"Kau serius melakukan ini?" Sasori menatap gadis di depannya dengan alis terangkat. Menelisik kemauannya yang terlewat akan prediksinya. Tak menyangka, jika gadis yang memiliki surai merah muda tersebut bersungguh-sungguh dengan ucapannya tempo hari.
Gadis di depannya itu mengangguk mengiyakan tanpa mengucapkan satu kata pun. Tak perduli dengan lelaki yang sedang menatapnya dengan sorotan tak percaya.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan setelah itu." tanya Sasori kemudian.
Tayuya mengambil nafas dan mengetuk-ngetuk hak sepatunya pelan. Pertanyaan yang Sasori lontarkan barusan membuat ia harus mengernyit. Sambil mengangkat kedua bahunya acuh, Tayuya bergumam pelan sebagai tanda ia tak tahu harus melakukan apa setelah itu.
"Tayuya?"
"Aku akan mengambilnya kembali. Aku datang jauh-jauh dari Shibuya tidak untuk membawa tangan kosong, kan?"
Jawaban itu seolah membuat Sasori bungkam seketika. Mengenal Tayuya hampir dua tahun lamanya membuat ia sedikit mengerti bagaimana isi kepalanya jika Tayuya sudah mengatakan itu. Namun sepertinya tidak akan mudah. Mengingat bagaimana hubungan Sasuke dan Sakura yang selalu menjadi topik panas akhir-akhir ini.
"Kau yakin dengan tindakanmu? Kau tidak takut jika Sasuke mencium perbuatanmu?" tanya Sasori bertubi-tubi. Membuat Tayuya semakin bungkam seribu bahasa. Tak tahu harus menjawab apa semua pertanyaan Sasori.
"Kalaupun Sasuke tahu, kenapa memangnya?"
Sasori menggeleng frustasi. 'Kenapa' katanya? Sepertinya gadis di hadapannya ini belum pernah berhadapan langsung dengan Sasuke. Kalau di ingat-ingat kembali, Sasori pernah dalam keadaan yang langsung bertatap muka dengan Sasuke saat olahraga beberapa waktu yang lalu. Kalau saja ia tak memiliki kontrol emosi yang cukup baik, mungkin saja ia sudah mendapat reaksi yang cukup menegangkan ketika menatap mata kelam Sasuke saat itu.
"Kuperingatkan, jangan anggap remeh Sasuke. Sedikit saja kau menyakiti Sakura, aku tidak akan mungkin bisa membantumu,"
Tayuya tersenyum miring menanggapi perkataan Sasori. Menyepelekan perkataan lelaki bersurai merah itu dengan senyum tipis namun sinis.
"Cih! Dia tidak akan bisa menyentuhku. Jika dia berani, gadis sialan itu yang akan menanggungnya." gumam Tayuya percaya diri.
"Terserah katamu. Aku sudah peringatkan. Jadi, jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu nanti."
Setelah itu Sasori bangkit dari duduknya dan meninggalkan Tayuya dalam keheningan. Menciptakan semilir angin pelan yang mampu membuat gadis yang masih duduk dalam kesendiriannya itu menatap kepergian Sasori dengan delikan mata tajam dan penuh emosi.
"Kau pikir aku akan mengalah semuda itu, eh? Tidak mungkin," desis Tayuya sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan tempat pertemuan mereka.
Disclaimer; Naruto milik Masashi Kishimoto dan saya hanya meminjam karakternya saja.
Rate; M (untuk jaga-jaga)
Pair; Uchiha Sasuke & Haruno Sakura
Warning! OOC, AU, Typo(s), Eyd tak beraturan. Dan diminta untuk yang di bawah umur agar tidak memasuki area ini. Unsur yang terkandung di dalamnya mengandung beberapa kalimat yang lumayan vulgar.
.
Don't like Don't read.
Happy reading ^-^.
Jangan di baca jika tidak suka. Dan jangan berkomentar jika hanya mengeluarkan kalimat yang tak berguna!
Story by Chizuru Mey
Kali ini Sasuke pulang sedikit lama dari biasanya karena ia harus berlatih basket untuk pertandingan yang akan di adakan beberapa minggu ke depan. Saat selesai berlatih, yang dipikirkannya sekarang hanya bertemu dengan Sakura. Entah kenapa sedikit saja Onyx matanya itu tak menangkap bayangan gadis bertubuh mungil itu, rasanya ada yang kurang. Mata kelamnya sudah terlanjur sering menangkap bayangan itu hampir setiap detik tanpa jeda.
