Playboy's Tale
JAEYONG AREA
WITH
JOHNTEN. MARKHYUCK.
WARN
Boys Love, lil bit dirty talk, Out Of Character, typo(s) everywhere, bahasa non baku.
.
.
.
Butuh waktu satu jam untuk Taeyong bersiap-siap. Maunya sih menolak karena ia hanya ingin tidur hari ini, tapi setelah dipikir-pikir ke pantai bukanlah ide yang buruk. Lagipula mumpung ia sendirian kan, daripada bosan dirumah? Yah walaupun nanti resikonya ia harus tarik urat karena sifat menyebalkan bosnya itu.
"Sudah siap?" Tanya Jaehyun dan diangguki oleh Taeyong.
Taeyong keluar dari kamarnya dan menghampiri Jaehyun yang menunggu diruang tamu. Ia tampak manis mengenakan kaos oblong berwarna putih dengan celana pendek selutut berwarna cokelat kulit. Berbeda dengan bosnya yang mengenakan jeans hitam, serta kemeja kotak-kotak berwarna hijau yang tidak terkancing. Didalamya dilapisi kaos oblong hitam. Sangat tampan. Tapi sayang, otaknya mesum. Batin Taeyong dalam hati.
Mereka sudah berada didalam mobil Jaehyun saat ini. Tidak ada percakapan, hanya ada suara musik yang mengisi keheningan diantara mereka. Tidak biasanya juga Jaehyun diam, biasanya bosnya itu akan menggombalinya.
"Kau tampak cantik dengan pakaian itu."
Nahkan, baru saja dibilang. Bosnya itu memang sepertinya tidak bisa menahan mulut lemesnya itu ya?
Taeyong memutar kedua bola matanya malas. "Aku ini leaki-laki, dan aku tampan." Jawab Taeyong datar dibalas dengan tawa oleh bosnya itu. "Ck, tidak lucu!"
"Hey, kau ini galak sekali. Sedang pms ya?" Jaehyun tidak bisa menghentikan tawanya, ia bisa melihat jika sekarang bibir Taeyong maju 5 senti dan alisnya yang menukik. Persis seperti burung angry bird.
"Bisa tidak sih mulutmu itu sehari saja tidak mengeluarkan kata-kata konyol nan mesum?!"
"Bisa. Tapi sepertinya itu pengecualian untukmu, sugar."
Taeyong membuang napasnya kasar. Tidak ada niatan untuk menanggapi ucapan Jaehyun. Dan nampaknya lelaki bersurai cokelat itu juga sedang fokus menyetir.
Beberapa menit mereka terdiam. Sesekali Taeyong melirik kearah bosnya. Jika sedang serius seperti itu wajah Jaehyun terlihat berkali-kali lebih tampan. Sedetik kemudian Taeyong menggelengkan kepalanya. Apa yang kau pikirkan bodoh?!
Karena asik melamun, ia tidak menyadari bahwa saat ini Jaehyun tengah bernyanyi. Musik yang diputar saat ini adalah lagu—
Lets take our time tonight, babe
Above us all the stars are watchin'
Sial sial sial! Kenapa harus lagu ini?! Dan apa-apaan itu Jaehyun mengganti lirik 'girl' menjadi 'babe' oke Taeyong mulai lemah.
There's no place i'd rather be in this world
Your eyes are whre i'm lost in
Mereka saling tatap tepat kedalam mata. Untungnya saat ini sedang lampu merah jadinya Jaehyun tidak perlu khawatir. Ia mendekatkan wajahnya kearah Taeyong perlahan, sedikit lagi kedua benda kenyal itu saling menempel sebelum—
TIN TINN
Cepat-cepat Jaehyun menjauhkan wajahnya dan kembali menjalankan mobilnya. Sedangkan Taeyong? jangan ditanya. Ia pun tidak mengerti kenapa bisa-bisanya tadi ia diam saja saat Jaehyun hendak menciumnya. Apalagi jantungnya berdetak dengan cepat. Ini gawat!
So baby, lets just turn down the lights
And close the door
Oh tidak, ini bagian yang Taeyong benci!
Oooh i love that shirt
But you won't need it anymore
No, you won't need it no more
Let's just kiss 'till we're naked, baby
Versace on the floor
Ooh take it off for me, for me, for me, for me now, babe
Versace on the floor
Jaehyun melirik kearah Taeyong. ia bisa melihat jika teliha lelaki manis itu memerah. Ia terkikik sebelum mencubit gemas pipi mulus itu.
