"Apa? Tidak?! Aku menolak."

Sakura menatap Sasuke geram. Gadis itu sudah dibuat kesal dengan beberapa penuturan Sasuke yang sangat kelewat nalar.

"Kau tentu tahu jika kau tak mungkin bisa menolaknya," jelas Sasuke dengan seringai tipis menghiasi. Lelaki itu menatap Sakura dengan ekspresi yang tak terduga.

"Kau jangan bercanda ya, ayam. Mana mungkin aku melakukan itu." teriak Sakura kencang sambil menunjuk-nunjuk wajah Sasuke.

Sasuke mendecih. Ia tak suka ini. Lelaki itu benar-benar tidak suka dengan penolakan. Dalam hal dan bentuk apapun juga.

"Jangan sekali-kali kau menolak perintahku. Atas dasar apa kau menolaknya, hah? Kau pikir karena siapa tanganku harus diperban seperti ini? Karena siapa, kutanya?!" tuding Sasuke tak kalah sengitnya. Sakura yang mendengar penuturan Sasuke barusan langsung menundukkan kepalanya dalam. Dalam hati tentu saja dia merasa kesal karena lelaki yang ada dihadapannya itu selalu mengungkit-ukit hal yang sama.

"Ta-tapi tidak harus selalu kan. Kau pikir aku tak punya hal yang harus kuurus. Kau pikir hanya kau saja yang harus kurawat. Jangan kekanakan!" dengus Sakura tak mau kalah.

"Tch! Memangnya aku ingin tahu masalahmu. Yang kuinginkan hanya satu! Kau-harus-merawatku-dan-menjadi-pembantuku. Senang atau pun tidak." dan kata itu menjadi akhir pembicaraan alot mereka yang hampir memakan lima belas menit di ruang UKS.

Sakura menghentakan kakinya kesal. Sungguh! Uchiha Sasuke memang menyebalkan dan semaunya sendiri. Dan Sakura amat sangat menyesal karena sudah membuat tangan Sasuke harus diperban seperti itu untuk beberapa hari kedepan.

.

~oOOo~

.

Disclaimer; Naruto milik Masashi Kishimoto, dan saya hanya meminjam karakternya saja.

Rated; M (untuk jaga-jaga).

Pair; Uchiha Sasuke - Haruno Sakura.

Warning! OOC, AU, OOT, TYPO(s) dan EYD yang tak sesuai.

Don't like Don't read and happy reading.

.

.

No Flame! Semakin banyak Flame, saya pasti akan semakin 'suka' untuk WAR XD. Oh.. dan saya hanya membutuhkan komentar dan saran yang mampu menunjang kualitas saya dalam menulis cerita.

Ok, Sankyuuuuu~

.

.

.

Setelah kejadian naas yang menimpa Sasuke kemarin, Sakura harus jadi 'pembantu' dari Uchiha Sasuke yang menyebalkan. Meski tak sepenuhnya semua yang terjadi itu kesalahannya, namun tetap saja Sakura merasa bersalah. Dan... jangan lupakan pula insiden ciuman secara sepihak yang Sasuke lakukan padanya. Hal itu mampu membuat Sakura kebakaran jenggot jika mengingatnya. Katakan saja itu sebuah tragedi yang begitu tragis yang mampu membuat Sakura harus menghela nafas beberapa kali dan mengacak rambutnya frustasi. Ohhh... andai saja ini semua hanya mimpi, pasti Sakura beranggapan jika ini adalah mimpi terburuk yang pernah dialaminya.

Lihat saja sekarang, Sakura harus bersabar dengan tingkah Sasuke yang amat sangat menyebalkan dimatanya. Lelaki itu selalu menyuruh Sakura dengan hal-hal yang mampu membuat beberapa maid disana menggelangkan kepalanya heran. Meski dia dicap sebagai pangeran sekolah tapi coba lihat sekarang, apa yang tengah dilakukannya untuk membuat Sakura harus menghela nafas dalam guna menahan emosi yang kapan saja meledak.

