Fanfiction

Cast : Jongin!GS, Sehun

Genre : Romance, Drama

Summary : Jongin terlahir dari keluarga kaya raya, namun hal itu yang membuat hidupnya semakin sulit, karena dia tidak seperti anggota keluarganya yang lain. Tidak seperti kedua saudaranya, Jongin bukanlah gadis yang cantik—tidak jelek juga kok, dia tidak memiliki nilai akademik yang patut dipamerkan atau keahlian yang membuat dia pantas diperhitungkan. Jongin benar-benar tidak memiliki sesuatu yang spesial. Hidup Jongin jungkir balik hanya dalam semalam, hidupnya berubah. Pangeran yang selalu dia khayalkan bukanlah sekedar khayalan lagi.

Chapter Fourteen

Jongin memandang langit-langit kamarnya tanpa semangat. Pikirannya melayang-layang pada kejadian seharian ini. Entah mengapa hari ini adalah hari terberat bagi Jongin selama ia hidup. Jongin dulu berpikir betapa indahnya menjadi seorang puteri-puteri cantik yang saling jatuh cinta dengan pangeran tampan dan hidup dikastil yang indah.

Tapi Jongin melupakan banyak hal yang harus dilewati para puteri tersebut untuk bisa akhirnya hidup bahagia dengan sang pangeran. Cinderella harus menjadi pembantu dirumahnya sendiri, Belle harus hidup dengan monster, Ariel harus mengorbankan suaranya, Snow White harus tinggal dihutan dengan tujuh lelaki asing.

Mungkin, jika para puteri itu hidup didunia masa kini, Jessica adalah ratu kerajaan yang jahat dan Baekhyun adalah tangan kanannya. Ah, Baekhyun. Gadis itu, kenapa gadis itu harus tercemar sifat iblis Jessica? Jongin termangu-mangu memikirkan Baekhyun.

Siang tadi, Jongin mendapat berita tentang hasil penyelidikan atas penyebaran nama buruknya oleh seseorang yang tidak ia ketahui siapa dan kenapa. Orang itu adalah Baekhyun, firasat Sehun tepat sekali. Baekhyun adalah putri dari sepasang suami istri miskin yang hidup mengabdi pada sebuah keluarga kaya raya dan Baekhyun sudah selayaknya anak bagi keluarga kaya itu sejak umur sembilan tahun, umur dimana ia pindah kerumah keluarga Hwang, mengikuti ibu dan ayahnya.

Baekhyun bersikap seolah dia adalah berdarah Hwang—marga keluarga kaya yang menghidupi Baekhyun sejak kecil—dan itu menyebabkan ketidak sukaan dari teman-temannya. Tiffany Hwang, anak tunggal keluarga Hwang, tidak begitu peduli pada Baekhyun, bukan karena ia tidak menyukai kehadiran Baekhyun tapi karena Tiffany adalah gadis ambisius yang gila belajar dan bekerja sejak kecil.

Banyak orang yang berbisik-bisik sinis tentang bagaimana Baekhyun yang berubah sejak ia pindah ke rumah mewah keluarga Hwang. Gayanya jadi arogan dan angkuh, ia selalu memamerkan barang-barang pemberian keluarga Hwang untuk dirinya dan juga banyak berbohong tentang liburan ke luar negeri hingga menu sarapannya dirumah.

Kepribadian Baekhyun berubah semakin buruk setelah bertemu dengan Jessica dirumah Hwang ketika Jessica berkunjung untuk urusan bisnis keluarga. Keluarga Hwang waktu itu berusaha untuk mengembangkan bisnisnya ke Eropa melalui Jessica. Jessica benar-benar memberi pengaruh buruk pada Baekhyun, kini keduanya menjadi teman baik dan Jessica sering mengajak Baekhyun ke London atau berkeliling Eropa yang tentu saja Baekhyun terima.

"Hmm, padahal dulu dia gadis baik." Jongin bergumam pelan.

TRING!

My Sehun:

Baby aku perjalanan kerumahmu, aku bawakan pancake tuna kesukaanmu.

Jongin tersenyum kecil.

Sehun berusaha keras sekali.

Tadi siang, berita kurang mengenakkan tentang Sehun memang muncul di internet. Jongin awalnya sedikit terkejut melihatnya, namun begitu melihat wajah Sehun yang begitu tegang dan gugup ketika menyambangi sekolah Jongin pada jam istirahat.

