Aku tak mengerti dengan diriku ini. Siapa aku? Darimana aku? Mengapa aku di sini? Kapan aku hidup? berapa lama aku hidup? Bagaimana aku menjalani hidupku?
Semua pertanyaan melintasi diriku
Apakah ini kehidupan? Lantas siapa yang harusnya menuntun kehidupanku? Apakah aku layak mendapatkannya?
Setiap pertanyaan menghasilkan pertanyaan baru, sampai tiba pertanyaan terakhir
Apakah ini sudah berakhir?
Mahou Shoujo Lyrical Nanoha A's Another story : Mirai to ai no kiseki, hajimarimasu...
Story 1 : Pertemuan dan Kenangan
Para Gadget datang dari segala penjuru, aku hanya bisa berlari, tidak tahu arah yang kutuju, semua tempat hanya memberikan petunjuk Gadget pengejar untuk menemukanku. Percikan air saat aku melangkahi genangan air, suara hentakan sepatu yang kasar saat kuberlari, juga barang-barang yang berjatuhan yang kuterebos dengan paksa, Mereka dengan mudah menemukanku. Pilihan jalan kabur sangatlah tipis. Jalan kecil, cerobong, tanaman, selokan dan lain-lain, semua sudah kutempuh, tetapi tidak memberikan kemajuan pesat untuk pelarian diriku ini. Mereka menganggap bahwa ini adalah permainan dan aku adalah tikus kecil yang menjadi targetnya.
Aku tetap menelusuri tempat yang bisa kutempuh. Hingga akhirnya...
DOOR
Sebuah tembakan mendadak mengenai pelipisku, darah mengalir deras dari kepalaku. Penglihatanku mulai kabur. Aku terjatuh, tidak bisa bergerak normal.
"Serahkan kepadaku!"
Bayangan orang yang menjadi dalang dari semua ini datang dan mendekatiku. Aku tidak tahu apa tujuan mereka. Tetapi kemungkinan besar adalah sesuatu yang kupunya..., tetapi apa?
"Hooo, tidak bisa menjawabkah?"
BUAGH
"Serahkan padaku, orang itu!"
"UUGHH, Hahh...hahh" Aku ditendang dirinya. Tidak tahu keinginannya aku hanya bisa melawan.
"Hiyaaa, UAGH" aku berusaha melawannya tetapi aku hanya akan mendapatkan serangan balik. Tubuhku tidak menjawab keinginanku. Tendangan balasan yang kuterima sangatlah kuat. Aku hanya bisa menghindari dari dirinya hingga aku mencapai ruangan di suatu gedung dan aku terpojok.
"Tch, buang-buang waktu saja..." dia mempersiapkan senjata api dan menodongkan ke kepalaku.
"Tadinya kupikir kau bisa kuajak kerja sama, tetapi sepertinya... tikus tetaplah tikus. Ini yang terakhir. Berikan orang itu kepadaku, atau kupecahkan kepalamu." Ancaman dia sudah menjadi-jadi.
Aku tidak bisa apa-apa, pertanyaan dia tidak bisa kujawab, karena aku tidak tahu jawabannya. Dan mereka bukanlah orang yang bisa menerima jawaban tidak tahu. Matilah aku.
DOOR
Suara letusan senjata api bergema mengisi ruangan. Aku tidak merasakan apa-apa. Kupikir aku sudah mati. Tetapi, kurasakan tubuhku yang masih sakit, aku masih hidup. Kegelapan yang hanya bisa kulihat. Mataku masih lemas, tetapi telingaku masih bisa mendengar sesuatu
"Tch..., sialan, akan kuingat selalu, Verossa"
Yang kudengar hanyalah ocehannya, suara hentakan kaki bergema dengan cepat diruangan kosong ini. Suara hentakan kaki yang mulai melemah dan akhirnya hilang.
Aku berusaha membuka mataku. Datang lagi bayangan orang yang mendatangiku, bukan orang yang memburuku tadi. Pandanganku siluet, aku tidak bisa melihat mukanya.
"Bangunlah..., perjalananmu baru saja dimulai. Akan ada seseorang yang akan membimbingmu. Dan dialah yang akan memberikan jalan baru yang disebut harapan."
Kata-katanya memasuki telingaku dengan lembut, kesadaranku mulai menipis, dan diriku tergeletak diruangan tersebut, tidak sadarkan diri, dan memasuki dunia alam sadar.
Aku bermimpi, mimpi suatu kenangan seseorang, tidak tahu siapa dia, tidak tahu apa yang dia inginkan. seolah itu Sebuah penglihatan.
"Pengkhianat, mati saja kau"
Orang-orang meneriakinya. Mereka tidak sependapat dengan mereka, bagi mereka, leluhurnya lah yang menuntun budaya mereka. Dia hanya menuntun kudanya menelusuri segerombolan warga yang mencemoohnya, dia hanya berjalan menunduk tanpa tahu arah yang dia tuju, hanya jalan yang diberikan yang menuntunnya menuju tujuannya, jalan yang di biarkan orang-orang tersebut dengan tujuan pengasingan diri.
Terlihat sang Kaisar, keluar dari balkoni istana yang berada tidak jauh dari tempatnya orang itu berjalan. Sang kaisar kerajaan tersebut hanya melihat dia dengan tatapan kecewa dan sedih, seolah dirinya dan orang itu tidak mengerti mengapa mereka tidak sependapat satu sama lain, yang mengakibatkan mereka harus berpisah.
Dia tak bisa apa-apa, keputusannya memang salah di mata mereka,
"Aku tak akan mengorbankan siapa pun dan apa pun yang memiliki resiko tinggi. Bagaimana mungkin aku memberikan jawaban yang mustahil. Jika pengorbanan adalah satu-satunya cara, mungkin akan bisa kutoleransi. Tetapi jika hanya untuk keuntungan orang lain, dan masih ada acara lain untuk mendapatkannya…, bodoh sekali" Dia bergunam dengan lemah agar paramasyarakat tidak mendengarnya.
Sesampainya di rumah, keluarlah gadis muda, dia yang begitu sedih dengan nasibnya orang itu. Orang itu turun dari kudanya dan mulai mendekati sang gadis. Sang gadis muda itu hanya bisa memeluknya untuk memberikan kenyamanan dari kesedihan yang dia dapatkan.
