Playboy's Tale

JAEYONG AREA

WITH

JOHNTEN. MARKHYUCK.

WARN

Boys Love, lil bit dirty talk, Out Of Character, typo(s) everywhere, bahasa non baku.

.

.

.

Sampai saat ini Taeyong masih tidak percaya jika dirinya diterima diperusahaan yang diidam-idamkan oleh semua orang. Padahal ia tidak terlalu berharap juga bisa bekerja di perusahaan itu, yah atau mungkin takdir sedang berbaik hati kepada nasipnya. Dan sekarang lelaki manis bersurai pink itu tengah menatap gedung yang menjulang tinggi didepannya dengan perasaan gugup. Sambil memantapkan hatinya, ia mulai melangkah masuk ke dalam.

"Permisi? Saya kemari atas nama Park Hyungsik."Taeyong bertanya kepada salah satu resepsionis saat ia sudah berada didalam. Ia bisa melihat resepsionis itu mengangguk sebentar lalu menelpon seseorang.

"Anda bisa langsung ke ruangan beliau. Mari saya antar."

Taeyong mengangguk dan mengikuti resepsionis itu. Mereka sampai di lantai 6 dan Park Hyungsik memiliki ruangan sendiri yang cukup besar. Taeyong bisa menebak jika Park Hyungsik ini adalah orang yang cukup penting di Jung Coorporation. Setelah mengetuk pintu dan mendapat jawaban dari dalam, Taeyong segera dipersilahkan masuk oleh resepsionis tadi.

"Saya mengantarkan Lee Taeyong."

Hyungsik mengangguk, "ya terimakasih. Anda bisa kembali." Sang resepsionis itu segera pamit dan Taeyong mengucapkan terimakasih kepadanya sebelum dia pergi.

"Silahkan duduk, Lee Taeyong-ssi."

Taeyong mengangguk dan tersenyum. Kemudian ia duduk tepat dihadapan lelaki paruh baya yang masih terlihat gagah itu.

"Selamat Lee Taeyong-ssi. Mulai hari ini kau resmi menjadi bagian dari Jung Corp. Untuk peraturan dan ketentuan perusahaan ini, saya sudah menaruh dokumennya di dalam ruangan anda."

Lelaki manis itu mengangguk, "terimakasih, Park Hyungsik-ssi. Saya benjanji akan menjadi karyawan paling teladan di kantor ini!"

Hyungsik terkekeh, "berterimakasihlah pada CEO kami. Karena beliau lah yang memilih anda secara langsung."

"Ahh benar, aku harus bertemu beliau. Apa kau bisa mengantarkan aku—"

"Tidak!" Hyungsik memotong perkataan Taeyong dan mengagetkan lelaki itu, "maksud saya, nanti jika ada waktunya anda bisa bertemu dengannya. Untuk saat ini jadwal Tuan Jung masih sangat padat."

Taeyong mengangguk mengerti, "begitu rupanya. Jadi, apa hari ini saya sudah akan mulai bekerja?"

"Ya. Dan panggil saya sekretaris Park seperti karyawan lainnya." Hyungsik berdiri dari duduknya, diikuti oleh Taeyong, "mari saya antar ke ruanganmu."

Mereka berdua berjalan menuju ruangan Taeyong sambil sesekali berbincang sedikit. Ternyata letak ruangan untuk Taeyong berada di lantai 8 sedangkan ruangan Hyungsik berada dilantai 6. Saat sampai diruangannya, Taeyong menampilkan raut shocknya. Karena—demiapa?! Ia adalah karyawan baru disini yang jabatannya hanya seorang supervisor. Tapi kenapa ia memiliki ruangan pribadi yang sukup... mewah? Atau bahkan memang terlalu mewah untuk ukuran jabatan seperti dirinya.

"Maaf? Apa kita tidak salah ruangan?" Taeyong bertanya ragu, ia masih tidak percaya kalau ruangan ini adalah miliknya.

