Fanfiction

Cast : Jongin!GS, Sehun

Genre : Romance, Drama

Summary : Jongin terlahir dari keluarga kaya raya, namun hal itu yang membuat hidupnya semakin sulit, karena dia tidak seperti anggota keluarganya yang lain. Tidak seperti kedua saudaranya, Jongin bukanlah gadis yang cantik—tidak jelek juga kok, dia tidak memiliki nilai akademik yang patut dipamerkan atau keahlian yang membuat dia pantas diperhitungkan. Jongin benar-benar tidak memiliki sesuatu yang spesial. Hidup Jongin jungkir balik hanya dalam semalam, hidupnya berubah. Pangeran yang selalu dia khayalkan bukanlah sekedar khayalan lagi.

Chapter Twelve

"Ah, maaf! Aku benar-benar tidak melihatmu!"

"Tidak apa-apa, aku memang salah berjalan terlalu cepat dan tidak berhati-hati."

"Tapi bajumu?"

"Tidak apa, aku bisa membersihkannya di toilet."

"Sungguh? Aku bisa membelikan baju baru jika—"

"Tidak. Sungguh, tidak apa-apa."

Pemuda tinggi berparas tampan dan bertelinga peri itu memberikan senyumnya sekali lagi pada gadis yang baru saja menabraknya dan membuat teh panas membasahi bagian depan jaketnya.

"Maafkan aku!" Gadis cantik tadi berteriak sekali lagi padanya meskipun jarak mereka sudah tidak dekat lagi. Pemuda itu tersenyum senang, tidak disangka ia akan ditabrak bidadari ketika sedang menjalankan tugasnya. Chanyeol tidak punya waktu untuk mengurusi kausnya yang kotor, ditariknya zipper jaketnya agar menutupi noda yang baru saja ia dapat.

Park Chanyeol, itu nama pemuda yang sedang menelusuri jalan ramai disekitar gedung stasiun televisi di Korea Selatan. Wajahnya terlihat santai dan rileks seolah sedang menikmati dinginnya salju yang masih turun di awal Januari, padahal hatinya berdegup sangat kencang. Sebentar lagi ia harus menyelediki kasus sahabat baiknya yang terkena pencemaran nama baik.

Menjadi mata-mata sebenarnya sudah hal biasa bagi Chanyeol, ia sering dimintai banyak orang untuk mengawasi pacar, suami atau istri seseorang ketika mereka diduga memiliki kehidupan pribadi yang lain. Dalam kata lain, Chanyeol adalah detektif swasta yang sering disewa untuk mengumpulkan bukti-bukti. Sedangkan kesimpulan ia serahkan pada kliennya. Chanyeol tidak pernah menyimpulkan sebuah masalah, ia hanya mencari bukti dan fakta.

Kebanyakan klien yang sering Chanyeol terima hanyalah klien yang bermasalah dengan pasangannya. Misalkan seorang gadis yang menduga kekasihnya selingkuh, maka Chanyeol adalah orang yang tepat untuk disewa untuk mengawasi dan mengumpulkan bukti perselingkuhan. Kasus yang diterima Chanyeol kini berbeda, ia diminta untuk mencari tahu siapa sumber dari berita kurang menyenangkan yang menerpa sahabatnya. Kasus ini jauh lebih besar dari pada masalah perselingkuhan anak muda, ini menyangkut media yang berkuasa dan bisa menyebarkan berita ke seluruh penjuru Korea Selatan. Wajar bukan kalau Chanyeol gugup? Andaikan Sehun bukan teman baiknya, pasti Chanyeol tidak akan menolongnya.

Bukan seorang Park Chanyeol jika tidak bisa mendapatkan yang ia inginkan. Dalam waktu satu jam, Chanyeol sudah mendapatkan informasi siapa penyebar berita jelek tentang sahabatnya. Berbekal senyum tampannya dan juga rayuan mautnya pada pegawai-pegawai disana, Chanyeol bisa menggunakan komputer bagian penerbitan dan meretas komputer utama yang terletak diruang direktur dengan komputer milik pegawai bagian pelayanan tersebut.

Sayangnya, belum sempat Chanyeol mendapat informasi sepenuhnya si pegawai sudah datang dan mengomeli Chanyeol karena menggunakan komputernya untuk mengunduh video dewasa. Paling tidak Chanyeol tidak ketahuan baru saja meretas komputer atasan pegawai tersebut dan bisa mendapatkan alamat IP yang mengirim email berisi tulisan tentang sahabatnya yang akan diterbitkan. Cukup untuk melacak siapa penulis dari berita tidak benar itu.

"Sehun, sudah dapat."

"Sungguh? Kenapa cepat sekali? Aku pikir butuh berhari-hari."

"Kau lupa kalau aku seorang Park Chanyeol?" Chanyeol terkekeh mendengar ketidak percayaan Sehun padahal sebelum masuk kedalam gedung broadcasting, Chanyeol gugup setengah mati. "Kau dimana?"

"Aku diapartemen, belajar."

"Belajar?!"

