Fanfiction

Cast : Jongin!GS, Sehun

Genre : Romance, Drama

Summary : Jongin terlahir dari keluarga kaya raya, namun hal itu yang membuat hidupnya semakin sulit, karena dia tidak seperti anggota keluarganya yang lain. Tidak seperti kedua saudaranya, Jongin bukanlah gadis yang cantik—tidak jelek juga kok, dia tidak memiliki nilai akademik yang patut dipamerkan atau keahlian yang membuat dia pantas diperhitungkan. Jongin benar-benar tidak memiliki sesuatu yang spesial. Hidup Jongin jungkir balik hanya dalam semalam, hidupnya berubah. Pangeran yang selalu dia khayalkan bukanlah sekedar khayalan lagi.

Chapter Eighteen

"Jongin tolong buka pintu. Tolong..ku mohon.."

Sepi.

"Jongin aku tahu kau pasti kecewa dan marah tapi aku bersumpah ciuman itu tidak berarti apa-apa untukku."

Sepi.

"Jongin, jangan begini tolong. Aku hanya ingin menjelaskan semuanya padamu—"

"Menjelaskan apa Sehun? Aku mengerti dengan jelas apa yang sedang terjadi. Aku mengerti jika antara kau dan Jessica hanyalah hubungan sandiwara. Untukmu hanyalah sandiwara tapi tidak untuk Jessica." Suara Jongin terdengar lirih dari balik pintu.

Sehun, pemuda yang sudah hampir satu jam berdiri didepan pintu kamar disebuah rumah mewah, merasakan jantungnya berdebar mendengar suara Jongin, kekasihnya yang sedang mengurung diri. Biarpun Jongin sedang marah-marah namun rasanya begitu menenangkan mendengar suara gadisnya.

"Aku lelah Hun…" Suara Jongin terdengar bergetar. "Aku rasa kita tidak usah memaksakan hubungan kita lagi. Aku banyak berpikir selama beberapa hari terakhir…"

Perut Sehun rasanya mual mendengar ucapan Jongin. Tentu ia tahu kemana arah pembicaraan ini. Jongin ingin menyudahi hubungan mereka. Hal yang paling Sehun takutkan dimuka bumi.

"…aku banyak membaca reaksi masyarakat diforum-forum. Mereka mengatakan jika Jessica jauh lebih cocok denganmu. Dia lebih cantik dan—"

BRAK! BRAK! BRAK!

Pintu kamar Jongin digedor kuat oleh Sehun.

Sehun sungguh tidak ingin mendengar hal itu keluar dari bibir Jongin.

"JONGIN KAU TIDAK SUNGGUH-SUNGGUH BERPIKIR INGIN MENINGGALKANKU DENGAN IBLIS ITU KAN?!" Sehun berteriak keras sambil terus berusaha mendobrak pintu kamat Jongin hingga beberapa pelayan mencari sumber keributan yang ditidak biasa dimansion mewah keluarga Kim.

"JONGIN! JONGIN! BUKA PINTU! Aku…aku…" Sehun tidak tahu harus berkata apa lagi. Yang ia inginkan adalah memeluk Jongin. Karena tidak ada kata yang mampu mewakili rasa bersalah Sehun pada Jongin.

"Sehun.." Sebuah suara lembut dan tepukan dibahu pemuda itu membuat Sehun menoleh.

"Luhan Noona.." Suara Sehun bergetar menahan tangis.

"Oh astaga Sehun.." Luhan menatap sedih Sehun yang terlihat begitu kacau didepannya. Sehun tidak peduli jika ia adalah seorang pria terlebih mantan playboy. Kini yang ia tahu ia sudah menyakiti hati gadis yang ia sukai dan kemungkinan besar ia akan ditinggalkan oleh gadis tersebut.

"Ayo, kemari. Biarkan Jongin sendiri dulu. Dia butuh waktu untuk meredakan rasa marah dan kecewanya." Luhan menuntun Sehun menuju lantai dasar, menuju ruang tengah dimana Kyungsoo berada.

"Noona..tapi Jongin.." Sehun berjalan setengah hati untuk meninggalkan pintu kamar Jongin yang masih tertutup rapat.

"Biarkan dulu." Luhan berkata lembut namun tegas. Sehun yang sedang gundah hanya menurut Luhan, mengikuti langkah Luhan menuju lantai bawah.

