Tittle: The Servant
Cast: Jeon Wonwoo
Kim Mingyu
Others
Genre: yaoi, romance, school life.
Rated: M
Disclaimer: plot ceritanya murni punya Author, Wonwoo juga punya Author.
Summary: Jeon Wonwoo, remaja nakal yang hidup dengan orang tua tunggal, tumbuh dalam asuhan para pelayan, hingga suatu hari, Wonwoo mendapat pengganti pengasuh yang membuatnya semakin liar.
DONT LIKE DONT READ. REVIEW PLEASE.
Wonwoo menunduk dalam dengan aura kelam yang menguat di sekelilingnya. Ia masih berusaha menahan emosinya, untuk tidak memaki Wonbin di depan tamu ayahnya sendiri.
"Jadi, Wonu-ya, seberapa dekat hubungan kalian?" Wonbin berucap sambil menyendok desert nya. Menatap bergilir Wonwoo dan Guanlin.
Sementara Tuan Lai Yixing tertawa kecil lalu ikut menatap keduanya.
Wonwoo masih bergeming dalam kediamannya. Dia masih tak habis fikir bagaimana bisa Ayah nya mengatur hidupnya begini, sedangkan memberinya kasih sayang pun tidak. Wonwoo tak keberatan ia menjalani hidup sebagai anak dari pria itu hanya karena status yang mengikat. Dia tak peduli Wonbin bersikap seperti apapun padanya. Toh, ia hanya butuh sandang pangan papan nya terpenuhi.
Guanlin melirik Wonwoo yang masih terdiam. Ia mengambil inisiatif menjawab pertanyaan Wonbin.
"Kami cukup dekat, Tuan Jeon. Untuk saling mencintai satu sama lain." Ucap Guanlin, meniru dialog yang sering di lihatnya dalam drama. Benar-benar terdengar seperti rayuan murahan.
Wonwoo mengangkat kepalanya. Menatap Guanlin tajam dengan rahang mengeras. Tatapannya sarat akan kebencian.
"Bohong." Gumam Wonwoo.
Seketika suasananya berubah canggung. Yixing dan Wonbin menatap Wonwoo tidak mengerti. Sementara Guanlin masih memasang senyum formalitasnya dengan manis.
"Ada apa, Wonwoo-ya?" tanya Wonbin kemudian.
Wonwoo menggeleng. Ia lalu bangkit. Sudah benar-benar muak dengan kelakuan Guanlin dan Wonbin.
"A-aku ingin kebelakang sebentar, ayah." Ucap Wonwoo. Lalu dengan kaku berbalik dan melangkah cepat meninggalkan meja makan.
Sementara Guanlin mengikutinya dengan tatapan yang tidak dapat diartikan.
Wonwoo melangkah menuju halaman belakang rumahnya. Di sana ada kandang kucing peliharaannya yang sudah lama tidak ia tengok, hanya di urus oleh para maid.
Ternyata, di sana juga ada Mingyu. Yang berdiri menyandar pada tiang penyangga dengan sebuah batang nikotin terselip di sela jarinya.
Ini pertama kalinya Wonwoo melihat Mingyu merokok. Wajah pria itu terlihat santai dengan asap tipis mengepul di sekelilingnya. Entah kenapa terlihat keren di mata Wonwoo.
"Mingyu." Panggil Wonwoo.
Mingyu menoleh, lalu dengan cepat mematikan batang nikotin nya, melempar nya kedalam tempat sampah kecil yang tak jauh dari tempat nya berdiri.
"Ada apa, Wonwoo-ya?" tanya Mingyu, setelah memastikan tidak ada asap rokok di sekelilingnya. Karena kata Jeonghan, Wonwoo itu alergi asap rokok.
Mingyu bahkan langsung mengemut permen mint, yang khusus untuk menghilangkan bau nikotin.
Wonwoo menghampiri Mingyu, lalu tiba-tiba saja melompat ke pelukan pria itu. Mingyu agak terkejut, tapi dengan sigap balas memeluk Wonwoo.
Wonwoo mengeratkan pelukannya, menenggelamkan wajahnya di leher Mingyu. Sedangkan Mingyu balas melingkari pinggangnya.
"Kenapa, hum?" tanya Mingyu kemudian.