"Hm, aku sedang berusaha masuk SNU."

"SNU? Apa kurang kau meneleponku siang dan malam? Sekarang kau mau jadi juniorku?"

"Tidak ada hubungannya denganmu bodoh, ini permintaan Jongin."

"Ah karena Jongin. Baiklah aku akan kesana sekalian mengawasi adik kecilku belajar." Chanyeol menutup panggilannya pada Oh Sehun, sahabat baiknya. Sehun baru-baru ini memang sedang terkena masalah yang cukup rumit, sebuah berita kurang mengenakkan menerpa Sehun dan kekasihnya, Kim Jongin. Kadang Chanyeol bersyukur dia tidak terlahir dalam keluarga terpandang yang selalu disorot masyarakat dan media, namun keluarganya bisa dibilang berkecukupan.

Sehun dua tahun lebih muda darinya tapi pemuda itu tidak pernah memanggilnya hyung, kenapa? Mudah saja, karena orang tua Sehun adalah atasan Chanyeol. Awalnya Sehun tidak tahu kalau Chanyeol lebih tua darinya dan Chanyeol sendiri tidak pernah mengoreksi panggilan Sehun untuknya hingga saat ini.

Satu jam kemudian Chanyeol sudah berada di apartemen mewah milik keluarga Oh yang sering disewa jika keluarga kecil itu berkunjung ke Seoul. Dengan kepindahan Sehun ke kota ini, kemungkinan besar apartemen mewah ini akan dibeli mereka.

"Ini. Maaf, aku hanya bisa mendapatkan segini saja." Chanyeol meletakkan sebuah flashdisk didepan Sehun yang sibuk belajar.

"Tidak apa. Kalau kau bilang cukup, berarti ini cukup." Sehun tersenyum penuh terima kasih pada Chanyeol. Pikiran Sehun sedang sangat tertekan, dan bantuan Chanyeol sangat ia butuhkan. Dengan adanya masalah pemberitaan kejam itu, lalu ujian masuk universitas, belum lagi ketakutannya jika tiba-tiba Jessica muncul di Seoul.

"Aku akan menganalisis data ini sebentar." Chanyeol mengeluarkan notebook mahal dari dalam tasnya. Dinyalakannya benda canggih itu dan suasana diruang belajar itu menjadi tenang lagi.

Tok! Tok!

"Tidak perlu mengetuk pintu Jong, masuk saja." Sehun tidak perlu mengangkat kepalanya dari atas buku untuk mengetahui siapa yang mengetuk pintu.

"Hehe, aku hanya tidak ingin mengganggu kalian." Seorang gadis manis dengan gaun dibawah lutut dan mengenakan apron berwarna merah muda. "Aku buatkan kalian minum dan makanan ringan."

"Terima kasih Jongin." Chanyeol tersenyum pada kekasih sahabatnya yang sudah berbaik hati membuatkannya minuman. Chanyeol suka sekali minuman dan makanan buatan gadis ini, selalu sangat enak.

"Hm, bukan apa-apa. Bagaimana tadi? Apa kau ketahuan?" Jongin bertanya cemas pada Chanyeol.

"Tentu saja tidak." Chanyeol menepuk dadanya dengan bangga.

"Aku tidak begitu menyukai ide kalian ini, sangat berbahaya tahu. Kita tidak tahu seberapa besar kekuatan orang yang menginginkan…artikel itu diterbitkan. Bagaimana jika orang itu memiliki kekuasaan tidak terbatas?" Jongin menggigit bibirnya dengan cemas.

"Jongin, jangan mulai.." Sehun menghela nafasnya. "Aku sudah mendapat persetujuan dari ayahmu dan ayahku untuk mencari siapa yang begitu jahatnya padamu, bagaimanapun caranya. Dan cara ini adalah cara paliiiiiing aman."

"Aman bagaimana?" Jongin mengerutkan dahinya tidak setuju. "Kau menyuruh Chanyeol mencuri data pribadi dari sebuah perusahaan! Apa yang akan tejadi kalau kalian ketahuan? Kalian bisa terjerat kasus hukum!"

"Baby, tenanglah." Sehun meremas tangan Jongin agar gadis itu tenang. "Chanyeol baik-baik saja dan akan baik-baik saja. Kami hanya ingin mengetahui dalang dari pemberitaan itu supaya kita bisa mencegah tindakan selanjutnya yang mungkin akan ia lakukan untuk mengganggumu."

"Ta-tapi.."

"Chanyeol melakukan ini dengan suka rela kok. Dia tidak terima kekasihku dipermalukan seperti ini." Sehun menatap Chanyeol dengan pandangan penuh makna.

"Uh, i-iya. Aku melakukannya dengan suka rela tanpa bayaran kok. Selain itu aku juga sekalian meningkatkan skill detektifku." Chanyeol mendongak dari layar notebooknya dan mendukung Sehun agar Jongin tidak terlalu gusar.

