Fanfiction

Cast : Jongin!GS, Sehun

Genre : Romance, Drama

Summary : Jongin terlahir dari keluarga kaya raya, namun hal itu yang membuat hidupnya semakin sulit, karena dia tidak seperti anggota keluarganya yang lain. Tidak seperti kedua saudaranya, Jongin bukanlah gadis yang cantik—tidak jelek juga kok, dia tidak memiliki nilai akademik yang patut dipamerkan atau keahlian yang membuat dia pantas diperhitungkan. Jongin benar-benar tidak memiliki sesuatu yang spesial. Hidup Jongin jungkir balik hanya dalam semalam, hidupnya berubah. Pangeran yang selalu dia khayalkan bukanlah sekedar khayalan lagi.

Chapter Sixteen

"Hun, berhenti."

"Aku bahkan belum habis sebotol Chan."

"Aku tidak mau mengurusmu kalau mabuk."

"Hm." Pria yang menegak alkohol mahal langsung dari botolnya hanya menggumam pelan. Tidak mungkin temannya ini tidak mau mengurusnya kalau ia mabuk nanti.

"Aku sungguhan kali ini. Kau akan ku tinggalkan disini sampai polisi menemukanmu dan mereka akan menghubungi ayahmu."

"Cepat atau lambat aku akan menghadapi ayahku."

"Sehun, kali ini kau tidak boleh lemah. Masa hanya seperti ini saja kau sudah menyerah? Kalau ini adalah sebuah film, maka ini adalah puncaknya. Kalau ini adalah Harry Potter, ini adalah scene dimana Harry akhirnya berperang melawan Voldemort!" Chanyeol, pria tampan yang tingginya keterlaluan itu berkata berapi-api.

"Aku tidak lemah Park. Aku hanya…" Sehun tidak tahu apa kata yang bisa mewakili keadaannya sekarang. Lelah? Takut? Kecewa? Semuanya. Sehun lelah dengan hubungan yang selalu terasa dikejar-kejar oleh entah apa. Sehun takut menghadapi kemarahan ayahnya jika pria itu tahu kalau hubungannya dengan Jongin sudah kandas. Dan Sehun juga marah apda Jongin yang semudah itu melepaskan tangannya.

"Kau lemah Oh. Akui saja."

"Aku kecewa pada Jongin." Sehun berkata setelah jeda yang lama.

"Jongin sedang gamang Hun. Dia takut keluarganya akan terluka karena dirinya." Chanyeol mencoba membuka mata Sehun yang tertutupi kesedihan, kemarahan dan kekecewaan. "Sehun, kau kenal Jongin bukan? Dia sangat mencintai keluarganya, sangat wajar jika dia ketakutan dan kau jangan malah meninggalkannya. Kau harus kembali dan meyakinkannya!"

"Aku tidak meninggalkan Jongin, Jongin yang meninggalkanku."

Chanyeol menghela nafasnya kasar, ia benar-benar kesal pada Sehun yang jadi sensitif seperti wanita sedang PMS saja.

"Hun, kau tahu betul Jongin tidak pernah meninggalkanmu. Dia hanya sedang kacau jadi mengatakan hal-hal melantur seperti itu. Kalau kau tidak ikut kembali denganku sekarang, berarti kau tidak lagi butuh bantuanku! Aku tidak akan membantumu dalam hal apapun bahkan untuk membelikanmu ramen!" Chanyeol dengan kesal beranjak dari duduknya, meninggalkan kedai soju dimana Sehun minum-minum.

"Park!" Sehun memanggil Chanyeol dengan keras, membuat pengunjung lain mengernyitkan dahi mereka tidak suka. "Dasar orang itu sukanya mengancam!" Sehun bergumam pelan dan mau tidak mau mengikuti langkah Chanyeol setelah meninggalkan sejumlah uang diatas meja.

"Kau mau kemana?"

"Ke rumah sakit, mengantarkanmu bertemu Jongin."

"Hah?" Sehun terkejut mendengar ucapan sahabatnya.

"Kau sudah dua hari tidak bertemu Jongin, kau tidak merindukannya?" Chanyeol bertanya dengan senyum lebar diwajahnya. Memang baru dua hari sih tapi Chanyeol tahu betul jika Sehun tidak bisa berjauhan dari Jongin sebentar saja.