Wonwoo menggeleng. "Aku benci Wonbin sialan." Sahut Wonwoo setengah merengek, berbanding terbalik dengan makian yang dia ucapkan.
Mingyu tertawa. "Bukannya pemuda tadi itu pacar mu di sekolah, ya?" Tanya Mingyu, terdengar mengejek bagi Wonwoo.
Wonwoo cemberut. "What the hell. Pacar dari mananya?" Wonwoo berdecih lalu kembali menyamankan dagunya di pundak Mingyu.
Mereka terlihat seperti koala yang menggendong bayi nya.
"Tapi dia tampan, dan seusia dengan mu." Ucap Mingyu, lagi-lagi tertawa. Wonwoo semakin kesal mendengar nya.
Apa-apaan itu? Moodnya sudah buruk atas kelakuan Ayahnya yang seenaknya saja menjodohkan dia dengan musuh utama nya di sekolah. Sekarang, Mingyu terus-menerus mengejek nya. Wonwoo semakin jengkel.
"Aku akan memotong gaji mu kalau kau mengejek ku lagi." Ancam Wonwoo, tapi terkesan merajuk bagi Mingyu.
"Yang menggajiku ayahmu, bukan kau, Wonwoo-ya." Sahut Mingyu, ia merasa gemas melihat Wonwoo yang sedang merajuk.
"Iihhh~" Wonwoo memukul bahu Mingyu, tapi kembali memeluk erat lehernya.
Mingyu mengusap-usap punggung Wonwoo. "Dari pada begitu, kenapa tidak coba menolak pada Ayahmu?" tanya Mingyu serius.
Wonwoo menatapnya. Ia lalu turun dari pelukan Mingyu. Kemudian menggeleng lesu.
Wonwoo menghampiri kandang kucing nya, mengeluarkan seekor kucing Persia lucu berwarna putih dengan corak oranye terang dibeberapa bagian. Menggendong nya. Sepertinya kucing itu habis dimandikan sore tadi, karena bulunya masih wangi sabun.
"Mana bisa aku menolak? Yang ada aku kena cambuk. Ugh, aku benci tinggal di sini." Sahut Wonwoo sedih, mengusap-usap kucing itu.
Mingyu menaikkan sebelah alisnya. Menghampiri Wonwoo yang duduk memangku kucing nya di kursi yang ada.
"Lalu, bagaimana?" Mingyu justru baik bertanya.
Wonwoo menggendikan bahunya. "Kalaupun aku ingin kerumah Taehee, itu sama saja menyebalkan." Sahut Wonwoo acuh tak acuh.
Mingyu mengingat sebentar, sampai kemudian dia sadar bahwa wanita yang dimaksud Wonwoo adalah Kim Taehee, ibunya yang tinggal di luar kota. Dan sudah menikah dengan laki-laki lain.
Mingyu meringis, kehidupan keluarga Wonwoo benar-benar berantakan.
"Kenapa tidak coba jalani saja, dulu?" Ucap Mingyu akhirnya.
Wonwoo menatapnya. Kucing nya turun dari pangkuan Wonwoo.
Wonwoo menggeleng. "Kita tidak bisa mengendalikan hati, Mingyu." Sahut Wonwoo.
Mereka bertatapan cukup lama. Sampai akhirnya bibir mereka bertemu dan saling memagut satu sama lain. Suasana halaman belakang yang tenang dengan iringan suara jangkrik membentuk harmoni, meninggalkan kesan romantis seperti di film-film.
Tapi semuanya hancur karena sebuah deheman tak tahu malu yang menghentikan keromantisan mereka.
"EKHEM!"
Mingyu dan Wonwoo sama-sama terkejut mendengar suara deheman itu. Dikira nya Wonbin yang datang dan memergoki mereka berciuman, ternyata Guanlin berdiri sambil menggendong kucing Wonwoo.
Wonwoo mendelik. Paling tak suka melihat Komu, kucingnya di gendong orang lain. Terlebih lagi orang itu adalah Guanlin.
"Mau apa kau, bocah sialan?" Wonwoo bertanya sinis menghampiri Guanlin. Merebut paksa Komu dari gendongan Guanlin.
"Kau dicari ayahmu, Hyung." Sahut Guanlin ringan.
