"Love is Not Over"

Chapter 2 : Now is Really Over

By : Amanda Lactis

.

.

.

Kegiatan mengunjungi café menjadi suatu rutinitas baru yang Naruto miliki. Beberapa kali tertangkap mengobrol bersama Sasuke, atau duduk seorang diri dan berakhir raut wajah kecewa terpasang pada wajah manisnya. Ternyata Sasuke lebih sibuk akhir-akhir ini. Pria itu kerap mengingkari janji untuk mendengarkan cerita mengenai hidupnya yang begitu menyedihkan. Naruto sering terlihat tertawa, dan itu merupakan kabar baik bagi Tsunade yang sejak dulu menginginkan tawa tulus cucunya kembali terdengar di telinganya. Sayangnya semua tak ada yang berubah. Masih sama seperti sebelum ia bertemu dengan Sasuke, perlakuan kedua orang tuanya masihlah tak berubah. Mereka tetap dingin dan enggan mengobrol dengannya.

"Kalau kau bisa bahagia, kenapa harus bersedih dan buang-buang waktumu?" ini kata Kiba, ketika mereka dihukum karena tertangkap basah sedang makan di kantin padahal bel jam makan siang belum berdering. Naruto tak pernah melupakan kata-kata sahabat barunya itu. Meski terdengar aneh bila Kiba yang mengatakannya karena well, wajahnya yang tak pernah tampak serius akan terlihat konyol jika dipadukan dengan pembicaraan bertopik berat, ya seperti masalah hidup yang tak akan ada habisnya. Shikamaru? Jangan ditanya. Sejak lelaki itu tahu mengenai perlakuan kedua orang tua Naruto dan bagaimana gadis itu berjuang melawan penyakitnya sendiri, membuat jiwa protektifnya perlahan muncul. Shikamaru suka sekali menanyakan kabar Naruto minimal lima kali sehari, atau saat kantin sedang ramai dan mereka duduk berhadapan, maka hal yang wajib Shikamaru tanyakan adalah,

"Jadi, bagaimana keadaan hatimu sekarang? Ada beban yang mau kau ceritakan?"

Beda Shikamaru, beda lagi Suigetsu yang hobby sekali menggodanya. Naruto cukup terhibur karena pesan dari pria bergigi hiu yang playboy itu kirimkan. Beberapa darinya dihapus akibat dinilai tak pantas, Suigetsu dan hormon nya yang tidak bisa dikendalikan. Biar begitu, empat lelaki yang kini mewarnai hari-harinya, tak bosan membuat Naruto tertawa. Seperti pertengkaran Suigetsu dan Sai yang suka sekali mempermasalahkan apa yang membuat para gadis jatuh hati padamu, atau aksi lempar melempar kertas yang dimulai dari Kiba yang terlalu menganggur padahal Hatake-sensei sedang menjelaskan pengaruh suhu dalam laju reaksi. Tidak semua orang suka Kimia. Jujur saja, Naruto benci pelajaran itu. Andai bisa, dia mau Kimia ditiadakan agar tak menyiksa siswa yang tak ahli dalam menyetarakan reaksi. Intinya? Naruto senang. Dua bulan berbaur dan beradaptasi tak buruk juga, pikirnya. Beberapa kali empat orang itu menawarkan diri mengantarkannya pulang, tapi rutinitas wajib yang tidak boleh dilewatkan membuat Naruto menolak dengan halus.

Sasuke jarang terlihat seminggu terakhir. Kalau bertemu pun, lelaki dewasa yang entah kenapa semakin tampan itu justru mendiamkan Naruto selama kurang lebih dua jam sampai gadis itu harus menyadarkan Sasuke agar dia sadar bila ada seseorang di sampingnya.

"Kau itu butuh istirahat, Sir. Kau kan manusia bukan robot."

Sasuke mendengus. "Istirahat hanya untuk si lemah, dobe."

"Hei aku tidak bodoh ya! Nilai Kimia ku tujuh lima! Aku masuk jajaran murid pintar yang tidak remedial!" Aku Naruto sedikit sombong. Tsunade memaklumi keterlambatan cucunya saat pulang, dia diam-diam mengikuti kemana cucunya itu selalu pergi dan kenapa suasana hatinya selalu bahagia. Melihat interaksi Sasuke dan cucunya, sudah cukup untuk menjawab puluhan tanda tanya dalam benak Tsunade.

