Playboy's Tale
JAEYONG AREA
WITH
JOHNTEN. MARKHYUCK.
WARN
Boys Love, lil bit dirty talk, Out Of Character, typo(s) everywhere, bahasa non baku.
.
.
.
Taeyong terus-terusan membuang mukanya kearah jendela. Bibirnya tanpa sadar ia majukan membuat lelaki yang berada disamping tidak bisa fokus menyetir. Setelah pertemuannya dengan Jaehyun dan mengetahui fakta memalukan jika lelaki mesum itu adalah bosnya, CEO of Jung Corp yang membuatnya malu setengah mati. Ia selalu memaki Jaehyun—bahkan pernah menamparnya! Oh bagaimana jika lelaki itu mengungkitnya dan memecat Taeyong?! Terlebih bagaimana jika lelaki itu meminta ganti rugi? Kepalanya mendadak pusing seketika.
Sekarang dirinya terpaksa berangkat dengan bosnya itu, setelah menolak mentah-mentah tentunya. Ten juga sudah membantunya untuk menolak ajakan sang bos dengan alibi akan merepotkan, tapi tidak pernah ada yang menang melawan perintah Jung Jaehyun maka dari itu disinilah ia berada. Terjebak didalam kecanggungan—sebenarnya hanya ia yang merasa seperti itu, sedangkan Jaehyun? Lelaki bersurai cokelat itu bersikap layaknya tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka.
Sudah sekitar 20 menit mereka bertiga berada didalam mobil Jaehyun, Ten duduk sendiri di belakang karena pada saat Taeyong hendak duduk bersama Ten dengan cepat bosnya itu menarik tangannya dan menyuruhnya duduk didepan, disampingnya. Kenapa Taeyong langsung menurut tanpa memberontak? Taeyong masih membutuhkan pekerjaan karena duitnya sudah menipis, oke? Jadi ia mencari aman dulu daripada ia bertindak yang tidak-tidak, bisa jadi nanti bosnya itu langsung memecatnya detik itu juga!
Tapi kalau diingat-ingat, Taeyong kan disini tidak bersalah! Semua reaksinya itu akibat perlakukan kurangajar bosnya. Lagipula Taeyong kan hanya melakukan pembelaan diri karena Jaehyun itu sudah melecehkannya!
Ah sudahlah, hancur sudah mood Taeyong dipagi yang cerah ini.
Jaehyun melirik sekilas kearah lelaki cantik yang duduk disampingnya. Ia terkekeh melihat wajah yang ditekuk itu, sangat imut.
Dengan jahil Jaehyun menyentuh bibir Taeyong, lalu mencubitnya pelan membuat sang empu mendecak malas tapi tidak merespon apapun. Belum puas, Jaehyun mendaratkan tangan ke pipi tirus nan mulus itu dan mengeluskan jari telunjuknya disana. Dan gotcha! Akhirnya suara merdu yang ditunggunya sedari tadi keluar juga.
"Jaehyun—maksudku bos, tolong singkirkan tanganmu itu."
Mendengar panggilan itu Jaehyun mendengus malas. "Apa-apaan dengan panggilan itu? Panggil aku Jaehyun seperti biasanya saja."
Taeyong menoleh kearah Jaehyun dengan pandangan tidak setuju, "tidak bisa." Ia mencoba mengatur intonasi suaranya agar tidak membentak atasannya itu. "Kau bosku dan akan sangat tidak sopan jika aku langsung memanggilmu langsung dengan namamu."
"Tidak, pokoknya aku tidak mau tau kau harus memanggilku Jaehyun, sugar. Kalau tidak..."
"Apa?! Kalau tidak apa?!"
Yang ditanya mengangkat bahunya acuh, "aku akan menyeretmu keruanganku dan memperkosamu."
Taeyong menjatuhkan rahangnya, "kau gila!" pekiknya sambil memukul bahu Jaehyun. Habis sudah kesabarannya. Ini masih pagi dan otakmu benar-benar kotor sekali, Yang Mulia Jung Jaehyun."
