Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto, dan saya hanya meminjam karakternya saja.

Pair: Uchiha Sasuke - Haruno Sakura

Rated: M (untuk jaga-jaga)

Warning! OOC, AU, OOT, TYPO(s), EYD tak beraturan dan isi dari fict ini mengandung kata-kata vulgar. Dianjurkan untuk usia 18+. hehehehe...

.

.

.

Membangunkan sasuke adalah hal yang paling menyebalkan yang pernah di lakukannya. Meski begitu, Sakura harus tetap membangukan lelaki menyebalkan itu. Ia harus menyimpan kekesalannya untuk beberapa waktu. Dengan sedikit berat hati Sakura mengetuk pintu kamar Sasuke dan harus menanggung rasa kesal karena lelaki itu tak kunjung membukakan pintu atau sekedar menjawab. Apakah Sakura harus berteriak? Sepertinya tidak. Pagi ini Sakura tidak dalam mood untuk melakukan itu. Sakura lebih memilih untuk membuka pintu dan berharap jika Sasuke tidak menguncinya. Dan harapannya terkabul. Sasuke tidak mengunci pintunya. Jadi, apakah Sakura harus benar-benar masuk ke kamar Sasuke sekarang? Meski dalam hati Sakura mulai menggerutu kenapa maid yang biasanya membangunkan tuannya itu mendadak sulit ditemui. Yang ada di dalam pikirannya hanya satu, Sakura takut jika sasuke melakukan hal yang tidak senono terhadapnya.

Bukan karena apa, Sakura sungguh sangat tidak rela jika bibirnya atau keningnya menjadi sasaran mulut sih bungsu Uchiha tersebut. Dari awal pertemuan mereka, Sasuke telah dengan lancangnya merenggut bibir ranum Sakura seenaknya. Dan kemarin, dia sudah mencium keningnya. Ohhh... Janga lupakan juga dengan pelukan eratnya itu. Jika mengingat kembali semua kejadian yang Sasuke lakukan, rasanya Sakura hendak melangkah keluar kamar Sasuke tapi ia membatalkan niatnya dan kembali memandang Sasuke yang tidur sambil memeluk guling birunya. Sakura mendekat dan duduk di pinggir ranjang lalu menatap lelaki itu lebih dalam. Wajah yang sama sekali tidak pernah berubah. Sasuke yang sedang tertidur seperti ini sangat manis. Sikap meyebalkannya itu seolah telah raib begitu saja. Wajah yang selalu memperlihatkan seringai itu sekarang terlihat lebih damai. Ia semakin terlihat tampan saat sedang tertidur seperti ini. Begitu pikir Sakura.

Tampan?

Ya... Sakura akui saat ini. Bungsu Uchiha itu sangat tampan dalam keadaan terlelap seperti ini. Seolah-olah kemesuman yang Sasuke lakukan terhadapnya tak pernah terjadi sama sekali.

Sakura mengerjapkan matanya berkali-kali sambil menggelengkan kepalanya pelan. Sepertinya ini bukan waktunya untuk mengungkapkan betapa tampanya Sasuke ketika lelaki itu sedang tertidur. Tujuan utamanya datang ke kamar Sasuke adalah untuk membagunkannya.

"Sasuke, ini sudah siang. Kau mau tidur sampai jam berapa?"

Sasuke tidak bergeming. Ia masih tetap terlelap dan tidak menghiraukan suara Sakura di sampingnya.

Sakura mengeluh dan menggeleng, "Uchiha Sasuke, cepat bangun!"

Kali ini Sasuke menggeliat pelan meski matanya tetap terpejam rapat.

Sambil menghela nafas beberapa kali dan menggelengkan kepala, Sakura sudah mengusahakan untuk membangunkan Sasuke dengan sewajarnya. Namun sepertinya lelaki yang masih berbaring dengan selimut tebalnya itu mempersulit tujuannya hingga Sakura harus berteriak memanggil-manggil namanya bahkan mengguncang-guncangkan tubuh Sasuke kasar. Berharap dengan tindakannya kali ini lelaki itu bisa membuka semili matanya. Tapi Sasuke kelihatannya tak kunjung bangun juga. Bahkan ia tetap tak bergeming sedikitpun.

"Sasuke?"

