Kenangan - kenangan hanya membebani keinginan. Tidak tahu kebenaran maupun kepalsuan, entah ini adalah hanyalah sesuatu yang dimanipulasi ataukah kenyataan. Tetapi, walaupun begitu...

Mahou Shoujo Lyrical Nanoha A's Another story : Mirai to ai no kiseki, hajimarimasu...

Story 3 : Reuni dan Perpisahan

Ingatan yang kuterima sudah sepenuhnya memenuhi otakku. Aku menjadi ragu, seakan apa yang kujalani semuanya salah. Mereka yang disebut Yami no Isshi menyerang psikis dan mental dari setiap makhluk hidup untuk membuat mereka merasakan apa itu putus asa. Dan aku adalah salah satu korbannya. Mungkin inilah alasan dari diriku untuk melupakan masa lalu.

Aku kembali tersadar ke diriku, tubuhku tergeletak di tanah, dibasahi hujan yang datang entah sejak kapan turunnya. Air mataku keluar, keluar dari mataku yang bercampur dengan air hujan. Aku merasa tidak kuat dengan apa yang bisa kulakukan. Tanganku mulai menghitam, menandakan bahwa Yami no isshi sudah mulai mencemari tubuhku. Tetapi, jikalau ingatan yang ada di kepalaku itu benar, maka pencemarannya hanya sampai di pergelangan tangan. Aku yang dulu sudah memperkirakan semuanya.

Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan lagi, tidak ada yang bisa kulakukan lagi…, tidak ada.

"Tidak ada?" suara gadis yang rasanya kukenal keluar dari kepalaku

"Ya…, tidak ada." Aku hanya menjawabnya sesuai pendapatku

"Apakah kakak benar-benar menyerah?" suara itu datang lagi.

"Ya…, aku sudah tidak tahu lagi arti kata pantang menyerah." Memangnya apalagi yang bisa kulakukan.

"Apakah ini sudah berakhir?" sekarang suara dari hatiku.

"YA, SUDAH BERAKHIR!" aku langsung memakai pedang tercemar Sun blaze dan berusaha menusuk diriku.

Aku memenjamkan mataku, berusaha untuk menahan rasa sakit. Tetapi…

Ujung Pedang tidak menyentuh diriku. Ada tekanan besar dari tanganku, yang menyebabkan aku tidak bisa menusuk diriku.

Aku merasakan bahwa ada yang kurang, masih ada yang harus kulakukan.

"Bukankah masih ada yang harus kaulakukan sebelum kau mati?" hatiku menghentikan tindakanku dan memberikan pendapatnya.

"… Ya, aku masih…, belum bisa mati" aku tersadar, aku masih belum meminta maaf ke Hayate, juga ke Signum yang sudah menyimpan beban selama ini.

Hujan berhenti, pelangi terlihat. Aku melihat diriku di genangan air, diriku yang begitu kusut. Wajahku benar-benar buruk, seperti orang kekurangan gizi selama ini. Entah pelangi yang keluar menunjukkan harapan baru, atau hanya tambahan cerita dari akhir kisahku yang begitu menyedihkan ini.

Aku kembali ke rumah Hayate, memasuki pintu depan, Vita yang dari tadi menjaga pintu karena khawatir dengan diriku. Aku yang pergi terlalu lama, membuat Vita kesal.

"Oi, Galeth! Kau kemana saja?" sambil memaki-maki diriku.

"Ah, Ksatria palu Vita. Lama tidak berjumpa ya" aku menjawabnya.

Jawabanku mempunyai suara yang sama, tetapi Vita menyadarinya, intonasinya yang berubah membuat dirinya malu dan langsung menunduk.

"MAAFKAN DIRIKU YANG HINA INI, TUAN GALETH" Vita menunduk.

Zafira dan Shamal mendengar ucapan keras vita segera mendatangiku dan menunduk.

"Selamat datang tuan kami." Mereka mengucapkan selamat datang sambal menunduk.

"Sudahlah, angkat kepala kalian. Aku bukanlah majikan kalian lagi." Aku memberikan perintah.

Vita langsung bangkit dan memelukku.

"Oi… Tu-tunggu…" aku terkejut dengan reaksinya.

"…Syukurlah…hiks, hontouni… yokatta" Vita memelukku. Pelukan yang begitu nyaman.

"Ah… begitukah…? Aku pulang!" aku memeluk balik, mengusap kepala vita.

Aku merasa seperti orang bodoh, berusaha untuk mati. Melihat para Ksatria yang masih merindukan dan menungguku bertahun-tahun.

"Aku pulang…, EH?!" Signum datang seusai dari kegiatan belanjanya. Vita yang kupeluk melihatnya dan walaupun aku membelakanginya, aku masih bisa menyadarinya.

"Akhirnya, kau datang Signum…" wajahku langsung menoleh ke arahnya.

Signum terkejut. Barang belanja terjatuh, telur yang dibelinya pecah. "...AAAA…TUANKU!" Dia langsung memelukku dari belakang.

Shamal dan Zafira juga ikut memeluk kami.

Aku didekap dari segala arah, kenyamanan pelukan mereka membuatku masih ada rasa tenang.

Kami segera mengadakan rapat meja ruang makan.

"Sebelumnya…, aku minta maaf, atas beberapa hal."

Mereka mendengarkanku secara seksama.

"…Aku meminta maaf karena sudah meninggalkan kalian."

Scaglieti membuatku kesal. Dengan dirinya, aku tidak bisa berbuat apa-apa, tubuh yang kupakai ini adalah tubuh buatan dengan pikiran yang sama. Dan juga ingatan yang sama. Aku tidak tahu dimana tubuh asliku.