Gadis itu selalu memberiku semangat, tetapi orang itu tidak bisa apa-apa dan putus asa. Semua yang dia lakukan untuk memenuhi kehidupan dia dan gadis muda itu sia-sia. Tidak ada satupun yang membuahkan hasil, dikarenakan semua orang membencinya, tidak ada yang peduli dengannya. Entah mengapa bisa negeri seberang mengetahui desas-desus dari kehidupan orang itu.
Dia akhirnya putus asa, tetapi gadis itu tetap mendukungnya, menyemangatinya. Sampai akhirnya gadis itu memberikan sebuah buku, buku yang aneh.
Penglihatan itu mulai mempercepat kisahnya dan mulai berkabur. Aku hanya bisa melihat sekilas saat, Buku itu aktif, menjawab panggilannya. Keluar 3 Ksatria dan sebuah Guardian beast, rupa mereka tidak jelas, kaburnya penglihatan adalah penyebabnya. Mereka menunduk dan menjawab panggilannya.
Penglihatanku mulai kabur dan tidak jelas, menandakan bahwa sudah selesainya penglihatan mimpi.
Mimpi dan penglihatan itu hanyalah yang kupunya, …dikarenakan, aku tidak mengetahui diriku ini. Ingatanku terkunci, aku tidak mengenal siapa diriku dan semua pertanyaan itu. Mimpi yang menurutku sangatlah aneh.
Mimpi itu berakhir menggantung, tidak jelas siapa orang itu, gadis itu, juga para ksatria yang tunduk.
Di saat itu juga, aku mulai terbangun, penglihatanku samar-samar mengamati sesuatu yang berada di sekitar sini. Kepalaku masih sakit, rasa pusing masih menyerang kepalaku, aku menyentuh kepalaku, ada perban. Aku melihat sekitar, dan ada sesuatu yang membuat kepalaku menoleh, mengamatinya dan memikirkannya. Sesuatu itu tidak penting, hanya sebuah sepatu aneh.
Kilatan sinar kecil keluar dari dalam bajuku, aku masukkan tanganku dan berusaha menggapainya. Sebuah pendant yang digapai meningkatkan rasa keseriusanku. Pendant yang dikalung pada diriku.
"Stardust…?!" aku tidak tahu pendant ini tetapi nama tersebut secara tiba-tiba datang dipikiranku. Tetapi kepalaku mulai tidak bisa mengingat kembali kejadian-kejadian yang menimpaku. Aku hanya mencari petunjuk dari apa yang kupunya.
Stardust, pendant apa ini? Aku membayangkan banyak hal dengan melihat pendant itu secara langsung. Yang dapat kusimpulkan adalah bahwa pendant inilah yang bisa membuka jalan menuju ingatanku, tetapi juga ada kemungkinan bahwa pendant ini adalah memento dari sesorang yang sangat penting bagiku. Kurasakan pendant ini begitu terawat. Seolah merupakan bagian dari diriku.
Aku beralih dari yang mengganjal pikiranku, yang pada akhirnya aku baru sadar, bahwa ini adalah tempat tidur seseorang yang tidak kuketahui. Aku telah dibawa orang dan dlletakkan di sini tanpa tahu pasti siapa keberadaannya. Apakah dia mengerti siapa aku?
"Hoammm…." Terdengar suara kantuk dari balik pintu. Sang Gadis terlihat sedang menutup mulutnya, sedang menguap. Saat itu juga, kami saling memandang.
"Cantik-nya" aku berkata dalam hati dan mukaku memerah.
Dia memandangku dan terkejut, wajahnya mulai ceria. Dengan cepat dia membangunkan semua orang yang ada di rumah ini.
Aku agak terkejut dengan keriangannya dan dia sadar akan itu. Dia akhirnya mendekatiku.
"Akhirnya kau sudah sadar, bagaimana keadaanmu? Namamu siapa?"
Dia bertanya tentang identitasku, aku mulai bingung. Pikiranku tercampur aduk dengan apa yang harus ku jawab.
"Aku,...aku tidak tahu namaku, aku tidak ingat..." aku hanya bisa menjawab jujur dengan keadaanku. "Aku tidak tahu, aku tidak mengerti apa yang ..., AAAAAA" Disaat aku memaksa untuk mengingat, kepalaku mulai sakit, seolah ada penghalang di kepalaku yang membuat diriku tidak bisa mengingat apapun.
"Yos-yos, gak papa, jangan dipaksakan" sang Gadis mendekatiku dan memelukku, mengusap kepalaku, membuat diriku tenang.
Disaat itu, aku merasakan kehangatan. Kehangatan itu membuat diriku merasakannya, merasakan kumpul bersama orang-orang penting dalam hidupku, dengan orang-orang yang mungkin sudah kuanggap keluarga sendiri. Aku menangis disaat aku tidak bisa bertemu mereka dan berkumpul dengan mereka seolah ini adalah pilihanku, pilihan yang sulit di masa lalu.
Maafkan aku,...maafkan aku..." aku mengucapkan kata maaf berkali-kali.
Kehangatan pelukannya membuatku tidak merasakan sedih dan sakit lagi.
"Maukah kamu tinggal di sini, di sini ada keluarga ku yang bisa menjagamu. ada Signum, Vita, Shamal, Zafira, Rein, dan diriku"
Gadis itu menawarkan sesuatu kepadaku, tempat tinggal, tempat untuk kembali. Juga sebuah keluarga, keluarga untuk menjadi tempat mencurahkan hati terluka.
"Tapi aku tidak punya apa-apa untuk imbalannya, dan juga kenapa anda berbaik hari dengan orang asing seperti aku?" aku berusaha menolak kedermawanannya, aku benar-benar tidak punya apa-apa untuk diberikan. Tetapi Gadis itu menolaknya.
"Aku tidak butuh, dan juga bagiku, disaat ada seseorang yang membutuhkan bantuan, dan aku membiarkannya, aku akan menyesalinya seumur hidup. Dan juga ada alasan lainnya, walaupun aku tidak mengerti juga mengapa,...Untuk sementara aku akan memberimu nama!"