Degan berkacak pinggang Sakura Mendengus tertahan. Ia sudah kebahisan akal. ini adalah kedua kalinya ia membangunkan Sasuke. Saat pertama kali ia membangunkan lelaki emo itu, Sakura merasa tak serepot ini. Dulu Sasuke langsung beranjak bangun saat selimut hangatnya itu sudah tak membungkus tubuhnya. Dan dalam benak Sakura saat ini ia bertanya. Dengan cara apa para maid itu biasanya membangukan Sasuke?

"Dengar, aku harus bagaimana lagi untuk membangunkanmu. Kau tahu sendiri kalau aku paling malas membangunkanmu. Jadi ku harap kau tak mempersulitku," kali ini Sakura berbicara dengan nada pelan. Gadis itu sudah kehabisan cara untuk membangunkan Sasuke yg sangat keras kepala unttuk membuka matanya.

"Jika kau tak bangun juga, aku aka memaggil maid yang biasanya membangunkan..." belum sempat sakura melanjutkan perkataannya, Sasuke sudah terlebih dahulu menarik lengan sakura dengan kuat dan dalam tempo cepat, tubuhya sudah berada dalam kungkungan Sasuke. yang artinya sudah dibawah tubuh Sasuke. Wajah mereka sangat dekat, deruan nafas dari mereka pun seolah mejadi satu. Dan dalam hitungan kurang dari satu detik, kedua bibir itu bersatu dalam satu ciuman hangat di pagi hari.

"Berisik! itu hukuman yag layak kau dapatkan." Sasuke berkata pelan. Namun obsiadiannya menatap mata emerald Sakura intens. Kemudian Sasuke berbaring di samping tubuh Sakura yang diam terpaku. Melirik tubuh yang ada di sebelahnya, Sasuke langsung menyeringai penuh kemenangan atas tindakan yang baru saja dia lakukan.

Tubuh gadis itu tegang. Tapi bukan dalam artian jika ia tengah megalami kematian sesaat karena tak bergerak juga. Melainkan terlalu syok dengan ciuman singkat yang baru Sasuke berikan. Karena tak kunjung bergerak, dengan inisiatif gila Sasuke, lelaki itu langsung melingkarkan lengan kokoh miliknya dan memungkus tubuh Sakura. Barulah gadis emerald itu mengerjapkan matanya dan menggeliat mencoba melepaskan pelukan Sasuke.

"Jangan bergerak. Aku lelah dan biarkan aku tidur sebentar lagi."

Semua terasa seperti berlalu begitu saja. Sakura yang biasanya selalu membantah perkataan Sasuke kini terdiam. Ia terlihat masih shock atas insiden ciuman yang tidak diduganya barusan. Meski ini adalah ciuman yang kedua kalinya, namun tetap saja jantungnya berdetak tak mau mengikuti irama nafasnya yang teratur.

Sedangkan Sasuke, sepertinya ia tidak benar-benar tidur. Buktinya ia masih bisa mendengar cicitan kecil yang meluncur dari bibir ranum yang baru saja ia kecup. Hampir semalaman penuh Sasuke mengerjakan beberapa dokumen perusahaan yang sengaja kakaknya -Itachi- berikan padanya. Ia sudah menduga sebelumnya jika kakaknya itu akan melakukan hal seperti itu seperti hari-hari sebelumnya. Setiap ia libur sekolah, Itachi pasti akan melakukan hal yang sama. Dan itu sukses membuat ia kelelahan seperti pagi ini.

Sakura mengetahui itu. Ia pernah sekali mempergoki Sasuke yang tidur di atas meja dengan kertas-kertas yang menumpuk rapi di atasnya. Sasuke juga terlihat menghela nafas beberapa kali dan memijat keningnya pelan. Sakura tahu, bahwa perusahaan Uchiha Corp tidak hanya satu, melainkan beberapa cabang yang hampir ada di berbagai pusat kota Tokyo. Untuk sesaat Sakura berpikir; Biarlah saat ini Sasuke kembali tidur.

Waktu seolah terhenti untuk beberapa menit. Kicauan dari mulut Sakura pun berhenti tanpa adanya jawaban dari Sasuke untuk menjawab kekesalan yang Sakura rasakan saat ini. Hanya suara jam dinding yang mengusik indera pendengara mereka. Tidak ada gerakan yang berarti diantara keduanya. Diam... dalam satu peluka hangat.

