Playboy's Tale

JAEYONG AREA

WITH

JOHNTEN. MARKHYUCK.

WARN

Boys Love, lil bit dirty talk, Out Of Character, typo(s) everywhere, bahasa non baku.

.

.

.

"Eunghh.. ahh ahh Jayhh.."

"Ohh yes bitch, desahkan namaku terus... Hhh fuck kau begitu sempit dan nikmat."

"Anghhh Jay hisap terus nghh yahh seperti itu mmhh.."

"I'm close shh bersiaplah—"

CKLEK

"Wow dude."

"Sial kalian—biarkan aku menuntaskan ini terlebih dulu."

"Oke kami akan menunggu diluar. Jangan lama-lama, jerk."

BLAM

Pintu tertutup dari luar dan tak lama Jay menumpahkan benihnya di dalam rahim wanita yang sedang berada di pangkuannya. Setelah selesai, lelaki itu segera mencabut miliknya dari lubang hangat wanita itu. Segera ia kembali memakai celananya dan merapikan pakaiannya. Saat ia hendak bangun dari duduknya, ia mengernyit melihat wanita itu masih belum memakai celana dalamnya dan malah menatapnya dengan cemberut.

"Pulanglah." Kata Jaehyun singkat. Wajah wanita itu semakin cemberut dan ia terlalu malas untuk meladeninya.

"Aku bilang pulang!" Ulang Jaehyun dengan sedikit membentak.

"Tapi aku masih merindukanmu, Jay." Ucap wanita itu dengan nada manjanya.

Jaehyun memutar kedua bola matanya malas, "terserah." Ia mendorong kasar tubuh wanita itu kemudian ia berdiri dari duduknya dan mulai melangkahkan kakinya, namun tanganya ditahan oleh wanita itu.

"Demi Tuhan Herin! Aku masih banyak urusan. Sekarang kau yang keluar atau aku panggilkan satpam?!"

Dengan wajah bersungut-sungut Herin segera membereskan pakaiannya dan buru-buru keluar dari ruangan Jaehyun. Setelah wanita itu keluar dua lelaki tadi masuk dengan memasang wajah malasnya.

"Dasar bajingan. Tak bisakah kau menahan hormon gilamu itu? Aku bosan selalu memergokimu yang selalu bercinta didalam ruangan." Johnny berucap dengan nada datarnya sambil duduk dihadapan Jaehyun diikuti Mark.

"Benar, dan aku selalu kalah start denganmu, Jay."

"Sial, jangan memanggilku seperti itu, brengsek."

Mark, orang yang tadi memanggil Jaehyun dengan sebutan Jay hanya tertawa. "Bukankah seperti itu para pelacurmu mendesahkan namamu?"

Yang ditanya hanya diam sambil menatap tajam kearah Mark. Jung Jaehyun, siapa yang tidak kenal dengan CEO Jung Coorporation? Seorang CEO termuda, tertampan dan tersexy seantero Korea! Jung Cooorporation adalah sebuah perusahaan agency dibidang musik dan modeling yang saat ini nilai sahamnya paling tinggi dibanding perusahaan agency lainnya. Jaehyun itu anak tunggal, kekayaannya sudah tidak diragukan lagi. Jadi, siapa yang tidak mau menjadi pendamping hidup Jung Jaehyun? Hanya orang bodoh yang menolak pesonanya. Bahkan Jaehyun pun tau semua orang rela melemparkan tubuhnya secara cuma-cuma demi mendapatkan perhatiannya.

Satu alasan kenapa dirinya tidak suka dipanggil Jay oleh sahabat atau orang-orang terdekatnya itu karena nama Jay hanya untuk para orang-orang asing yang singgah sementara di hidupnya, ya contohnya seperti mantan-mantan kekasihnya dan para pelacurnya itu. dan ia tidak suka jika sahabatnya memanggilnya Jay karena menurutnya nama itu sudah kotor. Jika ia sudah meminta seseorang untuk memanggilnya dengan 'Jaehyun' berarti orang itu sudah menjadi salah satu orang yang penting di hidupnya.

