Fanfiction

Cast : Jongin!GS, Sehun

Genre : Romance, Drama

Summary : Jongin terlahir dari keluarga kaya raya, namun hal itu yang membuat hidupnya semakin sulit, karena dia tidak seperti anggota keluarganya yang lain. Tidak seperti kedua saudaranya, Jongin bukanlah gadis yang cantik—tidak jelek juga kok, dia tidak memiliki nilai akademik yang patut dipamerkan atau keahlian yang membuat dia pantas diperhitungkan. Jongin benar-benar tidak memiliki sesuatu yang spesial. Hidup Jongin jungkir balik hanya dalam semalam, hidupnya berubah. Pangeran yang selalu dia khayalkan bukanlah sekedar khayalan lagi.

Chapter Thirteen

"Kerjakan dengan baik soalnya."

"Iya." Pria tampan dengan rambut berantakan menguap sambil mengiyakan perkataan gadis manis yang duduk berseberangan dengannya.

"Jangan lupa sarapan."

"Iya." Tangannya mengambil gelas susu yang gadis itu siapkan untuknya.

"Jangan gugup."

"Iya."

"Kalau sudah selesai—"

"Iya, iya, aku akan menghubungimu. Jangan khawatir."

"Baiklah, kenapa aku gugup sekali?" Gadis manis yang sudah berpakaian rapi itu meremas tangannya gelisah.

"Percaya padaku, aku pasti akan diterima."

"Jangan terlalu percaya diri."

"Jangan terlambat masuk sekolah."

"Baiklah, aku berangkat." Sang gadis bangkit dari duduknya dan merapikan seragam sekolahnya. "Aku berangkat Oppa." Senyum sang gadis muncul ketika bibirnya menyebutkan kata 'oppa'.

"Geez, dasar! Sudah sana berangkat!" Lelaki berkulit putih bersih itu tersenyum malu-malu dan menggaruk belakang kepalanya dengan gugup.

"Semoga berhasil Sehun Oppa!"

"Iya, iya. Hati-hati dijalan!"

Sehun, pria muda yang sudah dibikin merona dipagi hari oleh kekasihnya yang datang ke apartemennya khusus untuk menyemangatinya sebelum ujian masuk universits. Sehun menghela nafas sambil menutup pintu apartemennya dan melihat punggung kekasihnya berjalan menjauh. Baru saja Sehun berjalan beberapa langkah dari pintu sudah terdengar bunyi seseorang membuka kode pengaman.

"Kau sudah bangun?" Seorang pria jangkung masuk kedalam apartemen Sehun dengan membawa kantung besar yang Sehun sangat yakin berisi makanan.

"Sudah, tadi Jongin membangunkanku sebelum berangkat sekolah."

"Dia tadi kemari?"

"Hm, dia kesini jam lima pagi."

"Astaga." Pria jangkung itu hanya menggumam heran. "Ini aku bawakan sarapan. Kau harus sarapan sebelum berangkat ujian."

"Perhatianmu membuatku merinding, Chan." Sehun menatap teman baiknya itu dengan sedikit merinding karena pria itu begitu perhatian padanya seolah mereka adalah sepasang kekasih.

"Aku hanya memastikan temanku tidak mati kelaparan." Chanyeol meletakkan kantung itu diatas meja makan dan mulai membuka-buka isinya. "Mandilah, aku akan siapkan meja."

"God, kau benar-benar gay!" Sehun berpura-pura ketakutan dan berlari menuju kamarnya sambil tertawa terbahak-bahak. Dalam hati Sehun, ia merasa sebuah ganjalan besar setiap kali melihat sahabatnya itu.

Bagaimana tidak mengganjal? Ia memergoki Chanyeol berkencan dengan gadis yang ia curigai sebagai dalang dari masalahnya dengan Jongin. Meskipun Sehun mengetahui hal itu, ia tidak dengan frontalnya menanyakan hal tersebut karena dalam lubuk hati Sehun ia tahu kalau Chanyeol adalah salah satu dari orang yang paling loyal padanya.

Jongin juga tidak pernah menekannya untuk menginterogasi Chanyeol dan Sehun sungguh berterima kasih akan hal itu, Jongin malah terkesan santai dengan segala masalah yang menyerang hubungan mereka.

Sudah hampir dua minggu sejak Sehun dan Jongin memergoki Chanyeol berkencan dengan Baekhyun, tapi pasangan kekasih itu hanya mengamati Chanyeol saja tanpa melakukan sesuatu. Berdasarkan pengamatan Sehun, teman baiknya itu memang bersikap sedikit aneh.

Chanyeol jadi lebih baik padanya, sering membawakannya makan—padahal Jongin sering ke apartemen Sehun untuk memasak, lalu mengantar jemputnya kesana kemari padahal Sehun sudah membeli mobil sendiri. Sehun pernah sekali bertanya pada Chanyeol tentang perkembangan penyelidikan mereka atas penghinaan nama baik Jongin dan Chanyeol menjawab jika ia belum menemukan apapun.

