ONCE AGAIN!

PART 2

Recommended : 1. BOYFRIEND HyunSeong - Only U

2. Chanyeol (EXO), Punch - Stay With Me

3. Boyfriend - Mystery (for action scenes)


Hujan turun sedikit deras saat itu,dan setelah berjalan melewati lobby rumah sakit yang luas Chanyeol akhirnya berada diluar rumah sakit. Cukup jauh untuk sampai ke tempat parkir rumah sakit itu. Membuatnya hanya bisa berdiri didekat tangga diluar pintu rumah sakit. Tidak ada orang yang melewati dirinya, untuk masuk kedalam rumah sakit maupun melewat didepan rumah sakit besar itu.

Merasa bahwa hujan takkan reda dengan cepat akhirnya ia memutuskan untuk sedikit menunggu sambil melihat air yang jatuh ketanah itu, sudah lama pikirnya semenjak ia lebih suka cerah daripada memperhatikan air hujan. Namun dapat ia rasakan beberapa meter disampingnya seseorang tengah berdiri juga memperhatikan air hujan itu.

Hanya mereka berdua.

"Hujan? Aku pikir ramalan cuaca mengatakan hari ini akan cerah," katanya.

Chanyeol bisa mendengar jelas suara itu. Mengejutkan, ketika ia mengingat dengan jelas siapa pemilik suara itu. Dalam hatinya ia berharap bahwa ia tak pernah menolehkan kepalanya, atau kalau tidak ia akan melihat wajah cantik itu. Namun takdir bertidak lain, ketika ia kembali menolehkan kepalanya dan bertemu dengan manik indah milik orang yang berjas putih itu.

"Once again, I meet him. Is this called fate?"

#

Waktu itu berharga menurut Baekhyun tetapi ketika pandangannya terjebak dalam manik hitam milik lelaki yang kemarin menciumnya tiba-tiba , ia merasa waktunya sudah berhenti disana untuk menyelam kesana. Bahkan ketika rintik hujan telah berhenti jatuh dan beberapa orang sudah melewati mereka, Baekhyun masih memperhatikannya. Sial, pikirnya.

"Jadi, kau memang seorang dokter?" entah cibiran atau pertanyaan yang lelaki itu lontarkan pada Baekhyun. Namun, Baekhyun tersadar bahwa ia tengah berada bersama orang yang salah saat itu.

"Akhirnya kau menyayangi dirimu, aku pikir kau lebih suka mati dengan luka itu. Hah, atau aku salah dengar? Ah, sepertinya aku memperdulikan seseorang yang salah," balas Baekhyun lalu menuruni tangga-tangga itu, berniat meninggalkan sosok tinggi yang harus ia hindari itu. Walau kenyataannya ia takut, bahwa lelaki tinggi itu adalah takdir barunya.

GREP!

Lengannya ditahan agar badannya juga berhenti untuk pergi. Baekhyun melempar tatapannya kearah lelaki yang menahannya itu. "Permisi, tapi bisakah kau melepaskan tanganmu, tuan? Aku harus pergi saat ini," kata Baekhyun mencoba meminta pada orang yang bahkan setelah pertemuan kedua mereka, belum mengetahui namanya.

Lelaki itu berada satu tangga diatasnya, dengan mudahnya ia mencondongkan tubuhnya kedepan mendekati wajah Baekhyun. Dalam hati Baekhyun berteriak, apa lagi ini? Sebuah ciuman dipublik? Astaga. Lelaki ini sepertinya memang sudah gila, tapi masa ada lelaki yang gila memiliki tatapan tajam membunuh seperti ini.

"Permisi, tapi bisakah kau kembalikan Berreta 92 milikku? Sejujurnya, sangat bahaya untuk seorang dokter yang lembut sepertimu. Lagipula, kau tidak memiliki surat-surat kepemilikkannya, dan ah, waktumu untuk belajar menembak pun sepertinya tidak punya. Jadi...," tangan lelaki itu terulur meminta. Baekhyun memutar malas matanya, lalu melepas tangan lelaki itu dari lengannya.

"Kenapa tidak memberikan suratnya saja kepadaku?" balas Baekhyun lagi.

Kini lelaki itu menatapnya tajam. "Kau pikir semudah itukah untuk mendapatkan Berreta 92? Astaga, tuan dokter yang terhormat, aku bahkan bisa membuatmu kehilangan kesadaranmu sekarang dan untuk selamanya jika aku ingin, jadi sebelum aku benar-benar melakukannya, tolong kembalikan barang itu."