"Sudahlah hentikan tingkah laku kalian." Johnny mendengus. "Kami kesini untuk memberi taumu sesuatu."

"Apa itu?"

TOK TOK

Suara ketukan pintu terdengar, setelah mendengar perintah pintu terbuka menampilkan sosok lelaki setengah baya namun masih cukup gagah untuk ukuran usianya. Lelaki itu menutup pintu dan membungkukkan sedikit tubuhnya.

"Ada apa sekretaris Park?"

"Maaf mengganggu waktu anda, Tuan. Saya hanya ingin memberikan CV dari calon supervisor kita yang baru." Sekretaris Park menyerahkan map kepada Jaehyun. "Saya juga sudah menginterviewnya. Dilihat dari pengalaman kerjanya, dia berpotensi untuk mengurus keuangan para karyawan. Tetapi semua keputusan ada ditangan Tuan.

Jaehyun hanya mengangguk dan menaruh map itu dimejanya. "Aku akan memeriksanya nanti. Sekarang kau bisa kembali." Sekretaris Park mengangguk dan membungkukkan tubuhnya lagi, setelahnya lelaki itu keluar dari ruangan Jaehyun.

"Jadi ada apa, John?"

"Lusa aku akan mengadakan pesta untuk memperingati tahun ketigaku menjadi model. Ini bukan pesta biasa, kau tau itu." Johnny menaik-turunkan alisnya dan Jaehyun tidak bodoh untuk mengetahui apa maksud Johnny.

"Call. Aku tidak akan melewatkan para wanita sexy dan lelaki manis." Jaehyun menyeringai dan menjilat bibir bawahnya.

"Oh serius, you guys are really so disgusting." Mark menampilkan wajah 'wtf' nya. Dan Johnny hanya mendengus. "Berkacalah. Kau pasti akan menikmatinya juga." Ujar Johnny sinis. "Oke aku akan kembali bekerja." Johnny berdiri dari duduknya diikuti Mark.

Jaehyun hanya diam saja ditempat duduknya sambil menatap kedua sahabatnya itu. "Aku juga akan kembali latihan." Mark menyaut. "Jangan lupa lusa, persiapkan tenagamu." Sambungnya. Setelah mengatakan itu keduanya segera meninggalkan ruangan Jaehyun.

.

.

.

Playboy's Tale

"Itu apa?"

Sebuah suara mengagetkan Ten. Lelaki manis itu menoleh dan mendapatkan sahabat cantiknya sedang duduk tepat berada dibelakangnya sambil mengintip kearah undangan yang sedang ia pegang.

"Kau mengagetkanku, hyung."

Taeyong, sahabatnya hanya menggedikkan bahunya acuh, "itu apa?" ulangnya.

"Ini undangan. Apa kau tidak bisa melihatnya?" Ucap Ten dengan nada sarkas. Taeyong cemberut, "astaga aku tau kalau itu undangan bodoh. Maksudku itu undangan apa?"

"Entahlah, aku mendapatkan ini dari dewan direksi." Gumam Ten sambil menatap undangannya. "Ah hyung! Kau harus menemaniku kesana ya ya ya? Pleaseee?" lelaki manis itu menangkupkan tangannnya didepan dada dan menunjukkan puppy eyes andalannya sehingga membuat Taeyong tidak bisa menolak dan menghela napasnya pasrah.

"Yeay! Hyung yang terbaik! Kalau begitu kita besok harus mencari baju!"

"Apa? Besok? Ahh tapi aku baru saja interview kemarin dan belum tentu perusahaan itu mau menerimaku. Kau taukan itu perusahaan besar." Taeyong mengeluh. Ia benar-benar pesimis saat ini karena belum mendapatkan konfirmasi sampai sekarang.