Sehun bisa melihat dengan jelas ketidaknyamanan Chanyeol ketika ia bertanya tentang hal itu, dan juga kebohongan Chanyeol yang begitu kentara. Sejak saat itu Sehun tidak pernah bertanya-tanya lagi pada Chanyeol dan berkata jika ia akan fokus pada ujiannya dahulu.

Sehun tahu, cepat atau lambat ia harus mencari tahu kebenaran yang disembunyikan Chanyeol karena ia tidak mau kehilangan Jongin, ia tidak mau Jongin tersakiti lagi. Hanya saja ia tidak siap jika ia mendapatkan kenyataan jika Chanyeol mengkhianatinya. Akan sangat menyakitkan jika orang yang kau percaya belasan tahun mengkhianatimu.

"Akhirnya nanti sore kau bisa menjemput Jongin disekolahnya." Chanyeol berkata sambil meletakkan piring berisi makanan dihadapan Sehun.

"Hah, akhirnya aku bisa berhenti mendapat omelan Jongin untuk terus belajar." Sehun mengambil sendok makannya dengan wajah ceria. Jongin sudah masuk sekolah hampir satu minggu dan Jongin tidak pernah mengijinkan Sehun untuk mengantarnya atau menjemputnya disekolah, apalagi kalau bukan karena belajar?

"Aku yakin kau berhasil masuk. Otakmu sebenarnya encer Hun hanya saja kau terlalu banyak bermain selama ini. Banyak temanku yang jauh lebih dungu darimu bisa masuk universitaku."

"Ya! Aku tidak dungu!" Sehun mengangkat sendoknya dengan kesal, dia kan sama sekali tidak dungu, malah sebenarnya dia cerdas hanya saja selama ini ia sibuk bersenang-senang. "Apa kau akan ke kampus hari ini?"

"Uhm, tidak. Aku ada, uhm, janji dengan temanku." Chanyeol menusuk-nusuk makanannya, gerakan yang menurut Sehun menujukkan jika Chanyeol sedang gugup dan menutupi sesuatu.

"Sungguh teman? Bukan teman kencan?" Sehun bertanya dengan nada iseng.

"Bu-bukan. Aku tidak punya teman kencan." Chanyeol menjawab dengan serius padahal sudah jelas Sehun hanya menggodanya tadi.

"Bagaimana dengan teman kencan yang kau ceritakan waktu itu? Kau jadi pergi kencan dengannya?" Sehun tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya lebih jauh.

"Eh, tidak jadi." Chanyeol menjawab singkat dan menyibukkan dirinya dengan sarapan, membuat Sehun tidak bertanya lebih jauh lagi. Keduanya kembali tenang dan makan sarapan dengan lahap. Sehun berusaha tidak memikirkan Chanyeol, Baekhyun, Jessica, Tiffany atau siapapun. Sehun tidak ingin pikirannya terbagi ketika ujian nanti.

Sehun memandangi sekolah Jongin dengan takjub. Sangat berbeda sekolah di Korea Selatan dan sekolahnya di London dulu. Sedikit banyak Sehun rindu dengan kebodohan-kebodohan yang ia lakukan bersama temannya dulu ketika SMU. Sehun berjalan menyusuri koridor sekolah Jongin dengan banyak mata memandang penasaran ke arahnya. Telinga Sehun bisa menangkap bisik-bisik yang mendengungkan namanya dan Jongin.

Ini lah yang Sehun benci dari menjadi anak seorang pengusaha kaya raya, setiap kali ia berkencan dengan siapapun pasti semua mata memandang ke arahnya. Terlebih lagi Jongin juga merupakan anak pengusaha besar seperti dirinya, jadilah hubungan mereka sangat disorot layaknya pasangan selebriti.

"—aslinya lebih tampan—"

"—dis beruntung, padahal dia tidak begitu cantik—"

"—uangnya banyak, tidak bisakah ia operasi plastik?"

Telinga Sehun lama-lama panas mendengar komentar-komentar yang ia dengar. Ingin sekali ia melempar sepatunya pada mereka dan membuka mata mereka lebar-lebar jika Jongin adalah gadis manis dengan hati bak malaikat. Hati Sehun jadi terasa berat memikirkan Jongin, pasti sangat berat melalui hari-hari disekolah dengan bisik-bisik yang selalu mengikuti.

"Taemin? Kau tahu dimana Jongin?" Mata Sehun menangkap sosok anak laki-laki yang baru saja keluar dari kamar mandi pria.