Dan kali ini Sasuke benar-benar merasa nyaman berada dalam belaian Sakura di surai kelam rambutya. Gadis yang telah mengisi hari-harinya selama beberapa minggu ini ternyata memiliki sisi yg belum pernah Sasuke ketahui sebelumnya. Sakura itu termasuk gadis yang sangat cerewet menurut pandangannya. Ia juga sangat peduli dengan para maid yang di pekerjakannya. Buktinya, ia tak segan-segan membantu mereka jika Sakura memiliki waktu senggang. Dan Sakura juga peduli dengan kondisi yang dimilikinya. Misalnya saja jika ia terlambat makan, maka dengan kecerewetan yang dimiliki, Sakura langsung memarahinya. Kebiasaan Sasuke itu memang tak bisa tolerir. Ia pernah sakit dan hampir di larikan ke rumah sakit karena lambungnya yang bermasalah. Dan semenjak saat itulah Sakura selalu memaksa Sasuke makan tepat pada waktunya.

Saat mengingat itu Sasuke langsung menyeringai dengan mesum adalannya, Sasuke semakin merapatkan tubuhnya dan menempel di dada sakura yg kenyal. Ahhh... jika Sakura yang selalu membangunkannya seperti ini, ia pasti akan merasa senang dalam pelukan Sakura dan kepala yang tepat bertengger di dada Sakura yang empuk. Dan dalam hutungan menit setelah merasakan helaian dari rambut mencuatnya dan fantasi tidur di dada Sakura, Sasuke benar-benar kemabali memejamkan matanya dengan senyum tipis menghiasi wajah tampannya.

Sedangkan Sakura hanya mampu menghela nafas dalam dan mencoba mengontrol detak jantungnya yang semakin berdentum tak karuan. Ia tak pernah seintim ini terhadap seorang lelaki sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya juga Sakura tidur seperti ini. Apalagi kepala Sasuke sekarang tepat berada di belahan dadanya. Rasanya... wajahnya saat ini sudah seperti kepiting rebus yang siap di santab di meja makan. Ohh... ayolahhhh... ini tak seperti yang terpikirkan sebelumnya. Sasuke hanya tidur sambil menempel erat di tubuhnya. Dann.. Sudah! Sasuke hanya melakukan itu. Tidak lebih.

.

.

Living Together

.

.

Sekelompok lelaki berjas serba hitam itu melangkah dengan langkah pelan mengikuti seorang lelaki yang berjalan di depan mereka. Lelaki itu menatap jam berwarna silver di pergelangan tangannya sekilas, dan senyum tipis itu akhirnya keluar dari balik bibirnya.

"Jadi di tempat ini," gumam lelaki itu sambil memasuki kafe Green house yang terlihat ramai oleh para pengunjung.

"Kalian tunggu disini."

Anggukan serempak oleh dua pengawalnya itu menunjukan mereka menuruti ucapanya.

Lelaki yang memiliki surai merah pekat itu berjalan ke dalam dan mengedarkan pandangan. Mata tajam itu melirik setiap sudut kursi yang seharusnya ada seseorang yang sudah menunggunya. Ia berjalan sambil terus mengedarkan pandangannya, dan beberapa detik kemudian, mata itu menemukan sosok perempuan yang tengah menyeruput jus alpokat miliknya perlahan.

"Maaf membuatmu lama menunggu." ucap lelaki itu sambil menatap gadis dengan surai panjang tersebut.

Gadis itu tersenyum sinis dengan bola mata memutar bosan. Sesekali dengusan tertahan keluar dari bibir merah mudanya.

"Ck... aku sudah memperkirakan itu." cibirnya sambil bersedekap tangan.

lelaki itu hanya menyaringai penuh arti. Setelah itu ia duduk tepat di hadapan gadis itu dengan sedikit alis terangkat. Menunggu gadis di depannya untuk mengucapkan beberapa kalimat yang seharusnya mampu membuat dirinya meninggalkan waktu berharganya hanya untuk bertemu dengan gadis kenalannya ini.

Tayuya... gadis dengan surai merah muda itu menatap Sasori dengan mata mendelik tajam. Gadis dengan marga Hasashi itu tahu bahwa lelaki yang ada di hadapannya sekarang pasti tengah menanti-nanti kenapa ia harus menemuinya saat ini juga. Mengingat bahwa Sasori termasuk lelaki yang lebih suka menghabiskan hari liburnya dengan kertas-kertas memuakkan menurut versinya itu.