"Nama...?" Tentu saja dibutuhkan sementara untuk identitasku, dan aku malah menanyakan hal yang pasti. Mungkin karena adanya sesuatu yang tidak mengenakkan. Yang membuat diriku terdiam kaku dengan nama yang akan diberikan.
"Galeth..., ya Galeth"
Dan tepat sekali, gadis itu memberikan nama sesuai dengan merk sepatu yang aku amati tadi. Untuk jaga-jaga, aku menanyakan maksud dari nama tersebut.
"Hmmm, kenapa Galeth?"
"Dari akronim Giggle yaitu orang yang selalu Tertawa cekikikan, Accord yaitu bisa sependapat, Laughter yang membuat kelucuan , Ekstra yang berarti Luar biasa, Treat yang selalu bisa merawat dan Honor yang selalu menghormati, Bagaimana?"
Dan betul saja, sudah jelas sekali. Semua hal yang disebutkan tidak jelas. Giggle, apakah aku sudah tertawa dengan cekikikan? Accord, jika aku sependapat, mengapa aku merasa enggan sedikit dengan nama ini ? Laughter, aku belum pernah membuat kelucuan sama sekali, dan pastinya aku bukanlah pelawak handal. Mungkin Treat dan Honor akan kutepati dengan berloyalitas, berjuang menjadi bawahannya untuk membayar semua kebaikannya. Tetapi, Ekstra…
"Tunggu dulu..., bukannya kau memberikan nama hanya untuk mencairkan suasana dan juga sepertinya kata Ekstra itu hanya untuk menambahkan hal yang kosong." Aku yakin bahwa aku tidak lah luar biasa. Mungkin Extra bagi dia adalah sesuatu untuk mengisi kekosongan hati…, tunggu dulu, kenapa aku berbicara hati?
"Ya, tapikan..." anak gadis itu cemberut.
"Tapi..., nama yang bagus aku suka." Aku menjawabnya. Aku yakin bahwa nama ini bermaksud banyak dari masa laluku. Aku tersenyum ceria menerima nama yang diberikan gadis tersebut.
Gadis itu lalu pamit dan segera membuat sarapan sambil mengajak perempuan berambut merah muda panjang. Perbincangan mereka begitu singkat. Sang perempuan langsung meminta izin dan keluar. Tatapan perempuan itu menujuku. Tatapan yang penuh kesedihan. Aku merasa aku tak pantas disini. Aku berpikir bahwa sang Gadis mungkin meminta izin kepada sang Perempuan tersebut untuk membiarkan diriku menetap disini, dan sang perempuan tidak setuju dengan keinginannya.
Gadis itu mengikutinya dan mengintip percakapan perempuan dan gadis kecil lainnya. Setelah itu aku tidak melihat lagi. Sudah cukup dengan memperhatikan sesuatu yang bukan menjadi kepentinganku.
Bau masakan tercium di hidungku, masakan tersebut dihidangkan di meja makan dan dua gadis kecil mendatangi meja makan itu dengan riang. Lalu ada pria yang berusaha membangunkanku karena tenaga di tubuhku masih belum cukup banyak untuk berdiri.
Sang pria ini pasti yang bernama Zafira. Karena kelihatannya dia hanyalah laki-laki yang berada di keluarga ini.
"Saya minta Maaf nona, saya membuat Anda sibuk sekali sampai membantu saya, yang tidak bisa memberikan apa-apa ini." Aku benar-benar malu dengan diriku yang tidak berdaya ini.
"Tenang saja, kami pasti akan menemukan jati dirimu, sampai saat itu tiba tinggallah di sini" dia menjawab dengan ceria. Aku benar-benar beruntung bertemu dengan gadis ini. Kami memakan sarapan yang dihidangkan di meja makan.
"mohon maaf nona, jika boleh tahu, nama Anda siapa ya?"
"Eh" Gadis itu kaget.
Aku merasa pertanyaanku salah. Jika saja aku tahu apa yang bisa ku bicarakan, mungkin salah kata tidak akan menjadi penyebab aku malu bertanya. Tetapi aku sangat ingin mengenali mereka.
"Perkenalkan, namaku Hayate, mereka ber-empat adalah Vita, Signum, Shamal, dan Zafira, mereka adalah wolkenritter, ksatria pelindungku, ya sekarang sudah kuanggap keluarga sendiri kok, dan ini adalah Reinforce Zwei."
Hayate, nama gadis itu. Nama yang juga bisa diartikan Angin yang sejuk, tetapi juga bisa disebut badai.
"Wah inikah para ksatria Wolkenritter, keren-" tunggu dulu. Reinforce Zwei, mengapa kedua?
"-kenapa Reinforce Zwei, dimana yang pertama?" aku menanyakan sesuatu, dan aku menyadarinya bahwa pertanyaanku salah. Kulihat wajah murung dari Nona Hayate.
"Maafkan saya nona Hayate, jika pertanyaan ini sangat mengganggu." Aku menanyakan hal yang tidak perlu. Bodoh sekali aku ini.
Hayate langsung menaikkan wajahnya, dan kulihat matanya bersinar semangat.
"Tidak apa-apa, jangan pikirkan itu."
Wajahnya yang penuh semangat, membuatku malu terhadap diriku. Usianya yang masih terbilang cukup dini, tetapi sudah melalui hal-hal yang besar. Sedangkan diriku, yang masih belum bisa apa-apa, dan juga ingatanku yang hilang hanya membuat diriku menjauh dari jati diriku.
"Tidak bisa, kalau begini terus..." aku segera mengangkat tubuhku dan menuju Hayate, ku menunduk ke dirinya.
"Wahai Master Hayate, aku ksatria tanpa nama, memohon kepada Anda menjadikan saya sebagai Ksatria ke-5 Wolkenritter.
Aku terlalu bodoh, mengapa aku melakukan hal yang memalukan ini ? saking bodohnya aku hanya terpaku pada keanggota keluarga mereka. Bukan menyadari bahwa dunia ini bukanlah kerajaan yang dimana loyalitas adalah segalanya.