"Kyungsoo sedang mengerjakan PR diperpustakaan, mungkin Jongin juga disana." Taemin menyalami Sehun dan keduanya mulai berjalan berdampingan menuju perpustakaan. Bisik-bisik masih terus mengikuti langkah Sehun, terutama gadis-gadis yang penasaran bagaimana wajah kekasih Jongin.

"Jangan didengarkan Hyung.." Taemin menjadi sedikit tidak nyaman karena ia juga ikut mendengar komentar-komentar kurang mengenakkan yang membawa-bawa nama teman baiknya. "Mereka tidak pernah melakukan sesuatu berbahaya atau—"

"Aku hanya merasa bersalah pada Jongin." Sehun tersenyum pahit dan Taemin tidak bisa berkata apa-apa karena ia tidak menemukan kata-kata yang mampu menghibur Sehun. Sebelum liburan musim dingin Jongin masih gadis pendiam yang tidak menonjol disekolah, dan tiba-tiba dalam beberapa minggu Jongin menjadi bahan pembicaraan seluruh negeri.

Dua laki-laki itu berjalan dalam diam dan tidak lama kemudian Sehun sudah sampai diperpustakaan sekolah Jongin yang luas. Taemin tahu tempat favorit Kyungsoo dan Jongin untuk belajar dan langsung membawa Sehun kesana. Untung saja perpustakaan kebanyakaan diisi dengan anak-anak yang sibuk belajar jadi mereka tidak menghiraukan kedatangan lelaki tampan yang sangat mempesona ini.

"Aku bawakan sandwich." Sehun tersenyum lebar menatap kekasihnya yang sibuk dengan buku-buku pelajaran dan menyodorkan kantong kerton berwarna cokelat. "Untuk Kyungsoo dan Taemin juga."

"Hehe, tahu saja aku bosan dengan makanan kafetaria." Jongin dengan semangat mengambil bungkusan itu sambil memeriksa keadaan sekitar, memastikan tidak ada penjaga perpustakaan yang akan menghajarnya jika ketahuan makan didalam perpustakaan.

"Bagaimana ujianmu tadi? Bisa?" Jongin bertanya sambil mengunyah sandwich didalam mulutnya.

"Kau sudah bertanya tadi via telepon." Sehun mengambil tisu dan mengelap bibir Jongin yang terkena remah roti. Kyungsoo dan Taemin bertukar pandang dan meringis geli, sangat aneh rasanya melihat orang bermesraan didepan mata seperti ini.

"Aku hanya ingin tahu lebih detailnya." Jongin tersipu dengan perlakuan manis Sehun barusan. Kyungsoo semakin geli dengan sikap Jongin yang malu-malu, masih aneh rasanya melihat Jongin memiliki sisi feminin seperti itu. Kyungsoo pun mengambil kantung berisi sandwich dan menarik Taemin untuk menjauh dari pasangan kekasih dimabuk asmara itu.

"Ah, akhirnya mereka mengerti kalau aku ingin berduaan denganmu." Sehun dengan semangat menggeser kursinya mendekat dengan kursi Jongin.

"Ya! Jangan begitu! Nanti orang-orang melihat!" Jongin langsung panik dan melihat sekitarnya, takut jika ia semakin menjadi bahan pembicaraan teman-temannya.

"Sebentar saja, aku lelah setelah mengerjakan soal-soal rumit." Sehun meletakkan kepalanya pada bahu Jongin dengan manja.

"Baiklah sampai sandwich-ku habis." Jongin menghela nafas panjang, membiarkan Sehun bermanja-manja padanya dan untung saja tidak ada murid yang memperhatikan dirinya dan Sehun. Jongin baru akan menggigit lagi sandwich-nya ketika tangan Sehun menyenggol tangannya dan roti isi itu meleset dari bibir Jongin.

"Ya…" Jongin mengernyit melihat kelakuan Sehun dan berusaha memakan sandwich-nya lagi tapi lagi-lagi Sehun mengganggunya.

"Sehuuun…" Jongin memegangi tangan Sehun yang sedari tadi mengganggunya makan, namun tenaga Sehun jelas lebih besar. Jongin masih belum bisa menggigit sandwich-nya lagi.

"Kau kenapa siiih?"

"Aku tidak mau kau selesai makan sandwich supaya aku bisa bersandar terus seperti ini." Sehun berkata sambil memegang erat-erat tangan Jongin agar sandwich sama sekali tidak bisa mendekati bibir Jongin.

"Jangan kekanakan Sehun.." Jongin menahan tawanya mendengar jawaban Sehun, apa setelah ujian otak Sehun jadi agak konslet? "Aku akan pulang dalam dua jam dan kita akan pergi kencan."

"Dua jam itu lamaaaa…"

"Akan lebih lama lagi kalau aku tidak segera menyelesaikan tugas ini, aku bisa sampai sore disekolah." Begitu Jongin berkata begitu Sehun langsung duduk tegak dan menarik sandwich yang tadi ia berikan pada Jongin.

