Fanfiction

Cast : Jongin!GS, Sehun

Genre : Romance, Drama

Summary : Jongin terlahir dari keluarga kaya raya, namun hal itu yang membuat hidupnya semakin sulit, karena dia tidak seperti anggota keluarganya yang lain. Tidak seperti kedua saudaranya, Jongin bukanlah gadis yang cantik—tidak jelek juga kok, dia tidak memiliki nilai akademik yang patut dipamerkan atau keahlian yang membuat dia pantas diperhitungkan. Jongin benar-benar tidak memiliki sesuatu yang spesial. Hidup Jongin jungkir balik hanya dalam semalam, hidupnya berubah. Pangeran yang selalu dia khayalkan bukanlah sekedar khayalan lagi.

Chapter Seventeen

Sejak dulu Sehun tidak begitu menyukai London. Kenapa? Karena kota itu nyaris selalu diguyur hujan. Belakangan ini kebencian Sehun pada London semakin besar. Kenapa? Karena di London ia kehilangan kekasihnya.

Semua berawal dari sebuah malam dingin dengan hujan deras yang mengguyur kota London sejak pagi. Sehun bersama kekasih manisnya, Kim Jongin sedang mengunjungi sebuah apartemen yang tidak terlalu besar untuk bertemu dengan salah seorang junior Sehun disekolah bernama Irene.

Sudah beberapa hari terakhir Sehun dan Jongin setiap hari mengunjungi orang-orang yang pernah menjadi korban atau mantan kaki tangan dari seorang sosialita London bernama Jessica. Korban? Ya, korban bully, korban kekerasan, korban penghinaan. Semua dilakukan oleh Jessica yang merupakan mantan kekasih Sehun.

Tujuan Sehun dan Jongin ke London pun untuk mencari informasi kejahatan Jessica yang akan digunakan untuk memenjarakan wanita itu. Selama tiga hari pertama semua berjalan lancar, dengan bantuan teman sekolah Sehun, mereka bisa bertemu dan mewawancarai para korban.

Semuanya mulai kacau dihari keempat.

Sehun dan Jongin memiliki janji untuk bertemu Irene pada pukul sebelas siang diapartemen gadis itu. Wawancara pun berjalan lancar. Irene dulu adalah mantan kaki tangan Jessica yang didepak Jessica dari squad-nya lantaran Irene tidak menyiksa korban bully mereka sesuai dengan perintah. Jessica menganggap Irene lemah dan tidak patut untuk dijadikan 'teman'nya.

Irene dengan ramahnya mengundang Sehun dan Jongin dalam acara pesta kecil yang ia gelar dalam rangka merayakan ulang tahun adiknya. Sehun awalnya menolak karena sejujurnya ia saat ini lebih memilih menghabiskan waktu berdua dengan Jongin dari pada pergi ke pesta manapun.

Namun Irene setengah memaksa dan Jongin yang memiliki sifat tidak bisa menolak akhirnya mengiyakan undangan Irene. Malam itu, Sehun dan Jongin datang ke pesta ulang tahun adik Irene. Semuanya berjalan baik-baik saja hingga…

Sehun tidak begitu sadar apa yang terjadi.

Seingatnya ia duduk bersama Jongin dan meminum cola. Lalu tiba-tiba kepalanya berat dan memutuskan untuk berjalan keluar untuk mencari udara segar. Hanya sampai situ ingatan Sehun.

Pagi ini, Sehun bangun disebuah kamar yang tidak ia kenali.

Tanpa pakaian.

Dengan Irene disebelahnya, juga tanpa pakaian.

Suara isak tangis membangunkannya.

Begitu Sehun membuka matanya ia melihat Jongin berdiri dikaki tempat tidur. Menangis dan mengucapkan sesuatu tentang jebakan dan semua ini hanyalah mimpi. Sehun yang kepalanya masih pusing berat tidak mampu berkata apa-apa karena sesungguhnya ia memang tidak tahu kenapa ia bisa ada disini.

Sehun marah besar setelah kesadarannya penuh.

Jongin pergi meninggalkan apartemen Irene dan Sehun menuntut penjelasan pada gadis yang masih sama naked sepertinya. Irene tidak mengatakan apapun dan malah mengunci diri didalam kamar mandi.

Sehun yang khawatir akan Jongin segera meninggalkan apartemen itu menyusul Jongin. Sehun takut jika Jongin mengadukan semuanya pada orang tuanya atau Jongin tiba-tiba langsung pulang ke Seoul atau lebih buruk lagi, Jongin tersesat di kota besar ini.

Hari sudah nyaris gelap dan hujan masih terus mengguyur Kota London.

Sehun masih belum bisa menemukan Jongin.

Di mansion-nya tidak ada.

Dihubungi tidak menjawab.

Sehun akan bunuh diri jika sesuatu terjadi pada Jongin.

Bagaimana ia bisa menghadapi keluarganya? Keluarga Kim?

Dna terlebih lagi, bagaimana ia bisa menjalani hidup tanpa Jongin?