Jaehyun hanya tertawa, sedangkan Taeyong mendegus keras lalu mengalihkan pandangannya ke jalan. Ia terlalu malas melihat wajah mesum itu.
Sepertinya mereka melupakan keberadaan satu orang yang masih berada disana dan mendengarkan semua percakapan mereka berdua dengan pandangan tidak percayanya.
..
"Yah! Ada hubungan apa kau dengan bos?!"
"Hah? Apa maksudmu Ten?"
Sesampainya dikantor, Ten langsung menyeret Taeyong setelah mengucapkan terimakasih pada bosnya terlebih dahulu. Dan langsung saja lelaki yang lebih pendek daripada Taeyong itu membawa Taeyong keruang kerjanya.
"Kau dan Jaehyun." Ten duduk diatas meja sambil bersedekap. Tak lupa memandang Taeyong dengan tatapan membunuh.
"Oh," Taeyong manggut-manggut. "Dia yang selama ini aku ceritakan padamu, Tennie. Lelaki yang mengajakku sex saat pertama kali kita bertemu dipesta itu dan ia sudah memiliki kekasih! Astaga dunia ini benar-benar sudah rusak!"
"Dia—apa?!" mata Ten melotot, mulutnya terbuka lebar, "jadi si mesum bajingan yang selalu ceritakan itu adalah bos kita sendiri?!"
Taeyong menghela napasnya, berjalan mendekati sahabatnya. "Aku baru ingat selama menceritakan tentangnya aku tidak pernah menyebut nama Jaehyun." Lelaki manis itu menampilkan cengirannya, dan Ten masih tidak percaya dengan semua ini. Jika Jaehyun itu bukanlah bosnya, pasti lelaki itu sudah Ten kebiri sedari dulu karena berani-beraninya menggoda Taeyongie.
"Kau harus menjauhinya, hyung! Aku tidak mau tau pokoknya jangan sampai bos berhasil mendapatkanmu!"
Dahi Taeyong berkerut bingung, lalu dengan bodohnya ia malah bertanya, "memangnya kenapa?"
Membuat lelaki yang berstatus sebagai sahabat sehidup sematinya itu menepuk keningnya dramatis, "aku kan sudah pernah bilang kepadamu Lee! Jika bos kita itu sering membawa para pelacurnya keruangannya! Bahkan setiap minggunya pasangannya berganti-ganti! Dan kau tau kemarin saat Johnny mengajakku ke club aku bertemu dengan Jaehyun dan melihat langsung kelakuan bejatnya! He's officially jerk dan aku tidak mau Taeyongie-ku dipermainkan oleh buaya darat sepertinya." Ucap Ten panjang lebar dan menggebu-gebu. Lihat saja sekarang wajah putihnya itu berubah merah karena emosi.
Dengan sayang Taeyong mengelus kedua lengan Ten lembut sambil tersenyum, "aku mengerti. Dan aku tidak akan jatuh kedalam pesona bajingan itu. Terimakasih sudah mengingatkanku, aku menyayangimu."
"Hmm aku akan selalu mengawasimu, hyung." Balas Ten kemudian mereka tertawa, "dan aku juga menyayangimu." Kemudian mereka berpelukan selama beberapa detik sebelum Taeyong pamit untuk kembali keruang kerjanya.
.
.
.
Playboy's Tale
Haechan tidak mengerti, dari banyaknya schedule yang ia miliki, kenapa pula hari ini jadwalnya dari pagi sampai sore semuanya sama dengan Mark Lee?! Demi Neptunus! Sepertinya nasib sedang tidak berpihak kepadanya.
Mulai dari acara variety show, sampai syuting pembuatan musik video milik salah satu seniornya semuanya bersama Mark! Kesialan macam apa ini? Seharian penuh bertatap muka dengan lelaki yang berlagak layaknya bule itu itu. inginnya sih memaki, tapi Haechan konsisten dengan rencananya jadi ia terus memasang wajah bersahabat pada Mark padahal dalam hatinya ia terus-terusan mendumal.