"Kenapa menatapku? Kau mulai menyukaiku, eh?"

Sakura mendecih dan melempar senyum meremehkan kearah Sasuke. Lelaki itu pun ikut menyeringai tipis dan menatap Sakura.

"Tch! Bahkan dalam mimpimu pun tak akan mungkin," tutur Sakura tegas. Tak mengindahkan perkataan Sasuke yang jelas-jelas mempersulut api kemarahannya.

"Mungkin sekarang memang belum. Tapi siapa tahu nanti terjadi." Sakura kembali menatap Sasuke dengan mendelik tajam.

Percaya diri sekali dia, begitu pikir Sakura.

Sakura kembali menatap Sasuke, ia sungguh tidak mengerti kenapa lelaki ini bisa menjadi magnet dikalangan gadis-gadis pada umumnya. Benar! Sasuke memang tampan dan memiliki karisma yang siapapun tak mungkin bisa menolaknya. Namun jika sikap dan sifatnya seperti ini, siapa sih yang akan betah berlama-lama berada disisinya.

Sakura menggeram dan menggelutukkan giginya. Saat dia mengingat kembali bagaimana penolakan yang diterima oleh sahabatnya itu, Sakura sungguh sangat marah. Entah kenapa sahabatnya -Shion- pun begitu memuja lelaki ini. Bahkan beberapa gadis lainnya pun ikut melakukan hal yang sama. Apa sih yang membuat Sasuke bisa digilai sampai seperti itu?

Tampan?

Ya, itu memang benar.

Pintar?

Hmm... sepertinya iya. Dia juga bisa bermain basket dan sepak bola dengan sangat lihai.

Karismatik?

Betul! Bahkan siapa saja yang melihat Sasuke ditempat umumpun mampu meleleh seketika.

Tapi masalahnyaaaaa... Sakura sudah terlanjur menyematkan kebencian untuk pemuda emo tersebut. Dan jangan tanya kenapa alasan Sakura memiliki pemikiran dan perasaan seperti itu. Karena tanpa ditanya pun sepertinya sudah sangat jelas jika sejak semula ia sudah tak menyukai Sasuke meski bentuk wajahnya sudah sesempurna itu.

Sakura benar-benar muak dengan sifat Sasuke.

Dia menyebalkan, sok berkuasa, dan seenaknya

Gadis Haruno itu kembali merutuk. Dalam sepanjang hidupnya, ia tak tak pernah dan tak ingin kalau ia harus berurusan dengan bungsu Uchiha. Meski lelaki itu tampan dan digilai sebagian gadis, namun menurut pandangan Sakura sekarang, Sasuke justru terlihat sebagai pangeran gila yang menyebalkan. Dalam hidupnya, Sakura tak pernah sekalipun melakukan pekerjaan seperti ini. Meski diakui jika gadis yang memiliki surai merah muda itu pandai memasak, tapi jika harus Sasuke yang memakannya rasanya Sakura sedikit tidak ikhlas. Ahhh... andai saja masakan itu dimakan oleh Sasori, pasti lain lagi ceritanya..

Begitu Sakura mengingat Sasori, entah kenapa raut muka Sakura berubah. Wajahnya memerah dan tanpa disadarinya ia tersenyum tipis.

"Hari ini kau akan menginap. Ingat! Kau harus menuruti setiap kataku."

Sakura menghela nafas dan mengangguk pelan. Meski ada rasa enggan yang menggerogoti hatinya, tapi sepertinya itu tidak berpengaruh apapun. Sakura tahu sifat Sasuke, mengenal lelaki itu kurang dari seminggu sudah membuat Sakura menyimpulkan jika Sasuke termasuk lelaki yang keras kepala dan tak suka dibantah, dan Sasuke selalu mendapatkan apa yang di inginkannya.