"Sandw—"

"Kerjakan tugasmu Jongin." Sehun langsung menarik buku yang tadi sibuk dihadapi Jongin dan memandang kekasihnya dengan serius.

"Tapi aku lapar.." Jongin memandang kesal ke arah Sehun yang sedari tadi hanya mengganggu hubungannya dengan si sandwich.

"Nanti kau boleh makan sandwich berapapun yang kau mau, sekarang kerjakan dulu tugasmu dan segera kencan!" Sehun berkata penuh keceriaan dan Jongin hanya memandang Sehun dengan tatapan tidak percaya. Seberapa susahnya soal ujian tadi sampai Sehun jadi sedikit tidak waras seperti ini?

Setelah berargumen sebentar, Sehun akhirnya memutuskan akan menyuapi Jongin sementara gadis itu mengerjakan tugas esainya. Jongin berkali-kali memandang kesal ke arah Sehun yang hari ini super pemaksa dan manja. Memangnya enak mengerjakan esai dan seseorang menatapmu begitu lekat sambil menyodorkan sandwich kedalam mulutmu? Tapi mau bagaimana lagi? Andaikan Sehun idot pun, Jongin masih akan mencintainya.

"Jangan pandangi aku terus, ideku langsung menguap tahu." Jongin baru saja akan mengelap bibirnya tapi Sehun lebih sigap. Harusnya Jongin tersipu dengan sikap manis Sehun padanya, tapi kali ini Jongin lebih ingin menjewer telinga kekasihnya yang bersikap berlebihan.

"Kau kenapa galak sekali sih? PMS ya?" Sehun menundukkan kepalanya, sedih dimarahi oleh Jongin.

"Memangnya kau tahu apa itu PMS?" Jongin bertanya judes, habisnya Sehun itu membuatnya tidak konsentrasi sih. Tadinya ia pikir dengan membolehkan Sehun ke sekolahnya, Sehun akan menunggunya dengan tenang sambil membaca buku atau paling tidak tidur. Ternyata Sehun sedang hiper aktif dan tidak bisa membiarkan Jongin tenang barang sebentar.

"Uhm, proses penuaan?" Sehun menjawab tidak yakin dan jawaban itu membuatnya mendapat pukulan didahinya.

"Jadi aku sudah mengalami proses penuaan?" Jongin benar-benar jengkel dan kembali berkutat dengan esainya. Meladeni Sehun yang seperti ini tidak akan ada habisnya.

"Jong…"

"Hm?"

"Kau tahu?"

"Hm?"

"Jangan dingin begitu dong. Seoul sudah cukup dingin, harusnya kau sedikit lebih hangat." Sehun mulai menggombal dengan kata-kata yang noraknya keterlaluan dan Jongin hanya memicingkan matanya mendengar kalimat menggelikan itu.

"Baik, baik. Aku diam." Sehun menarik tubuhnya untuk duduk tegak dan mengeluarkan ponselnya agar tidak lagi mengganggu Jongin.

"Kau boleh bicara Sehun, aku bisa mendengarkan. Asalkan jangan menggangguku." Jongin berkata lembut.

"Uhm, tadi pagi aku menyinggung masalah 'pacar' Chanyeol.."

"Sungguh? Lalu bagaimana hasilnya?"

"Dia…masih tidak mau mengakuinya." Sehun menjawab pelan, nada bicaranya menunjukkan kekhawatiran, kekecewaan, kesedihan.

"Cepat atau lambat, aku yakin Chanyeol Oppa akan mengatakan semuanya."

"Aku tahu itu, aku hanya takut menerima alasannya. Aku takut jika Chanyeol selama ini mengkhianatiku." Sehun bicara pelan. Mereka sudah membicarakan hal ini, berulang kali tapi hasilnya tetap sama. Mereka ingin menunggu Chanyeol mengatakannya sendiri dan selama mereka menunggu mereka tidak mendapat progress sama sekali dalam penyelidikan mereka.

"Pe-permisi.." Seorang murid berseragam yang sama seperti Jongin mendatangi Jongin dan Sehun. Murid ini berpakaian begitu rapi hingga bisa dikatakan culun.

"Ya?" Sehun mengangkat alisnya terkejut dengan kedatangan seseorang.

"Maaf Noona.." Murid pria itu menaruh sebuah kantung cantik berwarna merah muda diatas meja dan langsung meninggalkan Jongin dan Sehun begitu saja dengan cepat tanpa mengatakan suatu apapun lagi. Tangan Jongin menyambar kantung itu diiringi dengan tatapan curiga Sehun.

"Jongin—"

"Jangan Hun."

"Kau punya penggemar rahasia?" Sehun bertanya dengan tenang. "Berikan padaku, aku tidak akan marah padamu hanya karena kau punya penggemar rahasia."