Sambil melangkah lebar ke dalam rumah, Sasuke langsung mengedarkan pandangannya mencari satu sosok gadis yang begitu di rindukannya. Namun alih-alih melihatnya, Sasuke justru mendengar suara cekikikan dari arah ruang makan. Mengernyit heran, Sasuke langsung menghamipri suara itu. Namun apa yang dilihatnya disana? Sakura sedang mengobrol dengan seorang lelaki yang begitu menyebalkan menurut versinya itu.
Tanpa membuang waktu, Sasuke langsung duduk disamping Sakura dan merebahkan kepalanya ke paha gadis merah muda tersebut. Membuat dua kepala yang sejak tadi berbincang langsung terdiam dengan kedatangan Sasuke. Apalagi dengan tindakannya ini.
"Kau sudah pulang, Sasuke?" Sasuke mengangguk sebagai jawaban. Entah kenapa ia merasa kesal.
"Apa setiap hari dia seperti ini, Sakura-chan?" tanya lelaki yang sejak tadi menatap Sasuke yang sudah berbalik memeluk perut Sakura erat. Wajah lelaki tampan itu mengernyit. Tak menyangka jika Sasuke akan bertindak seperti ini.
Sakura menautkan alisnya tak mengerti, "maksudnya?" tanyanya.
"Dia..." sambil menunjuk kearah Sasuke, "selalu bersikap manja seperti ini padamu?" tanyanya sedikit heran.
Sakura menatap pemuda yang sedang tidur di pangkuannya itu dengan tatapan aneh dan membuat dua alisnya berkerut menjadi satu barisan. "Tidak. Ini kali pertama ia bersikap seperti ini." Lelaki yang duduk di depan Sakura mengangguk mengerti sebelum seringai andalannya keluar membuat Sakura binggung dengan ekspresi yang di tampilkannya itu.
"Kupikir kau pasti kesulitan menghadapi dia. Apakah adikku itu pernah melakukan sesuatu padamu yang lebih dari tidur seperti ini?" Seketika itu pula wajah Sakura memerah. Membuat Itachi terkekeh kecil saat mendapati wajah Sakura memerah bercampur binggung harus menjawab apa pertanyaannya itu.
"Berhentilah mengintrogasinya. Kau membuatnya malu." Celetuk Sasuke tiba-tiba. Tanpa sedikitpun mengalihkan wajahnya dari perut datar Sakura. "Lagipula kenapa tiba-tiba kau bisa berada disini?"
"Menangnya apa salahnya mengunjungi adikku sendiri." sahut Itach cepat.
"Tch!" Sasuke mendecih pelan dan kemudian membalikkan posisinya menghadap Itachi. "Kau pikir aku bodoh!" dengusnya membuat Itachi menyeringai kembali.
"Ya, kau memang adikku.
"Cepat katakan! Aku tidak punya banyak waktu untukmu."
"Apakah setelah aku pergi kau ingin bermesraan dengan Sakura-chan?"
Sasuke mengerut. Menatap jengkel kakaknya. Kemudian mendonggak kearah Sakura yang kini sedang menatapnya tak mengerti.
"Kalaupun iya, kenapa memangnya." hardik Sasuke. Mengabaikan ekspresi Itachi yang lagi-lagi tersenyum tipis.
"Baiklah kalau begitu. Aku datang hanya menyampaikan sesuatu." Sasuke menatap Itachi dengan alis terangkat, "Besok aku akan ke London untuk mengurusi cabang perusahaan disana. Dan kau tahu tugasmu selama aku tidak berada disini, kan?" Sasuke mengangguk pelan sebagai jawaban dengan sebelah tangan diletakkan di dahinya. Membuat lelaki itu menghela nafas panjang keras.
"Bagus. Aku mengandalkanmu." Itachi bangkit dari duduknya. Namun sebelum langkahnya semakin jauh, lelaki berkuncir itu menoleh sekilas dan kemudian berkata, "Sakura-chan, untuk beberapa hari kedepan jaga pola makan Sasuke. Aku mengandalkanmu." sambil menarik setiap sudut bibirnya, Itachi mengacungkan jari jempolnya dan berlalu pergi meninggalkan Sakura dan Sasuke yang masih setia dengan posisi mereka masing-masing.
Hening... setelah kepergian Itachi tak ada satupun yang bersuara. Sasuke masih pada posisinya semula. Namun entah sejak kapan kepalanya sedikit berdenyut. Mungkin faktor Lelah. Lelaki emo itu merasa jika energinya hari ini sudah terkuras sepenuhnya. Setelah hampir seharian berlatih basket, sekarang ia harus menerima serentetan tugas yang Itachi berikan padanya. Namun sebelum ia memikirkan apa yang akan dilakukannya setelah kepergian Itachi, Sasuke lebih dulu memandang wajah Sakura.
