~:~
~:~FATE SERIES NEW PARALEL IST 2~:~
~:~
.
.
.
…"Eksekusi Bagi Penentang"…
Ist MnurZahra
Rate : M [18+]/BOCAH DILARANG BACA…!
ARIGATOU J
.
.
.
"cih, minggir kalian pasukan tidak berguna. Mentang-mentang kalian pasukan milik raja, seenaknya mengobrak-abrik dagangan orang. Dan dengar ya, aku sedang menunggu seseorang. Jadi kalian pergi saja dari sini"ujar red marah.
"heee? Berani benar gadis tengil ini! Sebaiknya kita persembahkan pada sang raja untuk dijadikannya mainan, jika raja sudah bosan bisa kita buat mainan ini bocah"seringai prajurit itu.
"APA KAU BILANG, BERANINYA KAU MEMANGILKU GADIS TENGIL, lihat saja akan aku habisi kau"ujar red sudah tidak bisa menahannya lagi.
"baiklah sil – "
Sebelum prajurit itu menyelesaikan perkataannya, red dengan cepat menebas* lebernya dan membuat sang prajurit tumbang tanpa kepala yang terpasang. Darah pun berceceran dimana-mana.
"HUH, ITU BALASAN JIKA KAU MENYEBUTKU GADIS. DASAR MANUSIA RENDAH"ujar red.
"SIALAN KAU GADIS TENGIL, TIDAK AKAN KUBIARKAN. KALIAN SEMUA CEPAT TANGKAP DAN RINGKUS DIA"ujar sang komandan dari kejauhan.
"HUH, MAJULAH KALIAN SEMUA. HIAAAAAATTTTT!"
….
.
SRAK… SRAK…
"ah, Cuma burung rupanya. Tapi kenapa perasaanku tidak enak sekali? Apa aku kembali saja?" saber yang sedang berjalan ke hutan untuk berburu merasa ada yang tidak beres. Terlebih lagi ia terus terbayang wajah red yang akan menyambutnya nanti.
"jika aku kembali, red pasti marah kalau aku belum mendapatkan buruan. Tapi kenapa perasaanku tidak enak sekali hari ini? Apa terjadi sesuatu kah?!"
SREK…SREK… SRAKKK…
"…?"
Saber yang mendengar pergerakan disemak-semak tidak jauh ia berada pun mulai bersiaga jikalau ada bahaya yang mengancam. Dengan perlahan ia pun mendekat dan menyiapkan anak panah yang sudah ia buat dan siapkan sebelumnya.
Mengintip dari balik semak saber pun melihat seekor rusa yang ukuranya cukup besar dan memiliki bulu emas kecoklatan yang indah. Selain itu rusa tersebut tidak mengetahui kalau saber telah mengincarnya sejak awal.
'Wah… hari ini aku beruntung sekali. Red pasti senang kalau aku membawa rusa itu untuk makan malam' ujar saber yang sudah sangat kelaparan dan adrenalinnya terpacu.
Dengan perlahan saber membidik rusa tersebut dengan hati-hati dan juga teliti. Menajamkan mata dan pendengarkan sangat penting untuk membidik target. Keseimbangan dan skill yang pas bisa mempengaruhi kualitas melesatnya anak panah. Dan lebih penting saber harus tetap tenang dan tidak terburu-buru.
1… Kret
2… Sreet
3… Trakk
Shuuttt… Wussshhhh…
Craaassshhh…!
.
.
.
.
.
Craaassshhh…!
Suara benda yang tersayat dan juga terluka terdengar jelas. Dan red hanya bisa membelalakkan kedua matanya. Rasa sakit dan juga nyeri begitu terasa di balik tubuhnya yang ringkih dibalut baju terusan panjang.
Darah segar pun menciprat sampai ketanah, dan yang red lihat adalah semua semakin redup dan gelap. Bahkan ia sudah tidak sadar kalau tubuhya tumbang diatas tanah dan debu.
TRANG… KLONTANGGG!