Sehun menyerah.

Dia menangis dalam mobilnya.

Sehun adalah pria tangguh yang sudah melewati banyak hal dalam hidupnya. Namun dihadapan Jongin ia bukanlah apa-apa. Jongin memiliki seluruh hati, jiwa dan raganya hingga ia menjadi begitu tidak berdaya tanpa gadis itu.

Setelah hampir satu jam Sehun menangis didalam mobil, ia memutuskan untuk mencari seseorang yang bisa ia ajak bicara. Jika di Seoul ia akan mencari Chanyeol untuk menemaninya bergalau ria, di London ia memiliki Eliza.

Kawasan tempat tinggal Eliza yang muram tampak semakin muram karena hujan yang mengguyur seharian. Anak-anak yang biasanya banyak berkeliaran dijalanan menghilang. Derai tawa para penghuni perumahan kumuh itu tidak ada.

Itulah salah satu sebab Sehun membenci London.

Hujannya menghapus keceriaan dibanyak tempat.

"Eliza?" Sehun mengetuk pintu rumah Eliza yang sangat sangat sederhana.

"Sehun?" Suara Eliza yang sudah Sehun hapal terdengar dari dalam rumah itu. "Oh, akhirnya kau datang juga Sehun.."

"Ke-kenapa?" Sehun bingung dengan ucapan Eliza.

"Jongin.." Eliza berkata pelan dengan wajah cemas.

"Jongin?! Jongin kenapa? Jongin ada disini?" Detak jantung Sehun naik saat mendengar nama Jongin.

"Iya, dia disini sejak tadi pagi.." Eliza mengelus lengan pemuda itu agar lebih tenang.

"Dimana dia?" Sehun merangsek masuk namun Eliza menahannya.

"Dia menangis sejak tadi dan tidak mau makan atau minum. Aku ingin menghubungimu tapi aku tidak punya ponsel. Tolong bicara yang lembut karena dia sepertinya sangat sedih. Dia bahkan tidak mengatakan apa-apa sejak datang."

Sehun mengangguk paham dan berjalan masuk kedalam rumah yang sangat sempit dan sesak itu. Sehun menuju ruang yang merupakan ruang makan, ruang tamu dan ruang keluarga.

"Jongin.." Sehun memanggil nama Jongin dengan lembut.

Gadis manis itu menoleh ke sumber suara yang begitu familiar.

"Hiks.." Jongin yang tadi tangisnya sudah reda kini mulai mengeras kembali. "Ma-mau apa kau…hiks.."

"Jongin..Jongin.." Sehun duduk diatas karpet tepat disamping Jongin. Pemuda itu langsung merengkuh kekasihnya kedalam pelukan dan juga desahan penuh kelegaan terdengar. "Kau tahu betapa khawatirnya aku.."

"Khawatirkan dirimu sendiri…hiks…" Jongin mendorong tubuh Sehun dengan kekuatan yang sangat lemah. "Aku…aku…aku tidak mau melihatmu lagi! Aku tidak mau jadi pacarmu lagi! Biar kau dimarahi ayahmu..hiks.."

"Astaga sayang…ku mohon jangan begitu.." Sehun menarik wajah Jongin yang berurai air mata. "Dengarkan dulu penjelasanku, oke? Please…"

"K-kau jahat…hiks…" Jongin menangis semakin keras dan Sehun tidak mampu berkata-kata karena suara tangisan Jongin sangatlah memilukan baginya, terlebih fakta jika yang membuat Jongin menangis adalah dirinya.

Sehun dengan suara tercekat berusaha menenangkan Jongin yang kini sudah pasrah didalam pelukannya, tidak lagi memberontak dalam lengan kekarnya. Sehun mengucapkan kata-kata cinta dan ucapan maafnya berkali-kali.

Usai Jongin sedikit lebih tenang, Sehun mulai menjelaskan semuanya.

"Jongin…kau percaya padaku kan?" Sehun menatap Jongin yang terlihat bingung. Wajar kan jika ia merasa bingung? Sehun adalah pria tampan yang dulunya adalah seorang playboy? Dan Sehun memilih menjadi kekasih dari gadis yang tidak cantik-cantik amat, lalu suatu pagi ia menemukan kekasihnya tidur tanpa busana dengan wanita lain. Wajar sekali jika Jongin sedikit tidak percaya dengan penjelasan Sehun…

"Aku..aku…benar-benar tidak tahu apa yang terjadi padaku. Aku bahkan tidak begitu mengenal Irene, hanya tahu nama dan wajahnya saja. Kau tahu kan betapa aku mencintaimu? Betapa aku ingin melewati semua ini untuk bisa hidup bahagia denganmu?" Sehun menggenggam tangan Jongin, berharap gadisnya akan percaya pada ceritanya.

"Sehun..aku…aku…" Jongin menunduk. Dia tahu jika Sehun mencintainya. Semua pengorbanan yang telah Sehun lakukan menunjukkan besarnya cinta Sehun pada dirinya. Tapi, apa mungkin sifat seseorang dengan mudahnya berubah dalam waktu beberapa bulan?