"Ini benar ruangan Lee Taeyong-ssi. Tuan Jung sendiri yang menempatkan ruangan anda disini."

Taeyong membuka mulutnya kecil. 'Hah? Tuan Jung berarti pemilik perusahaan ini kan? Apa benar? Tapi—masa sih? Atau Tuan Jung kenal dekat dengan Ten, maka dari itu aku yang sahabatnya bisa mendapatkan ruangan mewah seperti ini? Jabatan Ten kan lumayan tinggi disini, berarti tidak menutup kemungkinan jika ia dekat dengan Tuan Jung.' Monolog Taeyong. ia masih tidak mengerti dengan semua ini. Jika bisa, ia ingin secepatnya bertemu dengan pemilik Jung Corp ini.

"Baiklah, saya akan kembali ke ruangan saya. Jika anda membutuhkan bantuan anda bisa mendial nomor 007 untuk menlpon saya."

"Ya, sekali lagi terimakasih sekretaris Park." Taeyong membungkukkan tubuhnya. Setelah itu Hyungsik keluar dari ruangannya.

Setelah Hyungsik meninggalkannya sendiri, Taeyong berjalan mendekati mejanya dan melihat-lihat ruangannya. Bahkan ada kamar mandi di dalam ruangan ini. Hell, terlalu hebat sampai-sampai Taeyong pusing memikirkannya! Ia duduk dikursi miliknya, sangat empuk dan nyaman. Matanya terpejam merasakan betapa enaknya duduk di kursi ini. Namun tiba-tiba ia mendengar suara pintu ruanganya dibanting cukup keras.

Saat membuka matanya dan bersiap untuk mengeluarkan sumpah serapahnya, langsung saja mata Taeyong membulat dan cepat-cepat berdiri dari duduknya sambil menunjuk sang pelaku yang membuka pintu ruanganya dengan kasar.

"KAU?!"

"Wow, santai manis." Orang itu terkekeh. "Kita bertemu lagi. Apa ini yang dinamakan takdir?"

"Fuck." Taeyong mengumpat. "Kenapa kau bisa ada disini? Apa kau bekerja disini jug—oh sial! Jadi, aku akan satu kantor denganmu?!"

"Hey kau ini galak sekali." Jaehyun, lelaki tadi berjalan mendekati Taeyong. Dan tentu saja lelaki manis itu ikut berjalan-mundur- menghindari Jaehyun. Namun apalah daya, punggungnya malah menabrak tembok dan bisa ia lihat lelaki yang sialnya sangat tampan itu menyeringai.

"Bagaimana?" Tanya Jaehyun dengan suara rendah yang sialnya –so damn hot- "apa kau berubah pikiran tentang tawaranku malam itu?" Jaehyun mendekatkan wajahnya pada leher Taeyong, mengendus aroma manis dari tubuh lelaki yang menurutnya sangat cantik itu.

"Menyingkir." Taeyong mencoba mendorong tubuh besar Jaehyun walaupun ia tau itu tidak akan berefek apapun.

"Aku hanya penasaran dan ingin merasakanmu, itu saja. Setelah itu aku tidak akan mengganggumu lagi." Lelaki tampan berlesung pipi itu menatap Taeyong penuh harap. Wajah mereka saat ini benar-benar tanpa jarak. Taeyong hanya bisa menahan napasnya kala mencium aroma mint yang menguar dari tubuh milik Jaehyun.

"Berapa kali aku harus bilang kalau aku bukan lelaki murahan?! Ku rasa kau memiliki banyak pelacur jadi berhenti menemuiku dan meminta hal yang aneh-aneh!" Taeyong berhasil mendorong tubuh besar lelaki yang berada didepannya itu disaat lelaki itu sedikit lengah. "Sekarang keluar dari ruanganku atau aku akan mengadukanmu kepada—"

"Kepada siapa?" Jaehyun memotong ucapan Taeyong. "Hey dengar, disini tak ada satu orangpun yang berani denganku."