"Noona, Jongin ingin putus dariku. Bagaimana ini?" Sehun memandang cemas ke arah Luhan. Wajahnya yang tampan tampak seperti anak balita yang ketakutan akan petir.

"Jika kau menjadi Jongin, apa kau tidak ingin putus? Memiliki kekasih yang mencium gadis lain didepan umum?" Luhan mendudukkan Sehun disofa rumahnya. Luhan mengisyaratkan agar pelayan membawakan sesuatu untuk diminum oleh Sehun. Sehun tampaknya butuh sesuatu yang menenangkan.

Sehun mengangguk kecil.

"Apakah Jongin sangat membenciku?" Sehun bertanya dengan sorot mata memelas.

"Aku rasa tidak, dia hanya sangat marah padamu. Sangat kecewa padamu. Dan dia juga lelah." Luhan berkata lembut. "Sebagai kakak, sebenarnya aku sangat ingin memintamu meninggalkan Jongin. Aku tidak tega melihat dia seperti ini setiap hari.."

"Noona…jangan…aku…aku…aku tidak bisa…" Sehun terkesiap mendengar ucapan Luhan.

"Aku tahu. Begitu juga dengan Jongin. Dia tidak bisa lepas darimu. Jadi aku mohon, apapun yang sedang kau lakukan untuk menyingkirkan Jessica, tolong lakukan dengan cepat."

"I-itu…aku sedang berusaha…"

"Aku tahu, aku tahu. Tapi lakukan lebih cepat. Aku ingin semuanya selesai dalam waktu dua minggu. Jika dalam dua ming—"

"SEHUN!" Suara berat dan keras milik seorang laki-laki mendadak memenuhi ruang tengah keluarga Kim yang luas dan mewah itu.

"Oppa!" Disana berdiri anak tertua dari keluarga Kim, Kris.

"Kau brengsek!" Kris berjalan mendekati Sehun lalu menarik kerah kemeja yang dikenakan Sehun.

"Oppa hentikan!" Luhan berusaha menarik Sehun dari kakaknya karena ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Kau menyakiti Jongin lagi?!" Kris mendorong Luhan agar menjauh lalu menaikkan tangannya yang terkepal.

BUGH!

Sebuah pukulan mendarat dipipi Sehun.

"Oppa!" Luhan kembali berusaha menarik Sehun dari Kris.

"Lu, biarkan orang ini merasakan sedikit saja rasa sakit yang Jongin rasakan!" Kris mendekati Sehun yang tersungkur diatas karpet lalu pukulan kembali mendarat diwajah Sehun.

Sehun tidak melawan.

Bahkan ia merasa ia pantas dipukuli seperti ini.

"Oh astaga! Tae hentikan Kris Oppa!" Suara nyaring Kyungsoo menambah hiruk pikuk diruang tengah tersebut. Taemin dan Kyungsoo terlihat terengah-engah seolah baru saja berlarian.

"God, sudah ku katakan tidak seharusnya kita terlalu jujur pada Kris Hyung!" Taemin dengan cepat berusaha melerai Kris yang masih terus memukuli Sehun meskipun darah sudah mengucur dari hidung juga bibir pemuda itu.

"Hyung! Hentikan! Hentikan!" Biarpun badan Taemin kalah besar dari Kris tapi pemuda itu tetap bisa menahan Kris untuk berhenti menambah memar diwajah sempurna Sehun.

Luhan pun segera memanfaatkan kesempatan itu untuk membawa Sehun menjauh dari Kris. Ia bawa Sehun menuju ruang makan sementara Kris ditenangkan oleh Kyungsoo dan Taemin.

Dari ruang makan, Sehun bisa mendengar Taemin mengomeli Kyungsoo yang dianggapnya terlalu jujur. Sehun tersenyum kecil mendengarnya. Ada rasa syukur dihati Sehun karena ia dikelilingi banyak orang yang mendukung hubungannya dengan Jongin namun saat ini rasa bersalah lebih banyak menyelimuti dirinya. Bagaimana bisa ia membuat Jongin menderita begitu lama setelah semua orang mendukungnya seperti ini?

"Biar aku obati sendiri nanti Noona. Aku akan pulang saja." Sehun menolak halus Luhan yang sudah akan membersihkan lukanya.

"Kau yakin?"