"Aku hanya khawatir kalau mereka malah akan menuduh kalian yang tidak-tidak kalau kalian ketahuan meretas komputer mereka." Jongin meremas tangan Sehun ganti, ia benar-benar cemas jika terjadi sesuatu dengan Sehun dan Chanyeol. Selama hidupnya ia tidak pernah melihat langsung bagaimana kotornya orang-orang besar bermain dalam ranah politik, ekonomi hingga sosial. Dua orang tua mereka memang pengusaha besar dan tentu saja sesekali terlibat permainan kotor dalam dunia bisnis, tapi mereka meminimalisir itu semua agar perusahaan mereka sejauh mungkin bercampur baur dengan perusahaan kotor yang menggunakan cara licik untuk mendapat keuntungan.

"Kami berjanji akan berhati-hati." Chanyeol menambahkan agar Jongin segera menghentikan ocehannya, dimata Chanyeol sekarang Jongin sudah seperti ibu-ibu bahkan lebih cerewet. Harusnya Jongin senang kan mereka membongkar siapa yang berusaha merusak nama baiknya?

Chanyeol tersanjung sebenarnya Jongin mengkhawatirkannya. Chanyeol bukan lah siapa-siapa untuk Jongin, hanya teman kekasihnya tapi Jongin benar-benar khawatir jika sesuatu yang buruk terjadi padanya berbeda dengan dirinya yang bersemangat mendapat tantangan baru.

"Baiklah." Jongin duduk memangku wajahnya diatas tangannya, memperhatikan Chanyeol yang sibuk dengan notebook-nya dan juga Sehun yang sibuk dengan buku pelajarannya.

"Apa yang kau lakukan disini?" Sehun menatap heran Jongin yang masih duduk disebelahnya. Tadi bukannya Jongin bilang dia sedang membuat kue? Masa satu jam saja sudah selesai? Seingat Sehun, ibunya kalau membuat kue bisa sepanjang hari.

"Menemanimu belajar. Tidak boleh ya?" Bibir Jongin mengerucut mendengar pertanyaan Sehun yang ditelinganya terdengar seolah mengusir.

"Bukan tidak boleh." Sehun menyadari Jongin sedikit tersinggung dengan ucapannya barusan. "Kalau kau disini aku tidak akan bisa belajar, inginnya bermanja-manja denganmu." Sehun mencubit hidung mungil Jongin dengan gemas.

"Dasar!" Jongin mengusap hidungnya yang baru saja disentuh Sehun dengan wajah merah padam.

"Tolong hentikan. Aku merinding melihat kalian yang lebih norak dari drama-drama picisan." Chanyeol menatap sebal pasangan didepannya. Kenapa sih dia selalu terjebak diantara mereka? Harus melihat kisah cinta sahabatnya yang menurutnya lebih seru dibanding drama.

"Baiklah, baiklah, aku akan pergi." Jongin tertawa melihat wajah masam Chanyeol.

"Tunggu sebentar." Sehun menarik tangan Jongin agar kembali duduk. "Aku mau pamer padanya dulu." Lengan kekar Sehun tiba-tiba merengkuh Jongin kedalam sebuah pelukan dan tangan satunya mendorong leher Jongin agar menciumnya.

"Y-ya!" Jongin berusaha mendorong Sehun tapi bibir Sehun sudah mengecup bibirnya. Mata Jongin langsung menutup menikmati bibir tipis Sehun melumat lembut bibirnya.

"Dasar tukang pamer!" Chanyeol meraih bantal sofa disampingnya dan memukul kepala Sehun dengan kesal. Tunggu saja pembalasannya, dia akan mencari pacar dan akan mencium pacarnya setiap ada Sehun.

"Kau lagi."

"Hey, kau masih ingat padaku?"

"Tentu saja. Tidak mudah melupakan gadis cantik sepertimu." Chanyeol tersenyum lebar memamerkan gigi sempurnanya. Gadis cantik didepannya adalah gadis yang kemarin siang menabraknya dan mengotori kausnya.

Tidak Chanyeol sangka ia bisa bertemu lagi dengan gadis itu lagi ketika sedang bertugas menyelesaikan misi yang Sehun berikan padanya. Chanyeol sedang berada didaerah rumah-rumah mahal berada. Hasil dari pencarian alamat IP yang kemarin ia retas menunjukkan jika penggunanya berasal dari salah satu rumah mewah yang ada dikawasan ini.

Sehun dan Chanyeol tidak terkejut dengan hasil penemuan itu. Sangat wajar jika orang yang bisa menggerakkan media untuk kepentingan pribadi adalah orang kaya dan berkekuasaan luas. Hanya saja, ada satu hal yang aneh. Rumah yang mereka temukan adalah rumah sepasang suami istri pensiunan pemilik pabrik tembakau. Pasangan ini sangat kaya raya dan sudah berhenti berbisnis bertahun-tahun yang lalu.

Sehun sama sekali tidak menemukan korelasi dari keluarga pemilik pabrik tembakau dengan pemberitaan mengenai dirinya dan Jongin. Baik perusahaan keluarganya dan keluarga Jongin tidak bergerak dalam bidang tersebut, bahkan tidak ada anggota keluarga Oh dan Kim yang merokok. Chanyeol lagi-lagi diminta turun lapangan untuk menyelidiki pemilik rumah mewah itu.