"Agh, aku tidak siap bertemu Jongin." Sehun mengacak rambutnya yang sudah berantakan.

"Hm, kau bau alkohol. Jongin pasti akan semakin mendepakmu."

"YA!" Sehun menendang bokong Chanyeol karena ucapan sahabatnya yang membuat hatinya semakin resah. "Besok saja bertemu Jongin."

"Kalau bisa sekarang kenapa tidak sekarang Hun? Bagaimana kalau besok ada teman model pria Luhan Noona datang menjenguk lalu naksir Jongin? Jongin semakin hari semakin manis lho."

"FUCK YOU PARK CHANYEOL!" Sehun benci sekali sisi Chanyeol yang ini. Sisi yang mudah sekali menghasut orang-orang disekitarnya dan sisi yang membuat Sehun selalu kalah dan menuruti kata-kata pria itu.

"Aku bawa baju ganti dimobil, ayo ku antarkan ke rumah sakit." Sehun mengehela nafas panjang. Memang ia merindukan Jongin dan banyak yang ingin ia katakan pada Jongin tapi Sehun tidak yakin ia mampu menatap mata coklat Jongin sekarang.

Sehun sedang merasa sangat lemah.

Sedangkan saat ini Jongin butuh pria kuat untuk melindunginya.

Kenapa Sehun selalu sudah merasa takut setiap kali menghadapi Jessica? Memang Sehun sedikit takut pada Jessica karena ternyata sikapnya yang begitu jahat pada orang-orang disekitarnya. Sehun kadang bertanya-tanya, kenapa dulu dia bisa tergila-gila pada gadis itu? Lalu juga, kenapa Jessica masih mengejar-ngejarnya hingga sekarang? Dari semua mantan gadis kejam itu kenapa dia yang masih di terror?

Sehun memandang pintu ruangan dimana kakak perempuan Jongin dirawat. Dia tahu kalau Jongin dan Xiumin pasti ada didalam sana. Jongin merasa bertanggung jawab atas kecelakaan ini sehingga ia nyaris tidak pernah meninggalkan sisi Luhan sedikitpun. Sedangkan Xiumin…well, kakak perempuan Jongin itu memang memiliki hubungan lebih dengan pria itu.

"—istirahatlah. Aku dan Xiumin bisa menjaganya. Kau kan juga harus sekolah. Lihat dirimu sampai belum ganti seragam." Sehun tersentak melihat pintu yang sedari tadi ia amati tiba-tiba terbuka. Disana Jongin berdiri dengan seorang pria yang sangat tampan dan mengesalkannya, tangan pria itu berada dibahu Jongin.

Fuck Park Chanyeol!

Entah mengapa Sehun kesal pada Chanyeol. Ia jadi terngiang kembali peringatan Chanyeol padanya beberapa jam yang lalu. Sehun memicingkan matanya, mengamati interaksi antara Jongin dan pria itu.

"—tidak apa-apa Oppa. Aku bawa baju ganti kok."

"Pulanglah Kim Jongin." Pria itu membelai kepala Jongin. "Aku dan Xiumin akan ada disini semalaman. Lihat kantong matamu sudah besar sekali. Biar Oppa carikan taksi, bagaimana? Atau ingin Oppa antar saja?"

"Tidak usah Op—"

"Jongin akan pulang denganku." Sehun tidak bisa bersabar lebih lama lagi melihat entah siapapun pria itu bermesraan dengan Jongin.

"Se-sehun?" Jongin mengerjapkan matanya tidak percaya dengan kehadiran Sehun didepannya.

"Ayo ku antar pulang." Sehun dengan sedikit kasar menarik pergelangan tangan Jongin dan menariknya menjauh dari pria itu. Jongin membungkukkan badannya sebagai salam pada pria itu dan berusaha mengikuti langkah kaki panjang Sehun.

"Sehun pelan sedikit.." Jongin yang tingginya hanya sampai sebahu Sehun tentu memiliki kaki yang lebih pendek dari Sehun.

"Maaf.." Sehun melepaskan genggaman tangannya dan berhenti. Didepannya wajah Jongin sedikit tertekuk sambil mengelus pergelangan tangannya yang sakit karena genggaman tangan Sehun yang terlalu keras.