"Haechan?"
Lelaki yang baru masuk itu berjengit kaget, lalu menolehkan kepalanya kesamping kanan.
"Wah aku tidak menyangka kita bertemu lagi disini. Apa kau penguntitku, hm manis?"
Lelaki manis bersurai merah itu menghela napasnya malas, lalu menatap lawan bicaranya dengan wajah datar.
"Begini Mark, jadwal kita sama, lokasi kita sama dan ini ruang make up artis. Jadi dengan alasan apa kau menuduhku seperti itu?" ucap Haechan bersungut-sungut. Mark itu bodoh atau terlalu percaya diri sih?!
Selanjutnya yang didapat Haechan adalah tawa kecil dari lelaki yang sudah berdiri tepat dihadapannya. Raut wajahnya langsung berubah muram. Apanya yang lucu disini?
"Serius Mark, aku sedang tidak melawak."
"Selain cerewet, kau galak juga ya."
Haechan tersedak air liurnya. Sial sekali, barusan Mark mengatainya galak! Padahal ini belum seberapa karena sedari tadi Haechan terus menekan rasa jengahnya terhadap lelaki yang sialnya tampan itu.
Pura-pura tidak mengerti, Haechan mengangkat sebelah alisnya, "aku galak? Padahal sedari tadi aku tidak marah-marah tuh."
"Ya ya whatever." Mark mengibaskan tangannya, mengisyaratkan agar tidak membahasnya lagi. "Kau sudah selesai kan? Bisa temani aku sebentar?"
Baru saja Haechan hendak membuka suaranya, Mark dengan cepat menarik tanganya dan langsung menyeretnya keluar dari ruangan. Lelaki yang ditarik tangannya hanya diam saja, otak lambatnya masih memproses apa yang terjadi.
Tak lama mereka sampai diluar, setelah itu Mark langsung menaiki motor besar yang entah darimana asalnya.
"Kau membawa motor sendiri?" tanya Haechan dengan rasa penasarannya.
"Tidak," Canadian boy itu menjawab sambil mengenakan helmnya. "Aku minta bawakan supirku tadi." Kemudian ia melemparkan sebuah helm kepada Haechan dan langsung ditangkap olehnya.
Haechan mendengus, "memangnya aku mau ikut denganmu?"
Mark menyeringai, mulai menyalakan mesin motornya. "Aku tau kau tidak akan menolak. C'mon sweety, jangan membuatku menarikmu dengan paksa."
Dengan wajah bersungut-sungut, Haechan mulai melangkahkan kakinya dan naik ke motor sport Mark yang tinggi. Membuatnya sedikit kesusahan saat naik.
"Pegangan yang erat." Baru saja Haechan mendaratkan bokongnya, Mark tanpa aba-aba langsung menstater motornya dan menjalankannya dengan kecepatan tinggi! Haechan hampir saja terjungkal kalau saja ia tidak cepat-cepat memeluk lelaki yang sedang terbahak itu.
"Kau mau membunuhku?!" Teriak Haechan sambil mencubit pinggang Mark.
Lelaki didepannya meringis sebentar sebelum terkekeh, "kan sudah aku bilang pegangan yang erat." Ia melirik wajah manis Haechan dari spion, "pegangan lebih erat, aku tidak akan tanggung jawab kalau kau terjatuh nanti." Setelah mengatakan itu Mark menambah kecepatanya membuat Haechan memekik sambil mengeratkan pelukannya diperut Mark.
15 menit kemudian mereka sampai di—tunggu! Ini terlihat seperti... gereja? Haechan turun dari motor dan melihat sekelilingnya dengan dahi yang berkerut.
"Ya ini gereja," ucap Maek seakan bisa membaca pikiran lelaki yang sedang sibuk dengan pemandangannya. "Ayo." Lagi-lagi Mark menggenggam dan menarik tangan Haechan seenaknya.
"Kenapa kita kesini?"