Sehun berusaha menjelaskan agar Jongin tidak salah paham. Awalnya Jongin mau marah-marah pada Sehun, tapi melihat wajah Sehun dia jadi tidak tega. Terlihat sekali kalau Sehun takut jika Jongin marah padanya, apalagi minta putus. Karena Sehun berkali-kali memohon agar Jongin jangan memutuskannya. Tapi…Jongin ingin mengerjai kekasihnya ini, ia ingin pura-pura ngambek supaya Sehun memanjakannya. Hihi.

TOK! TOK!

"Nona Jongin, ada Tuan Sehun dibawah." Belum sepuluh menit Jongin membaca pesan dari Sehun, kekasihnya itu sudah sampai saja dirumahnya.

"Iya, suruh tunggu sebentar." Jongin bangkit dari atas kasurnya dan berkaca sejenak. Memang ia belum berubah jadi seperti barbie, tapi…paling tidak ia tidak terlihat seperti boneka Chuky.

"Jongiiiiin!" Baru saja Jongin akan meninggalkan kamar, tiba-tiba pintu kamarnya sudah terbuka dan sosok luar biasa tampan masuk kedalam kamarnya dengan lemgan terbentang lebar.

"Uhhhh! Jonginku, aku kangeeeeen!" Sehun dengan sikap sok imutnya merengkuh Jongin kedalam pelukan erat. "Baru tidak bertemu beberapa jam aku sudah sangat merindukanmu."

"Ih, lepas!" Jongin melancarkan aksi pura-pura ngambeknya.

"Kau masih marah yaaaa? Kan sudah aku jelaskan tadi, dia itu bukan siapa-siapa, aku bahkan sama sekali tidak ingat namanya. Percaya padaku, ya? Ya? Ya?" Sehun memasang wajah gugup dan khawatir lagi, seperti tadi siang. Lucu sekali bagi Jongin melihat Sehun begini, tidak lagi keren dan cool seperti biasanya.

"Iya, iya. Aku percaya. Tapi awas sampai kau genit pada wanita disana, akan kuracuni kau." Jongin mengancam dengan wajah cemberut. Pada dasarnya, Jongin bukanlah tipe wanita yang pencemburu. Tapi melihat Sehun dikelilingi wanita-wanita cantik wajarkan Jongin cemas?

"Tidak akan!" Sehun tersenyum cerah melihat Jongin yang sudah tidak marah lagi. Dengan semangat ia membuka kantung berisi pancake tuna dan ia tarik duduk Jongin diatas sofa kamar Jongin.

Jongin duduk dan langsung menyenderkan tubuhnya pada tubuh Sehun manja. Kebiasaan Jongin yang sangat Sehun sukai, bermanja-manja padanya. Sehun dengan sigap menyuapi Jongin dengan pancake tuna yang ia bawakan.

"Kau kelihatan santai sekali." Sehun berkata seraya mengelap bibir Jongin yang terkena saus pancake.

"Mhemhanga haku haus bhagaimhanha?" Jongin berbicara dengan mulut penuh.

"Dasar bocah, telan dulu makanannya."

"Kau hanya lebih tua dua tahun." Jongin merengut kesal.

"Tetap saja kau bayi mungilku." Sehun mengecup bibir Jongin pelan. Jongin tekekeh mendengar ucapan Sehun, ia senang kalau Sehun menyebutnya bayi mungil. Karena hal itu membuat Jongin merasa sangat disayang dan dimanja.

"Duh mesranya, awas tuh banyak setan." Sebuah suara yang begitu familiar ditelinga Jongin mendadak mengisi ruang kamarnya.

"Kenapa cepat sekali sudah datang?" Jongin sedikit merengut melihat Kyungsoo—hari ini rambutnya berwarna violet—sudah datang kekamarnya dan langsung membaringkan tubuhnya diatas kasur Jongin.

"Seharusnya kau merasa beruntung Jong, kalau aku tidak datang kalian pasti sudah bukan cuma ciuman saja." Kyungsoo memandang datar ke arah Jongin dan Sehun. Pipi Jongin langsung merona mendengarnya, jadi tadi Kyungsoo melihat mereka berciuman?

"Mana Taemin?" Sehun berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Sedang ku suruh membelikan pizza untuk kita."

"Kau ini!" Jongin langsung cemberut mendengar jawaban Kyungsoo. "Dia itu pacarmu tahu! Bukan mesin ATM, bukan pembantumu, bukan supirmu—"

"Sudah aku katakan padanya untuk tidak melakukan semua itu Jongin, tapi dia sangat keras kepala. Memangnya aku yang sedang ingin pizza? Well, memang aku sedikit ingin pizza—tapi dia itu yang tadi tiba-tiba memaksa akan membelikan pizza karena melihatku membaca menu pizza diponselku—agh! Aku sudah gagal diet berapa minggu gara-gara sikap sok perhatian Taemin!"