"Apa kau baik-baik saja?" Sehun meraih tangan Jongin dan melihat pergelangan tangan gadis itu. Tapi tindakan Jongin selanjutnya sungguh diluar dugaan Sehun, ia pikir Jongin akan menarik tangannya atau mengomel karena Sehun membawa gadis itu pergi dengan paksa.

Jongin tidak melakukan semua itu.

Jongin malah melemparkan dirinya kedalam pelukan Sehun. Tangan Jongin melingkari leher Sehun, nyaris mencekik pemuda tampan yang wajahnya begitu kebingungan. Kaki Jongin sampai harus berjinjit agar kepalanya ia bisa benamkan pada leher Sehun.

"Sehun maafkan aku." Jongin bergumam lirih.

"Ma-maaf?" Sehun melepas pelukan—atau lebih tepat cekikan—Jongin agar bisa melihat wajah manis yang ia rindukan.

"Aku seharusnya tidak memutuskanmu. Aku tahu aku bodoh karena sudah menyia-nyiakanmu. Luhan Unnie memarahiku dan keluargaku juga memarahiku. Aku menyesal Sehun. Aku kangen kau. Aku bodoh sekali. Bodoh! Bodoh!" Jongin mengoceh panjang dengan mata berkaca-kaca. Tangannya berkali-kali memukul dirinya sendiri namun Sehun terus-terusan menahannya.

"Hey pelan-pelan." Sehun tersenyum mendengar ocehan Jongin. "Aku juga harusnya minta maaf. Aku tidak berusaha lebih keras mempertahankan dirimu. Aku tidak cukup kuat melindungimu. Aku terlalu takut menghadapi Jessica sampai ia bisa menyentuhmu dan keluargamu." Sehun dengan mesra meraih Jongin kedalam pelukannya.

"Maafkan aku." Sehun berbisik pelan ditelinga Jongin.

"Aku yang salah!" Jongin menggelengkan kepalanya yang terbenam pada dada Sehun.

"Sudahlah, yang penting kita bersama lagi. Kau masih kekasihku kan?" Sehun melepas pelukannya dan menangkup wajah Jongin dengan kedua telapak tangannya.

"Tentu saja aku masih kekasihmu." Sehun menjawab pertanyaannya sendiri dengan menggunakan suara sok imut seperti wanita dan menggerakkan kepala Jongin agar mengangguk-angguk.

"Ya, biarkan aku menjawab sendiri! Aku tidak bilang kalau kau bisa jadi kekasihku lagi!" Jongin merengut mendengar suara Sehun yang jelek sekali. "Suaraku juga tidak sok imut seperti itu!"

"Kalau tidak mau jadi kekasihku lagi, kita langsung menikah saja bagaimana? Kita bisa mendaftarkan pernikahan kita sekarang." Sehun masih menangkup wajah manis Jongin dan mendekatkan wajahnya.

"Aku masih belum menikah!" Jongin mendorong Sehun menjauh. Malu dengan pandangan orang-orang yang berlalu lalang dilorong rumah sakit. Sehun tidak peduli dan mengecup bibir Jongin sekali lalu berlari meninggalkan Jongin yang menjadi tontonan para suster dan pengunjung rumah sakit.

"Sehun, pelaku penabrakan Luhan Noona sudah tertangkap."

Kata-kata itu membuat Sehun yang masih tertidur pulas langsung sepenuhnya terjaga. Jongin yang tidur disebelahnya sampai terkejut dan ikut terbangun. Wajah mengantuk Jongin menyiratkan pertanyaan 'ada apa?'.

Sehun membelai rambut Jongin agar gadisnya tidur kembali karena yah, si penelepon ini benar-benar tidak tahu waktu. Menghubunginya pada pukul tiga pagi seperti sekarang. Apa dia tidak tahu kalau Jongin dan Sehun baru tidur selama satu jam? Gara-gara mengobrol dan bercerita panjang lebar sebenarnya. Sehun mengerjakan tugas kuliahnya sementara Jongin belajar dalam pelukannya. Jadi belajar sambil bermesraan.

"Ada apa Hun?" Jongin jelas tidak bisa tidur lagi setelah melihat dahi Sehun yang berkerut semakin dalam seiring percakapan via telepon itu berlangsung. Jongin ikut duduk dan mengamati wajah tampan kekasihnya yang terlihat sangat serius.