"Bu-bukan begitu—"

"Apa kau selingkuh?"

"Astaga, tentu saja tidak."

"Kalau begitu berikan padaku."

"Sehun, aku—"

"Tidak ada rahasia diantara kita, kau ingat?" Sehun menatap dalam-dalam mata gadisnya.

"Baiklah, tapi janji jangan marah. Oke?" Jongin menarik nafas panjang dan memberikan kantung merah muda yang ia sembunyikan dibalik punggungnya. Sehun dengan cepat membuka kantung itu dan mengeluarkan isinya.

Sebuah surat.

Dan juga cokelat.

Banyak sekali cokelat.

Sehun membuka surat itu dan membaca isinya. Baru dua detik Sehun menatap kertas itu, dahinya sudah berkerut. Begitu selesai Sehun membacanya, mata Sehun mulai memerah. Basah.

"Jo-jongin…"

"Sehun, maafkan aku." Jongin ikut merasakana matanya juga memanas melihat Sehun yang berkaca-kaca seperti itu. "Aku tidak bermaksud menyembunyikannya darimu. Aku hanya ingin ka-kau konsentrasi dengan ujianmu baru aku akan mengatakannya padamu." Jongin berbicara dengan suara tercekat.

"Jongin, maafkan aku.." Sehun bicara dengan suara lirih. Air matanya sudah benar-benar diujung, menunggu jatuh keatas pipi Sehun.

"Tidak, ini bukan salahmu." Jongin menggelengkan kepalanya.

"Sudah berapa lama kau mendapat surat seperti ini?" Sehun berhasil menahan tangisnya dan menguasai dirinya lagi.

"Sejak hari pertama masuk sekolah." Jongin menjawab lirih.

"Apa kau tahu siapa dalang dibalik semua ini?"

"Hanya dugaan…" Jongin masih menjawab dengan suara lirih dan jawaban itu membuat Sehun semakin nyeri dadanya. Sehun merasa dirinya begitu jahat membiarkan Jongin mencari tahu kebenaran sendirian. Sehun merasa begitu marah karena bukan dia yang melindungi Jongin, tapi sebaliknya.

"Kau melakukan penyelidikan dibelakangku?"

"Maaf Hun, aku hanya ingin—"

"Fokus dengan ujian, ya, ya, aku tahu itu."

"Apa kau marah?" Jongin menggigit bibirnya, takut.

"Aku sangat marah Jong. Kau mencari tahu semua ini tanpa aku. Harusnya aku yang melindungimu, jangan sampai kau mengetahui fakta-fakta menyakitkan yang hanya akan membuatmu bersedih! Harusnya aku yang melindungimu Jong!"

Jongin berkaca-kaca.

Sehun menarik nafas panjang, berusaha mengendalikan amarahnya.

"Maaf Hun.." Jongin mulai terisak. Seumur hidupnya, belum pernah ia dibentak oleh siapapun.

"God, Jongin.." Sehun menarik Jongin kedalam lengannya dan memeluknya erat-erat. "Kau sudah cukup terluka Jongin, biar aku melindungimu." Sehun membelai-belai rambut Jongin lembut. Jongin yang berada dalam dekapan Sehun mengangguk-angguk pelan.

Jongin melepaskan pelukan Sehun dan menutupi wajahnya, malu. Pasti wajahnya jelek sekali habis menangis. Sehun berusaha menarik Jongin lagi dalam pelukannya tapi Jongin menolak. Bukan karena tidak mau, tapi beberapa orang memandang kearah mereka dengan dahi berkerut.

"Kau ingin pulang sekarang?" Sehun bertanya lembut, hatinya menyesal sudah membentak Jongin barusan.

"Tugasku—"

"Akan aku minta tolong Kyungsoo untuk mengerjakannya.."

"Tapi—" Belum Jongin sempat menolak, Sehun sudah mengambil buku didepan Jongin dan berjalan menuju meja Kyungsoo dan Taemin yang tidak begitu jauh dari mereka. Sehun yakin jika Kyungsoo melihat semuanya dan Sehun juga yakin jika Kyungsoo akan dengan suka rela mengerjakan tugas Jongin kali ini.

Sungai Han.

Tempat favorit Sehun dan Jongin untuk berjalan-jalan menghilangkan suntuk.

Disinilah mereka, duduk didalam mobil baru Sehun sambil menikmati sandwich yang tadi dibeli Sehun. Keduanya diam, menikmati pemandangan langit yang mendung seperti suasana hati mereka.

Jongin sudah menceritakan semuanya. Bagaimana ia mendapat surat-surat kebencian itu, hadiah-hadiah yang ia dapat hingga penyelidikannya atas sosok dibalik orang yang berusaha melukai hatinya.

