Fanfiction

Cast : Jongin!GS, Sehun

Genre : Romance, Drama

Summary : Jongin terlahir dari keluarga kaya raya, namun hal itu yang membuat hidupnya semakin sulit, karena dia tidak seperti anggota keluarganya yang lain. Tidak seperti kedua saudaranya, Jongin bukanlah gadis yang cantik—tidak jelek juga kok, dia tidak memiliki nilai akademik yang patut dipamerkan atau keahlian yang membuat dia pantas diperhitungkan. Jongin benar-benar tidak memiliki sesuatu yang spesial. Hidup Jongin jungkir balik hanya dalam semalam, hidupnya berubah. Pangeran yang selalu dia khayalkan bukanlah sekedar khayalan lagi.

Chapter Fifteen

"Kau kenapa sayang?"

"Jangan tanya aku kenapa dasar kau pria bermuka dua!"

"Bermuka dua?"

"Pergi kau dari hadapanku! Kita putus! Aku membencimu! Aku membencimu!" Gadis bermata sipit yang mengenakan pakaian sangat rapi lengkap dengan coat berbulu yang terlihat mahal dan tas jinjing brand terkenal menghentakkan kakinya marah sambil menunjuk arah pintu keluar yang berada diapartemen kecilnya.

"Baekhyun, katakan apa salahku.." Pria yang sedang diteriaki gadis bernama Baekhyun itu benar-benar bingung akan sikap kekasihnya itu. Tadi pagi semua baik-baik saja, kenapa begitu ia pulang gadisnya jadi histeris seperti ini?

"Kau tidak salah! Aku yang salah! Aku yang bodoh karena mempercayai cintamu! Aku yang bodoh karena sudah masuk dalam perangkapmu!" Baekhyun menjerit kencang dengan mata menghitam, make-up yang ia kenakan luntur semua akibat air matanya yang semakin deras.

"Perangkap? Perangkap apa?" Si pria semakin bingung. Biasanya, pria yang bernama Park Chanyeol ini selalu cerdas dan berpikir cepat tapi kali ini ia sungguh tidak paham. Disentuhnya kedua lengan Baekhyun, berharap kekasihnya itu bisa sedikit lebih tenang. "Baekki, Baekhyun, katakan dengan jelas.."

"Ka-kau…kau hanya memanfaatkanku.." Baekhyun berkata sambil terisak. "Kau hanya mendekatiku untuk membantu temanmu itu…hiks…"

Otak Chanyeol mulai bekerja kembali.

Chanyeol mulai mengerti apa yang dibicarakan Baekhyun.

"Dari mana kau bisa menyimpulkan hal seperti itu? Apa kau mendengar apa pembicaraanku dengan Sehun? Apa kau berada disana untuk mendengar dari awal sampai akhir?" Chanyeol mencengkram lengan Baekhyun dengan kencang.

Baehyun hanya terisak dan bergumam tentang betapa jahatnya Chanyeol.

"Dengarkan aku Baekhyun." Chanyeol menarik wajah Baekhyun agar memandang lurus kedalam matanya. "Aku tidak pernah berusaha melukaimu, sampai detik ini semua yang ku lakukan adalah melindungimu."

"Kau bohong…kau bohong…" Baekhyun menggeleng tidak percaya. "Kau akan meninggalkanku setelah kau berhasil membantu Sehun, setelah aku masuk penjara dan setelah Jessica Unnie kehilangan semuanya!"

"Baekhyun tolong tenangkan dirimu dan dengarkan aku." Chanyeol berusaha agar tetap tenang. "Kau tahu kan jika kau bisa masuk penjara karena semua perbuatanmu? Kenapa kau masih melakukannya?"

"Hiks…ka-karena…Jessica Unnie baik padaku. Aku hanya menolongnya." Baekhyun menjawab dengan suara bergetar. Chanyeol yang melihat Baekhyun begitu terpukul karena merasa ia khianati tidak ingin membicarakan hal ini lebih jauh lagi. Baekhyun harus tenang dulu dan dia tidak ingin melihat Baekhyun mengeluarkan air mata lagi. Sepasang mata cantik itu hanya boleh berbinar bahagia.

"Berhenti menangis, melihatmu begini membuat aku terluka." Chanyeol memeluk Baekhyun erat, ia tenggelamkan wajah Baekhyun didadanya. "Satu hal yang bisa ku pastikan, aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu Byun Baekhyun."