"Kau tidak memesan minuman lebih dulu?" tanya Tayuya basa-basi yang langsung mendapat gelegan pelan dari Sasori.

"Sebaiknya kita keintinya saja. Kenapa kau mengajakku bertemu disini?" Sasori menatap Tayuya dengan pandangan mengintimidasi. Lelaki itu tahu jika wanita yang ada di hadapannya saat ini memiliki maksud terselubung saat memintanya bertemu.

"Kau tidak berubah. Selalu to the point." cibir Tayuya mengingatkan. "Ini berhubungan dengan Sakura."

Terucapnya nama Sakura membuat Sasori menautkan kedua alisya menjadi satu barisan di kenignya. Lelaki itu menatap penuh tanya pada gadis di hadapannya sekarang.

"Apa maksudmu?"

Seringai khas dari keluarga Hasashi membuat Sasori mendecih. Lelaki itu tak mengerti arah pembicaraan Tayuya sebenarnya.

"Kau mencoba melakukan sesuatu dengan berdalih Sakura di dalamnya?" Sasori menatap Tayuya dengan senyum iblisnya. Gadis yang terlihat tenang dan santai itu memiliki beberapa hal yang tak bisa di anggap reme. Apalagi kalau menyangkut tentang... Dia.

.

.

Living Together.

.

.

Sasuke meguap pelan dan mengerjapkan matanya beberapa kali. Kepalanya sedikit pening namun tak separah beberapa waktu yang lalu. Saat matanya terbuka sepenuhnya, hal pertama kali yang dia lihat adalah kemeja berwarna biru muda yang kancingnya terbuka satu di bagian atas. Sontak membuat belahan dada milik gadis bernama Sakura itu terlihat menggiurkan. Apalagi wajah yang bertetapan langsung dengan dada kenyal itu. Sasuke meneguk ludah tertahan, lelaki itu langsung mendonggak keatas dan memperlihatkan Sakura yang sedag terbuaih oleh mimpi.

Kembali ia menatap dada itu intens. Ia tak pernah tidur seperti ini sebelumnya. Sasuke juga tak pernah merasakan panas menjalar ke seluruh tubuhnya seperti ini.

"Tidak demam..." begitu pikirnya saat meraba keningnya.

Entah apa yang ada di pikirannya sekarang. Lelaki keturunan Uchiha itu hanya menatap belahan dada itu tanpa pergerakan apapun. Kalaupun ia ingin membuka satu kancing bawahnya, maka satu bogeman mentah pasti mendarat dengan indah di balik wajah tampannya.

Dengan sekali pergerakan, Sasuke kembali mengeratkan pelukannya di pinggang ramping Sakura dan membenamkan seluruh wajahnya pada permukaan dada Sakura. Sasuke menghirup dalam-dalam wangi yang menguar dari tubuh Sakura dengan satu tarikan nafas panjang. Wangi yang memabukan. Itulah kalimat yang Sasuke sematkan pada wangi tubuh Sakura.

Hingga beberapa menit berikutnya, tubuh dalam dekapannya itu menggeliat tak nyaman saat belahan dadanya merasakan deruan hawa panas yang tiba-tiba menjalar. Sontak saja membuat iris bening itu terbuka cepat.

Sasuke yang menyadari pergerakan Sakura tersebut tak berniat untuk melonggarkan pelukannya, lelaki itu bahkan berani menghembuskan deruan nafasnya pada belahan dada Sakura berulang-ulang kali. Hal yang langsung membuat tubuh Sakura tegang seketika. Gadis itu langsung melihat kebawah yang saat ini wajah Sasuke sukses menempel di permukaan dadanya dengan sempurna.

Sakura membuka mulutnya dan bermaksud berteriak. Namun sebelum satu kata keluar dari bibirnya, Sasuke lebih dulu mengintrupsi.

"Sekali saja kau berteriak, aku akan membuka seluruh kancing kemejamu sekarang juga." Sasuke menatap Sakura yang kini menatapnya dengan horor. Gadis dengan surai merah muda itu langsung mendengus kesal mendengar perkataan Sasuke.

"Kau lelaki mesum!" Ucap Sakura dengan menaikan satu oktaf suaranya. Sesekali ia menggeliat berusaha melepaskan diri dari kungkungan Sasuke padanya.