"Aku benar-benar minta maaf, aku-"

"-Tidak, seharusnya saya yang minta maaf, saya tidak bisa melakukan tugas yang anda berikan." Signum langsung menyela.

"Aku seharusnya mengerti perasaanmu, Signum, kau melakukan semua hal ini demi apa yang kau percayai, bahkan harus mengorbankannya…, Ah tidak, lupakan."

"…Tuanku, Apakah dirinya masih ada didalam tubuh anda, tuan" Signum menanyakan keberadaannya

"…Sayangnya, iya. Dia sudah masih ada ditubuhku, tetapi aku tidak tahu keadaan dia sekarang." Aku menjawabnya dengan penuh kekesalan, seperti dipermainkan dirinya.

Tetapi dia adalah partner hidupku. Dia menjalankannya sesuai dengan apa yang seharusnya diperintahkan diriku, tetapi dia tidak bisa menjalankan sesuai apa yang dia harusnya lakukan

"…begitu." Signum hanya bisa menjawab dengan menunduk.

"Tuan, saya ingin kembali loyal kepada anda, oleh karena itu…" Shamal melakukan permintaan

"LUPAKAN! aku tidak menginginkan hal itu. Aku hanya menginginkan kalian tetap loyal terhadap majikan kalian yang sekarang."

Aku tidak menginginkan loyalitas mereka lagi. Aku tidak mau membebani mereka untuk kedua kaliya.

Mereka hanya menunduk, tidak bisa berkata apa-apa.

"…Maaf karena aku membentak. Aku sebenarnya hanya cemburu, dengan zaman ini, juga dengan hubungan kalian dan majikan kalian."

"Eh…?!" Mereka terkejut.

"…Ah tidak, lupakan saja." Aku langsung menghentikan maksudku, "Pertemuan ini kita akhiri, dan juga mungkin ini akan menjadi terakhir kali kita kumpul diskusi bareng dengan aku sebagai majikan kalian. Tetapi sebelum itu, aku ingin berbicara dengan Signum."

Mereka langsung berdiri dan menjauhi meja, membiarkan aku dan Signum berdua.

"Bagaimana kalau kita sekalian belanja lagi?" aku menunjuk telur yang pecah akibat Signum terkejut tadi.

"Ah…Baiklah..." Signum langsung malu, mukanya memerah karena kecerobohannya.

Kami berdua langsung berangkat. Yang lain tetap dirumah untuk menyambut majikan baru mereka saat dia pulang nanti.

Selama perjalanan kami memulai diskusi kembali untuk belanja yang harus dibeli lagi, dan pulangnya, kami membahas pembicaraan kami yang tertunda tadi.

"AHHH, Menyenangkan sekali, aku akhirnya bisa merasakan sesuatu pada zaman ini" Aku puas dengan belanja tadi

"Benarkah? Aku bersyukur jika anda puas."

"Anu… Signum!" aku berusaha mengucapkan sesuatu.

"Ada apa Tuan?" Signum langsung ke initinya.

"Aku ingin kau tetap menjaga Hayate seperti biasanya, dan juga sebagai pemimpin dari Ksatria, aku berharap kau tidak membebani dirimu begitu besar lagi!"

"…Baik tuan! Saya mengerti." Dan dia menjawab seperti biasa.

"…Dan juga karena aku bukanlah majikan kalian lagi, aku tetap memegang statusku sebagai Ksatria ke 5."

"Eh…?!" Signum terkejut.

Aku membelakanginya dan berusaha mencari alasan yang sesederhana mungkin, dengan muka merah, "Y-ya kau tahu kan bahwa aku sudah bersumpah untuk menjadi Ksatrianya, setidaknya aku bisa melindunginya..."

"Melindunginya? Dari ancaman apa? Apakah L.E.T.H atau AR? Benarkah L.E.T.H. sudah bergerak kah? tetapi bukankah kita bisa merundingkannya? Dan juga bukankah mereka sudah seperti keluarga Tuan?" Signum mulai banyak bertanya.

"Anu, Kau tahu kan bahwa Hayate sekarang masuk Biro… Apa namanya…? Aku lupa." Aku berusaha untuk mengingatnya.

"TSAB, Biro Administrasi Ruang dan Waktu"

"Nah…itu, aku mungkin akan mengikuti biro itu. Dan juga aku mempunyai beberapa kenalan disana. Jadi…"

"Ah, boleh saja. Tetapi Hayate sudah mengikuti biro sejak 2 tahun lalu, mungkin anda akan kesulitan untuk menyamakan statusnya." Signum berkomentar yang tidak perlu, "Dan juga, apakah anda punya device?"

"Ah…, mungkin aku akan membuatnya lagi." Aku tidak mungkin memperlihatkan Sunblaze yang sudah tercemar ini. Dan seharusnya device ini tersegel.

"Saya tahu bahwa Sunblaze sudah tersegel, maka sebaiknya anda membuat yang baru."

"Hmmm, begitu kah? Kalau begitu, perkenalkan aku pada yang ahlinya." Mungkin dia bisa membersihkan kutukan dari Sunblaze juga.

Rumah Hayate sudah terlihat. Aku masuk ke rumahnya dengan perasaan aneh. Entah rasanya ada yang mengganjal, tetapi aku tidak ingin mempertanyakan sesuatu yang membuat hatiku gundah.

Aku melihat Hayate, sudah pulang dan melakukan persiapan esok hari. Saat itu, kami saling memandang, dan dia langsung berteriak…

"SEMUANYA, KITA MAU RAPAT DI KAMAR."

Aku terkejut, mungkin karena dia memandangku, ada yang membuat dirinya aneh, atau mungkin karena dia terburu-buru.