Taeyong mengernyitkan dahinya, "huh?" Jaehyun ersenyum tipis melihat wajah bingung milik Taeyong. "Baiklah, nanti makan siang akan aku jemput. Dan jangan coba-coba untuk kabur." Setelah mengatakan itu Jaehyun mencuri satu kecupan dibibir cherry Taeyong.

Taeyong terdiam sebentar, sebelum menyadari jika ada sesuatu yang lembab menyentuh bibirnya. Ia membelalak kaget, ia ingin menampar lelaki itu namun sudah terlambat, karena saat ini lelaki itu sudah berlari dan keluar dari ruangannya. Tanpa sadar pipinya terasa panas.

"YAH!"

..

Waktunya jam makan siang. Tadi Taeyong sudah berjanji akan makan siang bersama Ten, mereka sudah merencanakannya lewat chat di kakaotalk, omong-omong. Ten bilang lelaki mungil itu akan menjemputnya nanti ke ruanganya karena demiapapun Taeyog itu orangnya ceroboh dan tukan nyasar. Jadi sembari menunggu Ten ia membereskan mejanya dari laporan yang tadi diberikan oleh asistennya. Tuhkan, dia yang karyawan baru disini tapi sudah memiliki asisten saja. Aneh bukan? Tapi Taeyong tidak mau ambil pusing, toh dirinya juga tidak rugi kan. Tepat saat ia selesai membereskan mejanya, pintu ruangannya pun terbuka. Taeyong sudah akan berteriak jika itu Ten yang datang tapi nyatanya—

"Oh? Kau sudah siap rupanya."

Wajah Taeyong berubah masam kala tau yang menyusulnya bukanlah Ten, melainkan si lelaki bajungan nan mesum. Taeyong membatin apa lelaki ini tidak punya kerjaan sehingga ia menggangunya terus menerus?

"Kenapa cemberut begitu? Mau aku cium, hm?"

"Dalam mimpimu! Dasar mesum menyebalkan. Mati saja sana!"

Bukannya marah, tetapi lelaki yang baru saja disumpahi oleh Taeyong itu malah tertawa, gemas melihat tingkah lelaki cantik dihadapannya ini. Segera ia menghampiri lelaki yang sedang meggerutu itu dan menarik tangannya keluar.

"YA! Lepaskan!" Taeyong berusaha melepaskan tangannya dari lelaki yang tengah menyeretnya itu namun usahanya sia-sia. Jaehyun terus saja menggenggam tangan Taeyong sampai mereka tiba diparkiran dan lelaki itu membukakan pinu mobilnya untuk Taeyong. dengan wajah ogah-ogahan Taeyong masuk ke dalam mobil sport Jaehyun dengan wajah yang masih cemberut.

"Hey sudah, jangan cemberut seperti itu, atau mau aku cium?" Jaehyun mengulang kalimatnya saat ia sudah masuk ke dalam mobil. Lelaki itu mulai menjalankan mobilnya sambil sesekali melirik Taeyong.

"Lee Taeyong? Aku mengajakmu bicara."

"Darimana kau mengetahui namaku?" Taeyong melempar pertanyaan dengan nada galaknya. Terdengar helaan napas dari lelaki yang berada disampingnya itu.

"Sudahlah itu bukan hal penting."

"Tapi aku penasaran! Ahh jangan-jangan kau stalkerku? Iyakan?!"

Jaehyun hanya menggelengkan kepalanya menghadapi sifat galak Taeyong. karena tidak tahan ia mengarahkan tanganya ke arah Taeyong dan menutup bibir tipis itu dengan satu jarinya.

Buru-buru Taeyong menyingkirkan tangan itu dan menatap tajam ke lelaki yang sedang fokus mengemudi itu. "Apa yang kau lakukan bodoh?!"

"Jaehyun."

"—huh?"

"Namaku Jung Jaehyun. Kau pasti belum tau namaku kan?"