Sasuke tak menggubris perkataan Sakura sama sekali. Lelaki itu bahkan dengan berani membuka satu kancing milik Sakura dengan gerakan cepat.

"A-apa yang kau lakukan, haahhh?" kali ini suara Sakura terbata sekaligus gugup saat melihat tindakan Sasuke.

"Kau berisik sekali. Aku lelah dan aku butuh istirahat. Dan kau berteriak dan mengataiku mesum." hardik Sasuke tak kalah sengitnya. Namun hal itu tidak berdampak apapun pada Sakura. Gadis itu mengabaikan perkataan Sasuke dan kembali berkata.

"Kau memang mesum! Lihat, apa yang sedang kau lakukan sekarang! Dasar mesum. Ayam jelek. Kau memang... Heeeeeeeeiiiii."

Kembali Sakura berteriak saat Sasuke kembali membuka kancing kemejanya untuk kesekian kalinya. Sudah tiga kancing yang terbuka dan itu tandanya jika bra berwarna hitam miliknya sudah terpampang jelas.

"Apa yang sedang kau lakukan! Berani-beraninya kau!" desis Sakura marah.

Sasuke hanya mengernyitkan alis dan berpura-pura tidak melakukan apapun. Lelaki itu bahkan tidak merasa terganggu dengan tatapan penuh kematian yang Sengaja Sakura berikan padanya.

"Sudah kukatakan jangan berisik!" gumamnya pelan.

Sakura menarik nafas dalam-dalam. Dan menatap Sasuke yang juga menatapnya dengan mata kelamnya.

"Aku tidak akan berteriak kalau kau tidak membuka kancing kemejaku seperti ini." Sakura bersuara pelan. Dengan melirik kemejanya yang sudah memperlihatkan belahan dadanya sekaligus bra hitam miliknya.

Sasuke mengikuti arah pandang Sakura dan kembali menelan ludah susah payah. Melihat pemandangan seperti ini membuat gejolak dalam dirinya bergerak liar.

"Apa yang kau lihat." sinis Sakura saat obsidian itu ikut menatap dadanya.

"Apa? Kau keberatan dengan ini." Sasuke menatap Sakura dan mendengus.

"Tentu saja! Kau mana boleh melihatnya." gerutu Sakura.

"Tch..."

"Minggir, aku harus bangun dan membenarkan pakaianku!" Sakura kembali berucap tanpa respon Sasuke sedikitpun.

Sasuke tetap diam tak menyaut. Lelaki itu masih menatap dada Sakura dan kemudian membenamkan kembali wajahnya disana. Sontak membuat Sakura terperanjat kaget dan mencoba melepaskan diri dari Sasuke.

"SASUKE..." Sakura berteriak nyaring. Berharap Sasuke mendengarnya.

"Kubilang jangan berisik." Sasuke menatap Sakura yang wajahnya

"Kalau kau tak ingin aku berisik, lepaskan aku dan biarkan aku pergi. Setelah itu kau akan menerima kedamaian yang kau inginkan." tutur Sakura panjang lebar yang langsung di jawab dengan gelengan cepat dari Sasuke.

"Apa yang kau ingikan?" dan seringai khas milik Uchiha langsung merekah. Sontak membuat Sakura menggeleng tak percaya.

"Aku ingin ini," Sasuke menunjuk dada Sakura sambil tersenyum tipis.

Permitaan Sasuke membuat Sakura melotot tak percaya. Lelaki itu ingin apa? Ayolaaaahh... ini tidak lucu kalau dia bercanda saat ini.

"K-kau serius? Kau menginginkan ini? Sungguh?" tanya Sakura sekali lagi sambil menunjuk buah dadanya sendiri. Sedangkan Sasuke mengangguk mengiyakan.

"Kenapa?"

"Aku hanya ingin menandainya kalau itu milikku."

"Jika aku tak mengijinkannya, bagaimana?"

Sasuke menatap Sakura dengan alis terangkat. Kemudian ia menempatkan telapak tangannya di dada kanan Sakura.

"Heeeeeiiii..." Sakura berteriak dengan geliatan tak beratur.