Suara pedangnya juga ikut tumbang menyusul sang tuan. Semua gelap dan gelap, namun red masih mendengar suara dari prajurit sialan tersebut dengan jelas. Mereka seperti bergetar saat bicara pada seseorang, namun kesadaran red semakin redup dan redup hingga…
"S…sa…b.,,ber-…s…san, To…long…"dan akhirnya keluar sudah kalimat terakhir dari red sebelum dirinya tidak sadarkan diri.
…..
.
.
.
"Yang mulia, kami telah membawa beberapa persembahan untuk anda Yang mulia"ucap sang pendeta kepercayaan Gilgamesh, Cardesh.
"Hm, bagus. Kalau begitu persiapkan semuannya, dan selain itu aku ingin menikmatinya sore ini juga. Dan aku tidak suka penolakan!"titah Gilgamesh.
"Baiklah Yang mulia. Selain itu kami juga mendapatkan seorang gadis penyihir di desa bagian utara amprielle."ucap sang pendeta yang membuat sang raja pun terkejut dan langsung berdiri.
"APA?! APA KAU YAKIN CARDESH?"ujar Gilgamesh.
"benar sekali Yang mulia. Kami juga sempat terkejut, namun saya yakin jika dia seorang magus. Saya melihat ia bisa mengeluarkan pedang dari tubuhnya terlebih lagi peang itu tersalukan aura yang kuat seperti mana Yang Mulia"jelas cardesh.
"ck, sialan. Hm, kalau begitu bawa dia menghadapku beserta persembahan yang lainnya. Aku akan menunggunya nanti sore dan jangan sampai terlambat. Kau mengerti!"titah Gilgamesh.
"baiklah Yang mulia, kalau begitu saya permisi"
CLEK…
Suara pintu tertutup pun terdengar diruangan pribadi raja begitu luas itu. Mengetahui ada seorang penyihir di kerajaannya membuat Gilgamesh penasaran dan curiga. Ia menerka kalau ini semua adalah rencana para dewa-dewa yang berusaha membuat Gilgamesh menderita lagi. Memikirkannya membuat kepalanya saki. Terlebih lagi sahabatnya masih dalam keadaan sakit akibat kutukan yang diterimannya karena dirinya.
"kita lihat saja kalian para dewa, siapa diantara kita yang akan menang! Aku kan menguji penyihir yang umpankan padaku dan akan aku hancurkan penyihir itu berkeping-keping. HAHAHAHAHA!"
.
.
.
.
.
Sang fajar sudah ingin berlabuh ke ufuk barat dan panasnya masih terasa dikala musim kemarau ini. Peluh pun menetes di pipi putih poselin milik saber. Setelah mendapat buruan ia membersihkannya dan mengambil dagingnya. Ia melihat keatas kalau hari sudah ingin menjelang sore, jika ia terka-terka hari ini sudah jam 2 siang. Ah, saber lupa kalau ia mengandalkan waktu yang ada disaat masih menjadi servant. Moment dimana ia bersama shirou dan rin masih mengambil peran dari perang Holy Grail.
Menata ulang peralatannya dan memasukkan semua bahan di kantung, saber pun lekas pergi pulang untuk menyuruh red memasak daging ini sebagain makan malam.
Berjalan menyusuri hutan, akhirnya ia sampai di gerbang desa. Akan tetapi ada yang aneh menyelimti perasaan saber.
"sepi sekali? Dimana orang-orang?"ujarnya menyusuri jalan.
Yah, jalanan pun tampak lenggang dan juga begitu sepi. Terlebih lagi suasananya juga berantakan, membuat saber waspada. Lama berjalan akhirnya ia sampai dan betapa heran juga terkejutnya melihat sema pot dan juga bunga-bunga hancur berantakan.
'ada yang tidak beres'
TPESSS…
Karena terlalu focus dengan sekitar saber tidak menyadari dalam ia menginjak sesuatu benda yang amis dibawah kakinya. Dan benar saja itu membuat tubuhnya bergetar penuh tanya.
"I…ini. Darah?"