"Penabrak Luhan Noona sudah tertangkap dan saat ini sedang diinterogasi polisi. Aku ingin menemuinya sekarang." Sehun langsung berkata cepat dan bangkit dari kasur menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya.

"Se-sekarang?" Jongin terkejut.

"Iya!" Sehun menjawab dari kamar mandi. Jongin menelan air liurnya dengan gugup. Ini sudah lebih dari seminggu semenjak aksi penabrakan pada kakak perempuannya. Memang Luhan tidak mengalami luka yang serius tapi karir modelnya jadi terhambat karena kaki kanannya patah dan butuh berminggu-minggu untuk kembali normal.

"Kenapa wajahmu tegang sekali sayang?" Sehun keluar kamar mandi sudah mengganti celana tidurnya dengan jeans namun masih belum memakai atasan sama sekali. Kalau Jongin sedang tidak resah pasti pipinya akan bersemu merah karena pemandangan indah didepannya.

"Aku hanya nervous. Rasanya aku tidak percaya kalau penjahatnya sudah ditangkap dan semua ini akan segera berakhir." Jongin menjawab dan memandang kekasihnya yang mengambil kaos didalam lemari lalu memakainya.

"Aku juga." Sehun berkata pelan dan menangkup pipi kekasihnya. "Aku senang semuanya akan segera berakhir tapi aku tidak ingin takabur dan merasa tenang. Jessica itu sangat…licik. Kita tidak pernah tahu apa yang akan ia perbuat."

Jongin tersenyum kecil. Sepertinya Sehun terlalu banyak bergaul dengan Chanyeol yang seorang detektif amatir dan menjadi paranoid serta menganalisis segala sesuatunya. Well, Sehun memang selalu paranoid setiap kali bersangkutan dengan Jessica.

"Kembalilah tidur. Akan kubawakan sarapan saat aku kembali." Sehun mengecup puncak kepala Jongin dan berjalan keluar kamar kecilnya di apartemen tempat ia tinggal selama di Seoul.

Jongin memandang pintu kamar Sehun yang tertutup. Jantungnya masih berdebar kencang, bagaimana jika penjahatnya tidak mau mengakui perbuatannya atas suruhan Jessica? Bagaimana jika memang kecelakaan Luhan memang hanya kebetulan belaka? Berarti Jessica tidak tertangkap kan? Apa yang akan Jessica lakukan selanjutnya?

Jongin merasa takut. Bukan takut karena Jessica akan mencelakainya, tapi ia takut akan terjadi sesuatu pada Sehun. Jongin tahu betul jika Sehun sangat tidak ingin berhubungan dengan Jessica lagi, ia takut pada gadis itu. Sehun takut jika ia terpedaya oleh tipuan gadis itu lagi. Bukan tanpa sebab Chanyeol menyebut Jessica nenek sihir, wanita itu memang memiliki ribuan tipuan yang bisa memperdaya orang-orang disekitarnya.

Jongin juga khawatir dengan keluarga Sehun, terutama Tuan Oh. Sehun selalu di didik dengan keras oleh ayahnya. Sering kali Sehun menerima pukulan dari ayahnya ketika pria itu tidak puas dengan anak tunggalnya. Jongin juga sudah melihat bagaimana Sehun dihajar ayahnya hingga terluka. Parahnya Sehun dihajar karena dirinya.

Hubungan antara orang tua Jongin dan Sehun yang merupakan teman baik, membuat Sehun ekstra diawasi oleh ayahnya. Sehun juga memiliki reputasi sebagai player, sehingga dulu ayahnya sempat melarang Sehun untuk mendekati Jongin karena akan merusak hubungan baiknya dengan keluarga Kim.

Jongin tahu ia tidak mungkin bisa kembali tidur jadi ia keluar menuju dapur untuk membuat sarapan walaupun jam makan pagi masih lumayan lama. Jongin berencana untuk membuat cake atau puding sekalian. Mungkin ditambah pie apel juga tidak masalah. Memasak memang menjadi salah satu cara Jongin untuk menenangkan hatinya.

Baru Jongin akan mulai memasak, bel apartemen Sehun berbunyi.

Biasanya di apartemen Sehun selalu ada pelayan yang siap membukakan pintu dan melayaninya tapi karena kedua orang tua Sehun sedang tidak ada di Seoul, Sehun memilih untuk memberhentikan para pelayan dan hanya menggunakan jasa bersih-bersih seminggu sekali. Walaupun sebenarnya tidak perlu karena Jongin sering sekali diapartemennya sehingga tempat itu selalu bersih dan terawat.