Baekhyun menghela nafasnya, lalu menatap mata lawannya itu. Ia merasa ia pernah mengalami hal ini bersama Sehun dulu. Ah, Baekhyun... sampai kapan kau mengkhawatirkan hal ini? "Kalau begitu, maaf tuan boss, tapi aku tidak membawa barangnya. Juga, jika lain waktu kita bertemu kembali, aku tidak bisa memastikan bahwa aku membawa barangnya."

Tapi bukan seorang Park Chanyeol jika ia tidak bisa melakukan hal lain demi mendapat sesuatu yang ia inginkan, walau sejujurnya bukan pistol itu yang ia inginkan dari dokter yang pernah menolongnya itu. Tetapi hanya rasa penasaran.

GREP!

Baekhyun kembali terdiam dan tercengan sekarang ketika lelaki yang satu tangga diatasnya itu sudah mengambil handphone yang ia simpan disaku jas lab nya itu. Lalu dengan bangganya lelaki itu menunjukan seringaian kemenangan dan mulai bermain jari diatas layar handphonenya.

"Kau harus siap-siap mendapat terror dariku jika kau belum mengembalikan benda itu padaku. Ah, namamu Byun Baekhyun, kan? Senang bisa ditakdirkan untuk bertemu dengan dokter yang berani sepertimu sampai jumpa."

Baekhyun terkekeh mencibir halus perkataan yang keluar dari lawannya itu. "Takdir? Kuharap ini hanya suatu kebetulan. Aku tahu kau takkan terus berada ditempat ini boss, kau harus berpindah ketempat yang lain sebelum musuhmu mendapatimu bukan? Jadi, jangan berharap pertemuan kita ini adalah sebuah takdir—," terutama takdir yang terulang.

Chanyeol membalas kekehan Baekhyun yang terasa mencibir itu. "Kau dokter yang cukup berani. Lalu apa alasan yang membuat kita bertemu lagi, kalau bukan takdir? Apakah itu artinya kita memang saling terhubung, atau sebenarnya Tuhan menciptakan seorang dokter yang cukup berani ini untuk menjadi pendampingku?"

Sial, pikir Baekhyun. Perkataan ini persis seperti perkataan Sehun dulu. Ah, Baekhyun tidak bisa bertahan lebih lama lagi. "Tak peduli bagaimana dan dimana kita bertemu kembali, aku mohon jangan pernah menganggapku ada," Baekhyun mengalihkan pandangannya tak ingin menatap bola mata kelam itu.

"Kau bisa menyakiti seseorang jika seperti itu," gumam Baekhyun selanjutnya, yang sudah dipastikan lawan bicaranya tak pernah mendengar hal itu keluar dari mulut seorang Byun Baekhyun.

Baekhyun bisa merasakan seseorang sudah berada tepat disampingnya, seseorang yang lebih tinggi darinya. "Tentu, aku harap kita tak pernah bertemu lagi setelah ini," balas lelaki itu, lalu pergi meninggalkan Baekhyun disana setelah kembali memasukkan handphonenya kedalam saku jas lab Baekhyun.

Baekhyun segera mengecek handphoennya dan menemukan sebuah nama kontak baru disana. "Park Chanyeol," gumamnya lirih.

#

Chanyeol memasuki mobil mewahnya dengan sedikit kesal, karena pertemuannya dengan dokter manis itu yang begitu singkat. Tunggu ada apa dengannya? Tapi sejujurnya yang membuat Chanyeol terlalu kesal adalah gumam-an Baekhyun yang tidak terlalu jelas namun ia bisa menebak bahwa lelaki itu berkata bahwa ia bisa menyakiti seseorang. Tapi siapa?

"Apakah itu kau, Byun Baekhyun? Tapi kenapa aku bisa melukaimu?" tanya Chanyeol bingung.

Penglihatannya terlalu tajam sampai ketika dokter itu melewati mobilnya, tanpa tahu lelaki itu memperhatikannya. Sangat singkat, namun ia bisa merasakan jejaknya. "Ya, kau benar, seseorang bisa terlukai olehku, dan itu adalah kau."

