Disclaimer ; Naruto milik Masashi Kishimoto, dan saya hanya meminjam karakternya saja.

Rated ; M (untuk jaga-jaga)

Pair ; Uchiha Sasuke - Haruno Sakura.

Warning! OOC, OOT. AU. Typo(s). EYD tak beraturan dan isi dari Fict ini mengandung kata-kata vulgar. Dianjurkan untuk usia 18+. Heheheheh...

Don't like Don't read, and Happy reading.

.

.

.

.

.

.

Memalukan!

Ya... satu kata itu Sakura sematkan pada dirinya sekarang. Ia sungguh merasa sangat malu di buatnya. Sekali lagi, Uchiha Sasuke memperlakukan dirinya dengan tidak layak. Apalagi ini lebih dari yang Sakura pikirkan. Bibir, kening, pelukan, daaaannnn... sekarang apa? Dadanya menjadi santapan sarapan pagi untuk si mesum itu?

Malu?

Heeeiii... memangnya siapa yang tidak akan merasa malu kalau kau di perlakukan seperti itu. Tidak... Sakura sungguh sungguh marah sekaligus kesal tiada tara akan tindakan mesum yang Sasuke lakukan pada payudaranya. Apalagi ia telah menanggalkan dua tanda yang sudah dua hari masih setia bertengger di dadanya itu.

Sialan!

Apakah setiap Uchiha memiliki kemesuman maha dewa seperti itu?

Sakura mengusap permukaan wajahnya kasar dan sesekali mendengus berat. Ingatannya akan kejadian pagi itu masih membekas dengan sempurna di balik otak jeniusnya. Weeellll... seandainya dia memiliki ilmu magic, mungkin Sakura akan merubah wujud Sasuke menjadi unggas seperti model rambutnya tersebut.

Dengan memposisikan diri berbaring di kamar tidur berukuran mini size, Sakura membenamkan wajahnya di balik bantal dengan dengusan tertahan.

Gadis musim semi itu bahkan dengan terang-terangan membuat dinding pertahanan untuk menjaga jarak dengan lelaki mesum itu. Ohh.. ingatkan pula bahwa Sakura juga bersikap dingin pada Sasuke.

Sedangkan Sasuke hanya berlalu begitu saja tak menghiraukan sikap Sakura yang sengaja di tunjukan padanya. Seolah-olah kejadian memalukan itu tak pernah terjadi sebelumnya.

Brengsek!

Itulah gumaman yang Sakura katakan setiap kali ia berpapasan dengan Sasuke.

Kembali Sakura mendengus, kali ini tatapan matanya menerawang ke langit-langit kamarnya. Tatapan yang menyiratkan kekesalan sekaligus perasaan aneh yang entah kenapa menjalar begitu saja. menggigit bibir bawahnya, Sakura ingat jika ia sempat menikmati tindakan yang Sasuke lakukan pada buah dadanya. Ia mendesah tertahan dengan bibir tergigit. Seperti saat ini.

"Haaaahh..."

Helaan nafas itu akhirnya meluncur dengan sempurna. Hampir setiap kesempatan gadis merah muda itu selalu menghela nafas tiap kali memikirkan kejadian memalukan itu. Dalam perjalanan hidupnya, tak ada satu lelaki pun yang bisa menyentuhnya sampai seperti itu. Kecuali lelaki pantat ayam tersebut.

Ohhh... Ya Tuhan... Apa yang harus ia lakukan saat ini? Tetap mengabaikan Sasuke dan bersikap dingin seperti hari-hari lalu atau mencoba mencairkan suasana? Astaga... Sakura benar-benar binggung di buatnya.

"Brengsek. Sasuke mesum. Jelek. Pantat ayam sialan!"

Kata-kata penuh ejekan langsung Sakura lontarkan dengan dua oktaf. Gadis itu sedikit terengah saat bibir mungilnya mengucapkan kata-kata itu berulang-ulang kali.

"Tch..."

Tiba-tiba saja suara decihan itu terdengar. Sontak membuat Sakura terperanjat dan bagun dari tidurnya dan menatap lelaki itu dengan delikan tajam.