Jaehyun tidak mengerti, kenapa ia mengenalkan dirinya dihadapan Taeyong sebagai Jaehyun, bukan sebagai Jay. Padahal ia belum mengenal Taeyong lebih jauh, belum tentu pula Taeyong yang akan menjadi pasangan hidupnya kelak kan? Tapi entah kenapa hati Jaehyun terasa berbeda jika saat sedang bersama Taeyong. perasaan asing yang tidak pernah dirasakan sebelumnya membuat hatinya sedikit yakin atas lelaki manis bersurai pink yang sedang duduk disampingnya ini.

"Siapapun namamu aku tidak peduli." Gumam Taeyong acuh.

Jaehyun hanya mengangkat bahunya, "aku hanya memberi tau. Siapa tau kau mendesahkan namaku nanti."

"Dasar bajingan kelas kakap." Jaehyun tertawa lagi, kali ini ia tertawa terbahak-bahak. Seumur hidupnya belum pernah tuh dirinya di sumpahi sebegitu parahnya, apalagi tadi Taeyong sempat menyumpahinya untuk mati. Ini benar-benar bukan hal biasa, dan menaklukan Taeyong agar jatuh pada pesonanya mungkin akan membutuhkan perjuangan yang sangat keras.

Akhirnya mereka pun tiba disebuah restaurant yang—bagaimana mendeskripsikannya ya? Ini.. sungguh luar biasa mewah!hampir saja dirinya berlaku layaknya orang norak, tapi untungnya ia bisa menahannya, tak lama ia pun merasakan tangan Jaehyun kembali menggenggamnya dan menuntunya untuk masuk.

Jaehyun menarikkan kursi untuk Taeyong, lalu lelaki manis itu langsung duduk ditempatnya. Taeyong sedang berpikir jika 'Jaehyun itu bukan orang kaya sembarangan.' Sebenarnya ia sedikit minder mengetahui kenyataan itu, tapi memang dasarnya Lee Taeyong si super cuek, ia segera menepis pikiran itu.

Seorang pelayan menghampiri meja mereka dan membungkuk sembilan puluh derajat, "Selamat datang Tuan muda. Anda ingin pesan apa?"

Taeyong membulatkan kedua bola matanya, Tuan muda? Itu berarti—

"Pesanan seperti biasa, dua porsi." Pelayan itupun mencatat pesanan Jaehyun, dia membungkuk lagi kemudian pergi meninggalkan meja mereka. Taeyong langsung menatapnya penuh selidik.

"Ada apa?"

"Kau.. biar aku tebak kau pasti bukan karyawan biasa sepertiku di Jung Corp kan?"

Dengan wajah kalemnya Jaehyun menjawab, "aku karyawan biasa sepertimu, kenapa kau berpikir seperti itu?"

"Entahlah, hanya saja kau terlalu kaya untuk menjadi karyawan biasa."

Jaehyun tertawa lagi. Taeyong itu benar-benar. Baru sekali ia berduaan dengan lelaki bersurai pink itu tapi dirinya merasa bahagia. Ia jadi lebih banyak tertawa lepas daripada mengeluarkan gombalan mautnya. Ia merasa menjadi dirinya sendiri saat bersama Taeyong.

"Hey Taeyong?"

"Hmm."

Jeda sebentar, Taeyong masih sibuk memperhatikan setiap sisi design restaurant ini. Merasa ada yang menatapnya, ia mengalihkan pandangannya kearah lelaki yang berada dihadapannya itu dengan tatapan yang.. Taeyong sendiri pun tida bisa menjelaskannya.

"Mulai saat ini aku akan memanggilmu.. sugar."

BLUSH

"H-hah?"

Taeyong tidak mengerti, kenapa hanya dengan panggilan itu ia langsung merasa tolol. Pikirannya blank seketika. Ia juga merasakan jantungnya yang tiba-tiba berdegup kencang dan perutnya geli seperti ada ribuan kupu-kupu yang menggelitiknya. Ia menggigit bibir bawahnya menahan sensasi aneh yang terjadi dengan dirinya.

