Tittle: The Servant
Cast: Jeon Wonwoo
Kim Mingyu
Others
Genre: yaoi, romance, school life.
Rated: M
Disclaimer: plot ceritanya murni punya Author, Wonwoo juga punya Author.
Summary: Jeon Wonwoo, remaja nakal yang hidup dengan orang tua tunggal, tumbuh dalam asuhan para pelayan, hingga suatu hari, Wonwoo mendapat pengganti pengasuh yang membuatnya semakin liar.
DONT LIKE DONT READ. REVIEW PLEASE.
"mandikan aku."
Dan Mingyu terbelalak. Sementara Wonwoo merasa puas dengan ide nakalnya.
Mingyu sudah selesai mengisi bathub dengan air hangat ruam kuku, dan sudah menuangkan sabun lembut beraroma vanilla.
Sementara Wonwoo, sejak tadi berendam di dalam bathub tanpa sehelai benang pun yang menempel di tubuhnya. Ia melirik Mingyu yang sekarang sedang mengambilkan nya shampo.
"Kim Mingyu, coba kau keramasi aku." Ucap Wonwoo, dengan santai ia menggosok tubuh nya dengan busa.
Mingyu menghampiri, menuangkan shampo beraroma kayu manis dan aloevera di telapak tangannya. Kemudian mengoleskan dan memijat kepala Wonwoo.
Wonwoo tersenyum. Ia memejamkan matanya sambil menyandar. Sudah lama sekali sejak ada yang memandikannya.
Perlahan, Wonwoo merasakan sejuknya air shower mengguyur kepalanya. Beberapa detik berikutnya, Mingyu mulai mengering kan rambut nya dengan handuk kecil.
Wonwoo berbalik, menatap Mingyu dengan tatapan sayunya.
"A-ada apa, Tuan?" Mingyu gelagapan. Dia tak pernah jadi pengasuh sekaligus pelayan pribadi seperti ini.
"Kau sudah punya pacar?" tanya Wonwoo tiba-tiba.
Mingyu mengernyit. Lalu menggeleng pelan. "Belum, Tuan." Jawabnya, masih kelihatan bingung.
"Kenapa, kau kan tampan?" tanya Wonwoo lagi, kali ini dia menggerling nakal.
Mingyu semakin bingung. Ini bukan pertama kalinya ia disebut tampan. Mingyu sering sekali di sebut begitu. Tapi yang dia tak habis fikir adalah, kenapa sejak tadi Wonwoo bertingkah seolah menggodanya? Mingyu menelan fikirannya sendiri. Dia tak mau berfikir macam-macam.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin fokus berkarier." Sahut Mingyu ringan.
Wonwoo berbalik, menatap Mingyu dalam-dalam. Mingyu menaikkan sebelah alisnya. Wonwoo bangkit dari bathub, membiarkan tetesan air mengalir deras dari ujung rambut hingga ujung kakinya.
Sementara Mingyu hanya menatap Wonwoo tak mengerti. Pria itu masih duduk di kursi dekat bathub tadi. Sebuah handuk mengalasi pahanya, bekas menggosok rambut Wonwoo tadi.
Wonwoo melangkah, ia lalu membungkuk. "Bagus, karena kalau kau punya pacar, dia pasti akan sangat cemburu padaku." Ucap Wonwoo, setengah berbisik dengan nada serak.
Wonwoo meraih dagu Mingyu, membuat pria itu mendongak dan menatap matanya heran. Sebelah alisnya kian terangkat. Penasaran dengan apa yang akan dilakukan Wonwoo selanjutnya.
Wonwoo menangkup kedua pipi Mingyu dengan tangannya. Sementara Mingyu mulai terpejam, menikmati suhu dingin yang menjalar dari telapak tangan Wonwoo.
Wonwoo menyeringai. Ia suka sekali mengerjai orang begini.
Wonwoo ikut menutup matanya. Ia kemudian mencium lembut bibir Mingyu. Melumatnya lembut dan menelusupkan lidahnya ke dalam mulut Mingyu. Menuntun lidah Mingyu untuk saling mengulum dan menghisap.
Seberapa jeda terdengar lenguhan dan kecipak saliva. Sampai kemudian, Wonwoo melepas ciumannya. Menyisakan benang saliva yang mengalir di sudut bibirnya.
Mingyu menatapnya tajam dengan sudut bibir terangkat. "Kau sangat nakal, Tuan." Ucap Mingyu.
Wonwoo menggerling. Detik berikutnya dia naik kepangkuan Mingyu. Memeluk lehernya dan menciumi bibir pria itu. Tidak perduli tubuh telanjangnya membuat kejantanan nya bergesekan dengan milik Mingyu yang masih terbungkus rapi oleh celana.