"Aku bingung. Mereka…mereka…mengatakan padaku bagaimana dulu kau sangat mencintai Jessica dan juga…juga…hiks.." Jongin terisak lagi. "Dan…dan bagaimana semua kekasihmu yang mirip dengan barbie..lalu aku…aku…"

"God Jongin…" Sehun merasa hatinya tercabik.

"Semua yang media katakan itu benar…hiks…aku tidak pantas untukmu. Aku hanyalah orang yang beruntung karena lahir dalam keluarga yang berkecukupan. Tapi aku…aku sendiri hanyalah…hanyalah…."

"Jongin hentikan ucapanmu." Sehun meremas lengan Jongin kencang. Sehun tahu betul bagaimana Jongin yang sering merasa insecure karena ia tidaklah seperti kedua kakaknya. Namun bagi Sehun, Jongin adalah yang terindah dari yang paling indah. Dan Sehun benci sekali jika ia mendengar Jongin merendahkan dirinya seperti ini.

"Kau adalah Kim Jongin. Gadis tercantik, termanis, terlucu, tersemuanya. Kau harus tahu itu. Kau membandingkan dirimu dengan siapa? Jessica? Nenek lampir itu? Seharusnya kau paling tidak membandingkan dirimu dengan Emma Watson!"

Jongin bukannya berhenti menangis malah menangis semakin keras.

"Huwaaa…aku mau pulang kerumah…" Jongin membenambkan wajahnya didada Sehun sambil menangis keras-keras. Sehun menghela nafas panjang dan memeluk kekasihnya erat. Sepertinya malam ini juga ia harus memesan tiket pulang ke Seoul…

"Sehun, maafkan kami.."

"Mommy, aku percaya pada Sehun. Aku tahu dia tidak melakukan apa-apa pada Irene. Kenapa…kenapa aku harus…" Jongin memandang ibunya dengan mata berkaca-kaca.

"Jongin, ini bukan untuk kebaikanmu atau kebaikan perusahan kita saja. Ini juga untuk Sehun dan kelangsungan perusahaan Sehun juga." Ibu Jongin memandang sedih kearah anaknya.

"Jongin, aku minta maaf.." Sehun yang duduk disamping Jongin memandang kekasihnya penuh sesal. Andai saja malam itu ia tidak lengah, andai saja ia bekerja lebih cepat lagi. Pasti semua tidak akan seperti ini.

"Tidak adakah cara lain Sehun? Kita bisa minta tolong Chanyeol atau…" Jongin terlihat sangat putus asa dengan keadaan yang harus ia terima. Keadaan dimana ia dan Sehun tidak lagi bersama.

Ya, itulah keadaan yang harus Jongin hadapi.

Setelah ia bersusah payah memperjuangkan cintanya bersama Sehun kini semuanya harus kandas. Semua hanya karena kejadian di suatu malam saat mereka di London.

Sehun dan Jongin yang waktu itu sedang dalam perjalanan menuju Seoul ternyata bertindak terlalu lambat. Jessica sudah tahu jika Sehun mencoba mengorek masa lalunya untuk dijadikan bukti tindakan tercelanya selama ini. Sehingga Jessica dengan cepat merencakan jebakan untuk Sehun.

Foto-foto Sehun dan Irene, Jessica gunakan sebagai ancaman karena gadis jahat itu tahu dengan foto itu, reputasi Sehun akan hancur begitu juga dengan keluarganya. Dampak tentu saja juga dirasakan oleh Jongin yang berstatus sebagai kekasih Sehun. Jessica tidak akan mempublikasi foto itu dengan satu syarat, Sehun dan Jongin harus berpisah.

Sehun dan Jongin menerima ancaman itu sehari setelah kedatangan mereka ke Seoul dan kini keluarga Kim sedang berkumpul diruang tengah mansion Kim untuk merundingkan semuanya.

"Lalu kalau kau sudah putus dariku apa kau akan kembali bersama Jessica?" Jongin bertanya dengan suara tercekat.

"Tidak, aku tidak akan melakukannya apapun yang terjadi." Sehun menggelengkan kepalanya kencang. Sehun itu memang memiliki sedikit ketakutan dengan si gadis siluman itu. Sudah susah-susah ia melepaskan diri dari jeratan Jessica, mana mungkin ia akan kembali padanya?

"Tapi aku tidak mau berpisah denganmu.." Jongin berusaha menahan tangisnya didepan ayah, ibu serta kedua kakaknya. Dan jangan lupakan Xiumin yang sudah merupakan bagian dari keluarganya setelah kecelakaan terhadap Luhan terjadi.

"Aku berjanji kita berpisah hanya untuk sementara. Aku akan melakukan apapun untuk bisa kembali bersamamu." Sehun tidak tega melihat Jongin yang seperti ini. Menahan tangis, takut, marah dan kesedihan mendalam terlihat dari mata cantik Jongin.