Sejak Jongin masuk sekolah, Jongin memang mendapat banyak 'kejutan' disekolahnya. Dia sehari sekali mendapat hadiah dari seseorang dan juga sehelai surat. Hari ini dia mendapatkan cokelat dengan surat berisi hinaan untuk Jongin, satu kalimat yang begitu menusuk hati Jongin adalah 'aku berikan cokelat ini supaya kau semakin sehat dan Sehun akan membuka matanya lebar-lebar bagaimana bentukmu sesungguhnya'. Dan cokelat yang diberikan bukan sembarang cokelat, tapi cokelat Swiss yang harganya mahal dan tidak dijual disembarang toko.

Kemarin Jongin mendapat sebuah dress mahal. Hampir empat juta won. Dress yang sama seperti yang digunakan artis ternama Korea Selatan dalam sebuah acara penghargaan. Si pengirim melecehkan Jongin agar Jongin mematut dirinya dengan dress itu lalu melihat apakah dirinya sudah secantik sang artis ternama dan pantas menjadi kekasih Sehun.

Jongin berusaha menyelidiki hadiah-hadiah yang ia dikirimkan padanya. Bantuan Kyungsoo sungguh sangat membuat penyelidikan lebih cepat berjalan meskipun sampai hari ini Jongin belum tahu pasti siapa pengirimnya. Tapi ia sudah tahu jika orang-orang yang membeli barang-barang mahal itu adalah salah seorang murid disekolahnya, Kim Taehyung.

Kim Taehyung memiliki reputasi yang cukup dikenal, remaja nakal, suka membully, merokok dan membolos. Untungnya, Taehyung diberi otak begitu cerdas. Dengan sikap yang seperti itu, Taehyung selalu menempati posisi sepuluh besar disetiap ujian. Jongin tidak pernah memiliki masalah dengan Taehyung, bahkan saling menyapa saja nyaris tidak pernah. Hanya saja Jongin belum selesai melakukan penelitan dan baru mengetahui sampai sini saja, bahwa Taehyung lah yang menyuruh murid-murid yang ia tindas memberikan paket untuk Jongin.

Tidak sedikit orang-orang yang menyadari bahwa dua remaja ini adalah pasangan fenomenal yang sedang banyak diberitakan oleh media. Banyak sekali berita tentang Sehun dan Jongin, mulai dari yang positif sampai yang menyakitkan. Ada yang bilang jika pernikahan mereka adalah rekayasa, hanya semata untuk menaikkan saham kedua belah pihak. Ada pula yang berkata jika Jongin menggoda Sehun karena uang dan ketampanan.

Sehun mengunyah sandwich-nya dengan tidak semangat. Memang benar keputusan Jongin untuk tidak memberi tahunya tentang masalah ini, andai ia tahu tentang hal ini lebih awal pasti ia akan meledak-ledak dan tidak bisa belajar sama sekali. Dipandanginya Jongin yang makan sandiwch dengan serius disampingnya, hatinya teriris-iris melihat Jongin yang masih bisa tersenyum dengan semua perkataan jahat yang dilayangkan pada gadis itu.

"Jong?"

"Hm?"

"Maafkan aku—"

"Berhenti minta maaf atau ku siram dengan kuah ramen ini." Jongin menatap tajam Sehun yang sedari terus memandangnya seolah Jongin adalah korban bencana alam yang kehilangan seluruh harta dan keluarganya. "Sudah aku katakan berulang kali jika aku disini bukan untuk diperlakukan seperti putri raja, aku adalah partnermu dan aku—"

CUP!

Sehun mencium bibir Jongin lembut.

"Aku tahu." Sehun berkata pelan. "Aku mencintaimu."

Jongin tersenyum mendengar ucapan Sehun.

"Haruskah kita hentikan seluruh penyelidikan melelahkan ini? Biarkan saja mereka mengganggu kita asalkan kita tetap saling mencintai, memiliki.." Jongin berkata sambil mengusap lembut pipi Sehun.

"Bertahanlah sebentar lagi, aku juga lelah tapi kita harus menghentikan ini sebelum semuanya semakin berlarut-larut." Sehun menjawab dengan bijak. Memang ia lelah dengan segala gempuran yang menyerang hubungan mereka tapi bagi Sehun, itu adalah sebuah pertanda jika Tuhan menunjukkan Jongin adalah jodohnya. Karena cinta sejati itu tidak pernah mudah.

"Aku akan mulai bicara dengan Chanyeol, aku yakin dia juga sama tersiksanya memendam rahasia."

"Aku juga akan menyuruh Kyungsoo agar bergerak lebih cepat." Jongin tersenyum pada Sehun yang masih belum melepaskan pandangannya dari Jongin sama sekali.

"Nah, setelah ini mau makan apa lagi?" Sehun membalas senyum Jongin dengan senyum cerah penuh semangat.