Mereka kembali berciuman. Bahkan lebih panjang dan lebih panas dari yang tadi. Tangan Wonwoo menekan tengkuk Mingyu untuk memperdalam kulumannya. Sementara Mingyu melingkar kan tangannya di pinggang Wonwoo yang terduduk di pangkuannya. Dengan dua kaki yang melilit pinggang Mingyu.
Mingyu melumat dan mengulum lagi, dengan semangat dia mengigit bibir Wonwoo. Membuat pemuda nakal itu mendongak dan melenguh pelan.
"Eungh~" ciuman Mingyu turun ke leher sang tuan. Menyesap dan mengulum leher putih itu menyisakan beberapa bercak yang cukup kentara di sana.
"Tuan, sarapan dan seragam sekolah Anda sudah siap." Terdengar suara ketukan dan seorang maid yang bicara di depan pintu kamar mandi.
Wonwoo melepas pelukannya. Dan turun dari pangkuan Mingyu. Meraih handuk yang sejak tadi ada di tangan Mingyu, melilitkan handuk itu di pinggang nya lalu berlalu begitu saja setelah meleletkan lidahnya pada Mingyu, mengejeknya.
Mingyu menarik seringai nya. "Hm, lebih nakal dari yang kubayangkan, ternyata."
Wonwoo turun dari mobil, dan melangkah santai meninggalkan parkiran. Sampai kemudian dia menyadari sesuatu, Mingyu mengikutinya dari belakang.
Wonwoo menoleh, menatap Mingyu heran. "Sedang apa, kau? Seharusnya kau menunggu di mobil sampai aku pulang sekolah." Ucap Wonwoo, mengernyit heran.
Mingyu menggeleng pelan. "Tuan Jeon Wonbin bilang kalau saya harus mengikuti Anda kemana-mana. Bahkan kedalam gedung sekolah. Dan saya akan menunggu Anda di depan kelas Anda, Tuan." Sahut Mingyu menjelaskan.
Wonwoo berdecak sebal. Memutar bola matanya malas. "Wonbin sialan." Umpat Wonwoo jengkel. Ia berbalik, dan mengabaikan Mingyu.
Sementara Mingyu keheranan dengan tingkah Wonwoo. Tadi Wonwoo bertingkah sangat manja dan kurang ajar seolah mereka sudah sangat dekat. Tapi sekarang Wonwoo bertingkah seolah tak pernah terjadi apa-apa.
Mingyu menyeringai. "Menarik sekali."
Wonwoo berjalan di lorong sekolah tanpa Soonyoung dan Jihoon. Entah kemana kedua temannya itu.
Sepanjang jalan, Wonwoo merasa kalau semua siswa dan siswi yang dilaluinya menatapnya dan berbisik. Wonwoo sudah biasa begitu, ayolah dia adalah pangeran sekolah yang punya banyak penggemar.
Tapi Wonwoo melambatkan langkahnya. Hanya untuk dengan jelas mendengar bisikan para gadis-gadis penggosip.
"Siapa itu yang di belakang pangeran Wonwoo? Pengawalnya? Dia tampan."
"Benar, dia sangat tampan dan muda."
Wonwoo memutar bola matanya malas. Gadis-gadis itu menggunjingkan Mingyu. Dan itu membuatnya mual. Moodnya tiba-tiba memburuk, dan menjadi l buruk lagi saat melihat Guanlin dan teman-temannya datang menghampiri nya.
Guanlin tersenyum lebar-lebar sampai ia terlihat seperti psikopat yang melihat korbannya.
Wonwoo memutar bola matanya malas. Pagi-pagi begini dia sudah dibuat kesal.
"Wonwoo Hyung, mau sarapan bersama ku?" tanya Guanlin, meraih tangan Wonwoo lalu mengecup nya pelan.
Beberapa gadis memekik tertahan melihat adegan itu. Wonwoo justru merasa semakin mual dan dia harus segera pergi dari situ sebelum muntah di wajah pemuda Chinese itu.
Wonwoo menepis pegangan Guanlin dengan sinis. Lalu menggosok tangannya dengan tisu seolah tangannya akan membusuk karena dikecup Guanlin.
Sementara Guanlin tersenyum lebih lebar lagi sampai ke telinganya.
"Menjijikkan, bocah sialan. Minggir dari hadapanku. Mood-ku sedang jelek, bisa saja kau ku hajar sampai semaput!" Wonwoo berdecih dengan angkuh lalu mendorong bahu Guanlin.