"Sejak kapan kau sedekat itu dengan kakakku?" Sakura mengalihkan pandangannya menatap Sasuke dengan sorot pada heran. "Bukankah ini pertama kalinya kalian bertemu. Kenapa bisa ngobrol sesantai itu." selidik Sasuke.
Mengabaikan serentetan pertanyaan Sasuke, Sakura lebih memfokuskan buliran keringat di dahi lelaki itu. Mengusapnya pelan dengan telapak tangannya sebelum menjawab pertanyaan Sasuke.
"Apa salahnya bersikap ramah padanya?"
Sasuke mendengus dan menggengam tangan Sakura yang di gunakan untuk menyeka keringatnya. Sebelum memprotes perkataan Sakura, Sasuke lebih dulu menarik tubuh Sakura mendekat dan melumat bibir itu.
"Kau ingin berkencan dengan kakakku?" Pertanyaan Sasuke sontak membuat Sakura melongo seketika. Dalam hati, ia rasanya ingin menarik rambut emo sialan itu.
"Apa kau demam?" Sakura meletakkan kembali telapak tangannya pada dahi Sasuke. "Suhu tubuhmu normal. Apa kau mulai gila?" rutuknya setengah kesal.
Kemudian Sasuke bangkit dari tidurnya. Menatap manik emerld di hadapannya dan setelah itu menatapnya tajam. "Jangan coba-coba melakukan sesuatu di belakangku."
Dengan acuh Sakura mendengus dan mengangkat bahunya. Mencoba mengertaknya? Sakura langsung tersenyum simpul menanggapi perkataan Sasuke yang hampir setiap saat berkata penuh peringatan itu.
Bosan beradu argumen tentang masalah yang sebenarnya tak pernah ada, Sakura langsung bangkit dari duduknya. Mengabaikan panggilan Sasuke.
.
.
.
Suasana di Konoha High School terasa berbeda hari ini. Begitu ramai dan beberapa siswa berbisik-bisik dengan topik yang hampir sama.
"Ada apa sih?" tanya Sakura penasaran. Emerald hijaunya memandang teman sekelasnya yang sedang membicarakan sesuatu yang tak di mengertinya sama sekali.
"Hari ini ada siswi baru. Katanya sih cantik," Shion berbeo acuh. Tak begitu perduli dengan ocehan teman sekelasnya itu.
"Oh,"
Dengan satu jawaban singkat Sakura menjawab. Setelah itu ia langsung duduk di bangkunya. Namun gadis Haruno itu langsung mengernyit heran. Dimana Sasuke? Satu pertanyaan itu entah kenapa bisa bergelanjut di otaknya. Memang apa urusannya? Tapi ini terlihat aneh. Bukankah tadi Sasuke dan dirinya berangkat bersama dan berjalan ke kelas bersama. Lalu dimana dia?
Sakura menepis pikirannya. Perduli apa dengan Sasuke. Itu urusan lelaki itu, apa haknya ingin tahu semua kepergian dan keperluan dari lelaki emo itu.
"Ahh... paling-paling ke toilet." gumamnya. Mengabaikan semua pertanyaan di kepala merah mudahnya.
Namun sebelum pikiran itu menghilang, tiba-tiba saja pintu kelas itu terbuka.
Braakkk...
Satu pemandangan yang mampu membuat semua siswa langsung terheran-heran dengan sosok yang kini berdiri di ambang pintu. Dengan wajah penuh tanda tanya, beberapa siswa mulai berbisik dengan apa yang mereka lihat. Sedangkan Sakura mematung dan terdiam begitu saja. Pemandangan itu bahkan tak pernah terlintas di otaknya. Bagaimana mungkin?
Sasuke dengan seorang wanita yang memiliki surai merah muda seperti dirinya. Apa yang sebenarnya terjadi?
Mengabaikan kebisingan dari teman-temannya, Sasuke langsung melangkah masuk. Dengan Tayuya, nama gadis itu yang bergelanjut manja di lengannya. Menghimpit lengan kokoh itu dengan senyum manisnya.
Setelah itu wali kelas mereka yang bernama Yui memasuki kelas dan menyuruh Tayuya memperkenalkan dirinya. Setelah perkenalan singkat itu, semua siswa memandang Sasuke yang sudah duduk di bangkunya. Ada dari beberapa siswa yang mempertanyakan kenapa Sasuke dan Tayuya bisa begitu akrab. Dan apa hubungan mereka.