"Sakit, Jaehyun!"
"Ahh kau malu ya hmm? Jangan mengelak karena aku sangat peka."
"Tidak. Siapa bilang? Sok tau sekali." Taeyong mencibir dan melepaskan tangan Jaehyun dari pipinya. "Omong-omong suaramu bagus juga."
Untuk yang ini Taeyong serius memuji. Karena suara Jaehyun benar-benar merdu dan enak untuk didengar.
"Kau menyukai suaraku atau lirik lagu yang aku nyanyikan tadi?" tanya Jaehyun sambil menaik turunkan alisnya.
"DASAR SETAN MESUM!"
.
.
.
Playboy's Tale
Udara pagi di Thailand sangatlah menyejukkan, dan Ten sangat rindu dengan suasana dikampung halamannya ini. Rencanya ia dan adiknya Tern akan pergi berbelanja untuk kebutuhan surprise ulang tahun ibunya. Saat ini ia sedang bersiap untuk lari pagi disekitar kompleks rumahnya.
"Tennie sayang ayo sarapan dulu!"
"Nanti saja ibu, aku akan lari pagi dulu. Aku pergi!" ucap Ten sambil mencium pipi ibunya sebelum ia berlari keluar. Ibunya hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan anak sulungnya.
Ten mulai berlari kecil mengitari kompleks rumahnya. Telinganya tersumpal earphone, bibir tipisnya sesekali bersenandung mengikuti alur musiknya. Sudah beberapa menit ia jogging dan tubuhnya sudah mulai mengeluarkan keringat.
PUK
Ia menoleh saat merasakan bahunya ditepuk oleh seseorang, lalu Ten menghentikan langkahnya begitu tau siapa orang itu.
Ia melepas earphonenya, lalu menatap malas kearah orang itu. "Apa?" tanyanya singkat padat dan jelas. Yang ditanya bukannya takut tetapi malah terkekeh.
"Daripada jogging sendiri, bukannya berdua lebih enak?"
Ten mendecih, "artis terkenal sepertimu tidak boleh berkeliaran sembarangan. Nanti jika ada fans yang tau aku juga yang repot."
"Ayolah, itu tidak akan terjadi." Orang itu, Johnny mengeluarkan sebuah masker dari saku celananya. Ia sudah mengenakan topi jadi ia tidak perlu khawatir dengan perkataan Ten.
"Terserah." Ten melanjutkan acara joggingnya. Johnny yang melihat itu segera mengikuti lelaki mungil kesayangannya. Sesekali ia menoleh kearah Ten, ia ingin mengajak lelaki itu berbicara sebenarnya, tetapi entah kenapa ia bingung mencari topik. Serius ini bukan style Johnny sama sekali.
"Ehmm Ten?"
Yang dipanggil tak menghiraukan. Ia terus saja berlari tanpa melihat sekitarnya. Pandangannya lurus kedepan, tetapi pikirannya melayang kemana mana sampai—
BRUKK
"Astaga Ten!"
.
.
.
Playboy's Tale
Bangun tidur tadi Haechan mendapat pesan dari Mark. Katanya ia harus segera bersiap karena lelaki tampan itu akan mengajaknya ke suatu tempat. Haechan sih senang-senang saja, karena semenjak kejadian malam itu dirinya dan Mark menjadi semakin dekat. Selalu chatting, saling mengucapkan selamat pagi dan selamat malam. Sepertinya disini ada yang sedang jatuh cinta dan melupakan rencananya, eh?
Mark datang satu jam kemudian, Haechan telah selesai berisap-siap dan keluar dari apartementnya, menghampiri mobil audy berwarna hitam yang sudah terparkir didepan gedung apartementnya.
"Lama menunggu?" tanya Haechan saat ia masuk ke dalam mobil Mark.
"Tidak juga, hanya 5 menit mungkin?" lelaki tampan itu mulai menjalankan mobilnya. "Kau sudah sarapan bukan? Atau belum?"
"Aku sudah, bagaimana denganmu?"
"Aku juga sudah."
Haechan hanya mengangguk. "Omong-omong kita akan kemana, Mark?"
"Hmm." Lelaki disampingnya terlihat berpikir sejenak sebelum menjawab, "ra-ha-si-a!"