Baekhyun semakin menangis didalam pelukan Chanyeol.

Ia bingung dan yang jelas ia malu.

Malu karena kebusukannya diketahui oleh orang yang sangat ia cintai.

"Mau ku buatkan teh hangat?" Chanyeol berkata setelah hampir sepuluh menit berdiri dengan Baekhyun didalam pelukannya.

"Aku mau cokelat hangat saja." Baekhyun berkata pelan.

"Baiklah, aku buatkan." Chanyeol berjalan meninggalkan Baekhyun diruang tengah. Ia bisa melihat jika Baekhyun masih bingung menghadapi situasi ini dan Chanyeol mengerti. Mereka memang butuh bicara.

"Kim Jongin Sunbae?" Sebuah suara berat mengejutkan gadis manis yang duduk didalam perpustakaan yang dipenuhi oleh siswa-siswi tingkat akhir.

"I-iya?" Kim Jongin, gadis yang dipanggil terlihat sangat terkejut melihat siapa yang memanggilnya. Adik kelasnya yang terkenal sebagai bad boy dan pembully disekolahnya, Kim Taehyung.

Jongin sudah menunggu adik kelasnya itu menyerahkan sesuatu padanya. Entah sebuah surat, kantong kertas atau bahkan kotak besar yang beberapa minggu belakangan sering ia terima. Namun tindakan Taehyung selanjutnya membuat Jongin bingung. Taehyung menarik kursi kosong disebelah Jongin dan duduk disana. Jantung Jongin berdegup kencang. Hal apa lagi yang akan ia terima dari pemuda ini?

"Sunbae, aku ingin minta maaf." Taehyung berkata dengan suara beratnya. Kepalanya yang biasanya selalu mendongak dan angkuh kini menunduk. Tidak ada keangkuhan pada diri Kim Taehyung sama sekali.

"H-huh?"

"Tolong jangan laporkan aku dan Baekhyun Noona ke polisi." Taehyung memandang Jongin dengan mata ketakutan dan suara yang bergetar. Jongin kini bukan hanya bingung, ia juga sangat terkejut mendengar nama Baekhyun keluar dari bibir Taehyung.

"Aku minta maaf Sunbae. Aku minta maaf karena sudah mengirimimu pesan-pesan itu dan juga paket-paket yang—"

"Taehyung." Jongin memanggil nama Taehyung agar adik kelasnya itu diam. "Apa kau membenciku?"

"Tidak Sunbae." Taehyung menggeleng. Untuk apa ia membenci Jongin? Kenal saja tidak.

"Lalu kenapa kau mengirimiku hal-hal jahat seperti itu?" Sikap keibuan Jongin muncul melihat Taehyung yang seperti ini. Meskipun ia dan Taehyung sama sekali tidak saling mengenal, melihat adik kelasnya duduk dengan wajah menunduk dan suara yang bergetar membuat hati Jongin lemah.

"Karena aku disuruh."

"Kenapa kau mau melakukan hal seperti itu?"

"Agar aku bisa makan." Suara Taehyung benar-benar kecil sekarang. Jongin mengela nafas panjang, sudah ia duga pasti semua ini ujung-ujungnya adalah masalah keuangan. "Sunbae, aku mohon jangan laporkan aku dan Baekhyun Noona. Aku bisa dikeluarkan dan Baekhyun Noona bisa kehilangan pekerjaannya.."

"Apa Baekhyun membenciku? Apa karena aku pernah mempermalukannya di airport waktu itu?" Jongin bertanya lagi. Dengan adanya Taehyung yang berkata seperti ini, Jongin jadi bisa menanyakan motivasi Baekhyun kenapa ia berulang kali mencoba menjatuhkannya.

Apa hanya karena suruhan Jessica?

Apa karena uang?

Atau Baekhyun memang memiliki ketidak sukaan padanya atau Sehun?

"Sunbae mengenal Baekhyun Noona?" Taehyung kini yang terlihat terkejut.

"Tidak. Aku hanya sering mendengar namanya." Jongin menjawab dengan senyum diwajahnya.

"Apa Sunbae sudah tahu kalau ini semua ulah Baekhyun Noona?"

Jongin mengangguk pelan.