"Tujuh lima? Dobe, aku bahkan tidak pernah mendapat nilai delapan puluh, nilaiku di atas sembilan lima, kau tahu?" Sasuke menyahuti santai, secara tidak langsung ikut memamerkan kepintarannya. Naruto balas mendengus sebal, dia memesan seporsi sandwhich tanpa tomat yang memang menjadi menu favoritenya beberapa minggu ini. Uang sakunya sengaja disimpan demi memuaskan hasrat bertemu Sasuke, lagipula tidak ada salahnya sedikit berhemat ya kan?

"Sir, aku mau bercerita padamu, tapi melihatmu sibuk begini di pending dulu saja. Kau bisa selesaikan pekerjaanmu dulu, bagaimana?"

Sasuke tampak berpikir. "Besok aku kosong. Itupun kalau kau mau. Jam empat sore aku sudah ada di sini, Dobe. Jangan terlalu asik bermain bersama teman pria mu." Sahut Sasuke yang entah kenapa merasa kesal tiap kali Naruto menceritakan betapa ia menikmati kebersamaannya dengan Shikamaru dkk. Naruto sebenarnya merasa sedikit ge-er, karena baginya Sasuke tampak cemburu.

"Iya aku tahu, besok aku suruh Kiba menemaniku pulang. Kebetulan rumah kami bersebalahan." Mendengar ucapan Naruto tak menenangkan hati kalut Sasuke yang mendadak cemas. Pria berusia dua puluh lima tahun itu terlihat meremas pelan pegangan di bawah meja. Sudah genap satu bulan gadis bernama Uzumaki Naruto masuk dalam hidupnya. Genap satu bulan gadis berisik itu mendekatinya secara terang-terangan. Awalnya dia risih, Sasuke bukan tipe orang yang suka dengan gadis kelewat ceria dan hyperaktif. Rentang umur mereka juga cukup jauh, dia sudah dua puluh lima sedangkan Naruto mengakui usianya baru menginjak enam belas tahun. Apa kata orang jika Sasuke memberi harapan pada gadis polos itu? Namun melihat tawanya yang memekakkan telinga, pengakuan jujur tentang hidupnya yang tak semudah ketika ia tersenyum membuat Sasuke mengakui ada sedikit perasaan aneh memasuki hati bekunya.

"Pulanglah, Dobe. Aku tidak suka gadis sepertimu berkeliaran sampai malam. Cepatlah pulang dan belajar dengan benar." Sasuke mengusir nya secara langsung. Naruto mencebik kesal setelah menghabiskan sandwhichnya, ia bangkit, membereskan meja café sedikit dan meraih tasnya, tak lupa melambaikan tangannya kearah Sasuke.

"Jangan lupa besok ya, Sasuke-san!"

Sasuke tersenyum satu senti. "Mana mungkin aku lupa, dasar bodoh." Ia bergumam pelan, tangannya kembali menari di atas keyboard, dia tetap di sana sampai jam dinding café menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh menit, malam hari. Kakaknya tidak akan suka hal ini.

.

.

.

Namun semua itu hanyalah omong kosong yang diucapkan Sasuke. Naruto harus melihat adegan yang membuat hatinya ngilu bukan main. Siapa wanita bersurai peach itu? Kenapa mereka terlihat akrab dan Sasuke dengan mudahnya menyingkirkan pekerjaannya demi mendengarkan ucapan wanita itu, mereka juga tertawa bersama, membuat Naruto semakin meyakinkan diri jika dia hanyalah gadis bodoh karena menaruh hati pada lelaki dewasa bernama Uchiha Sasuke. Pria itu jelas tidak sudi membalas cintanya, ayolah, pria itu sudah dua puluh lima tahun, sedangkan Naruto? Dia masih kecil. Tidak berhak merasakan apa itu sakit hati dan cinta bertepuk sebelah tangan.

"Jam empat sore, aku kemari bahkan melewatkan kelas tambahan demi menemuimu, Sasuke-san. Apa orang dewasa suka sekali mengingkari janji mereka?" Naruto mendengar suaranya sendiri terdengar menyedihkan. Dia tertawa pelan, saat genangan air menetes dari kedua matanya, atau saat Sasuke tak sengaja mengalihkan pandangannya dan tampak terkejut atas kehadiran Naruto yang tidak ia sadari. Sementara wanita yang sedari tadi duduk di sampingnya, menepuk pelan bahu kokohnya seolah menanyakan keadaannya. Naruto tetap tersenyum. Dia tetap mengulas senyum manisnya, ketika hujan mengguyur bumi dan membuatnya terpaksa lari dari sana, meninggalkan apa yang pernah dia kejar, dan melupakan apa yang harusnya dia pertahankan.