"Mau apa kau?" tanya Sakura sengit saat Sasuke berdiri di ambang pintu dan bersender disana.

Sasuke menatap Sakura lalu menyeringai tipis. Kemudian ia melangkahkan kakinya mendekati Sakura yang semakin melotot ke arahnya.

"Hn." dan gumaman tak berarti itu bergema sebagai jawaban.

"Aku tak butuh jawaban ambigumu itu, tuan mesum." sindir Sakura yang lagi-lagi membuat Sasuke menyeringai.

Langkah itu semakin membuat jarak Sasuke dan Sakura semakin sempit. Sakura hanya diam terduduk dengan sebuah bantal hello kitty di pangkuannya, sedangkan Sasuke masih setia dengan posisinya yang bersedekap tangan dengan langkah lebarnya.

"Berhenti bersikap menyebalkan. Aku sudah muak kau acuhkan." ungkapnya ketika Sasuke sudah berdiri tegap dihadapan Sakura.

Sakura tersenyum tipis. Kemudian menimpali perkataan Sasuke. "Kau pikir salah siapa aku bersikap demikian? Kau yang memulainya. Itu pun kalau kau ingat!" ungkapnya dengan sedikit semburat merah melapisi pipi chubbynya saat kejadian itu berkelibat memenuhi kepalan merah muda miliknya.

"Kau menyalahkanku? Bukankah kau yang mengijinkannya, hmm?"

Sakura melotot tak percaya. Apa yang baru saja dikatanya? Demi apapun, Sakura tak pernah mengucapakan kata 'IYA' saat itu.

"Jangan menatapku seperti itu. Aku bisa mengambil satunya lagi jika kau mau," dan lemparan bantal di pangkuan Sakura langsung mendarat tepat di wajah Sasuke dengan sempurna.

"Kau bisa lakukan itu pada salah satu maidmu." Sakura melotot ke arah Sasuke yang lagi-lagi hanya di tanggapi dengan seringai mesumnya.

"Jangan bercanda. Aku lebih suka dadamu yang empuk itu. Kurasa tanganku ingin meremasnya kuat-kuat saat ini,"

Sakura ternganga tak percaya. Uchiha Sasuke yang ada di hadapanya memang sungguh maha dasyat kemesumannya. Dan apakah semua keturunan Uchiha memiliki kemesuman seperti ini? begitu pikir Sakura.

.

.

Living Together

.

.

Awal pekan yang menyebalkan. Semua murid KHS seolah tak memiliki tenaga untuk memasuki sekolah hari ini. Hawa panas membuat hampir sebagian murid berjalan lunglai tak bertenaga. Ini memang musim panas, yang berarti libur musim panas akan segera mereka dapatkan.

Lihatlah gadis dengan surai kuning panjang itu disana. Gadis yang bernama Shion itu tampak berseri-seri. Matanya berbinar yang menampakkan betapa senangnya ia menyambut awal pekan dengan semangat membara seperti panasnya matahari.

"Astaga! Apa kau tahu Sakura, bahwa Sasuke akan satu kelas dengan kita." ungkapya antusias.

Sedangkan Sakura yang mendengar perkataan Shion langsung menoleh cepat dengan mulut terbuka.

"A-apa? Sasuke akan satu kelas dengan kita? Bagaimana bisa itu terjadi."

Shion tersenyum renyah dan kembali memperlihatkan wajah berseri-serinya.

"Tentu saja. Apa kau lupa kalau saat ini adalah pergantian kelas. Sebagian dari kita akan dipindahkan. Dan untungnya Sasuke akan menjadi salah satu teman sekelas. Astagaaaaa... aku tak sabar menantinya." girangnya dengan senyum tiga jari.

Sakura menelan ludah. Ini berita terburuk yang pernah di dengarnya. Oh... Astaga... kejadian apalagi yang akan terjadi kalau Sasuke dengan dirinya dalam satu kelas nanti?

Tidak...

Sakura menggeleng cepat. Sasuke pasti menjaga sikapnya di sekolah. Itulah yang Sakura pikirkan.