"Ya, aku menerima loyalitasmu, mulai sekarang namamu adalah Galeth, karena kamu sudah mempunyai kehormatan dan bersedia merawat diriku dengan menjadi ksatriaku, nama belakangmu aku rubah maknanya menjadi The Hope, artinya harapanku, jadilah harapanku untuk seterusnya."
Dia menerima loyalitasku. Sungguh, apakah dia hanya menutupi kemaluanku, tetapi aku melihat tersenyum senang, sungguh itu merupakan kesenanganku yang terbesar untuk saat ini. Dan juga tawa dari semuanya membuat diriku ini sangat tenang. Kulihat perempuan merah muda, Signum tersenyum dengan kebodohanku ini. Bagiku selama mereka bisa tertawa senang membuat diriku tenang.
Ting-tong
Bel rumah berbunyi, aku melihat dari kejauhan, 2 gadis kecil yang seumuran dengan Hayate berkunjung dengan baju yang unik, karena bajunya sama. Aku bertanya-tanya pada diriku, Apakah mereka bersahabat dan sangat dekat sehingga baju mereka sama? tunggu dulu, ada bawaan di belakang mereka. Mereka mau mengajak pergi kah? Dan juga mereka mengajak sekolah, Apakah itu semacam kegiatan sehari-hari yang dilalui mereka ? Aku melihat Hayate panik sambil melihat waktu berkali-kali.
"Hayate-sama, sekolah itu apa?" dan sepertinya pertanyaanku membuat dia lebih panik lagi.
"Kalau begitu, Bagaimana kalau kau ikut bersama kami, Shamal sepertinya bisa menyembuhkanmu karena lukamu juga mulai sembuh, Shamal, Tolong bantuannya!"
Wanita hijau, Shamal mendatangiku. Dia menyembuhkan luka memar yang kualami. Tapi, aku masih agak pusing, Mengapa aku tidak mengingat tentang apa yang kualami? Darimana datangnya luka ini.
Hayate meminta Signum menyambut kedatangan mereka. Vita dan Zafira mulai keluar dari meja makan. Dan Zafira berubah menjadi anjing lucu. Tungggu, mereka ini apa? Aku baru sadar bahwa semua yang dilakukan Shamal dan Zafira sangatlah aneh, kupikir Shamal sedang membalutku dengan perban atau semacamnya, tetapi sebuah pendulum yang menjadi satu dengan cincin yang berada di tangannya memberikan aura penyembuhan yang hangat.
Aku sangat penasaran dengan kehebatan mereka, juga kagum. Aku masih sangat awam dengan hal ini, kupikir Ksatria adalah seseorang yang memakai senjata seperti pedang, kapak dan senjata lainnya yang bertarung dengan kekuatan fisik mereka.
2 Gadis tadi masuk, mereka kaget dengan kehadiranku. Apakah karena aku orang baru disini? Tetapi dilihat dari muka merah mereka yang melirik Hayate, aku tersadar bahwa mereka sudah berpikir jauh sekali.
Aku berkenalan dengan 2 gadis tersebut, Nanoha dan Fate. Aku melihat keakraban mereka ber-3 yang sangat dekat.
"Aku adalah ksatria tanpa nama punya mistress Hayate, Galeth adalah nama pemberiannya." Dan aku mulai melakukan tindakan bodoh lagi, tetapi bagiku ini adalah suatu kehormatan untuk diriku karena bisa menunjukkan identitas juga loyalitasku.
Nanoha dan Fate takjub dengan diriku, muka mereka memerah, dan aku tahu sekali bahwa tatapan itu sudah sangat jauh dari hal normal.
"Bukan-bukan, dia adalah kenalan tuan Graham dulu. Sekarang dia mau menginap disini untuk sementara." Hayate membuat cerita yang mengarang, keberadaanku sepertinya menjadi rahasianya. Dan juga, Siapa Tuan Graham?
Aku ditanya dengan berbagai pertanyaan, aku hanya bisa menjawab tidak tahu, Hayate menjelaskan bahwa aku lupa ingatan. Dan aku juga hanya bisa merendahkan diriku ini yang tidak bisa apa-apa.
Aku melihat Hayate memakai baju yang sama juga dengan mereka. Akhirnya aku sadar bahwa itu adalah syarat untuk masuk sekolah. Memakai baju yang sama, Seragam.
Kami siap pergi. Aku mengikuti mereka, mendengarkan canda dan tawa mereka, mereka sangatlah akrab. Aku hanya berjalan di belakang mereka sambil melihat pemandangan, kupu-kupu yang hinggap di dedaunan dan bunga-bunga. Kucing yang sedang berlarian di taman, hingga sekumpulan orang yang sedang melakukan aktifitas di pagi hari dengan ceria. Aku melihat beberapa anak yang memakai baju seragam dengan Hayate dan lainnya. Aku mendapatkan banyak hal dengan bertemu dengan dirinya.
Bangunan sekolah sudah terlihat. Aku yang takjub dengan bangunan yang disebut sekolah itu mengetahui bahwa perjalanan sudahlah selesai, Hayate memintaku untuk segera kembali ke rumah dan menemani Vita dan Zafira jalan-jalan. Dengan perintah tersebut, aku menundukkan badanku dan segera kembali ke rumah. Zafira dan Vita memulai persiapan untuk jalan-jalan. Aku melihat Shamal juga sedang bersiap untuk pergi.
"Sebaiknya kau bersama Shamal saja Galeth." Vita memintaku untuk menemani Shamal.
"Eh, kenapa?" aku bertanya-tanya dengan Vita.
"Karena kau bisa melakukan sesuatu dengan menemani Shamal." Vita langsung menyimpulkan. Dan menurutku itu sesuatu yang kucari.
"Baiklah, senpai." Aku menunjukan rasa Hormatku kepada mereka yang sudah senior, yang sudah menjaga Hayate selama ini.
"Senpai?, hfft, HAHAHA. Lihatkan Zafira, seberapa besar loyalitasnya dengan kita. Aku menang, HAHAHA" mereka sedang taruhan mengenai diriku. Rasanya sangat aneh jika aku dijadikan bahan taruhan. Dan Zafira menggerutu kesal.