"Hiks.." Jongin mengangguk pelan dan air mata mulai turun membasahi pipinya. Nyonya Kim meremas tangannya sendiri melihat Jongin seperti itu. Ibu mana yang tidak terluka anaknya menangis?

Selama ini Jongin jarang sekali mengungkapkan emosinya, baik melalui kata-kata maupun tangisan. Jongin yang memang pada dasarnya pendiam lebih suka memendam semuanya sendiri. Tidak berbagi pada keluarga maupun sahabat terdekat. Namun kehadiran Sehun membuat Jongin lebih terbuka dan lebih banyak tertawa. Kini Nyonya Kim harus melihat kebahagiaan anaknya direnggut dengan cara yang sangat kotor.

Nyonya Kim—begitu juga dengan anggota keluarga Kim yang lain—berjanji untuk membantu bungsu Kim untuk mendapatkan kebahagiaannya kembali. Entah dengan cara apapun atau seberapa lama waktu yang dibutuhkan.

Sehun dan Jongin memutuskan untuk menghabiskan waktu berdua dikamar Jongin yang luas. Jongin sama sekali tidak mau melepas tangan Sehun sedikitpun sejak diruang tengah. Dan Sehun merasa hatinya semakin teriris melihat Jongin seperti itu.

Nanti malam, Sehun akan menghubungi Jessica dan mengatakan jika pemuda itu sudah mengakhiri semuanya dengan Jongin. Berarti juga, besok pagi akan ada berita berakhrinya hubungan Sehun dan Jongin.

Lalu berarti juga, Sehun akan menghadapi kemarahan ayahnya.

Walaupun Sehun bisa saja memberi tahu tentang masalah Jessica pada ayahnya, ia memilih untuk bungkam. Biarkan ia menyelesaikan masalahnya sendiri karena ia tahu jika ayahnya hanya akan menghajar dan mengatainya. Sehun mungkin hanya akan mengatakan kebenaran pada ibunya nanti.

"Kau tidak ingin makan sesuatu?" Sehun bertanya pada Jongin yang berbaring disampingnya. Kepala Jongin berbaring diatas lengan Sehun dan lengan langsing milik Jongin memeluk pemuda tampan itu erat-erat.

"Tidak mau." Jongin menggelengkan kepalanya.

"Apa kau tidak perlu mengerjakan PR?" Sehun bertanya lagi. Membolos hampir seminggu membuat Jongin banyak ketinggalan tugas dan harus segera dikebut.

"Menurutmu aku masih bisa mengerjakan tugasku?" Jongin bertanya dengan suara kesal.

"Sayang…" Sehun mendorong Jongin sedikit menjauh agar bisa melihat wajah manis gadis itu. "Kita masih bisa bertukar pesan lalu telepon.."

"Sehuuun, itu berbeda." Jongin berkata dengan bibir cemberut. Sehun dan Jongin memang memutuskan untuk menyudahi hubungan mereka, tapi bukan berarti mereka akan lepas dari pelukan satu sama lain bukan?

"Jongin sayangku. Semuanya tidak ada yang berbeda." Sehun mencubit pipi Jongin gemas. "Anggap saja aku kembali ke London sehingga kita tidak bisa bertemu selama beberapa saat."

"Hah, baiklah." Jongin menghela nafas. Membayangkan sehari saja tidak bertemu Sehun rasanya sangat aneh. Sedangkan saat ini ia tidak bisa bertemu dengan Sehun sampai entah kapan. "Apa kau sudah punya rencana?"

"Tentu saja punya." Sehun berkata sombong.

"Apa? Apa?"

"Rahasia!" Sehun mengecup hidung mungil Jongin gemas. "Sekarang jangan pikirkan apapun. Biarkan aku memelukmu." Sehun menarik Jongin agar gadis itu naik keatas tubuhnya.

"Sehun.." Jongin mengerang malu dengan posisi mereka yang terlalu intim.

"Hm?" Sehun bergumam pelan sambil membenamkan hidungnya pada puncak kepala Jongin, menghirup aroma kekasihnya yang sangat menenangkan.

"Bagaimana jika Luhan Unnie atau Kris Oppa masuk?" Jongin bertanya dengan suara pelan.

"Aku rasa mereka tidak akan menghajarku." Sehun berkata sambil tertawa. "Tidak untuk kali ini."

Jongin pun ikut tertawa bersama Sehun.

Jongin tidak pernah membayangkan jika hari seperti ini tiba. Hari dimana ia akan kehilangan Sehun sebagai kekasihnya. Memang bukan kehilangan pemuda itu selamanya. Hanya untuk sementara, begitu Jongin berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

Tapi tetap ada begitu banyak ketakutan yang menyelubungi hati Jongin.

Sampai kapan ia harus berjauhan dari Sehun?

Apakah cinta yang ia perjuangkan ini akan ada akhirnya?

Apakah Sehun memang untuknya?