Sasuke tak mungkin akan bersikap mesum seperti di rumahnya. Di sekolah, ia terkenal sebagai lelaki dingin, cuek dan sombong. Pasti tidak akan terjadi.

PASTI!

Dan Sakura menyakini itu.

"Semoga aku bisa dekat dengannya. Duuuhhh... aku gugup sekali, Sakura," kicau Shion kian menjadi.

Sedangkan Sakura hanya memijat keningnya yang mulai pening. Ia tak bisa membayangkan kejadian apa dan seperti apa yang akan terjadi di kelasnya nanti. Mencoba berpikir sepositif mungkin, Sakura sangat yakin kalau Sasuke akan berperilaku seperti biasanya. Seperti mereka tak mengenal satu sama lain.

"Lihat! Lihat! Bukankah itu Sasuke?" tunjuk Shion saat melihat Sasuke berada di ambang pintu.

Semua yang melihat kedatangan Sasuke kontan histeris bukan main. Semua gadis tampak menampilkan senyum termanis mereka untuk menyambut sih pangeran sekolah yang terkenal tampan dan memiliki karismatik yang tak bisa di pungkiri itu.

Leleh...

Ya... tampak semua gadis meleleh begitu sosok tampan itu sudah berdiri disana.

Sasuke sendiri hanya mengedarkan pandanganya sesaat sebelum masuk ke dalam kelas. Tak selang beberapa waktu, obsidiannya menemukan sesuatu yang mampu membuatnya menarik setiap sudut bibirnya hingga beberapa gadis yang melihatnya langsung histeris dan tak percaya dengan pengelihatan yang baru saja Sasuke tampilkan.

Dengan sebelah tangan di masukkan kedalam saku celana, kaki pajangnya itu mulai melangkah pelan.

"Astaga! dia kemari, Sakura." desis Shion dengan senyumnya. Sedangkan Sakura hanya terpaku di tempat begitu Sasuke sudah berdiri tepat di hadapannya.

"Disini kosong, bukan?" tanya Sasuke sambil menunjuk kursi di sebelah Sakura.

Gadis dengan surai merah muda tersebut tak menjawab. Sakura masih setia menatap Sasuke tanpa berkedip. Terlalu mengejutkan. Itulah yang terpatri di benak Sakura saat ini.

Pluuukk...

Barulah dengan satu senggolan pelan di bahu Sakura yang segaja Shion berikan, mampu membuat Sakura mengerjapkan matanya beberapa kali dan kemudian mengangguk mengiyakan tanpa bersuara. Gadis merah muda tersebut tampaknya terlalu syok akan kehadiran Sasuke di hadapanya. Apalagi akan duduk di sebelahnya.

Sasuke menyeringai dan meletakkan tas ranselnya di kursi sebelah Sakura dan langsung duduk disana. Mengabaikan semua tatapan penuh damba dari semua gadis yang melihatnya saat ini, Sasuke masih memposisikan wajah datarnya seperti sebelumnya. Sedangkan Shion tetap tersenyum berseri begitu lelaki impiannya itu tepat duduk dihadapannya.

Lain lagi dengan Sakura. Gadis itu mengumpat sejadi-jadinya begitu ia menyadari posisi duduk yang kini mengisi meja di sampingnya. Dengan dengusan tertahan dan helaan nafas panjang, Sakura langsung membuang muka ke arah jendela. Melihat sesuatu yang barang kali bisa ia lihat di bandingkan dengan sosok tegap di sampingnya sekarang.

.

.

.

Jam pelajaran pertama akhirnya selesai. Akhir penantian yang di tunggu-tunggu oleh semua siswa akhirnya datang juga.

Istirahat!

Yupp... tampak sebagian kelas 2-A yang di tempati Sakura dan kawan-kawan tampak berhambur pergi meninggalkan kelas. Kecuali para gadis dan segelintir lelaki di pojok paling belakang. Berbeda dengan para gadis disana, mereka tampak membenahi penampilan make-up mereka dan mencoba mendekati Sasuke yang sama sekali enggan untuk berdiri dari bangkunya. Lelaki itu sepertinya sedang mendengarkan musik dengan mata terpejam rapat. Sesekali kepalanya mengangguk-angguk pelan mengikuti irama musik. Hingga ia merasakan tepukan pelan yang berasal dari bahunya, barulah Sasuke membuka matanya dan menatap siapa gerangan yang mengganggu keasyikannya.