Aku dan para ksatria mulai memasuki kamar, tetapi aku merasakan sesuatu yang ingin dirahasiakan. Ada meja makan…, mengapa harus dikamar?

"Signum dan Galeth, ini perintah. Kalian bereskan belanjaan kalian dan siap-siap istirahat."

Sudah kuduga, mereka ingin mengeratkan aku dan Signum karena permasalahan kemarin, dan berusaha agar kami berdua tidak ada masalah. Apakah dia sudah mengetahuinya?

"Aa…, baiklah." Aku hanya menurut saja.

Dan kamar tertutup.

"kira-kira mereka mau membahas apa?" Signum bertanya-tanya.

"mungkin, pesta…" aku menjawab sesuai pikiranku.

"Eh…, mengapa tuan bisa tahu?" Signum penasaran akan jawabanku.

"Anggap aja aku tahu, karena jawabannya akan datang dalam waktu 5…,4…,3…" aku menghitung mundur, dan…

"APAAAA?! PESTAAA, HOREEE" Rein berteriak menandakan jawabanku yang tepat.

"Signum, aku akan jelaskan sambil kita menyusun belanjaan." Aku langsung mengganti topik karena harus segera merapikan barang.

"Ah… baik…" Signum langsung menurut.

Aku langsung menyusun beberapa barang untuk disortiri kedalam beberapa macam.

"Signum, ini ditaruh mana?" aku mengangkat barang yang mudah rusak.

"Hmm, ditaruh di bagian bawah, dan juga hati-hati dengan telur dan tahu nya, karena mudah rusak." Signum menunjuk tempat untuk di taruh.

"Eh…, aku juga tahu kalau ini mudah rusak, karena itu kita beli lagi bukan? Dan juga kenapa di bawah? Bukannya telur harusnya ditaruh ditempat telur di atas."

Signum langsung malu, mukanya memerah dan berusaha menghindar, "Anu…, anda bisa melihat struktur kulkasnya!" sambil menunjuk kulkas.

Aku langsung mengamati struktur kulkas.

"Pantesan…!" tempat telur menjadi kue cokelat, susunannya aneh sekali, pasti karena ulah Rein.

"...Sigh, kalian semua mungkin harus mempunyai banyak aturan agar teratur…" aku mengomentari.

"…tetapi, inilah kehidupan kami sekarang, entah kenapa…ah…, maaf lupakan." Signum memutuskan untuk tidak melanjutkan komentar kehidupannya.

"Menyenangkan kah? Kalian hidup dengan Hayate?" aku menanyakan sesuatu yang berhubungan dengan komentarnya.

"…" Signum tidak menjawab, aku merasakan dia malu dan ketakutan karena akan melukai perasaanku saat menjadi majikannya.

"Tidak apa-apa, aku merasakan kalian begitu akrab satu sama lain. Bagiku jika kalian senang, aku pun senang."

"…Tapi, kehidupan kami saat ada tuan tetaplah menyenangkan."

"…Benarkah? Tetapi…, Walaupun begitu, saat aku melihat kalian melakukan kegiatan selayaknya keluarga, aku mengerti bahwa dunia ini sudah nyaman. Kalian tidak membuat musuh dengan yang lainnya lagi." Aku mengamati kehidupan mereka yang damai.

"Ya…benar." Signum berkomentar

"Walaupun aku tahu kalian juga pernah melakukan itu, padahal bukan atas nama majikan kalian" mereka melakukan pembantaian makhluk untuk mencari energi, mengumpulkan 666 Halaman buku langit malam.

"Eh…?" Signum terkejut.

"Aku sudah mendengarnya dari Nanoha, kau bertarung agar Hayate tidak lumpuh, menjadi rival Fate Testarosa. Walaupun dulu aku pernah menyuruh kalian untuk melakukan hal yang sama, sekarang, aku merasakan kesedihan itu."

"…" Signum terdiam lagi.

"…Karena itu, aku ingin kalian tetap disampingnya. Aku memohon sebagai majikan kalian yang dulu, juga sebagai teman. Tolong jaga baik-baik majikan kalian yang sekarang." Permintaan kecil yang kuinginkan, hanyalah agar mereka hidup dengan tentram.

"…Baik tuan" Signum menjawab dengan semangat kecil yang terpancar di matanya.

Malam itu menjadi malam yang aneh, aku merasa bahagia dan disaat itu juga aku merasa sedih. Dunia yang dipenuhi kegelapan ini dihiasi cahaya bintang yang indah. Tetapi aku tidak pernah senang dengan dunia malam. Dunia yang selalu dihiasi dengan duka.

Ke-esokkan harinya, aku merasa kemurunganku masih belum menghilang, Hayate melihatku seperti merasa iba denganku.

"Oh ya, selama persiapan, kita akan mengadakan tukar kado. Jadi kalian harus menyiapkan kado untuk seseorang, kadonya bebas, dan masing-masing membawa 1 karena akan diambil secara acak. Tentu saja untuk Galeth, kau akan kuberikan uang untuk mencari hadiah yang menurutmu pas." Hayate memberikan rencana itu.

Aku mengerti maksudnya, keakuran yang begitu nikmat dihiasi dengan saling memberi hadiah special untuk yang disukai. Tetapi aku tidak ingin meminta uang sepeserpun dari Hayate hanya untuk hadiah yang ku cari.

"Onee-sama, untuk hadiahnya aku akan memikirkannya, dan tidak membutuhkan biaya sepeserpun." Dan seperti dulu, aku menolak kembali kedermawanannya.

Hayate dan lainnya pergi sekolah seperti biasa. Aku merencanakan untuk mencari hadiah mulai hari ini.