"Kenapa Sunbae tidak melaporkanku?" Dahi Taehyung membentuk kerutan bingung.

"Karena aku merasa tidak memiliki masalah denganmu atau Baekhyun." Jongin menjawab bijaksana. "Kenapa kau tiba-tiba mengatakan hal ini padaku?"

"Baekhyun Noona semalam kelihatan kacau sekali dan dia menggumam tentang masuk penjara dan juga sesuatu tentang Sunbae. Aku yakin jika perbuatan Baekhyun Noona sudah ketahuan jadi aku mohon…" Taehyung menatap Jongin dengan pandangan putus asa. "Aku mohon jangan laporkan Baekhyun Noona ke kantor polisi."

"Tidak. Aku tidak akan melapor ke polisi." Jongin tersenyum lagi. Ia memang tidak ada niat melaporkan Baekhyun, ia ingin menangkap ikan yang lebih besar. Lagi pula ia dan Sehun sudah berjanji pada Chanyeol untuk melindungi Baekhyun apapun yang terjadi.

Taehyung diam saja. Ia tidak menyangka jika Jongin akan dengan mudahnya mengiyakan permintaannya. Jongin hanya menatap Taehyun dengan sorot mata kasihan, dia sedih melihat Baekhyun dan Taehyung harus rela melakukan hal-hal serendah itu hanya demi uang.

"Kau tahu siapa yang menyuruh Baekhyun melakukan ini semua?"

Taehyung diam, bibirnya ia gigit dan terlihat gugup.

"Kau tidak bisa mengatakannya?"

"Jessica." Taehyung menjawab cepat. "Aku awalnya tidak ingin campur dengan urusan Baekhyun Noona tapi dia sangat tertekan dan butuh bantuanku." Taehyung berkata cepat dengan wajah gugup.

Jongin mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda jika ia bisa mengerti apa yang Taehyung katakan. Biarpun Taehyung belum menceritakan seluruh ceritanya, ia bisa meraba-raba bagaimana Baekhyun bisa menjadi kaki tangan Jessica.

"Aku tidak bisa berbuat banyak karena memang Jessica banyak membantu Baekhyun Noona. Aku berusaha—aww!"

"YA! Jauh-jauh dari Jongin!" Suara cempreng terdengar memekakkan dalam perpustakaan yang sepi. Taehyung tiba-tiba merasa rambutnya ditarik oleh sebuah tangan hingga ia nyaris jatuh dari kursinya.

"Kyung! Hentikan!" Jongin menarik Taehyung agar tubuhnya tidak terjerembab keatas lantai perpustakaan. "Kau tidak apa?"

"I-iya Sunbae." Taehyung dengan terhuyung berusaha duduk kembali. Diusapnya kulit kepalanya yang terasa sakit karena jambakan kakak kelasnya itu. Biarpun Kyungsoo seorang wanita, Kyungsoo memiliki kekuatan yang luar biasa. Banyak murid pria yang tidak berani mengganggu Kyungsoo.

"Kyung, dia tidak melakukan apa-apa padaku!" Jongin mendesis pelan. Wajahnya penuh rasa bersalah pada murid-murid lain yang juga berada diperpustakaan. Ditariknya Kyungsoo duduk disebelahnya, biarpun gadis imut itu masih melotot tajam pada Taehyung.

"Kau akan mati ditangan Sehun!" Kyungsoo berkata tajam pada Taehyung.

"Tidak akan ada yang mati." Jongin mencubit Kyungsoo agar gadis itu tidak mengatakan hal yang aneh-aneh karena Taehyung terlihat sangat takut mendengar ucapan Kyungsoo. Sungguh pemandangan yang aneh karena Taehyung tidak pernah terlihat takut akan apapun.

"Lanjutkan apa yang sedang kau ceritakan tadi." Jongin berkata pada Taehyung, tidak memperdulikan Kyungsoo disebelahnya.

"Uhm, aku tidak tahu begitu banyak karena Baekhyun Noona lebih sering berada dirumah keluarga Hwang. Yang aku tahu Baekhyun Noona memang berteman dengan Jessica dan ia selalu melakukan apapun yang diminta Jessica." Taehyung berkata pelan.

"Apa Baekhyun pernah menceritakan tentang Jessica padamu?" Jongin bertanya lagi.