Dengan kesal Haechan memukul lengan Mark, dan kekesalannya bertambah saat mendengar suara tawa itu keluar dari mulut lelaki kebule-bulean itu.
"Diam! Atau aku akan terus memukulmu?!"
"Dan kita akan mati konyol setelah itu?"
Nah. Hanya dengan omongan seperti itu Haechan langsung berubah menjadi jinak. Mark yang melihat itu tidak tahan dan mencubit gemas pipi gembil lelaki manis disampingnya itu.
"Fokuslah menyetir! Aku tidak mau mati konyol."
"Kenapa tidak mau? Kalau kita mati bersama kan rasanya menjadi lebih sweet. Seperti romeo dan juli—ouch! Sakit jangan mencubitku Haechan!"
"Salahmu! Makannya jangan bicara yang tidak-tidak." Haecahn menidurkan jok kursinya dan mengambil posisi yang nyaman. "Aku tudur sebentar, rasanya masih mengantuk sekali. Kau harus fokus menyetir, ingat! Jika ada apa-apa aku bersumpah akan mencekikmu, Mark Lee."
Mark hanya terbahak, tidak habis pikir kenapa lelaki manis disampingnya itu menggemaskan sekakli dengan sifat galaknya? Ia melirik sebentar keara Haechan kemudian mengusak surai merah terang itu dengan lembut.
"Tidurlah yang nyenyak, bayi besar."
Dan Mark benar-benar tidak bisa melunturkan senyumnya. Ah ia sudah membayangkan betapa menyenangkannya nanti saat mereka sudah sampai di tempat yang dituju Mark. Ia harus bisa mengambil hati Haechan, bagaimanapun caranya.
.
.
.
Playboy's Tale
"Sshh."
"Tahanlah sedikit lagi, sebentar lagi kita sampai."
Ten menaruh kepalanya dibahu Johnny sambil sesekali meringis. Saat ini ia sedang berada digendongan Johnny. Jadi kronologinya, tadi sewaktu jogging karena tidak melihat keadaan ia tersandung lubang yang lumayan besar. Akibatnya sekarang kakinya terkilir. Untung ada Johnny yang dengan suka rela menggendong tubuhnya. Coba jika tidak, bagaimana caranya dia pulang?
"Mmm maaf aku pasti berat ya?"
Terdengar suara tawa disana, "tidak sama sekali. Bahkan aku merasa sedang menggendong bocah TK."
"YAH!" Ten memukul pelan kepala Johnny. Bibirnya mengerucut tanpa sadar, membuat Johnny yang sedang menggendongnya dengan gaya bridal menjadi gemas melihat itu.
Selama diperjalanan mereka terlibat beberapa perbincangan kecil. Sepertinya akibta terjatuh sifat keras Ten menjadi melunak sedikit. Sesampainya dirumah Ten, mereka disambut oleh ibu dan adik Ten yang kaget melihat anaknya digendong oleh seorang artis! Tern, adik Ten bukannya menanyakan kabar kakaknya, justru ia malah terbengong melihat Johnny, idolanya sekarang sedang berada dirumahnya.
"Bagaimana kau mengenal Johnny Seo, P'Ten?!"
Ten memandang sinis kearah adiknya. Mereka tengah berada dikamar Ten. Saat ini lelaki mungil bersurai hitam legam itu berbaring dengan nyaman diranjangnya.
"Apa yang terjadi denganmu, sayang?" tanya ibu Ten ketika beliau sampai dikamar anaknya sambil membawa kotak first aid box.
"Aku tidak apa-apa, bu. Aku hanya terkil—akhhh."
"Tahan sedikit, kau ini cengeng sekali!" ibunya sedang mengibati kaki Ten yang terdapat luka kecil. "Sepertinya kita harus ke rumah sakit, kakimu sedikit membengkak."
"Tapi aku tidak bisa berjalan ibuuu."
Ibu Ten mendelik, "ini belum seberapa. Tidak usah kekanakan begitu! Kau tidak malu dengan temanmu itu apa?"
Ten langsung bungkam. Sial ia lupa jika Johnny sedang berada disini! Dengan gerakan slow motion ia mengarahkan pandangannya kearah Johnny yang sedari tadi duduk disudut kamarnya. Ia bisa melihat jika lelaki tinggi itu saat ini sedang tersenyum sangat lebar menampilkan gigi-gigi rapinya.