'Apa Tuhan memang senang membuatku menderita?'

.

.

.

Shikamaru jelas tidak suka dengan keadaan sahabat nya saat ini. Melihat suasana hati Naruto yang sejak pagi tak kunjung membaik, juga mendengar laporan Kiba dan Suigetsu yang kena bentakan kesal dari Naruto karena tak sengaja menyenggol jus jeruknya sampai tumpah, sungguh membuat Shikamaru terkejut. Dia cepat-cepat datang, menanyakan keadaan gadis bersurai pirang di depannya dan hanya di jawab berupa anggukkan singkat. Naruto pasti menangis semalaman, batin Shikamaru melihat mata sahabatnya itu meninggalkan bekas sembab. Shikamaru tidak mau tahu apa yang sudah Naruto alami, sampai membuatnya kehilangan aura keceriaan yang sudah menghiasi harinya selama dua bulan.

"Hei, kau kenapa? Habis putus dengan pacarmu?"

Hening.

"Nar, kau membuatku takut tahu. Biasanya pagi-pagi sudah heboh sendiri, sekarang malah diam seribu bahasa." Shikamaru nyaris putus asa, dia mau mencari Kiba atau Sai yang pintar merayu seseorang. Namun niatnya terhenti ketika bibir mungil Naruto membuka beberapa mili, mengucapkan satu kalimat yang tidak ia sangka sebelumnya.

"Cinta bertepuk sebelah tangan itu, menyakitkan ya,Shika. Rasanya tidak enak."

Tunggu.

Sejak kapan Naruto jadi melankolis begini? Shikamaru angkat tangan bila masalah itu menyangkut perasaan. Dia bukan sosok yang ahli untuk memberi solusi. Naruto harus bertemu dengan Ino, teman kecilnya di kelas sebelah. Gadis yang sama-sama bersurai pirang itu pasti jago dalam memberi solusi.

"Aku punya kenalan yang bisa memberimu saran, Naru. Tunggu di sini, biar ku panggilkan dia." Shikamaru dengan cepat meninggalkan kelas dan menyeret seorang gadis berpenampilan modis yang tak berhenti mengomeli Shikamaru tentang betapa kurang ajarnya dia terhadap gadis. Namun Shikamaru tidak peduli. Dia ingin Naruto kembali. Dia tak suka Naruto yang diam saja dan tidak merespon apapun yang dia katakan.

"Kau bantu dia, namanya Naruto, masalah percintaan. Kau jagonya bukan? Ku serahkan dia padamu, Ino. Dan Naru, tolong, jangan sungkan untuk bercerita okay? Jangan membuatku repot begini." Ini pertama kalinya Ino mendengar Shikamaru berbicara lebih dari satu kalimat yang selalu mengeluhkan hidupnya. Apa eksistensi gadis bernama Naruto ini begitu berharga sampai si kuaci itu panic? Batin Ino tak habis pikir.

"Kau boleh curhat padaku. Untuk masalah laki-laki, aku ini ahlinya. Jadi, masalahmu ada di mana? Cintamu bertepuk sebelah tangan?"

Naruto menoleh secara reflex ketika telinganya mendengar kata-kata terlarang terlontar dari bibir Ino. Ino mengerjap. Sepertinya benar, pikirnya sedikit kasihan. Untuk para gadis, tidak ada yang lebih menyakitkan dari dua hal ini. Pengkhianatan dan cinta bertepuk sebelah tangan. Dan Ino, pernah mengalami keduanya.

"Aku suka dengan lelaki yang sembilan tahun lebih tua dariku, dan dia berjanji untuk mendengarkan ceritaku tapi-"

"-dia mengingkarinya? Apa dia membawa wanita lain bersamanya?"

Naruto terdiam. Dia mengangguk lagi. Mengundang helaan nafas dari Ino.

"Okay, Naruto. Dengarkan aku, kau mau pakai cara apa? Lari dari masalahmu atau kau nyatakan sekalian perasaanmu? Kalau aku sih lebih baik kau nyatakan saja, dari pada hatimu jadi lebih sakit?"