"Sugar. Aku akan memanggilmu sugar mulai sekarang."

Taeyong mencoba mentralkan degupan jantungnya, ia mendengus "panggilan konyol macam apa itu?" ia berusaha mengontrol suaranya agar tidak terdengar gugup dihadapan Jaehyun. Ia bingung dengan dirinya sendiri, kenapa ia menjadi idiot hanya dengan panggilan konyol itu. apalagi yang memanggilnya si manusia mesum Jung Jaehyun.

Ia bisa meliat seringai menyebalkan dibibir tebal Jaehyun, "aku tau kau menyukainya. Liha, pipimu tidak bisa berbohong."

"Sial. Sial. Sial."

Jatuh sudah harga dirinya dihadapan si mesum ini. Harus mengelak apalagi dirinya? Ya Tuhan rasanya ia ingin menceburkan dirinya kedalam kolam hiu saja—

"Hey sugar, mau sampai kapan kau melamun hm? Makanlah, itu adalah makanan favoritku jika sedang makan disini."

"Ah?" Taeyong tersadar dari lamunannya. Ia menatapmakanan yang sudah tersaji didepannya. Steak. Dan ukurannya sangat besar. Baunya pun membuat perut Taeyong berteriak lapar. Tanpa sadar lelaki manis itu menjilat bibir bawahnya, ternyata Jaehyun memperhatikan setiap pergerakannya membuat lelaki itu terkekeh.

"Makanlah jika sudah lapar." Ucap Jaehyun dengan senyuman dibibirnya, membuat kedua lesung pipi itu terlihat. Lelaki itu juga mengusak lembut kepala Taeyong, membuat tubuhnya menjadi kaku untuk sesaat.

.

Bisakah Jaehyun tidak melakukan hal-hal manis pada dirinya? Demiapapun Taeyong tidak mau jatuh kedalam pesona Jung Jaehyun.

.

.

.

Playboy's Tale

BRAK

"Taeyong—uh? Kenapa ruangannya kosong? Apa aku salah ruangan ya? Tapi tidak kok, ini memang benar ruangannya.

"Ada apa, hyung?"

"Tidak Haechan, hanya saja Taeyong tidak ada padahal aku yakin ini benar ruangannya."

"Tidak mencoba hubungi ponselnya?"

Ten menepuk dahinya, "ah ya kenapa aku bisa lupa." Ia mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Taeyong, namun saat tersambung Ten mendengar suara ponsel yang berada diatas meja. Ia berjalan mendekati meja Taeyong dan melihat ponsel milik Taeyong tergeletak diatas meja. Ten hanya bisa menggelengkan kepalanya.

"Astaga si bodoh itu selalu saja ceroboh." Ten memijat keningnya, merasa pusing dengan kelakuan Taeyong.

"Sebenarnya kemana anak itu?!"

Ten dan Haechan baru saja sampai diruangan Taeyong, tapi anak itu malah menghilang tanpa jejak. Padahal Ten sudah bilang berkali-kali untuk menunggunya disini tapi bocah itu malah menghilang. Kenapa Taeyong selalu berulah dan membuatnya pusing? Ten jadi merasa mengurus bayi besar kalau seperti ini terus.

"Mungkin dia pergi bersama temannya?" ucap Haechan mencoba menenangkan Ten.

"Teman apanya?! Dia itu galak dan bodoh mana ada yang mau berteman dengannya." Ten mendesah keras. "Mungkin saat jam makan siang berakhir aku akan kembali lagi kesini untuk memastikan keberadaanya. Lebih baik sekarang kita makan saja aku sudah terlalu lapar."

Dan akhirnya mereka berdua pergi meninggalkan ruangan Taeyong. Keduanya memutuskan makan siang di restauran sebrang gedung kantor mereka. Seperti hari-hari biasanya, restaurant ini selalu penuh disaat jam makan siang, tapi untungnya Ten masih mendapatkan tempat kosong dipaling pojok yang memuat untuk 4 orang. Segera kedua lelaki manis itu duduk disana dan memesan makanan. Sembari menunggu makanan datang mereka berbincang sampai seseorang yang memakai pakaian hitam, topi hitam, masker hitam, dan kacamata hitam datang menghampiri mereka.