Mungkin bunga bisa menjadi hadiah yang kucari. Aku langsung menuju taman yang kukunjungi kemarin, aku langsung memetic bunga yang indah, tetapi…

"Hei, kamu, bisa baca tanda disitu tidak? Dasar anak Zaman sekarang." Seorang kakek memakiku sambil menunjuk tanda itu.

AKu melihat tanda untuk pengunjung taman.

'Dilarang memetik bunga.'

"Aaah, tuan, maafkan saya." Aku menunduk malu, aku masih berpikir bahwa memetik bunga tidak begitu jarang pada saat itu. Akhirnya aku mencari hadiah alternatif lain.

Seharian aku mencari hadiah, dan hasilnya nihil. Tidak ada yang kudapatkan. Aku tidak mungkin memetik bunga lagi ditempat lain, karena aku baru menyadari bahwa tempat yang indah sekarang begitu jarang. Dunia sudah diisi dengan wilayah perkotaan yang panas.

Aku mencoba ke gunung, tetapi seperti biasa, banyak tanda untuk pengambilan liar tidak diperbolehkan.

Waktu sudah menunjukkan sore hari, aku tidak menemukan sesuatu yang bisa dijadikan hadiah.

Aku mulai murung, sambil berjalan pulang, aku merasakan adanya rasa tidak enak hati dengan Hayate, dia menginginkan untuk hidup senang denganku dengan pestanya.

"Bodoh juga aku ya, hahaha…" Aku bergunam, pesta ini adalah pertemuan awalku, tetapi aku malah tidak bisa memberikan apa-apa.

"Tetapi, aku tidak bisa membiarkan tangan ini mencemari orang lain, aku harus segera mengakhirinya." Aku melihat tanganku, aku tidak bisa mengetahui kapan pencemaran ini akan dimulai.

"Sunblaze…,kah!?" kemarin aku memakai pendant Stardust, tidak bisa kupakai, dan sekarang aku mendapatkan deviceku sendiri, ternyata malah tercemar.

"Sigh, dunia memang kejam…" aku bergunam.

"Benarkah demikian? Dunia ini tidak begitu kejam kok…" seorang nenek menghampiriku. Aku kaget, dan berusaha untuk mencari jawaban dari ucapanku.

"Maaf nek, aku sepertinya hanya tidak tahu apa yang harus dilakukan…" aku menjawab dan memulai percakapan.

"Heee, ahaha, kau masih muda tetapi sudah berpikir bahwa tidak ada yang bisa dilakukan, bukannya waktu muda adalah waktu yang paling semangat..." Nenek itu berkomentar.

"Heee, begitu kah?" Aku tidak begitu mengerti maksudnya.

"Kau tahu bahwa banyak yang bisa kita lakukan, justru jika waktu sudah menjemput, kita puas karena ingin menjalankan apa yang kita mau." Nenek itu memberikan contoh dari semangat masa muda.

"…Memang benar sih nek, cuman saya hanya tidak tahu apa yang bisa saya inginkan."

"Hehehe…, keinginan yang bisa kamu raih tidak perlu besar-besar, saling mencintai juga termasuk keinginan yang indah." Sang Nenek menjelaskan sesuatu seperti cinta.

"Anu, Nek…, bukankah saya kelihatan masih kecil" tubuhku yang mungkin terlihat masih SD ke SMP seharusnya bisa dilihat bahwa hal cinta masih sangat awam untuk usiaku, walaupun seharusnya aku berumur lebih dari ini.

"Heee, benarkah? Maaf kalo aku salah sangka, karena yang dibahas terlalu dewasa. hehehe" sang nenek tersenyum.

"Nek, jika ingin menyayangi seseorang, apakah nenek tahu, hadiah yang cocok untuk anak perempuan, juga kakak perempuan?"

"Banyak hadiah yang bisa kau beli di sekitar sini bukan?" Nenek itu menunjuk berbagai toko.

"Tetapi… saya tidak ada uang." Aku merasa malu, menolak uang dari Hayate, tetapi malah kembali lagi dengan permasalahan uang.

"Eh, jadi itu masalahnya ya…hmm, susah juga ya, apalagi anak seusia kamu. Bagaimana kalau besok kamu bertemu di toko saya? Besok sabtu bukan? Seharusnya kamu pulang siang karena ada kegiatan evaluasi Pendidikan dari pemerintah besok, jadi mungkin ada yang libur atau pulang cepat."

Nenek itu tahu tentang informasi sekolah, tetapi karena aku memang tidak sekolah, mungkin aku langsung saja ke tokonya.

"Iya nek, aku tidak sekolah besok."

"Kalau begitu, ini alamatnya…" Nenek itu menunjukkan alamat.

"Hee, disana ya, dekat dengan taman. Tetapi apa yang harus saya lakukan?"

"Sudah kamu datang aja, mungkin ada yang bisa kamu lakukan."

Aku menerima permintaan nenek dan pulang dengan senang.

Ke-esokkan harinya, aku langsung segera ke toko untuk bertemu nenek kemarin. Toko yang kuhampiri hanyalah toko tua. Tetapi masih bisa berdiri karena isinya masih bisa dibeli, barang-barangnya terawat.

Aku memasuki toko itu dan terkejut.

"KAMU! Kamu anak kemarin!" kakek kemarin yang kutemui berada di dalam toko.

"EH..., kakek!" aku terkejut.

"Sigh, kamu ini, jika menginginkan hadiah, mengapa harus mencabut bunga yang malang itu." Sang Kakek menghela nafas. Sang kakek masih membahas bunga kemarin.

"Maafkan saya atas perbuatan saya kemarin…" aku menunduk maaf, "Saya hanya tidak terbiasa dengan keadaan disini." dan hanya bisa mengelak. Tetapi mengapa kakek ini tahu tentang Hadiah?