"Aku harap kita takkan bertemu lagi, aku harus menjauhimu mulai sekarang. Jaga dirimu baik-baik, don't be killed, doctor strange," kata Chanyeol sedikit berat tapi ini menurutnya yang terbaik walau sedikit aneh, karena ia tak pernah melakukan hal ini sebelumnnya.

Chanyeol meninggalkan tempat itu setelahnya. Ia masih banyak pekerjaan, tentu semua pekerjaannya berbahaya maka dari itu harus diselelsaikan dengan cepat. Mobilnya berhenti disebuah basement apartement. Tak perlu pergi ke markas lagi.

DRRTTT!

Sebuah panggilan dari Taehyung. "Ya, Taehyung-a, ada apa?" jawabnya.

#

Kasper memberi hormat pada pasien terakhirnya hari itu, setelah perawatnya datang dan membawa tamu terakhirnya pergi ia menghela nafas lelahnya panjang. Pekerjaan sebagai dokter itu tidak mudah, dimulai dari proses bagaimana ia harus mendapatkan gelarnya sampai sekarang ia mendapatkan tanggung jawab itu, butuh segala keseriusan dalam menjalankannya.

Punggungnya ia sandarkan pada kursi kerjanya yang empuk. Matanya melihat ke ujung mejanya dimana terdapat sebuah foto yang diambil beberapa waktu yang lalu, foto dirinya, Baekhyun, dan kekasihnya Sehun. Sebenarnya Kasper berteman baik dengan lelaki berwajah pucat itu, hanya saja ya sedikit tak menyukainya karena fakta bahwa lelaki pucat itu adalah kekasih Baekhyun yang ia sukai.

Well, setidaknya ketidak sadaran lelaki itu membuat hubungannya dengan Baekhyun sedikit kembali lebih dekat. Kasper masih mengingat dengan jelas hari itu dimana Sehun mengalami kecelakaan hebat yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Entah lelaki itu sedang beruntung atau memang mempunyai banyak nyawa, seharusnya Sehun meninggal saat itu juga.

Satu tahun yang lalu, tepatnya dibulan September. Yang Kasper ingat adalah Sehun mengalaminya setelah mengantarkan Baekhyun ke rumah sakit. Didepan matanya, keduanya tidak ada sesuatu yang mengganjal, hanya saja Sehun sedikit terlihat lelah dan tidak fokus. Lalu tiba-tiba saja ada sebuah kabar kecelakaan dari anak buahnya. Well, ia juga tahu bahwa lelaki itu juga seorang mafia.

Baekhyun yang terlalu terkejut bahkan tak berani untuk melihatnya dan menangis. Yang ia tahu tentang kecelakaan ini adalah, bukan karena Sehun sendiri yang menyebabkannya, ia tahu Sehun adalah pengendara yang baik walau sedikit menyebalkan dengan kecepatannya, ia juga tahu Sehun tak pernah mengemudi dengan kondisi mabuk. Tapi kenapa kecelakaan besar itu bisa terjadi, sampai sekarang belum ada titik terang.

Kenapa rasanya hal ini juga dialami oleh pasien barunya, Xi Luhan?

DRRTT!

Handphonenya bergetar diatas meja, menunjukan sebuah pesan. Kasper mengembangkan senyumannya ketika mendapat pesan dari Baekhyun.

"Hyung, kau punya waktu luang?"

"Tentu, aku baru saja selesai dengan pekerjaanku. Ada apa?" dengan cepat juga lelaki yang mengirimnya pesan membalasnya. Sepertinya Baekhyun memang tengah menunggunya. "Tidak, hanya saja aku sedang ingin minum. Bisakah kau menemaniku?"

Kasper mengernyitkan dahinya. "Heol, kau itu seorang dokter Byunbaek. Ah, bagaimana dengan makan malam bersama?" balasnya, terlihat tanda Baekhyun tengah menuliskan jawabannya. Kasper menyunggingkan senyumnya. "Call, jika kau yang mentraktirku!"

Bahkan jika itu harus membelikan restorannya juga, Kasper akan membelikannya hanya untuk Byun Baekhyun semata. Ah, ia harus bersiap sekarang untuk menemui sahabat yang ia cintai itu. Kasper lalu membawa jas labnya dan meninggalkan ruang kerjanya. Segara pulang ke apartementnya.

Suasana hati yang baik dapat memberikan impact yang baik juga.