"Rose are red, violet are blue. Even the time passed, im always loving you." Guanlin cengengesan setelah mengucapkan gombalan murahnya.
Wonwoo benar-benar mual karena nya. Dia benar-benar ingin muntah sekarang. "Bocah sialan." Desis Wonwoo.
Sementara para gadis-gadis makin heboh mendengar gombalan murahnya Guanlin. Mereka bersorak riuh seperti fujoshi yang melihat momen shipper-nya.
"Red are roses, violet are blue. Get out from my face, im really dont like you!" Balas Wonwoo sinis.
"Wah hyung, wajahmu bersemu!" Tunjuk Guanlin.
Cukup. Sudah. Wonwoo sudah berada di puncak kekesalan nya.
BUAGH!
Dan seperti pagi-pagi sebelumnya, Guanlin kembali mendapat tinjuan dari Wonwoo. Tepat pada rahangnya.
Seketika koridor menjadi hening, gadis-gadis yang tadi heboh melihat adegan itu, mulai mundur perlahan dan menyisakan Guanlin yang masih berdiri kokoh di tempatnya. Dua orang temannya bahkan sudah meninggal kan tempat itu. Mungkin merasa malu atas kelakuan Guanlin.
Wonwoo menatap nyalang pemuda itu. "Balas aku, bocah sialan! Aku lebih suka berkelahi dengan mu dari pada harus setiap pagi begini. Benar-benar menjijikkan." Ucap Wonwoo tajam.
Guanlin tertawa hambar. "Mana mungkin aku sanggup menghajarmu, hyung. Aku benar-benar menyukai mu." Jawab Guanlin. Kembali tersenyum lebar-lebar.
Wonwoo mengepalkan tangannya. "Kau sudah gila, bocah sialan! Mau sampai kapan mengganggu ku begini bangsat?!" Wonwoo setengah teriak saat mengatakannya.
Mingyu yang dari tadi berdiri beberapa langkah di belakangnya hanya menonton adegan itu. Dia ingin lihat bagaimana kelakuan Wonwoo di sekolah yang sebenarnya.
"Aku memang tak pernah waras, Hyung. Kau yang membuat ku gila. Aku akan berhenti mengganggu mu saat kau sudah menjadi pacarku." Sahut Guanlin, masih santai. Dia bahkan menyeringai di ujung kalimatnya.
Wonwoo berdecih. Ia memejamkan matanya sejenak. Kemudian ia berbalik, menarik tangan Mingyu kehadapan Guanlin.
"Aku menyukai pria ini, jadi jangan ganggu aku lagi!" teriak Wonwoo kemudian.
Mingyu mengernyit. Ketika ia akan buka suara, Guanlin menyahut.
"Kau fikir aku percaya? Dia hanya pelayan mu." Sahut Guanlin. Selama beberapa bulan menyukai Wonwoo, ia sudah hafal betul bagaimana kehidupan Wonwoo.
"Kau tak percaya? Lihat ini!" tanpa mengatakan apapun lagi, Wonwoo menarik tengkuk Mingyu dengan kedua tangannya.
Ia lalu mencium dalam-dalam bibir pria itu. Membuat Mingyu terbelalak, dan beberapa gadis yang masih mengintip dari jendela kelas mereka, menganga kaget.
Jeon Wonwoo, berciuman dengan pengawalnya sendiri. Begitu lah yang mereka fikirkan.
Guanlin hanya tertawa melihat adegan itu. Bahkan sampai Wonwoo melepas ciumannya dengan Mingyu, ia masih berdiri di sana.
"Bagaimana? Masih tidak percaya?" Tanya Wonwoo.
Mingyu yang masih keheranan hanya terdiam. Menatap bisu dua pemuda di depannya. Masih tak habis fikir, ini bahkan koridor sekolah dan Wonwoo dengan beraninya berciuman.
"Wah, Hyung. Kau membuatku cemburu." Ucap Guanlin.
Wonwoo menggemeletukan giginya.
"Bocah sial-hmph!"
Kali ini, giliran Guanlin yang meraih tengkuk Wonwoo dan mencium bibirnya. Melumatnya lembut dan mengulum nya beberapa kali.
"TERKUTUKLAH KAU, LAI BANGSAT GUANLIN!" teriak Wonwoo naik pitam.
Guanlin buru-buru lari meninggalkan Wonwoo dengan tawa yang menggema sepanjang koridor.
Wonwoo menarik nafas nya sementara Mingyu di belakangnya menahan tawa. Ia mengerti sekarang, jadi Guanlin ini begitu tergila-gila pada tuannya yang manja dan kurang ajar itu.
"Anda tidak apa-apa, Tuan?" tanya Mingyu kemudian, masih mengulum tawanya.