BRAK…
TAP… TAP… TAP…
"RED? RED? KAU MENDENGARKU? HEI RED? DIMANA KAU? MODRED? Ah~…."
Tanpa sadar dan keadaan bingung saber tidak sengaja memanggil red dengan mendiang anak haramnya itu. Hah, anak haram? Yang benar saja! Bahkan ia tersenyum meremehkan dirinya sendiri mendengar otaknya bicara. Bukankah sebagai orang tua ia harus bertanggung jawab? Cih, bahkan ini adalah murni kesalahannya dan juga si brengsek morgana de lay. Modred hanya alat untuk balas dendam yang diciptakan morgana untuknya. Dan si anak tidaklah tahu apa-apa selain menuruti kata sang ibu. Dan sebagai ayah, saber malah menolak keberadaanya sebagai darah dagingnya.
Mengingat masa lalu akan semakin memperkeruh keadaan. Dan sekarang adalah keberadaan red-lah yag terpenting. Dengan terburu-buru saber menyiapkan diri jika sesuatu terjadi pada red. Mungkin saatnya mereka tahu siapa saber sebenarnya.
Tap… Tap… Tap…
Berjalan cepat saber pun keluar dari rumah red. Dan tepat setelah ia keluar kakinya seperti menginjak sesuatu yang padat.
Trang…
Benar saja, pedang magus milik red tidak jauh dari samping pintu depan rumah. Pedang magus yang ia berikan pada red beberapa hari yang lalu itu sudah berselimut debu. Diambilnya pedang tersebut dan saber pun melihat kilas balik apa yang sebenarnya terjadi.
.
.
"cih, minggir kalian pasukan tidak berguna. Mentang-mentang kalian pasukan milik raja, seenaknya mengobrak-abrik dagangan orang. Dan dengar ya, aku sedang menunggu seseorang. Jadi kalian pergi saja dari sini"ujar red marah.
"heee? Berani benar gadis tengil ini! Sebaiknya kita persembahkan pada sang raja untuk dijadikannya mainan, jika raja sudah bosan bisa kita buat mainan ini bocah"seringai prajurit itu.
"APA KAU BILANG, BERANINYA KAU MEMANGILKU GADIS TENGIL, lihat saja akan aku habisi kau"ujar red sudah tidak bisa menahannya lagi.
"baiklah sil – "
Sebelum prajurit itu menyelesaikan perkataannya, red dengan cepat menebas* lebernya dan membuat sang prajurit tumbang tanpa kepala yang terpasang. Darah pun berceceran dimana-mana.
"HUH, ITU BALASAN JIKA KAU MENYEBUTKU GADIS. DASAR MANUSIA RENDAH"ujar red.
"SIALAN KAU GADIS TENGIL, TIDAK AKAN KUBIARKAN. KALIAN SEMUA CEPAT TANGKAP DAN RINGKUS DIA"ujar sang komandan dari kejauhan.
"HUH, MAJULAH KALIAN SEMUA. HIAAAAAATTTTT!"
.
.
"sial, red tertangkap pasukan kerjaan. Jika begini jadinya ia bisa dalam bahaya. Aku segera bergegas kesana"ujar saber segera berlari kearah kerajaan uruk.
'tunggulah aku red, aku akan menyelamatkanmu'
.
.
.
.
.
"hmmm… ah yah~ terus yah…yang mulia, ah ah ah!"
"mmmnnnn… puah~ yang mulia selalu enak seperti biasanya, ah ah ah~ saya sudah tidak sabar yang mulia"
"ah ah ah hmmmnnn!"
"ssttttt… yang muliaaahh~ lebih cepat ah ah ah~"
Suara-suara erotis begitu terdengar dikamar sang raja. Dimana Gilgamesh dilayani oleh 4 orang wanita cantik nan seksi yang sudah siap memanjakan birahinya. Meraka adalah wanita yang rela tubuhnya dipermainkan sang raja untuk memuaskan nafsunya. Sedangkan mereka yang terang-terangan menentang perintah akan dieksekusi sore ini juga sebelum matahari terbenam. Sore hari sambil melihat matahari terbenam adalah kesukaan Gilgamesh. Dan ia menunggu momentum dimana sang pembantah mati dimakan oleh piaraannya.
