The Blue Snow
Chapter 1 : Friendzone
by : WandaPark
Pairing : Kim Taehyung/Jeon Jungkook
And Other Cast
Rating : T
Genre : Romance-Comedy, fluff, lil sad
Warning : GS!UKE, typo(s) bertebaran, alur kecepetan, gak jelas.
A/N : Cerita ini pernah aku upload di akun wattpadku dengan cast Kim Mingyu dan OC. Jadi kalo ada yang ngerasa pernah baca, itu cerita aku juga.
BIG THANKS to my lovely readers yang udah mau nyempetin waktu buat ngereview di prologue atau sekedar follow or fav ff abalku ini. Sumpah kalian itu vitamin buat aku ngelanjut ff ini /Big Love/ semoga kalian suka sama chapter 1 ini ya gaes.
Dan inget! ini ff romance-comedy yang banyak adegan fluffnya loh ya. Sadnya sedikit, tapi pasti ada hehe
.
.
.
.
.
Aku berdiri dalam hening. Kepalaku terasa pening sekarang. Kepalaku pening melihat salju-salju putih yang –empat menit yang lalu– melayang-layang di udara. Aku mengabaikan rambut cokelat karamelku yang sekarang dipenuhi oleh butiran-butiran putih. Bahkan syal merah yang kukenakan sudah dipenuhi oleh warna putih. Aku mengabaikan rasa dingin yang mulai menembus baju hangatku dan menusuk tulangku. Sungguh, aku tak peduli dengan semua itu.
Mataku yang masih menatap kosong kembali terfokus. Aku menatap dua orang yang berada dua belas meter di depanku. Dua orang yang aku kenal. Mereka tengah berciuman di bawah pohon sakura yang mulai tertutupi salju. Pandanganku sedikit kabur mengingat salju yang turun sedikit lebat. Aku bersyukur melihat mereka saat salju turun. Mungkin saja air mataku bisa membeku karena hawa dingin ini.
Jeon Wonwoo, sahabatku, dan Kim Mingyu, orang yang kucintai, mereka sedang berciuman. Kebetulan macam apa ini? Sahabatku sendiri berciuman dengan orang yang kucintai.
Aku sedikit merutuk pada diriku sendiri, kenapa aku harus memutuskan untuk mencari udara segar di taman ini?
Mataku masih menatap mereka. Pandanganku semakin kabur, kali ini bukan karena salju yang lebat, tapi karena air mataku yang sudah berkumpul di pelupuk mataku. Aku mendongak, menatap langit biru yang tertutupi awan, menatap salju yang berterbangan. Aku tersenyum, merasakan salju yang hinggap di wajahku. Sensasi dingin langsung menusuk kulitku.
Aku menghela nafas pelan. Menciptakan kepulan asap tipis keluar dari mulutku. "Ah, miris sekali." Aku tersenyum, berusaha mengabaikan air mataku yang sudah meluncur bebas. Sedikit merutuk kenapa hawa dingin bahkan tak bisa membekukan air mataku. "Jangan menangis, Jeon Jungkook. Bertahanlah!"
Aku masih mendongak. Masih berusaha menahan tangisku agar tidak meledak. Kenapa begitu sulit? Kenapa air mataku tidak mau berhenti? Kenapa? Kenapa hatiku begitu sakit? Kepalaku menunduk. Runtuh, runtuh sudah pertahananku. Tangisanku meledak. Aku menangis dengan terisak di tengah taman ini. Aku menangis di tengah salju ini.
"Jangan menangis, hiks, bodoh! Kau akan, hiks, terlihat lemah! Ja, hiks, jangan menangis." Suaraku melemah. Membiarkan air mataku keluar sesuka hatinya.
Isakkanku terhenti dan mendongak ketika tidak lagi merasakan salju yang sedari tadi menerpa tubuhku. Payung.
"Jangan menangis."
Aku menoleh ke belakang ketika mendengar suara husky yang sangat kukenal itu. Seorang lelaki jangkung dengan rambut berwarna cokelat gelap itu berdiri tepat di belakangku. Aku berbalik menghadapnya. Mataku kembali memanas ketika menatapnya. Aku kembali menunduk dan terisak.
"Sudah kubilang jangan menangis," ucapnya lembut dan setelah itu aku merasakan seseorang menarik tanganku dan memelukku.
Aku menangis dengan terisak di pelukannya. "Aku sakit, Taehyung."
Kim Taehyung mengelus punggungku dengan lembut. Menghantarkan ketenangan yang mulai menjalar ke seluruh tubuhku. "Air matamu tak pantas untuk laki-laki sepertinya."
