dari adonan rotinya.

"Aku akan pulang dan mengurus tentang…hal ini." Sehun mengambil tissue dan membersihkan tepung yang mengotori wajah kekasihnya.

"Iya, pulanglah." Jongin tersenyum.

"Jangan memaksa dirimu bekerja terlalu keras, minggu depan kau sudah masuk sekolah." Sehun yang tadi terburu-buru pulang untuk menemui Chanyeol merasa tidak ingin segera meninggalkan kediaman keluarga Kim. Tidak ketika ia bisa melihat dengan jelas sorot mata sedih dimata kekasihnya.

"Aku hanya tidak ingin memikirkan hal itu, aku akan berhenti setelah roti yang satu ini." Jongin masih memasang senyum diwajahmu.

"Baiklah, aku akan bertanya pada Kyungsoo apakah kau benar-benar berhenti setelah roti yang ini." Sehun membelai pipi Jongin lembut. "Kita akan baik-baik saja, kau tahu itu kan?" Sehun membawa kepala Jongin pada dadanya, membenamkan wajah manis itu dalam pelukannya.

"Hmm.." Kepala Jongin mengangguk.

"Kau tahu aku sangat mencintaimu, kan?"

"Hmm.." Jongin mengangguk lagi.

"Baiklah, aku akan pulang." Sehun melepaskan pelukannya namun tangannya masih menangkup wajah Jongin. "Aku mencintaimu."

"Aku juga mencintaimu." Jongin tersenyum.

Malam itu, Jongin tidur dengan Luhan. Badannya sangat lelah setelah penerbangan yang panjang dan sesi membuat roti yang sangat lama. Hanya saja pikirannya tidak bisa berhenti sejenak untuk tidak memikirkan Sehun, hubungan mereka, Jessica dan juga pemberitaan menyakitkan tentang dirinya. Jongin menahan dirinya agar sama sekali tidak membuka berita di internet, ia tidak ingin membaca berita itu lagi. Hal itu akan semakin membuat dirinya terluka dan kehilangan rasa percaya diri.

Begitu Jongin selesai membersihkan diri, gadis itu berusaha untuk langsung tidur. Jongin tidak peduli jika Sehun akan menghubungi dirinyas atau siapapun mencarinya. Hari ini rasanya terlalu melelahkan. Untung saja, tubuhnya bekerja sama dengan baik sehingga dirinya langsung tertidur. Dalam tidurnya, Jongin memimpikan sesuatu yang familiar, seorang yang dulu menjadi penyemangat hidupnya. Setelah berminggu-minggu Jongin tidak bertemu dengan pangeran mimpinya, ia memimpikan lelaki itu lagi.

London, Jongin tahu jika ia sedang berada di London. Jongin tahu jika lelaki yang berjalan dibelakangnya adalah pangeran mimpinya. Hatinya terasa sangat ringan, sangat bahagia, sangat damai. Langkahnya penuh semangat menuju keramaian disalah satu lokasi terpadat di London dan pangerannya dibelakang mengawasinya, menjaganya agar tidak tersesat, tidak diganggu atau ditabrak siapapun.

"Jong, berhati-hatilah. Disini berbeda dengan di Seoul!"

"Iya! Ayo cepat sedikit! Nanti aku akan kehabisan yang rasa cokelat!"

"Tidak akan kehabisan!"

Jongin tidak memperdulikan teriakan pangerannya dan tetap saja berjalan cepat menuju kerumunan orang didepan toko roti besar, ia tidak menyadari ada segerombol atlet sepeda yang melaju cepat kearahnya.

"Jong!" Jongin tidak melihat apa yang terjadi berikutnya karena tiba-tiba tubuhnya ditarik dari belakang. Pinggangnya dipeluk sangat erat oleh lengan kekar yang membuatnya merasa aman. Pelukan familiar yang Jongin tidak ingat dimana dan dari siapa ia mendapatkannya, tapi yang jelas ia menyukai pelukan itu.

Jongin terbangun, tepat ketika ia akan mendongakkan wajahnya untuk melihat bagaimana wajah pangeran mimpinya itu. Sayang sekali, ia sepertinya masih belum diijinkan untuk mengetahui identitas pangeran yang sering mendatangi mimpinya itu.

Luhan yang tidur disampingnya masih tidur lelap. Masih pukul dua dini hari, dan Jongin tidak bisa tertidur lagi. Mimpinya barusan memberikan sensasi familiar yang menyenangkan, sudah lama pangerannya itu tidak datang ke dalam mimpinya. Ada apa dia kembali lagi? Dan pemilihan waktunya sangat tepat, disaat hati Jongin sedang gundah, pangerannya datang kembali seolah menenangkan dirinya.

"Ah, kenapa aku jadi merindukan pelukan Sehun?" Jongin bergumam pelan seraya meraih ponselnya. Ada tiga panggilan tidak terjawab dari Sehun dan dua dari Kyungsoo. Sehun juga meninggalkan dua pesan untuknya.

'Jongin, apakah kau sudah akan istirahat?'

'Sepertinya Putri Tidur-ku sudah terlelap, selamat tidur Oh Jongin. Aku mencintaimu dan jangan memimpikan orang lain selain diriku!'

Jongin tersenyum membaca pesan kedua dari Sehun. Baru saja ia memimpikan orang lain yang sampai sekarang tidak ia ketahui identitasnya, apakah Sehun akan cemburu jika aku menceritakan pangeranku padanya?

Dengan senyum lebar Jongin kembali melanjutkan tidurnya, ia berharap pangeran mimpinya akan kembali hadir dalam tidurnya atau lebih baik lagi, pangeran dalam kehidupan nyatanya, Oh Sehun.

To Be Continue

Akhirnya update juga huehehehehe

Semakin complicated ya ceritanya hehehe, tapi ngga bakalan angst kok. Author ngga tega menyakiti Jongin hahahaha

Mohon review, kritik dan sarannya yaa^^

Gomawo!