"keadaan disini?" Kakek merasa aneh dengan jawabanku.

"Ah… tidak-tidak lupakan saja." Aku mengelak lagi.

"Maksudmu, keadaan kota?" sang kakek melanjutkan topik tadi dengan memberikan kata kunci topik yang dibahas.

"…Iya kek, sa-saya hanya melihat wilayah sekitar sudah dipakai untuk perkotaan."

"Benar, karena itu wilayah taman sudah berkurang, Zaman sudah berkembang, dan kami orang tua tidak bisa apa-apa dan melihat taman mulai berkurang. Sigh…"

"Begitu kah kek…?" Aku bersimpati dengan kakek itu.

Dunia sudah berubah, entah semakin lebih baik atau tidak, aku tidak tahu, perkembangan dunia yang sudah begitu pesat.

"Nak, coba kau bantu bereskan ruangan ini."

"Eh?" Aku bisa saja menuruti perintahnya. Walaupun begitu, sampai sekarang aku masih tidak mengerti. Kakek ini mengapa bisa berada diruangan ini? Dan mengapa aku diperintahkan dirinya?

Pintu terbuka, Nenek yang kutemui kemarin memasuki ruangan ini.

"Ara, sudah datang rupanya, maafkan saya karena telat, ya. Oh ya, apakah kamu sudah sarapan? Ini ada kue..."

Sang nenek memberikan kue yang sepertinya baru dibeli olehnya.

"Ah…, makasih nek." Aku merasa merepotkan sang Nenek.

"Ah, sayang, ini kue beras yang barusan kau pesan." Sang Nenek memberikan kue beras ke sang Kakek.

"Ah, syukurlah. Akhirnya datang juga." Sang kakek kegirangan dan langsung menyantapnya.

Melihat mereka berdua yang akrab, aku yakin mereka suami istri yang sudah pensiunan. Aku langsung menanyakan maksud kedatanganku kesini.

"Kamu mau bantu aku menjaga toko? Sebagai gantinya, benda didepan itu akan menjadi upahnya."

"Eh…, aku melihat benda itu, benda antik bewarna coklat yang tidak kuketahui seumur hidupku. Bentuknya menyerupai jam tangan antik, tetapi isinya kosong, isinya hanya seperti benda yang datar dengan permukaan dan warnanya putih, tidak terlihat apapun, tidak bisa terbuka, benda putih ini seperti menyatu dengan permuakaan benda tersebut. Tetapi hal aneh terjadi. Rasa penasaranku membuatku tertarik dengan benda ini."

"Nek, ini apa?"

"Ah, saya tidak tahu itu, benda itu sudah berada di tempat itu, sepertinya ada pembeli yang kelupaan membawa barang itu. Tetapi kalau kamu mau, ambil aja?"

"Eh…?" ada dua hal yang ganjil.

"Nek, berarti ini bukan hadiah yang nenek janjikan?" aku menanyakan salah satunya.

"Eh… ah, hahaha, tentu saja bukan, itu loh… Harmonika" Nenek itu menunjukkan sebuah harmonika tua.

"Tapi Nek, maaf jika saya tidak sopan. Apakah hadiah ini bisa memuaskan seorang gadis?"

"Hehe, bisa saja. Kamu tinggal memainkannya."

"Tapi Nek, saya tidak bisa memainkan Harmonika. Yang saya tahu, memainkan alat musik seperti ini harus mempunyai hati yang merdu."

"Hmmm, hihihi. Cobalah dulu, mungkin dengan kau memainkannya, kau bisa mengetahui apa yang hatimu rasakan." Nenek itu malah tertawa saat memintaku untuk memainkannya

AKu tidak tahu cara memainkannya. Aku memainkan karena pernah melihat orang memainkannya.

"…Baiklah." Aku hanya menyesuaikan nada dan irama yang kurasakan, walaupun aku tidak tahu, nada apa yang akan keluar.

Tiupan pertamaku membunyikan kemerduan yang bahkan aku sendiri tidak paham. Lalu, tiupan kedua mulai menarikku ke dunia ilusi dan mengikatkan diriku pada lagu yang kumainkan.

"Bagaimana?" sang Nenek meminta tanggapanku.

"Sangat indah, seolah yang memainkan lagu itu adalah Harmonika itu sendiri."

"Hihihi, itulah hadiahmu. Sekarang mari kita kerja."

"Baik Nek." Aku semangat sekali untuk kerja demi Harmonika yang ajaib ini.

Aku begitu senang dengan kerja disini, banyak pembeli dari kalangan anak-anak, remaja, dewasa dan orang tua. Toko yang menjual berbagai barang, sangat dibutukan oleh masyarakat kalangan manapun. Sang Kakek bertemu dengan teman lamanya yang juga sudah tua dan memakai ruang tamu untuk berbincang.

"Nak, ngomong-ngomong, siapa namamu?" aku baru sadar, sang Nenek belum mengetahui namaku.

"Galeth, nek" Aku memberikan namaku.

"Hohoho, nama yang sangat jarang ditemui." Sang nenek menanggapi.

"Be-benarkah, ahahaha…" Aku tidak bisa bilang bahwa itu nama pemberian Hayate yang dia ambil dari nama sepatu.

"Nama yang melambangkan kesenangan, loyalitas, dan Harapan… Benarkan?" sang Nenek berkomentar seolah dia tahu arti dari nama itu.

"Mungkin…, tetapi saya sendiri tidak tahu, apakah saya mampu memberikan harapan untuk orang lain."

"Hohoho, Jalanmu masih Panjang, jawaban dari pertanyaanmu mungkin akan ketemu." Sang Nenek menjawab kegundahan hatiku.