"Aku pergi." Dan akhirnya aku bersama Shamal pergi ke suatu tempat. Kami tidak melewati taman, melainkan tempat-tempat di keramaian orang. Shamal berjalan melewati tempat-tempat yang menawarkan berbagai pilihan barang, bahan pakan, baju juga tempat lainnya.
"Cocok kah?" Shamal menanyakan sesuatu sambil mengambil baju dan mengecek dengan ukuranku.
"Hmm, Cocok. Tunggu, kau membelikanku baju?"
"Iya, sebagai ksatria kau harus mempunyai baju tempur untuk siap bertarung kapanpun dan dimana pun."
"Tunggu, kalian juga bertarung?, kupikir Ksatria itu hanyalah bohongan. Sepertinya kekuatan kalian benar-benar aneh ya. Pantas saja jika kau menjadi Ksatria hebat."
"Benarkah?" mukanya memerah. Padahal menurutku itu hanyalah pujian biasa.
"Itu apa? Yang berada di lehermu?, dan juga cincin tadi yang kau pakai ditanganmu?" aku memperhatikan cincin di tangan Shamal, ada 4 Cincin emas.
"Ah, ini Klarwind, Inteligent Device yang membantu kami. Sekarang dalam mode Standby, jadi kau hanya bisa melihat 4 cincin tanpa perhiasan apapun di leherku, seperti kalung biasa."
"Hooo, Standby form kah?" Bentuk yang unik, aku melihat pendant yang kupakai, apakah aku bisa memakainya? Apakah aku juga penyihir seperti mereka. Aku melupakan masalah ini terlebih dahulu dan melanjutkan belanja.
Kami berbelanja banyak barang, bahan-bahan untuk nanti makan malam, mainan, dan juga baju untuk diriku. Rasanya sangat aneh jika aku merepotkan keluarga ini.
"Shamal, aku ingin bertanya. Apakah kita pernah bertemu?" aku menanyakan sesuatu yang paling mustahil. Dan aku mendapatkan jawaban dengan cepat. Tubuh Shamal kaku, dia dengan sengaja memalingkan wajahnya kepadaku.
"Eh, Galeth, sepertinya aku menemukan barang bagus disana. ayo" dia segera bicara di luar topik.
"Kau tidak mendengarku?" aku menanyakan sesuatu untuk memastikannya.
"Eh, tentang apa?" dia mengelaknya. Entah kenapa, ini bukan waktunya membicarakan hal tersebut.
"Tidak, bukan apa-apa" pertanyaanku tidak begitu penting, aku hanya mempunyai rasa penasaran. Dikarenakan saat aku bersama ksatria, aku merasakan adanya rindu. Dan aku merasakan adanya hubungan diriku dengan para ksatria saat melihat Shamal yang kaku dengan pertanyaan itu. Apalagi dengan tatapan perempuan merah muda yang bernama Signum tadi.
Kami selesai berbelanja. Aku membawa barang belanjaan dan akhirnya mengerti maksud Vita sebenarnya. Hari sudah mulai sore, aku diperintah Vita untuk segera menjemput Hayate.
"Eh..., kenapa yang memerintahkan kamu, Vita-senpai?"
"Berisik, patuhi seniormu, sekarang jemput majikan kita. Atau kau mau menganggap remeh dengan keamanan Hayate" perkataan Vita ada benarnya. Dan sebenarnya aku justru yang ingin menjemputnya. Tetapi yang aneh adalah, kenapa Signum yang lebih cocok sebagai pemimpin hanya terdiam bisu. Tetapi aku tidak ingin mengikutcampurkan diriku dalam urusan keluarga ini untuk sementara, aku masih baru disini.
Aku segera berangkat menuju sekolah yang kutunggu. Para murid dari sekolahan sudah mulai banyak berkeluaran di area sekolah. Ku lihat Hayate dari kejauhan sedang sendirian dan melambaikan tangannya. Sepertinya Nanoha dan Fate tidak menemaninya untuk kali ini. Aku dan Hayate berjalan melewati taman tadi. Tetapi saat, ada rasa awkward yang berada di diriku. Hayate yang menunjuk beberapa serangga dan juga hewan kecil lainnya yang lucu membuat rasa awkwardku hilang. Kami tertawa bersama.
Disaat itu juga, aku merasakan hawa aneh dari balik pepohonan. Aku menghadang langkah Hayate dengan tanganku.
"Keluarlah, aku mengetahui keberadaanmu." Aku memberi peringatan untuk siapa saja yang berada disitu.
Orang itu keluar, sang gadis yang seumuran dengan kami, sedang malu-malu. Aku yang beru mengerti situasinya meminta maaf karena terlalu keras dengan dirinya. Aku juga memperkenalkan diriku kepadanya. Hayate langsung mengajak bermain di taman, penuh dengan wahana permainan kecil-kecilan. Jungkat-jungkit, perosotan, ayunan dan lain-lain. Aku sempat khawatir jika Hayate terlalu ceroboh.
Matahari mulai terbenam, menandakan waktu bermain sudah selesai, waktunya pulang ke rumah. Luna ikut berkunjung ke rumah, Hayate langsung melakukan perbincangan sambil memakan biskuit. Para Ksatria sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Aku disuruh Hayate menemani percakapan mereka. Percakapan gadis, yang sesungguhnya, aku tidak cocok mengikuti percakapan mereka. Percakapan itu berlarut-larut, hingga tak sadar bahwa biskuit yang dinikmati kami sudah habis.
"Ah, sepertinya kue nya sudah mau habis. Akan kuambilkan lagi kuenya." Hayate langsung bergerak mengambil kue yang berada di dapur dekat meja makan.
"Ah,...akan kubantu" aku berusaha membantu Hayate, tetapi dia menolaknya dengan halus.
"Tidak usah, lebih baik kau bersama Luna, mungkin kalian bisa lebih akrab" Hayate langsung menuju tempat snack dan kue lainnya.
Saat itu lah, kejadian aneh mulai terjadi. Sesuatu yang aneh kurasakan saat semua hal yang berada disekitarku tidak bergerak. Seolah waktu mulai berhenti. Aku berusaha mendatangi Hayate yang tidak bergerak sedikitpun. Aku berusaha untuk menyadarkannya, tetapi semua sia-sia.