"Ya, aku sadar aku harus bergerak cepat." Sehun berusaha tersenyum namun bibirnya terasa nyeri. "Aku terlalu lambat dan…"

"Sudah jangan bicara lagi. Pasti nyeri sekali." Luhan tentu mengerti apa maksud Sehun. Yang Luhan inginkan adalah bukti dari kerja Sehun. Selama ini Sehun bersikeras ingin menyelesaikan masalah Jessica ini dengan caranya sendiri dan cara itu terlalu lama hingga menyakiti adik kecilnya. Kini ia memberi jangka waktu bagi Sehun agar semuanya selesai atau hubungan mereka harus berakhir. Well, sedikit ancaman mungkin akan membuat Sehun bergerak lebih cepat bukan?

"Kau tahu kan kalau kau seperti ini tidak akan segera menyelesaikan masalahmu?" Chanyeol memandang botol-botol minuman keras yang berserakan diatas meja, sofa dan karpet ruang tengah apartemen sahabatnya.

"Hmm…" Sehun hanya bergumam tidak jelas.

"Ini belum berakhir, kau tahu?" Chanyeol berusaha keras agar tidak muntah karena bau alkohol yang sangat menyengat diruangan itu. "Kita hanya perlu satu saksi yang—"

"Ya, aku tahu. Aku tahu." Sehun berkata malas tanpa memandang sahabatnya.

"God!" Chanyeol mengerang kesal. "Baiklah jika kau sudah tidak mau menyelesaikan semua ini." Pemuda jangkung itu berjalan dengan kesal menuju dapur dimana kekasihnya menunggu karena tidak kuat dengan bau alkohol yang menguar diruang tengah.

"UNTUK APA AKU MELAKUKAN SEMUA INI?! AKU TIDAK DIBAYAR! AKU BAHKAN MEMBAHAYAKAN DIRIKU SENDIRI UNTUK KAU, TEMAN TIDAK TAHU DIRI YANG MALAH SEKARANG MABUK DIPAGI HARI!" Chanyeol berkata lantang dari dapur.

"Kau melakukan ini untuk Baekhyun, Park." Sehun berkata dengan suara paraunya dan Chanyeol pun sedikit banyak membenarkan hal itu. Chanyeol memang ingin sekali memenjarakan si nenek sihir itu agar kekasihnya benar-benar terbebas dari bayang-bayang perempuan itu. Namun, jika tidak ada Baekhyun sekalupun ia rasa ia akan tetap membantu sahabatnya karena tidak tahan melihat seseorang bisa begitu mengesalkan jika sedang bersedih.

"Fine, aku memang melakukannya untuk Baekhyun. Tapi jangan har—"

"Park Channie, jangan begitu emosional." Sehun terkekeh pelan lalu bangkit dari sofa yang sudah dua hari ini menjadi singgasananya. Langkahnya terhuyung menuju kamar mandi. Chanyeol dan Baekhyun yang melihatnya menghela nafas lega. Paling tidak Sehun sudah mulai mau diajak berkomunikasi.

Baekhyun dengan cekatan merapikan ruang tengah berbau tengik tersebut dengan menggunakan masker. Oh, bau alkoholnya sangat menyengat hingga ia yakin bau tersebut tidak akan menghilang dalam sebulan.

Chanyeol mencari sesuatu untuk Sehun makan sambil bergumam tentang betapa baiknya ia mau mengurusi Sehun yang seperti bayi. Dalam waktu singkat apartemen Sehun terlihat lebih manusiawi untuk ditinggali dan juga sepanci ramen panas sudah tersedia untuk Sehun yang baru saja selesai membersihkan badan.

"Terima kasih Baek." Sehun tersenyum penuh rasa terima kasih pada Baekhyun melihat makanan yang tersedia diatas meja makan.

"ITU AKU YANG MEMBUATNYA DUNGU!" Chanyeol berkata kesal

"Oh, terima kasih Park." Sehun berkata tidak peduli dan mulai melahap ramennya.

"Jadi—"

"Aku sedang makan." Sehun mendelik kesal pada Chanyeol.

"Kita sudah tidak punya banyak waktu lagi Oh, kau sudah membuang dua hari yang berharga hanya untuk berduka. Kau tahu apa yang sudah dilakukan Jessica selama dua hari?!"

"Apa?"