Sore sudah menjemput, waktu untuk berpisah dengan Kakek dan Nenek itu.

"Nenek, terima kasih atas bantuan anda, dengan ini, saya bisa memberikan hadiah yang pantas untuk seseorang yang penting dalam hidupku."

"Hihihi, tidak-tidak, justru saya yang berterima kasih karena bisa dibantu untuk menjaga toko tadi."

"Terima kasih ya…, Kakek, Nenek, sampai jumpa."

Aku langsung berlari dengan riang, sambil melambaikan tangan.

Malamnya, aku melihat rumah sudah terhias rapih, siap untuk diadakan pesta besok.

Aku masuk ke rumah, tetapi tidak ada siapapun, dan pintu rumah dibiarkan terbuka.

"Heee, sepertinya sudah siap ya… hehehe." Suara perempuan datang dari belakangku.

"Luna…, mengapa kau disini?"

Luna langsung menyentuh tanganku yang menghitam dan menggenggamnya dengan kuat.

"UWAAAAAAA, APA YANG KAU LAKUKAN" aku menahan rasa sakit yang dilakukannya.

"Inilah kutukan yang kau sembunyikan, kau seharusnya tahu bahwa ini adalah sesuatu yang harus dihindari." Luna mulai kesal.

"Apapun yang kau inginkan, aku tidak akan membiarkan diriku lagi…UAGHH" Tanganku mulai kesakitan.

"Itulah akibatnya kalau kau hanya memaksa diri. Sigh, jika saja kau bisa mengingatnya, mengingat bahwa kita adalah keluargamu."

Luna sepertinya belum mengetahui bahwa ingatanku telah kembali. Tetapi ada yang mengganjal hatiku saat tanganku kesakitan tadi.

"GALETHHHHH, kenapa kamu ini, menghilang begitu saja. Aku ini cemas..., eh…" Teriakan dari Hayate sampai kediriku. Aku melihat tangannya Hayate, tangannya mulai menghitam.

"Jangan-jangan…!" pikiranku tertuju pada Luna, dan senyum sinisnya memberikan tanggapan bahwa dugaanku benar.

"Luna-chan, kalau mau, kalian masuk ke dalam dulu saja. Tidak enak diluar dingin." Hayate meminta Luna dan aku untuk masuk

"Ah tidak Hayate-chan, aku juga sudah mau balik. Makasih atas tawarannya." Luna menolak permintaan Hayate.

"Anu, Luna-chan, bagaimana kalau kau ikut acara besok, akan ada reunian, juga acara perkenalan, mungkin jika kau mau ikut?" Hayate mengajak Luna.

"Wow, pesta, kayaknya menyenangkan. Tetapi aku tidak bisa. Karena ada yang harus kulakukan besok." Luna menolak tawaran Hayate, bagaimana tidak, dia diburu oleh Wolkenritter. Hanya mencari masalah jika dia mengikuti acara.

"Sudah… ya" Luna langsung meninggalkan tempat dan melambaikan tangan ke Hayate.

Dan saat itu juga, aku merasakan keputus-asaan yang begitu besar.

Aku merasa bahwa kutukan ini mulai menyebar dan akan memberikan dampak negatif bagi semua yang ada di sekitarku. Aku melihat Hayate dengan pandangan sedih. Tetapi dia tidak menyadarinya, dan aku berharap demikian.

Malam sudah mulai larut. Aku termenung di teras. Melihat malam yang indah, tetapi begitu kejam. Memberikan rasa duka kepadaku lagi dan lagi.

Aku tidak bisa tidur, kalaupun ingin tidur, aku berharap bahwa tidurku akan menjadi tidur selamanya. Luna mendatangiku memberikan tanda bahwa aku sudah tidak diterima dimanapun.

Datang seseorang dan memanggilku.

"Tuan…, mengapa anda tidak tidur?" Signum langsung menemuiku yang termenung di teras.

"Signum…kah?" aku melihatnya, dan sebuah ide menjijikkan terlintas di pikiranku, aku ingin mati dan Signumlah sebagai alatny.

"Signum…,Hidupku tidak lama lagi…"

"…anda sedang bercanda kan." Signum menganggap ini hanyalah sebuah lawakan.

"Tidak, aku serius." Aku langsung memperlihatkan tanganku.

"Inilah penyebabnya, aku masih bisa menahan pencemaran hanya sebatas pergelangan tangan, dan mungkin tidak akan menular ke makhluk lainnya" kutukan Yami no Isshi kuperlihatkan.

"Tetapi sayangnya ini masih bisa menyebar ke tubuhku. Dan saat itu juga…"

"…Anda ingin memerintahkan saya untuk membunuh anda?" Dia langsung mengerti.

"…Sayangnya begitu. Tetapi tidak perlu mengotori tanganmu lagi, biar aku yang akan menghabisi diriku." Aku memberikan keringanan dari tugasnya. Tugas yang sudah menjadi kutukannya, menumpas segala makhluk hidup yang terkontaminasi dengan yami no isshi.

"…Anda tahu bahwa itu adalah ide yang sangat gila? JANGAN BERCANDA!"

"…benarkah? Aku tidak merasakan hal yang begitu gila. Bukankah kau tahu bahwa beginilah diriku yang sebenarnya?"

"...Tetapi-" Signum memotong.

"Signum, kutukan ini akan cepat menyebar, sepertinya hanya tinggal beberapa hari lagi hingga dia benar-benar menyebar ke makhluk lain... dan aku tidak ingin kutukan ini menular ke semua orang yang kusayangi."

"…Tuan! Apakah tidak ada yang bisa dilakukan untuk mencegahnya?" Signum langsung menumpahkan emosinya.