Jongin melihat siapa yang datang dan terkejut.

Baekhyun dan Chanyeol.

"Ada apa? Ini jam tiga pagi!" Jongin membukakan pintu.

"Boleh aku titip Baekhyun?" Chanyeol berkata cepat dengan wajah tegang.

"Titip?" Jongin sedikit bingung. Dilihatnya Baekhyun membawa sebuah tas yang berukuran lumayan besar. "Apa yang terjadi?"

"Tidak terjadi apa-apa. Aku hanya khawatir kalau terjadi sesuatu pada Baekhyun dirumah keluarga Hwang." Chanyeol berjalan masuk. "Aku sudah ijin pada Sehun dan dia bilang supaya ijin padamu."

"Ijin padaku?" Jongin bingung. Ini kan apartemen Sehun, kenapa harus ijin padanya?

"Iya. Dia bilang terserah padamu."

"Tentu saja boleh." Jongin mengangguk sambil menutup pintu.

"Baiklah, terima kasih Jongin! Aku harus ke kantor polisi sekarang." Chanyeol berkata dengan terburu-buru. "Kau akan baik-baik saja disini. Tidak akan ada yang berani mengganggu apartemen keluarga Oh. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku, oke?" Chanyeol menambahkan pada Baekhyun.

Tidak lama kemudian, apartemen itu tinggal hanya berisi Jongin dan Baekhyun. Suasana apartemen terasa canggung karena kedua gadis ini sama sekali tidak dekat dan tiba-tiba harus bersama-sama.

"Kau mau tidur?" Jongin bertanya dengan nada bicara canggung.

"Uh, kau juga akan tidur? Maaf aku mengganggumu pagi buta seperti ini." Baekhyun juga tidak bisa menyembunyikan kecanggungannya.

"Tidak. Aku tidak terganggu, aku sedang memasak tadi dan aku hanya terkejut." Jongin berkata cepat agar Baekhyun tidak merasa bersalah. "Tapi kalau boleh tahu, apa sesuatu terjadi padamu?"

"Sebenarnya tidak ada. Chanyeol Oppa hanya khawatir kalau Jessica tiba-tiba mencelakaiku." Baekhyun menjawab dengan suara pelan.

"Ah begitu." Jongin mengangguk-angguk. Pantas saja Sehun orangnya saat paranoid, Chanyeol ternyata tidak jauh berbeda.

"Jongin, aku ingin minta maaf." Suara Baekhyun kini terdengar nyaris seperti bisikan. "Aku begitu jahat padamu." Baekhyun menunduk dan tubuhnya bergetar, menandakan gadis itu sedang menangis.

"Oh, Baekhyun." Jongin berjalan mendekati Baekhyun dan memeluk gadis itu.

"Aku tidak tahu kalau Jessica ternyata sejahat ini. Bahkan padaku…aku…hiks..yang dia selalu katakan sebagai sahabat terbaiknya, ternyata ia hanya…hiks…menggunakanku untuk kepentingannya saja." Baekhyun terisak dan Jongin menepuk-nepuk punggung Baekhyun perlahan.

"Hey, tidak apa. Aku tidak pernah membencimu. Jessica memang nenek sihir, begitu kan yang Chanyeol dan Sehun sering katakan? Semua orang terpedaya olehnya." Jongin mendengar dari Sehun jika sejak kedatangan Jessica ke Seoul, Baekhyun sama sekali tidak dipedulikan. Jessica tidak pernah menghubunginya lagi dan jelas jika rencana-rencana yang Jessica laksanakan sudah tidak membutuhkan Baekhyun lagi.

"Hiks..aku begitu bodoh mau terpedaya oleh benda-benda bermerk yang bahkan palsu! Aku harus menyakiti orang-orang disekitarku, keluargaku, temanku bahkan orang yang tidak aku kenal sama sekali." Baekhyun masih terisak.

"Hushh, sudahlah. Kan yang penting sekarang." Jongin berusaha menenangkan Baekhyun yang masih terisak. "Tidurlah. Aku akan masak dan kau akan bangunkan ketika masakannya matang."

Baekhyun melepaskan pelukan Jongin dan mengusap air matanya.