"Kau tinggal didaerah sini?" Chanyeol bertanya santai sambil menyesap kopi instan yang baru saja ia beli di minimarket.

"Begitulah." Gadis cantik itu tersenyum manis dan mengaduk-aduk ramen yang ada didepannya. Kedua pemuda pemudi itu duduk-duduk dikursi yang disediakan pemilik minimarket dimana mereka tidak sengaja bertemu.

"Uh, siapa namamu?"

"Baekhyun. Byun Baekhyun."

"Aku Park Chanyeol." Chanyeol mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan gadis yang sangat menarik dimatanya itu. Dia belum tahu jika gadis ini adalah gadis yang ia cari. Baekhyun adalah dalang dibalik pemberitaan yang sedang ia selidiki.

Dua jam kemudian, Chanyeol sudah kembali lagi ke apartemen Sehun untuk memberikan laporan. Disana ia menemukan Sehun sedang belajar yang dimatanya terasa sangat aneh. Melihat Oh Sehun belajar adalah hal yang lumayan langka. Jongin juga ada disana, membelai-belai kepala Sehun yang berbaring dipaha Jongin dengan buku ditangannya.

"Bagaimana Chanyeol Holmes?" Sehun bangkit dari tidurnya dan menatap Chanyeol tajam meskipun bibirnya tersenyum jahil.

"Benar disana hanyalah suami istri Hwang saja yang tinggal disana, tentu saja dengan beberapa pelayan dan pekerja lainnya. Anak dari salah satu suami istri itu pemilik saham di perusahaan media tapi aku tidak menemukan hubungan apapun dari anak keluarga Hwang dengan kalian." Chanyeol menjelaskan dengan dahi berkerut.

"Hm, siapa nama anaknya?"

"Tiffany."

"Tiffany Hwang?" Dahi Sehun berkerut mendengar nama itu.

"Kenapa? Apa kau kenal?" Jongin bertanya gugup melihat wajah Sehun.

"Tidak, tapi aku rasanya pernah mendengar nama itu." Sehun meremas tangan Jongin, kebiasaan barunya ketika sedang cemas atau sedang berpikir.

"Tentu saja kau mengenalnya, dia sering masuk dalam pemberitaan media. Mantan kekasih selebritinya banyak sekali." Chanyeol menyodorkan tabletnya pada Sehun dan Jongin untuk menunjukkan foto Tiffany Hwang.

"Tapi kenapa aku tidak pernah dengar ya?" Jongin menggaruk hidungnya bingung.

"Karena kau tidak suka bergosip." Sehun menidurkan kepalanya lagi diatas paha Jongin. Wajahnya terlihat sedikit tegang sekarang. "Aku sudah mengecek jika nenek sihir itu masih ada di London, dan teman-temannya yang ada disini sama sekali tidak ada yang memiliki pengaruh dibidang media."

Jongin hanya diam saja mendengarkan pembicaraan Sehun dan Chanyeol. Gadis ini merasa tidak nyaman, dua lelaki yang sedang bersamanya itu berusaha mati-matian mencari orang yang memfitnah dirinya dan Jongin merasa sangat bersalah sudah merepotkan mereka.

Tidak pernah Jongin bayangkan jika hidupnya akan rumit seperti ini. Dulu, ia pikir ia hanya akan hidup seperti itu-itu saja, tapi semua berubah saat Sehun hadir dalam hidupnya. Jongin tahu konsekuensi dari menjadi kekasih Sehun, ia akan dituntut menjadi wanita sempurna dan akan banyak pihak yang berusaha menjatuhkannya. Dan orang pertama yang berusaha menjatuhkannya adalah mantan kekasih Sehun.

Jongin sudah tidak lagi berkecil hati setiap melihat pantulannya di cermin. Jongin lebih percaya diri karena Sehun, untuk Sehun. Jongin harus kuat demi hubungannya dengan Sehun. Keluarga dan teman-temannya senang sekali dengan perubahan Jongin yang semakin percaya diri dan kuat. Kris bahkan sampai mengirimi Sehun pizza selama tiga hari berurut-turut, hatinya sudah luluh dan menerima dengan lapang dada jika Sehun adalah lelaki terbaik untuk Jongin.

Berbanding terbalik dengan keluarga Jongin yang bersuka cita dengan perubahan anak bungsu keluarga Kim, keluarga Sehun—terutama Tuan Oh—sedikit tidak menyukai bagaimana pemberitaan mengenai calon menantunya tersebar. Memang keluarga Kim sama marahnya dengan pemberitaan itu, tapi mereka juga bersyukur karena dengan begini, Jongin bukan lagi gadis pendiam yang menerima segala perlakuan orang terhadapnya.