Sakura yang tak sengaja mendengarnya hanya diam tak merespon. Otaknya sudah bisa mencerna apa yang mereka bicarakan. Lalu kenapa memangnya jika Sasuke dan murid baru itu berdekatan? Toh antara ia dan Sasuke tak memiliki hubungan khusus. Meski Sasuke selalu mengeklaim jika dirinya adalah milik lelaki itu, tapi bukan berarti hubungan mereka lebih dari itu bukan?
Sakura mengangguk yakin. Memikirkan apa yang teman-temannya bisikkan membuat kepalanya ingin pecah. Membiarkannya, itulah yang Sakura tekankan. Toh selama ini Sasuke sendiri tak pernah sekalipun menyatakan cinta padanya. Mungkin Sasuke menggodanya. Mengingat jika Sasuke adalah lelaki yang paling populer di Konoha High School. Jadi, wajar saja jika Sasuke memiliki banyak wanita. Atau lebih tepanya, Bosan.
.
Semua berita tentang kebersamaan Sasuke dan Tayuya yang masuk bersama ke dalam kelas di tambah dengan tangan Tayuya yang bergelanjut di lengan Sasuke membuat berita ini kian memanas. Apalagi selama beberapa pekan ini, Sasuke selalu dekat dengan Sakura. Dan kabar itu membuat beberapa wanita menggeleng. Kenapa tiba-tiba? Semua pertanyaan itu membuat beberapa wanita menaikkan ke dua alisnya heran. Mungkinkah Sasuke sudah bosan dengan Sakura dan sekarang menjalin hubungan denga Tayuya? Pertanyaan itulah yang kini mereka coba tebak.
"Jadi benar, kau dan Sasuke sudah tidak menjalin hubungan?" celetuk Shion tiba-tiba. Membuat Sakura menarik napas berat dengan kalimat pertanyaan sahabatnya itu.
"Bukankah aku sudah mengatakannya padamu kalau dari awal aku memang tidak memiliki hubungan khusus dengan Sasuke?" jawab Sakura tanpa sedikitpun menatap Shion yang terlihat ternganga terkejut.
"T-tapi waktu itu Sasuke bilang kalau..."
"Kau pikir dia serius? Kau sendiri yang bilang kalau Sasuke adalah lelaki incaran semua gadis di sekolah ini kan?" Shion mengangguk, "lalu kenapa sekarang kau bertanya hal gila itu padaku? Bagaimana mungkin aku bisa menjadi kekasihnya?" ujar Sakura pelan. Namun wajahnya terbesit rasa kecewa yang teramat. Mengingat bagaimana Sasuke selalu melakukan hal-hal di luar batas pada dirinya. Itu membuat ia semakin terpuruk dengan apa yang sudah pernah ia alami selama ini.
"Jadi, jangan menanyakan pertanyaan yang sama berulang-ulang lagi." Shion berseru tanda setuju.
Sedangkan Sakura mengabaikan kehadiran Shion dengan memilih menatap jendela. Memandang beberapa hal yang mampu membuat pikirannya kembali jernih. Tak peduli apa yang Sasuke lalukan dan di inginkannya, Sakura jelas tak mau peduli. Sudah cukup ia di permainkan oleh lelaki itu.
.
.
Dengan langkah lebar, Sasuke menuju kelas. Setelah selesai latihan basket bersama team-nya. Lelaki itu dengan segera menuju kelas, tujuan utamanya sekarang adalah Sakura. Meski dia bersikap acuh dan selalu mengabaikan apa yang selalu ia dengar, tapi kali ini ia sudah tak bisa menahannya lagi. Bagaimana mungkin ia bisa tinggal diam kalau berita menjijikan itu bisa menyebar luas dalam radius luar biasa kencang.
Mengabaikan semua itu, Sasuke harus segera menemui Sakura. Ia tak bisa menahan lama-lama semua bisikan tentang dirinya. Gadis yang selalu dianggap miliknya itu harus tahu duduk persoalan yang sebenarnya.
Menjalin hubungan dengan Tayuya?
Jangan bercanda! Sejak kapan Sasuke berhubungan dengan gadis sialan itu?
Dengan langkah lebar nan tergesa, akhirnya Sasuke sudah berdiri di ambang pintu. Menarik nafasnya kuat-kuat, ia langsung membuka pintu tersebut dengan cepat. Onyx matanya langsung menyusuri setiap anak. Setelah menemukan gadis yang di carinya, Ia langsung menghampiri Sakura yang kini sedang menatap luar jendela dengan menopang dagu.