Wonwoo mendelik. "Kau juga sama saja, sialan!" Umpat Wonwoo, ia lalu segera pergi kekelas nya. Sedangkan Mingyu mengekorinya di belakang.
Benar-benar pagi yang heboh, ditambah lagi, para gadis itu mulai sibuk menyebar rumor.
Cinta segitiga antara pangeran sekolah, berandalan tampan, dan pengawal pribadi.
Wonwoo itu bukan tipe pelajar yang giat. Dia bukanlah orang yang akan dengan tekun mendengar kan gurunya yang sedang mengajar didepan kelas. Justru sebaliknya.
Wonwoo memang terkenal cukup pintar, setidaknya dia masuk peringkat lima besar di kelasnya. Meskipun belajarnya asal-asalan bahkan terkesan tidak niat. Pada dasarnya, Wonwoo itu mudah merasa bosan. Karena itu, dari pada mendengar kan gurunya, dia lebih suka diam-diam membaca komik di balik buku pelajarannya. Atau, menyembunyikan hands-free dibalik rambutnya yang agak gondrong dan menyetel lagu.
Terlebih, Wonwoo duduk di bangku paling belakang dan paling pojok, dekat jendela koridor. Tubuhnya yang tinggi membuatnya mudah untuk menoleh keluar jendela, menatap orang yang melintas di koridor. Sementara teman sebangkunya, Soonyoung, lebih sering ketiduran dengan buku menutupi wajahnya.
Seperti saat ini, gurunya sedang duduk di meja sambil menulis, entah apa. Sedang teman sekelasnya sedang sibuk menghafal tugas yang diberikan guru itu. Wonwoo tak peduli. Persetan dengan hafalan, tiga kali baca juga dia akan langsung hafal. Jadi, untuk apa repot mengulang sampai mulut berbusa.
Wonwoo lagi-lagi melirik ke luar jendela. Melihat Mingyu yang sedang berdiri tegap tak jauh dari pintu kelasnya.
Wonwoo diam-diam tersenyum sambil menerka-nerka.
Apa yang difikirkan Mingyu di sana? Kenapa dia mau di suruh Wonbin berdiri seperti orang dungu begitu? Lalu kenapa Mingyu terlihat lebih tampan saat serius begitu? Lalu, kenapa juga Mingyu mau jadi pengasuhnya di usia semuda itu?
Ada banyak hal. Wonwoo bahkan memikirkan hal-hal tak penting seperti
Kenapa Mingyu diam saja dan menuruti permintaan isengnya tadi pagi? Kenapa Mingyu membalas ciumannya? Dan kenapa juga ia harus memikirkan Mingyu?
Wonwoo menggeleng pelan sambil tersenyum.
"Jeon Wonwoo-ssi, kalau kau hanya akan melamun di kelas ku, ada baiknya kau keluar saja." Tegur guru itu dengan suara tegas.
Wonwoo menoleh, mengangkat kedua alisnya bingung lalu buru-buru tersenyum.
"Maaf, saenim." Gumam Wonwoo.
Guru itu kembali sibuk dengan kegiatannya.
Dan Wonwoo diam-diam kembali melirik Mingyu. Melihat Mingyu, membuatnya teringat akan ciuman tadi pagi. Dan bicara soal ciuman, Wonwoo jadi ingin mencium Mingyu lagi.
Wonwoo memang nakal, tapi entah kenapa wajah tampan Mingyu membuatnya semakin nakal.
Bel istirahat berbunyi nyaring. Wonwoo melangkah keluar kelas bersama Jihoon dan Soonyoung. Ya walaupun Soonyoung berlari lebih dulu ke kantin.
"Wonu-ya, aku pergi ke perpustakaan dulu, ya. Kau duluan saja ke kantin. Nanti aku menyusul." Ucap Jihoon, ketika mereka berada di pintu kelas.
Wonwoo mencebik kan bibirnya. "Oh ayolah~" Rengek Wonwoo.
Jihoon cengengesan. "Aku lupa, kalau ada buku yang harus kupinjam. Untuk tugas makalah." Sahut Jihoon menjelaskan.
Wonwoo cemberut. Jihoon selalu begitu, paling pertama kalau mengerjakan tugas. Wonwoo bahkan tidak tahu kalau mereka punya tugas makalah.
"Aku pergi, Wonu-ya!" Jihoon melambai dan pergi sebelum Wonwoo membalas ucapannya.
Wonwoo menatap malas Jihoon. Ia melirik sekeliling nya. Dan menyadari kalau masih ada Mingyu di belakangnya.