Pukul tujuh malam, waktu yang pas untuk memiliki makan malam dengan seseorang bukan? Baekhyun tidak membutuhkan jemputannya seperti seorang wanita, tetapi ia akan menunggu direstoran kesukaannya itu sambil memainkan garpu atau handphonenya sendiri. Kasper langsung membawa mobil mewahnya untuk pergi kesana, walau ini bukan sebuah acara kencan tapi anggap saja begitu.

"Sudah menunggu lama?" tanya Kasper ketika ia sampai dimeja dimana Baekhyun duduk. Baekhyun menggeleng. "Tidak, aku baru saja sampai disini lima belas menit yang lalu," jawab Baekhyun, kemudian seorang pelayan menghampiri meja mereka dan memberikan buku menunya.

Setelah memesan makanannya dan pelayan itu pergi, Baekhyun kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi itu. "Kenapa? Sesuatu mengganggu pikiranmu?" tanya Kasper khawatir. "Ah, kenapa juga kau mengajakku minum?" lanjutnya.

Baekhyun memejamkan matanya, lalu menggeleng kecil. "Hanya sedang merindukan Sehun, tak banyak masalah," jawab Baekhyun lalu tangan lentiknya memijat pelipisnya yang sedikit berdenyut. Tangan Kasper juga terangkat untuk mengelus surai coklat itu. "Sehun baik-baik saja, lagipula masih ada anak buahnya yang selusin itu yang menjaganya dengan baik," balas Kasper.

"Hm, Hyung... aku ingin bertanya sesuatu padamu, tapi kau hanya menjawabnya dengan ya atau tidak, oke?" tanya Baekhyun sambil mengangkat wajahnya. Kasper tersenyum lembut kearah lelaki manis itu. "Tanyakanlah,"

"Umm, bukankah itu aneh jika seseorang yang baru saja bertemu denganmu tiba-tiba memaksamu untuk bertemu kembali?" tanya Baekhyun dengan antusias. Kasper sedikit mengerutkan dahinya, bingung. "i-iya, tentu, tapi—"

"Itu berarti aku tak perlu untuk bertemunya kembali, dalam keadaan apapun itu bukan?" lanjut Baekhyun, Kasper mengangguk ragu setelahnya. "Tentu, jika itu memang mengganggu pekerjaanmu sebagai dokter kau tidak perlu menemuinya. Setidaknya, orang itu harus tahu waktu untuk bertemu dengan malaikatku," jawab Kasper. Baekhyun tersenyum manis, sedikit kesal dengan godaan Kasper.

"Hyung~ aku kan hanya ingin 'ya atau tidak'," kata Baekhyun manja, lalu tertawa manis. Wah, Baekhyun tertawa dihadapan Kasper, bukankah hal itu bagus?

Hidangan yang mereka pesan akhirnya datang, dan mereka segera menyantapnya. Ketika seorang pelayan datang dan memberikan wine kedalam gelasnya dan Baekhyun, ia mengernyit. "Kenapa kau meminum wine?" tanya Kasper.

"Kenapa? Apa ini mengandung racun?" balas Baekhyun. "Kau bisa mabuk hanya karena satu gelas alkohol, Baekhyun," jawab Kasper memperingatkan. Baekhyun terkekeh kecil, lalu meminum wine itu dari gelasnya. "Kini, satu gelas bukanlah hal yang berat, hyung. Percaya padaku!" seru Baekhyun bersemangat. Kasper mengangguk percaya.

Baekhyun membuktikan ucapannya, walau ia sudah hampir menghabiskan satu gelas wine itu, ia tak terlihat mabuk. "Sudah kubuktikan bukan? Ah, tapi aku akan mabuk jika benar-benar menghabiskan ini semua. Kau bisa meminumnya hyung," Baekhyun memberikan gelasnya pada Kasper, yang diterima oleh lelaki itu.

"Setelah ini kau akan pulang?" tanya Kasper. Baekhyun menggeleng, lalu mengangkat handphonenya dan perhatiannya teralih pada benda persegi panjang itu. "Sepertinya tidak, aku harus pergi menjenguk Sehun terlebih dahulu. Ah, hyung, jangan lupa kau harus langsung istirahat setelah ini, karena besok aku memberikan pasienku padamu, oke?"

Kasper membulatkan matanya ketika mendengar perkataan Baekhyun yang seperti hadiah jackpot baginya itu. Ahahaha, ayolah, ia sudah merasa lelah dengan pasiennya sendiri, tapi ditambah pasien milik Baekhyun? Oh, ayolah.