.
.
Didalam sebuah sel penjara nan gelap, red yang sudah sadar dari pingsanya akibat melawan para prajurit kerajaan pun harus menghela nafas.
'mungkin ini adalah akhir dari hidupku, aku berjanji pada kakek untuk menjadi gadis yang baik dan tidak ingin menyusahkan orang lain. Aku tidak ingin menjadi kotor seperti gadis-gadis jalang itu' pikir red.
'mereka bahkan menjual dirinya dengan nafsu belakan dan juga kedudukan. Cih, menjijikan. Saber-san, maafkan aku karena tidak bisa menepati janjiku untuk menunggumu. Aku lebih baik mati dari pada dijadikan mainan raja terkutuk itu. Dan terima kasih saber-san telah mau menerimaku menjadi sahabat dan juga patnermu. Aku sungguh bersyukur saber-san, dan sayonara'
Dan kalimat yang dibatin red itu pun menjadi pintu dibukakanya pintu sel miliknya. Sudah saatnya untuk gilirannya melayani sang raja.
.
Saber terus berlari ke arah pusat kota untuk menyelamatkan temannya itu. Bagaimana pun caranya red, harus ia selamatkan. Tidak peduli jika dirinya harus mati dmi red dan harus berhadapan dengan musuh lamanya itu. Demi red, saber rela berkorban apapun.
Saber berjanji, jika penyelamatannya ini berhasil. Ia dan red akan pergi berkelana dan meninggalkan kerajaan ini. Hanya mereka berdua, ya hanya mereka berdua dan tidak ada yang lain.
Menggunakan sihirnya disertai dengan baju zirah berlengkapkan pedang pamungkasnya, saber berlari secepat mungkin untuk mencegah hal buruk terjadi pada red.
'tunggulah, aku modred. Ayah pasti akan menyelamatkanmu~'
.
.
BRAKKK…
Suara nyaring dari pintu yang terpaksa dibuka mengalihkan suasa yang ada didalam sebuah kamar. Para empu yang menikmati pelayanan pun mau tidak mau harus menoleh kesumber suara.
"hooo, jadi kau. Anjing kampong yang sulit menurut itu. Kau manis juga rupanya?"ucap sang tuan kamar, Gilgamesh.
"ma…maafkan kami Yang Mulia, dia terus saja meronta saat kami bawa dan…"
Ucapan sang pengawal berhenti oleh angkatan tangan dari Gilgamesh.
"heee…? Kau mengingatkanku dengan seorang yang aku kenal, dan jika dilihat kalian memang mirip sekali" jelas Gilgamesh sambil mengapit wajah red dengan kasar.
Tak lama…
"ARRRGGHHH…BOCAH SIALAN, DASAR ANJING KAMPUNG. BERANINYA KAU?"teriak Gilgamesh yang melihat tanganya berdarah akibat digigit oleh red.
Para penjaga dan semua orang begitu terkejut dengan apa yang dilakukan bocah ingusan itu kepada taunnya. Terlebih ia terang-terangan melakukan ini kepada Gilgamesh.
Melihat keadaan yang bisa dibilang gawat, satu-satunya cara adalah kabur dari kamar ini. Dan red menemukan sebuah jembatan untuk bisa melakukanya. Ya, sebuah candela tidak jauh dari jangkauannya menjadi titik perhatian dari red. Dengan segala kekuatan yang ia miliki red berusaha lebih keras untuk bisa lari dari sini.
Tap… tap…tap…
BRAAKKK!
Akhirnya ia bisa menjebol candela itu dengan sukses, namun masih ada suatu masalah lagi. Yaitu mengatasi jatuhnya dari ketinggian kamar milik raja Gilgamesh. Berpikir keras akhirnya red berhasil menemukan sebuah ide. Menggunakan kekuatan sihirnya red berusaha untuk membuat sebuah sayap yang berasal dari elemen sihirnya, yaitu api.