"Haahhh... sampai berapa lama aku harus menuruti semua keinginanmu?" tanya Sakura ragu. Gadis itu menatap Sasuke guna menunggu jawaban yang seharusnya mampu membuatnya bernafas lega.

"Tergantung!"

"Tergantung? Kau tak berniat untuk menahanku berlama-lama kan?" tuding Sakura dengan memincingkan sebelah alisnya tak percaya dengan kalimat menggantung dari Sasuke barusan.

"Untuk apa aku harus menahanmu berlama-lama bersamaku. Aku akan membebaskanmu jika kau berperilaku baik padaku. Didepanku ataupun didepan semua temanmu."

Sakura melotot tak percaya dengan pendengarannya barusan. Apa katanya tadi? Astagaaa! Ini semua pasti mimpi. Sakura mana mungkin akan berperilaku baik terhadap lelaki yang ada dihadapannya saat ini. Apalagi ia harus bersikap baik dihadapan semua teman-temannya. Bahkan ia tak pernah menunjukkan akan kedekatan mereka selama ini.

"Kau menyebalkan!?" Sakura berteriak nyaring dan hal itu sukses membuat Sasuke terkekeh geli menatap gadis merah muda itu.

Saat ini Sakura sedang menyuapi Sasuke dengan apel yang dikupasnya. Sementata Sasuke tengah asyik menontin televisi yang tayangannya tak begitu dimengerti oleh Sakura. Dalam hati Sakura terus merutuki nasibnya yang sangat tidak beruntung ini. Meski semua gadis di Konoha High School ingin sekali bedekatan dengan Sasuke, namun hal seperti itu tidak berpengaruh untuk Sakura. Gadis itu bahkan ingin menjaga jarak sejauh yang dia inginkan. Ohhh... dan ingatkan pula bagaimana tatapan yang diberikan oleh para maid itu untuk Sakura saat ini. Mereka tersenyum tipis dan terkadang terkikik geli melihat dua anak manusia itu yang lebih terlihat sebagai seorang kekasih. Ahhh... andai saja ia tak melukai Sasuke, mugkin Sakura akan tetap dalam hidup tenangnya.

.

.

.

Seperti yang sudah disepakati Sakura dengan Sasuke waktu itu, Sakura benar-benar menginap dirumah Sasuke. Meski pada awalnya ia menolak, namun sepertinya hal seperti itu tidak berpengaruh apapun untuk pemuda emo tersebut. Misalnya saja, pagi ini Sakura sudah menyiapkan sarapan untuk Sasuke. Ia sudah membuat nasi goreng ekstra tomat seperti keinginan Sasuke sebelumnya. Dan tak lupa pula jus tomat yang sudah tersaji apik dimeja makan. Hari ini memang hari libur sekolah. Dan seperti yang sudah diduga, kemarin malam Sakura harus menginap dirumah Sasuke hanya karena lelaki itu bilang jika kedua orang tuanya tidak akan pulang untuk jangka waktu yang tak dapat diprediksi.

Dan pertanyaannya sekarang adalah...

Bagaimana Sasuke bisa meminta izin pada kedua orang tuanya untuk menginap dirumahnya?

Apakah Sasuke tidak merasa takut atau canggung saat meminta izin?

Ataukah ada alasan tertentu yang mampu membuat kedua orang tua Sakura langsung menyetujui keinganan dari Sasuke?

Entahlah! Hanya Sasuke yang tahu bagaimana caranya.

Setelah selesai menghidangkan makanan dimeja, Sakura melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh lewat dua puluh menit. Gadis dengan surai merah muda itu kembali mendengus saat ia tak menemukan lelaki menyebalkan yang sampai saat ini tak segera turun untuk menyantap makanan yang sudah susah payah dibuatnya. Sedikit menggelangkan kepalanya, sepertinya Sakura harus menyusul Sasuke untuk segera sarapan. Ia tak mungkin membiarkan makanan itu mendingin tanpa seorangpun yang menjamahnya terlebih dahulu.