Lelaki yang lebih kecil itu mendengus, buru-buru mengalihkan pandangannya karena merasa malu. Serius, ia benar-benar kehilangan muka karena ketauan bersifat manja didepan Johnny.
Ibu dan adiknya kembali ke bawah untuk mengambilkan Ten sarapan. Johnny tadi sempat ditawari makan tetapi lelaki asal Chicago itu menolak dengan beralasan jika sebentar lagi ia akan pulang.
Perlahan Johnny berjalan kearah ranjang mendekati lelaki mungil yang menggemaskan itu. bisa ia lihat sekarang Ten sedang menutup matanya entah itu tidur atau pura-pura tertidur.
"Ten, hei?" Johnny mengguncang pelan tubuh kecil itu. dan benar saja Ten langsung membuka matanya dan menatap Johnny dengan dahi yang berkerut.
"Ada apa?"
"Aku akan pulang. Kau cepatlah periksakan kakimu kerumah sakit, okay?"
Ten terdiam sebelum kepalanya mengangguk kaku. Lelaki tinggi nan tampan itu tersenyum, kali ini bukan senyuman menggoda melainkan senyum tulus.
"Kalau begitu aku pergi. Jika ada waktu aku akan menjengukmu lagi."Johnny mengusak lembut surai Ten. Lalu saat ia hendak pergi, lelaki yang lebih kecil menahan tanganya. Johnny mentapanya dengan pandangan bingung. "Ada apa lagi? Kau butuh sesuatu?"
Yang ditanya menggeleng. Ia menggigit bibirnya, ragu untuk mengeluarkan suaranya. Setelah beberapa menit akhirnya ia memberanikan diri untuk membuka suaranya.
"Terimakasih." Cicitnya.
Johnny tersenyum lebar, lalu menggoda lelaki manis itu, "apa? Aku tidak dengar."
"Terimakasih untuk yang tadi." Ulang Ten dengan suara yang agak keras. Johnny mengangguk paham kemudian ia mengeluarkan smirk andalannya.
"Bagaimana jika sebagai tanda terimakasihmu, lusa kau ikut denganku?"
"Kemana?"
"Kencan."
Ten melongo. Bisa-bisanya si Seo ini mengajaknya kencan disaat seperti ini? "Tapi kakiku sedang terkilir kalau kau lupa."
"Tidak masalah. Aku bisa menggendongmu kapanpun dan kemana saja."
Sial, mau alasan apalagi dirinya? Inginnya sih menolak mentah-mentah tapikan Ten juga masih mempunyai malu. Masa ia menolak ajakan orang yang sudah menolongnya sih? Tidak, Ten bukan seorang yang tidak tau diri seperti itu.
"Baiklah. Berdoa saja jika kondisi kakiku sudah lebih baik."
"Oke. Aku tidak sabar untuk lusa nanti. Kalau begitu aku pergi sekarang. Bye mungil."
Tanpa sadar rona merah muncul dipipi gembil Ten. Dirinya menjadi salah tingkah sendiri membayangkan hal apa yang akan mereka lakukan lusa nanti.
.
.
.
Playboy's Tale
"Whoaa pantaaaai!" Haechan berteriak heboh saat ia turun dari mobil. Ia berlari kearah bibir pantai, meninggalkan lelaki yang mengajaknya kesini.
"Kau suka?"
"Eum!"
Tidak ada yang membuka suaranya lagi. Lelaki manis bersurai merah itu tengah asik merentangkan tanganya sambil memejamkan matanya, menikmati angin pantai yang sudah lama tidak dirasakannya.
Mark memperhatikan wajah Haechan dari samping. Ia tersenyum setika melihat betapa indahnya ciptaan Tuhan yang satu ini. Apalagi wajah cantiknya itu sekarang terkena bias matahari, membuatnya terlihat berkali-kali lebih cantik.
"Kau tau Haechan? Kau itu sangat indah."
Haechan membuka matanya, menurunkan tanganya yang sedari tadi ia rentangkan lalu menatap kearah lelaki yang berada disampingnya itu.
"Apa? Kau sedang berusaha menggodaku?"
"Tidak. Aku hanya berbicara sesuai fakta. Ada yang salah?"
"Tentu saja!" Haechan memicingkan matanya. "Asal kau tau saja ya, walaupun kemarin aku bersikap baik padamu, tapi bukan berarti aku percaya akan bualan-bualanmu!"