"Jongin, percaya padaku." Sehun menarik dagu Jongin agar gadis itu menatapnya. "Aku mencintaimu, sangat. Aku akan melakukan apapun agar bisa menyingkirkan si nenek sihir itu. Oke? Kau tahu kan bagaimana hebatnya detektif Chanyeol? Kita juga memiliki Baekhyun sekarang. Dan jangan lupa kau adalah seorang Kim dan aku seorang Oh." Sehun berkata seolah bisa membaca pikiran Jongin.

Jongin tersenyum kecil, terharu akan bagaimana pengertiannya Sehun.

"Aku mencintaimu." Jongin berkata lembut. "Dan walaupun sekarang kau bukan pacarku, bukan berarti kau boleh bergenit-genit diluar sana."

"Aku masih pacarmu!" Sehun mencubit pipi Jongin. "Dan aku juga berjanji tidak akan genit."

"Good. Kau tahu kan Kris Oppa itu sangat sayang padaku?" Jongin berkata sambil menatap Sehun dengan pandangan mengancam. "Kris Oppa akan menghajarmu kalau sampai kau genit.

"Hahahahaha, kau manis tapi ternyata sangat mengerikan." Sehun tertawa terbahak-bahak.

"Ih aku serius Sehun! Aku sudah akan menunggumu walaupun sampai beruban nanti. Sampai kau meninggalkanku kau akan mati ditangan Kris Oppa!" Jongin merengut kesal.

"Aku sudah akan mati dulu dibunuh Kris Hyung jika aku membuatmu menunggu sampai kau beruban."

"Kau benar, jangan membuatku menunggu terlalu lama!" Jongin berkata galak.

"Asal kau menciumku."

Cup!

Jongin mengecup bibir Sehun sekali.

"Aku tidak bilang untuk berhenti." Sehun menyeringai.

"Dasar tukang ambil kesempatan!" Jongin merengut walaupun ia kembali mendekatkan bibirnya untuk mengecup bibir Sehun sekali lagi. Atau mungkin berkali-kali lagi.

'Usai putus dari anak bungsu keluarga Kim, Oh Sehun terlihat sudah pulih dari patah hatinya dan mulai berkencan lagi'

Mata Jongin terasa panas melihat headline berita yang ada di halaman utama situs Naver. Jongin sudah diberi tahu oleh Sehun sebenarnya. Dua malam kemarin, Sehun mengirimkan pesan padanya jika ia 'berpura-pura' berkencan dengan Jessica.

Jongin ingin sekali ke apartemen Sehun dan mengamuk pada pemuda itu tapi tidak bisa. Sekarang ia bukanlah siapa-siapa Sehun, ia tidak berhak marah-marah pada pemuda itu. Lagi pula ia tidak ingin ketahuan media atau antek-antek Jessica jika ia masih berhubungan dengan Sehun.

'Pulih? Pulih dari apa? Putus dari gadis seperti bungsu Kim? Heol, tidak ada yang perlu dipulihkan.'

'Akhirnya, Sehun bisa menggunakan matanya dengan baik.'

'Aku yakin jika sebenarnya Sehun sudah berkencan dengan gadis baru itu lumayan lama, dia hanya menyembunyikannya untuk menjaga perasaan si Kim itu. Sehunnie terlalu baiiiik..'

'Pacar barunya sangat cantiiiik.'

'Seperti Ken dan Barbie!'

Jongin tahu jika ia membuka internet lebih dari sepuluh menit, ia kan mendapatkan rasa sakit seperti ini. Memang hidup di Korea Selatan itu berat. Penampilan adalah kunci nomor satu untuk mendapatkan hidup yang baik. Bahkan kadang nama Kim yang disandang oleh Jongin tidak bisa membuatnya merasa lebih baik.

Hidupnya bersama pangeran impian negeri dongeng hanyalah sesaat. Karena…pangeran negeri dongeng hanyalah tercipta untuk puteri-puteri raja yang cantik dan mempesona. Bukan untuk gadis yang sangat biasa seperti Jongin…

Kala seperti inilah Jongin merasa begitu insecure, takut, malu. Dia membutuhkan seseorang untuk membisikkannya kata-kata manis dan penyemangat. Mungkin Luhan, Kris atau kedua orang tuanya bisa memberikan itu semua. Namun Jongin membutuhkan Sehun mengatakannya. Mengatakan jika dirinya itu worth of love…

To: Prince Oh

Baby, apa kau sudah makan?

Aku hari ini memasak sup ikan.

Luhan Unnie dan Xiumin Oppa makan banyak sekali.

Jongin mengirim pesan pada Sehun ke-enam kalinya hari itu. Dan enam-enamnya tidak dibalas oleh Sehun. Mungkin Sehun sibuk. Begitu pikir Jongin. Sehun kan sedang kuliah, belum lagi belakangan katanya Sehun sibuk sedang mengumpulkan informasi tentang Jessica.

Tapi…masa membalas satu pesannya saja tidak bisa.

Jongin berusaha menekan pikiran-pikiran buruk yang terus bermunculan dikepalanya beberapa hari terakhir. Baru sebulan dia dan Sehun berjauhan tapi hubungan mereka sudah merenggang.