Dan benar saja, upayanya berhasil. Dan sengan sayap api itu ia bisa membuka tali yang menyandera tangannya. Mengepakan sayapnya dengan bebas red berusah kabur dari sana. Ia begitu senang bisa kabur dengan mudah. Dilihat dari jangkauannya sihir milik Gilgamesh tidak akan mudah mengenainya. Dan yang red pikirkan sekarang adalah menemui saber serta mengajaknya untuk lari dari sini seepatnya.
.
CRALNKNG… SHHUTTT…!
CRIINNGG…. SHUUTTT…. SHUUUTT… DASSSHHHH… DASSSHHHH…!
Dari arah yang tidak diketahui, sebuah rantai telah menyegel kekuatan serta tubuh red yang notabe masing melayang diudara. Dengan perasaan kesal disertai takut, red pun berusaha melepaskan diri dari belenggu rantai aneh itu, namun tetap saja gagal. Dan terakhir yang ia rasakan adalah tubuhnya terasa melayang jatuh dan pada akhirnya ia hanya bisa mendengar jika tubuh mungilnya bertabrakan dengan tanah lalu menjalar menjadi rasa sakit yang tak terkira, hingga ia tidak mampu berkata-kata.
Hanya satu kata yang bisa ia ucapkan…
"Si…sial"
.
.
.
Tap… tap… tap… tap… tap…!
Bet… wesshh… wesshhh… tringggg…. criinnggg…!
"hah… hah… hah… hah… hah…!"
Suara nafas memburu dari saber menjadi begitu kentara jika ia berusaha lari secepat mungkin ke istana dalam. Dari jarak yang ia perkirakan beberapa menit ia akan sampai disana. Menggunkan sihir dan mananya untuk memperkuat langkahnya cukup menguras tenaga dan adrenalinnya. Terlebih ia harus bersiap atas segala kemungkinan jika harus berhadap dengan Dia.
"dasar bodoh, seharusnya aku tidak meninggalkan dia sendirian. Tunggulah aku modred, aku pasti datang menyelamatkanmu."ucap saber mantab penuh keyakinan.
Menambah kecepatannya saber akhirnya sampai digerbang utama kerajaan. Dengan nekat ia menerobos penjagaan dan membantai habis orang yang menghalangi jalannya. Dan ia mendengar suara riuh rendah tidak jauh dari ia berada sekarang. Mungkin beberapa meter lagi, dan dari suara itu ia bisa merasakan hawa keberadaan red yang terasa begitu lemah. Tanpa pikir panjang saber segera mengarah kesana.
.
.
.
"akh, kepalaku sakit sekali"
"hooo, sudah sadar rupanya? Sebenarnya aku ingin menyeretmu dan mengumpankanmu ke peliharaan-peliharaanku tadi. Dan karena kau sudah sadar, maka hukumanmu mungkin akan terasa lebih menyakitkan lagi"ucap Gilgamesh dengan aura yang mengerikan.
'ah, mungkin ini adalah akhir dari hidupku. Saber-san maafkan aku, dan terima kasih'
Portal – portal milik Gilgamesh sudah bermunculan disekitar area tubuh red yang sudah tidak berdaya. Dan siap menembakan pusaka-pusaka miliknya itu untuk mencincang tubuh red tang sudah tidak berdaya itu.
1…2…3…-
CRINGGG…!
DASSSHHHH…!
DASSHHHHHHH…!
Suara bagaikan anak peluru yang melesat cepat mencapai target dan membinasaknnya sekaligus adalah kemampuan milik raja pahlawan dari uruk, yaitu Gilgamesh. Tak salah jika ia begitu disegani dan ditakuti lawan. Manusia setengah atau bisa dikatakan sepermpat dewa itu memang luar biasa dengan kemampuan yang diluar nalar juga. Bahkan seluruh pelayang dan prajurit yang berkumpul disana hanya bisa melihat tanpa bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan si gadis malang itu.
Namun…
Semua hal pasti ada titik kelemahanya bukan?