Mark tertawa, lalu menggelengkan kepalanya. Haechan itu luar biasa unik menurutnya. "Baiklah-baiklah. Sekarang bagaimana jika kita berenang?"
Mata Haechan langsung berbinar, tetapi detik berikutnya ia malah cemberut. "Aku tidak bawa baju ganti. Kau sih tdak bilang jika kita akan kepantai. Jadinya aku tidak membawa persiapan baju."
"Ayolah itu bukan masalah besar." Mark mulai membuka baju dan celananya, menyisakan boxer pendek super ketat berwarna kelabu. Membuat Haechan memekik kaget.
"Dasar bodoh! Kenapa malah membuka bajumu hah?!"
Lelaki tampan yang sudah half naked itu mengangkat bahunya acuh. Aku akan berenang. Ayo cepat lepaskan bajumu juga. Atau kau mau aku yang membuka bajumu?"
Dengan refleks Haechan menggeplak kepala Mark lalu berteriak, "berenang saja kau sana sampai ke tengah laut. Biar kau dimakan hiu sekalian!" setelah mengatakan itu Haechan malah pergi menjauhi pinggir pantai. Lelaki itu malah mencari tempat dibawah pohon kemudian duduk dan bersandar disana.
Mark mau tak mau berenang sendiri. Sedih sekali nasibnya. Niat mau berenang berdua bersama pujaan hati tapi malah ditinggal sendirian. Tidak apa-apa, nanti dirinya akan mencari cara untuk membujuk Haechan agar lelaki manis itu mau berenang bersamanya.
..
Hari sudah senja, saat ini Mark dan Haechan tengah menyantap berbagai macam seafood bakar. Tadi Mark gagal membuat Haechan untuk berenang. Jadilah selesai berenang tadi mereka berdua hanya duduk dibawah pepohonan sambil sedikit berbincang. Dan setelah itu Mark mengeluh lapar lalu dengan baik hatinya Haechan malah memarahinya.
"Siapa suruh berenang dipantai selama berjam-jam bodoh!"
Memangnya apa yang salah? Mark Cuma berenang selama 2 jam saja kok. Mungkin ia merindukan pantai sehingga ia keasikan berenang sambil bermain selancar diantara ombak-ombak yang tidak terlalu besar.
"Setelah ini kita kemana?"
"Hmm," Mark terlihat berpikir, kemudian ia menyeringai. "Kita kesana." Ia menunjuk batu karang besar yang berada dipinggir laut.
Haechan melihat itu dengan pandangan horrornya. "Tidak!"
"Iya, kita harus kesana dan duduk dipuncak paling atas."
"Kau gila?!" Haechan menjerit tanpa sadar. Bagaimana ia tidak menjerit? Jika ingin kesana mereka harus melewati laut dulu, walaupun jaraknya dekat tapi tetap saja ombaknya besar! Jika nanti dirinya terseret ombak bagaimana?!
"Serius Haechan. Kau harus naik keatas sana dan melihat pemandangan dari situ. Aku jamin kau akan labgsung jatuh cinta setelah itu."
"Tapi—"
"Tidak tapi-tapian. Aku mengajakmu kesini itu untuk bermain dengan pantai. Tadi kau tidak mau berenang jadi kau sekaran harus ikut aku kesana. Ayo."
Tiba-tiba saja Mark menarik tangan mungilnya dan berjalan kearah karang yang dimaksud oleh Mark tadi. Haechan yang tangannya ditarikpun mau tidak mau ikut walaupun dalam hati ia mengutuk lelaki tampan dihadapannya itu.
Oke ini sudah gelap, dan sekitaran pantai sangatlah gelap. Mark mengeluarkan ponselnya dengan satu tangannya dari saku celananya dan menyalakan flash dari ponselnya. Tangan satunya lagi masih setia menggenggam tangan mungil Haechan.
"Mark, kita kembali saja ya ya ya? Disini semakin gelap, aku.. aku takut."
"Ada aku disini, kau tenang saja oke?"
Mereka melanjutkan jalannya kembali, beberapa langkah setelahnya mata Mark menangkap bayangan putih yang berada beberapa meter didepannya. Ia menajamkan matanya, melangkah lebih pelan dan hati-hati. Membuat seseorang dibelakangnya mengeratkan peganganya pada Mark.
"Mark..." Bisik Haechan saat ia juga melihat bayangan itu. mark mengisyaratkan untuk diam.