Kim Taehyung melangkahkan kaki panjangnya dengan lebar. Ia merapatkan jaket tebalnya ketika hawa dingin semakin menusuk tulangnya. Iris hitam kelamnya memandang langit yang tertutupi awan. Butiran-butiran salju terus melayang-layang di udara sejak dua menit yang lalu. First snow. Untunglah ia membawa payung untuk berjaga-jaga. Setidaknya jaket kesayangannya itu tak akan terkena salju.
Taehyung menghela nafas pelan. Kepulan asap tipis keluar dari mulutnya. Ia tidak suka salju, namun tidak juga membencinya. Ia tidak suka ketika hawa dingin menusuk tulangnya. Ia tidak suka ketika salju mengotori jaket kesayangannya. Ia tidak suka ketika jalanan menjadi licin. Ia tidak suka ketika uap menutupi jendela rumahnya. Dan masih banyak lagi.
Matanya mengedar. Menatap seluruh pelosok taman yang sedang ia pijaki. Cukup banyak orang yang berlalu-lalang. Namun matanya terpaku kepada seorang gadis yang sedang membelakanginya. Ia menatap gadis yang berada sepuluh meter di depannya. Gadis dengan syal merah di lehernya itu sedang menunduk.
Matanya sedikit memicing untuk memperjelas penglihatannya. Taehyung tersenyum senang. Ia kenal gadis itu, ia tahu betul siapa pemilik bahu kecil itu. Kaki panjangnya segera melangkah menghampiri gadis itu. Baru saja ia akan menepuk bahu sang gadis ketika ia menyadari bahwa bahu gadis itu berguncang pelan. Tangannya kembali ia tarik.
Bahu gadis itu masih berguncang dan terdengar isakan. Taehyung tahu betul gadis itu sedang menangis. Taehyung menatap sekitar. Mencoba mencari tahu apa penyebab gadis itu menangis. Sedetik kemudian ia mengerti. Tepat dua belas meter di depan mereka, ia yakin itu adalah penyebabnya.
"Jangan menangis, hiks, bodoh! Kau akan, hiks, terlihat lemah! Ja, hiks, jangan menangis."
Hati Taehyung terasa teriris mendengar kalimat yang terlontar dari bibir gadis itu. Benar, Kim Mingyu dan Jeon Wonwoo yang tengah berciuman adalah penyebabnya.
Ia segera memayungi gadis itu. Takut kalau-kalau gadis itu akan kedinginan dan terkena demam. Gadis itu mendongak menatap payung miliknya.
"Jangan menangis," ucap Taehyung lembut. Gadis itu menoleh dan berbalik ke arahnya. Rasanya Taehyung ingin meninju wajah si brengsek Kim Mingyu itu ketika melihat wajah gadis itu.
Wajah Jeon Jungkook, sahabatnya sedari kecil, tampak begitu kacau. Dengan rambut yang penuh salju. Mata bulatnya yang sembab. Hidung mancungnya yang memerah. Rasanya tangannya gatal untuk segera melayangkan tinjunya.
Mata Jungkook kembali berkaca-kaca. Tangisnya kembali pecah.
"Sudah kubilang jangan menangis," ucap Taehyung lembut dan segera menarik Jungkook ke dalam pelukannya. Berharap pelukannya dapat menghangatkan gadis yang sangat ia cintai itu.
Jungkook menangis dengan terisak di pelukannya. "Aku sakit, Taehyung."
Tahukah kau bahwa hatiku lebih sakit melihatmu menangis karena laki-laki brengsek sepertinya? Tentu saja Taehyung tak menyuarakan isi hatinya itu. Jungkook hanya menganggapnya sahabat. Orang yang gadis itu cintai adalah Kim Mingyu.
Taehyung mengelus punggung Jungkook dengan lembut. Berusaha menghantarkan ketenangan ke seluruh tubuh gadis itu. "Air matamu tak pantas untuk laki-laki sepertinya."
Taehyung mengulurkan secangkir kopi ke arah Jungkook yang tengah duduk di bangku taman. Tangan gadis itu memainkan zipper jaketnya dengan pandangan kosong. Taehyung menghela nafas. Sudah dari tiga puluh menit yang lalu gadis itu murung.
"Jungkook."
Gadis itu mendongak dan menatap Taehyung. Seolah-olah mengatakan Ah, kau sudah kembali. Tangan Jungkook terulur mengambil kopi caramel macchiato kesukaannya. Taehyung memang selalu tau apa yang ia suka.