"Dia sudah menyiapkan kepindahannya ke Seoul. Dia benar-benar berencana untuk mengikutimu kesini. Bahkan ia sudah mulai mencari ijin untuk membangun kantornya sendiri—"

"APA?!" Sehun tersedak ramen. Chanyeol menyodorkan segelas air pada Sehun dan langsung ditegak habis. "Tapi dia bilang dia akan pulang ke London sebelum Desember."

"Ya, hanya pulang untuk sementara untuk mengurus segala macam surat dan kembali kesini lagi." Chanyeol berkata pada Sehun yang masih terlihat sangat terkejut. "Maka dari itu kita harus mengumpulkan bukti dan saksi—"

"Apakah yang dulu pernah aku kumpulkan di London tidak cukup?"

"Tidak." Chanyeol menjawab singkat.

"Kenapa?!"

"Karena semuanya Jessica lakukan ketika ia dibawah umur dan itu bukan termasuk kejahatan yang serius. Jessica hanya melakukan pembullyan." Chanyeol menjawab tenang. "Yang kita butuhkan adalah catatan kejahatan yang serius. Dan kita tidak bisa melaporkannya ke kepolisian Korea Selatan namun ke kepolisian London karena Jessica adalah warga London dan hanya hukum London yang bisa menjerat Jessica."

Sehun terdiam.

Ternyata PR yang harus ia kerjakan agar masalah dengan si nenek sihir itu banyak sekali dan semuanya harus selesai dalam berapa? Dua belas hari? God, dia menyesal sudah membuang waktu dua hari untuk bergalau ria akibat Jongin mengakhiri hubungan dengannya. Padahal Sehun kan menyingkirkan si nenek sihir juga untuk Jongin.

"Jadi, ada baiknya jika kita segera terbang ke London untuk—"

"Well, well, aku rasa kita tidak perlu ke London secepat itu." Baekhyun memotong ucapan Chanyeol dengan senyuman riang. Dua pria itu memandang Baekhyun bingung. "Ada seseorang yang dengan suka rela terbang kemari untuk membantu kita."

"Siapa?" Chanyeol dan Sehun kompak bertanya.

Berblok-blok jauhnya.

Keadaan seorang gadis terlihat sama kacau seperti Sehun dua puluh menit yang lalu. Sehun yang berbaring diatas sofa dan dikelilingi berbotol-botol kosong minuman keras. Hanya saja gadis ini dikelilingi gumpalan-gumpalan tissue yang menjijikkan.

Ini adalah hari kedua Jongin tidak masuk sekolah dengan alasan 'sakit'.

Ya, sakit. Sakit hati.

Jongin belum pernah membolos sekolah untuk alasan sekonyol ini seumur hidupnya. Bahkan dulu waktu SMP ketika ia baru saja operasi gigi, Jongin tetap berangkat sekolah dengan gusi dan mulut bengkak.

"Hiks.." Air matanya menetes lagi dari matanya yang sudah sangat merah dan bengkak. Entah berapa lama ia sudah menangis. Tiga jam? Tidak ada yang tahu karena tidak ada yang berani mengganggu Jongin selama dua hari terakhir.

Jongin belum pernah merasa sesedih ini seumur hidupnya. Tidak ketika teman-temannya dipuji para guru karena gambaran mereka yang bagus sedangkan ia hanya mendapatkan elusan dikepalanya ketika taman kanak-kanak, tidak sesedih saat ia sembilan tahun dan melihat Luhan mendapatkan cokelat dihari Valentine sementara ia tidak, tidak sesedih ketika para teman ayah-ibunya mengelu-elukan kecantikan Luhan dan juga tidak sesedih ketika ia sadar ia hanyalah gadis biasa yang beruntung dilahirkan dikeluarga berada.

Jongin banyak mengalami sakit hati sejak kecil karena ia berbeda dengan kedua kakaknya. Namun ia perlahan menerima hal itu, ia sadar jika ia memiliki warna tersendiri sejak ia bertemu Sehun. Jongin itu sangat memukau ketika tertawa, itu yang dikatakan Sehun. Jongin itu sangat cantik ketika serius memasak, itu juga yang dikatakan Sehun.

Namun kini ia meninggalkan Sehun.

Bisa dibilang Jongin menyesal. Gadis ini tidak tahu apakah yang ia lakukan itu benar atau salah. Dia tahu jika semua yang Sehun lakukan dengan Jessica adalah akting. Tapi…tapi…dia tidak tahan lagi. Siapa yang tahan melihat kekasihnya berciuman dengan orang lain?