SRET…
TRAAAANNNKKKK….
SRIINNGGG…
TRRRAAAANNNNGGGG….!
"STRIKE AIR!"
WUSSSHHH…!
Angin tiba-tiba berhembus kencang hingga menerbangkan pusaka-pusaka milik Gilgamesh, bahkan beberapa pohon tumbang akibat angina misterius itu. Debu yang mengepul membuat pandangan mereka teralihkan dan tidak memprediksi apa yang sedang terjadi.
Namun Gilgamesh yang memiliki aura sihir kuat serta pandai menilai lawan, hanya diam terkejut dengan kejadian yang tak terduga tersebut.
BET…
TAP…
"sudah lama sekali ya, RAJA PAHLAWAN. Gilgamesh?"ucap orang yang berangsur-angsur terlihat akibat debu yang membuat pandangan semua orang kabur.
Gilgamesh yang disapa begitu hanya terdiam dengan muka tidak percaya, dan juga begitu terkejut. Bukannya takut, akan tetapi ia mengenali suara dan aura dari sang empu yang berani menyapanya dengan ucapan santai itu.
Kumpulan debu pun berangsur menghilang, dan terlihatlah seorang dengan jubbah bewarna biri dengan pinggiran bulu khas jubbah bangsawan sedang membelakangi Gilgamesh dan juga orang-orangnya.
Tak lama pun si empu pun berbalik dengan perilaku yang biasa ditunjukkan oleh seorang bangsawan kelas atas dengan berwibawa membalikkan tubuhnya. Dan terpampanglag siapa sang empu misterius itu.
Memakai baju bergaun zirah berwarna biru, disertai suara gemerincing disaat ia berjalan layaknya seorang raja besar, sang empu misterius itu menatap sang raja Gilgamesh datar dengan intens.
"kau – raja pahlawan dari uruk, aku sarankan kau untuk melepaskan putraku dari jerat rantaimu itu. Jika tidak, akan aku ambil secara paksa jika perlu"ujar saber.
"k – kau? Bagaimana bisa kau ada disini? Dan putra? Siapa yang kau maksud putramu?"tanya Gilgamesh beruntun.
"gadis ini adalah putraku, dan menangkap serta menghukumnya tanpa alasan telah menentang kewibawaanku sebagai RAJA. Dan sebagai AYAH sekaligu RAJA BRITANIA RAYA, aku meminta kau serahkan putraku dengan damai, raja pahlawan"ujar saber penuh penekanan dan juga wibawa.
"HAHAHAHAHAHA"bukannya menjawab Gilgamesh malah tertawa keras mendengar ucapan saber.
"cih…"
"hoi-hoi, benarkah kau saber? Jangan bercanda denganku, mana mungkin saber ada dijamanku? HAHAHAHA, lelucon macam apa yang dewa sembahkan padaku"ejek Gilgamesh.
WUUSSSSSHHH…
CRRRAAAHHH…
Sebuah angina menerpa wajah kiri gilgamesh dan menggore pipi kirinya yang mulus. Luka itu membuat Gilgamesh sedikit terpaku dan tersembunyi dengan rapi oleh wajah angkuhnya. Sedangkan si empu dengan posisi masih mengacungkan yang terlihat menggengam pedang yang tak terlihat membuat Gilgamesh yakin kalau ini bukanlah mimpi.
"cih, kelakuanmu tetap sama raja pahlawan. Menjijikkan! Kalau begitu aku akan menghancurkan paksa rantai ini dari tubuh putraku"
BET…
TRANK…
TRANG… TRANG…
CLANGGG…
Suara rantai yang telah putus akibat tebasan pedang gaib milik saber membuat si empu pemilik rantai diam. Bahkan orang-orang disana dibuat tak berkutik melihat rantai surge milik raja mereka putus dengan mudahnya.
"mordred, apa kau tidak apa-apa nak?"ujar saber khawatir sambil memapah tubuh red.
"ah – saber-san? Akh, aku sudah tidak apa-apa! Hanya tubuhku masih sakit sedikit, ah kau tidak perlu khawatir"ujar red menenagkan saber.