"Mana mungkin aku membiarkan kau masak sendirian dan aku tidur?"

Dua gadis itu tersenyum dan menuju dapur bersama-sama.

Jongin tahu jika ia sudah mendapat teman baru. Teman yang mungkin akan menjadi salah satu orang terdekatnya.

"Park, aku sangat yakin! Sangat, sangat yakin!" Sehun mengacak rambutnya dengan suara dan ekspresi wajah yang frustasi.

"Aku tahu Kim, dia pasti sudah disuap sangat banyak sampai tidak mau membeberkan identitas Jessica." Chanyeol tampak sama frustasinya dengan Sehun tapi Chanyeol tampak lebih tenang dan tidak berjalan mondar-mandir dikoridor kantor polisi.

"Lalu apa yang harus kita lakukan kali ini? Tidak mungkin kan kita menunggu ada yang celaka lagi agar bisa menangkap nenek sihir itu. Damn, aku tidak tahu ternyata dia sekuat ini bahkan di Korea Selatan."

"Hm, aku tidak tahu siapa yang melindunginya. Ku pikir dia hanya kuat di London saja ternyata koneksinya sudah mendunia." Chanyeol tampak berpikir keras, mengira-ngira siapa yang melindungi Jessica di Korea Selatan.

"Aku tidak sampai hati memberi tahu Jongin." Sehun bergumam lirih. "Dia tampak sudah sangat berharap semuanya akan berakhir."

"Aku juga khawatir akan Baekhyun. Kalau Jessica sampai tahu Baekhyun ada dipihak kita sekarang, bayangkan bagaimana reaksi nenek sihir itu?" Chanyeol menghela nafas panjang dan bergidik. Tidak mau membayangkan nasib Baekhyun jika Jessica tidak segera ditangkap. "Ayo kerumah sakit dulu. Aku ingin bicara dengan keluarga Jongin."

"Biar aku beli sarapan untuk Xiumin Hyung dan ibu Jongin." Sehun bangkit dan meregangkan tubuhnya yang terasa pegal. Pikirannya terasa berat dan hatinya resah tapi ia tidak mau berhenti sampai Jessica tertangkap.

Awalnya Jongin dan Sehun memang tidak ingin meminta bantuan keluarga Kim namun setelah semuanya semakin parah, Sehun mau tidak mau harus melibatkan kekuatan yang lebih besar. Dalam hal ini adalah kekuatan keluarga Kim yang terkenal sebagai keluarga kaya raya.

Dulu, Kris yang sering bersikap dingin pada Sehun malah menjadi sangat dekat dengan pemuda London itu. Kris, Chanyeol dan Sehun sering kali menghabiskan waktu mereka untuk membahas masalah Jessica.

"Aku rasa tidak usah membelikan makanan untuk mereka karena Baekhyun dan Jongin sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit." Chanyeol mengecek ponselnya dan membaca pesan dari Baekhyun.

"Dasar Jongin, susah sekali disuruh santai." Sehun bergumam pelan sambil menggelengkan kepalanya.

Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh ketika Sehun sampai dirumah sakit. Jongin dan Baekhyun sudah ada disana, sedang mengobrol dengan Xiumin dan Nyonya Kim yang terlihat kelelahan. Luhan sendiri masih tertidur pulas.

"Jongin, apa kau yakin akan masuk sekolah hari ini?" Sehun menatap khawatir pada Jongin yang berkali-kali menguap.

"Aku sudah kelas tiga Hun, tidak bisa membolos."

"Kau tidak membolos, kau sedang sakit." Sehun menyentuh dahi Jongin.

"Aku tidak apa Huunn." Jongin dengan malu menyingkirkan tangan Sehun dari dahinya. Malu karena disana ada ibunya.

"Lebih baik kau tidak usah masuk dulu Jongin. Kau bisa minta Kyungsoo dan Taemin untuk mengantarkan tugasmu nanti." Ibu Jongin berkata lembut. Kasihan juga dia melihat anak bungsunya yang belakangan ini terlihat begitu tertekan.

"Aku tidak pintar-pintar amat, kalau aku tidak lulus bagaimana?" Jongin langsung menolak ide itu.

"Tidak pintar bagaimana?!" Ibu Jongin mengernyitkan dahinya tidak setuju.