"Hey kenapa bilang seperti itu? Aku yakin hyung pasti diterima karena sudah jelas hyung itu pintar dan berkualitas. Aku saja yang kalah pintar darimu bisa masuk perusahaan itu, kenapa hyung tidak?" Ten mengelus lengan Taeyong guna menenangkan sahabatnya itu, "sudahlah yang penting kita harus bersenang-senang dulu di pesta ini." Ten mengangkat undangan ditangannya sambil mengibas-ngibaskan didepan wajah Taeyong.

Akhirnya Taeyong menyetujui ajakan sahabatnya. Setelahnya mereka bergegas untuk tidur karena jam sudah menunjukan pukul sebelas malam.

..

Seorang Seo Youngho tidak pernah menggelar pesta sederhana. Tamu-tamu yang diundangpun bukan sembarang orang. Terlihat dari penampilan para tamu yang sangat elegant dan pastilah mereka bukan dari kalangan biasa. Hanya ada beberapa CEO yang datang karena ia memang memang hanya model jadi kebanyakan tamunya pun adalah rekan-rekan kerjanya.

Ten adalah Direktur Manager, jadi tak heran jika lelaki manis nan mungil itu turut diundang di pesta Johnny. Walaupun sebenarnya ia tidak mengenal sang pemilik pesta secara pribadi, tapi ia memiliki jabatan yang penting dikantor maka dari itu ia mendapat undangan untuk ke pesta ini.

Ten dan Taeyong turun dari mobil, lalu Ten menyerahkan kunci mobilnya kepada salah seorang penjaga disana dan ia berjalan masuk dengan Taeyong disampingnya. Ternyata pestanya sudah dimulai, dan saat ini si pemilik pesta tengah berdiri diatas panggung untuk membuka acara.

Pintu besar itu terbuka, menampilkan sosok Ten dan Taeyong yang saat itu juga menjadi pusat perhatian. Para tamu yang tadinya sedang menatap kedepan, kini mereka semua menolehkan kepalanya ke belakang, kearah pintu masuk. Bukan hanya para tamu, Johnny yang sedang berada di panggungngpun menghentikan pembicaraanya dan ikut menatap kearah dua lelaki manis yang masih setia berdiri di pintu masuk.

Johnny menatap kearah salah satu dari dua lelaki manis tersebut, lebih tepatnya kearah lelaki mungil yang mengenakan setelan jas baby blue dengan piercing yang berderet ditelinganya. Menambah kesan manis membuat Johnny mengkhayal membayangkan bagaimana jika lidahnya bermain diantara piercing-piercing itu lalu—stop it, stupid! Johnny berdeham sebentar sebelum kembali membuka suaranya.

"And well, sepertinya aku kedatangan tamu special kali ini." Setelah mengatakan itu Johnny turun dari panggung dan jalan kearah tempat Ten dan Taeyong berdiri. Sesampainya dihadapan Ten, Johnny tersenyum amat tampan lalu menggenggam tangan halus Ten, "welcome to my house, pretty." Setelahnya ia mengecup punggung tangan Ten. Membuat para wanita yang mengharapkannya memekik tertahan. Johnny menarik tangan Ten dengan lembut dan berjalan meninggalkan Taeyong yang menatap kepergian keduanya dengan jengkel.

Oh goddamn it!

Umpat Taeyong dalam hati. Bagus sekali dirinya tidak kenal siapa-siapa disini dan sekarang Ten berani-beraninya meninggalkannya sendirian disini! Hal sial apa lagi yang akan menimpanya nanti? Saat ini ia tengah berkeliaran disalam pesta mencari keberadaan Ten, ponsel lelaki manis itu pun tidak aktif. Ingatkan Taeyong untuk memaki Ten setelah mereka bertemu nanti. Yang benar saja ia benar-benar tidak tau harus kemana dirumah mewah ini. Rasanya ia ingin menangis saat ini juga tapi ia masih waras untuk melakukan hal itu. Chittaphon brengsek!