"hn, baiklah. Philip akan membawamu pergi dari sini dan sisanya biar yang aku urus. Sebaiknya kau pergilah dulu"ujar saber kembali berdiri, namun…
"tu-tunggu saber-san. Kenapa kau memanggilku mordred? Dan putra? Apakah diriku ini pantas mendapat gelar seperti itu dari orang yang begitu agung seperti dirimu? Da-dan - ?!"
PLUK…
Ucapan red berhenti akibat tangan saber yang menepuk pelan kepalanya, membuat red terdiam sejenak dan mengadah keatas. Dan dia menemukan kalau saber sedang tersenyum lembut menenangkan kearahnya. Bagaikan seorang ayah yang menenangkan putranya, dan itulah yang membuat red begitu terpesona oleh aura milik saber.
'di begitu menajubkan…'ucap red dalam hati.
"ckckck, ucapanmu begitu berlebihan anak muda. Selain itu memang benar jika aku sudah menjadikanmu sebagai putraku secara sepihak, lagi pula memang benar kalau jiwa putraku ada didalam dirimu. Dan sebagai ayah barumu akan aku lindungi dirimu dari bahaya apapun. Itulah janjiku"deklar saber dengan berwibawa.
"dan mulai sekarang ku umumkan pada seluruh mahluk dan alam semesta yang ada di era ini, kalau kau resmi menjadi putra dari RAJA BRITANIA RAYA, ARTURIA PENDRAGON dan bergelar sebagai SIR MORDRED PENDRAGON!"
BLAARRRR…
Dan dengan ikrar itu sebuah petir menyambar dengan tiba-tiba pertanda alam dari seluruh semesta di era itu menjadi saksi kalau raja britania raya telah mengangkat seorang yatim piatu sebagai putranya. Dengan meletakkan kehormatan dikedua bahu red menggunakan pedang gaib saber bernama EXCALIBUR, akhirnya proses singkat namun sakral itu membuat semua orang terdiam.
"pemberkatanmu sudah selesai, mulai sekarang namamu adalah mordred dan nama belakangmu menggunakan nama dari seluruh raja dari britania raya tak terkecuali namaku juga, jadi gunakanlah nama itu dengan bangga dan juga jagalah nama itu sebaik mungkin. Jika perlu kau harus menjaganya dengan seluruh jiwa dan ragamu."jelas saber.
"oh satu hal lagi, kau bisa memanggilku dengan sebutan AYAH, karena aku lebih suka dipanggil seperti itu daripada dipanggil seorang ibu"pinta saber.
"A – a – yah?"
"ya benar ayah"ucap saber dengan senyum lembut.
"hiks…hiks…ayah? Ayahanda hiks…hiks…HUAAAAA"teriak red atau morderd dengan tangis pecah disertai memeluk saber.
"sstttt, sudah-sudah. Jangan menangis lagi, dari kamarin-kemarin kau cengeng sekali?"ejek saber.
"hiks…hiks…hiks…aku – aku bahagia sekali hiks…hiks…HUAAAA AYAHANDA!"
Saber hanya bisa swepdrop melihat tingkah lebay putra angkatnya itu, dan coba menenagkannya. Saber berjanji dalam hati kalau ia akan menjadi sosok ayah sekaligus figure ibu yang bisa menjaga mordred sekali lagi.
.
.
.
Balik ke konflik…
Sekian menit diabaikan oleh drama picisan antara ayah dan anak dari sang mantan rival dulu, diam-diam Gilgamesh begitu memperhatikan apa yang dilakukan saber kepada gadis budak itu. Dan ia tidak pernah melihat dari dekat senyum tulus dari saber sebelumnya, bahkan pertemuan pertamannya dengan berakhir dengan buruk hingga pertarungan akhir di kota fuyuki dulu. Entah kenapa melihat saber seperti itu membuat Gilgamesh bernostalgia lagi.