"Kalau begitu aku pergi dulu, kau berkata akn mentraktirku, jangan lupa...," Baekhyun beranjak dari tempatnya dan membawa semua barangnya. Mengabaikan protesan dari Kasper yang masih duduk disana dan kesal karena keputusannya.

"Yah, Baekhyun, Byun Baekhyun.. kau tahu kau melanggar kode rumah sakit untuk menyerahkan pasien kan?" kata Kasper mencegah kepergian Baekhyun. Tapi Baekhyun yang terlalu senang untuk mengerjai sahabatnya itu, hanya menjulurkan lidahnya. "Aku tahu, aku tahu, maka dari itu bantu aku untuk merahasiakannya... Aku pergi, dah Hyung."

Baekhyun benar-benar pergi dari hadapan Kasper, yah walau pekerjaan itu berat tapi karena Baekhyun menunjukan bahagianya pada dirinya, maka itu bukan hal yang harus di sedihi lagi bukan? Kasper terkekh kemudian menuangkan wine nya lagi kedalam gelasnya.

#

Sesuai dengan ucapannya Baekhyun memang kembali ke rumah sakit untuk menjenguk Sehun, secara rutin jika ia ada waktu kosong. Tidak, ia memang harus memiliki waktu kosong. Dulu mungkin mereka bisa melakukan video call, atau chatting, tapi sekarang ia bahkan seperti berbicara pada patung.

"Yah! Oh Sehun keparat! Kau mengabaikanku? Arghh, apa aku tenagh berbicara pada patung berjalan kali ini?!" Baekhyun yang tengah kesal ditambah kesal karena Sehun tidak merespon apapun yang ia katakan.

"Argh, sial.. sepertinya aku harus mencari boss mafialain untuk ku kencani," perkataan Baekhyun sukses membuat Sehun menatapnya sedikit tajam.

"Apa yang kau katakan? Eyy, jika saja kau benar-benar melakukan itu, aku yang akan pertama kali memotong kepalanya agar tidak menyentuh, kekasihku!" seru Sehun dengan semangat, Baekhyun terkekeh lalu mengusak kepala Sehun sayang. "Ah, kenapa aku harus memiliki kekasih yang hanya suka melukai orang yang menyentuhku?"

"Kau seharusnya beruntung, sayang... Jika bukan aku, siapa lagi yang akan menjaga malaikat sepertimu?" Baekhyun mengangguk dan tersenyum simpul mendengar perkataan Sehun. "Hm, sangat melegakan aku memilikimu. Jja, patung berjalanku kini bisa berbicara, jadi katakan kenapa kau hanya diam tadi?"

Sehun menangkup wajah Baekhyun. "Karena aku tidak mengerti bahasa medismu, dokter Byun," jawab Sehun gemas. "Ah, haruskah aku juga menggunakan bahasa mafiaku saat bercerita panjang?" lanjutnya.

"Yah! Oh Sehun! Jangan melarikan diri! Patung berjalan!" teriak Baekhyun lalu menyusul Sehun yang lebih dulu pergi setelah mencuri kecupan dibibir tipis Baekhyun.

Baekhyun tersenyum ketika mengingat masa dimana mereka masih bisa tertawa bersama. Ah, rasanya sungguh menyenangkan bisa mengingat hal yang baik daripada mengkhawatirkan hal yang tidak pasti.

Keadaan rumah sakit saat ia datang tidaklah ramai, beberapa dokter residen yang tengah melakukan shift malam juga masih ada. Baekhyun segera melangkahkan kakinya ke ruangan khusus milik Sehun. Dari ujung koridor ia bisa melihat ada beberapa orang anak buahnya yang menjaga kekasihnya itu, membuatnya semakin semangat.

Namun, ketika ia melihat ada sosok lain yang tengah berdiri dan berbicara dengan salah satu anak buahnya itu, senyumnya tergantikan. "Ah, Changwook hyung," sapa Baekhyun menginterupsi pembicaraannya. Abaikan perilakunya yang seperti kekasih wanita yang berusaha tak marah pada wanita lain yang berusaha merebut kekasih lelakinya.

"Jung Soojung-ssi? Kenapa kau ada disini? Ini bukan jam besuk," kata Baekhyun pada sosok yang tengah berbicara dengan salah satu anak buahnya itu. Wanita itu tersenyum sinis karena mendapatkan cibiran dari Baekhyun.