Wonwoo menggendik lalu masuk duluan sambil menggendong kucing nya. Sementara Guanlin melirik sinis Mingyu sambil merangkul Wonwoo.
Mingyu menaikkan sebelah alisnya. Merasa tertantang dengan tatapan Guanlin.
"Jadi begitu, bocah?"
Wonwoo terbangun dengan wajah kusut atas kejadian semalam. Ia masih tidak bisa terima dengan keputusan ayahnya. Ditambah lagi Guanlin yang berlagak seolah-olah mereka memiliki hubungan dekat, nyatanya, Wonwoo hanya menganggap Guanlin orang paling menyebalkan di sekolah dan makhluk yang paling ingin ia hindari.
Tapi sekarang, ia terjebak dengan status calon tunangannya Guanlin. Wonwoo teringat ucapan Ayahnya semalam.
"Tenang saja Wonwoo-ya, tidak usah terlalu terburu-buru. Karena kalian masih sekolah, kami akan menyusun waktu yang tepat untuk mempersatukan kalian. Sekarang, kalian nikmati saja kebersamaan kalian sampai waktunya tiba." Lengkap dengan senyum manis penuh kepalsuan.
Hanya dengan mengingat nya saja membuat Wonwoo mual.
"Kebersamaan katanya? Cih. Yang benar saja!" Wonwoo menggerutu sambil turun dari kasurnya.
Saking kesalnya, Wonwoo sampai tidak menyadari bahwa Mingyu tidak datang ke kamarnya seperti pagi sebelumnya.
Wonwoo masuk kamar mandi dan membersihkan diri dengan cepat. Mengguyur kepalanya di bawah shower dengan air dingin. Berharap fikirannya bisa sedikit segar.
Setelah mandi, Wonwoo menghampiri wastafel dengan perasaan yang lebih baik, ia meraih sikat gigi dan mulai menggosok giginya.
Tak lama, Wonwoo selesai dengan urusan nya di kamar mandi. Memasuki kamar hanya dengan sebuah handuk melilit pinggangnya. Dan tetesan air mengalir dari ujung rambutnya.
"Wonwoo-ya, ini seragam mu sudah kusiapkan." Kata Mingyu, begitu melihat Wonwoo keluar dari kamar mandi.
Wonwoo menoleh, mereka bertatapan agak lama. Sampai kemudian Wonwoo sadar bahwa Mingyu bukan menatap wajahnya, tapi memperhatikan tubuhnya yang topless.
Mingyu mereguk paksa ludahnya sendiri. Ia lalu membungkuk muka sambil berpura-pura menaruh seragam Wonwoo di kasurnya.
"Apa yang kau lihat, sialan?!" Dengus Wonwoo kesal. Moodnya yang sudah baikan turun lagi. Entah kenapa hari ini dia senewen sekali. Mungkin efek kejadian semalam.
Mingyu menggaruk tengkuknya canggung. "Sudah, kau berseragam saja dulu, aku akan siapkan hairdrayer untuk mengeringkan rambut mu." Ucap Mingyu akhirnya.
Wonwoo acuh. Ia menghampiri kasur lalu meraih kemeja seragam nya. Ketika Wonwoo membuka lipatan seragamnya, tiba-tiba saja sebuah kecoa jatuh ke lantai.
Wonwoo terbelalak kaget. Bisa-bisanya di rumah semegah ini ada kecoa?
"Kim Mingyu bodoh! Dapat dari mana seragam ini? Lihat ada kecoa nya!" seru Wonwoo murka.
Mingyu menoleh bingung, hanya untuk mendapati Wonwoo yang lompat kearahnya karena kecoa itu terbang di udara.
"HUWAAAA!!"
Wonwoo berlari gaduh lalu melompat ke arah Mingyu. Membuat pria itu kaget dan oleng ketika Wonwoo menubruknya.
Brugh!
Mereka terjatuh, dengan tidak elitnya. Dengan Wonwoo yang menindih Mingyu, dan handuk yang lepas dari pinggang nya.
"Kim Mingyu sialan, jahanam terkutuk bedebah!!" Ribuan makian keluar dari mulut Wonwoo bagaikan serentetan peluru. Tak hentinya dia mengumpati pengasuhnya itu.
Mingyu terbelalak kaku dengan ekspresi kaget yang bodoh. Diam-diam ia melirik ke bagian selatan mereka. Dan tawanya hampir saja meledak.