Jongin sering bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apakah ia lemah? Sehingga ia tidak bisa menahan sedikit saja beban dari kisah cintanya yang memang berliku. Bukankah sejak dulu Jongin sering bermimpi untuk menjadi seorang tokoh utama dalam cerita cinta ala putri kerajaan?

Kini mimpinya menjadi nyata!

Jongin bertemu dengan pangeran super tampan yang juga kaya raya. Keduanya jatuh cinta dan akhirnya bersama. Namun semua cerita memiliki liku dan jalanan yang terjal. Cinderella harus disiksa oleh ibu dan saudari-saudari tirinya. Bella harus kehilangan ayah dan juga tinggal bersama seorang monster. Lalu Mulan? Ia harus berjuang menyelamatkan Cina.

Dan ini adalah kisah Putri Kim.

Seorang gadis biasa saja yang meluluhkan hati pangeran tampan bernama Oh Sehun.

Tok! Tok! Tok!

"Jongin?" Jongin terkejut mendengar suara kakak lelakinya, Kris. Jongin cepat-cepat menarik selimutnya menutupi kepalanya dan berpura-pura tidur. Telinga Jongin mendengar suara pintu kamarnya dibuka. Tidak lama kemudian ia bisa merasakan Kris duduk disisi tempat tidurnya, membelai lengannya.

"Jongin, jangan begini terus." Kris bergumam pelan. "Apa kau begitu menyukai si brengsek itu?"

Kris bukanlah tipe kakak yang terlalu melankolis dan mudah mengungkapkan apa yang ia rasakan. Jongin tidak terbiasa mendengar suara Kris yang biasanya cerah dan keras tiba-tiba jadi lembut seperti ini.

"Dulu kau bahkan tidak menangis waktu aku meninggalkanmu untuk summer school selama tiga bulan. Kini kau hanya berpisah dengan orang yang menyakitimu malah menangis dua hari dan tidak keluar kamar sama sekali."

Jongin tetap saja diam dan berpura-pura tidur.

"Kalau kau memang sangat menyukainya dan kau ingin kembali padanya aku tidak apa-apa. Aku mungkin sering kesal padanya tapi aku benci melihatmu seperti ini. Aku, Luhan, ayah dan ibu berharap yang terbaik untuk kalian berdua. Kami semua mendukung kalian dan akan selalu ada disini setiap saat kalian meminta bantuan."

Jongin merasakan matanya mulai memanas lagi. Kali ini bukan karena Sehun namun karena ucapan kakak lelakinya.

"Aku yakin kau dan Sehun akan baik-baik saja. Bertahanlah. Kau adik kecilku yang sangat baik, hal-hal baik akan mengikuti setiap langkahmu. Dan aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti adik kecilku."

Jongin merasakan belaian pada lengannya lagi.

Hati Jongin terasa ringan mendengarnya. Ia pikir keluarganya membenci Sehun namun ternyata mereka malah mendukung mantan kekasihnya itu. Keluarganya masih berpikir jika ini semua hanyalah kerikil dalam hubungan Jongin dan Sehun.

Jongin pun ingin berpikir begitu.

Berpikir jika esok atau lusa Sehun akan kerumahnya dan mereka akan kembali bersama. Lalu semuanya akan baik-baik saja. Jessica akan kembali ke London lalu Chanyeol memecahkan seluruh masalah menyebalkan ini.

Tapi benarkah akan begitu?

Akankah Sehun akan kembali padanya?

Masihkah ia punya muka untuk kembali pada Sehun setelah ia memutuskan pria itu begitu saja?

Well, sejujurnya Jongin sangat mau.

Jongin memandang langit orange yang membentang dihadapannya. Indah sekali, sangat indah. Angin sejuk membelai rambut cokelatnya dan aroma bunga menerpa indra penciumannya. Namun keindahan didepannya itu bukanlah alasan senyum lebar diwajah Jongin.

Gadis muda itu tiba-tiba merasakan sepasang lengan memeluk pinggangnya mesra. Begitu hangat dan penuh cinta. Ya, itulah alasan utama dada Jongin terasa sesak oleh kebahagiaan sore itu.