Naruto mau menyatakan perasaannya. Tapi dia tidak ada nyali untuk hal itu. Dia sudah malu. Malu untuk menunjukkan kehadirannya. Selama ini, selalu dia yang mengajak Sasuke mengobrol, selalu dia yang mati-matian mengalah ketika Sasuke dengan teganya mengabaikan dirinya. Naruto tetap bertahan sampai kejadian kemarin terjadi padanya. Terulang-ulang, dalam hatinya, bahkan mimpinya.

"Aku tidak bisa."

Ino menaikkan alisnya. "Kenapa? Kenapa kau tidak bisa?" tanya nya heran. Naruto menggigit bibirnya, ia bingung. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

Dan keheningan itu berlangsung selama lima menit. Ino menyerah, ia mengusap pelan surai pirang Naruto, sebelum pergi, Ino sempat membisikkan kata 'kau pasti bisa' mengundang secuil senyum dari Naruto.

"Terima kasih."

.

.

.

Kabar mengejutkan datang dari London. Naruto baru menata sepatunya dan dikejutkan dengan kedatangan Sasori lengkap beserta kedua orang tuanya yang menguarkan atmosfer tidak mengenakkan.

"Kakakmu Kyuubi mengalami kecelakaan."

Naruto mengedip polos. "Lalu? Untuk apa kalian kemari? Ada hubungan apa denganku?" dia bertanya tanpa menghilangkan keformalannya. Kushina memejamkan matanya, dia menatap suaminya yang juga paham akan kondisi putri bungsunya. Naruto sudah terlanjur rusak. Baik mental, maupun fisik. Gadis itu sudah merasakan ketidakadilan semenjak dia lahir. Caci maki dari keluarga besar Minato juga membekas dalam hati Naruto. Kushina baru saja menemukan berkas pemeriksaan jiwa Naruto, putrinya yang ia abaikan selama lima tahun belakangan, hanya karena dia tidak sepintar kedua kakaknya, hanya karena sifatnya yang kelewat ceria dan bisa mempermalukan mereka.

Naruto tidak merasakan empati dengan mudah. Dia beruntung memiliki sahabat yang baik dan selalu ada ketika ia butuh. Naruto beruntung memiliki Tsunade, yang tak kenal lelah mendengarkan keluh kesahnya terhadap apapun. Naruto beruntung. Dia sempat merasakan apa itu kebahagiaan. Lalu kenapa? Kenapa kedua orang tuanya harus muncul di saat begini?

"Kami ingin membawamu ke London, Naru. Cita-citamu menjadi penulis kan?" sahut Sasori berusaha menarik atensi adiknya.

"Tidak. Cita-citaku sudah ganti. Kau bilang sendiri, idiot sepertiku tidak akan sukses dalam hal apapun."

Ya, Sasori merasa tertohok dengan kata-kata Naruto. Dia tak menyangkan ucapannya dibawa serius sampai sekarang.

"Baiklah, apa cita-citamu sekarang? Kita wujudkan itu sayang, Kaa-san akan berlaku baik dan kita akan membahagiakanmu."

Naruto tetap diam. Tatapan matanya seolah berkata 'apa kalian bercanda?'

"Bahagia? Aku sudah bahagia di sini. Tanpa ejekan dari pihak manapun, tanpa sindiran halus setiap pagi dari kalian, aku sudah bahagia di sini."

Kushina tak kuasa menahan kesedihannya. Dia menangis dalam pelukan Minato. Semua sudah terlambat untuk diperbaiki. Naruto tak mudah membuka hati untuk orang yang menyakitinya. Sasori merasa ini juga salahnya. Andai saja dia tak mengejek betapa menyedihkan hidup Naruto, andai dia tak meremehkan impian adiknya, mungkin Naruto tak se-apatis ini.

"Naru sayang, ikut Kaa-san dan Tou-san mu ya? Biar nenek di sini bagaimana? Nanti, kalau kau sudah sukses, kembalilah ke Jepang, kunjungi nenek. Apa itu bagus?" Tsunade tak mungkin mengatakan jika sisa waktunya tinggal sedikit di dunia ini. Sebuah penyakit ganas menggerogoti nya. Entah bagaimana Tuhan memberinya sedikit tambahan waktu untuk membuat senyum tulus terukir kembali pada wajah manis Naruto. Dia sengaja menyembunyikan hal ini. Dia menghubungi Kushina dan Minato, memohon dengan sangat, memberikan apa yang dia bisa agar anak dan memantunya itu sadar jika Naruto memerlukan dukungan orang terdekat.