Taeyong terus mendumal, ia masih tetap berkeliling mencari Ten sambil membawa gelas berisikan red wine yang tadi diambilnya, kepalanya sibuk ia tolehkan kekana dan kekiri sampai—

BRUK

Ia menabrak seseorang dan menumpahkan minumannya di kemeja mahal seorang lelaki yang kini berdiri tepat didepannya dengan pandangan yang sulit diartikan. Oh good, Taeyong. You made a big mistake! Jerit Taeyong dalam hati.

..

Jaehyun saat ini tengah berjalan terburu-buru menghindari para mantan kekasihnya yang sedang mengejarnya. Ternyata si bajingan itu mengundang banyak mantannya disini dan sekarang ia yang menjadi bulan-bulanan para mantannya yang matre itu. Terimakasih untuk Johnny.

Lelaki tampan itu sedang sibuk berjalan cepat sambil sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan dirinya masih dikejar oleh para siluman yang merangkap dalam wujud manusia itu atau tidak, namun tiba-tiba ia merasakan tubuhnya menabrak seseorang dan bagian depan bajunya basah. Oh great! Baju ini benar-benar baru sampai ketangannya setelah ia memesannya dari Perancis, dan sekarang juga seseorang menumpahkan minuman minuman tepat dibajunya. Ketika ia menolehkan kepalanya an bersiap untuk memakinya namun saat melihat wajah orang dihadapannya, dirinya hanya terpaku tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

Oh Tuhan, ternyata di dunia ini masih ada manusia boneka! Sangat cantik dan benar-benar tidak nyata. Tidak tidak, kata cantik saja tidak cukup untuknya. Ia begitu—indah? Ah kata indah juga masih kurang. Sempurna? Mm-hm mungkin kata itu cocok untuk manusia manekin sepertinya. Batin Jaehyun.

Lelaki itu tanpa sadar menatap Taeyong dari bawah sampai keatas dengan pandangan yang sulit diartikan. Lihatlah kaki kecilnya, yang membuat para wanita diluaran sana akan merasa iri jika melihatnya dengan detail. Pinggang rampingnya, jari lentiknya, dan oh! Wajahnya yang mulus seperti bayi. Bibir cherry itu terlalu menggoda untuk dikecup. Damn! Hanya melihatnya saja membuat seorang Jung Jaehyun panas tanpa belum menyentuhnya. Lelaki cantik dengan rambut baby pink itu mengenakan tuxedo putih, berlawanan dengannya yang mengenakan tuxedo berwarna hitam. Bukankah mereka sudah serasi, eh?

"Ey—hey! Apa kau mendengarku?"

Suara merdu itu menyadarkan Jaehyun dari fantasi liarnya, ia kembali menatap lelaki cantik itu yang saat ini menatapnya dengan risih.

"A-ah ya aku mendengarmu." Fuck! Sejak kapan seorang Jung Jaehyun gugup dihadapan lelaki? Ayolah Jung Jaehyun itu playboy kelas kakap, ingat? Ini bukan gayanya sama sekali.

Terdengar helaan napas dari lelaki cantik itu, "Aku tau kau tidak mendengarkanku. Baiklah aku ulangi, aku minta maaf aku tidak sengaja menumpahkan minuman ini di kemejamu. Berikan aku tagihan laundry nya dan aku akan membayarnya sebagai gantinya."

Jaehyun terkekeh, "tidak perlu. Toh kemeja ini akan berada ditempat sampah nantinya."

Taeyong mengernyitkan keningnya bingung, "Maaf aku tidak mengerti."

"Tidak usah dimengerti." Jaehyun berjalan mendekati Taeyong, "bagaimana sebagai gantinya.." ia berbisik tepat di telinga Taeyong. "Kau mengangkang dibawahku hmm, manis?" lelaki itu mengecup leher Taeyong sekilas, setelahnya ia menjauhkan wajahnya dan kembali menatap Taeyong, menunggu jawaban dari lelaki dihadapannya ini.