Jongin ingin sekali memutar tubuhnya dan memandang pria yang memberinya begitu besar rasa nyaman namun matanya seolah terpancang pada matahari terbenam didepannya. Biarpun Jongin tidak bisa melihat wajah pria itu, ia bisa merasakan besarnya rasa cinta yang ia terima, betapa familiarnya pelukan itu, aroma maskulin itu, rasa aman yang membuat Jongin merasa sangat tenang.

"Jongin, terima kasih sudah selalu disisiku."

Jongin tersentak.

Suara itu.

Jongin kenal betul suara itu.

Jongin berusaha menoleh ke belakang, untuk melihat orang yang selama ini selalu hadir dalam mimpinya. Yang sejak dulu ia anggap sebagai seorang pangeran dalam hidupnya. Seseorang yang ia tidak tahu mengapa sering muncul dimalam-malamnya dan memberinya ketenangan. Seseorang yang ia yakini tidak nyata. Seseorang yang ia yakini hanyalah sebuah khayalan bawah sadarnya.

Dan ternyata orang yang berada dimimpi-mimpinya itu adalah Oh Sehun.

Jongin terbangun dengan dentum keras didadanya.

Sehun.

Pemuda itu adalah hal pertama yang ada dalam pikirannya.

Dimana Sehun?

Ia harus menemuinya.

Jongin melihat jam dinding dikamarnya, pukul setengah satu pagi. Tanpa banyak berpikir, Jongin langsung meraih jaket yang disofa kamarnya dan berlari keluar kamar. Jongin masih memakai piyamanya dan meraih kunci mobil asal-asalan entah milik siapa.

"Sehun…hiks…Sehun…ternyata itu Sehun…" Jongin tidak peduli dengan para pelayan yang terbangun oleh kebisingan yang ia buat. Atau penghuni rumah lainnya yang mungkin akan segera terbangun.

Jongin menyalakan mesin mobil dengan kasar. Pikirannya masih berantakan dan yang ia tahu ia harus kembali pada Sehun. Pria yang selama ini ia mimpikan adalah Sehun! Bahkan sebelum ia bertemu Sehun, ia sudah memimpikan pemuda itu.

"Nona Jongin…A-anda mau kemana?" Seorang penjaga rumah terlihat baru saja bangun tidur. Matanya terlihat memerah dan memandang bingung ke arah majikannya yang tiba-tiba menyalakan mesin mobil dengan masih mengenakan piyama.

"Paman, aku harus pergi…" Jongin bicara dengan suara tercekat.

"Pergi? Pergi kemana? Ini sudah lewat tengah malam dan Anda masih—"

"Tolong Paman, aku harus pergi sekarang. Tolong buka pintunya." Jongin tidak punya waktu untuk menjelaskan pada Paman Kim, penjaga rumah sekaligus tukang kebun keluarga yang sudah lama bekerja untuk keluarga Jongin. Lagi pula apa yang bisa Jongin jelaskan? Apa Jongin harus bercerita panjang lebar mengenai pangeran mimpinya yang ternyata ada sungguhan dan pangeran tersebut adalah pemuda yang ia putuskan seminggu lalu.

"Nona Jongin, jangan berbuat ya—"

"Tolong Paman, aku akan pulang secepatnya. Ini adalah masalah penting!" Jongin memandang pria tua didepannya dengan mata berkaca-kaca. Paman Kim seolah terhipnotis dengan wajah Jongin. Yah, bagaimana lagi, bagi pria ini Jongin sudah seperti anaknya sendiri.

"Baiklah, tapi tolong menyetir hati-hati dan juga Anda baru lancar berkendara—"

"Terima kasih Paman!" Jongin tidak butuh wejangan saat ini. Begitu Paman Kim memencet tombol untuk membuka pintu garasi dan juga pagar, mobil sedan hitam milik ayah Kim langsung melesat keluar.

Mungkin terdengar aneh hanya karena sebuah mimpi, Jongin yang sudah seminggu berusaha keras melupakan Sehun tiba-tiba berlarian mencari pemuda itu lagi. Hanya saja, bagi Jongin, pria dalam mimpi itu bukanlah pria biasa. Jongin sudah sering memimpikan pria itu selama hampir setahun.

Jongin berpikir jika itu hanyalah pria khayalan yang sering ia idamkan didunia nyata. Sebelum bertemu Sehun, Jongin memang nyaris tidak memiliki kehidupan cinta sama sekali. Penampilannya yang tidak semenarik Luhan dan juga sifatnya yang pendiam membuat Jongin tidak pernah memiliki teman pria.