"Hai, boleh aku bergabung? Tempat ini sudah penuh." Tanyanya dengan nada yang sedikit merayu. Saat Ten hendak menolak, Haechan dengan membuka suaranya.

"Oh tentu saja! Silahkan duduk." Memang dasarnya si manusia polos dengan sifat easy going nya ini membuatnya menerima kehadiran orang asing dengan mudah. Lalu orang itu langsung mengambil tempat duduk dihadapan Haechan. Tak lama, seseorang dengan penampilan serupa menghampiri meja mereka lagi.

"Disini kau rupanya." Lelaki yang baru datang itu duduk tepat dihadapan Ten. "Oh kita bergabung dengan orang lain?" tanyanya dan kemudian lelaki itu mebuka masker dan kacamatanya. "Ten?!"

Yang dipanggil meloot horror, "Johnny? Ya Tuhan." Ten menggumam. "dari sekian banyak pengunjung, kenapa pula aku harus satu meja denganmu?"

Lelaki disamping Johnny iku melepas propertynya dan terlihatlah wajah tampannya yang saat ini sedang memandang Johnny bingung, "kalian saling mengenal?"

"Tidak!"

"Ya tentu saja."

Mereka mengucapkan kalimat itu secara bersamaan. Membuat dua orang lainnya mengerutkan dahinya. "Jadi, yang benar yang mana?"

"Dia ini yang kemarin aku ceritakan padamu, Mark."

"Oh my God. So, he's your crush? Halo, aku Mark sahabat orang ini." Lelaki bernama Mark itu memperkenalkan dirinya sambil menunjuk Johnny, kemudian mengulurkan tangannya kearah Ten.

Ten memutar kedua bola matanya malas sebelum menyambut uluran tangan Mark. "Ten." Balasnya singkat, padat dan jelas.

Mark tidak memperdulikan tanggapan Ten. Ia mengalihkan pandanganya kepada lelaki yang duduk tepat dihadapannya dan mengulurkan tangannya, "halo aku—"

Ucapannya terhenti kala melihat lelaki manis itu. Dirinya pernah beberapa kali melihat lelaki ini di ruang latihan, tapi hanya sekilas. Dan ternyata lelaki ini sungguh manis dan—ah Mark tidak bisa mendeskripsikannya dengan kata-kata. Lelaki dihadapannya itu menyambut uluran tangan Mark meskipun ia sedikit bingung kenapa Mark tiba-tiba melamun saat melihatnya.

"Aku Haechan. Senang bisa bertatap muka langsung denganmu, senior."

"Astaga, apa aku sedang berada di surga? Bagaimana bisa ada lelaki manis, cantik dan selembut dirimu?" gumam Mark tapi masih bisa terdengar oleh yang lainnya. Entah Mark sedang mengeluarkan jurus gombalnya atau ia memang benar-benar terpesona oleh Haechan. Tapi yang jelas perkataannya cukup membuat mual semua orang yang berada dimeja itu.

"Maaf?"

Plak

Johnny dengan sadis menoyor kepala Mark. Dan sepertinya itu berhasil membuat kewarasan sorang Mark Lee kembali kepermukaan. Ia menatap sang pelaku penoyoran dengan pandangan tajam.

"Sialan! Apa masalahmu?!"

"You idiot."

"Apa—"

"Maaf senior? Tapi bisa kau lepaskan tanganmu?"

Mark tersadar jika ia masih menggenggam erat tangan lembut Haechan, maka dengan senyum konyolnya ia segera melepaskan tautan tangan mereka.

"Ah, tanganmu terlalu pas ditanganku." Mark melemparkan gombalannya. "Dan jangan panggil aku senior. Panggil Mark saja atau panggil sayang juga sepertinya terdengar menyenangkan."