"Hn?"

Satu gumaman ambigu khas para Uchiha akhirnya menggema di pendegaran Sakura. Gadis degan seluit bening itu menghela nafas dan kemudian mengatakan sesuatu yang tak bisa di dengar oleh Sasuke.

"Apa yang kau katakan?" tanya Sasuke sekali lagi yang langsung membuat barisan alis Sakura menjadi pajang.

"Minggir! Aku mau lewat." ucapnya datar dengan penuh penekanan.

Sasuke mengangkat satu alisnya dan menyeringai.

"Ada syaratnya."

Kembali Sakura mengernyit. Kenapa harus ada syarat hanya untuk keluar? begitu pikirnya.

"Haaahhh... cepat menyingkir."

"Tidak."

Sakura bersedekap dan menghembuskan nafasnya. Gadis dengan surai merah muda itu kembali duduk dan mendengus saat penolakan yang ia dapat.

Sasuke menatap Sakura yang kini menatap jendela dan tak berniat beradu argumen seperti di rumah. Lelaki itu tampak sedikit bosan saat Sakura tak melawan seperti biasanya. Sakura lebih memilih melihat luar jendela dengan dagu tertopang tangan.

"Sakura..."

Suara dari arah belakang Sakura membuat gadis Haruno itu langsung menoleh. Shion, sahabatnya itu memanggilnya dengan cengiran ala kuda.

"Kenapa?" tanya Sakura pelan.

"Ayo kekantin. Aku lapar dan perutku sudah berdemo."

Sakura menghela nafas dan tersenyum tipis. Sahabatnya itu selalu datang tepat pada waktunya ketika dirinya ingin pergi sejauh mungkin dari lelaki mesum di sebelahnya itu.

"Ok. Tapi bisa bantu aku sebentar?"

Shion mengangkat satu alisnya tak mengerti, kemudian dia mengangguk sebelum perutnya semakin bermasalah.

"Lelaki di sampingku ini menolak menyingkir. Kau bisa atasi masalah ini?" katanya berbisik.

Shion mengangguk patuh dengan jari jempol menyempul bertanda ia menyetujui. Kemudian Shion bangkit dari duduknya dan berdiri tepat di samping Sasuke dan bergumam.

"Sasuke..." ucapnya dengan inotasi pelan.

Tidak ada jawaban yang berarti dari Sasuke. Lelaki itu tetap pada posisinya semula dan tidak bergerak sedikitpun. Masih setia dengan musik dan anggukan pelan dari kepalanya.

"Sasuke!" Shion kembali memanggil Sasuke dengan sentuhan pelan di bahu lelaki itu dan langsung mendapat perhatian darinya. Sasuke menatap Shion dengan alis terangkat dengan ekspresi datarnya.

"Hn?"

Shion tersenyum kikuk dan kemudian berdehem, "bisa aku ajak Sakura pergi ke kantin?" ajunya.

"Hn."

Mengeryit binggung. Shion sama sekali tidak mengerti bagaimana mendiskripsikan gumaman yang Sasuke katakan. Shion akhirnya melirik Sakura yang kini mengangkat bahu acuh, gadis itu sepertinya tahu jika Shion gagal dalam membujuk Sasuke untuk sekedar menyigkir dari bangkunya untuk sementara.

"Haaaahhh... Sebaiknya aku ke kantin sendirian saja." gumamnya pelan dan melambaikan tangannya pada Sakura yang mendengus tertahan.

Setelah kepergian Shion, hawa dingin tercipta dari kubu keduanya. Sakura sama sekali enggan mengajak Sasuke untuk sekedar basa basi seperti para gadis untuk menarik perhatiannya, karena Sakura tahu, bahwa tanpa mencoba menarik perhatian dari lelaki emo tersebut, Sakura sudah lebih dulu mendapat tatapan tajam dari sang empuh.

"Apa?" tanya Sakura sinis.