"Aku ingin memilikinya. Dan penolakanmu akan menjadi ancamanmu sendiri, Sakura." perkataan Sasuke nyaris membungkam kalimat yang akan terlontar. Sakura menatap mata kelam itu dengan pandangan marah, kesal dan perasaan tak menentu. Memberi persetujuan pada Sasuke berarti ia mengijinkan Sasuke untuk melakukan seseuatu pada dadanya.

"Kuharap kebisuanmu adalah persetujuan darimu, Sakura."

Sakura menarik nafasnya dalam tak merespon perkataan Sasuke sama sekali. Gadis itu hanya diam dan memejamkan matanya seerat mungkin ketika jari Sasuke mulai menyusup kepermukaan salah satu payudaranya yang kenyal. Refleks membuat tubuh Sakura tegang tak mampu bergerak.

Sasuke menatap dada Sakura seperti serigala yang kelaparan dengan air liur yang menetes. Pemandangan yang tepat berada di wajahnya membuat seorang Uchiha tak mampu mengedipkan kepalanya. Sedangkan Sakura masih bersitegang saat telapak tangan Sasuke mulai memijat dadanya dengan gerakan pelan nan menggoda.

Dan...

"Egghhh..."

Desahan akhirnya keluar dari bibir Sakura saat mulut Sasuke beraksi melumat dan menjilat puting Sakura seperti seorang bayi yang sedang menyusu. Sasuke yang mendengar desahan tertahan dari bibir ranum Sakura membuat birahinya tak tertahan. Namun sekali lagi ia coba tahan. Sasuke tak mungkin melakukan ini pada Sakura jika siuasinya ak mendukung seperti sekarang.

"Aaahhhgggg..."

Sakura menggigit bibir bawahnya. Sepertinya ia merasakan sesuatu yang terasa berbeda dari dadanya.

Lalu...

"Buka matamu."

Emerald beningnya pun terbuka perlahan. Sakura masih memperhatikan wajah Sasuke yang menyeringai penuh kemenangan disana.

"Lihat dadamu. Itu tanda kepemilikan yang sengaja kusematkan padamu."

Sakura menatap dadanya dengan dua bercak merah yang Sasuke berikan padanya. Kemudian tanpa menunggu lama lagi, Sakura langsung membungkus payudaranya dan memukul kepala Sasuke sebagai bayaran atas tindakan mesumnya.

"Sialan. Apa yang kau lakukan pada dadaku, haahh? Dasar kau Uchiha mesum. Kau pikir aku ini ibumu." sembur Sakura marah dengan wajah merona merah.

"Hn... ingatkan aku untuk menandai dadamu yang satunya."

.

.

TBC

.

.

Wooooohhhh... apa yang kuketik iniiiiii. Pliiisssshh... apakah ini Lime? Whahahahaha... #tawa nista. Well.. aku nggak tahu kenapa otakku bisa seiblis ini. Tapi sungguuuhhhh... aku deg-deg seeeeerr waktu ngetik adegan terakhir ini. Ada yang suka dengan akhir seperti ini? whohohohoh. #plak

Ok... aku nggak tahu harus berkomentar apalagi untuk kalian semua yang sudah mensuport untuk tetap melanjutkan Fict ini. Dan terima kasih juga karena ada yang sampai PM aku untuk menyemangati aku. Sungguhhhh sangat berterima kasih. Jadi, karena kalian sudah baik dan memberiku dukungan atas Fict ini, yuuuppp... jadilah Chap 4 ini yang isinya sangat luar binasa. :-P.

Dan... bagi yang tidak menyukai Fict buatanku ini, lebih baik nggak usah di baca. Aku sudah memberi kata "Don't like Don't read" kuharap kalian mengerti maksud dari kata-kata tersebut.

Dengar! aku sudah pernah bilang, bahwa aku hanya butuh komentar yang baik untuk memperbaiki kualitasku dalam membuat cerita, dan aku sama sekali nggak butuh komentar yang tidak bermutu dari kalian yang bahkan tidak berani menghadapiku dengan terang-terangan.

Shiipp.. kuingatkan sekali lagi, jika tidak suka dengan Fict yang kubuat, lebih baik jangan dibaca dan jagan menampakan diri di kotak review-ku.

Sekian dan terima kasih.

Dan untuk kalian yang masih setia menunggu Fict ini, saya ucapkan terima kasih dan sampai jumpa di Chap berikutnya.

.

.

16-02-2015.

Lamongan - Jawa timur.

Salam sayang ; Chizuru Mey.