"Tidak pernah Sunbae. Aku mengetahui ini semua bukan dari Baekhyun Noona. Aku hanya mendengar dari orang sekitarku. Tentang hubungan Sunbae dengan Sehun, lalu Baekhyun Noona yang memintaku mengirim uh, kado-kado itu pada Sunbae. Begitu Baekhyun Noona memintaku untuk memberikan semua itu, aku langsung paham jika semua ini ada hubungannya dengan Jessica."

Kyungsoo yang sedari tadi masih memandang sinis kearah Taehyung kini memasang telinga tajam-tajam pada seluruh kata yang dikeluarkan oleh adik kelasnya itu.

"Jadi semua ini hanyalah dugaanmu saja?" Jongin bertanya lagi.

"Iya. Aku memang tidak memiliki bukti kalau itu yang Sunbae tanyakan." Taehyung tentu tahu apa maksud segala pertanyaan Jongin. Kakak kelasnya ini ingin menangkap Jessica dan menghentikan segala perbuatan tidak masuk akal gadis itu.

Ketiga siswa itu terdiam.

"Aku siap membantu Sunbae kapanpun asalkan jangan laporkan Baekhyun Noona ke kantor polisi." Taehyung berkata memecah keheningan.

"Tentu saja aku tidak akan melaporkan Baekhyun." Jongin tersenyum simpul sedangkan Kyungsoo membelalak tidak percaya dengan ucapan sahabatnya barusan. Dengan segera Jongin memberikan tatapan 'nanti akan kuceritakan' pada Kyungsoo agar temannya itu tidak mengeluarkan jurus omelannya.

"Baekhyun minta putus."

"APA?!"

"Bukankah kau sudah menjelaskan padanya?"

"Kenapa dia minta putus?"

"Semuanya, tenang. Biar Chanyeol Oppa bercerita dulu." Jongin yang paling tenang menenangkan tiga orang yang melotot terkejut dan terlihat siap akan menghujani Baekhyun dengan jutaan pertanyaan.

"Dia bilang dia lebih butuh uang dari cintaku."

"HAH?!" Kini Jongin ikut menyuarakan keheranannya.

"Dia bilang dia akan tetap membantu Jessica karena uang adalah hal yang nyata sedangkan cinta…" Chanyeol tidak melanjutkan kata-katanya karena suaranya seolah hilang. Hatinya masih teriris-iris dengan ucapan Baekhyun semalam.

"Tenang Bung." Sehun dengan canggung mengelus punggung sahabatnya. Biarpun mereka teman baik, sebagai sesama pria agak aneh melakukan kontak fisik seperti ini.

"Aku hanya tidak percaya kalau Baekhyung lebih memilih Jessica. Aku juga bisa memberinya uang kalau itu yang inginkan! Semester depan aku sudah selesai kuliah dan aku bisa segera bekerja!" Chanyeol berkata dengan suara putus asa.

"Aku tahu, aku tahu. Selain itu kau juga memiliki penis yang Jessica tidak punya, kenapa Baekhyun malah memilihnya?" Sehun berkata dengan sedikit bercanda. Jongin dan Kyungsoo sebagai wanita mendelik tidak percaya dengan ucapan Sehun. Namun Taemin terkekeh pelan mendengarnya.

Well, boys will always be boys.

Ucapannya selalu jorok kalau sudah bertemu dengan teman-temannya.

"Aku akan menjadi kaya raya setelah ini! Iya kan Hun?" Chanyeol mengacak rambutnya frustasi.

"Iya, iya. Kau akan jadi kaya raya setelah lulus kuliah." Sehun hanya mengiyakan. "Kau akan jadi kaya raya dan akan mendapatkan gadis yang jauh lebih cantik dari Baekhyun lalu dia akan menyesal setengah mati karena telah meninggalkanmu."

"Tapi aku cuma mau Baekhyuuun…" Chanyeol tiba-tiba merengek membuat empat orang lain yang berada dikamar Jongin mendelik dan merinding. Ternyata Chanyeol bisa lebih menjijikkan dari Sehun ketika patah hati. Paling tidak Sehun hanya bersikap sok imut dan manja ketika sedang mabuk. Chanyeol? Pria itu bahkan tidak menyetuh alkohol sama sekali!

"Iya, kau mau Baekhyun tapi dia bukanlah gadis yan—"

Tok! Tok!

Ucapan Sehun terputus oleh suara ketukan dipintu kamar Jongin.