"Dasar manja!" dumel Sakura sambil berjalan kekamar Sasuke.

Setelah sampai tepat didepan pintu bercat biru kelam itu, Sakura menarik nafasnya terlebih dahulu dan kemudian mengetuk pintu itu perlahan.

Tookk... Tookkk... Tooookkk...

Suara ketukan yang cukup kencang itu sepertinya tidak menimbulkan efek apapun pada seseorang yang kini ada didalamnya. Sambil berkacak pinggang, Sakura berteriak memanggil-manggil nama Sasuke berupaya lelaki itu segera bangun dan menyantap hidangan sarapan yang sudah dibuatnya.

Namun seperti itulah Sasuke. Ia sama sekali tak menghiraukan suara ketukan itu dan kembali merapatkan dirinya dengan selimut tebal menghangatkan. Sasuke bahkan bisa menebak siapa yang ada dibalik pintu itu hanya dengan mendengar suara cempreng dari perempuan pemilik surai merah muda tersebut.

"Kalau kau tidak juga bangun, terpaksa aku masuk kedalam." kata Sakura yang mulai kesal dengan sikap Sasuke yang semakin seenaknya itu.

Sakura membuka pintu itu dan lihat apa yang didapatkannya. Lelaki menyebalkan menurut versinya itu banhkan tak menggubris perkataannya sama sekali. Tubuh Sasuke tebungkus rapi dibalik selimut birunya. Sakura mendengus tertahan, tanpa membuang waktu dan energinya dengan percuma, Sakura langsung menghentakkan selimut itu dan tampaklah wajah berisunggut yang terpampang jelas diwajah tampan Sasuke.

"Apa yang sedang kau lakukan, hah?"

Sakura meringis menatap Sasuke dengan bersidekap. "Tentu saja membangunkanmu, bodoh!"

"Tch!"

"Sekarang cepat kau mandi dan segera turun. Aku tak ingin membuang-buang waktuku untuk meladeni pangeran gila sepertimu. Mengerti!"

Sasuke mengusap permukaan wajahnya kasar. Mendapat perlakuan yang sangat menakjubkan dipagi ini sungguh sesuatu. Tak pernah ada dan tak akan ada yang berani untuk membangunkannya seperti ini. Bahkan Kakashi yang sudah lama bekerja dirumah Uchiha pun tak pernah sekalipun membangunkannya seperti ini. Ohh... ingatkan pula beberapa maid yang tak pernah sekalipun melakukan hal seperti itu. Jangankan masuk kedalam kamar Sasuke untuk membangunkannya, para maid itu lebih baik membiarkan majikannya itu tidur daripada melihat sorot mata yang entah kenapa terlihat menakutkan jika Sasuke sudah dalam mode marah. Dan sekarang, dengan menakjubkannya seorang gadis dengan warna rambut yang sangat aneh itu mampu membuat keterbangunan Sasuke yang sungguh luar biasanya. Sedikit mendengus dan perlahan keluar dari kungkungan selimut, Sasuke dengan berat hati mengikuti perkataan Sakura. Seperti biasanya, sebelum dia sarapan pagi ia harus terlebih dahulu menunaikan rutinitasnya yang sangat penting. Mandi...

Setelah selesai mandi dan berbenah diri, Sasuke langsung keluar dengan tubuh fresh yang menyegarkan. Pemuda tampan itu memakai celana jeans dan kaos biru tua yang sanggup menunjang ketampanannya semakin sempurna.

"Ohh... selamat pagi menjelang siang." sindir Sakura sakartis saat seluit matanya menangkap sosok Sasuke didepannya.

"Aku tidak butuh komentar dari gadis sepertimu." Sasuke duduk tepat dihadapan Sakura. Lelaki itu menatap hidangan yang sudah siap tersaji rapi didepannya.

Kini mereka berdua kompak diam. Hanya menikmati sajian yang sudah diciptakan oleh Sakura. Tidak ada yang bersuara. Hanya suara sendok yang berbunyi menghentikan kesunyian yang tercipta.