Jongin sudah berkali-kali mendengar Sehun dimarahi habis-habisan oleh Tuan Oh via telepon. Jongin hanya bisa memeluk Sehun dan menyemangati kekasihnya itu, bisa ia bayangkan betapa tertekannya Sehun sekarang. Sebentar lagi menghadapi ujian masuk universitas, menyelidiki kasusnya dan juga ditekan oleh ayahnya. Mumpung Jongin belum masuk sekolah, Jongin selalu menghabiskan waktunya di apartemen Sehun. Pagi-pagi sudah datang sebelum Sehun bangun dan akan pulang malam nanti.

"By the way, kenapa wajahmu senang sekali tadi?" Sehun mengalihkan pembicaraan mereka dari Tiffany Hwang, ia bisa melihat raut wajah Jongin yang sedikit tidak nyaman.

"Hah? Dari mananya? Jelas-jelas aku sedang berpikir serius seperti ini." Chanyeol mengernyit bingung, pasalnya dari tadi ia memang berpikir keras. Tiba-tiba Sehun mengomentari seperti itu tentu saja ia bingung.

"Waktu kau datang tadi, memangnya aku tidak lihat kau senyum-senyum?"

"Ah itu, aku baru saja berkenalan dengan gadis cantik." Chanyeol teringat jika sebelum ia membeberkan hasil pengamatannya hari ini pada Sehun, ia sempat mengirim pesan pada Baekhyun terlebih dahulu. Membuat janji untuk bertemu nanti malam.

"Oh, benarkah?" Jongin langsung terlihat bersemangat mendengar cerita Chanyeol.

"Hehe, rencananya aku akan bertemu lagi dengannya nanti malam." Chanyeol menggaruk-garuk lehernya. Membayangkan berkencan dengan Baekhyun saja sudah membuatnya merasa gugup.

"Akhirnya kau berkencan juga. Ku pikir kau gay." Sehun berkata dengan nada usil. "Aku kadang-kadang takut berteman denganmu karena ku pikir kau naksir denganku."

"What the hell, kalaupun aku gay kau adalah lelaki terakhir yang ingin ku kencani." Chanyeol ingin muntah mendengar ucapan Sehun yang sangat menjijikkan ditelinganya. Jongin hanya tertawa mendengar candaan mereka, kecemasan dihatinya sedikit surut melihat kekasihnya masih bisa bergurau meskipun keadaan seperti ini.

"Ah iya, aku sedang mencurigai seseorang meskipun kecurigaanku tidak berdasar." Sehun tiba-tiba duduk lagi dan memasang wajah serius.

"Hm? Siapa?" Chanyeol bertanya penasaran.

"Baby, kau ingat gadis yang kita temui di airport?" Sehun bertanya pada Jongin.

"Uhm iya. Jangan bilang kau curiga padanya?"

"Sedikit.." Sehun menimang-nimang kemungkinan-kemungkinan yang ada dalam benarknya.

"Sehun, aku rasa bukan dia. Orang yang memiliki pengaruh besar pada media pasti adalah orang yang, uhm, mampu. Bajunya saja waktu itu, ehm.." Jongin tidak menyelesaikan kalimatnya karena ia tidak menemukan kata yang cukup sopan untuk mengungkapkannya.

"Memang itu yang membuatku ragu, tapi tidak ada salahnya kan mencoba mengecek? Hanya sekedar untuk memastikan.."

"Oke, siapa yang kalian bicarakan saat ini?" Chanyeol akhirnya membuka suara karena terlalu penasaran.

"Byun Baekhyun." Sehun menyebutkan sebuah nama yang membuat Chanyeol merasa disambar petir. Byun Baekhyun? Di Korea Selatan nama Byun Baekhyun bukanlah nama yang cukup umum, tapi…gadis yang dibicarakan Sehun dan Jongin apakah Byun Baekhyun, kecannya nanti malam?

"Kau pernah mendengar namanya?" Sehun bertanya karena melihat wajah Chanyeol yang berubah.

"Eh, ti-tidak." Chanyeol kembali menguasai ekspresi wajahnya. "Aku hanya terkejut kau punya nama yang untuk ku periksa, ku pikir kau sama sekali tidak punya petunjuk."

"Well, kemungkinan gadis ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan kejadian ini tapi aku hanya ingin memastikan saja. Just in case.."

"Ah begitu, baiklah. Akan ku selidiki segera."

"Honey.."

"Ih, kau benar-benar norak. Berhenti memanggilku seperti itu."

"Kenapa? Kau kan pacarkuuuuu…"

"Tapi sangat menggelikan panggilanmu itu, lihat ini tubuhku sampai merinding."

"Kalau Nyonya Oh bagaimana? Sepertinya kau lebih menyukai panggilan itu."

"Ya!" Gadis manis yang sedang membaca buku itu mendorong kepala kekasihnya yang menempel pada lengannya dan sudah hampir satu jam mengganggunya terus menerus. "Oke, baiklah. Apa yang kau mau Oh Sehun?"