Mingyu yang merasa dilirik, menatap Wonwoo. "Ada apa, Tuan? Mau saya belikan makan siang?" tanya Mingyu, menghampiri Wonwoo.
Wonwoo masih diam di tempatnya. Memikirkan apa yang bisa ia lakukan pada Mingyu. Lalu tiba-tiba ia tersenyum miring.
Wonwoo meraih tangan Mingyu. Lalu membawanya ke suatu tempat.
"Kita mau kemana, Tuan?" tanya Mingyu bingung. Dalam genggaman Wonwoo, ia mulai menerka-nerka apa yang akan dilakukan Wonwoo. Mingyu penasaran.
Wonwoo menyeret Mingyu menaiki tangga. Mereka melewati setiap lantai dan sampai ketika Wonwoo membuka sebuah pintu berwarna biru kusam.
Ternyata, Wonwoo membawa Mingyu ke atap sekolah.
Mingyu mengernyit heran. "Untuk apa kita kesini?" tanya Mingyu bingung.
Bukannya menjawab, Wonwoo justru berjalan ketengah atap gedung itu. Membiarkan rambutnya berterbangan tertiup angin.
Mingyu masih menatap bingung. Wonwoo menoleh, tersenyum lebar dengan begitu tulus sampai hidungnya mengkerut lucu.
Mingyu tertegun sejenak. Pertama kalinya ia melihat Wonwoo tersenyum begitu. Senyum yang benar-benar manis.
Tapi, kalimat Wonwoo berikutnya sungguh berbalik dengan senyum manisnya.
"Jangan bilang pada Wonbin, aku akan bolos di sini." Ucap Wonwoo. Terdengar lucu di telinga Mingyu.
Mingyu menghampiri. "Untuk apa bolos disini? Kenapa tidak sekalian pergi saja?" tanya Mingyu kemudian.
Giliran Wonwoo yang bingung. Pertama kalinya ia mendengar pengasuhnya bilang begitu. Biasanya, Wonwoo akan langsung di tegur, lalu dibawa kembali kr kelas. Atau paling tidak, ia akan di adukan pada Ayah nya.
"Kau tidak akan menyuruhku kembali ke kelas?" tanya Wonwoo heran.
"Tidak. Untuk apa. Kalau kau sendiri tak mau, kenapa aku harus memaksa?" tanya Mingyu balik.
Mereka berdiri bersebelahan. Wonwoo menoleh ke arah Mingyu, menatapnya. Dan begitupun sebaliknya. Mereka saling tatap selama beberapa saat.
Hening. Tiba-tiba saja suasana nya terasa canggung. Dan ide jahil Wonwoo yang tadi lenyap entah kemana. Wonwoo lupa.
"Hngg. . . Kau bisa memanggil ku Wonwoo. Tidak usah terlalu kaku." Ucap Wonwoo sejurus kemudian.
Mingyu menaikkan sebelah alisnya. "Wonwoo-ssi? Wonwoo-ya?" tanya Wonwoo. Memberi pilihan.
"Aku lebih suka opsi kedua." Sahut Wonwoo.
"Baiklah, Wonu-ya." Ucap Mingyu akhirnya. Tersenyum tipis, dengan gigi taringnya menyembul sedikit.
Wonwoo baru menyadari nya. Ia baru tahu kalau ternyata Mingyu punya gigi taring yang lumayan menonjol. Gigi itu kelihatan menyembul ketika Mingyu tersenyum atau tertawa.
"Mingyu, taring mu lucu." Ucap Wonwoo spontan. Tanpa sadar ia terlihat gemas dengan taring Mingyu.
Mingyu tertawa. Kali ini taringnya terlihat jelas. Membuat Wonwoo semakin gemas. Ia merasa ingin mengemut taring itu.
Tunggu dulu, mengemukakan katamu? Heol. Jeon Wonwoo, kau mulai nakal lagi ternyata.
"Lucu apanya? Gigi ya gigi. Tidak lucu sama sekali." Ucap Mingyu setelah tawanya reda.
Wonwoo menggeleng cepat. "Tidak, coba kulihat." Wonwoo menghampiri Mingyu lalu menangkup pipinya.
"Yak, Wonu-ya kau mau apa?" Mingyu berusaha menghindar.
"Cepat perlihatkan! Taringmu itu mengejek ku minta di pegang!" kata Wonwoo gemas.
Mingyu pasrah saja ketika Wonwoo memaksanya membuka lebar mulutnya. Untung nya, tadi Mingyu memakan permen wangi, sehingga nafasnya harum mint dan lemon.
"Ihh~ lihat itu. Aku serasa ingin mencabut nya!" Ucap Wonwoo.