Sehingga hal itu membuat Jongin berpikir jika si pria dalam mimpinya hanyalah buah pikirannya saja. Hasil dari khayalan-khayalan yang sering ia buat sebelum tidur. Biarpun kadang mimpi itu sangatlah nyata sampai Jongin sering merasa kebingungan ketika bangun tidur, ia tahu jika pria itu tidaklah ada. Hanyalah buah tidurnya saja.

Namun malam ini, entah bagaimana, si pria dalam mimpinya memilih untuk menunjukkan identitas yang selama ini disembunyikan. Jongin yang sebelumnya tidak pernah tahu bagaimana wajah atau suara si pria seolah diberi petunjuk.

Jongin yang merasa jika si pria ini adalah malaikat pelindungnya sangat terkejut mendapati jika sesungguhnya yang selama ini ia mimpikan adalah mantan kekasihnya sendiri. Bagaimana bisa ia memimpikan Sehun bahkan sebelum ia bertemu dengan Sehun? Apapun itu yang Jongin tahu Sehun adalah seseorang yang harus ada dalam hidupnya.

Mobil sedan mahal itu tidak membutuhkan waktu lama terparkir disebuah basement apartemen mewah dimana Sehun tinggal. Jongin yang sudah tidak sabaran berlari menuju pintu lift dan memencet tombol naik berulang kali. Begitu lift sudah sampai dilantai Sehun tinggal, gadis itu kembali berlari.

"Sehun!" Jongin membuka pintu apartemen setelah terburu-buru memasukkan kode keamanan.

Gelap.

"Sehun?" Jongin menyalakan lampu ruang tengah. Mungkin Sehun tidur, begitu pikir Jongin. Gadis manis ini berjalan menuju kamar Sehun dan mendapati kamar itu kosong. Jantung Jongin mulai berpacu lebih cepat. Tangan Jongin merogoh ponselnya yang ada didalam kantung dan menghubungi Sehun.

Tidak aktif.

Jongin mulai panik.

Sekali lagi ia hubungi dan masih juga tidak aktif.

Jongin yang panik mencoba menghubungi Chanyeol, lalu Baekhyun sembari mencari Sehun diseluruh bagian apartemen mewah itu. Semua panggilannya masuk kedalam pesan suara dan apartemen Sehun kosong.

Jongin semakin bingung ketika mendapati apartemen itu berdebu seolah tidak dihuni selama beberapa hari. Jongin panik. Kemana Sehun? Apakah pria itu sudah menyerah padanya? Apakah pria itu pergi untuk menenangkan diri? Atau untuk menyelesaikan masalah? Atau…jangan-jangan Sehun kini sedang bersama Jessica?

Segala kemungkinan-kemungkinan itu membuat jantung Jongin berpacu semakin cepat. Chanyeol tidak bisa dihubungi. Lalu kemana Jongin harus mencari Sehun? Menghubungi keluarga Sehun? Jongin rasa mereka tidak akan banyak membantu, bahkan menurut Jongin, keluarga Sehun tidak tahu jika Jessica sedang kembali merusak hidup anak semata wayang mereka.

Ponsel ditangan Jongin tiba-tiba bergetar.

Luhan Unnie.

Jongin menelan ludahnya. Ah, dia tidak butuh diomeli kakaknya karena keluar tengah malam seperti ini. Yang ia butuhkan sekarang Sehun! Dia harus melihat pria itu dan memastikan jika pria tersebut baik-baik saja. Jongin harus memeluk Sehun dan meminta maaf karena sudah memutuskan hubungan mereka seperti ini. Tidak seharunya Jongin melanggar janjinya pada Sehun yaitu, meninggalkan pria itu dalam kekacauan.

'Jongin, angkat teleponnya. Kalau kau mencari Sehun, kau tidak akan menemukannya karena dia sedang bersembunyi dari Jessica.'

Sebuah pesan muncul setelah tiga kali Luhan menelepon dan tidak Jongin jawab. Melihat pesan dari Luhan, Jongin langsung menghubungi kakak perempuannya itu. Tidak peduli jika dia harus mendengar omelan terlebih dahulu sebelum diberi tahu dimana Sehun berada.