Aku langsung menutup mulutnya, "Ssstt, tidak perlu emosi, aku tahu bahwa ini adalah hal yang berat, aku pun merasakannya. Disaat aku bertarung dengan Gerald."

"GERALD!? Apakah dia benar-benar sudah mati?"

"Aku tidak tahu, aku tidak bisa merasakan kehadirannya lagi didalam diriku." Aku menjelaskan bahwa dirinya tidak ada didalam diriku, "Signum, mengenai Gerald, jika aku dengan benar mengingatnya…, apakah kau bisa memaafkannya?"

"…Apa maksudmu tuanku? Dialah sumber masalah dari semua ini."

"Sepertinya memang tidak bisa. Aku tidak mungkin mengikut-campurkan urusan kalian berdua."

"Wahai Tuan Galeth, mohon lupakan topik permasalahan ini, aku tidak ingin bertemu dia lagi. Dan kita mempunyai masalah besar dari pada ini" Dendam Signum tidak bisa menghilang.

"Sudah kubilang, aku bukan majikan kalian lagi" Aku membantahnya, entah kenapa aku merasa kesal jika dipanggil tuan.

"Aku tidak peduli. Kau tetaplah tuan kami." Signum tetap bersikeras untuk tetap memanggilku tuannya.

"Sigh, kau ini, …kalau begitu. Apakah kau bisa memilih satu dari dua pilihan?!"

"…apa itu?" Signum langsung menyimaknya.

"Pertama, kau harus melakukan tugas yaitu menanganiku disaat waktunya telah tiba. Tugas ini tidak boleh melibatkan para ksatria lain, hanya dirimu. Maka dengan itu kau boleh memendam kebencian terhadap Gerald."

"…Tetapi Tuan-"

"-Kedua, kau membiarkanku menangani diriku, tetapi kau harus bersumpah agar tetap melindungi majikanmu."

"MENGAPA KAU BERSIKERAS UNTUK MATI? Apakah ini benar-benar tidak bisa dicegah?" Signum mulai berteriak.

"Seandainya keinginan dunia bisa segampang itu untuk diinginkan, mungkin dunia ini akan indah, tetapi inilah dunia, sangat kejam."

"…Aku, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan." Signum tidak bisa berkomentar apa-apa.

Aku mulai berbohong "Mengenai tubuhku yang asli, kau bisa menemukannya kan?"

"Eh…?!" Signum terkejut.

Aku mengusap kepalaku kebelakang, "Ya… bukan berarti aku menginginkan bahwa tidak ingin menikmati hidup Bersama kalian." Aku memberikan harapan palsu, harapan yang mungkin tidak akan pernah terwujud. Aku sendiri tidak tahu bahwa tubuhku yang asli masih ada atau sudah tiada.

"Apakah aku bisa menemukanmu tuan?" Signum menanyakannya lagi.

"Mungkin…? Apakah kau tidak pernah percaya keajaiban?" aku memberikan hal kepalsuan, membuatku sendiri jijik dengan ucapan keajaiban yang palsu ini.

"…baiklah, aku akan melakukannya. Aku percaya bahwa tuan akan bertemu kami lagi."

"…Dan juga Signum, bertemulah denganku pada sore hari di teras. Saat itu akan ku pasang sihir barrier."

"…" Signum menunduk. Dia hanya terdiam. Aku tidak menyalahkannya, karena itu adalah emosi dari suatu makhluk yang bernama kegelisahan.

"Maafkan aku Signum…" aku hanya bisa meminta maaf didalam hati, tidak memberikan kebenaran. Aku hanya menginginkan akhir yang indah, tanpa ada penyesalan.

Signum sangat kuat, memendam emosinya, selalu melaksanakan tugasnya dengan baik, mungkin tidak baik mempermainkan perasaannya. Aku tidak ingin melihat kemurungan dari semua orang yang kucintai, bahkan jika harus menjadi kebohonganku yang terakhir.

Pagi sudah datang, aku merasakan hawa tenang yang membuat diriku harus memuaskan diri hingga detik terakhir.

Aku mengikuti rencana yang dibuat Hayate, memperkenalkan diri, padahal aku sebentar lagi akan berpisah. Setidaknya aku bisa melihat orang-orang dari TSAB yang ingin kumasuki sebelumnya, dan kegagahan dari mereka membuatku terkagum dengan mereka. Tetapi, ada satu orang yang menjengkelkan. Dan orang itu adalah seseorang seharusnya yang kukenal. Tetapi sepertinya dia tidak mengingatku. Dan kesan pertama pada saat pesta awal adalah teriakannya.

"ANAK LAKI-LAKI" Teriakannya yang membuat semua orang terpelatuk.

"Hayate, apakah kau serius bersama dia? Dia tidak menghipnotismu kan? Apa hubunganmu dengan dia? Apakah kau tidak puas dengan ku?" Dan dimulailah tebukanya sifat dia yang biasanya.

"Hei kau, kau belum melakukan apa pun kan ke Hayateku...!" Dia mendekatiku seolah aku menggoda Hayate.

Aku kelabakan, "Ti-tidak" hanya mencari alasan agar tidak ada kecemburuan dari salah satu pihak.

'BUAK' Hayate menempeleng Acous, sudah pasti karena begitu memalukan.

Aku tersenyum puas dengan acara ini. Ada Chrono Harlown, kakak adopsi Fate, juga Yuno Scrya yang menjadi partner Nanoha dulu.

"Eh…, feret jadi-jadian…?!" aku bertanya-tanya dengan maksud Chrono memanggil Yuno demikian.

"Iya, saat itu…" Dan Chrono melanjutkan bentuk perubahan Yuno saat menjadi Feret Bersama Nanoha untuk mengumpulkan Lost Logia saat itu. Dan Yuno mulai kesal.