Wajah Taeyong memerah. Bukan karena malu ataupun tersipu, ia terlalu marah. Sialan, siapa lelaki yang berana melecehkannya? Dikira dirinya ini pelacur? Oh maaf saja ya tapi Taeyong ini bukan lelaki murahan seperti itu. lalu dengan penuh emosi ia menampar pipi kiri lelaki itu dengan kuat.

PLAK

"Jaga ucapanmu brengsek!" Taeyong berkata pelan namun terselip emosi didalamnya. Matanya berkilat penuh kebencian. "Maaf tapi aku bukan pelacur. Silahkan cari—"

"Jay! Ah sayang akhirnya aku menemukanmu." Seorang wanita datang dan memotong ucapan aeyong. Terlihat wanita itu langsung menggelendot dilengan lelaki yang dipangil Jay itu dengan manja.

"Oh! Kau sedang bersama seseorang rupanya? Siapa dia? Apa dia mantan kekasihmu yang lain?" Taeyong berdecih saat mendengar suara wanita tersebut yang sok dibuat-buat. 'Dia sudah punya kekasih dan berani-beraninya dia menyuruhku mengangkang dibawahnya? Terlalu bejat. Semoga aku tidak menemukan lelaki sepertinya lagi.' Batin Taeyong. Sial dua kali dia malam ini.

Taeyong memutar tubuhnya dan bersiap untuk pergi, namun saat ia hendak melangkah tangannya ditahan oleh lelaki tadi. Ia melirknyasekilas dan langsung menghempaskan tangan lelaki itu dengan kasar.

"Hey beritau aku siapa namamu!"

Taeyong masih bisa mendengar teriakan itu tapi dia mengabaikannya. Ia sudah cukup muak untuk kembali melihat wajah brengsek itu. dengan langkah lebar ia berjalan menuju toilet untuk menenangkan amarahnya.

.

.

.

Playboy's Tale

Ten benar-benar shock sekaligus bingung, maka dari itu ia hanya diam saja ketika lelaki pemilik pesta itu mencium punggung tangannyadan menariknya ke lantai dua, lebih tepatnya sekarang ini mereka berdua sedang berada di kamar Seo Youngho. Seorang model dengan popularitas yang sangat tinggi di perusahaan tempat ia bekerja. ia tau siapa itu Johnny, hanya sebatas tau karena lelaki tinggi itu sangat terkenal. Yang ia tak habis pikir, untuk apa dirinya dibawa ke kamar 'pribadi' lelaki itu padahal sebelumnya mereka benar-benar tidak pernah bertatap muka satu kalipun!

"Maaf sebelumnya, Johnny-ssi, kenapa kau membawaku kesini? Ke kamarmu?" tanya Ten dengan was-was. Saat ini ia sedang duduk di salah satu sofa panjang super mewah milik Johnny, dan lelaki itu duduk tepat disampingnya tanpa jarak sedikitpun.

Lelaki tinggi itu membelai pipi Ten, "Astaga apa kau seorang dewi? Bagaimana ada seseorang sempurna seperti dirimu?"

Bukannya menjawab, Johnny malah bertanya dengan pertanyaan yang konyol. Hell, Ten ini lelaki tulen, walaupun wajahnya manis sih. Tapi kan tetap saja, masa dirinya dibilang dewi?! Apa-apaan dengan itu?!

Lelaki manis itu menyentak tangan Johnny yang masih setia membelai pipinya. "Kau sedang mencoba merayuku, huh? Maaf saja tapi aku bukan lelaki rendahan seperti yang kau cari."

"Kenapa kau berkata seperti itu? aku hanya ingin mengenalmu lebih jauh, itu saja."

Ten memicingkan matanya, "oh ya? Tapi perlakuanmu berbaning terbalik dengan perkataanmu barusan."

Johnny menghela napasnya, sentuhannya barusan ditolak mentah-mentah oleh lelaki mungil itu. "Baiklah maafkan aku." ia menggeser posisi duduknya dan memberikan sedikit jarak, "sudah kan?"