"Apa salah aku mengunjungi tunanganku? Ah, sial...," gusar Soojung. Baekhyun tersenyum tipis. "Calon tunanganmu, dan itu adalah kekasihku, jadi kau belum berhak untuk menyentuhnya," balas Baekhyun, lalu menatap kearah anak buahnya dan Sehun.

"Bisa bawa wanita ini pergi dari sini? Aku tidak ingin melihat wajahnya lagi, pastikan penjagaannya lebih ketat, mengerti?" kata Baekhyun memerintah, walau ia sering memerintah kepada perawat atau dokter residennya, tapi situasinya berbeda, maka dari itu ia sedikit ragu. "Baik, boss!" balas anak buahnya serempak, lalu membawa Soojung pergi dihadapannya, walau dengan paksaan.

Baekhyun menyimpan barangnya, lalu duduk disamping tempat tidur Sehun. Mengenggam tangan yang sedingin es itu, mendekatkannya pada pipi Baekhyun yang dirasa memang hangat. "Cepatlah bangun sayang, aku takut dengan dunia ini, kemana iblis yang menjagaku, huh?" kata Baekhyun sedih.

Tiba-tiba ingatannya menayangkan pertemuannya dengan lelaki bernama Park Chanyeol itu. Sedikit ragu untuk mengataknnya, tapi orang bisa berubah bukan?

"Hun-a, tentang orang yang sangat mirip dengamu itu... Aku akan berusaha untuk tidak takut dengannya. Bagaimanapun cintaku akan terus jatuh padamu, jadi tak ada yang harus aku takutkan bukan?" Baekhyun sedikit terdiam sebelum, ia menarik kursinya untuk semakin dekat dengan tempat tidur itu.

"Ah, dia juga seorang boss mafia, aku bisa mengetahuinya karena kau. Juga, ia memberiku sebuah pistol Berreta 92, dan menyuruhku untuk belajar menembak. Bodoh, jika ia tahu kemampuan menembakku bagaimana ya? Lagipula aku sudah menyuruhnya utnuk tak bertemu lagi denganku."

Baekhyun tiba-tiba teringat sesuatu. "Ah, aku menarik ucapanku tentang kau sangat mirip dengan lelaki itu! Kalian berbeda, sangat berbeda, kau adalah patung berjalan, sedangkan dia, dia adalah ... orang bodoh yang menyebalkan!"

TOK!TOK!

Baekhyun mengalihkan pandangannya ke arah pintu dimana, salah satu anak buah Sehun memberi hormat padanya. "Boss, aku ingin melapor. Ada seseorang yang menyuruh kami untuk menangkap sekelompok mafia lain, apa kita harus melakukannya?" tanyanya.

Baekhyun mendecih, ia sebenarnya tak pernah menyyukai pekerjaan Sehun yang terbilang sangat berbeda dengannya itu. Baekhyun adalah penolong, tapi Sehun sama sekali tidak membantu tetapi malah menambah pekerjaan teman-temannya.

"Jika itu sangat berbahaya, jangan pernah mengambilnya dan mempertaruhkan nyawa kalian. Jaga diri kalian, selain aku, Sehun hanya memiliki kalian mengerti?" orang itu mengangguk mengerti kemudian menutup pintunya kembali.

Baekhyun menghela nafas dan menatap Sehun lagi. "Ini yang aku tidak suka darimu, tapi aku membiarkanmu selagi kalian tak terluka," kata Baekhyun.

#

Terbangun ditengah malam bukanlah hal yang bagus. Terutama ketika Baekhyun sadar bahwa ia masih berada dirumah sakit, dan tengah memengang tangan Sehun. Baekhyun mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu melihat kearah jam tangannya. Pukul dua pagi, katanya dalam hati.

Setelah memberikan kecupan singkat pada Sehun, ia pergi dari ruangan itu. Didepan ruangan itu ada beberapa anak buahnya, dan terkejut karena Baekhyun keluar dari ruangan Sehun sepagi ini. Para lelaki bertubuh lebih besar darinya itu langsung memberi hormat padanya.

Baekhyun tersenyum canggung, kemudian menghampiri Changwook. "Dimana yang lain?" tanya Baekhyun. "Ah, itu...," jawab Changwook gugup. Baekhyun mengernyit bingung. "Ah, mereka tengah berada di cafetaria rumah sakit, haruskah aku memanggil mereka kembali?" tanya Changwook, Baekhyun tersenyum tipis, lalu menepuk pundak Changwook.