"Apa yang kau pikirkan," suara berat itu mengintrupsinya. Membuat Sakura menoleh. Mendapati Sasuke yang sudah duduk di sampingnya membuat gadis Haruno itu sedikit risih.
"Tidak ada." jawabnya. Sebisa mungkin Sakura mengabaikan keberadaan Sasuke. Terbukti dengan kembalinya ia menoleh ke luar jendela.
Sasuke menaikkan satu alisnya heran. Sepertinya ia tahu kenapa Sakura begitu dingin ke padanya saat ini.
"Kau marah padaku?" Sakura menggeleng sebagai jawaban. Sepertinya gadis itu benar-benar mengacuhkan Sasuke.
Dengan dengusan tertahan, Sasuke mengernyit dan menarik lengan Sakura. Berharap gadis di sampingnya itu menatapnya.
"Kenapa menghindariku?" onyx itu menatap emerald di depannya tajam.
"Aku tidak!" jawab Sakura. Membuat Sasuke kembali mengeraskan rahangnya menahan emosi.
"Kau jelas-jelas menghindariku, Sakura."
Satu bentakan yang keluar dari mulut Sasuke membuat beberapa siswa yang ada di kelas terdiam seketika. Menatap pasangan onyx dan emerald secara bergantian dengan tatapan tanda tanya.
"Ikut aku!"
Satu tarikan kuat membuat Sakura harus terseret. Mencoba melawan berulang-ulang kalipun sepertinya percuma. Kekuatan yang di miliki Sasuke tak sebanding dengannya. Hingga Sakura dengan terpaksa mengikuti kemauan Sasuke.
"Ada apa? kenapa membawaku kesini?" Sakura menatap Sasuke datar. Nada suaranya dingin dan hal itu membuat Sasuke kesal.
Sekarang mereka berada di atab sekolah. Tempat dimana mereka bisa leluasa berbicara tanpa ada tatapan penuh tanya atau mendengar bisikan-bisikan menyebalkan.
"Apa masalahmu?"
Sakura mengernyitkan matanya. Apa yang di katakan Sasuke barusan. 'apa masalahmu?' Apa dia gila? Tentu saja masalahnya tentu ada padamu. teriak Sakura dalam hati.
"Tidak ada. Bukankah aku sudah mengatakannya tadi."
Sasuke menghembuskan nafasnya. Sepertinya gadis di hadapannya ini sedang menguji emosinya.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan." diamnya Sakura membuat Sasuke kembali menarik nafasnya dan menatap gadis di hadapannya itu lekat-lekat. "percayalah padaku." dan satu pelukan hangat membuat Sakura terperanjat terkejut. Bagaimana mungkin Sasuke bisa melakukan ini padanya?
Sakura menggelengkan kepalanya dan mendorong dada Sasuke. Menundukkan kepalanya berusaha menyembunyikan wajah terlukanya.
"Aku mengerti,"
Setelah mengeluarkan satu kalimat ambigu tersebut, Sakura langsung berlari meninggalkan Sasuke yang mematung. Menatap punggung Sakura yang kian menjauh. Menghilang di balik tembok.
.
.
Sakura masih setia berada di kamar. Mengabaikan semua keresahan yang entah sejak kapan muncul dengan tiba-tiba. Tak tahu apa yang sebenarnya ia rasakan, Sakura hanya bisa menghela napas beberapa kali sambil menatap langit kamar yang ber-cat hijau tersebut.
"Kenapa?" satu pertanyaan itu terlontar begitu saja. Entah pada siapa itu di tunjukkan, tapi Sakura yakin bahwa pertanyaan itu tertuju pada dirinya.
Kembali ingatannya terulang dengan kejadian saat di sekolah. Kejadian yang bagaimana mungkin bisa membuat pikirannya jadi berantakan seperti ini. Gadis yang bernama Tayuya itu seperti dirinya. Rambut merah muda itu sama dengan miliknya. Yang membedakan hanya warna matanya.
Apakah ini?
Tidak. Sakura langsung menepis jauh-jauh prediksinya. Ini pasti hanya kebetulan. Atau jangan-jangan...?
"Tidak mungkin," gumamnya parau. Membuat ulu hatinya tersayat sakit.
Kejadian hari ini memukul telak dirinya. Sasuke, lelaki yang hampir selalu ada berada di sisinya itu mungkinkah sudah bosan padanya? Apakah Sasuke mulai melirik gadis lain?