Jongin dan Sehun hanya diam dan bertukar pandang, tidak tahu harus berkomentar apa.

"Jadi, Byun Baekhyun." Kyungsoo dengan cepat mengganti topik karena gadis itu sangat stress dengan siklus dietnya yang berantakan. "Aku tidak pernah mendengar tentang dia sebelumnya?"

"Uhm, aku pernah bertemu beberapa kali ketika aku masih di London." Sehun mulai bercerita, wajahnya terlihat sedikit tidak nyaman dan Jongin menggenggam tangan Sehun agar lebih santai. "Yang aku tahu, dia adalah teman Je-jesisca dari Korea Selatan. Baekhyun beberapa kali mengunjungi London dan kami, yah, hanya berpesta dan hura-hura. Aku tidak begitu banyak mengenal dia."

"Hm, okay." Kyungsoo bangkit dari tidurnya dan duduk diatas kasur Jongin dengan wajah serius. "Aku juga tidak begitu tahu tentang si Byun Baekhyun ini tapi tadi aku sudah melakukan beberapa uhm, penelitan?—tentang Kim Taehyung."

Jongin dan Sehun segera memasang telinga mereka tajam-tajam.

"Dia sepupu Baekhyun."

Kyungsoo diam dan sepasang kekasih itu menunggu kelanjutannya.

"Sudah?" Jongin bertanya karena Kyungsoo tidak juga melanjutkan ucapannya.

"Sudah."

"Informasi apanya kalau cuma itu?!" Jongin dengan kesal melempar Kyungsoo dengan bantal sofa yang ada disebelahnya.

"Habis, masalah kalian rumit dan berbelit-belit sekali." Kyungsoo merengut mendapat lemparan bantal sofa. "Kan sudah jelas kalau dalang dibalik semua itu Jessica! Baekhyun itu cuma antek-anteknya dan Taehyung pun begitu. Segera laporkan polisi saja atas pencemaran nama baik, serahkan pada ayahmu supaya kasusnya cepat ditangani!"

Sehun dan Jongin bertukar pandang.

"Pertama, kami tidak mau membawa-bawa keluarga dalam masalah ini. Dengan meminta bantuan ayahku atau menggunakan kekuasaan ayahku, media akan semakin mengangkat masalah ini. Lalu seluruh masa lalu Sehun akan terungkap didepan publik. Hal itu akan sangat mempengaruhi citra keluarga Sehun dan juga hubungan kami pun akan semakin disorot." Jongin menjelaskan.

"Kedua, kalaupun kami mau melapor, tidak ada bukti yang signifikan dan nyata. Masih perlu lebih banyak bukti dari sekedar dugaan-dugaan. Polisi hanya akan menerima pelaporan atas bukti yang konkrit."

Kyungsoo mengangguk-angguk paham sementara Sehun terlihat berpikir keras. Dahinya berkerut dan tangannya memainkan tangan Jongin, kebiasaan barunya jika sedang gugup atau berpikir keras.

"Aku akan bicara pada Chanyeol." Sehun tiba-tiba berkata.

"Hah?" Kyungsoo bingung mendengar ucapan Sehun.

"Kau yakin?" Jongin menatap tidak yakin ke arah Sehun.

"Aku yakin, aku tidak boleh menghindar terus. Semuanya harus segera dihadapi dan diselesaikan sebelum Jessica atau Baekhyun melakukan sesuatu yang lebih parah."

"Hah? Chanyeol? Chanyeol itu siapa?" Kyungsoo masih belum memahami arah pembicaraan pasangan kekasih ini.

"Nanti aku ceritakan." Jongin memandang Kyungsoo dengan wajah datar, dari tadi sahabatnya ini sama sekali tidak membantu.

"Masih ada bagian yang belum kau ceritakan padaku?" Kyungsoo merengut mendengarnya. Memang sejak Jongin berpacaran dengan Sehun, waktu yang mereka habiskan sangat jarang. Jongin juga sering tidak bercerita secara mendetail, hanya inti-intinya saja. Dan itu membuat Kyungsoo merasa tersisihkan sebagai sahabat.