"Kenapa?" Mark terdiam sesaat namun sedetik kemudian seringai menyebalkan itu tercetak dibibir tipisnya. "Ahh jangan-jangan kau berharap aku akan menikahimu, iya kan?"
Haechan tertawa sarkas, "jangan berkhayal!"
Mereka memasuki gereja, gelap menyapa pandangan keduanya namun cahaya sinar rembulan sedikit menerangi ruangan gelap itu melalui jendela jadi masih terlihat walaupun samar.
Mark melepaskan pegangan tangannya pada Haechan kemudian berjalan kedepan. Lalu lelaki itu berlutut dan menangkupkan tanganya, berdoa. Haechan yang melihat itu segera mengikuti Mark dan melakukan hal yang sama.
Ketika Haechan selesai dengan berdoanya, ia melirik kearah Mark yang masih tetap pada posisinya. Ini sudah lebih dari 10 menit, memangnya Mark berdoa apa saja?
Tak lama akhirnya Mark selesai berdoa dan berdiri menghadap Haechan dengan raut wajah yang tidak biasa. "Kau tidak sedang buru-buru kan?"
Haechan hanya menggeleng, menatap Mark bingung.
"Temani aku mengunjungi seseorang." Mark berbalik dan melangkah keluar terlebih dahulu, meninggalkan Haechan dibelakangnya dengan pikiran-pikiran absurdnya. Apa jangan-jangan Mark kerasukan? Kenapa sikapnya tiba-tiba berubah begitu? Batinnya.
Mereka berjalan kearah samping gereja dalam diam, Haechan masih setia berjalan dibelakang Mark dan beberapa menit kemudian mereka sampai didepan rumah sakit—atau bukan? Dibilang rumah sakit tapi sepertinya bukan karena itu lebih terlihat seperti rumah. Namun diatasnya terdapat lambang hospital.
Mark masih memimpin jalan, mereka melewati beberapa lorong sepi sampai akhirnya Mark berhenti didepan salah satu pintu kamar. Haechan pun ikut berhenti disampingnya dan menatap kearah Mark yang tengah menunduk.
"Mark? Kau baik?"
Yang dipanggil tersentak kecil, lalu melirik Haechan dan tersenyum kecil. "Ayo masuk,"
Mark menggeser pintunya, masuk kedalam sebuah kamar yang tidak terlau besar diikuti oleh Haechan. Lelaki tampan itu berjalan menghampiri seseorang yang tengah terduduk dikasur dengan posisi membelakangi mereka.
"Mom, aku datang."
Suara Maek terdengar lirih. Mom? Dia ibu Mark? Haechan berdiri disamping Mark yang tengah memeluk seseorang yang barusan dipanggil mom oleh Mark.
"Mark?" wanita paruh baya dengan rambut yang sedikit berantakan itu menoleh antusias, "Mom rindu." Kemudian memeluk Mark. "Kau sendiri? Dimana Yifan?"
"Mom, sudah malam sebaiknya Mom tidur okay? Aku akan—"
"Mark! Dimana Yifan? Kau selalu kesini tanpa Yifan! Yifan, dimana anakku?!"
"Mom tenanglah—"
"TIDAK! MOM INGIN BERTEMU YIFAN! YIFAN? MOM TAU KAU DILUAR SANA IYA KAN?"
"MOM!"
PLAK
Mark merasakan pipinya memanas. Tanpa sadar satu tetes air mata keluar begitu saja tanpa bisa ia cegah.
Haechan kaget, dirasa Mark butuh privacy ia memutuskan untuk keluar dari kamar itu. Saat ia hendak membuka pintu namun pintu tersebut terbuka terlebih dulu dari luar. Dan masuklah beberapa perawat dengan tergesa-gesa. Haechan melihat sebentar kemudian keluar dan menutup pintunya kembali. Ia memilih duduk disalah satu kursi untuk menunggu lelaki yang tengah menguasai pikirannya itu.