Ten hanya mengangkat bahunya acuh. Kemudian pandangannya mengedar menelusuri kamar Johnny. Dan ia baru menyadari bahwa kamar Johnny amat sangat besar dan mewah. Tanpa sadar ia membisikkan kata 'wah' yang masih bisa didengar oleh sang pemilik kamar. Lelaki itu terkekeh melihat ekspresi lucu dari lelaki manis disampingnya.

"Apakah kamarku sehebat itu?"

Menyadari itu, Ten cepat-cepat mengubah ekspresinya dan menatap Johnny datar. "Tidak."

"Hey kau galak sekali."

"Lalu kau ingin aku seperti apa?"

Johnny menghela napasnya lagi. Entahlah, biasanya jika melihat ada target baru ia akan langsung mengajak mereka bercinta. Tetapi dengan lelaki manis nan imut disampingnya ini rasanya Johnny hanya ingin menatapi wajah lucu itu.

"Oke sekarang kau mau apa?"

"aku ingin kembali ke bawah. Sahabatku itu pasi sedang mencariku saat ini." Ten beranjak dari duduknya. Lalu Johnny segera menghadang jalannya, ia berdiri tepat dihadahap Ten. "Setidaknya beri tau namamu dulu."

"Untuk apa?"

"Hanya biar kita impas. Kau sudah mengetahui namaku namaku tapi aku tidak mengetahui namamu."

Sambil berdecak malas, ia mendongakkan kepalanya agar bisa menatap Johnny yang super tinggi, "Ten. Namaku Ten. Sudah puaskan? Sekarang minggir dan biarkan aku lewat."

"Wow kau benar-benar." Gumam Johnny. "Ayo kita keluar bersama sekalian aku juga akan turun kebawah untuk menyambut tamu-tamuku."

Ten mengabaikan perkataan Johnny. Ia harus cepat-cepat bertemu dengan Taeyong, pasti dia sedang uring-uringan mencarinya. Ia baru ingat kalau ponselnya lowbat. Dengan cepat ia menuruni tangga tanpa menunggu Johnny yang berada dibelakangnya.

Tanpa pikir panjang ia berjalan menuju toilet, selain untuk menghindari Johnny ia juga ingin melihat penampilannya. Apa ada yang salah dengan penampilannya sehingga Johnny yang notabenenya adalah model terkenal itu iba-tiba menyeretnya tanpa alasan?

Baru saja ia memasuki toilet, ia sudah disambut oleh suara yang amat sangat dikenalnya. Itu Taeyong, sedang berdiri didepan cermin dan menatap tajam kearahnya.

..

Sesampainya ditoilet Taeyong berdiri didepan cermin. Ia menatap pantulan dirinya. Apa yang salah dengan dirinya? Apa wajahnya terlihat seperti pelacur? Kemudian ia menggelengkan kepalanya. Ia hanya memakai sedikit make up dan lipbalm, lantas kenapa lelaki tadi—ah sudahlah toh dirinya tidak akan bertemu lagi dengannya.

Saat dirinya sedang asik menatapi wajahnya di cermin, terdengar suara langkah mendekat memasuki toilet. Ia menatap pintu masuk dengan pandangan berharap dan tak lama munculah seseorang yang sejak tadi membuatnya pusing.

"Ten!"

Taeyong memekik membuat yang dipanggil terlonjak sedikit, kemudian lelaki cantik itu memberinya tatapan mautnya yang hanya dibalas cengiran oleh lelaki manis lainnya.

"Kemana saja kau?! Tak taukah jika aku—ah astaga, Ten aku ingin pulang sekarang."

"Kau terkena masalah."

"Dua kali. Ini pesta yang benar-benar buruk. Aku ingin pulang Ten, aku mohon."

Ten mengangguk setuju. "Oke, kita pulang. Aku juga malas berada disini."

.

.

.