Sehun mulai jarang menghubunginya.

Kalaupun menghubunginya hanya sangat sebentar.

Ucapan selamat pagi yang awalnya selalu masuk di ponsel Jongin perlahan mulai semakin sepi. Hanya ucapan selamat malam yang kelewat malam dengan alasan sibuk mengerjakan tugas atau ada urusan dengan Chanyeol.

Apalagi sekarang Jessica sudah pindah ke Seoul untuk melanjutkan bisnis keluarganya—ternyata Jessica memiliki saham besar diperusahaan keluarga Hwang. Sekalian melanjutkan studinya.

Jongin semakin takut jika Sehun kembali pada pelukan Jessica, mengigat bagaimana manipulatifnya gadis ular itu, Sehun yang sudah sangat membenci Jessica bisa jadi terjerat kembali kan?

Lebih menyedihkannya lagi.

Pangeran dalam mimpi Jongin mulai kembali.

Dulu, Jongin memang sering memimpikan seorang pria yang dalam mimpi Jongin merupakan pria yang sangat tampan dan selalu melindunginya. Meskipun sampai saat ini Jongin tidak pernah melihat wajah si pria, Jongin bisa merasakan sensasi aman setiap ia memimpikan pria itu.

Semenjak ia dan Sehun menjauh, pria itu kembali kedalam malam-malam Jongin. Memang hanya mimpi sih, tapi Jongin merasa bersalah karena memimpikan pria lain. Setiap pagi, Jongin akan merasa sangat bahagia, damai dan tenang begitu terbangun dari tidurnya. Namun rasa bersalah kemudian menyerangnya, kenapa dia selalu memimpikan pria ini?!

Dulu sih tidak masalah, kan dulu dia tidak punya Sehun..

Ah, Jongin tidak punya banyak waktu untuk memikirkan si pangeran mimpinya.

Sekarang yang ia pikirkan adalah Sehun.

Kemana pemuda itu? Kenapa tidak juga membalas pesannya? Jongin sudah mengantuk dan ingin tidur. Inginnya sih ia menghubungi Sehun untuk mendengar suara kekasihnya sebentar saja. Tapi Sehun melarang keras Jongin meneleponnya duluan.

Tring!

From: Prince Oh

Hai baby.

Maaf aku baru sempat buka ponsel.

Seharian sibuk sekali dikampus dan Jessica minta supaya aku menemani dia seharian. Kenapa belum tidur baby? Ini sudah lewat tengah malam. Besok kau harus sekolah kan?

Hati Jongin rasanya mencelos.

Jadi seharian Sehun menghabiskan waktu bersama Jessica?

Jadi itu sebabnya Sehun tidak membalas pesannya sama sekali?

To: Prince Oh

Ah begitu.

Aku sudah sangat mengantuk.

Selamat tidur.

Jongin membalas pesan Sehun sambil menggigit bibirnya, menahan tangis. Biarpun Jongin tahu kalau Sehun hanya berpura-pura dengan Jessica, rasanya tetap menyakitkan melihat pemberitaan Sehun menggandeng gadis lain.

From: Prince Oh

Selamat tidur.

Melihat balasan Sehun yang singkat seperti itu membuat Jongin lebih tersayat lagi. Sepertinya Sehun sungguhan sudah mulai kembali kedalam pelukan Jessica, melupakan kisah cinta mereka yang memang baru sejenak.

Mungkin…

Mulai sekarang Jongin jangan terlalu berharap pada Sehun lagi. Pangeran negeri dongeng hanyalah untuk putri-putri nan cantik jelita. Bukan gadis biasa yang bahkan nilai matematikanya masih selalu remidi seperti dia.

Mungkin Sehun hanyalah pelajaran berharga untuk dirinya.

Bukan akhir bahagia yang selama ini ia kira.

Mungkin Jongin harus berhenti menunggu Sehun dan semua janji-janji manis pemuda itu. Karena Jongin takut jika hanya akan mendapatkan kekecewaan diakhir nanti.

"Sehun. Kau tidak apa kan?"

"Tidak, aku tidak apa-apa." Sehun tersenyum pada Chanyeol yang duduk didepannya.

"Kau yakin? Apa kau mulai gila lagi? Kau baru bersama Jessica selama beberapa hari."

"Aku tidak apa Park. Aku hanya merasa bersalah pada Jongin." Sehun membuka laptopnya dengan pandangan muram.

"Ku pikir parfum Jessica sudah membuatmu kena sihirnya lagi." Chanyeol terkekeh pelan. "Aku akan membuat ini secepat mungkin sehingga kau bisa menghubungi Jongin sebelum kencanmu dengan si nenek lampir."

"Great." Sehun tersenyum senang dan segera memulai pembahasan rencananya dengan Chanyeol untuk menjatuhkan Jessica.

Sehun mengalami minggu yang sangat menyeramkan.