"Masuk!" Jongin berkata keras. Yang mengetuk kamarnya jelas salah satu pelayan dirumah karena tidak ada anggota keluarganya bahkan Kyungsoo yang masuk ke kamarnya dengan mengetuk pintu.

"Permisa Nona, dibawah ada yang mencari Nona."

"Siapa?"

"Byun Baekhyun."

Kelima orang disana tersentak dan membelalak.

Baru saja mereka membicarakan Baekhyun, kenapa tiba-tiba gadis itu ada dibawah? Mencari Jongin pula! Sehun langsung terlihat tegang dengan ucapan si pelayan. Chanyeol tidak kalah gugupnya, ia masih belum siap untuk melihat gadis yang sangat ia sukai sekarang. Apalagi melihat gadis itu menghancurkan hidup sahabatnya.

"Tenang Park. Kau bisa disini saja kalau tidak ingin bertemu Baekhyun." Sehun berdiri seraya menepuk-nepuk bahu Chanyeol. Jongin ikut berdiri mengikuti Sehun. Taemin dan Kyungsoo hanya bertukar tatapan, sama bingungnya dengan alasan kehadiran Baekhyun.

Sehun meraih tangan Jongin sebelum keduanya berjalan keluar kamar Jongin dengan wajah luar biasa gugup. Sehun berusaha meredakan rasa gugupnya dengan meremas tangan Jongin dan well, itu sedikit berhasil.

"Tenang Sehun, semua akan baik-baik saja." Jongin mengelus lengan Sehun.

"Aku tahu." Sehun tersenyum dan meremas tangan Jongin sekali lagi.

Didepan pasangan kekasih itu, duduklah seorang gadis cantik yang terlihat resah. Tangannya meremas-remas ujung pakaiannya dan beberapa kali gadis itu menjilat bibirnya menunjukkan kegelisahannya.

"Ada apa Baekhyun?" Sehun bertanya dengan suara seramah mungkin.

"A-aku ingin memberi tahu kalian sesuatu." Baekhyun berkata dengan suara begitu pelan.

Sehun dan Jongin diam, menunggu kelanjutan ucapan Baekhyun.

"Jessica sedang dalam perjalanan kemari."

"APA?!" Sehun langsung berteriak kencang. Jongin melotot dan otot-otot tubuhnya menegang.

"Je-jessica baru saja naik ke pesawat dari London setengah jam yang lalu. Besok pagi mungkin ia baru akan tiba di Seoul." Baekhyun berkata lagi.

Sehun dan Jongin mengeluarkan desahan lega. Mereka pikir Jessica akan tiba dikediaman Jongin dalam setengah jam. Desahan lega itu mengundang tanya bagi Baekhyun, bagaimana bisa mereka masih bisa mendesah lega?

"Kau tahu apa yang akan Jessica lakukan disini?" Sehun bertanya penasaran.

"Aku tidak tahu. Dia hanya menyuruhku memesankan hotel dan mobil." Baekhyun menjawab gugup. "Uh, boleh aku bertanya satu hal?"

"Silahkan." Sehun menjawab.

"A-apakah Chanyeol ada disini?" Suara Baekhyun tercekat menyebut nama Chanyeol.

"Uh, kau mau menemuinya?" Alis Sehun naik sedikit. Kedatangan Baekhyun dan ucapan Baekhyun barusan memang sedikit aneh. Barusan Chanyeol mengatakan jika Baekhyun berada dipihak Jessica dan tiba-tiba kini Baekhyun datang memperingatkan mereka lalu mencari Chanyeol.

Masa hanya dalam semalam Baekhyun bisa berubah pikiran?

"Uhm, aku ingin menjelaskan sesuatu padanya."

"Baek, kau tidak sedang mempermainkan kami kan?" Sehun bertanya dengan wajah serius.

"Sehun…" Jongin menatap Sehun dengan wajah tidak setuju.

"Kenapa? Bisa saja kan dia sedang berbohong pada kita." Sehun balik menatap Jongin.

"Aku rasa Baekhyun tidak berbohong Hun. Untuk apa dia berbohong pada kita jika Jessica sedang dalam perjalanan kesini?" Jongin memandang Sehun, memberi pengertian pada Sehun. Gadis ini mengerti jika Sehun bisa sangat paranoid jika bersangkutan dengan Jessica tapi kali ini Jongin percaya dengan Baekhyun.