"Uh, jangan pasang wajah begitu doooong.." Jongin langsung bangkit dari duduknya dan memeluk sahabatnya yang cemberut itu. "Aku bukannya tidak mau cerita tapi semua masalahku ini benar-benar membuatku stress jadi ceritanya terpotong-potong."

"Hmm, aku tahu." Kyungsoo menjawab pelan.

Sehun yang menatap dua gadis berpelukan itu sedikit mengernyitkan dahi. Kenapa wanita bisa begitu sensitif akan hal-hal seperti ini? Dia yakin dia tidak akan ngambek hanya karena Chanyeol lupa curhat sesuatu pada dirinya. Dan dia yakin jika Chanyeol pun begitu. Sehun jadi ingat kalau Jongin pun akan ngambek jika Sehun tidak bercerita secara detail. Wanita memang sangat aneh.

"Hun, katakan pada Kyungsoo kalau aku benar-benar lupa menceritakan tentang Chanyeol!" Jongin berkata pada Sehun yang hanya memandanginya.

"Eh, iya. Masalah ini memang semakin lama semakin rumit saja jadi mungkin ada beberapa hal yang lupa Jongin ceritakan." Sehun hanya menuruti kemauan Jongin. Toh memang itu benar.

"Jangan marah padaku Kyung!" Jongin memeluk Kyungsoo semakin erat. "Ya? Ya? Ya?"

"Iya." Kyungsoo mengangguk-angguk.

"Makanan dataaang!" Pintu kamar Jongin tiba-tiba terbuka lebar dan Taemin berdiri disana dengan senyum lebar dan tangan penuh kantong makanan. "Kenapa kalian? Kenapa Kyungsoo? Apa yang kalian lakukan pada pacarku?" Taemin langsung mengoceh begitu melihat suasana kamar yang tidak seceria biasanya.

"Ish, duduk sini sekalian biar aku tidak usah cerita dua kali." Jongin mengisyaratkan akan Taemin segera masuk kedalam kamarnya.

Jongin pun berusaha bercerita secara singkat dan padat siapa itu Chanyeol dan kenapa Chanyeol menjadi salah satu masalah mereka kali ini. Posisi Chanyeol yang berada didaerah abu-abu membuat mereka tidak yakin harus berbuat apa. Disatu sisi Sehun yakin sekali kalau Chanyeol itu tidak pernah berniat untuk menyelakainya tapi…mata kepalanya sendiri melihat jika Chanyeol dan Baekhyun berkencan.

Andai saja Chanyeol ada dipihak mereka, pasti akan lebih mudah menyelesaikan masalah dan mendapatkan informasi. Chanyeol kan memang suka sekali menjadi detektif dan memecahkan masalah seperti ini. Walaupun tidak memiliki sertifikasi sebagai detektif tapi kemampuan analisis Chanyeol itu sangat hebat.

"Hey, hey. Jangan khawatir. Sekarang kan ada aku. Aku punya detektif bayaran yang bisa memberikan informasi." Kyungsoo berkata penuh semangat.

"Sesuatu yang tidak dibayar itu biasanya lebih berharga." Sehun berkata pelan. Memang benar hal itu. Jasa yang diberikan Chanyeol seikhlasnya jauh lebih terpercaya dan berharga dibanding jasa yang diberikan detektif bayaran yang kesetiaannya bisa dibeli.

"Tapi saat ini kan sedang genting. Kita tidak bisa tergantung pada Chanyeol—" Kyungsoo berkata dengan wajah serius.

"Aku rasa Sehun tahu hal terbaik yang harus dia lakukan. Jika Sehun tidak ingin memecahkan masalah Chanyeol dulu baru masalah Baekhyun dan Jessica, aku paham. Sehun pasti tidak ingin melukai sahabatnya dengan menyakiti Baekhyun." Jongin berkata pelan.

Sehun yang mendengarnya langsung merasa ingin menangis. Betapa beruntungnya ia memiliki kekasih sangat perhatian seperti Jongin. Bahkan ketika ia dihina dan dibully oleh media, Jongin masih mendahulukan perasaan Sehun.

"Ah babyyyyy…" Sehun bangkit dari duduknya dan memeluk Jongin yang masih duduk bersebelahan dengan Kyungsoo.

"Iyuuuuhhhh!" Kyungsoo langsung menyingkir melihat Sehun yang memeluk Jongin erat-erat dan mengucapkan kalimat-kalimat cheesy seperti 'sayangku memang yang terbaik' atau 'kau benar-benar wanita terhebat yang pernah aku temui'.