"hmm, Hihihi, HAHAHAHA" tawa licik terdengar, tawa Luna yang senang melihatku kebingungan, tetapi tawanya itu tidak terdengar senang bagiku.
"Menarik, sangat menarik. Hahahah. Tak kusangka kau benar-benar bodoh" dia mulai memancing emosiku.
"Apa maksudmu? Apa maksud semua ini? Siapa kau sebenarnya?" aku menanyakan maksud dari sang gadis tersebut.
"Hee, jadi kau benar-benar tidak mengingatku. Tak kusangka kau benar-benar lupa ingatan, Hmmm, hebat juga orang itu." Dia membicarakan hal yang tidak kumengerti.
"Apa tujuan mu?"
"Tujuan? Hahaha, kau menanyakan sesuatu yang seharusnya kau tahu, karena kau lah pembuat tujuan itu. Sampai kau mengkhianati kami!"
Pengkhianat?! penglihatan itu mulai menentukan takdirku ini.
"Hahh, benar-benar membosankan, memperkenalkan diriku lagi. Tapi mau bagaimana lagi? Aku adalah No.18, Hatsune Luna 'The Eclipse', Bagaimana? Galeth, atau No.17 Hoshikawa Gerald 'The Stardust'. But wait..., bukannya dia hanya orang yang bodoh. Hahaha" Luna menyeringai dan tertawa lagi.
Aku tidak mengerti. Gerald, Apakah itu nama dirinya yang sebenarnya?, Siapa sebenarnya Luna?, apa tujuannya?, aku bertanya dalam dirinya.
Tetapi untuk sekarang, aku harus berpikir untuk keluar dari situasi ini, jika sihir adalah sebuah alat untuk mengubah dunia, apakah mereka mau mengubah prinsip hukum alam ini?
Padahal waktu adalah satuan yang tak terbantahkan, pasti ada suatu hal yang bisa diketahui. Aku memperhatikan sekitar, semua berhenti, aku harus berpikir sesuatu. Ada hal yang ganjil, pasti ada yang aneh. Aku akhirnya bisa merasakannya, sesuatu yang aneh, aku merasakan pergerakan sekitar, tetapi aku masih belum tahu, hanya bisa merasakannya saja.
"kau pikir sihir adalah sesuatu yang diremehkan, bahkan sudah ada sihir itu sendiri, mengubah hukum alam dari awal. Karena itu sihir adalah hal yang tabu bagi beberapa orang. Seperti permainan Iblis."
Suara seseorang terdengar olehku, tetapi tidak tahu dari mana asalnya suara itu.
"17, apakah kau masih tidak mengerti, kekuatanku ini bisa saja membunuhmu loh, sebaiknya kau kembali ke kami, Master benar-benar cemas kau tahu. Cepatlah keluar."
Ancamannya menjadi-jadi. Dan juga Keluar?
"Apa maksudmu?, Apakah dirimu penyihir?, siapa master? Dan-"
Pertanyaanku terhenti saat dia melempar pisau yang mendarat ke tembok, pisau itu melewati pipiku, darahku keluar dari luka pipiku, dia bukan orang sembarangan. Jika saja dia memberikan sudut lempar sedikit lagi, mungkin aku sudah mati.
"Jangan banyak bertanya, sebaiknya kau ikut denganku, aku tak peduli walaupun harus membawamu pulang tanpa tangan maupun kaki." Luna mengancam.
Aku tidak tahu harus melakukan apa. Tubuhku kaku, sifat dari dirinya yang begitu kejam benar-benar membuatku merinding ketakutan.
"Ah sepertinya percuma, walau bukan kau yang ku inginkan sih." Luna menghela nafas dan menyiapkan sebuah batu aneh.
Dan disaat itu, aku merasakan keanehan dalam diriku. Aku merasakan firasat buruk, tetapi tidak berbahaya, aku tidak merasakan ketakutan lagi. Rasanya seperti bernostalgia akan sesuatu, tetapi aku tidak mengetahui apa itu.
'Wahai roh bulan yang tersegel, hancurkan kekangan yang murni ini dengan penghakimanmu...'
Hatiku serasa kaku. Pikiranku mulai melemah, kesadaranku mulai menipis dan aku kehilangan kesadaran.
Aku terbangun dan sadar bahwa sekarang aku berada di tempat yang putih, kulihat ada seseorang, tetapi aku tak mengerti, yang kulihat adalah diriku berada di kekangan, dia sangat mirip, bukan, lebih tepatnya dia benar-benar adalah diriku.
Tetapi aku tak mengerti, apa maksudnya. Dia terlihat sangat sedih, mengelus gulungan itu, dia menengok ke diriku dan menyadari akan kehadiran diriku.
"Dia adalah Gerald, orang yang kucari" Luna datang entah darimana dengan tiba-tiba. Dengan cepat, Luna membuka segel yang berada di kekangan.
"Ayo, Master sudah menunggumu" Luna dengan cepat membuka kekangan yang kelihatannya rumit untuk dibuka. Orang itu langsung berdiri dan tertawa
"Master?, hahaha, kau tahu, bukankah kau sudah dapat laporan bahwa 17 telah mati oleh 19" Orang itu membalas percakapan dengan Luna.
Aku sangat tidak mengerti dengan percakapan mereka. Luna seperti memburu seseorang yang diajak bicara ini.
"Hmm, buat apa aku mendengar informasi yang palsu itu, dan jika aku sudah melihat dengan mataku sendiri, bukankah ini menjadi bukti yang kuat. Sedangkan 19 sudah lama mati." Luna melanjutkan. Tatapan sedih dari Luna kuperhatikan saat dia berbicara dengan orang yang mempunyai inisial 19.
"Hehehe, sekarang kau mendapatkan ku, terus kau mau apa?" orang itu tersenyum menyeringai.
"Sudah kubilang, baliklah pada kami, jika kau balik, master akan memaafkanmu." Luna semakin tidak sabaran.
"hihihi, kalau aku tidak mau?" orang itu sepertinya menolak permintaan Luna.