Bukanya tersipu, Haechan hanya menampilkan wajah datarnya. 'dasar buaya darat!' sungutnya dalam hati. Haechan memang baru saja debut, tapi ia sering melihat kelakuan bejat Mark yang sering bermain dibelakang panggung. Awalnya ia adalah salah satu fans Mark, namun melihat kelakuannya yang seperti itu tanpa berpikir dua kali ia langsung mundur menjadi fans dari Mark. Ia bisa saja memaki dan menyumpahi lelaki dihadapannya ini, tapi ia masih tau diri karena ia baru saja debut dan harus menjaga imejnya dengan baik dihadapan publik. Lagipula mau bagaimana pun Mark adalah seniornya, jadi ia harus bersikap baik didepan lelaki itu suka ataupun tidak suka.

Melihat Haechan tidak menanggapi gombalannya, ia segera mengambil tindakan. "Aku bercanda. Panggil saja Mark tidak usah pakai embel-embel hyung."

Ketika Haechan ingin bicara, pesanan mereka datang. Jadi Haechan tetap menutup mulutnya dan menikmati makananya tanpa menoleh kearah Mark. Lelaki Canadian itu merasa Haechan terlalu flat, padahal jika ia berkata seperti itu pada wanita atau lelaki manis lainnya, pastilah mereka akan senang hati mengiyakannya dan langsung menggelendoti lengannya dengan manja. Tapi ini, meliriknya saja tidak! Wow ini menarik. Mark menjadi penasaran dengan lelaki manis didepannya ini. Lalu sebuah ide tiba-tiba melintas dipikirannya begitu saja.

"Hey Haechan."

"Hey Ten."

Kedua lelaki itu saling memandang dengan pandangan membunuh. "Seharusnya kita tidak satu meja."

"Ya, dan kau sangat menggangguku."

Mark melotot tidak terima, "dude berkacalah. Disini kau yang menggangguku. Aku yang lebih dulu mendapatkan tempat duduk ini dan bertemu dengan para lelaki man—"

"Diam! Jika kalian masih berisik aku akan meninju rahang kalian!"

Ucapan pedas Ten membuat kedua lelaki kebule-bulean itu terdiam. Tak lama mereka berdua kembali bersuara secara bersamaan.

"Pulang nanti bisa kita bertemu?"

Yang diajak bicara hanya diam dan saling berpandangan dengan tatapan bingung.

.

.

.

Playboy's Tale

"Berhenti mengikutiku!"

"Aku tidak mengikutimu."

Taeyong memutar tubuhnya, menghadap kearah Jaehyun yang sedang berdiri tepat dibelakangnya. "Oh ya? Lalu ini apa?!"

"Aku hanya mengantarkanmu sampai keruanganmu untuk memastikan bahwa dirimu aman, itu saja."

Taeyong menggeram, "demituhan aku sedang tidak berada dihutan!"

Jaehyun hanya mengangkat bahunya acuh. Ia tidak peduli jika lelaki cantik dihadapannya ini sudah terlalu emosi. Entahlah ia hanya masih ingin bersama dengan Taeyong.

"Terserahmu lah." Taeyong melanjutkan jalannya. Sepanjang lorong, banyak karyawan yang berbisik-bisik entah karena apa. Tapi Taeyong hanya menghiraukannya dan terus berjalan keruangannya.

"Oke sekarang aku sudah sampai. Jadi kau bisa pergi."

Jaehyun mengangkat sebelah alisnya. "Kau mengusirku? Tidak menyuruhku masuk terlebih dulu?" ia bisa melihat lelaki dihadapannya itu mengerang. Dalam hati ia tertawa, mungkin mulai saat ini mengganggu Taeyong adalah kegiatan terfavoritnya.