Seminggu yang lalu Jessica menghubunginya, mengajak untuk bertemu. Sehun menebak-nebak apa yang diinginkan Jessica dan tebakannya ternyata benar. Jessica ingin kembali bersama Sehun dan mempublikasikan hubungannya dengan Sehun.

Sehun awalnya menolak namun ancaman lain diberikan Jessica.

Sehun berusaha menyabarkan dirinya. Chanyeol pun memberi saran agar mengikuti saja permainan Jessica sambil mengorek informasi tentang gadis itu. Mengumpulkan bukti-bukti yang bisa memberatkan Jessica dipengadilan nanti.

Sungguh Sehun muak sekali pada Jessica namun gadis itu tidak bisa dipungkiri adalah gadis yang penuh oleh kekuatan. Jessica selalu bisa memanipulasinya, membuat Sehun merasa sangat diinginkan, dibutuhkan dan dipuja. Membuat Sehun melupakan sejenak Jongin dari kepalanya.

Namun rasa itu tidak berlangsung lama. Karena setiap kali ia akan terhanyut dalam permainan Jessica, bayangan Jongin muncul dalam kepalanya. Rasa bersalah, marah dan juga rindu berpusar pada perut Sehun.

Ia tahu ia memainkan peran yang berbahaya.

Jessica bukanlah sembarang gadis. Ia memiliki kekuatan besar di Korea Selatan dan juga beberapa negara maju di Asia. Sehun sungguh sangat menyesali kenapa dulu ia pernah terlibat cinta dengan gadis mengerikan seperti Jessica.

Bisnis yang dijalankan Jessica pun bukan sekedar bisnis percetakan dan media saja. Perusahaan tempat Jessica menaruh saham juga bergerak dalam bidang supply senjata api ilegal. Kini masalah yang Sehun hadapi bukan hanya masalah cintanya saja. Jika ia mengusik Jessica dan perusahaan keluarganya dapat dipastikan jika keluarganya akan terusik juga. Akan sangat banyak yang dipertaruhkan namun Sehun tetap memilih untuk maju.

Kehadiran Chanyeol sendiri sangat membantu banyak. Chanyeol yang kini mulai mengambil double degree sebagai seorang pengacara menuntun Sehun agar tahu langkah apa yang harus diambil. Informasi apa yang harus Sehun korek dan pertahanan apa yang harus Sehun siapkan untuk kemungkinan terburuk. Sehun bersumpah jika ia akan membalas budi Chanyeol dan membelikan pemuda itu satu set Xbox keluaran terbaru serta seluruh games-nya.

"Nah, untuk hari ini itu dulu karena aku baru merencanakan sampai situ." Chanyeol menyerahkan sebuah flashdisk pada Sehun yang wajahnya menunjukkan raut kebingungan yang kentara.

"Kalau masih tidak mengerti, kau bisa membaca seluruh penjelasan didalam sana. Aku tahu kau tidak pintar-pintar amat." Chanyeol menutup laptopnya dan mengeluarkan buku pelajarannya.

"Sial, aku hanya masih mencernanya!" Sehun berkata kesal. Tangannya mengambil ponsel dikantong celananya, berniat untuk mengubungi Jongin.

"Halo sayang?" Dalam waktu sekejap Sehun sudah terhubung dengan Jongin yang ia yakini baru saja pulang sekolah.

"Sehun! Ada apa menghubungiku?" Suara Jongin terdengar bersemangat.

"Ada apa? Memangnya butuh alasan untuk menghubungi kekasihku?"

"…."

"Kau merindukanku?" Sehun tersenyum karena membayangkan kekasihnya tersipu diujung sana.

"Sangat." Jongin berkata dengan suara lirih.

"Aku juga." Sehun tersenyum. Senyuman yang membuat Chanyeol memasang wajah akan muntah dan Sehun menendang kaki sahabatnya itu. "Kau sudah dirumah?"

"Tidak, aku keluar bersama Kyungsoo. Dia mengajakku melihat pameran make-up didekat kampusmu."

"Sungguh?! Kau dikampusku?" Sehun bertanya penuh semangat.

"Iya, kau sedang dikampus?!" Jongin terdengar sama bersemangatnya.

"Iya! Aku baru saja bertemu dengan Chanyeol!"

"Sehun! Sehun! Bisakah kita bertemu sebentar? Sebentar saja!" Jongin tiba-tiba merengek untuk bertemu Sehun.

"Uh, aku tidak yakin Jong. Setelah ini aku akan bertemu Jessica dan aku takut jika dia melihat kita bersama.." Suara Sehun yang tadi terdengar bersemangat langsung lesu.

"Ah, begitu." Jongin sama terdengar kecewanya. "Apa tidak bisa sama sekali? Aku sangat merindukanmu. Aku hanya ingin memelukmu beberapa detik lalu pergi."

Sehun paling tidak bisa jika Jongin seperti ini.

Dan dia juga sangat merindukan gadis manisnya itu.

Dia sangat ingin memeluk Jongin dan menghirup aroma kekasihnya walau hanya beberapa detik.