Banyak pertanyaan muncul didalam pikirannya saat ini. Kenapa ibu Mark bereaksi seperti itu? Sakit apa memangnya? Lalu siapa itu Yifan? Kakak Mark ataukah adiknya? Jadi Mark bukan anak tunggal? Haechan berusaha untuk tidak memikirkannya tapi ia tidak bisa!
Cukup lama Haechan menunggu lelaki yang sedang berada didalam kamar ibunya, mungkin sudah setengah jam? Atau lebih? Entahlah yang jelas Haechan sekarang mengantuk! Dengan punggung yang bersender pada sandaran kursi, ia memejamkan matanya dan tak lama mulai terlelap.
Mark keluar dari kamar ibunya dengan raut wajah murung. Teringat akan perkataan suster, mereka berkata jika tidak ada perkembangan sama sekali dari ibunya padahal ini sudah tahun keempat ibunya dirawat disini. Ia mengedarkan pandangannya dan menemukan sesosok yang amat sangat dikenalnya tengah tertidur dengan posisi duduk.
Ia menghampiri lelaki manis yang sejak tadi ia lupakan lalu duduk disampingnya. Memeperhatikan dengan lekat ciptaan Tuhan yang sempurna dan amat manis itu, membuat bibir tipis yang sedari tadi tertekuk kebawah berganti dengan senyuman yang menawan. Pikirnya, pemandangan Haechan yang sedang tidur itu adalah hal terindah. Sudah 2 kali ia melihat wajah damai itu, dengan bibir mungilnya yang sedikit terbuka. Haechan pasti lelah setelah jadwal padat mereka ditambah lagi ia mengajaknya kesini.
"Haechan?" Mark mencoba membangunkan lelaki manis itu dengan menepuk pipinya pelan. Ia akan mengajak Haechan pulang karena tidak tega melihat wajah lelahnya. Tak lama lelaki bersurai merah itu membuka matanya dan menoleh kearah seseorang yang membangunkannya.
"Mark?" suaranya terengar serak, kemudian ia menegakkan tubuhnya saat merasa nyawanya sudah terkumpul. "Kau baik-baik saja?" Mengalihkan seluruh perhatiannya kepada lelaki yang beradatepat disampingnya.
"Ya aku baik. Aku hanya—" lelaki itu tak melanjutkan kata-katanya. Selalu seperti ini, ia merasa lemah jika sudah berhadapan dengan sang ibu.
Haechan yang melihat itu menggenggam tangan Mark yang tengah mengepal. Ia mengelusnya dengan lembut, "menangislah jika itu akan membuat dirimu lega."
Bagai mantra, Mark langsung menangis dalam diam. Haechan dengan sabar mengelus bahu Mark lalu membawanya ke dalam pelukannya. Ia tidak mengerti, mungkin ia hanya bersimpati pada lelaki bersurai hitam itu.
Memerlukan waktu beberapa menit bagi Mark untuk meredakan tangisannya. Kemudian setelah puas menumpahkan kesedihannya ia mulai membuka suaranya, "ibuku depresi." Ucap Mark tanpa mengangkat kepalanya dari bahu sempit Haechan.
"Sudahlah Mark—"
"Setelah Yifan, kakakku meninggal bunuh diri karena dibully 4 tahun lalu, Mom sering berhalusinasi. Entah itu ia melihat Yifan berdiri didepan rumah, Yifan yang sedang kedinginan, Yifan yang sudah bisa berjalan dengan normal—karena sebelumnya kaki kiri Yifan tidak berfungsi jadi ketika ia jalan ia akan menyeret kaki kirinya. Yifan yang tersenyum pada Mom, dan masih banyak lagi halusinasi-halusinasi yang dialami Mom setelah kepergian Yifan.
Dad tidak tinggal diam, ketika ia tau Mom sering berhalusinasi dia membawa Mom ke rumah sakit dan kata dokter Mom harus dibawa ke rumah sakit jiwa. Tentu saja aku dan Dad menolak mentah-mentah lalu kami bertemu seorang pastor di gereja ini dan mereka menawarkan perawatan untuk Mom."