"Lepas Hun! Malu tahu!" Jongin mendorong tubuh Sehun agar menjauh. Pipinya merah mendengar Kyungsoo dan Taemin yang bersuit-suit menggodanya. "Sudah! Sudah! Lalu bagaimana sekarang?"

Kyungsoo untungnya tahu diri, ia pun bangkit dari atas kasur dan mendatangi kekasihnya yang duduk disofa. Ia biarkan Sehun menempati tempatnya tadi, toh ia juga tidak mau mendengar bisik-bisik mesra antara Jongin dan Sehun.

"Menurutku kita harus…" Sehun berkata sambil merangkul kekasihnya. Ketiga orang lain disana mendengar dengan serius rencana Sehun dan mengangguk-angguk setujut.

"Kau lelah?"

"Tidak sama sekali. Bahkan menurutku ini kencan hihi." Jongin memainkan gelas kertas berisi kopi yang sudah dingin ditangannya, bibirnya menyunggingkan senyum manis.

"Hehe, iya juga sih. Kita sudah lama tidak berduaan."

"Sudah lama apanya, kita belakangan ini berdua terus." Jongin mencibir.

"Tapi rasanya masih kurang." Sehun menjawab dengan manja. Sudah seminggu sejak Sehun memberitahu Jongin, Kyungsoo dan Taemin rencananya untuk mengetahui apakah Chanyeol itu berada dipihak mereka atau bukan.

Sudah hampir seminggu pula Sehun tidak mau jauh-jauh dari Jongin. Setiap pagi mengantarnya ke sekolah, istirahat makan siang membawakannya makan siang ke sekolah dan tentu saja pulang sekolah Sehun akan menjemputnya. Jongin tahu jika Sehun cemas padanya, takut jika Taehyung atau orang lain melakukan lebih dari sekedar mengirim surat ancaman.

Keduanya kini menghabiskan hari Minggu siang mereka dengan suasana yang begitu tegang. Pasalnya, mereka sedang menunggu Chanyeol dan Baekhyun yang menurut hasil mata-mata dari Kyungsoo akan berkencan di kafe tempat keduanya kini berada. Sehun memang meminta bantuan Kyungsoo untuk mencari informasi tentang hubungan Chanyeol dan Baekhyun. Berkenalan lewat mana, sejauh mana hubungan mereka dan yang paling penting apakah namanya juga nama Jongin pernah muncul dalam pembicaraan mereka.

Sayangnya, hasil yang diterima Sehun kurang memuaskan. Setelah satu minggu menunggu sebuah informasi yang berguna. Sehun memutuskan untuk melakukan tindakan secara langsung, menemui Chanyeol dan Baekhyun. Sehun tahu mungkin sikapnya sedikit jahat karena ia memilih untuk memergoki Chanyeol dan Baekhyun sedang berkencan, bukan menemui Chanyeol secara pribadi. Namun, ia sudah lelah dengan permainan-permainan ini dan takut jika Chanyeol akan berkelit karena ia tidak bisa memberikan sebuah bukti. Sehun takut jika ia tidak cepat bertindak sesuatu akan terjadi pada kekasihnya.

Jadi, disinilah Sehun dan Jongin. Duduk berdua disebuah kafe yang tidak terlalu ramai, saling berpegangan tangan dan bicara pendek-pendek. Sangat jelas dimata Jongin jika Sehun sangat gugup sekarang, jadi ia terus mengelus-elus tangan Sehun dan juga bicara hal-hal ringan agar Sehun tidak terlalu nervous.

"Bagaimana jika Chanyeol marah padaku?"

"Disini yang punya hak untuk marah adalah dirimu, tapi jangan marah. Okay? Ingat pesanku. Jangan biarkan kekesalanmu yang sejenak menghancurkan persahabatan kalian."

"Tapi.."

"Jangan tapi-tapi. Percaya padaku semua akan baik-baik saja."

Sehun menggenggam tangan Jongin lebih erat, nyaris meremasnya.

"Ehem." Sebuah suara berdeham mengejutkan sepasang kekasih ini.

Park Chanyeol.

"Uhm, hai." Chanyeol berkata gugup dengan senyum dipaksakan. Sehun dan Jongin melotot melihat kedatangan Chanyeol, mereka melihat ke sekitar dan tidak ada Baekhyun dimana-mana.

"Tidak ada Baekhyun." Seolah bisa membaca pikiran Jongin dan Sehun, Chanyeol berkata sambil tersenyum kecil. "Boleh aku duduk?" Chanyeol langsung mendudukkan dirinya tanpa menunggu jawaban dari Sehun atau Jongin.