"Bagaimana rasanya?" setelah menyelesaikan makannya, Sakura langsung menanyakan rasa masakannya pada Sasuke.

"Lumayan! Kau belajar darimana?" tanya Sasuke. Pemuda itu menghabiskan semua nasi goreng tanpa tersisa. Meski masakan yang dibuat Sakura tidak seperti masakan para maidnya yang sudah terdidik itu, tapu menurut Sasuke, masakan yang dibuat gadis didepannya itu sangat lezat. Dan entah bagaimana mengatakannya, sepertinya Sasuke mulai ingin menikmati masakan Sakura kagi suatu saat nanti.

Sakura tersenyum kecil sebelum menjawab pertanyaan Sasuke, "Ibu ku yang mengajarinya sejak aku berusia sepuluh tahun." ungkap Sakura dengan rasa bangga yang ketara jelas.

"Sepertinya aku harus berterima kasih pada ibumu."

"Untuk?"

Sasuke menatap Sakura sekilas sebelum meneguk jus tomat kegemarannya dan setelah itu berujar, "untuk menyelamatkanku dari kematian."

"A-apa? Kematian? Apa maksudmu?!" tanya Sakura terkejut. Gadis itu menatap Sasuke tak percaya.

"Hn... karena kau dilatih ibumu memasak dengan baik!?. Andai saja kau tidak dilatihnya, mungkin saja aku sudah mati saat memakan masakanmu ini." ujar Sasuke dengan seringai andalannya.

Sakura yang mendengar ejekan dari Sasuke langsung bersungut kesal. Entah kenapa Sasuke selalu membuatnya jengkel.

Ohhhh... semestinya Sakura harus kebal dengan ucapan tajam dari lelaki didepannya ini. Sudah sifat Sasuke yang selalu membuatnya kebakaran jenggot setiap saat. Jika dia tidak mengucapkan kalimat sakral seperti itu, sepertinya dunia akan segera berakhir saat ini juga.

Sakura... Sakura...

Sepertinya kau akan semakin terikat dengan Sasuke cukup lama setelah ini.

.

~Living Together~

.

Sakura berjalan dikoridor sekolah seperti biasanya. Pelan namun pasti, bibir mungil itu mengalun merdu dengan irama ceria. Hari ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu olehnya. Hari dimana ia akan bertemu lelaki pujaannya saat pelajaran olahraga nanti. Oh... Astaga, memabayangkannya saja sudah membuat gadis Haruno itu tersenyum manis.

"Ohayou~" sapa Sakura ceria.

"Ohayou, Sakura." jawab Shion.

"Hari yang cerah kan, Shion?" tanya Sakura yang masih girang. Gadis itu menatap langit. Sepertinya hujan tidak akan turun hari ini. Begitu pikirnya.

"Memangnya kenapa? Apa ada yang spesial hari ini?" tanya Shion binggung saat melihat wajah Sakura yang nampak berseri-seri.

Sakura menggeleng dengan gumaman tak jelas. Gadis itu tetap menatap langit sambil menopang dagunya tanpa memperhatikan sahabatnya yang sejak tadi menatapnya curiga.

"Apa ini ada hubungannya dengan Sasori-senpai?"

Refleks, Sakura langsung menatap Shion gugup. Dengan senyum tipis yang terpatri jelas diwajahnya, Shion langsung tertawa membahana melihat ekspresi dari sahabat merah mudanya itu.

"Astaga Sakura, kau tampak seperti orang yang baru pertama kali jatuh cinta. Wajahmu itu benar-benar menggemaskan," Shion mencubit kedua pipi chubby Sakura gemas. Gadis pirang itu langsung tersenyum saat ia melihat raut ketersakitan yang terpampang jelas diwajah Sakura karena ulahnya.

"Kau menyakitiku, bodoh!" dengus Sakura sambil mengusap-usap pipinya.