"Hehehe, pacarku memang peka!" Sehun menegakkan duduknya dan tersenyum lebar. "Malam ini aku tidak mau belajar lagi. Aku bosaaaan!" Sehun mulai mengeluarkan jurus merengeknya pada kekasihnya, Kim Jongin.

"Hari ini kau nyaris belum belajar…" Jongin menghela nafas panjang.

"Ini kan hari Sabtu, kita berkencan saja bagaimana?" Sehun kembali bergelayut manja pada lengan gadisnya. Berkencan dengan Jongin membuat Sehun menjadi ekstra manja, meskipun Sehun beberapa tahun lebih tua dari Jongin, sifat kekanakan Sehun jauh lebih sering muncul.

"Uhm, berkencan? Bukankah setiap hari aku kesini? Apa itu tidak terhitung sebagai kencan?" Jongin meraih kepala Sehun dan menyenderkannya diatas dadanya, hal ini membuat Sehun menyeringai lebar karena bisa merasakan empuknya dada Jongin.

"Berkencan apanya? Setiap kesini kau langsung menyuruhku belajar dan belajar." Sehun menggunakan suara manjanya agar Jongin luluh.

"Itu kan juga untukmu.." Jongin membelai rambut Sehun dan tersenyum melihat tingkah kekasihnya yang super kekanakan malam ini.

"Kim Jongiiiiiiin, ayolaaah. Kita sudah lama tidak keluar hanya sekedar untuk minum kopiiiii.." Sehun sengaja menggerakkan kepalanya semakin dalam didada Jongin.

"Oh Sehuuun!" Jongin mendorong kepala Sehun jauh-jauh dari dadanya, ia baru sadar jika sejak tadi Sehun menikmati kekenyalan dadanya.

"Apa?" Sehun bertanya dengan wajah datar tanpa dosa.

"Dasar mengesalkan.." Bibir Jongin gantian merajuk manja dengan wajah memerah. Malu rasanya hanya untuk sekedar membahas kepala Sehun didadanya. Mau mengomeli Sehun tapi mengungkit akan hal itu saja Jongin sudah malu duluan.

"Mengesalkan apanya, aku kan cuma mengajakmu minum kopi." Sehun masih berkata tanpa dosa, ia juga tidak mau mengungkit hal itu lagi. Takut kalau Jongin nanti malah mengomelinya karena Jongin yang mengomel lebih seram dari ibunya.

"Oppa.." Leher Sehun meremang setiap kali Jongin memanggilnya oppa dan panggilan itu seolah mantra bagi Sehun, ia akan melakukan segalanya jika Jongin sudah merajuk dan memanggilnya oppa.

"Hm?" Sehun merapikan anak rambut yang tumbuh didaerah dahi Jongin.

"Aku mau pergi tapi tidak mau minum kopi.." Jongin gantian merajuk pada Sehun. "Aku ingin makan kaki ayam."

"Hah? Kaki ayam? Tidak! Tidak!" Sehun langsung menolak usulan Jongin. Sehun tahu betul kemana Jongin akan mengajaknya, sebuah warung tenda kumuh dipinggiran Kota Seoul. Sehun bukan tipe orang yang pemilih soal makanan tapi…warung penjual kaki ayam yang disukai Jongin memang tidak layak.

"Ayolah Oppa. Aku sudah lama tidak makan kaki ayam." Jongin memohon lagi. Jongin ingat betul bagaimana Sehun mengomelinya ketika ia pertama kali mengajak Sehun ke warung kaki ayam favoritnya. Hampir dua jam Sehun mengoceh mengenai kesehatan dan kebersihan, tapi tetap saja kadang Jongin sembunyi-sembunyi makan kaki ayam dari warung itu dengan bantuan Kyungsoo.

"Tidak di warung itu. Cari tempat lain." Sehun menjawab tegas.

"Oppa tidak asik." Jongin merengut kesal. "Sudah sana belajar saja."

"Aduuuh, jangan suruh belajar lagi dong. Baiklah, baiklah kita akan makan kaki ayam kesana. Tapi dibawa pulang saja ya, Oppa tidak tahan baunya." Sehun menyerah. Selalu begitu, Sehun akan menyerah jika Jongin sudah merajuk seperti ini.

"Yeay!" Jongin mengecup pipi Sehun yang menyodorkan bibirnya untuk dicium.

"Kim Jongiiiinnnn…" Sehun menarik Jongin yang sudah akan menjauh dari wajahnya.

"Tidak mau, nanti kau membuat bibirku bengkak lagi. Untung saja Kris Oppa tidak menyadari bentuk bibirku, hanya Luhan Unnie saja.." Jongin menutupi bibirnya dengan telapak tangan. Kepalanya menggeleng-geleng menghindar dari ciuman Sehun.

"Sekali saja. Aku suka rasa lip balm-mu."

"Kalau begitu pakai saja lip balm-ku."