Membayangkan bagaimana Sasuke mencampakkanya begitu saja membuat Sakura merasa kesal. Tapi kenapa? Bukankah Sasuke tak pernah sekalipun menyatakan cinta? Bukankah Sasuke hanya mengatakan kalau dia miliknya dan selalu berkata dia adalah kekasihnya? Lalu kenapa?
Kenapa?
Kenapa?
Kenapa?
Ada banyak tanya kenapa yang terlintas di otaknya. Kalaupun Sasuke benar-benar menganggap dirinya sebatas permainan, seharusnya Sakura merasa senang karena ia bisa terbebas dari belenggu dari lelaki Uchiha itu bukan. Tapi kenapa rasanya begitu menyakitkan?
Sakura menutup iris matanya lekat-lekat. Sebelah tangannya ia letakkan sebagai penutup. Nafasnya naik turun dengan cepat. Perasaan ini seharusnya tak datang begitu saja. Dengan dengusan tertahan, Sakura langsung bangkit dari tidurnya dan menuju keluar. Memikirkan masalah ini akan semakin membuat pikirannya semakin berantakan. Memangnya kenapa kalau Sasuke memiliki gadis lain? Memangnya apa hubungannya dengannya? Dia bukan kekasihnya secara resmi. Jadi, wajar-wajar saja kalau sekarang Sasuke dekat dengan gadis yang jauh lebih cantik. Gumamnya parau dan kembali melangkahkan kakinya ke anak tangga.
Sudah jam delapan pagi. Sakura memang sengaja tidak turun untuk sarapan pagi. Rasanya akan tidak enak kalau melihat Sasuke duduk di meja makan dengan situasi canggung seperti ini. Sesekali Sakura mengedarkan emeraldnya menatap sekeliling ruangan. Hanya ada beberapa maid yang berseliweran dengan pekerjaan mereka masing-masing. Setelah itu ia kembali melangkahkan kakinya. Menuju lemari es yang seharusnya menyimpan beberapa makanan karena perutnya sudah mulai berdemo.
"Apel, Susu, roti dan selai?" Sakura menautkan alisnya. "Hanya ini?" gumamnya.
Sekilas ia melihat maid tak jauh dari pandanganya dan memanggilnya.
"Kenapa di kulkas hanya ada ini. Apa kalian tidak memasak sesuatu?"
Pelayan itu menunduk dan menggeleng pelan, "Tuan Sasuke tidak memperbolehkan kami untuk memasak."
Sakura kembali di buat terheran-heran. "Kenapa?"
"Tuan Sasuke hanya mengatakan itu. Tapi.."
"Tapi apa?" sela Sakura cepat.
"Tuan Sasuke hanya berpesan, kalau nona turun dari kamar, nona disuruh untuk membuatkannya nasi goreng ekstra tomat."
Seketika itu pula Sakura langsung melongo di buatnya. Tanpa berpikir lama lagi, Sakura langsung berjalan menuju ke kamar Sasuke. Mengabaikan perutnya yang sudah berbunyi sedari tadi.
Setelah sampai di depan pintu kamar Sasuke, Sakura langsung menarik nafas dalam-dalam. Kemudian tanpa mengetok pintu terlebih dulu, Sakura langsung masuk tanpa komando.
"Kau berulah lagi, Ayam," hardik Sakura berkacak pinggang. Menatap Sasuke yang masih setia duduk di depan leptop miliknya. "Sasuke?!" dengus Sakura kesal. Langkah kakinya berjalan mendekati Sasuke yang masih setia pada posisinya.
Setelah sampai tepat di belakang Sasuke, Sakura langsung mendengus karena lelaki di depannya itu tak meresponnya sama sekali.
"Kali ini apa yang kau inginkan? Aku sudah berjanji pada Itachi untuk menjaga pola makanmu, ingat?" katanya lagi.
Sasuke melepas kaca matanya kemudian berbalik menatap Sakura yang bersedekap dengan alis terangkat menatapnya.
"Kalau kau bangun lebih awal seperti biasanya, aku pasti akan makan tepat waktu." tatapan Sasuke tajam dan penuturan kalimatnya tegas tak terbantahkan. Membuat Sakura terenyak terkejut dengan nada suara Sasuke barusan.
"Karena kau sudah membuatku kelaparan, maka hanya satu hal yang bisa membuatku kenyang." satu seringaian itu akhirnya kembali muncul. Membuat Sakura harus melangkah mundur sebelum Sasuke melakukan sesuatu padanya.