Sasuke menyeringai dan tersenyum simpul saat obsidiannya menatap emerald di hadapannya yang menatapnya horor.

"Aku ingin itu." tunjuk Sasuke tepat kearah dada kiri Sakura.

Sontak saja hal itu membuat tubuh Sakura tegang tak bergerak. Lelaki di sampingnya yang saat ini menatapnya itu benar-benar ingin di hajar.

"Tkh... Dasar mesum." sungut Sakura kesal dengan pipi merona.

Gadis keturunan Haruno itu kembali menggerutu dan sesekali mengerucutkan bibirnya dan langsung memalingkan wajahnya. Tak ingin tersulut api amarah yang pasti akan membuat emosinya meningkat bila tiap kali ia menatap wajah mesum di sampingnya.

Dan...

Puukkkk...

Satu lengan kekar itu sudah bertengger indah di bahu Sakura dan menariknya mendekat.

"Bagaimana kalau kita ke kantin, sayang." ajak Sasuke dengan senyum lebar kearah Sakura.

Mata Sakura melebar dan langsung melongo bak patung begitu melihat Sasuke yang tengah merangkulnya erat.

"Sasuke!" ucapnya sambil berusaha melepaskan rangkulan itu. Tapi sayang, batas kemampuan tenaga Sakura tak sebading dengan tenaga yang Sasuke miliki.

"Astaga? kalian!" mulut salah satu gadis yang melihat kemesraan yang Sasuke berikan pada Sakura membuat gadis bersurai hitam itu menganga sekaligus tak percaya dengan pengelihatannya sekarang.

Semua gadis yang mendengar jeritan tertahan dari gadis itu langsung menoleh keheranan begitu melihat pangeran mereka tengah merangkul seorang gadis yang hampir semua siswa tahu bagaimana tidak akurnya mereka. Bahkan salah satu diantara mereka sampai menagis begitu melihat pemandangan tersebut.

"Ehh... ti-tidak.. Kalian salah." Sakura mengibas-ibaskan tangannya menggelak.

"Mulai sekarang, gadis yang berada dalam rangkulanku ini adalah: KEKASIHKU!" terang Sasuke dengan menekankan kata kekasih di dalamnya.

Dan dua orang gadis lagi yang tergila-gila pada Sasuke langsung berhambur pergi dengan mata berlinang. Ada juga yang terdiam mematung begitu tahu jika lelaki pujaan mereka telah memilih seorang gadis bersurai merah muda yang sejak pertemuan mereka sudah di penuhi degan argument.

"Apa yang kau katakan?" Sakura melotot ke arah Sasuke dengan kaget saat lelaki itu mendeklarasikan pernyataannya.

Sasuke kembali menyeringai dan semakin mengeratkan pelukannya. Membuat Sakura yang dalam rangkulanya harus menggeliat dan mencoba melepaskan tangan besar itu. Namun hasilnya nihil. Jangankan menggeser tangan itu menjauh dari bahu mungilnya, lengan kokoh itu semakin mempersempit jarak yang ada. Hingga membuat gadis-gadis yang masih bertahan disana harus menggigit bibir menahan tangis.

.

.

Living Together

.

.

"Haaahhh..." Sasuke menghela nafas dengan keras saat ia telah menyelesaikan beberapa dokumen yang Itachi kirim lewat e-mailnya.

Bungsu Uchiha tersebut selalu menggerutu karena setiap kali ia harus ikut membantu pekerjaan kakaknya meski Sasuke tahu jika kakaknya -Itachi- bisa menyelesaikan pekerjaannya itu sendiri. Sedikit merenggangkan kedua tangannya ke atas dan menarik nafas dalam, Sasuke segera mengirimkan E-mail tersebut pada Itachi.

Dan kemudian...

"Sasukeeeee!" Sasuke menoleh begitu lelaki itu mendengar namanya di panggil dengan keras. Derap langkah dari anak tangga menggema keras begitu langkah kaki itu kian mendekat.

Lalu...

Braaakkk!

Pintu terbuka.

"Apa yang sedang kau pikirkan, haahh?"

"Hn?" dengan mengernyit, Sasuke menatap Sakura tak mengerti.