"Uh, susahnya sih mau mencium pacar sendiri." Sehun bersungut-sungut melepaskan kedua tangannya dari pipi Jongin yang masih meronta-ronta. Jongin tertawa senang melihat Sehun yang berhasil ia buat kesal. Bibir Jongin mengecup bibir Sehun sekilas sebelum ia berlari meninggalkan ruang tengah, jika tidak begitu bisa-bisa Sehun akan menciumnya selama berjam-jam seperti kemarin sore. Bibirnya sampai bengkak luar biasa ketika pulang.

Satu jam kemudian Jongin dan Sehun sudah mengantri untuk mendapatkan satu porsi kaki ayam di salah satu dari deretan warung tenda yang kumuh. Jongin berkali-kali mengintip tidak sabar ke arah sebuah baskom besar berisi kaki ayam yang sangat ia idamkan. Ramainya antrian malam itu membuat Jongin sedikit khawatir jika dirinya akan kehabisan. Sehun hanya tersenyum melihat Jongin yang begitu bersemangat karena kaki ayam, berkali-kali Sehun membenahi topi rajut dan syal yang dipakai Jongin agar gadisnya tidak kedinginan oleh hawa menusuk bulan Januari.

"Huuuun, kalau kehabisan bagaimana ini?"

"Hm, kita bisa makan yang lain." Sehun menjawab sambil tersenyum.

"Kau pasti senang kalau aku kehabisan kaki ayam." Jongin merengut melihat senyum Sehun. Kekesalan Jongin membuat Sehun tertawa, padahal tidak ada sedikitpun ia berpikir seperti itu.

"Mana aku tega bersenang-senang diatas penderitaan kekasihku." Sehun mencubit pipi Jongin yang menggembung akibat kesal. "Kalau habis nanti aku akan mengajakmu makan direstoran paling mahal di Seoul."

"Tidak! Kita tidak akan kehabisan!" Jongin menutup telinganya mendengar perkataan Sehun. Lagi-lagi Sehun tertawa melihat Jongin yang begitu terobsesi dengan kaki ayam malam ini. Jongin kembali menatap cemas kaki-kaki ayam berbumbu pedas yang semakin lama terlihat semakin sedikit.

Akhirnya Jongin bisa tersenyum lebar dengan sekantong kaki ayam ditangannya, bahkan ia tidak membiarkan Sehun membawakan makanannya. Takut tiba-tiba Sehun membuangnya saat ia lengah, sungguh menggemaskan Jongin saat ini dimata Sehun. Tingkahnya hampir sama dengan balita yang diberi permen.

"Jong, aku ingin makan ramen seperti waktu itu." Sehun menatap mini market yang mereka lewati menuju tempat parkir. Pikiran Sehun terbang ketika ia dan Jongin sedang dalam masa pendekatan, mereka makan malam romantis dipinggir Sungai Han.

"Wah, ayo! Kaki ayam sangat cocok dimakan dengan ramen!"

"Dasar! Hati-hati nanti kakimu muncul bulu ayamnya!"

"Aku bukan anak TK, Hun." Jongin mencibir Sehun yang menggodanya seolah ia adalah bocah berusia lima tahun.

"Dimataku kau anak TK Jong. Tidak ada orang dewasa yang menangis ketakutan kehabisan kaki ayam." Sehun berlari masuk menuju mini market karena Jongin pasti kesal setengah mati jika dipanggil cengeng. Padahal Jongin benar-benar mudah menangis, membaca komik saja menangis.

"Aku tidak menangis!" Jongin berlari menyusul Sehun yang tertawa-tawa didalam mini market. Langkah Jongin terhenti ketika Sehun tiba-tiba melotot kearahnya, Jongin bisa membaca arti tatapan tajam Sehun itu. Jongin mendatangi Sehun yang terlihat sibuk memilih-milih ramen dirak.

'Kenapa?' Jongin bertanya lewat sorot matanya.

'Nanti saja. Diamlah dulu.'

Jongin diam saja, matanya mencoba mencari-cari sesuatu disekelilingnya yang menjadi penyebab ia harus diam. Sehun segera menarik Jongin agar matanya tertuju pada ramen-ramen didepan mereka. Jongin tidak tahu apa yang terjadi tapi wajah Sehun terlihat sangat tegang dan resah.

Hampir sepuluh menit Sehun dan Jongin memandangi ramen-ramen itu dan selama itu pula perut Jongin melilit karena tidak tahu apa yang sedang terjadi. Apakah tiba-tiba Jessica datang ke Seoul? Tapi, Seoul itu luas, kenapa bisa kebetulan sekali Jessica ada di mini market yang sama dengan mereka?

"Baby.." Sehun akhirnya mengangkat kepalanya dan buka suara.

"Ada apa Hun?" Jongin bertanya dengan suara berbisik, matanya masih tidak berani melihat ke sekelilingnya.

"Uhm, aku…aku…tidak yakin.." Sehun mengedarkan padangannya dan menarik lengan Jongin agar mengikutinya, Jongin hanya memandang Sehun penuh tanya. Sehun terus menarik lengan Jongin hingga sampai didepan seorang gadis yang Jongin kenal, Byun Baekhyun.

"Hai Sehun! Hai Jongin!" Baekhyun terlihat terkejut pertama kali melihat sepasang kekasih didepannya tapi senyum lebar segera menghiasi wajahnya.