Mingyu meraih tangan Wonwoo yang masih menangkup pipinya. Menurunkan nya. Mereka bertatapan dengan tangan masih menggenggam.
Mingyu mengamati Wonwoo dengan intes. Dia baru sadar kalau Wonwoo sangat manis dari jarak sedekat ini. Sama sekali tidak kelihatan kalau Wonwoo itu manja dan kurang ajar.
"Kau ingin mengemut taring ku, kan?" tanya Mingyu. Seolah membaca fikiran Wonwoo.
Wonwoo mengangguk lucu. "Aku ingin mencabut nya!"
Sekarang gantian Mingyu yang gemas. Serasa ingin mencium Wonwoo. Mingyu bahkan sampai lupa, kalau Wonwoo itu majikannya, bukan pacarnya.
Entah siapa yang mulai memajukan wajah, sekarang jarak mereka kurang dari lima sentimeter.
Wonwoo yang tak sabaran, mengecup duluan yang disambut Mingyu dengan kuluman. Mereka berciuman dan saling memagut satu sama lain. Mengecup dan mengulum. Wonwoo bahkan menelusupkan lidahnya dan menjilat taring Mingyu, iseng.
Mingyu yang gemas balas mengulum bibir Wonwoo bahkan melumatnya tanpa ampun.
Mereka berciuman cukup lama sampai akhirnya, Mingyu menarik wajahnya duluan. Menyisakan raut kecewa Wonwoo karena ia masih ingin bermain-main dengan gigi taring Mingyu.
"Wonu-ya, kau nakal sekali." Ucap Mingyu akhirnya.
Wonwoo menggeleng cepat sampai rambut nya bergoyang lucu. "Aku tidak nakal~"
Mereka asik bercanda dan sesekali saling mengecup satu sama lain, tanpa menyadari kalau ada sepasang mata yang mengamati mereka.
Wonwoo pulang ke rumah setelah ia menyelesaikan kelas tambahan nya bersama Jihoon. Ia tak jadi bolos karena ternyata Mingyu menarik nya kembali ke kelas saat jam masuk berbunyi.
Meskipun setengah kesal, Wonwoo tetap bertahan sampai bel pulang bahkan mengikuti kelas tambahan nya. Walaupun ia menolak untuk bimbel sepulang sekolah.
Wonwoo masuk ke dalam rumahnya dan langsung naik menuju lantai atas, masuk kamar.
Wonwoo melempar tubuhnya ke ranjang empuknya. Lalu tengkurap di sana dengan mata terpejam. Ia melirik jam dinding. Pukul setengah tujuh malam. Ia belum mandi dan tidak mood untuk makan.
"Tuan Wonwoo, tadi Tuan besar bilang bahwa Anda harus sudah mandi ketika dia pulang. Karena akan ada urusan keluarga." Seorang maid menghampiri Wonwoo yang masih tiduran malas di kasurnya.
Wonwoo membuka matanya. "Aku tak peduli. Lagipula kenapa harus melibatkan ku? Sejak kapan dia menganggap aku keluarga nya?" tanya Wonwoo balik. Ia berguling, dan membuat tubuhnya telentang. Melirik sinis maid yang nampak kebingungan menyahut kalimat nya.
"Ta-tapi Tuan, saya-" ucapan maid itu terputus.
Suara pintu terbuka terdengar dan membuat perhatian keduanya teralihkan. Mereka menatap Mingyu yang masuk tanpa mengucap salam.
"Kau harus bersiap-siap, Wonu-ya. Tuan Wonbin akan pulang dalam seperempat jam." Ucap Mingyu.
Maid itu agak kaget mendengar Mingyu yang baru dua hari bekerja tapi sudah berani memanggil Wonwoo dengan menyebut nama, tanpa embel-embel 'tuan' dan semacamnya.
Wonwoo cemberut lalu menggembungkan pipinya. Mingyu mengangguk pada maid itu, memberi kode agar ia keluar. Dan maid itu pun pergi dari hadapan mereka.
Mingyu lalu mengalihkan pandangannya pada Wonwoo setelah maid itu keluar. Wonwoo masih setia malas-malasan di kasurnya. Tidak berniat untuk menuruti ucapan Mingyu sama sekali.
"Kenapa? Kau ingin ku mandikan lagi?" tanya Mingyu, memiringkan kepalanya sambil tersenyum miring.
Wonwoo membalas kalimat Mingyu dengan sebuah kerlingan nakal. Lalu pura-pura tidak menghiraukan Mingyu.
"Ya~ Jeon Wonwoo, aku ini bicara padamu." Mingyu menghampiri, mendekat ke kasur Wonwoo lalu duduk di tepinya.