"Jangan pura-pura bodoh. Kau pasti tahu arah pembicaraanku." cerca Sakura berkacak pinggang di depan Sasuke.

"Bicara yang jelas."

Sakura menarik nafas dalam-dalam dan menatap Sasuke dengan alis terangkat penuh tanya. Dan memang benar... Lelaki di hadapannya ini memang benar-benar menguras emosinya.

"Kau mengatakan bahwa kau dan aku adalah sepasang kekasih. Kenapa?"

"Memang seharusnya seperti itu."

"APA?"

"Aku bilang, mulai saat ini kau milikku. Dan aku tak menerima penolakan dalam bentuk apapun."

"Tidak!" tolak Sakura tegas

Sasuke langsung mengernyit saat mendengar penolakan yang Sakura berikan padanya. Lelaki itu langsung bangkit dari tempatnya duduk dan kini berdiri tepat di hadapan Sakura dengan tangan bersedekap.

"Berikan aku alasan kenapa kau tidak mau jadi miliku?" ucapnya dengan notasi datar namun penuh intimidasi di dalamnya.

Sakura meneguk ludahnya pelan. Kemudian gadis itu segera melangkah mundur dua langkah. Tatapan mata Sasuke menuntut minta jawaban dengan tatapan tajam menghiasi. Tatapan itu sungguh membuat Sakura bergidik. Kemudian tanpa di sadaari Sakura, Sasuke sudah kembali mendekat kearahnya dengan seringai andalannya.

Sakura menatap mata itu sekali lagi. Melihat wajah Sasuke sedekat ini ternyata mampu membuat jantung Sakura berdetak tak menentu. Seolah irama jantungnya berdenyut keras semakin intensnya ia menatap obsidian kelam dihadapannya.

Hampir selangkah lagi Sasuke benar-benar menghapus jarak diantara mereka, tapi Sakura langsung berlari keluar kamar Sasuke dan kembali masuk ke kamarnya dengan jantung yang hampir saja copot. Kalau saja ia tak memiliki kronologi penyakit jantung, mungkin saja ia sudah mengalami serangan jantung yang membuat dirinya di larikan ke rumah sakit saat ini juga.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

Maaaaaakkkkk... apalagi ini? Kok bisa-bisanya otak ini ngetik cerita seperti ini? Wooeeee... aku kenapa? #plak. #lebay. Hehehehe...

Namuuun... aku sungguh senang dengan apresiasi yang kalian berikan untuk chap kemarin. Sumpah! aku ngakak setengah mampus begitu baca review kalian yang luar biasa itu. Welll... terima kasih untuk itu, ya kawan.

Dan untuk chap iniiii... kuharap kalian juga menyukainya seperti chap sebelumnya.

Yuupppssss... kenapa ada sampah yang nongol di kontak reviewku lagi? Masya'Allaaaaaahhhhhh... aku sudah bilang untuk kalian yang tidak suka dengan fict buatanku ini, pliiiisssssshhhh... nggak usah nampakin diri di sini. Beneran dehhh, aku nggak tahu kenapa kok ada saja yang tidak suka Fict ini tapi masih saja dibaca. Aku heran! Beneran gak bohong.

Ok, itu saja sih yang pengen aku sampaikan pada kalian yang suka dengan fict ini ataupun yang tidak suka.

Untuk chap depan mohon kritik dan sarannya lagi, ya.

.

Ohhh... hampir lupa. Ini nama-nama yang kemarin me-review. Kuucapkan terima kasih sekali lagi

.

.

.

Eagle Onyx 'Ele ~ caesarpuspita ~ mantika mochi ~ Manda Vvidenarint ~ Emerald509 ~ mira cahya 1 ~ Hezel MintCherry ~ Cherry EXOL ~ GaemSJ ~ Gilange363 ~ Sasusakulover47 ~ Arisha Kyou ~ Hime tsubaki ~ Guest 1 ~ Guest 2 ~ lynn ~ A ~ Luca Marvell ~ Re Uchiharu Chan

.

Kamis, 26 Februari, 2015.

Lamongan - Jawa timur.

Salam sayang : Chizuru Mey.