"YA! Kau ini! Kau tahu betapa khawatirnya aku dan Kris Oppa?!" Suara melengking khas Luhan terdengar memekakkan telinga Jongin. "Untung saja ibu dan ayah sedang diluar kota! Kau itu menyetir mobil belum lancar! Bagaimana kalau kau menabrak orang mabuk?! Atau kau dirampok seseorang?!"

"Unnie…" Jongin berkata lemah.

"Kau tahu betapa paniknya aku ketika—"

"Unnie! Tolong beri tahu dimana Sehun!" Jongin sudah tidak sabar lagi.

"Kau ini! Apa kau harus sekali bertemu Sehun malam ini? Apa tidak bisa menunggu besok pagi?!" Luhan berkata kesal. Tidak bisa, jika aku menunggu besok pagi aku pasti sudah akan mati karena merasa bersalah juga rindu padanya…

"Katakan saja Unnie! Tolonglah! Aku sungguh-sungguh harus segera bertemu Sehun!" Jongin semakin tidak sabar. Jongin itu bukan orang yang sering mengungkapkan emosinya, baik sedih, marah, senang atau kecewa. Namun Sehun membuat semuanya berubah, gadis tenang yang pendiam itu sudah mulai menunjukkan warna-warni dalam kehidupannya.

"Baiklah, baiklah. Dia ada di Motel 99 kamar 38." Luhan berkata setelah menghela nafas panjang. "Berhati-hatilah menyetir dan jangan melakukan hal bodoh."

"Ba-baik Unnie, terima kasih."

Tali tembaga yang tadi seolah mengikat dada Jongin mulai mengendur. Sehun tidak bersama Jessica bahkan pria itu bersembunyi dari Jessica. Jongin kembali berlari menuju basement dan menginjak gas dalam-dalam. Lupa dengan janjinya pada Luhan untuk mengemudi dengan hati-hati.

"Tolonglah…" Jongin memberikan wajahnya yang paling memelas pada seorang pria paruh baya yang tampak bimbang dan kesal didepannya.

"Ah, baiklah." Pria itu menghela nafas panjang. "Berikan dulu 100.000 won-ku."

Jongin mengeluarkan uang dari jaket tebal yang ia gunakan dan merasa sangat beruntung karena lupa memindahkan uang tersebut ke dompetnya saat mengambil uang di ATM. Pria itu menghitung uang yang diberikan Jongin lalu mengambil sebuah kunci dari laci dan memberikannya pada Jongin.

"Terima kasih! Terima kasih!" Jongin mengucapkan terima kasih berkali-kali lalu berlari menuju lantai tiga. Saat-saat seperti ini Jongin sering merasa sangat beruntung dilahirkan dari keluarga Kim yang kaya raya—bukannya ia tidak pernah merasa beruntung hanya saja kali ini ia merasa super lucky. Meskipun baru kali ini Jongin menggunakan kekayaannya untuk menyogok seseorang.

Langkah Jongin terhenti didepan sebuah pintu kamar dengan angka tiga puluh delapan. Tangan Jongin dengan cepat membuka pintu tersebut dengan kunci yang ada ditangannya.

Ruang tamu yang cukup besar dan berantakan menyambut Jongin. Gadis itu mengenali tas ransel Sehun lalu laptop berstiker Iron Man milik Sehun dan juga jaket Sehun. Pria itu sungguhan ada disini.

"Sehun…" Jongin berjalan masuk lebih dalam menuju kamar tidur yang hanya ditutupi sekat dari ruang tamu. Lampu-lampu yang masih menyala menyebabkan Jongin bisa melihat jelas apa yang ada dikamar itu.

"Sehun…" Jongin terperangah melihat apa yang ada didepannya.

Sehun tertidur diatas kasur dengan seorang gadis. Gadis yang ia kenal. Gadis yang dulu pernah membuat hubungannya dan Sehun nyaris kandas. Gadis itu adalah Irene. Jantung Jongin berdebar cepat melihatnya.

"Jongin?"

To Be Continue

Haloooooooooo!

Long time no seeeee!

Mohon maaf yaaa, sedang sibuk-sibuknya jadi jarang banget bisa nulis sekarang.

Slow update dehhh :(

Temen-temen masih nungguin seri ini ngga? Hehehe

Kelamaan update sih ya jadi males :(

Maapin huweeeee :(

Kalau masih ada yang berminat mohon review, kritik dan saran yaaa^^

Gomawoooo^^