"Uhm, es krim!"

"Bisa tidak sih berhenti makan es krim saat cuaca sedang dingin?" Sehun memutar bola matanya, sudah ia duga Jongin pasti ingin makan es krim.

"Tidak bisa!" Jongin tertawa mendengar pertanyaan Sehun.

Sehun pun menyalakan mesinnya dan mengarahkan mobilnya keluar dari area Sungai Han. Suasana muram yang tadi sempat mewarnai hati keduanya sudah hilang. Selalu seperti itu, keduanya selalu menjadi lebih positif, lebih kuat dan lebih bersemangat setelah saling bicara.

Sehun dan Jongin tidak ingin membiarkan masalah-masalah yang merundung hubungan keduanya menjadikan mereka selalu tertekan. Bagi mereka kunci kekuatan hubungan mereka adalah saling percaya, tapi benarkan mereka akan selalu saling mempercayai?

Jika dulu ketika di London, Sehun menonjol dikerumunan karena dia seorang Asia yang tampan, maka kini di Korea Selatan pun, Sehun tetap terlihat menonjol karena wajahnya yang sedikit ke barat-baratan.

Bagi Sehun, dulu, menjadi menonjol seperti ini sangat ia nikmati. Perhatian para gadis-gadis akan mudah didapatnya, dalam sehari dia bisa mendapatkan tiga hingga empat nomor ponsel gadis-gadis cantik. Tapi kini, perhatian yang ia dapat menjadi sesuatu yang sangat menyebalkan.

Sehun yang pada awalnya memilih duduk dimeja paling pojok, tiba-tiba ia sudah duduk ditengah-tengah ruangan dengan banyak mata tertuju padanya. Hari pertama kuliah memang belum ada kelas, hanya pertemuan besar untuk saling mengenal satu sama lain. Jadi disinilah Sehun, didalam sebuah ruangan besar yang berisi mahasiswa-mahasiswa baru sepertinya.

Sehun memandangi jam mahal yang melingkar dipergelangan tangan kirinya, jam pemberian Jongin atas diterimanya Sehun di universitas. Masih dua jam lagi acara membosankan ini akan berakhir. Sehun memasang senyumnya dan mulai mengobrol lagi dengan segerombol laki-laki bertubuh besar.

"YA! YA!"

"Hentikan! Kau tahu kan dia sudah punya pacar!" Salah seorang pria bertubuh besar yang berdiri disamping Sehun memandang gadis yang tiba-tiba menyerobot masuk diantara dirinya dan Sehun dengan kesal.

"Hai Sehun!" Gadis itu tersenyum genit dan memandang Sehun dengan mata berbinar-binar. Bagi Sehun, gadis itu sama sekali tidak memiliki selera fashion yang wajar. Bagaimana mungkin datang ke orientasi universitas dengan rok pendek seperti itu, diawal tahun seperti ini pula? Apa dia keturunan beruang kutub? Belum lagi mantel bulu-bulu berwarna merah menyala seperti itu. Mata Sehun rasanya seperti melihat bara api.

"Eh, h-hai." Sehun sedikit gugup. Ia pikir gadis-gadis di Asia akan lebih pasif dari pada gadis-gadis Eropa tapi kenyataannya sama saja. Mereka semua sering tidak tahu malu dan sok dekat dengan Sehun.

Pria-pria besar yang sedari tadi bersama Sehun adalah anggota pemain baseball di SMU dan ketiganya masuk ke dalam universitas ternama ini berkat prestasi mereka dalam bidang olahraga. Tiga pria ini dari awal tidak memandang Sehun takjub atau bergumam pelan ketika Sehun lewat. Mereka seolah tidak peduli jika Sehun adalah anak konglomerat atau sedang banyak diberitakan media tentang kehidupan cintanya.

"Setelah ini kau mau kemana Sehun?" Dua gadis lagi datang dan mengerubungi Sehun tanpa memedulikan tatapan tiga atlet yang tidak setuju dengan sikap tiga gadis itu. Jika mereka ingin menggoda seorang lelaki yang sudah memiliki kekasih bukan begitu caranya, mereka terlihat sangat murahan.

"Uhm, pulang." Sehun tidak lagi menyembunyikan ketidak nyamanannya. Wajah tampan Sehun berubah menjadi dingin dan tanpa ekspresi.

"Kenapa buru-buru pulang, setelah ini akan ada acara minum-minum. Ikutlah!"

"Aku sibuk."

"Sibuk ya? Sayang sekali.." Gadis-gadis itu menunjukkan raut wajah kecewa namun tidak juga segera meninggalkan Sehun. Tiga teman baru Sehun yang melihat betapa tidak nyamannya Sehun, segera menarik Sehun agar ikut dengan mereka menuju kamar mandi dan Sehun tidak pernah merasa begitu berterima kasih pada seseorang yang baru saja ia kenal.