"Jika kau tidak mau, Aku terpaksa harus membunuhmu" Luna mempersiapkan pisaunya.
"Hoo, kau bicara seolah kau sudah hebat dan bisa sesukanya di dunia ini, padahal kau hanyalah sampah yang tidak diundang" Orang itu merendahkan Luna.
"Sampah? apa maksudmu? Kau meremehkanku?"
"Maksudku begini..!" Orang ini langsung menunjuk Luna dan secara tiba-tiba tubuh Luna menghilang.
"HAHAHA, hebat juga diriku!" memuji diri sendiri. Saat itu pula, dia melihatku.
Tiba-tiba, dia langsung berada di depanku dengan cepat dan siap menodong pisau. Tapi anehnya aku merasa tidak apa-apa, takut sama sekali tidak kurasakan, hanya merasakan rindu yang tidak terkira, tetapi aku tidak mengingat orang ini. Ingatan buram kurasakan saat melihatnya, hanya membuat kepalaku sakit.
"Hooo, tidak berubah sama sekali, kupikir kau takut, tetapi ternyata tidak. Hahh membosankan. Ya sudahlah" orang itu menaruh kembali pisaunya. Sebenarnya bisa saja aku ketakutan, tetapi rasanya ada hawa dari dirinya yang menyatakan bahwa tidak ada bahaya sama sekali. Atau aku memang tidak takut.
"Hmm, sepertinya aku harus memulai lagi dari awal, namaku adalah Gerald, dirimu yang lain, seperti yang dibilang perempuan itu." Orang ini mulai memperkenalkan dirinya.
Kebingungan sangat kurasakan, ada orang yang mengancam, tetapi langsung memperkenalkan dirinya, dan terlebih lagi, mengaku bahwa dirinya adalah diriku yang lain.
"Apa maksudmu? Jelaskan padaku!" aku sangat tidak mengerti maksudnya dan meminta menjelaskan lebih dalam lagi.
"Tentu, tetapi gak ada waktu lagi, pertanyaanmu akan kujawab setelah kita membereskannya, kupinjam tubuhmu." dan orang yang bernama Gerald itu dengan cepat mengambil alih tubuhku.
"Apa? Tu-tunggu!" tetapi Gerald dengan cepat mengambil alih tubuhku.
Saat itu pula aku mendapati kesadaranku dan kembali. Aku menyaksikan Luna yang tampak kebingungan, tetapi aku tak bisa menggerakkan tubuhku, lebih tepatnya, tubuhku diambil ahli, Gerald langsung menggerakkan tubuhku sesukanya.
"Haah, akhirnya aku balik ke tubuh manusia" Gerald langsung menggerakkan tanganku, meregangkan badanku. Aku merasa diriku aneh jika melihat tubuhku bergerak tanpa keinginanku.
"Gerald, apa yang mau kau lakukan dengan diriku?" aku menanyakan sesuatu yang mustahil untuk Gerald tanggapi.
"Haah, sepertinya aku akhiri saja" Gerald menggenggam Pendant yang kupakai, Pendant itu mengeluarkan sesuatu yang aneh.
Wahai roh debu bintang yang menyebar di angkasa yang luas. Berikan kepadaku keajaiban yang engkau banggakan tersebut.
"Stardust, Set Up" Gerald mengaktifkan Pendantnya. Pendant itu menjawab keinginan Gerald.
Standby Ready, Set up
Pendant itu bisa berbicara dan memberikan Barrier Jacket yang keren, dan pendant berubah menjadi semacam pedang, Apakah itu Inteligent Device yang pernah kudengar dari Shamal? jika benar, maka apakah ada kemungkinan bahwa aku mempunyai potensi kekuatan seperti para ksatria?
"Padahal sudah senang-senangnya, haaah" aku mengeluh. Sepertinya memang dikhususkan untuk Gerald, seandainya aku masih mempunyai ingatanku.
"Apakah benar begitu? Kalau pertarungan memang tidak pas untukmu, Bagaimana dengan strategi?, kau bisa merasakannya bukan hawa yang cukup aneh" Gerald menjelaskan sesuatu, memang benar ada yang aneh di sekitar, aku terasa sesak nafas.
Aku berkonsentrasi dengan beberapa hal yang aneh. Yang pertama kali terasa adalah aliran udara. Aliran udara sangat kacau, karena lambat. Kupikir karena waktu telah berhenti, aku melihat sekitar, yang kulihat adalah sesuatu yang cepat. Di saat itu aku menyadari bahwa aliran waktu bukanlah berhenti, melainkan melambat, , seperti ada perbedaan waktu dengan perbedaan jarak.
"Oh, begitu. Jarak! dia memperlambat aliran waktu di sekitar dengan luas area yang terbatas" aku mengerti, sebenarnya bukanlah Hayate dan Ksatria wolkenritter yang berhenti, mereka hanya bergerak lambat. Tetapi aku menyadari lagi keanehan berikutnya. Mengapa aku tidak ikut melambat?
"Akhirnya kau mengerti, ok ayo kita mulai" Gerald dengan siaga.
Gerald dengan cepat mengayunkan pedang Stardust ke Luna, Luna tidak mengeluarkan Devicenya dan hanya menghindar.
"Lebih baik kau mengakhiri segera, lepaskan ikatan waktu keluargaku."
"Keluarga, katamu? SIALAN, jadi kau anggap kami ini apa?" Luna mulai emosi dengan ucapanku.
"Dan juga kau menganggap mereka keluarga, padahal mereka baru bertemu dirimu. Sedangkan kami-" kekesalan mereka menjadi-jadi, tetapi ucapannya terpotong akibat Gerald melakukan serangan penekanan. Luna hanya bisa bertahan dengan pisau kecil.
"Tch, dan juga dimana orang-orang yang kau sebut keluarga?"
"Jangan-jangan...?" aku berusaha mencari mereka, aku panik jika Luna menculik mereka. Fokusku yang mulai hilang membuat Gerald kehilangan kendali.
"Oi-oi, Galeth, tenangkan dirimu!"
Aku segera mencari mereka hanya dengan mataku yang bisa kukendalikan. Dan saat itu aku tenang disaat Hayate dan Rein masih berada di tempatnya. Aku tidak sadar serangan mendadak dari Luna.