Mereka bertiga diam.

Sehun dan Jongin bertukar pandang bingung.

Chanyeol terlihat gugup dan tegang.

"Aku…aku minta maaf." Chanyeol akhirnya buka suara. "Seharusnya aku berkata jujur padamu dari awal."

Jantung Sehun dan Jongin berpacu cepat. Apakah Chanyeol akan mengakui jika ia memiliki hubungan khusus dengan Baekhyun? Apakah Chanyeol ingin mengatakan jika ia adalah salah satu antek-antek Jessica yang ditugaskan untuk menghancurkan hidup Sehun?

"Aku bertemu Baekhyun waktu aku sedang mencari informasi tentang penulis artikel tentang Jongin." Chanyeol bercerita dengan suara pelan, ada senyum kecil diwajahnya seolah ia teringat akan sebuah kenangan manis. "Kami berkenalan dan begitu aku pulang, kau memintaku untuk mencari siapa itu Byun Baekhyun."

Jongin dan Sehun masih diam, mendengarkan cerita Chanyeol.

"Aku jatuh cinta pada Baekhyun sejak perkenalan pertama dan aku tidak bisa menahan perasaanku meskipun aku tahu Baekhyun adalah orang yang menyakiti sahabatku."

"Chan—" Sehun ingin berkata namun Chanyeol memotongnya.

"Aku cari tahu banyak sekali. Siapa itu Jessica? Bagaimana ia bertemu dengan Jessica? Dan aku bisa menyimpulkan jika Baekhyun hanyalah gadis miskin yang terpesona oleh kemewahan jadi sikapnya sering….tidak benar.

"Chanyeol, hentikan sebentar." Sehun meminta Chanyeol berhenti. "Dari mana kau tahu jika—"

"Kau lupa jika aku ini calon detektif? Aku sangat menjaga privasiku dan bisa dengan mudah melacak orang yang menyadap komunikasiku. Aku tahu ada yang berusaha menyadap ponsel dan komputerku dan aku mencari tahunya. Detektif amatir seperti aku dan beruntungnya mereka tidak tahu aku memberi pengaman pada jalur komunikasiku."

Sehun dan Jongin ternganga mendengar cerita Chanyeol, tidak yakin jika pemuda tinggi itu adalah seorang detektif amatir jika sudah semahir itu dalam menggali informasi.

"Aku meretas mereka balik dan aku tahu jika mereka bergerak atas perintah Kyungsoo yang aku tahu jika itu adalah teman Jongin." Chanyeol terdengar merasa bersalah. "Maaf aku jadi menyelidiki temanmu karena aku hanya tidak pernah mendengar namanya dan tiba-tiba ia menyuruh orang untuk menyadapku."

"Eh tidak apa. Aku…juga minta maaf sudah membiarkan Kyungsoo melakukan penyadapan pada kehidupan pribadimu." Jongin ganti minta maaf. Merasa tidak enak sudah ketahuan seperti ini.

"Jadi.." Sehun ingin segera kembali ke pembicaraan inti mereka.

"Jadi…aku sedang dalam dilema kemarin-kemarin. Berminggu-minggu aku gunakan untuk mencari informasi dan mempertimbangkan apakah aku harus membantumu atau tidak. Apakah aku harus merelakan kehidupan Baekhyun diobrak-abrik atau tidak. Aku sangat menyukai Baekhyun."

Sehun terlihat gugup mendengar setiap kata yang keluar dari bibir Chanyeol.

"Kau adalah sahabatku Hun, kau sudah seperti keluarga bagiku. Dan aku berpikir sangat tidak adil jika aku mengkhianatimu hanya karena seorang wanita. Tapi sayangnya aku serakah. Aku ingin kau tetap menjadi sahabatku dan Baekhyun sebagai kekasihku."

Chanyeol mengatakan jika ia tidak pernah berniat untuk mengkhianati Sehun. Selama ini dia hanya sedang bimbang, apa yang harus ia lakukan jika sahabat dan kekasihnya adalah musuh. Chanyeol pikir ia bisa menyembunyikan hubungannya dengan Baekhyun dari Sehun sampai ia menemukan solusi, namun ternyata Sehun sudah lebih dulu memergoki hubungan mereka.

Jadi disinilah Chanyeol, berusaha menjelaskan hal-hal yang harusnya sudah sejak dulu ia jelaskan. Jongin tidak marah sama sekali, apalagi Sehun. Sehun memahami sikap Chanyeol karena ia pun juga sempat ragu-ragu untuk menguak kebenaran ini.