"Baiklah. Temui aku dibelakang kafetaria kampusku." Sehun berkata final dengan tatapan tidak setuju dari Chanyeol.

"Ayolah, aku sudah tidak melihatnya berminggu-minggu!" Sehun membela dirinya dihadapan Chanyeol yang masih menatapnya dengan tatapan tercela.

"Fine, tapi jangan lama-lama. Kita tidak pernah tahu siapa saja kaki tangan si nenek lampir itu." Chanyeol melambaikan tangannya mengusir Sehun yang sedang menata barang-barangnya, memasukkan asal semua buku kedalam tas ransel.

"Tidak akan! Hanya lima menit!" Sehun tersenyum cerah. Ah, kerinduannya pada Jongin paling tidak akan terobati walau hanya sesaat.

Baru dua langkah Sehun berjalan meninggalkan meja tempat ia dan Chanyeol berdiskusi tadi. Mata Sehun menangkap sosok gadis yang sangat amat ingin Sehun hindari. Jessica berdiri tidak jauh darinya, tersenyum lebar dengan lengan terbuka lebar.

"Sehuuun!" Jessica berlari manja dan memeluk leher Sehun mesra.

"Uh, h-hai baby.." Sehun membalas pelukan Jessica dengan sedikit kikuk. "Bukankah kau sedang ada meeting?"

"Hm, tapi aku bosan dan merindukanmu.." Jessica bergumam manja dan menatap Sehun mesra.

"A-aku juga merindukanmu." Sehun tersenyum dan memeluk pinggang Jessica.

Tepat saat bibir Jessica mendekat bibir tipis Sehun, gadis berseragam sekolah menengah atas masuk. Dari semua waktu, Jongin dan Kyungsoo memilih untuk masuk saat Jessica mengecup bibir Sehun penuh perasaan.

Jongin dulu pernah dikatai anak pungut oleh temannya. Atau si pesek, atau si gelap. Dia juga sering mendengar bagaimana komentar orang akan prestasinya disekolah yang sungguh sangat pas-pasan. Jongin bisa merasakan bagaimana tatapan kasihan teman-teman ibu dan ayahnya, kasihan pada ayah ibu Kim karena anak bungsunya tidaklah secemerlang kedua anak yang lain.

Jongin tidak pernah menangis ketika menerima semua komentar dan ejekan menyakitkan itu selama delapan belas tahun. Ia hanya memendam rasa sakit hatinya sendiri. Bahkan ia tidak pernah bercerita pada keluarga atau teman baiknya. Untuk apa ia bercerita? Memohon belas kasihan? Meminta perhatian mereka?

Gadis manis ini sudah banyak mengalami rasa sakit yang tidak banyak gadis seusianya rasakan. Namun dari semua rasa sakit yang pernah ia dapatkan, rasa sakit tertoreh dikafetaria kampus Sehun sore itu adalah yang paling perih.

Kyungsoo disebelahnya langsung menarik tangan Jongin agar berpaling dari pemandangan ditengah kafetaria. Gadis berambut biru menyala itu membawa sahabatnya agar pergi dari sana dan ia juga bisa merasakan tangan Jongin yang mulai berkeringat dingin.

"Jongin..Jongin..apa kau baik-baik saja?" Kyungsoo menghentikan langkahnya setelah mereka sudah agak jauh dari kafetaria.

"Y-ya.." Jongin mengangguk kecil. Bohong sekali jika ia baik-baik saja. Jongin sangat jauh dari baik-baik saja.

"Astaga temanku.." Kyungsoo memeluk Jongin erat, berusaha memberi ketenangan pada sahabatnya itu. Wajah Jongin terlihat pucat sekali dan tanganya dingin.

"Hiks..Kyung.." Kyungsoo mulai mendengar isakan setelah beberapa detik mereka berpelukan.

"Menangislah. Menangislah.." Kyungsoo mengelus punggung Jongin. "Biar ku adukan pada Kris Oppa supaya dia menjitak Sehun sampai bocor kepalanya."

"Hiks..aku tidak kuat lagi Kyung.."

"Ssshh, jangan bilang begitu. Kau sudah melangkah sangat jauh bersama Sehun." Kyungsoo walaupun kesal melihat Sehun berciuman seperti tadi tetap berusaha menguatkan Jongin. Dia tahu jika ciuman itu hanyalah bagian dari akting Sehun tapi…membayangkan Taemin, kekasihnya, berciuman dengan gadis lain walaupun cuma akting rasanya pasti akan tetap menyakitkan. Apalagi gadis lain itu adalah mantan dari kekasihnya…

"Kyung, aku mau putus saja!"

To Be Continue

MAAFIN AUTHOR PLEASEEEEEE!

Maafin baru update sekarang huhuhuhu.

Tolong marahin Author!

Marahin!

Marahin!

Makasih dan mohon mahan maaf ya sudah mau menunggu lama :")

Mohon review, kritik dan sarannya juga :")

Gomawooooooo