Mark mengangkat kepalanya, menatap kearah lelaki manis yang masih terdiam setelah ia menceritakan kisahnya. "Ini semua salahku. Jika saja aku bisa melindungi kakakku dan tidak sibuk didunia entertaint, pasti Yifan sekarang masih hidup. Aku tidak marah ketika Mom terus menerus menyalahkanku atas kematian Yifan, hanya saja aku tidak sanggup melihat kondisi Mom yang tak kunjung membaik. 4 tahun ini juga aku menjalani hidup dengan perasaan bersalah, maka ketika aku bertemu dengan Jaehyun dan Johnny pikiranku berubah. Mereka mengalihkan rasa bersalahku dengan cara bersenang-senang. Memasang topeng bahwa Mark Lee adalah seorang yang sempurna, bahwa Mark Lee hidup dengan baik. Aku merasa hidup kembali setelah bertemu dengan Jaehyun dan Johnny, yang sebenarnya juga memiliki nasib dan masa lalu yang kelam. Itu makannya kenapa kami bisa bersahabat."
Haechan masih terdiam, ia tidak tau kenapa Mark menceritakan ini kepadanya? Apa Mark memang selalu bercerita masalah pribadinya kepada setiap orang yang sedang dekat dengannya?
Setelah itu Mark mengajak Haechan pulang. Selama diperjalanan pulang mereka terdiam dengan pikiran masing-masing. Tidak ada celotehan Mark yang menggoda Haechan, begitu juga tidak ada pekikan Haechan. Semuanya terasa sepi malam ini entah kenapa, dan mereka berdua sama-sama tidak nyaman dengan situasi seperti ini.
"Terimakasih sudah mengantarku." Ujar Haechan setelah ia turun dari motor.
Mark hanya mengangguk, "masuklah, selamat malam."
Ketika Mark sudah bersiap menjalankan motornya, perkataan Haechan membuat hatinya menghangat.
"Mark, yang kuatlah. Setiap manusia pasti punya kesalahan tapi jika kau terus tenngelam dalam masalah itu hidupmu tidak akan maju. Lupakan rasa bersalahmu, berhenti bersenang-senang dengan cara yang salah, hiduplah untuk masa depanmu, dan masa depan kedua orang tuamu. Aku yakin kau pasti bisa." Haechan menampilkan senyumnya yang detik itu juga membuat Mark terhipnotis akan sosok manisnya. "Selamat malam, Mark. Dan hati-hati dijalan."
Mark tidak bisa untuk tidak tersenyum setelah mendengarkan ucapan lelaki yang sedang disukainya itu. Mungkin malam ini akan menjadi malam yang bersejarah untuk seorang Mark Lee. Dan ia langsung bertekad akan mengubah gaya hidupnya mulai dari sekarang.
Demi kedua orang tuanya, demi Yifan,
Dan demi... Haechan.
.
.
.
Playboy's Tale
Dua minggu belakangan ini ada yang aneh, Johnny menyadarinya. Mulai dari Ten yang menjauhinya sejak insiden ia mengakui siapa dirinya, sampai si maknae Mark Lee yang jarang berkumpul dengannya dan Jaehyun. Bocah itu sekarang kalau diajak ke club ataupun berkumpul selalu saja ada alasan. Entah itu Mark bilang jadwalnya padet lah, tidur seharian dirumah lah, kepalanya pusing lah. Hey! Sejak kapan bocah sialan itu mengeluh jika kepalanya pusing? Bahkan dulu pernah Mark yang sedang demam pun malah ikut mereka ke club. Pasti ada yang tidak beres.
Tapi diantara semua keanehan-keanehan belakangan ini, yang membuatnya pusing itu perlakuan Ten yang terkesan menghindarinya! Saat dikantor jika mereka hampir berpapasan lelaki mungil itu langsung berputar arah agar tidak bertemu dengannya. Saat makan siang Ten membawa bekal dan memilih makan diruang kerja Taeyong. Johnny cukup tau diri untuk tidak menghampiri Ten diruang kerja Taeyong. Tidak tau mengapa Johnny membenci fakta jika lelaki mungil nan manis itu menjauhinya.