Naruto sempat ragu. Melihat senyum teduh Tsunade membuat hatinya tersentuh. "Baa-san, aku…"

Tsunade tersenyum, sembari mengangguk pelan. "Ikut orang tuamu ke London, sayang. Aku harap tujuh tahun dari sekarang, cucuku sudah menjadi orang sukses." Balasnya lembut. Naruto balas menyengir lebar, membuat Kushina maupun Minato tercengang, itu adalah hal yang tak pernah ditunjukkan pada mereka. Senyum tulus Uzumaki Naruto, tersimpan dan hanya tertuju untuk neneknya tersayang. Tanpa tahu itu saat terakhir bagi Tsunade sebelum ia benar-benar kehabisan waktunya.

'Kau sudah berjuang, dan kau pantas mendapat kebahagiaanmu, Naru.'

.

.

.

Shikamaru menenangkan Kiba yang tak berhenti menangis. Suigetsu berkata ingin mencari angin segar tapi nyatanya lelaki itu tak berbeda dengan Kiba, karena dia menangis di atap sekolah. Kabar kepindahan Naruto benar-benar menjadi kabar buruk bagi mereka berempat. Tidak ada yang tahu kenapa dan alasan dibalik kepindahannya. Tapi yang jelas, Shikamaru sedikit kecewa. Kenapa Naruto tidak mau bercerita? Bukankah mereka sahabat? Shikamaru selalu mendoakan kebahagiaan Naruto. Dan tahun demi tahun telah berlalu begitu cepat.

Sasuke hendak menjelaskan semuanya namun dia tidak tahu jika hari itu adalah hari terakhir baginya untuk melihat wajah Naruto. Lelaki itu menunggu beberapa minggu, sampai dia merasa putus asa, frustasi karena Naruto seolah hilang. Gadis yang sudah menempati posisi khusus dalam hatinya itu seakan tidak pernah ada. Dia bertanya pada teman-temannya, dan hasilnya nihil. Sasuke mengira jika ini adalah hukuman untuknya. Dia tetap menghabiskan waktu di café itu, sampai akhirnya dia memutuskan untuk membeli café tersebut dan merenovasinya, merombaknya dan mengganti suasana yang ada. Café yang diberi nama baru yaitu 'Sunflower's Café' menjadi pusat perhatian karena tentu saja pemiliknya tampan dan harga yang ditawarkan untuk setiap menu terbilang murah. Ada saja mahasiswi dan siswi genit yang sengaja datang untuk melihat Sasuke. Pria yang tak bisa dibilang muda itu selalu ada di cafenya, duduk seorang diri, melihat jalanan dengan fokus.

Sebenarnya Itachi, atau kakaknya, sering mengomeli Sasuke yang masih betah single. Keluarga Uchiha juga sudah berupaya menjodohkan Sasuke karena tentu saja, lelaki itu sudah berusia tiga puluh dua tahun dan belum ada rencana untuk menikah. Apa lagi selain menunggu Naruto? Sampai-sampai Itachi bosan mendengar alasan itu.

"Ya Tuhan, Otouto! Naruto tidak akan marah kalau kau menikah duluan, ayolah jangan kenakanakkan begini."

"Kau tidak mengerti, Aniki. Aku sudah janji untuk menunggunya."

Tujuh tahun. Dan selama tujuh tahun pula, Sasuke menanti orang yang sama. Gadis ceria yang memiliki senyum paling indah. Gadis bersurai mentari yang gemar mengganggunya dengan celotehan tak penting mengenai kehidupan sekolahnya. Sekaligus gadis yang masih menjadi cinta pertamanya. Lucu bukan? Sasuke, pria mapan berusia tiga puluh dua tahun, sengaja menunggu tujuh tahun demi seorang gadis atau yang sekarang sudah menginjak usia dewasa, bernama Uzumaki Naruto.

KRINGGG!

"Ah selamat datang, nona. Ingin memesan sesuatu?" ujar waitress ramah. Dia sedikit terpesona akan kecantikan wanita muda di depannya. Rambut pirang dan bola mata sewarna ocean seakan membius para pria yang kebetulan memenuhi meja pelanggan. Wanita itu tersenyum.

"Aku mau duduk di dekat jendela, di sebelah pria itu, bolehkah?"

Sang waitress tampak ragu. Itu tempat tetap bagi bos besar nya. Pemilik café ini. Tapi menolak keinginan pelanggan sama saja mencari mati.