"Apa yang kau lihat, sialan?!" Wonwoo memaki lalu bangun, memakai kembali lilitan handuknya.
Membalikkan badannya dan melirik Mingyu sinis.
"Dasar bodoh!" umpatnya lagi.
Mingyu terkekeh geli. "Sudahlah, toh aku sudah lihat punya mu yang tak seberapa itu." Ucap Mingyu dengan senyum jahilnya.
Wonwoo memejamkan matanya. "Sialan!" desisnya. Ia menghampiri lemari, lalu mengeluarkan pakaiannya.
"Keluar kau, dan bawa kembali seragam sialan itu!" suruh Wonwoo judes. Wonwoo mengatur nafasnya yang naik turun. Lalu memejamkan matanya. Moodnya yang sudah buruk jadi makin memburuk. Rasanya Wonwoo jadi malas kesekolah.
"Baik, Tuan. Maafkan atas kecerobohan saya." Ucap Mingyu formal, ia merasa bersalah dan gemas di saat yang bersamaan dengan tingkah sok judes Wonwoo.
Mingyu meraih kembali seragam tadi, lalu membawanya keluar.
Sementara Wonwoo masih terdiam di depan lemarinya. Setelah Mingyu keluar, Wonwoo menatap sekelilingnya. Memastikan kecoa sialan yang sudah menghancurkan moodnya di pagi hari begini, sudah pergi.
Wonwoo menghembuskan nafas panjang. Lalu mulai berseragam.
Setelah itu, dia menghampiri cermin, mengeringkan rambut dengan handuk ala kadarnya. Malas rasanya untuk sekedar menyala kan hairdrayer. Padahal Wonwoo tipe yang cukup menomor satukan penampilan. Tapi hari ini, dia tak peduli dengan semua itu.
Wonwoo menyisir rambutnya sekenanya. Lalu buru-buru meraih ransel sekolah nya, dan memakai sepatunya seorang diri. Sejak tadi, wajahnya terus ditekuk.
Pagi itu agak mendung, tidak seperti pagi-pagi sebelumnya. Entah kenapa mendung yang menggelayut di langit, seolah menggelayut di wajah Wonwoo juga.
Pemuda itu berjalan murung di koridor sekolah dengan Mingyu yang mengekorinya di belakang.
Tapi meskipun begitu, sepertinya Guanlin tidak paham kalau Wonwoo sedang badmood. Dia tetap menghampiri Wonwoo seperti biasanya.
"Wonu Hyung!" panggil Guanlin, tersenyum lebar-lebar.
Wonwoo mengabaikannya. Bersikap seolah-olah Guanlin adalah makhluk tak kasat mata yang dapat di laluinya begitu saja.
Wonwoo berjalan lesu dan meninggalkan pemuda Taiwan itu, tanpa sepatah kata pun. Dia terlalu malas hanya untuk memberikan tinjuan sebagai balasan atas sapaan Guanlin.
Guanlin mengikuti kepergian Wonwoo dengan tatapan nya, heran. Tidak biasanya Wonwoo begitu.
Guanlin menggaruk tengkuknya canggung. "Apa dijodohkan dengan ku seburuk itu sampai dia jadi kehilangan semangat hidup begitu?" Gumamnya, entah pada siapa.
Ketika jam masih menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi, Wonwoo sudah bosan duduk di bangku nya. Ia hanya merenggut sebal dengan tangan menumpu dagu di meja. Menatap datar guru sejarah yang sedang semangat-semangatnya menjelaskan tentang bagaimana struktur pemerintahan Korea pada era Georyo.
Wonwoo tidak begitu peduli. Ia lebih suka menerawang jauh di kursinya. Memikirkan ide-ide nakal yang sekiranya bisa membuatnya pulang lebih cepat.
Wonwoo melirik Mingyu yang masih berdiri kokoh di tempatnya. Wonwoo berdecak. Entah kenapa saat ini ia kesal karena Mingyu harus membuntuti nya kemana-mana. Tidak seperti Jeonghan yang dengan mudah ia kelabui.
Ketika guru sejarah nya mulai duduk di kursi, Wonwoo mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"Seongsaenim!" ucapnya lantang. Seolah-olah sengaja menarik atensi teman-teman sekelasnya.