Taehyung duduk di samping Jungkook. Tangannya terulur untuk membersihkan salju di puncak kepala Jungkook. Mengelus kepala gadis itu terlampau lembut. Ia menarik kembali tangannya dan memasukkannya ke dalam saku jaketnya. Ia bersandar dan mendongak menatap langit. Salju masih terus melayang-layang sejak kejadian empat puluh menit yang lalu. Mungkin nanti malam akan semakin lebat.
Ia melirik gadis manis yang berada di sampingnya. Gadis itu menggenggam cangkir kopi dengan kedua tangannya. Menyesapnya pelan. Syukurlah. Setidaknya secangkir caramel macchiato dapat sedikit merubah mood gadis itu.
"Sudah merasa baikan?"
Gadis itu menoleh lalu kembali menatap ke depan. Jungkook sedikit menerawang lalu mengangguk ragu. "Mungkin."
Taehyung membenarkan posisi duduknya. Tangannya merapatkan jaketnya ketika hawa dingin kembali menusuk tulangnya. "Bukankah kau sangat suka salju?"
Jungkook mendongak. Matanya menatap salju yang melayang-layang dan hinggap di wajahnya. Sensasi dingin langsung menjalar ke seluruh tubuhnya. "Ya. Aku sangat menyukainya." Ia tersenyum. "Aku suka ketika salju mencair di wajahku. Aku suka ketika jalan dipenuhi oleh salju. Aku suka ketika puncak pohon berwarna putih. Aku suka ketika kepulan asap tipis keluar dari mulutku ketika aku berbicara atau bernafas. Aku suka semua itu. Tapi..." Kepalanya tertunduk, menatap sepatu putihnya. "Tapi kali ini berbeda. Aku sedikit tidak suka ketika salju pertama turun."
Jungkook tersenyum hambar lalu menyesap caramel macchiatonya pelan. Rasa manis mulai menjalar di lidahnya. Ia sangat suka caramel macchiato. Ketika ia menyesapnya dengan cepat, hanya rasa pahit yang akan terasa. Tapi jika ia menyesapnya dengan perlahan, rasa manis perlahan akan menyapa lidahnya.
"Terima kasih."
Dengan cepat kepala Taehyung menoleh ke arah Jungkook. Matanya menatap Jungkook yang masih memandang sepasang sepatu putihnya sembari tersenyum manis. Taehyung mematung, menatap Jungkook heran seakan bertanya untuk apa?
Iris hitam kelamnya kembali bertemu pandang dengan iris cokelat milik Jungkook ketika gadis yang sangat ia cintai itu menoleh ke arahnya. Mata gadis itu membentuk bulan sabit dan kedua ujung bibir tipisnya tertarik ke atas membentuk seulas senyuman yang begitu indah, menampilkan kedua gigi kelincinya. "Terima kasih," ucap Jungkook sekali lagi. "Terima kasih telah hadir saat aku membutuhkan sandaran."
Sepersekian detik, Taehyung kehilangan pikirannya. Seperti ada ribuan kupu-kupu imajiner yang berterbangan menggelitik perutnya. Ia mengerjap, berusaha mengembalikan pikirannya yang sempat kabur. Ia menelan ludahnya dengan susah payah. Matanya masih menatap Jungkook yang tersenyum kepadanya. Oh tidak! Jika ia terus menatap gadis itu mungkin ia tak akan bisa menahan dirinya untuk tidak menangkup kedua pipi chubby gadis itu dan mencium bibir mungilnya yang semerah cherry.
Taehyung segera mengalihkan pandangannya. Matanya mengerjap. Ada sesuatu yang menghentak-hentakan dada kirinya.
Laki-laki itu tersenyum, masih belum menatap Jungkook. Berusaha besikap sebiasa mungkin. Ia memberanikan diri menatap Jungkook dan tersenyum lembut. "Bukankah itu gunanya sahabat?"
CHAPTER 1 END
HALO KAWAN KAWAN READERS YANG SAYA SAYANGI * SAYA KEMBALI SETELAH BEBERAPA HARI RILIS PROLOG :V
Sebenernya gak ngarep ff ini banyak yang baca wkwk gakpapa semua butuh proses yakan wkwk
Mungkin chapter 2 bakal aku publish setelah reviewnya tembus 25+ or 35+ kali ya wkwk
Hai gimana chapter 1nya? Mengecewakankah? Sebenernya sadnya cuma di chap ini sih wkwk di chap depan bakal banyak keributan mereka berdua wkwk dan segala hal yang berhubungan dengan chap ini.
Betewe itu yang penggalan pertama Jungkook POV ya, kesini2 bakal Author POV kok. Aku kurang suka sama sudut pandang orang pertama hahaha.
RnR yuk say * biar semangats nulisnya
Tangerang Selatan, 01 Oktober 2017
WandaPark