Jongin pun menceritakan apa yang telah terjadinya, tentang Taehyung dan tentang pemberitaan Sehun yang dituduh berselingkuh hanya karena ia ramah dengan temannya sesama mahasiswa baru. Chanyeol terlihat sangat terkejut mendengarnya, ia tidak tahu jika Baekhyun sudah bertindak lebih jauh lagi. Bahkan membawa orang lain untuk mengganggu Jongin, dikawasan sekolah lagi. Jongin menceritakan juga tentang ia sudah mengetahui jika Baekhyun dibalik semuanya.

"Okay. Aku rasa masalahnya sudah cukup parah." Chanyeol terlihat tegang mendengar cerita Jongin. "Kenapa kalian tidak menggunakan jasa detektif bayaran itu saja?"

"Kalau ada yang gratis kenapa harus bayar?" Sehun menjawab sambil terkekh.

"Aku serius Hun." Chanyeol menatap Sehun kesal, ia benar-benar khawatir akan masalah sahabatnya malah sahabatnya itu masih sempat melucu.

"Aku tahu jika penyelidikan ini berlanjut, bisa terjadi sesuatu pada Baekhyun. Dia mungkin bisa masuk penjara atau terkena denda besar. Aku tidak ingin itu terjadi padanya karena aku tahu jika Baekhyun sangat berarti untukmu."

Mata Chanyeol tampak berkaca-kaca mendengarnya.

Sehun mungkin memang sering bossy atau seenaknya kalau sedang gila. Tapi Sehun sungguh salah satu orang terbaik yang pernah ia temui. Tumbuh diantara gelimang harta tidak membuat hati Sehun egois dan hanya memikirkan kepentingannya sendiri.

"Jangan menangis atau ku siram kau dengan kopi panas ini." Sehun tampak sedikit malu karena Chanyeol yang berkaca-kaca.

"Kau benar-benar sahabat terbaikku, Hun." Chanyeol tersenyum tipis kemudian menunduk sejenak. Berusaha mengontrol dirinya agar tidak bersikap terlalu melankolis atas kebaikan sahabatnya.

"Jadi, pak detektif, kau sudah punya solusi?"

"Eh.." Chanyeol kembali menunjukkan senyum konyolnya, sudah bukan lagi ekspresi serius yang membuat Jongin heran. Ternyata Chanyeol memiliki sisi serius juga ya. "Aku belum begitu banyak memikirkannya karena Baekhyun sendiri juga belum tahu jika aku adalah temanmu."

Sehun dan Jongin mengangguk-angguk.

"Sebenarnya Oppa, aku sudah menyelidiki sedikit identitas Baekhyun. Yah, seperti yang kau bilang kalau dia itu gadis, uhm…" Jongin terlihat kurang nyaman untuk mengucapkan kata 'miskin'.

"Miskin." Chanyeol membantunya dengan senyuman.

"I-iya begitu, aku sejujurnya merasa sedikit iba padanya. Dari sekian banyak orang yang harus menjadi keluarga baru bagi Baekhyun kenapa harus keluarga yang mengajarkan kesombongan seperti itu." Jongin bercerita dengan wajah murung.

"Sebenarnya bukan keluarga Hwang buruk, mereka sangat baik malah. Lingkungan lainnya yang membuat Baekhyun begitu—menurutku. Banyak anak yang membencinya karena tiba-tiba ia memiliki banyak barang bagus dan semacamnya. Jadi Baekhyun benar-benar berubah menjadi gadis yang uhm 'jahat' untuk melindungi dirinya dari orang-orang yang bersikap jahat padanya."

"Well, masuk akal." Sehun mengangguk-angguk. "Tapi, bagaimana kau mengetahui itu semua tanpa Baekhyun curiga kalau kau sedang mengintrogasinya?"

"Hahaha, aku kan memang charming. Semua gadis selalu terbuka padaku dan betah berlama-lama denganku." Chanyeol menjawab sambil tertawa dan Sehun menggeret kursi Jongin agar lebih mendekat dengannya.

"Ya! Gadis-gadis hanya akan seperti itu kalau aku mengeluarkan senyum maut dan rayuan mematikanku." Chanyeol terkekeh melihat Sehun yang langsung takut jika tiba-tiba Jongin jatuh dalam pesonanya.

"Apa Sehun selalu pecemburu berat seperti ini sih?" Jongin merasa pipinya merah karena perlakukan kekasihnya yang berlebihan.