"SIALAN, MATI SAJA KAU PENGKHIANAT" kata-kata itu terbayang lagi, kata-kata yang sesuai dengan penglihatan. Aku depresi.
Tubuhku akhirnya dikuasai penuh oleh Gerald. Dia menahan serangan pisau Luna. Aku berusaha menahan rasa depresiku untuk sementara dan mencari ksatria lainnya.
Tetapi aku tidak melihat adanya para Wolkenritter, yang kulihat hanya Hayate dan Rein, ternyata para ksatria wolkenritter sudah bersiaga membuat serangan, mereka tidak melambat. Padahal aku ingat sekali bahwa semua pada bergerak lambat.
"Sialan kau, akan kuhancurkan kau" Vita sangat marah ke Luna, palu Graf Eisen aktif dan sudah siap menghancurkannya.
"Jangan pernah remehkan kami! Dan juga keluarga kami" Vita mulai siap menyerang. Tetapi... Luna dengan aneh tertawa tidak jelas.
"HAHAHA, ikatan keluarga yang begitu mengharukan, Ya sudahlah..., aku mundur saja. Gerald, kami tetap akan menunggumu. Juga Galeth, pengkhianat sepertimu sebaiknya mengingat dosa-dosamu."
Vita yang sudah sangat marah, hanya bisa berteriak kesal, karena tidak dapat menghentikan Luna.
Gerald sepertinya capek, tetapi aku masih belum bisa mengambil alih tubuhku, sepertinya Gerald masih senang dengan memakai tubuhku. Kata-kata Luna membuatku merasa bersalah, ingatanku satu-satunya petunjuk mengenai diriku ini. Hayate dan Rein yang sudah tidak terkena efek barier bertanya-tanya tentang apa yang terjadi. Semua tampak lelah.
"Hei, kenapa semua?, ada apa dengan kalian, ayolah, jelaskan apa yang terjadi?" Hayate benar-benar merasa bingung. Hayate mulai bertanya kepada ku yang masih diambil alih Gerald.
"Galeth, apa yang terjadi? Dimana Luna?"
Gerald dengan santainya mulai menjelaskan.
"Hmmmm, dia sudah pulang?, katanya dia ada perlu!" Gerald simpel sekali menjelaskan. Kata-katanya yang simpel membuatku agak kesal, tapi hanya dengan begini dia bisa mengerti. Tetapi aku merasakan hawa kemarahan disaat Gerald selesai menjelaskan.
"Menyingkir dari sana, dasar iblis!" Signum berteriak kepada Gerald. Signum mulai terlihat murka dengan Gerald dan mulai mengaktifkan Devicenya
"Kuharap kau sudah bersiap untuk mati, Gerald" Signum mulai menodong pedangnya ke Gerald.
Aku sangat bingung, semua terjadi begitu saja, baru sehari aku bertemu mereka, tetapi aku sudah membuat permusuhan saja.
"Gerald, ceritakan padaku, siapakah kau?, siapakah aku sebenarnya?, dan mengapa mereka membenciku?!" Aku meminta Gerald untuk menjelaskan semua yang terjadi.
"Kuharap kau tidak menyesalinya, bahkan..., ah tidak, kau mungkin harus mengetahuinya. Tetapi sepertinya, itu harus ditunggu."
Hayate melindungiku dan menanyakan maksud dari tujuan Signum.
"Signum, berhentilah, ayolah, tolong jelaskan mengapa kau begini" Hayate sangat panik. Signum mulai tidak terkendali, air matanya mulai mengalir, tidak jelas mengapa dia begini. Aku harus mencari cara untuk keluar dari masalah ini. Tetapi Signum sudah mengeluarkan Laevatein, dia sepertinya buta dengan sekitar, dia hanya menargetkan diriku, seolah Hayate, mistress dari Signum hanyalah halangan dari dia.
Apakah aku akan telat lagi hanya untuk berpikir? apakah ini hanyalah keinginan ku? Aku tidak bisa membiarkan ini semua terjadi lagi.
SLASH
Sebuah sabetan Laevatein mengenai tubuh dan mengeluarkan darah segar. Itu adalah darahku disaat aku memeluk Hayate, tubuhku melindungi dirinya dari sabetan Signum.
"HHAH, KYAAAAA" Hayate teriak histeris.
Aku hanya bisa menonjok perutnya untuk membuat Hayate yang panik histeris tertidur.
"Sialan...Apa yang kau lakukan pada tuan kami?" Signum sepertinya marah dengan aku yang membuat Hayate pingsan. Tetapi dia melihat mataku dan langsung mundur
"Maaf Signum, tetapi aku sepertinya memiliki masalah pribadi dengan dirimu, oleh karena itu..." aku menarik nafas dalam-dalam.
"KAU BODOH YA? APAKAH KAU TIDAK MEMIKIRKAN PERASAAN HAYATE?" aku berteriak keras dan berkata kasar.
"KAU MENGINGINKAN PERTARUNGAN, AKU TERIMA. TETAPI JANGAN PERNAH MEMBERIKAN INGATAN KEJAM UNTUK DIRINYA, WALAUPUN ITU ADALAH KEBAIKAN DIRINYA." aku benar-benar marah.
Signum terdiam, air matanya mengalir, dan menjatuhkan badannya. dia sangat membenci Gerald. Tetapi setidaknya, aku berhasil menghentikan dirinya. aku akhirnya berusaha membawa Hayate yang tertidur ke kamar tidur, luka dibelakangku hanya menjadi hambatan kecil bagiku.
Aku mulai terkejut saat Hayate mulai berusaha membuka matanya, Apakah karena tubuhnya bisa menerima beban pukulan yang kuat? Sepertinya aku tidak bisa semena-mena dengan dirinya atau memberi peringatan bahwa aku ini kurang ajar pada masterku. Aku tersenyum pada diriku sedikit.
Tetapi aku masih belum bisa berkata apa-apa, Signum menangis dan serasa menyesal, entah pertemuan ini kah penyebabnya, atau ingatanku yang hilang, aku hanya bisa menjalani malam dengan kemurungan yang tiada hentinya.