Playboy's Tale

Jaehyun sedang duduk diruang kerjanya sambil mengusap pipinya, lebih tepatnya pipi kirinya yang semalam baru saja mendapat tamparan dari lelaki cantik. Mengingat itu membuat dirinya terkekeh sendiri. Astaga, lelaki itu belum tau siapa dirinya? Jaehyun akan membuat lelaki cantik itu menyesal karena sudah menolak tawarannya.

"Oh please you idiot! Berhenti tertawa seperti psikopat!"

"Hey Mark, apa kau pernah ditolak saat kau hendak mengajaknya untuk sex? Bahkan kau ditampar oleh orang itu?"

Yang ditanya memasang ekspresi bingungnya, "apa maksud—ah? Jangan bilang kau baru saja diperlakukan seperti itu oleh seseorang?"

"Yep."

"Wow itu hebat, kawan. Aku tidak menyangka."

Mereka berdua tertawa. Johnny sedang menjalani pemotretan dan Mark sedang istirahat dari latihannya. "Omong-omong, saat dipesta kau kemana? Aku tidak melihatmu lagi setelah aku berhasil melarikan diri dari para wanita itu."

Mark menyeringai, "ya kau taulah. Aku bersenang-senang." Dan Jaehyun hanya memutar kedua bola matanya malas. Kemudian tatapannya beralih pada map yang sejak kemarin belum ia periksa. Lelaki itu mengambilnya dan mulai membaca CV itu.

"Lee Taeyong? Sepertinya aku tidak asing dengan wajahnya—ah!"

Jaehyun berteriak cukup keras, membuat Mark yang sedang memainkan ponselnya terlonjak kaget, "ada apa, bodoh?!"

"Ini! Mark, ini orang yang barusan aku ceritakan!" ucap Jaehyun terlalu semangat seolah ia baru saja menemukan harta karun. Mark mengambil berkas yang berada ditangan Jaehyun dan memperhatikan foo Taeyong yang erada di CV tersebut, kemudian ia hanya menganggukan kepalanya.

"Wajahnya tidak buruk, as expected. Kau bisa menerimanya langsung." Kata Mark sembari mengebalikan berkasnya. Ia bisa melihat seringai setan Jaehyun. "Kau punya rencana?"

"Tentu." Jaehyun mengambil telpon dan mendial nomor sekretaris Park. "Hubungi Lee Taeyong. bilang jika dia diterima diperusahaan ini dan ia bisa bekerja mulai besok. Lalu besok kau tuntunlah dia untuk memahami seluk belluk kantor ini. Ah ya kau tak perlu menyuruhnya untuk menghadap keruanganku, biar aku saja besok yang langsung menemuinya." Setelah mengatakan itu, Jaehyun tersenyum lebar.

"lets play, baby."

Lee Taeyong (25): lulusan universitas Seoul, di jurusan psikologi. Ia baru saja resign dari tempatnya bekerja karena sebuah alasan. Dan sekarang ia melamar di perusahaan yang sama dengan sahabatnya, Ten.

Chittapon Leechaiyapornkul (24): Direktur Manager di Jung Coorporation. Tinggal disebuahapartemen yang lumayan mewah bersama sahabat dari kecilnya, Lee Taeyong.

Lee Donghyuck / Lee Haechan (22): penyanyi soloist yang baru saja debut di Jung Coorporation. Ia berteman baik dengan Ten karena mereka sering bertemu saat Haechan masih menjadi trainee.

.

.

.

TBC

Sooo how? Banyak yg minta lanjut ya jd aku lanjut. Btw momen markhyuck di chap depan ya. Jangan ngarepin momen manis mereka semua dulu, karena sebuah hubungan butuh proses(?)

Thanks buat yg udah review, fav dan follow ff abalku ini. Dan special thanks to hanna dan febrina yg setia memberi semangat untukku. Hahaha, thanks to grup chat #jaeyongantikaram too yg selalu memberi asupan jaeyong! Love y'all! /emot lope/

Segitu aja, untuk chap selanjutnya review ya, sorry for typo ini no edit.