Semakin dekat, ia juga bisa mndengar suara aneh seperti... suara erangan? Apakah hantu mengeluarkan suara seperti itu? saat ia berjarak sangat dekat dengan bayangan tadi, ia mengarahkan flash dari ponselnya kearah bayangan itu dan ia bisa mengerti sekarang.
Itu bukanlah hantu, melainkan seseorang yang sangat dikenalnya tengah bersama satu orang lainnya yang ia kenal juga tentunya. Ia hendak menghampiri kedua orang itu namun suara pekikan dari Haechan membuatnya berhenti.
"OH MY GOD!"
.
.
.
Playboy's Tale
Setelah memakan waktu berjam-jam lamanya, akhirnya mereka sampai ditempat tujuan. Pantai. Setelah berjam-jam suntuk lamanya Taeyong berada didalam mobil bersama si mesum Jaehyun akhirnya ia bisa menyegarkan pikirannya begitu kakinya menapak dipasir. Rasanya sangat menyenangkan sambil tanpa ia sadari dirinya melompat-lompat seperti anak kecil. Jaehyun yang melihat itu tersenyum lebar, tidak menyangka Taeyong yang biasanya galak dan berteriak kepadanya, sekarang tingkahnya tidak jauh berbeda dengan bocah berumur 4 tahun.
"Aku tidak menyangka kau bisa bertingkah seperti bocah."
Taeyong melunturkan senyumnya, ia menatap Jaehyun sinis. "Memangnya kenapa? Jangan mengurusi hidupku!"
Jaehyun berdecak. Mood Taeyong itu benar-benar sesuatu ya? Ia memutar otaknya, lalu dengan cepat ia menggendong Taeyong ala bridal dan membawanya kepinggir pantai.
"YAK! Turunkan aku siala—
BYURRR
Jaehyun melemparkan tubuh Taeyong dan tubuhnya sendiri kedalam air. Taeyong yang tidak memiliki ancang-ancang langsung berdiri sambil mengucek matanya yang kemasukan air laut.
"Jaehyun bodoooh! Jaehyun sialan! Jaehyun brengsek! Mataku perih!" Taeyong hampir menangis saat rasa perih dimatanya tidak kunjung hilang. Jaehyun yang melihat itu bukannya merasa bersalah atau panik tapi ia hanya tertawa. Lalu ia menghampiri Taeyong yang masih sibuk mengucek kedua matanya.
"Uhhh mana yang sakit sini biar si tampan Jaehyun sembuhkan."
Inginnya sih Taeyong menendang tubuh bosnya, tetapi matanya benar-benar tidak bisa terbuka jadi ia hanya diam ketika Jaehyun mengusap matanya dengan sesuatu yang lembut.
"Sudah merasa baikan?"
Taeyong mencoba mengedipkan matanya, rasanya masih perih tetapi sudah tidak terlalu parah karena sesuatu yang Jaehyun usapkan pada matanya tadi.
"Apa itu?"
"Sapu tangan." Jaehyun mengangkat sebuah sapu tangan polos berwarna hitam ditangannya. Taeyong hanya mengangguk lalu mengusap matanya lagi.
"Pakai ini, jangan pakai tanganmu." Lekai bersurai cokelat itu menahan tangan Taeyong yang berada dimatanya lalu memberi sapu tangannya. Dengan cepat Taeyong mengusap matanya dengan sapu tangan milik bosnya.
"Jaehyun?" panggil Taeyong setelah ia selesai dengan matanya.
Ketika Jaehyun menoleh, Taeyong malah menyiramnya dengan air laut.
"Rasakan! Rasakan! Kau harus merasakan bagaimana perihnya saat matamu terkena air garam!"
"Ap—hahaha astaga hentikan itu Taeyong!" ia tertawa sangat keras. Taeyong menyerangnya dengan membabi buta, tidak mengizinkannya untuk menghindar. "Baiklah jika ini maumu, aku akan membalas!"
Dan terjadilah perang air antara Jaehyun dan Taeyong. menciprati diri mereka satu sama lain. Keduanya tertawa bahagia. Lalu Jaehyun berlari menghindari serangan dari lelaki manis bersurai pink itu. Taeyong yang melihat itu dengan cepat segera mengejar Jaehyun sambil tertawa. Entahlah ini seperti anak kecil tetapi mereka menikmatinya.