"Kau memang pantas mendapatkannya."

Sakura menggembungkan pipinya pura-pura kesal. Namun Shion tahu, jika Sakura tak benar-benar kesal terhadapnya.

"Kau sendiri, apa yang membuatmu tampak berbeda hari ini? Kulihat kau memakai lipglosh. Seperti bukan dirimu saja." tuding Sakura dengan alis terangkat. Shion tertawa renyah, gadis itu menyibakkan surai panjangnya dan kemudian berujar.

"Tentu saja. Karena hari ini pangeran sekolah kita akan bergabung dipelajaran olahraga."

Sakura melotot. Apa yang dikatakan sahabatnya tadi? Pangeran sekolah akan ikut bergabung dengan pelajaran olahraga? Oh my... mimpi burukah ini?

"Kau pasti bercanda kan, Shion?" Sakura menatap Shion lekat-lekat, berharap apa yang baru saja didengarnya itu hanya bualan dari sahabatnya semata.

Shion menggeleng, "untuk apa aku bercanda. Kau pikir untuk apa aku harus berdandan semaksimal ini." ungkapnya riang.

Sakura mengela nafas dalam. Gadis itu memijat pelipisnya perlahan berupaya menghilangkn rasa pusing yang tiba-tiba saja menyerangnya.

"Kami Sama... apalagi ini." geram Sakura frustasi.

Gadis itu benar-benar ingin menghilang dari hadapan Sasuke untuk sementara. Mengingat tabiatnya yang suka seenaknya sendiri, Sakura takut jika Sasuke akan melakukan hal-hal yang mampu membuat isi siswa Konoha High Shcool geger seketika. Apalagi untuk mereka para gadis. Membanyangkannya saja sudah membuat bulu kudu Sakura berdiri.

"Oh... sepertinya kita harus segera berkumpul, Sakura. Gay-sensei sudah meniup peluitnya kencang."

Sakura mengangguk pelan sambil dibarengi dengan dengusan tertahan.

...

Shion mengembangkan senyum manisnya sebaik mungkin. Gadis itu masih mengupayakan agar Sasuke menyambut cintanya dengan terbuka. Meski sudah seminggu ini ia jarang sekali melihat sosok jangkung dari pemuda tersebut, namun hal itu tidak membuat Shion menyerah begitu saja. Gadis masih tetap setia menunggu kemunculan Sasuke, bahkan ia tak mengindahkan keberadaan Sakura yang saat ini tepat berada disampingnya.

"Hentikan sikap konyolmu itu, Shion." dengus Sakura tertahan. Gadis itu menggelengkan kepalanya dan mengusap permukaqn wajahnya lesu.

"Ayolah Sakura. Tidak ada satu gadis pun yang mampu menolak pesona yang dimiliki Sasuke. Hanya wanita yang memiliki kriteria buruk saja yang tidak terpikat olehnya."

"Jadi maksudmu aku memiliki kriteria buruk, begitu?" gumam Sakura sambil menatap tajam Shion.

"Aku tidak bilang jika itu kau. Kau sendiri yang mengaku," dengan terkikik geli, Shion menepuk-nepuk pundak Sakura pelan dan kembali berujar, "jangan samapi ada benci dihatimu untuk Sasuke. Tentu kau tahu kan perbedaan benci dan cinta?"

Sakura menarik nafasnya dalam, "kau pikir aku ini anak kecil? Memang dari awal aku tak suka dengannya. Apalagi saat lelaki sok tampan itu menolak cintamu. Dia pikir hanya dia satu-satunya lelaki didunia ini." hardik Sakura sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat saat mengingat kejadian itu.

"Kenapa kau yang marah! Aku bahkan sudah melupakannya. Mungkin kau tidak tahu, tapi aku bukanlah satu-satunya gadis yang dia tolak." ungkap Shion sambil tersenyum tipis.