"Aku…uh, aku tahu aku banyak melakukan hal tidak benar dalam hidupku dan semua itu hanya karena uang, kemewahaan, popularitas. Saat ini aku ingin berhenti, aku tidak ingin menyeret orang-orang disekitarku kedalam lubang busukku." Baekhyun berkata lirih dengan wajah menunduk.

"Aku mengerti Baek. Kau adalah gadis hebat karena bisa menemukan jalan pulangmu kembali setelah tersesat begitu lama. Jika itu adalah aku, mungkin setelah aku terkena getahnya, baru akan mengerti jika yang aku perbuat salah." Jongin berkata lembut. Jongin tidak ingin menyalahkan Baekhyun karena memang baginya Baekhyun adalah gadis berhati besar yang mau mengakui kesalahannya.

Baekhyun terdiam.

Dia malu, sangat malu.

"Biar aku panggilkan Chanyeol." Jongin bangkit berdiri.

"Tu-tunggu. Aku…aku tidak tahu apakah aku sudah siap dan Chanyeol pasti marah sekali padaku dan…dan…" Baekhyun mendongak. Hidungnya berwarna merah, begitu juga dengan matanya.

"Chanyeol tidak marah, Baek. Dia hanya…kecewa. Lebih baik kau obati kekecewaan Chanyeol, bagaimana? Aku panggilkan Chanyeol sekarang, oke?" Jongin berkata dengan lemah lembut.

"Ba-baiklah."

Sehun berusaha membuang jauh-jauh pikiran buruknya akan Baekhyun karena jauh didalam lubuk hatinya ia yakin dengan insting Jongin. Jika Jongin berkata Baekhyun itu baik maka Sehun akan mempercayainya.

Tidak lama kemudian, Jongin dan Chanyeol terlihat berjalan turun dari lantai dua. Chanyeol menunduk dan Jongin terlihat tenang. Begitu matanya bertabrakan dengan Jongin, ia tahu jika ia harus meninggalkan ruang tamu itu.

Jadi, disinilah mereka.

Dibalkon kamar Jongin, memandang taman rumah Jongin yang begitu asri. Sehun memeluk gadisnya dari belakang dan menyenderkan kepalanya dibahu Jongin dengan manja. Di dalam Kyungsoo dan Taemin sedang sibuk berdebat mengenai warna rambut Kyungsoo yang kelewat norak dan ketidaksukaan Taemin akan rambut Kyungsoo yang menurutnya akan botak dalam beberapa tahun kedepan karena terlalu sering bergonta-ganti warna.

"Aku tidak percaya gadis sesempurna dirimu adalah milikku." Sehun bergumam pelan namun terdengar sangat jelas ditelinga Jongin.

"Harusnya aku yang berkata seperti itu." Jongin terkekeh malu. "Kau tampan sedangkan aku—"

"Ssstt, aku benci sekali kalau kau bilang seperti itu." Sehun berdiri tegak dan membalik tubuh Jongin agar berhadapan dengannya. "Kenapa kau masih sering berpikir seperti itu?"

"Masalahnya itu kenyataan Hun. Aku tidak semenarik Luhan Unnie atau teman-teman wanitamu atau—"

"Jongin, kau itu cantik. Bukan hanya cantik malah. Tapi manis, imut, pintar—"

"Aku remidi matematika." Jongin berkata lirih.

"Aku dulu juga remidi matematika tapi aku bisa masuk SNU kan?" Jongin baru saja akan mengatakan sesuatu namun Sehun menatap Jongin tajam agar gadis itu tidak memotong ucapannya. "Kau jago masak, kau pengertian, kau penyabar, kau mempunyai senyum yang manis. Matamu sangat cantik. Dan yang paling penting kau mencintaiku."

Jongin merona.

Ia lupa jika kekasihnya adalah mantan playboy.

"Jangan pernah berpikir kau tidak pantas untukku lagi karena itu menyakitiku." Sehun menangkup wajah mungil Jongin dengan kedua tangannya.

"Hmm, baiklah Tuan Perayu. Kau adalah pangeran tampan dengan kuda putih yang menyelamatkan seorang putri dari hidup monoton yang membosankan. Kau membuat putri ini menjadi lebih bersinar, lebih mencintai dirinya sendiri dan merasakan indahnya dunia."