"Apa kau pengangguran? Aku yakin kau juga punya pekerjaan yang lebih penting daripada harus mengikutiku sepanjang hari! Lagipula—mengajak manusia super mesum ke dalam ruanganku? Ck, aku sudah bisa membaca pikiran bajatmu itu, sialan."

Dan Jaehyun benar-benar tidak menahan tawanya saat ini. Astaga, mimpi apa ia semalam karena bisa bertemu dengan makhluk Tuhan yang luar biasa lucu seperti Taeyong?

"Baiklah sugar, aku akan kembali ke ruanganku." Jaehyun berjalan mendekati Taeyong, ia menangkup pipi Taeyong yang sedang menatapnya galak. "Aku akan menjemputmu lagi dan kita akan pulang bersama." Saat Taeyong akan menyela, Jaehyun segera mendahuluinya, "dan idak ada penolakan." Setelah mengatakan itu Jaehyun mengecup lagi bibir Taeyong, dan kali ini dengan sedikit lumatan didalamnya. Lalu ia segera pergi sebelum ia mendapatkan tamparan untuk yang kedua kalinya.

"Brengsek, DASAR JUNG MESUM JAEHYUN SIALAN!"

..

Ten dan Haechan saat ini tengah berada diruangan Taeyong. ten baru saja mengenalkan Haechan kepada Taeyong dan keduanya sudah mulai akrab. Mereka bertiga bercerita, mulai dari Taeyong yang bercerita tentangnya dengan Jaehyun semuanya, tanpa terlewat satupun dan Ten dan Haechan pun juga menceritakan kejadian mereka tadi saat makan siang.

Ten belum tau kalau lelaki yang dimaksud Taeyong adalah Jung Jaehyun alias bosnya, bos mereka. Karena Taeyong hanya menyebutkan 'lelaki mesum' saja tiap kali ia bercerita. Dan sepertinya Ten pun tidak terlalu kepo dengan nama lelaki yang dimaksud Taeyong itu.

Ketiga lelaki manis itu menghela napanya. "Kenapa kita harus mengalami hal yang serupa?" ucap Taeyong sambil mengacak rambutnya frustasi. Entahlah, bukannya kembali bekerja mereka malah bercurhat ria di ruangan milik Taeyong.

"Eh tapi Taeyong hyung, apa kau tidak merasa aneh kenapa kau diberi ruangan seluas dan semewah ini? Seperti manager saja." Kata Haechan, lelaki bersurai merah itu sedang mengamati ruang kerja Taeyong yang bisa dibilang 'wow' itu.

"Benar." Ten menjentikkan jarinya. "kenapa kau sangat diistimewakan? Apa kau menyerahkan tubuhmu kepada bos?"

"Sialan kau!"

Ten dan Haechan hanya terawa. "Ahh tapi kau belum tau kan? Kalau bos disini itu suka bermain dengan jalang atau apalah itu aku tidak mengerti. Bahkan mereka bermain diruangan pribadi bos! Dan yang lebih parahnya lagi setiap minggu wajahnya berbeda-beda. Ya aku akui sih bos kita ini memang tampan dan hot tapi jika perilakunya seperti itu aku tidak akan beminat," ujar Ten sambil menunjukan ekpresi 'ewh'nya saat membayangkan kelakuan bos mereka.

"Coba saja perilaku bos tidak seperti itu, aku pasti akan jatuh hati padanya." Lanjut Ten, matanya berbinar membuat Taeyong geli sendiri.

"Hentikan wajah menggelikan itu, Ten."

Lelaki mungil bersurai hitam itu hanya menampilkan cengirannya. Lalu hening sesaat, mereka bertiga terlarut dalam pikirannya masing-masing sampai suara tepukan dari tangan Haechan membuat mereka menatap kearah lelaki yang paling muda itu.

"Aku punya rencana."

.

.

.

TBC

Fast update for next chap? Review nya ya aku tunggu.

Makasiii buat yg udah review di chap2 sebelumnya. Nanti kalo ada waktu aku bakalin sebutin nama2 kalian hehe. See ya on next chap!