"Aku masih sering remidi dan nilaiku juga pas-pasan." Jongin berkata pelan. Jongin masih sering malu dengan prestasinya yang tidak segemilang kakak-kakaknya. Bahkan Sehun yang terlihat santai dan banyak main-main, nilainya masih lebih baik dari nilanya.

"Ibu akan lebih terpukul melihat anak Ibu sakit dari pada remidi." Ibu Jongin berkata sambil tersenyum.

"Baiklah, kalau begitu hari ini aku akan menjaga Luhan Unnie!"

"Kau Ibu bolehkan membolos agar kau bisa istirahat!" Ibu Jongin langsung melarang. "Setelah ini pulanglah dan istirahat."

"Baiklah, aku akan pulang setelah membereskan apartemen Sehun."

"Kim Jongin, kenapa sih kau susah sekali diberi tahu. Pulang. Aku akan merubah password apartemenku kalau kau masih kesana untuk bersih-bersih." Sehun ikut-ikutan melarang Jongin.

"Fine, fine." Jongin mengalah sambil merengut. Jongin mungkin memang anak orang kaya yang hidupnya selalu dikelilingi pelayan untuk memenuhi segala keperluannya. Tapi Jongin dan juga kedua kakaknya di didik agar tetap selalu mandiri. Segala hal yang bisa dilakukan sendiri, lebih baik dilakukan sendiri.

"Ah iya, bagaimana pemeriksaan tadi?" Jongin bertanya dengan wajah cerah.

"Uh.."

"Ehm.." Sehun dan Chanyeol sama-sama tidak berkata dan hanya bertukar pandang namun itu sudah cukup untuk menjawab pertanyaan Jongin. Chanyeol akhirnya menceritakan semuanya dengan suara lirih agar Luhan tidak terbangun. Xiumin yang sedari tadi nyaris tidak meninggalkan sisi Luhan ikut mendekat dan mendengarkan.

"Lalu, apa yang akan kita lakukan?" Xiumin bertanya.

"Aku sudah memiliki dugaan hal ini akan terjadi." Baekhyun berkata pelan dan semua orang menoleh dengan tatapan terkejut. "Jessica selalu bisa membuat orang-orang disekitarnya begitu loyal padanya."

"Benar.." Sehun bergumam mengiyakan.

"Aku rasa baru aku dan Sehun yang benar-benar terlepas dari Jessica. Aku berani melakukan ini semua karena Chanyeol Oppa. Tapi tidak semua orang memiliki perlindungan seperti aku."

"Lalu, apa kau punya ide untuk menghadapi ini?"

"Kejahatan seperti ini harus dilawan dengan kejahatan. Aku rasa aku bisa meminta Taehyung untuk membantuku. Dia punya kawanan yang lumayan kuat dan disegani." Baekhyun menjawab, tampak tidak yakin.

"Tidak! Tidak boleh! Kau mau melibatkan Taehyung? Dia masih kecil astaga!" Jongin menggelengkan kepalanya tidak setuju.

"Jongin, Taehyung mungkin masih kecil tapi dia sudah bergabung dalam geng sejak dia masih sekolah menengah pertama. Dia bisa membantu kita." Baekhyun menjelaskan.

"Tunggu dulu, siapa itu Taehyung?" Chanyeol bertanya bingung.

"Dia adalah sepupuku. Dia, uh, anggota geng." Baekhyun menjawab malu. Sehun dan yang lainnya terkejut akan hal itu. Jongin memang tidak menceritakan tentang Taehyung sama sekali pada semua orang kecuali Kyungsoo dan Taemin. Mau tidak mau dua orang sahabatnya itu pasti tahu tentang Taehyung, mereka kan satu sekolah dengan Jongin.

"Dia yang dulu mengirimiku surat dan kado-kado itu Hun." Jongin menjelaskan dan wajah Sehun mengeras mendengarnya. "Tapi dia sudah minta maaf padaku, tenang saja." Jongin buru-buru menambahkan karena bukan hanya wajah Sehun saja yang menegang tapi wajah ibunya juga. Ibunya bahkan sama sekali tidak tahu kalau anak bungsunya itu pernah menerima surat kaleng berisi ejekan dan ancaman.

"Taehyung memang punya banyak teman-teman bengal tapi belakangan ini aku memintanya untuk mengurangi pergaulan semacam itu. Setelah aku pikir, aku rasa Taehyung bisa membantu kita membuat si penabrak ini buka suara."