Butuh waktu beberapa menit untuk mereka bermain kejar-kejaran. Taeyong yang tidak kuat berlari lagi memutuskan berhenti dan berjalan menjauhi air laut. Ia menjatuhkan tubuhnya, berbaring diatas pasir sambil mengatur napasnya.
"Lelah?"
Taeyong membuka matanya, ia bisa melihat Jaehyun duduk disampingnya sambil melihat kearahnya. Ia menganggukan kepalanya lalu tersenyum menampilkan giginya, "ya, tapi aku menyukainya."
Jaehyun terkekeh, ia menidurkan tubuhnya disamping Taeyong. membiarkan panas matahari membakar kulitnya. "Bangunlah sebentar."
Lelaki cantik itu mengerutkan dahinya bingung, tapi ia tetap mengikuti perintah bosnya. Ia mendudukkan tubuhnya dan melihat Jaehyun malah merentangkan sebelah tanganya.
"Tidurlah disini." Ucap Jaehyun sambil menunjuk kearah lenganya dengan wajahnya. Taeyong terlihat ragu sebentar sebelum ia menidurkan tubuhnya diatas lengan Jaehyun.
Mereka terdiam. Taeyong memejamkan matanya merasa lelah setelah bermain air. Kalau dipikir-pikir hari ini ia out of character sekali ya didepan Jaehyun? Ah biarlah hanya hari ini. Taeyong sungguh tidak bisa menahan kesenanganya jika itu sudah menyangkut pantai. Omong-omong soal pantai, ia jadi teringat jika—
"Jaehyun, aku lupa membawa baju ganti!" Taeyong membuka matanya lalu menatap Jaehyun dengan mata yang membulat lucu. Membuat Jaehyun gemas ingin menciumi wajah itu.
"Tidak masalah, kita bisa membelinya."
"Kalau begitu kita harus membeli sekarang! Jika tidak nanti kita masuk angin dan terkena flu."
"Nanti saja. Biarkan seperti ini dulu."
Taeyong menurut. Sekarang gantian Jaehyun yang memejamkan matanya. Ia memperhatikan wajah tampan bosnya itu. kulit putih, hidung mancung, kedua dimple dimasing-masing pipinya, oh—dan jangan lupakan bibir sexy itu. tiba-tiba saja dipikirannya terlintas bagaimana bibir tebal itu menyentuh bibirnya, melumatnya, lalu—
"Aku tau aku tampan. Tapi biasa saja memperhatikan wajahku bisa kan? Atau jangan-jangan kau memikirkan hal yang iya-iya?"
Sial—
"Berisik! Ayo bangun dan kita beli pakaian!"
Dan Jaehyun tidak bisa tidak tertawa melihat tingkah lucu calon kekasihnya.
..
Setelah membeli pakaian, Jaehyun memutuskan untuk menyewa hotel didekat sana. Awalnya Taeyong protes, tetapi akhirnya ia menyetujuinya setelah mendengar perkataan Jaehyun.
"Aku benar-benar butuh istirahat. Aku janji hanya akan tidur sampai jam 5 sore setelah itu kita akan kembali atau jika kau ingin ke suatu tempat aku akan mengantarkanmu."
Saat mengatakan itu wajah Jaehyun memang terlihat lelah, jadi Taeyong menganggukan kepalanya dan disinilah mereka. Disebuah kamar VIP dengan tempat tidur berukuran king size. Didepannya terdapat sofa, ada LED TV, ada kulkas dan masih banyak barang-barang mewah lainnya. Kenapa hanya memesan satu kamar? Karena Jaehyun bilang ia akan tidur sebentar, jika Taeyong ingin bosan ia bisa berjalan-jalan disekitar pantai sementara Jaehyun tidur untuk beberapa jam.
Akhirnya setelah ia memakan beberapa cokelat dari dalam kulkas, ia memutuskan untuk berjalan-jalan disekitar pantai. Sekalian jika ada barang yang bagus ia ingin membelinya.
Tidak terasa hari semakin gelap, ditangan Taeyong terdapat beberapa paper bag. Ia membeli beberapa oleh-oleh untuk Ten dan Haechan. Ia juga membeli beberapa pernak-pernik khas pantai, untuk pajangan dikamarnya ia pikir itu bukanlah ide buruk.