Sedangkan Sakura yang baru saja mendengar perkataan dari sahabatnya itu terdiam tak berkomentar. Namun dalam hati tentu saja ia bergumam.

"Kalau kau tahu bagaimana sifatnya saat berada dirumah, kau pasti akan menyesal menyukai lelaki model ayam seperti dia."

"Sakura, coba llihat itu." tunjuk Shion saat manik ungunya menangkap bayangan yang tak asing lagi baginya.

Sakura ikut memperhatikan pandangan dari teman pirangnya itu. Namun setelah manik hijau beningnya itu menangkap bayangan itu, tiba-tiba saja ia bergidik tak menentu. Sakura melihat Sasuke yang kini tengah bermain basket dengan Sasori. Emerald beningnya tak bisa luput dari pemandangan itu. Ada sesuatu yang mengganjal dibenak Sakura saat Sasuke dengan serius menatap Sasori dengan seluit mata hitam tajam. Sakura tak pernah melihat mata itu sebelumnya. Tapi sepertinya akan terjadi sesuatu saat seringai itu muncul dibibir Sasuke begitu ia menyelesaikan kalimat demi kalimat yang dikontarkan untuk Sasori.

"Menurutmu apa yang mereka bicaraka. Aku tak pernah melihat ekspresi Sasuke yang seperti itu sebelumnya." kata Shion yang langsung membuat Sakura sadar dari lamunanya.

"Entahlah. Aku sendiri juga tidak tahu," gumam Sakura yang lebih tepatnya untuk dirinya sendiri.

..

TBC

...

Yuhuuuuuu~ aku kembali lagi disini. Hehehehe... Apakah kalian suka dengan Fict ini? Ahhh... Semoga saja iya. Yaa... meskipun cerita ini sudah sering dibuat, namun aku masih suka dengan cerita ala-ala begini. *plak. Ok, sepertinya aku harus banyak bicara disini untuk suatu hal mengenai pertanyaan-pertanyaan yang muncul dikotak Review.

1; Ada yang bilang Fict ini sama persisi dengan Dorama L-DK?

Maaf ya, aku sama sekali tidak tahu dorama tersebut. Jadi, kalau ada yang bilang ini plagiat ataupun itu terserah. Masalahnya cerita ini itu gak ada hubungannya dengan dorama tersebut.

2; Fict ini mudah ketebak alurnya?

Hahahaha... it's oke lah mau ketebak. Aku malah bersyukur dengan itu. Bagaimana kalau kamu buat akun FFN dan agar aku bisa berunding?

Baik! Ada yang mau bilang apalagi tentang Fict ini? Meski sama bukan berarti Plagiat lho. Ada banyak kok Fict yang terkadang sama dengan sebuah adegan, dan masih ada begitu banyak juga Fict yang modelnya seperti ini lalu seperti itu. Bukannya aku tidak suka dengan hal itu, malahan aku sangat bersyukur karena kalian memberi komentar dengan baik ^_^. Well... pesanku cuma satu, kalau bener-bener Fict ini plagiat atau semacamnya, tolong PM aku saja. Nanti dengan senang hati akan kurombak kok. Aku hanya perlu kalimat-kalimat yang bermutu untuk membuatku semakin baik dalam menulis cerita. Jadi, boleh minta kerja samanya kan? Hehehehe...

Dan, ada yang menta adegan Posesif dan protektif Sasuke ya? Ohhhh... kamu tenang saja ya adik, di chap depan bakal aku berikan :-p. Kalau kamu mau, ada kok OS di list ceritaku. Itupun kalau kamu mau baca. #plak *modus.

Shiiiiipppppp... itu saja yang pengen aku sampaikan. Terima kasih untuk kalian yang sudah berkenan memberi komentar dan me-Fav dan me-Follow fict ini.

Kita berjumpa lagi dilain kesempatan.

Salam sayang; Chizuru Mey

Lamongan; 02-12-2014.

Si yu nex taim.

.

.

.