"Baekhyun, Taehyung bisa dalam bahaya, begitu juga dengan keluargamu yang lain. Kita bisa serahkan ini pada agen detektif atau menyewa siapapun. Biar mereka yang melakukan tugas yang sudah mereka kuasai." Jongin masih menolak. Jongin tidak ingin lebih banyak orang tidak bersalah terseret bersama masalahnya.

"Jongin, ijinkan aku membantu sekali ini saja. Anggap saja ini sebagai permintaan maafku dan Taehyung. Oke?" Baekhyun berkata sambil memohon. Chanyeol dan Sehun bertukar pandang, dalam hati mereka, mungkin Taehyung bisa membantu karena sesungguhnya keterlibatan polisi dan agen detektif rasanya terlalu menyesakkan. Mereka tidak ingin masalah pribadi Sehun dan Jongin ini tercium publik. Semakin sedikit badan yang terkait, maka semakin sedikit pula media akan mencium jejak masalah ini.

Jongin tampak bimbang sejenak.

"Ba-baiklah." Jongin menjawab ragu, seolah semua keputusan itu berada ditangannya karena semua orang menunggu jawabannya. Baekhyun pun tersenyum senang, akhirnya dia membantu membereskan kekacauan yang pernah ia buat.

Jongin sedikit memaksakan senyumnya.

Ia tidak tahu apakah keputusannya ini benar atau tidak. Tapi yang ia tahu, ia sangat lelah dan takut. Setiap kemana-mana ia merasa tegang dan diawasi, seolah-olah Jessica bisa muncul dimana saja dan mencekiknya.

"Hun, bagaimana kalau kita mengumpulkan bukti kejahatan Jessica?" Chanyeol tiba-tiba menceletuk. "Kau bilang Jessica sering melakukan tindak kekerasan pada teman-temannya dan juga orang lain. Kita bisa menjadikan itu alat untuk memojokkan dia."

"Entahlah Park, aku rasa tindakan bully tidak cukup untuk memidanakan seseorang. Apalagi kebanyakan itu dilakukan ketika Jessica masih sekolah, masih dibawah umur." Sehun merasa ragu dengan usul Chanyeol.

"Ada. Aku punya beberapa nama yang mungkin bisa membantu kalian." Baekhyun semakin terlihat bersemangat. "Jessica pernah memintaku melakukan beberapa hal dan aku rasa aku masih punya list namanya."

"Oke, aku dan Jongin akan ke London hari ini juga." Sehun berkata dengan senyum lebar.

"A-aku?" Jongin membelalakkan matanya.

"Iya, aku butuh support emosianal jadi aku membutuhkanmu." Sehun berkata tanpa dosa. "Bolehkan Bibi aku membawa Jongin ke London lagi?"

"Hmm.." Ibu Jongin terlihat berpikir sejenak, berusaha menggoda Sehun.

"Ayolah Bi.." Sehun memohon.

"Baiklah, tapi tidak boleh lebih dari seminggu. Jongin harus sekolah."

"Terima kasih Bi!" Sehun menahan dirinya agar tidak bersorak dan membangunkan Luhan. "Yes, bisa berkencan romantis dengan Jongin!"

"Ya! Aku tidak bilang mau ikut!" Jongin menjitak kepala Sehun yang malah berpikir tentang kencan. Walaupun tidak bisa Jongin pungkiri, bepergian sejenak dengan Sehun pasti akan meringankan beban pikirannya.

To Be Continue

Akhirnyaaaaa, update juga!

Setelah berminggu-minggu semangat nulis menurun, akhirnya tadi pagi dapet hidayah hahaha.

Seri ini bentar lagi bakal tamat lhoooo

Mau happy ending, sad ending apa gantung? Wkwkwkw

Doain aja nenek sihirnya segera ketangkep deh yaaa

Author mau update yang After You tapi udah mulai nyerempet konten M nih, jadi tunggu habis lebaran ya wkwkwk

Sama semua seri maljum hiatus duluuuuu, jangan minta diupdete yaaa^^

Gomawo udah mau nunggu seri ini hehehe.

Mianhe juga Author sering males nulis :(

Jangan lupa tinggalkan review, kritik dan saran yaaa^^

Gomawo sekali lagi^^