Dan benar saja, mereka menatap ke arah Wonwoo. Walaupun detik berikutnya, kembali cuek. Karena mereka tahu Wonwoo itu kadang-kadang agak bertingkah.
"Ya, ada apa Jeon Wonwoo?" tanya gurunya, sambil menatap Wonwoo lurus.
Kelas hening. Dan percakapan Wonwoo dengan gurunya terdengar begitu jelas.
"Perutku sakit karena kebanyakan makan ramyeon. Aku ingin buang air. Izinkan aku ke toilet, saenim." Ucap Wonwoo tanpa ragu.
Beberapa anak perempuan mengulum tawanya. Wonwoo benar-benar terdengar menggemaskan bagi mereka. Sedang para anak laki-laki hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Wonwoo.
"Untung tampan." Bisik beberapa siswi.
"Dia bisa dengan tidak malunya begitu. Karena wajahnya yang tampan." Itu adalah bentuk kedengkian para teman sekelasnya yang tidak setampan Wonwoo.
Sang guru memasang senyum masam. Sebelum berkata singkat. "Ya, jangan lama-lama." Ucapnya, lalu kembali fokus dengan buku-buku tebal di depannya.
Wonwoo tersenyum manis. Lalu membungkuk memberi salam. Sebelum melenggang keluar.
Sementara Soonyoung dan Jihoon saling lirik, mereka tahu kemana tujuan Wonwoo yang sebenarnya kalau dia sudah bertingkah begitu.
Ketika Wonwoo keluar pintu, Mingyu langsung menoleh dan menatapnya.
"Apa? Aku hanya ingin buang air." Sahut Wonwoo ringan. Lalu melenggang meninggalkan Mingyu.
Wonwoo diam saja saat dia tahu Mingyu mengikutinya. Ia justru memasang senyum miring sambil mempercepat langkahnya.
Wonwoo masuk ke dalam bilik kamar mandi. Dia membuka kloset lalu menyalakan air.
Di tengah riuhnya suara air mengalir, Wonwoo mulai memeriksa keadaan. Ia mendongak. Dan senyumnya melebar saat melihat celah untuk nya kabur. Jendela kaca itu memang sempit. Tapi Wonwoo yakin tubuhnya bisa melewatinya.
Maka Wonwoo mulai memanjat kloset dan naik ke dinding pembatas, memijak ventilasi dan mendorong jendela itu hingga terbuka. Wonwoo tersenyum miring. Ia lalu melompat keluar dari jendela itu.
Seperti dugaan nya, jendela itu mengarah ke jalanan belakang sekolah. Wonwoo tersenyum penuh kemenangan.
Ia berdiri di tepi jalan, menyetop taksi dan pergi dari tempat itu.
Wonwoo mematung sejenak sambil menatap datar dua orang di depannya. Itu adalah Taehyung dengan seorang pemuda yang sedang duduk berduaan di kedai es krim. Saling menyuapi dan sesekali melempar tawa.
Wonwoo jadi ragu untuk menghampirinya. Taehyung sedang berkencan. Pantaskah dia mengganggu nya? Wonwoo menggeleng. Maka dia kembali berbalik. Niatnya untuk bolos seharian bersama Taehyung lenyap sudah.
Wonwoo berjalan malas menuju pintu keluar mall itu, sampai sebuah tangan melingkari bahunya.
"Wonwoo Hyung!"
Wonwoo menoleh, dan seketika dia merenggut masam melihat Guanlin yang sedang merangkul nya. Wonwoo bahkan terlalu malas untuk sekedar menepis rangkulan itu.
"Kenapa? Kau ini seperti habis di selingkuhi saja?" tanya Guanlin lagi.
Mereka berhenti melangkah. Wonwoo menatap sekilas lalu membuang pandangannya.
Di selingkuhi? Ya, anggap saja begitu. Selama ini Wonwoo hanya punya Taehyung sebagai 'hyung' kesayangan dari kecil, karena melewati masa kanak-kanak bersama, sebelum akhirnya Wonwoo tinggal bersama Ayahnya.
"Kau bolos, sialan?" Wonwoo mengalihkan pembicaraan. Acuh tak acuh dengan pertanyaan Guanlin tadi.