Jantung Sehun rasanya nyaris melorot ke perutnya ketika ponsel disakunya bergetar. Tangannya sedikit berkeringat ketika mengambil ponselnya. Sudah sepanjang pagi memang Sehun begitu gugup setiap kali ada pesan masuk kedalam ponselnya. Hari ini Sehun dijanjikan oleh Kyungsoo jika ia akan menerima hasil penyelidikan dan Sehun rasanya lebih gugup dari pada ketika menunggu hasil penerimaan masuk universitas.

Dari Jongin.

'Oppa, bagaimana orientasinya? Apakah menyenangkan?'

Sehun mengecek waktu, pukul dua belas siang yang berarti Jongin sedang istirahat makan siang. Bibir Sehun yang sedari tadi membentuk garis tipis kini melengkung, tersenyum.

'Tidak menyenangkan sama sekali, karena tidak ada dirimu.'

Sehun mengirim pesannya dengan senyum semakin lebar. Mendapat pesan dari kekasihnya saja sudah senang, apalagi dipanggil oppa. Sehun suka dipanggil oppa oleh Jongin, membuatnya merasa lebih memiliki gadis itu.

'Satu tahun lagi aku akan menyusulmu kesana, dan jangan terlalu gugup.'

Senyum Sehun semakin lebar, Jongin seolah bisa membaca pikirannya. Jongin tahu betul jika Sehun begitu gugup, bukan karena orientasi tapi karena berita yang akan ia dapat hari ini.

'Aku berusaha.'

"Berhentilah memandangi ponselmu Sehun." Sebuah suara membuat Sehun mendongakkan kepalanya. Mata Sehun nyaris keluar karena melihat didepan matanya terdapat tembok putih yang sudah sangat dekat. Ketiga teman barunya itu terbahak-bahak melihat Sehun yang melotot dan terkejut.

"Ah, harusnya tidak kau beri tahu!" Salah seorang dari mereka berkata sambil tertawa. Andaikan Sehun menabrak tembok, tentu tawa mereka akan lebih puas kan?

Berblok-blok jauhnya dari tempat Sehun ditertawakan, Kim Jongin duduk dikafetaria sekolahnya dengan tidak semangat. Makan siang hari ini adalah ayam goreng tapi ia sama sekali tidak ingin makan. Kyungsoo dan Taemin pun sama tegangnya, mereka duduk tanpa ada celoteh sama sekali.

"Kenapa lama sekali sih?" Kyungsoo bergumam, mengecek ponselnya. Tidak ada pesan yang ia tunggu.

"Mungkin—" Taemin mencoba menenangkan Kyungsoo yang sedari tadi pagi tidak rileks sama sekali.

"Mungkin apa?!" Kyungsoo melotot galak.

"Sudahlah, ini kan masalahku, harusnya aku yang tegang." Jongin menelan makan siangnya dengan susah payah. Sebenarnya dia juga tegang tapi Jongin memang memiliki pembawaan yang tenang dan pendiam jadi ia tidak begitu kelihatan jika sedang gugup.

"Benar-benar, ayo tarif nafas dalam-dalam…" Kyungsoo memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam. Disebelah Kyungsoo, kekasihnya mengikuti gerakan konyol Kyungsoo dan hal itu sukses membuat Jongin tertawa. Beruntung bukan Jongin memiliki teman-teman yang sungguh peduli padanya?

Seusai makan siang pun ponsel Jongin maupun Kyungsoo belum menerima pesan yang mereka tunggu-tunggu. Kedua gadis itu duduk ditaman sekolah dan memandangi ponsel mereka dengan serius.

Jongin yang mulai memandang layar hitam ponselnya mulai membuka-buka Naver, mencoba mencari sesuatu agar pikirannya bisa teralihkan sejenak. Mata Jongin terpaku pada sebuah foto wajah seseorang yang sangat dikenalnya, Oh Sehun.

Sudah biasa memang bagi Jongin kini menatap foto Sehun atau dirinya yang sering muncul dihalaman utama berita online di Naver. Tapi kini bukan wajahnya yang bersanding dengan wajah Sehun tapi gadis lain.

Gadis yang lebih cantik darinya.

Gadis yang rambutnya lebih sempurna darinya.

Gadis yang senyumnya lebih mempesona darinya.

Gadis yang mengenakan mantel merah menyala.

To Be Continue

Maafin ya…

Maafin banget baru update sekarang.

Ini semua gara-gara Goblin wkwkwk, sampe ff keteteran ngga segera dilanjutin marathon Goblin mulu wkwk

Jangan lupa tinggalkan review, kritik dan saran!

Author akan berusaha lebih cepat update biar lebih cepet tamat dan engga ada utang lagi hehe^^