"Hai Baek. Sedang apa disini?" Sehun bertanya ramah. Jongin? Gadis ini masih belum bisa menangkap apa yang sedang terjadi.

"Pertanyaan lucu sekali Hun." Baekhyun tertawa renyah. "Tentu saja aku sedang membeli sesuatu. Memangnya sedang apa lagi."

"Apa kau sendirian?" Sehun bertanya lagi.

"Tentu saja tidak. Aku bersama pacarku!" Baekhyun menjawab penuh semangat.

"Pacar?" Sehun membelalakkan matany mendengar kata pacar keluar dari bibir Baekhyun. "Aku tidak tahu kalau kau sudah punya pacar.." Sehun bisa menguasai dirinya kembali dan melanjutkan pembicaraannya dengan Baekhyun.

"Begitukah? Aku memang tidak ingin memamerkan kekasihku tapi dia benar-benar lelaki tampan dan pintar. Dia sangat tinggi dan berwibawa." Baekhyun berkata cerah. Ditelinga Sehun dan Jongin, Baekhyun saat ini jelas-jelas sedang memamerkan lelaki yang ia sebut kekasihnya itu.

"Wah, aku jadi penasaran.." Jongin ikut menimpali perkataan Baekhyun. Jongin menduga jangan-jangan memang benar ada Jessica disini. Baekhyun kan teman Jessica dan tadi Sehun sempat berpura-pura sibuk dengan ramen. Mungkin tadi Sehun bersembunyi dari Jessica dan kini ia ingin mengorek informasi mengenai kedatangan Jessica.

"Akan aku kenalkan pada kalian." Baekhyun semakin bersemangat mendengar ucapan Jongin. Tangan Baekhyun masuk kedalam saku jaketnya dan mengeluarkan ponselnya.

"Eh Baek, aku dan Jongin sedikit terburu-buru." Sehun tiba-tiba menggenggam tangan Jongin lagi. Gadis itu kebingungan lagi, kenapa sih Sehun ini? "Kami ada membeli tiket nonton dan kami akan telat kalau tidak berangkat sekarang."

"Eh, i-iya. Maaf ya, nyaris saja aku lupa akan hal itu.." Jongin membungkukkan badannya sedikit dan berjalan menjauh dari Baekhyun karena tangan Sehun yang menariknya.

"Oke, katakan padaku. Sebegitu takutnya kah kau pada Jessica? Sampai-sampai kau terus-terusan menghindarinya?" Jongin bertanya dengan nada bingung, putus asa, penasaran pada Sehun yang duduk di kursi kemudi disampingnya. Mobil Sehun masih terpakir dengan sempurna dan pemuda itu masih belum menyalakan mesinnya, padangannnya tidak fokus dan terlihat bingung.

"Jong.."

"Dengarkan aku Hun. Aku sudah berkali-kali mengatakan padamu jika aku siap menghadapi apapun denganmu, untuk memperjuangkan hubungan kita. Bertemu dengannya sekali tidak akan membuat kita mati Hun." Jongin menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan kalimatnya. "Memangnya dia akan membunuh kita begitu? Jika dia memang begitu, dia akan dengan segera tertangkap dengan segala kamera pengaman yang ada didalam mini market."

"Jongin.."

"Aku tahu kau takut jika Jessica menyakitiku, tapi jika seperti ini kau yang terlihat takut dengannya. Beranilah Hun, karena aku disini mendukungmu. Kalau kau takut dengannya, aku akan maju dan menjambak rambutnya, mencakar wajahnya—"

"Park Chanyeol." Sehun memotong perkataan Jongin.

"Hah?"

"Park Chanyeol. Baekhyun sedang bersama Chanyeol tadi." Sehun berkata dengan suara lemas dan kebingungan terdengar sarat memenuhi wajahnya. Tangannya memegang setir kemudi dengan tidak semangat, bahunya merosot dan matanya menerawang.

"Apa?" Otak Jongin terlalu terkejut mendengar ucapan Sehun barusan. Park Chanyeol? Teman dekat Sehun? Yang selama ini selalu membantu Sehun? Yang memata-matai perusahaan media untuk Sehun? Sejak kapan Chanyeol berpacaran dengan Baekhyun? Bukan kah tadi siang Chanyeol bilang ia baru saja bertemu dengan gadis cantik?

"By the way baby, terima kasih sudah mau mencakar Jessica untukku tapi tolong jangan lakukan itu. Aku tidak ingin kukumu rusak hanya karena nenek sihir seperti dia." Sehun menoleh kearah Jongin yang masih terkejut dan tersenyum lebar.

"Oh Sehun, ini bukan waktu untuk bercanda!"

To Be Continue

Semakin kompleks nih yaaa

Doanya yang teman-teman buat Jongin dan Sehun wkwk

Semoga suka dengan chapter ini.

Mohon maaf juga kalo banyak kekurangan disana-sini.

Mohon review, kritik dan saran yaaa^^