"Tidak, baru kali ini aku melihat ia berjuang begitu keras hanya untuk seorang gadis yang ia sukai." Chanyeol menjawab dan itu sukses membuat pipi Jongin lebih merah lagi.

"Ugh, kenapa kau menggemaskan sekali?!" Sehun menarik wajah Jongin dan mengecup bibir penuh Jongin sekali.

"Kau benar-benar! Ih!" Jongin dengan kesal menjewer Sehun karena menciumnya sembarangan.

"Aduh, manisnya." Chanyeol tertawa melihat Sehun dan Jongin yang begitu mesra meskipun sedikit bertengkar. "Kenapa media tidak mempublikasikan hal seperti ini? Iya kan?" Chanyeol melipat tangannya didepan dada dan terkekeh melihat pasangan didepannya.

"Sakit Jong.." Sehun merengut sambil mengusap telinganya yang dijewer Jongin.

"Makanya jangan melakukan hal aneh-aneh."

"Apanya yang aneh? Aku kan cuma mencium pacarku sendiri!" Sehun masih merengut dan Jongin hanya bergumam pelan tentang betapa mengesalkannya sikap Sehun yang sering main curi ciuman dari bibirnya begitu saja.

"Lalu bagaimana tadi? Keluarga Hwang bukan keluarga yang buruk.." Sehun berusaha mengembalikan arah pembicaraan inti.

"Ah, iya. Kadang, aku bisa melihat jika Baekhyun terlihat lelah dengan sikap buruknya terhadap orang lain. Aku juga tahu jika ia sering secara tidak langsung menolong orang-orang kurang beruntung disekitarnya."

"Tunggu, didepanmu Baekhyun tidak bersikap manis dan baik?" Sehun bertanya, menginterupsi.

"Tidak terlalu. Kadang dia bisa bersikap manis dan baik tapi kadang dia bisa bersikap bossy dan sangat annoying. Namun aku bisa melihat jika ia sering menyesali perbuatannya." Chanyeol menjelaskan tentang betapa rumitnya kepribadian Baekhyun.

"Lalu, kalau dia sering merasa menyesal kenapa masih berbuat hal-hal tidak baik?" Jongin giliran bertanya.

"Asumsiku, dia takut. Mungkin takut pada Jessica, mungkin takut jika ia akan dijadikan bahan bully lagi jika ia tidak bersikap kejam. Seperti hukum rimba, siapa yang kuat pasti itu yang berkuasa. Jadi Baekhyun harus terlihat kejam dan jahat agar ia bisa menjaga dirinya sendiri."

"Wow, kisahnya benar-benar seperti film Holywood!" Sehun berkomentar dengan mata terbelalak.

"Kisah kita semua." Chanyeol tersenyum kecil. "Seorang playboy jatuh hati pada gadis manis yang begitu polos dan baik hati. Lalu sahabatnya jatuh cinta pada musuh si playboy. Kurang menarik apa coba?"

Mereka bertiga tertawa.

Andaikan orang lain melihat kisah mereka pasti akan sangat menarik.

Semua akan terasa sangat menarik sampai orang-orang itu merasakan sendiri betapa melelahkan dan menyesakkan rasanya berada diposisi mereka. Berusaha mempertahankan cinta mereka tanpa merusak citra keluarga mereka yang sempurna.

"Aku siap membantumu lagi. Aku siap membantu kalian. Aku hanya minta satu syarat." Chanyeol memandang Sehun dan Jongin bergantian. "Tolong jangan sakiti Baekhyun."

Sehun dan Jongin hanya tersenyum, mengiyakan syarat yang Chanyeol ajukan. Meskipun mereka tidak tahu apakah mungkin ada cara melindungi Baekhyun ketika ia melakukan begitu banyak hal yang mampu membuatnya masuk penjara.

Chanyeol juga tersenyum, otaknya langsung bekerja.

Bagaimana cara melindungi Baekhyun?

Tidak jauh dari meja ketiga pemuda pemudi itu, dua pasang mata tidak lepas dari Sehun, Jongin dan Chanyeol. Sepasang mata sipit yang berhiaskan eyeliner tebal terlihat berkaca-kaca, bibirnya bergetar menahan tangis.

To Be Continue

Akhirnya update!

Duh susahnya mau nyelesain ini, sering stuck dan susah dapet ide.

Huhu maafkan yaaaa *kisskiss*

Terima kasih sudah mau menunggu :')

Jangan lupa marahin Author yang kelewat lama update seri ini ;")

Jangan lupa juga review, kritik dan sarannya ya :")

Gomawo ^^