Wonwoo tersenyum malu-malu menatapnya. Sifat manjanya muncul.
Mingyu tertawa melihatnya. Sok-sokan malu begitu, padahal tadi pagi dia yang menggodaku. Fikir Mingyu.
"Bagaimana?" tanya Mingyu kemudian.
Wonwoo mendudukkan tubuhnya. Lalu merentang kan tangannya ke arah Mingyu. "Gendong~" merengek dengan suara lucu.
Mingyu kembali tertawa. "Kau ini seperti bayi, minta gendong segala." Tapi meskipun berkata begitu, Mingyu tetap menurutinya. Menggendong Wonwoo di depan seperti bayi koala.
Wonwoo memeluk leher Mingyu, lalu menelusupkan kepalanya di ceruk leher Mingyu.
"Kalau aku bayi, kau Daddy-nya~" Ucap Wonwoo manja.
Mingyu membawa Wonwoo masuk kekamar mandi. Ia mulai berfikir kalau ia harus melakukan ini setiap hari, pagi dan sore.
Mingyu tidak keberatan, sih. Toh ini memang pekerjaan nya dan ia cukup senang di repotkan oleh Wonwoo. Oh, ayolah siapa yang tidak suka memanjakan Wonwoo yang menggemaskan begitu.
Diam-diam Mingyu heran pada Tuan besarnya-yang ia tahu dari Jeonghan- yang terkadang menghukum Wonwoo dengan cambuk.
Mingyu menurunkan Wonwoo di bathub yang sudah terisi air hangat. Wonwoo mulai melepaskan pakaiannya sendiri. Sementara Mingyu mengambil sabun cair beraroma vanilla dan membawanya menghampiri Wonwoo.
Mingyu menuangkan sabun itu dan membuat bathub penuh dengan busa.
Wonwoo tersenyum karena tiba-tiba melintas ide jahil di otak nakalnya.
"Mingyu, kau belum mandi ya?" tanya Wonwoo.
Mingyu menatapnya. Mengernyit heran. Tapi Mingyu mengangguk.
"Ya, aku belum mandi." Sahut Mingyu. Tentu saja ia belum mandi, kan sejak pagi ia menemani Wonwoo seharian.
Wonwoo menggerling dan tersenyum jahil mendengar jawaban Mingyu. Lalu tanpa apa-apa, Wonwoo menarik Mingyu agak keras masuk kedalam bathub. Sampai pri itu jatuh terduduk dan membuat cipratan air yang cukup deras.
BYUR!
"Kalau begitu, mandi bersama ku!" Seru Wonwoo semangat, ia lalu tertawa puas melihat Mingyu yang terduduk dengan pakaian basah dan bokong nyeri karena berbenturan dengan dasar bathub. Tidak terlalu sakit sih, tapi cukup untuk membuatnya meringis.
"Ya~ aku tidak bawa baju ganti!" dengus Mingyu, masih mencoba bersabar.
Wonwoo tertawa. "Di lorong ujung lantai ini ada satu kamar pakaian, di sana banyak terdapat pakaian maid dan butler. Kau tidak usah panik begitu!" Ucap Wonwoo ceria. Masih tertawa dengan hidung mengkerut lucu.
Mingyu mendengus lagi.
"Kenapa? Kau ingin pinjam bajuku?" tanya Wonwoo balik.
"Tidak, terima kasih. Cepat mandi dan keluar karena nanti aku yang dimarahi kalau kau terlalu lama." Ucap Mingyu akhirnya.
Tapi Wonwoo lagi-lagi tertawa. "Bagaimana kau mandi dengan setelan utus begitu?" tanya Wonwoo balik. Menunjuk tubuh Mingyu yang masih berbalut pakaian.
Mingyu dengan cepat membuka jasnya, lalu menaruhnya di meja kecil sebelah bathub.
Wonwoo mendekat, ia meraih dasi Mingyu, lalu melepasnya. Sebenarnya hanya ada satu alasan kenapa Wonwoo inisiatif membantu Mingyu melepas pakaiannya, ia ingin melihat otot perut Mingyu.
"Woah~ kau punya abs!" Ucap Wonwoo kagum, melihat tubuh Mingyu yang terbentuk dengan baik. Tidak seperti tubuhnya yang kurus dan kecil.
Mingyu terkekeh melihat reaksi antusias Wonwoo.
"Kenapa, kau juga ingin punya?" tanya Mingyu.
Sementara Wonwoo masih sibuk menekan-nekan abs Mingyu yang terasa mengeras.
Wonwoo menatap Mingyu. Lalu menggeleng pelan.