"Ehem, mari saya antar nona." Ujarnya kaku. Naruto, yang baru saja menginjakkan kakinya ke Jepang, baru sampai tadi pagi usai mengunjungi makam Tsunade, tersenyum kecil. Tentu saja dia tahu siapa pria itu. Dia adalah penutup kisah cinta Naruto.

Bahkan saat Naruto duduk di sampingnya, Sasuke tampak tak peduli, mata hitamnya terus memandangi jalanan yang ramai. Naruto terkikik. Satu tangannya merapikan helai rambut yang menutupi matanya.

"Jadi, bagaimana kabarmu, Sasuke-san?"

Mendengar suara yang begitu familiar ditelinganya, membuat Sasuke menoleh, lambat dan ingin memastikan apa benar pemilik suara ini ada di dekatnya. Naruto tersenyum cantik di sampingnya, image nya tak lagi bocah ingusan yang dulu mengejarnya, rambutnya yang memanjang digelung rapi. Kemeja putih dan celana drill berwarna hitam, dan tak lupa blazer sewarna navy membuat penampilan Naruto memikat banyak orang. Sasuke sampai tak bisa mengucapkan apapun. Dia terdiam beberapa saat.

"Sudah puas menghukum ku, Dobe?"

Naruto tertawa sekali lagi. "Menurutmu?" balasnya santai.

Dan Sasuke tak perlu mendengarkan omelan panjang Itachi lagi. Karena dia sudah bisa membuktikan jika Naruto nyata. Bukan sekadar alasannya untuk menolak perjodohan.

"Tujuh tahun pergi tanpa kabar, menghilang begitu saja. Kau pikir aku bisa tenang? Kemana saja selama ini?" tanya Sasuke tak menghilangkan kejutekannya, namun dalam hati dia khawatir.

Naruto tak bisa menahan diri untuk tidak terlihat senang. Mendengar kekhawatiran yang Sasuke tunjukkan benar-benar membuat moodnya naik kembali. Tujuh tahun ya? Naruto meraih impiannya menjadi Psikiater dan lulus S2 di usia dua puluh empat tahun. Setahun setelah menetap di London, Naruto mendapat kabar duka bahwa neneknya tersayang, meninggal akibat serangan kanker payudara. Dia menangis selama seminggu penuh, menolak makan dan mengurung diri di kamar. Kehadiran kedua orang tuanya membantu banyak. Mereka sudah tak lagi membahas kepintarannya di depan publik. Kyuubi menjadi sosok yang penyayang setelah kecelakaan menimpanya, dan Sasori yang tidak bosan peduli membuat hati Naruto perlahan luluh dalam dua tahun. Dia ingin sembuh dari masa lalunya. Dia ingin membantu orang lain dalam mengatasi masalah mereka, ketika mereka tak tahu harus menguatarakan pada siapa. Dan Kushina mendukung impian putrinya dalam bidang Psikologi.

Naruto berhasil menjadi mahasiswa peraih IP terbaik satu angkatan dan mendapat beasiswa penuh untuk melanjutkan ke S2. Untuk itulah dia sengaja memberi kejutan pada Sasuke. Dia mau membuktikan, jika Naruto bukan lagi remaja labil yang mudah depresi.

"Jadi sekarang kau menjadi Psikiater?"

Naruto mengangguk, ia menyesap Americano yang baru saja diantar waitress. "Aku bekerja di Rumah Sakit Konoha, baru diterima hari ini." Ucapnya. Sasuke tersenyum tipis. Gadis yang dulu ia remehkan, sekarang berubah menjadi wanita dewasa yang mengagumkan.

"Sudah punya pacar? Kalau belum, mau ku lamar tidak?"

Dan Naruto tidak berhenti tertawa selama sepuluh detik setelah mendengar lamaran tidak romantis dari mulut Sasuke.

THE END


Note : Akhirnya satu fanfic terselesaikan *lap keringat* sebenernya ini mau UAS loh, tapi saya nakal dikit buat nglanjutin fanfic ini. Yah matkul pertama buat UAS itu terbilang susah, butuh apalan dan pemahaman dan jujur aja saya belum siap buat belajar, mana banyak materi yang harus saya apalin. Fanfic yang lain masih dikerjain, jangan bosen nunggu ya, author kayak saya butuh banget motivasi atau bener-bener lupa sama plot sendiri *jduak*

Regards,

Amanda Lactis