Namun sayang, sebelum langkahnya kian menjauh, Sasuke terlebih dulu menarik pinggang Sakura dan menariknya. Sontak membuat Sakura terpekik kaget.
"Mau kemana kau?" Sakura menelan salivanya susah payah. Posisinya tidak menguntungkan dirinya. Sasuke yang masih duduk di tempatnya dengan lengan melilit pinggang rampingnya untuk mendekat. Membuat jarak pandang Sasuke lurus kearah dada Sakura.
"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Sakura panik. Mata beningnya menatap Sasuke yang kembali menyeringai.
Tanpa menunggu komando terlebih dulu, Sasuke langsung menarik Sakura hingga gadis itu duduk di pangkuannya. Menyamakan wajah mereka dengan kening tertempel menjadi satu.
"S-Sasuke?"
Dan satu lumatan akhirnya mendarat di bibir Sakura. Membuat gadis Haruno itu menggerang. Terkejut dengan tindakan Sasuke yang tiba-tiba dan menuntut.
Mulut itu bergerak liar. Menciptakan suara dan erangan tertahan yang tanpa sengaja keluar dari bibir ranum Sakura. Membuat Sasuke semakin gencar menjelajah rongga mulut Sakura. Menepis setiap pergerakan Sakura yang berusaha menjauhkan diri. Namun tentu saja itu mustahil untuk dilakukannya. Semakin Sakura memberontak, semakin erat pula Sasuke melilit pinggang Sakura dan lidahnya pun semakin ganas melumat bibir gadis di pangkuannya itu.
Setelah puas dengan ciuman sepihaknya itu, Sasuke langsung menyibak surai rambut Sakura dan mencium leher putih jenjangnya. Membuat gadis merah muda itu menengadahkan kepalanya karena sensasi yang Sasuke berikan. Tak lupa satu tangan Sasuke yang ikut bermain di dada ranum Sakura. Meremasnya kuat-kuat dan sesekali membelainya di balik koas hitam Sakura.
"Eeggghhhh..." akhirnya desahan yang di tunggu-tunggu Sasuke mengalun merdu di telinganya. Membuat Sasuke semakin berani dengan menyingkap kaos Sakura dan membebaskan dua payudaranya. Membuka bra merah Sakura dan tampaklah dada ranum milik gadis di pangkuannya itu.
Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Sasuke menggigit puting itu dengan gigi tajamnya. Membuat Sakura menjerit keras dengan tindakan Sasuke pada dadanya.
"H-Hentikan!" dengan suara terbata Sakura mengatakannya. Dahinya mengernyit dan peluh membasahi pelipisnya. Rasanya ada sebuah desakan yang entah bagaimana mendiskripsikanya. Sasuke benar-benar membuat tubuhnya limbung. Terbukti dengan ia yang sudah tidak lagi memberontak dan membiarkan lelaki ini mengeksplor tubuhnya.
Sasuke melirik wajah Sakura. Membuat tubuhnya terbakar karena tubuh telanjang di hadapanya itu mendominasi pengelihatanya. Setelah selesai menikmati bibir Sakura dan memberikan kissmark di daerah leher jenjangnya, kini dengan rakusnya Sasuke menikmati dada Sakura. Membuat gadis di pangkuannya itu semakin menggeliat. Menimbulkan ereksi yang tak tertahankan. Namun sebelum hasrat kian membangkit, Sasuke menyudahi kegiatannya dan menggigit dada Sakura keras kemudian meninggalkan kissmark disana. Membuat Sakura yang tadinya menahan nafas untuk meredam erangannya karena tindakan Sasuke.
"Aku kenyang," Sasuke menutup kembali payudara Sakura. Membiarkan gadis di pangkuannya itu terkulai lemas dalam pelukannya.
Tak ada yang bisa Sakura lakukan. Gadis itu langsung menarik oksigen sekuat mungkin. Mengembalikan nafasnya yang tersengal-sengal atas moment yang baru saja selesai. Setelai berhasil mengendalikan diri dan kesadarannya pulih seketika, Sakura menatap Sasuke dengan tangan mengepal kuat. Entah sihir apa yang Sasuke gunakan, karena tubuh dan pikirannya kontras berlawanan. Dan ia tak tahu harus bagaimana lagi menghadapinya.
"Sudah puas?" Sakura berkata datar. Membuat Sasuke terkejut dengan perkataan gadisnya itu. "Ada yang ingin kau lakukan pada tubuhku?" tantangnya. Yang lagi-lagi terdengar dingin.