"Tidak mau? Kenapa?" Mingyu kembali bertanya. Ia benar-benar merasa jadi pengasuh sekarang. Wonwoo terlihat seperti anak kecil yang antusias melihat hal baru.
"Aku tidak suka olahraga." Sahut Wonwoo.
"Ye? Kenapa?" Mingyu keheranan.
"Olahraga membuat ku berkeringat, tubuhku jadi bau~ nanti tidak keren lagi~" Sahut Wonwoo. Persis seperti anak kecil.
Mingyu tertawa mendengarnya. "Kau ini ada-ada saja!"
Tiba-tiba Wonwoo menghentikan gerakan jarinya di permukaan otot perut Mingyu. Lalu mereka saling tatap.
"Mingyu, aku ingin di peluk." Ucap Wonwoo tiba-tiba. Ia menatap Mingyu polos dan agak memelas.
Mingyu heran dengan keinginan random Wonwoo barusan.
"Ya sudah, sini. Peluk." Mingyu merentangkan tangannya.
Tapi Wonwoo justru berbalik memunggunginya, lalu beringsut mundur sampai tubuhnya menempel pada Mingyu. Wonwoo meraih kedua tangan Mingyu dengan tangannya. Lalu melingkar kan tangan kokoh itu di pinggang nya. Wonwoo lalu menyandarkan punggungnya di dada bidang Mingyu.
Rasanya hangat dan nyaman. Entah kapan terakhir kali dia mendapat pelukan itu.
Mungkin, enam tahun yang lalu?
Wonwoo menuruni tangga menuju ruang tamu. Dari tadi Ayahnya sudah ribut menyuruhnya turun. Wonwoo berdecih jengkel dan hanya bisa pasrah menurut dari pada dia kena cambuk.
Kaki Wonwoo yang terbalut celana semi jeans longgar melangkah cepat. Sementara tangannya menarik-narik lengan bajunya sendiri, sampai menutupi telapak tangannya.
"Ada apa-" Wonwoo baru saja hendak bicara, ketika ucapannya di respon Ayahnya.
"Wonwoo, kemarilah. Beri salam pada keluarga Tuan Lai." Ucap Wonbin, tersenyum ramah pada Wonwoo.
Sementara yang di panggil menatapnya heran. Tumben, ramah. Fikir Wonwoo. Ia masih tidak menyadari bahwa ada dua orang asing yang berdiri di depan Ayahnya.
Wonwoo berdehem. Dia sudah berjanji untuk memanggil Wonbin dengan sebutan 'Ayah' saat di depan orang lain.
"Ada apa, ayah. Siapa yang datang?" tanya Wonwoo. Memasang senyum manis meski sebenarnya mual karena harus berpura-pura.
Wonbin meraih Wonwoo dan merengkuh nya kedalam pelukannya.
"Wonwoo ini rekan bisnis Ayah, namanya Lai Yixing, dia datang berkunjung bersama anaknya. Cepat beri salam!" Ucap Wonbin lagi, masih dengan senyum ramah penuh kepalsuan nya.
Wonwoo mengangguk. "Selamat malam, nama saya Jeon Wonwoo~" Wonwoo membungkuk hormat mengakhiri salamnya.
"Selamat malam Wonwoo, kenalkan ini anakku, namanya Lai Guanlin." Sahut Yixing membalas salam Wonwoo.
Wonwoo mengernyit ketika mendengar nama yang tak asing di telinga nya. Ia mendongak. Dan, benar saja.
Di depannya, berdiri Lai Guanlin, bocah sialan yang selalu mengganggunya tiap pagi.
Ck, kenapa dunia jadi sesempit ini? Rutuk Wonwoo dalam hati.
Guanlin tersenyum penuh kemenangan, "Selamat malam, Wonwoo hyung~" kalimat Guanlin terdengar mengejek bagi Wonwoo.
"Lho, kalian sudah kenal ternyata?" tanya Yixing agak kaget.
Guanlin mengangguk. "Kami teman di sekolah, Ayah." Sahut Guanlin menimpali ucapan Ayahnya.
Wonwoo berdecih, teman katanya?
"Wah-wah. Padahal kami baru saja akan mengenalkan kalian. Tapi kalau sudah kenal, kita bisa lanjut acara perjodohan nya." Ucap Wonbin ringan.
Wonwoo menoleh, menatap kaget Ayahnya dengan mata terbelalak.
"A-apa?" tanya Wonwoo pucat.
Sementara Guanlin tersenyum penuh kemenangan.
TBC OR END/?
REVIEWS JUSEYO
P.s. karena mau uas, jadi up dulu :3 btw, ini ff baru dua chapter kok udah aneh aja ya?