Sehun tersenyum mendengar ucapan Jongin.

"Sekarang kau jadi perayu ulung Kim Jongin."

"Aku belajar dari ahlinya."

"Awas kau mencoba merayu orang lain selain aku."

"Aku harus terus mengasahnya Oh Sehun."

"YA!"

"Hihihi." Jongin terkekeh melihat wajah kesal Sehun. Keduanya saling menatap dan mengagumi kesempurnaan satu sama lain. Jemari Sehun mengelus lembut pipi Jongin lalu mengecup hidung Jongin sejenak.

"Menurutmu Chanyeol akan baik-baik saja?" Sehun bertanya.

"Tentu saja. Dia akan mendapatkan kembali kekasihnya, kenapa Chanyeol Oppa tidak baik-baik saja?"

"Aku takut jika dia akan terseret kedalam masalah kita."

"Chanyeol Oppa pasti akan terlibat, mengingat ia berusaha melindungi Baekhyun yang merupakan orang kepercayaan Jessica." Jongin menjawab dengan suara sedih.

"Aku rasa Jessica tidak pernah benar-benar memiliki orang kepercayaan. Dia adalah wanita egois, ia hanya memiliki pengikut bukan teman." Sehun menghela nafas panjang. "Kira-kira apa yang akan Jessica lakukan jika ia sampai nanti?"

"Mencari taksi."

"Huh?" Sehun mengernyit heran lalu ia sadar jika Jongin sedang bercanda. "Aku serius Kim Jongin.."

"Apapun itu aku siap." Jongin meremas bahu Sehun pelan. Sehun terlihat sangat tegang jika sudah membahas masalah Jessica.

"Aku takut jika ayahku mendengar tentang hal ini."

"Ayah dan ibuku akan membelamu." Jongin tersenyum menyemangati.

"Ayah dan ibumu kelewat baik padaku." Sehun tersenyum kecil. "Harusnya mereka tidak mau menerima pemuda pembuat masalah seperti aku sebagai calon menantunya. Aku hanya membuat anak gadis mereka yang manis ini menderita."

"Kau tidak pernah membuatku menderita Sehun." Jongin mengalungkan lengannya pada leher Sehun, membuat wajah mereka semakin mendekat.

"Apa kau ingin kucium?" Sehun tersenyum lebar dan memeluk pinggang Jongin erat.

"Bukankah kau yang selalu ingin menciumku?" Sehun terkekeh dan menabrakkan bibirnya dengan bibir penuh kekasihnya. Netra kedua insan itu menutup, menikmati rasa manis dan nyaman karena ciuman lembut yang sedang mereka lakukan.

Keduanya tidak takut.

Keduanya siap menghadapi apapun yang harus mereka hadapi didepan.

"YA! OH SEHUN! LEPASKAN ADIKKU BRENGSEK!" Suara menggelegar datang dari dalam kamar Jongin. Pasangan kekasih itu segera melepaskan karena suara berat yang sudah mereka kenal, suara kakak lelaki Jongin yang sangat protektif pada adik kecilnya.

"Jongin..Jongin..maafkan aku.."

"Tidak apa Hun."

"Aku..aku…" Suara Sehun tercekat, ia tidak tahu harus berkata apa karena ungkapan maaf tidaklah cukup untuk mewakili rasa bersalah yang menggunung didalam dadanya.

"Aku bilang tidak apa. Ini bukan salahmu." Jongin berkata dengan suara sangat pelan, nyaris seperti bisikan.

"Jongin, aku rasa kita tidak bisa menyelesaikan ini sendiri. Kita harus minta tolong ayahmu atau Kris Hyung atau ayahku. Biar aku dimarahi tidak apa asalkan kau dan keluargamu baik-baik saja."

"Sehun, tenanglah."

"Bagaimana aku bisa tenang?! Luhan Noona terluka gara-gara nenek sihir itu! Aku mana bisa ten—" Jongin tidak bisa menangkap omelan dan umpatan Sehun karena kepalanya berdenyut-denyut nyeri.

Baru dua hari semenjak kedatangan Baekhyun untuk memperingatkannya jika Jessica akan datang ke Seoul namun bencana sudah datang. Buruknya, bencana itu tidak lah mencelakainya atau Sehun namun mencelakai orang-orang disekitarnya.