"Aku hanya mengikuti mu saja. Kau tahu sendiri kalau aku ini suka sekali mengikuti mu." Guanlin tersenyum miring.
Wonwoo berdecih. "Aku bosan di sekolah." Ucap Wonwoo akhirnya. Dia melupakan fakta kalau Guanlin adalah musuhnya. Dia hanya ingin mendapat teman untuk bolos hari ini.
"Bagaimana kalau ke rumah ku? Aku punya video game baru. Ini bahkan belum di rilis di pasaran!" Ucap Guanlin, Menaik turunkan kedua alisnya.
"Dasar pembual. Kalau belum di rilis, dari mana kau mendapatkan nya?" tanya Wonwoo balik.
Guanlin tertawa. "Pamanku seorang pemilik perusahaan game terkenal di Amerika. Dan aku selalu jadi orang pertama yang mencoba game-game buatannya." Sahut Guanlin bangga.
Wonwoo terdiam sejenak. "baiklah! Ayo kita coba main!" Ucap Wonwoo akhirnya.
Guanlin tersenyum lebar-lebar.
"Tuan, Anda tidak apa-apa?" Mingyu mengetuk beberapa kali pintu bilik toilet. Sudah lebih dari lima belas menit dan Wonwoo belum juga keluar dari kamar mandi. Membuat Mingyu cemas, jangan-jangan Wonwoo diare atau bahkan pingsan. Maka Mingyu berinisiatif meminta bantuan pada petugas kebersihan sekolah untuk membukakan pintu toilet itu.
Dan yang di dapat Mingyu, hanya bilik kosong dengan air kran mengalir yang sudah luber kemana-mana.
Mingyu memejamkan matanya. Dia sudah pernah di peringati Jeonghan kalau tuan nya itu suka sekali kabur-kaburan.
"Astaga Jeon Wonwoo, kau ini kemana?" Mingyu buru-buru pergi dari toilet itu.
"Yak! Lai Guanlin! Mengalah padaku! Katanya kau menyukai ku tapi tidak mau mengalah sama sekali!" Wonwoo berdecak sebal sambil terus meneka-nekan stik game nya.
Sementara Guanlin di sebelahnya tertawa terbahak-bahak. Wonwoo terlihat sangat lucu saat ini.
"Game tetap game, Hyung!" Sahut Guanlin.
Beberapa menit mereka masih sibuk menekan-nekan stik game itu. Sampai akhirnya, Guanlin berseru senang.
"Yeah! Aku menang lagi!" dia berseru heboh sambil mengepalkan tangannya di udara.
Wonwoo dengan jengkel meraih bantal sofa yang sejak tadi di peluknya, memukuli Guanlin dengan bantal itu.
"Dasar bocah sialan!" dengus Wonwoo jengkel. Mereka sudah bertanding tiga kali, dan tiga-tiganya Wonwoo kalah.
Guanlin buru-buru meraih bantal itu lalu membawa Wonwoo kedalam pelukannya. "Yah Hyung jangan marah begitu~" Bujuk Guanlin sambil menekan-nekan pipi Wonwoo dengan jari telunjuknya.
Dengan Ketus Wonwoo melepas rangkulan mereka, lalu beralih meminum soda yang ada di dekatnya.
"Hyung, kau lapar?" tanya Guanlin.
Wonwoo melempar stik game nya. Lalu mengangguk antusias. "hu'um!" sahutnya dengan mata berbinar.
Guanlin gemas.
"Ya sudah. Ayo makan." Guanlin menggamit tangan Wonwoo. Dan tanpa sadar mereka berjalan bergandengan menuju ruang makan.
Ketika melewati ruang tengah, tampak Tuan Yixing, ayah Guanlin sedang duduk beristirahat. Sepertinya baru pulang.
"Wah, wah. Bukannya sekolah malah bolos pacaran!" Ucap Yixing, meski wajahnya terlihat lelah, ucapannya hanya gurauan. Dia sudah jengah dengan kebiasaan membolos anaknya, hanya saja, hari ini berbeda. Karena Guanlin membawa Wonwoo ke rumah.
Wonwoo mengangguk sopan lalu memberi salam. Agak canggung dengan kalimat Yixing, maka Wonwoo melepas gandengan tangan mereka.
Yixing tertawa. Dia tahu Wonwoo malu-malu.