Taeyong kembali ke hotel, ia berjalan menuju kamar yang ditempati Jaehyun. Sesudah membuka kunci, ia masuk kedalam lalu menaruh belanjaanya diatas meja nakas. Ia menghampiri Jaehyun, melihat apakah lelaki itu sudah bangun tapi ternyata tidak. Sepertinya Jaehyun benar-benar lelah terlihat dari tidurnya yang sangat lelap. Tanpa sadar ia tersenyum melihat wajah tidur bosnya. Sangat lucu dan polos berbeda dengan wajahnya jika sudah menggoda Taeyong.
Ia bingung sekarang. Haruskah ia membangunkan Jaehyun? Tapi ia tidak tega , bosnya itu trlihat membutuhkan tidur. Jadi ia memilih untuk kembali ke pantai seorang diri sembari menunggu bosnya bangun dari tidurnya.
Malam hari pantai nampak sepi. Padahal ini masih sekitar pukul 7 malam tapi kenapa tidak ada orang? Taeyong berjalan menyusuri pantai. Gelap sih, tapi matanya masih cukup jernih untuk melihat pemandangan malam hari di pantai.
Ia menghentikan langkahnya, memejamkan matanya menikmati angin pantai menerpa wajahnya. Sekitar lima menit ia tetap pada posisinya, sebelum ia tersentak saat merasakan ada sebuah tangan melingkar dipinggangnya.
Membuka matanya, kemudian ia menoleh kebelakang. "Jaehyun—"
"Biarkan seperti ini dulu, aku mohon."
Suara itu terdengar parau. Bukan seperti orang yang baru saja bangun dari tidurnya, melainkan seperti...
"Jaehyun? Kau menangis?" dengan cepat Taeyong membalik tubuhnya ketika ia merasakan lehernya basah. Jaehyun menangis. Kemudian ia menangkup pipi bosnya itu dan menghapus air mata yang terus mengalir itu. tidak ada isakkan, tetapi ia bisa merasakan kesedihan yang dialami bosnya.
"Ada apa hmm? Jangan menangis." Ucap Taeyong lembut, sambil terus mengusap air mata lelaki yang lebih tinggi darinya itu.
Yang ditanya tidak menjawab, entah apa yang merasuki dirinya, ia mulai mendekatkan wajahnya dengan wajah Taeyong perlahan-lahan, berusaha menggapai sesuatu yang diinginkannya. Ia memejamkan matanya ketika permukaan bibirnya menyentuh bibir tipis milik Taeyong. jaehyun melumat pelan bibir manis itu dengan lembut. Menghisap, menyesap bibir yang membuatnya gila selama belakangan ini.
Ciuman yang tadinya hanya sepihak, kini tidak lagi. Taeyong balas melumat bibir tebal Jaehyun membuat lelaki itu semakin bersemangat meneruskan ciumannya. Jaehyun menggigit bibir bawah Taeyong membuat sang empunya melenguh.
"Enghh.."
Jaehyun melesakkan lidahnya kedalam mulut mungil Taeyong. membelit, menghisap dan mengulum lidah Taeyong. jaehyun memiringkan kepalanya, memperdalam ciuman mereka. Tangannya bertengger dipinggang ramping milik Taeyong, memeluk lelaki manis itu lebih erat. Taeyong mengalungkan tangannya pada leher Jaehyun, kakinya sedikit berjinjit agar lebih memudahkan Jaehyun menguasai bibirnya. Ia meremas rambut Jaehyun saat merasakan tangan lelaki itu mengelus pinggangnya.
"Mmhh.."
Tubuh Taeyong lemas seperti jelly. Untung saja Jaehyun memeluk tubuhnya dengan erat. Ciuman mereka terlepas, namun Jaehyun langsung menelusupkan wajahnya pada permukaan leher mulus Taeyong. kecup, jilat, gigit. Membuat Taeyong mengeluarkan suara yang amat sangat merdu. Membuat Jaehyun keras seketika. Ia harus melanjutkan ini, sebaiknya mereka kembali ke hotel sebelum—
"OH MY GOD!"
"Haechan?!"
"Mark?!"
.
.
.
TBC
Mampus ini panjang bgt yaa. Hampir 4k genk. Padahal niatnya Cuma mau bikin 2k aja tp sepertinya tidak bisa TAT
Btw masih ada yg nunggu ff ini? Hehe sorry for super late update. Aku lagi dlm masa down so yeah begitulah.
Last, review nya please guise? Dan terimakasih buat yg mau rnr untuk ff abalku ini! See u in next chap!