Pernah suatu hari Johnny menghampiri Ten diruangannya, dengan seribu alasannya lelaki mungil itu berkata jika ia sedang banyak pekerjaan dan tidak bisa menerima tamu. Padahal Johnny tau itu hanyalah alasan. Awalnya ia pikir itu tidak berpengaruh apapun karena demiapapun ia baru mengenal lelaki mungil asal Thailand itu. tapi lama-lama hatinya memberontak, tidak suka saat Ten menghindarinya hanya karena sifat buruknya.
Hanya karena? Johnny sepertinya harus diberi pencerahan agar pemikiran tidak normalnya berfungsi kembali.
Hari ini Johnny akan berangkat ke Thailand lima hari kedepan untuk menjalani pemotretan majalah. Sekarang dirinya tengah berjalan memasuki pesawat dengan sang manager dibelakangnya.
"Permisi, bisakah kau memindahkan tasmu? Itu tempat dudukku."
Seseorang yang duduk sambil menutum matanya dengan topi itu menatap Johnny, dan keduanya langsung melotot kaget.
"Ten?"
"John..ny." Ten mengecilkan suaranya, ia lemas seketika. Untuk apa jika dirinya selama ini berusaha menjauhi lelaki itu tapi malah dipertemukan disini? Ditempat duduk yang sama dan tujuan yang sama?
Memang Ten sengaja menjauhi Johnny. Ia langsung melupakan rencananya yang dibuat bersama Haechan setelah mendengar perkataan lelaki tinggi itu saat mereka dalam perjalanan pulang ke rumah Ten. Selain Johnny, Jaehyun dan Mark adalah seorang bad guy, ia memiliki alasan tersendiri. Ia benci dengan seorang player, pemabuk, pengguna narkoba atau apapun itu. alasan ia menyuruh Taeyong menjauh dari Jaehyun juga karena itu. Traumanya. Dan tidak ada seorangpun yang tau termasuk sahabat baiknya, Taeyong dan Haechan.
Mereka berdua sama-sama terdiam. Sampai pesawat take off pun dari mereka berdua tidak ada yang membuka suaranya. Johnny yang bingung harus berkata apa dan Ten yang memang tidak mau mengobrol dengan Johnny.
Akhirnya karena tidak tahan dengan keheningan ini, Johnny mengalah dan mulai mengeluarkan suaranya.
"Kau menghindariku." Itu bukan pertanyaan melainkan pernyataan.
"Hanya perasaanmu saja mungkin." Jawab Ten tanpa menolehkan wajahnya dari novelnya. Johnny mendesah pelan, mencoba bersabar menghadapi sifat kekanakan Ten.
"Kenapa kau tiba-tiba menghindariku?"
"Aku tidak."
"Kau iya."
Ten membuang napasnya lalu menutup kasar novel yang sedang dibacanya lalu menatap Johnny dengan pandangan marahnya. "Apa masalahmu?"
"Masalahku? Aku bertanya alasan kenapa kau menjauhiku. Kau hanya perlu menjawab dengan jujur. Apa aku melakukan kesalahan? Apa aku melukaimu? Atau apa karena perkataanku waktu itu?"
Nah. Ucapan terakhir Johnny membuat raut wajah Ten berubah. Dan Johnny tidak bodoh untuk menyadarinya.
"Baiklah kalau tidak mau menjawab. Aku sudah tau jawabannya."
Setelah mengatakan itu keadaan kembali hening. Johnny melirik lelaki yang duduk disampingnya itu tertidur lelap, membuat sudut bibirnya terangkat sedikit melihat betapa lucunya ekspresi tidurnya. Kemudian ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada managernya yang duduk tepat disampingnya.
JohnD: Berikan jadwalku selama di Thailand.
Manager Hyung sent a file.