Kemarin salah satu mobil mahal keluarga Kim ditabrak oleh entah siapa, untung saja didalamnya hanya ada supir yang tidak mengalami cidera apapun. Lalu pagi ini Luhan kembali ditabrak oleh entah siapa hingga mengalami patah tulang dan kini koma.

Mungkin Jongin tidak memiliki bukti nyata atas tuduhannya kepada Jessica sebagai orang yang bertanggung jawab atas kecelakaan-kecelakaan yang menimpa keluarganya, namun nurani Jongin sangat yakin jika Jessica-lah biang keladinya.

Jongin marah.

Sangat marah.

Bukan pada Sehun tentu saja, pria itu tidak tahu apa-apa. Bahkan Jongin merasa kasihan pada Sehun yang terlihat begitu depresi dengan adanya bencana-bencana yang menimpa keluarga Kim.

Jongin takut. Takut jika anggota keluarganya akan menjadi korban selanjutnya. Atau perusahaan ayahnya. Atau nama baik ibunya. Jongin tidak tahu seberapa kuat koneksi Jessica di Korea Selatan, namun jika dalam dua hari Jessica mampu mencelakai keluarganya, Jongin yakin jika nenek sihir itu mampu berbuat melewati batas manusiawi jika dibiarkan terus menerus.

"Sehun."

"Ya?" Suara Sehun terdengar cemas. "Kau pucat Jong."

"Sehun, aku ingin kita berhenti."

"A-apa?" Sehun tidak mengerti. Jongin tidak mungkin meminta putus darinya kan?

"Aku ingin hubungan kita berhenti sampai disini." Jongin bicara pelan dengan wajah menunduk, suaranya bergetar.

"Jongin.." Sehun tidak tahu harus bereaksi apa. Jongin meminta berpisah dengannya adalah hal terakhir yang pernah dibayangkan Sehun. "Ka-kau tidak serius kan?"

"Maaf Hun, aku rasa aku tidak bisa mengorbankan anggota keluargaku yang lain hanya karena egoku." Jongin bicara dengan suara tercekat. "Aku bisa melihat kemana ini semua akan berakhir. Sekarang Luhan Unnie lalu Kris Oppa lalu…ayah? Ibu? Lalu Kyungsoo?"

Sehun diam.

"Jongin, aku.." Sehun ingin mengucapkan janji-janji jika ia akan melindungi Jongin dan keluarganya, tapi apalah dia. Sehun mungkin memang berasal dari keluarga kaya raya dengan kekuasaan luas tapi yang ia hadapi saat ini bukanlah manusia biasa tapi manusia tanpa hati nurani.

"Maaf Hun. Sampaikan maafku untuk ayah dan ibumu juga." Jongin masih menunduk, ia tidak sampai hati menatap pria yang dengan segenap hati ia cintai. Tubuh Jongin berputar dan melangkah menjauhi Sehun yang masih berdiri mematung dilorong rumah sakit yang ramai.

Jongin berjalan dengan air mata mulai melelehi pipinya.

Seharusnya ia tahu, hidupnya bukanlah dongeng-dongeng yang akan berakhir bahagia. Ia bukanlah putri cantik jelita yang akan mendapatkan pangeran tampan yang mencintainya lalu hidup bahagia selamanya.

Jongin tetaplah Jongin. Gadis biasa saja, mulai dari fisik hingga prestasinya. Lebih buruk lagi ia berasal dari keluarga terpandang sehingga orang akan dengan mudah melabelinya dengan produk gagal keluarga Kim.

Jongin seharusnya tahu jika Sehun terlalu sempurna untuknya.

Terlalu indah untuk menjadi miliknya.

Terlalu indah untuk menjadi akhir bahagianya.

To Be Continue!

Woah akhirnya ffn sembuh juga yaaa!

Ini udah Author selesai dari kemarin tapi ffn lagi error jadi baru Author update hari ini hehehehehe.

Maaf ya mereka harus putus di chapter ini.

Kalo review-nya banyak bakal Author buat balikan lagi wkwkwkwkwk

Buat yang nungguin Toy sama My Cutest Neighbour tunggu maljum yaaa, lagi on progress. Doain maljum nanti Toy udah selesai wkwkw.

Terima kasih udah mau menunggu^^

Jangan lupa review, kritik dan sarannya hehe.

Gomawo!