Sasuke menarik napas dan menatap Sakura, "Ada. Tapi tidak sekarang. Akan kuambil jika sudah saatnya nanti."
Setelah itu Sakura bangkit dari pangkuan Sasuke. Namun sebelum ia benar-benar keluar dari kamar Sasuke, gadis itu berbalik menatap Sasuke dan berkata, "Sebenarnya kau anggap apa aku ini, Sasuke?"
Dan...
BLAM...
Pintu tertutup dengan kencang. Membuat Sasuke mengernyit tak suka dengan kalimat tanya yang Sakura berikan padanya.
Sakura bersender di balik pintu Sasuke. Ia menarik nafasnya kuat. Mencoba menormalkan kembali detak jantungnya yang berdesir tak menentu. Ia menekan dadanya kuat-kuat. Mencoba menghilangkan peristiwa itu lekat-lekat dalam benaknya. Tindakan Sasuke kali ini sudah diluar jangkauannya. Tapi yang paling membuatnya menyesal adalah karena ia tak bisa menghentikan pergerakan Sasuke tanpa arti. Yang terekam dalam otaknya adalah ketika ia mengerang menikmati sensasi yang di berikan oleh Sasuke. Kenapa? dan, Mengapa itu terjadi?.
Menggelengkan kepalanya cepat, Sakura dengan cepat mengambil langkah lebar menuju kamarnya. Rasa laparnya yang sejak tadi ia tahan kini lenyap seketika. Bahkan mungkin saja ia akan melewatkan waktu makannya sama sekali.
Setelah perginya Sakura, Sasuke menghempaskan punggungnya, memijit keningnya yang tak menimbulkan pening sama sekali. Perasaannya dirombak, ada sesuatu dalam dirinya yang tak bisa ia katakan dengan kalimat. Karena yang terpenting baginya adalah kalimat Sakura dan bagaimana ekspresi yang di perlihatkannya.
TBC
Yuhuuu... aku kembali keperadaban. Kalian rindu padaku? Hahahaha... karena kurasa aku merindukan kalian dan celotehan kalian di kotak Reviewku. Hehehe...
Maaf ya updatenya siput banget. #plak. Ini di karenakan Puasa. Jadi sedikit malas untuk cari inspirasi. Kalaupun ada, pasti yang nongol Lime. Kan nggak mungkin ngetik begituan di bulan kayak giniiiii. #gampar.
Shiippp... bagaimana tanggapan kalaian tentang Chp kali ini? Alur ceritanya lambat atau kecepatan? Atau Lime-nya biasa-biasa saja. Dan pliiissshhh kenapa aku selalu suka adegan saat Sasuke melumat-lumat seperti itu siiiihhh. #gemes. Hehehehe...
Ahh... satu lagi yang kelupaan, untuk Fict dengan rated M yang kukatakan kemarin, mungkin akan aku publish setelah lebaran saja ya? Gak apa-apa kan? XD. Dan untuk salah satu Reader yang aku lupa siapa nickName-nya, Disini nggak ada karakter Mbk Orochiiiddddd, Say. Kamu salah sebut nama ya? Hahahaha...
Oke, Shhhiiippp... aku tunggu tanggapan kalian yang luar biasa di kotak review-ku seperti chp kemarin.
Dan ini ucapan terima kasihku untuk kalian.
SHL7810
Nikechaann
Luca Marell
wedhusgembel41
Nalda Clara
mantika mochi
An Style
hanazono yuri
Laras921
dianarndhara
Hikaru Sora 14
Cherish Vi
YOktf
BlackCherry712
isa alby
Shivatand
GaemSJ
Uchiha Lady Haruno
Cherry EXOL
caesarpuspita
isa alby (lagi)
imahkakoeni
Kurogawa Daichi
Manda Vvidenarint
misakiken
Tatzune UchiKujyo himawari
uzumakiberzira
Re UchiHaru Chan
ayuniejung
Guest
Guest Katalinanne
Guest
mia-chan
yuamimuri
wowwoh geegee
Guest
Uchiha Pioo
BaekhyunSaranghae Heni
LovelyCherryven
ongkitang
dimas priyadi 524
fukinyan
yamazukuyora hime
metha
cherryhime85
pinkyuu
soekyu sasusaku
Uchiha Lady Haruno (lagi)
JessicaStephanie
S
oto
Tukang B.S
Easr Robo
.
Byeee...
Maaf kalau ada kesalahan dalam pengetikan nama
#
#
#
Lamongan, 09-07-2015, Jawa timur.
Salam sayang: Chizuru Mey