Johnny membuka file yang diberikan managernya, ia melihat semua jadwalnya selama 5 har kedepan dan tersenyum saat melihat banyak waktu kosong tertera dilayar iPone nya.
"Baiklah, kita lihat saja kau tidak akan bisa lepas dariku, babe."
.
.
.
Playboy's Tale
Taeyong kesepian, semenjak Ten pulang ke kampung halamannya untuk merayakan ulang tahun ibunya selama seminggu penuh, sekalian berlibur katanya. Tadinya Taeyong diajak, hanya saja ia tidak enak jika harus mengambil cuti terlalu banyak. Ia ini karyawan baru ingat? Walaupun sebenarnya ia sangat ingin pergi ke Thailand bersama sahabatnya.
Ini baru satu hari ia sendirian dirumah tanpa Ten, tapi rasanya sudah seperti satu minggu! Hah tau begini dia ikut Ten saja kan ke Thailand? Sekarang hari minggu, sahabatnya itu baru berangkat kemarin hari sabtu dengan Taeyong yang terus memeluk tubuh sahabat mungilnya ketika ia akan berangkat.
Dan sekarang Taeyong tidak tau harus melakukan apa. Mungkin bermalas-malasan dikasur bukan ide buruk, toh ia merindukan kasurnya dan juga belum mendapatkan istirahat yang cukup sejak pertama kali masuk kerja.
Jadi setelah sarapan Taeyong mandi lalu kembali menidurkan tubuhnya kembali keatas kasur empuknya. Ia mengecek ponselnya, ternyata ada beberapa panggilan dan pesan dari nomor yang tidak dikenalnya. Mengabaikan itu, lalu dengan iseng Taeyong membuka akun SNSnya. Kemudian ia dikejutkan dengan notifikasi disana. Saat melihat namanya, raut wajah Taeyong langsung berubah datar.
JayJung liked your post
JayJung liked your post
JayJung commented on your post
JayJung liked your post
Dan masih banyak lagi. Begitulah kira-kira isi notofikasi akun instagramnya.
"Dia gila? Atau tidak punya kerjaan lain selain menjadi stalkerku?" Gumam Taeyong. Lalu ponselnya berbunyi menandakan adanya panggilan masuk.
"Nomor yang tadi." Ucap Taeyong saat melihat nomor tak dikenal menelponnya. Ia bingung, angkat atau jangan? Tapi kalau penting bagaimana? Jadi Taeyong memilih untuk mengangkatnya.
"Ya halo?"
"Hey sugar."
"Astaga darimana kau mendapatkan nomorku?!"
Terdengar suara tawa disebrang sana, "itu bukanlah hal yang sulit."
Taeyong mendengus, "kalau tidak ada kepentingan aku tutup!"
"Tunggu dulu!" Suara itu terdengar panik, "keluarlah. Aku ada didepan rumahmu."
"Hah? Halo? Halo?!" sambungan itu terputus sepihak, membuatnya menggerutu dan menaruh ponselnya dikasur.
Taeyong buru-buru keluar dari kamarnya, dan berjalan keluar untuk membuka pintu rumahnya. Dan benar saja disana, didepan pagar rumahnya bos sekaligus orang yang harus Taeyong himdari sedang berdiri bersandar pada mobil sportnya sambil tersenyum cerah.
"Morning, sugar. Let's go to the beach."
Baiklah, ucapkan selamat tinggal pada kasurmu, Lee Taeyong.
.
.
.
TBC
Hai long time no see hehe. Maaf ya karna ngaret terlalu lama. Gimana sama chapter ini?
Ohiya johnten moment in thailand sama pergi ke pantai ala jaeyong di chap depan ya. So wait for next chap guisee. Btw aku suka moment markhyuck nya ntah kenapa huhu.
Jaeyong di SFW bikin mabok bos! Aku kalap sampean gabisa berkata apa-apa lagi ngeliat betapa sempurnanya visual mereka TAT
Fast update for next chap? Review tembus 100 bakal langsung aku apdet ;_;
Sampai bertemu di chapter 6!~~