Tapi lama kelamaan diabaikan membuat Gilgamesh jengkel dan juga merasa tak dihargai, terlebih dihadapan para orang-orangnya.
"HOI-HOI SABER, apa sudah selesai acara drama tidak bergunamu itu?"jelas Gilgamesh membuat saber mau tidak mau menoleh padanya.
"ya, aku sudah selesai dan juga terima kasih atasu perlakuanmu kepada putraku. Lain kali aku akan membalasmu raja pahlawan. Ayo mordred kita pulang"ucap saber dingin.
SRET…
Langkah saber terhenti akibat sebuah rantai membelit kakinya dan siapa lagi kalau bukan Gilgamesh yang melakukannya.
"mau apa lagi kau?"
"kheh, seenaknya kau mengambil budakku tanpa seijinku. Dan lagi kau sekarang berada diwilayahku saber, jadi kau harus menuruti semua peraturan yang ada disini!"jelas Gilgamesh.
"cih, masa bodoh. Kau pun juga seharusnya paham, jika yang kau jadikan bud-maksudku mainanmu adalah putraku. Jadi mau tidak mau aku akan merebutnya darimu walaupun itu aku harus berhadapan dengamu dan meratakan kerajaanmu!"tekan saber.
"Ooo, kau memang tidak berubah saber. Dan itu membuat diriku semakin bergairah memilikimu saja"goda Gilgamesh.
Dan dengan sekali tebas rantai itu putus, saber yang sudah dalam keadaan geram dan marah menyuruh morderd minggir dan menjauh. Posisi siap bertraung kedua raja itu pun membuat sebuah kontak mematikan dimasing-masing magus mereka. Kentara bahwa mereka bukanlah orang yang bisa diremehkan kekuatannya. Angin pun bertiup dengan kencang pertanda pertarungan akan dimulai.
1
2
3
TAP… TAP…TAP…
"YANG MULIA GILGAMESH, GAWAT! TUAN ENKIDU KAMBUH LAGI!"
Seorang pelayan entah dari mana berlari sambil berteriak penuh khawatir dan membuat pertarungan antar raja itu harus dihentikan sepihak.
Melihat peluang itu saber dengan cepat mengendong morderd ala bridal dan meninggalkan kastil Gilgamesh denga cepat, hingga Gilgamesh kelabakan dibuatnya.
'cih, gara-gara tabib sialan itu. Saber jadi kabur. Aku akan membunuhnya jika mengatakan hal yang tidak penting' iner Gilgamesh berbicara layaknya iblis.
.
.
.
.
.
.
.
HAI MINNA-SAN ketemu lagi dengan Author Swonk MnurZahra J
Gimana minna-san, Syukur kmarin author dapat wangsit buat nulis dan JENG… JENG… jadilah ni fanfic yang super-duper gaje :v
OK2
EHERM…!
Baiklah kita akan buka kotak review…
1. "lanjut author-san aku nerharap fic ini bener" berjelanjutan karna udh bagus.
ganbatte nee" ( Takasugi Ryouka )
ü Wah arigatou senpai sudah mampir di fanfic swonk ane J dan untuk request dari senpai moga2 aj author bisa terus semangat melanjutkan ni proyek #OptimisMode
Baiklah, sekali lagi atur nuhun J
2. "ceritanya menarik..
enak bacanya...
ditunggu lanjutannya.. :)" ( Habibatur Rahmi )
ü Baiklah2 yang selanjutnya review dari senpai diatas, #EhBetulkah? Ish gpplah. Sekali lagi arigatou untuk senpai yang sudah mampir dan menyempatkan diri tuk membaca cerita swonk ane J. Dan untuk kelanjutannya akan author usahakan secepatnya #SemangatMembara. Sekali lagi atur nuhun J
.
OK BAIKLAH MINNA-SAN
Itulah tadi sekilas beberapa review pertama yang author dapat dari para senpai yang berkenan menyempatkan diri membaca fic ane. Dan sekali lagi, author ucapkan ARIGATOU sebanyak2nya untuk review yang sudah mampir di beranda author.
Salam SWONK author J