"Ish, Ayah! Sudahlah. Aku akan makan siang dengan Wonwoo Hyung, ayo makan bersama!" Ucap Guanlin mengalihkan pembicaraan.
"Ya, ya~ kalian duluan saja. Ayah istirahat dulu. Lagipula Ayah tak ingin mengganggu lunch time kalian." Sahut Yixing, masih berusaha menggoda Wonwoo.
Wonwoo menunduk malu.
"Ayah~" Rengek Guanlin.
Wonwoo diam-diam tersenyum. Baru kali ini dia melihat sisi lain dari Guanlin. Pemuda itu tidak seburuk yang dibayangkan nya. Setidaknya, Guanlin punya hubungan yang baik dengan Ayahnya, tidak seperti Wonwoo. Diam-diam Wonwoo merasa iri.
Guanlin membawa Wonwoo ke ruang makan nya yang luas. Sebuah meja panjang berbentuk elips berada di tengah-tengah, dengan beberapa kursi mengitarinya. Sedangkan diatasnya tersaji berbagai macam hidangan.
Wonwoo meringis. Sama saja seperti di rumahnya, meja makan penuh makanan tapi hanya Wonwoo yang duduk di sana.
"Hyung, duduk di sini." Guanlin menepuk-nepuk kursi di sebelahnya.
Wonwoo tersadar dari lamunan nya. Lalu buru-buru menghampiri Guanlin. Dia sudah benar-benar lupa kalau mereka bermusuhan. Entahlah, hanya saja Wonwoo merasa punya teman.
"Mau makan apa?" tanya Guanlin, meraih piring makan lalu menyendok nasi, menaruhnya di depan Wonwoo.
"Sudah tak apa, aku bisa sendiri." Ucap Wonwoo, mengambil alih sendok yang di pegang Guanlin, lalu tersenyum tipis.
Guanlin tertegun. Ini pertama kalinya dia melihat Wonwoo tersenyum setulus itu padanya.
Wonwoo sudah selesai menyendok menunya, dia bahkan sudah menaruh semangkuk sup ayam di sebelah piring nya.
"Selamat makan~" Ucap Wonwoo ceria. Tapi Wonwoo menyadari satu hal. Ternyata begini rasanya makan bersama di rumah.
Guanlin melirik Wonwoo yang sedang dengan semangat mengunyah makanan nya. Terlihat sangat menggemaskan. Benar-benar berbanding terbalik dengan Wonwoo galak yang selama ini di kenalnya.
Diam-diam Guanlin bersyukur, bisa menghabiskan waktu bersama Wonwoo.
"Dasar bodoh! Menjaga bocah saja kau tak bisa?" Wonbin melempar koran yang tadi digenggamnya ke wajah Mingyu, dan tepat menghantam rahang kirinya.
Mingyu menunduk dalam. "Maafkan saya, Tuan. Saya sudah mencarinya kemana-mana. Tapi dia tidak ada." Sahut Mingyu dengan suara yang dalam.
Wonbin berdecak sebal. "Benar-benar. Anak satu saja bikin repot bukan main. Ku cambuk dia nanti." Gumam Wonbin. Mereguk gelas wine nya. Lalu melempar gelas kosong nya ke sembarang tempat.
Sesaat setelah gelas itu hancur, sebuah panggilan masuk ke ponsel Wonbin yang tergeletak di dekat botol wine nya.
Pria itu meraihnya, berdehem pelan lalu mengangkatnya.
"Halo, Yixing-ssi?"
"Akh, begitu rupanya. Kufikir Wonwoo main kemana, ya tidak apa-apa kalau dia ke rumah mu. Hitung-hitung pendekatan dengan Guanlin."
"Benar, baiklah. Aku mengerti. Maaf merepotkan mu."
"Baiklah, sampai nanti."
Wonbin menaruh ponselnya. Wajah ramahnya hilang dalam sepersekian detik.
"Jemput Wonwoo, dia ada di rumah Yixing." Ucap Wonbin dingin.
"Baik, Tuan. Saya mengerti." Mingyu buru-buru pamit dari tempat itu.
Wonwoo lagi-lagi tertawa mendengar gurauan Guanlin. Mereka sudah selesai makan siang dan sekarang duduk bersama di ruang keluarga, sedangkan Yixing pergi makan siang.