"…Apa katamu?!" Yuno mulai kesal dan dilerai Nanoha dan Fate menghentikan lawakan Chrono. Aku hanya tersenyum dan sweat drop.

Pesta yang kurasakan penuh dengan kesenangan dan keraguan. Aku tidak bisa menikmatinya seperti biasanya. Hatiku merasa bahwa pesta ini sangat berarti dalam hidupku. Tidak pernah kubayangkan bahwa perasaanku terombang-ambing. Tetapi sudah tibainilah waktunya.

Aku menuju teras rumah, menunggu waktu yang telah ditentukan, juga hadiah kupersiapkan menjadi hadiah petemanan dan perpisahan. Aku mempersiapkan benda antik yang didalamnya ada benda putih aneh itu, karena tidak tahu itu apa, aku mengukirnya sebuah tulisan di benda itu.

Aku meliat ukiran tulisan itu lagi, dan tulisan itu membuatku sedih, rasa kesedihan membuatku tidak kuat menahan tangisku.

"Anu, Galeth, ada apa? kau menangis" suara Hayate mendatangiku dari belakang, aku terkejut. Aku takut bahwa pesta ini berantakan.

"A-aa, Oneesama, sepertinya aku jadi tidak jelas ya, hahaha" aku masih membelakanginya dan berusaha mengusap mataku.

"Ada apa? Apakah acara ini tidak menyenangkan?" Dan kata kunci dari topik permasalahan dibuka oleh Hayate.

"Maaf tidak apa-apa kok, aku sepertinya menjadi cengeng sejak tadi, hehehe..." Aku berusaha tersenyum.

"Kau tidak perlu menahan rasa tangismu, menangislah, aku tahu bahwa kau memiliki masalah yang begitu besar, sejak aku berpisah dengan Reinforce, aku juga menangis dan saat itu hanya ada Nanoha dan Fate, mereka memelukku. Jadi, menangislah, karena kita mampu..."

Kata-kata itu, membuatku tidak kuat dengan menahan kesedihan ini lebih lama lagi. Perpisahan memang menyedihkan, tetapi ada waktunya kita harus berpisah, dan sekaranglah waktunya.

"Kalau begitu bisa ceritakan kepadaku, apa yang membuatmu bersedih. Apakah karena acara ini tidak bagus, atau kau merasa ada hal yang tidak enakkan di hatimu?" Hayate masih belum mengetahui arti dari air mata yang keluar ini. Tetapi aku tidak bisa lebih lama lagi, karena Signum sudah mau tiba di teras.

"Onee-sama, apakah pemandangan ini sungguh indah?" Aku menanyakan pemandangan ini.

"Indah? tentu saja Indah! mengapa kau bertanya demikian?" dan itu adalah jawaban dari perasaan orang biasa, bahkan orang kalangan manapun akan takjub dengan keindahan sore ini. Tetapi aku…

"Karena, aku tidak menyukai pemandangan ini!" aku sudah lelah dengan pemandangan yang menyatakan perpisahan.

"Ya, pemandangan matahari tenggelam. Membuatku mengerti bahwa dunia akan mulai yang disebut kegelapan. Oleh karena itu..." aku segera mengaktifkan barrier pressure, membuat dimensi tekanan. Saat dalam barrier ini, kehidupan lebih cepat 1000 kali lebih cepat dibandingkan dengan barrier yang dibuat Luna. Aku berharap tidak ada yang bisa mengganggu kematianku.

Aku langsung mengaktifkan deviceku, dan Signum yang berada dalam jarak barrier bisa bergerak bebas dan mengaktifkan Laevatein.

"Bagaimana? mati dengan tanganku atau mati dengan tanganmu?" Signum menodong Laevatein. Aku lupa bahwa memang dia langsung ke intinya. Tidak tahu bahwa didekat situ ada Hayate.

"Tentu saja, aku juga tidak bisa membiarkan tanganmu kotor lagi, maka..." aku mengangkat Sunblaze yang tercemar kegelapan untuk melakukan bunuh diri.

"Sebelum aku mengakhiri ini, aku bertanya lagi, apakah kau akan siap akan sumpahmu juga, Signum."

Signum awalnya diam, tetapi Signum langsung menjawab dengan mengangkat pedangnya.

"Aku tidak akan melanggar sumpahku, akan kulindungi dirinya, bahkan jika harus mengakhiri hidupku untuk dirinya."

Air mata keluar dan mengalir kepipinya. Sang Ksatria yang selalu melakukan demi apa yang dia percayai, bahkan jika itu harus menjadi musuh dari semua hal.

Aku merasa tenang, aku memang tidak bisa mengucapkan kata perpisahan dengan baik, tetapi aku sudah tenang. Suara ilusi anak perempuan dan diriku tidak terdengar lagi dari hatiku, seolah menandakan bahwa semua yang kulakukan sudah benar dan sudah selesai.

Tetapi, rencana ini tidak sesuai rencana, ada hal tiba-tiba yang merusak rencana ini. Seorang Gadis dari luar Barrier memasuki barrier dengan kecepatan yang luar biasa, saat memasukinya, dia langsung menangkis pedangku.

"Apa yang kau lakukan, KISAMA!" Signum langsung bertindak.

"Cih, tak kusangka kau akan bunuh diri. Master akan membunuhku kalau begini terus." Luna menggerutu dan membuka lubang dimensi. Aku dibawa oleh dirinya masuk kedalam lubang dimensi itu. Disaat itu, aku mulai tidak sadar diri. Kondisi psikisku menurun.

Aku merasa bahwa malam ini adalah malam perpisahan yang mungkin akan menjadi awal perseteruanku dengan Hayate.