"Hyung lihat, bukankah kucing itu mirip dengan mu?" tanya Guanlin. Menunjuk layar televisi yang sedang menayangkan acara hewan peliharaan.
"Apa sih! Masa aku di samakan dengan kucing!" Wonwoo merenggut. Melipat tangannya di depan dada dengan bibir mengerucut. Merajuk.
Guanlin tertawa. "Tuh, jadi semakin mirip!" Ucap Guanlin pula.
Wonwoo melempar bantal yang di peluknya, dan mengenai Guanlin.
"Tidak mirip!" Ucap Wonwoo sebal.
Mereka kembali bercanda dan bertukar lelucon. Sampai kemudian salah satu pelayan di rumah Guanlin menghampiri mereka, berkata kalau ada seseorang yang datang untuk menjemput Wonwoo.
Sejenak Wonwoo terdiam. Dia tidak mau pulang, kalau pulang pasti dia di marahi Ayahnya.
"Hyung, tidak apa-apa. Tadi Ayahku sudah menelfon ayahmu. Kau tidak perlu khawatir." Ucap Guanlin, seolah membaca fikiran Wonwoo.
Wonwoo menarik nafas. Lalu mengangguk. "Baiklah." Wonwoo bangkit dari duduknya. Lalu berjalan menuju pintu keluar.
Sedangkan Guanlin mengantarnya di belakang.
"Aku pulang dulu, sampai kan salam untuk Ayahmu! Kapan-kapan kita main lagi!" Ucap Wonwoo. Melambai ke arah Guanlin yang tersenyum di terasnya.
"Iya, Hyung! Hati-hati di jalan!"
Wonwoo masuk ke dalam mobil. Dan mendapati Mingyu yang duduk dengan wajah masam.
Mereka berpandangan untuk beberapa saat. Sampai akhirnya Mingyu melajukan mobilnya setelah memastikan Wonwoo memakai sabuk pengaman nya dengan benar.
Sepanjang perjalanan, mereka terdiam. Mingyu yang masih jengkel karena Wonwoo kabur begitu saja, dan Wonwoo yang hanya diam karena merasa mengantuk.
Mingyu melirik keluar jendela, lampu merah sedang menyala. Untuk sejenak Mingyu menarik nafas.
"Seharusnya kau bilang kalau ingin pergi main begitu." Ucap Mingyu, suaranya berdengung menyatu dengan deru ac mobil.
Wonwoo yang setengah mengantuk melirik Mingyu. "Aku tidak akan dapat ijin kalau begitu." Gumamnya. Wonwoo menyandarkan kepalanya, ia merasa benar-benar mengantuk sekarang.
"Tapi kalau begini kau akan kena cambuk lagi!" Ucap Mingyu lagi. Entahlah, Mingyu hanya kesal karena Wonwoo membuatnya khawatir. Mingyu sudah tahu kalau Wonwoo sering di cambuk ayahnya, dan sejujurnya Mingyu tak suka itu. Sebisa mungkin dia ingin menjaga Wonwoo.
Err. . . Kim Mingyu, kau ini kenapa?
"Sudahlah, aku mengantuk." Wonwoo memejamkan matanya dan menyamankan posisi duduknya.
"Ck, kau bilang kau tak suka pada pemuda itu, nyatanya kalian bermain, atau berkencan seharian?" Mingyu masih menatap lurus ke depan.
Wonwoo mendengus. "Yak! Kau ini kenapa. Tutup mulutmu dan biarkan aku tidur!" Seru Wonwoo kesal. Dia merasa kepalanya mulai berdenyut karena kantuk.
"Aku hanya mengkhawatirkan mu, Jeon Wonwoo!" balas Mingyu.
Mereka bertatapan.
Wonwoo menatapnya sinis. "Apa urusan mu, kau itu hanya pelayan."
Dan Mingyu mengutuk dalam hati, bagaimana bisa di mengkhawatirkan orang macam begini?
Mingyu tak peduli lagi. Ketika lampu merah berganti hijau, dengan cepat dia melajukan mobilnya.
TBC or END/?
REVIEW juseyoooo
holaa, aku balik :") aku gatau aku nulis apaan, aku cuma pengen up :") kalian bingung sama alurnya? atau alurnya ngedadak aneh? sama, aku juga :")