"Biarkan mereka memenuhi kebutuhan manusiawinya, jangan lupa hubungi aku jika terjadi sesuatu pada boss kalian, oke?" tanya Baekhyun, Changwook membalas senyum Boss nya itu. "Tentu, ah, apa kau akan pulang? Mau ku antar?" tawarnya. Baekhyun menggeleng dengan pasti lalu meninggalkan tempat itu sesegera mungkin.

Baekhyun memasuki mobilnya, lalu membawany pergi dari rumah sakit megah itu. Jalanan sangat sepi, karena siapa yang akan menggunakan jalan sepagi ini? Kecuali orang-orang yang sedang berpergian jauh, yang tak ingin terjebak oleh padatnya jalanan disiang hari.

Baekhyun berheti karena traffic light, lalu pandangannya mengernyit ketika melihat ke kaca spion mobilnya. Awalnya ia pikir itu baik-baik saja ketika dibelakangnya ada motor yang mengikuti, tapi itu aneh ketika ternyata buka hanya satu motor yang mengikutinya. Setelah beberapa waktu, Baekhyun kembali membawa mobilnya dengan kecepatan yang biasa, memastikan bahwa motor-motor itu hanya mematuhi peraturan.

Namun itu sia-sia ketika motor-motor itu mulai menaikkan kecepatan mereka dan menyerang mobil Baekhyun menggunakan senjata api. Oke, Baekhyun tidak bisa tenang kali ini, dan segera menaikkan kecepatannya.

"Sial, ada apa dengan mereka?" tanya Baekhyun. Hatinya mulai tidak tenang, dan ketika salah satu motor itu berada disampingnya, juga menunjukan senjata api itu, Baekhyun benar-benar berdoa bahwa mobil yang sudah dipreteli oleh anak buahnya ini bisa melindunginya.

DOR!

"Akh!" teriak Baekhyun namun tidak terjadi apapun, tidak ada yang pecah.

Ia harus segera meminta pertolongan, karena sialnya ia tidak membawa senjata apapun sekarang. Tapi ini sangat berbahaya ketika ia harus menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dan berusaha menghubungi anak buahnya untuk mendapatkan pertolongan.

Baekhyun tidak bisa bertahan lama, sungguh.

Tangannya dengan cepat menyimpan handphonenya didepan kemudinya. Berusaha mencoba membagi fokus. Ketika ia hendak mencoba untuk memfokuskan pada panggilannya, sebuah mobil melaju dengan cepat dari arah kanannya.

"Akh!" teriak Baekhyun dengan cepat ia membanting kemudinya ke kiri, ketika ia sadar bahwa ia masih selamat, Baekhyun segera melihat handphonenya, sudah melakukan panggilan?! Apa?! Baekhyun membulatkan matanya, namun ini adalah hal darurat yang ia sialkan daripada operasi darurat yang biasa ia lakukan.

Calling Park Chanyeol, adalah hal terburuk bagi Baekhyun.

Baekhyun berusaha untuk membatalkan panggilannya, sebelum matanya meiliri kearah spion lagi, dan menemukan masih banyak motor yang mengikutinya dan masih berusaha menembakinya. Ah, apa yang sebenarnya terjadi?!

"Seseorang! Siapa pun tolong aku!" teriak Baekhyun histeris.

"Byun Baekhyun?" Baekhyun menoleh kearah handphonenya, seseorang menjawab panggilannya. Tunggu, tapi..ini. Ah persetan! Baekhyun sudah dalam masa darurat!

"Park Chanyeol-ssi? Bisakah kau menolongku?! Banyak motr dibelakang mobilku dan mereka berusaha mencelakaiku, mereka tidak berhenti untuk menembak mobilku, kau tahu, kaca anti pelurupun ada batasnya!" seru Baekhyun tak sabar, dna tak yakin bahwa lelaki diseberangnya juga mendengarkannya dengan jelas.

"Hah?" sudah diduga.

"Apa kau bercanda, kenapa seorang dokter bisa menjadi buronan? Apa yang pernah kau lakukan pada mereka? Hey, aku masih sibuk, dan tidak bisa membantumu, oke?"

DOR! PRANG!

Sebuah tembakan ganas yang membuat kaca belakang mobilnya berlubang. Baekhyun yakin ini adalah balasan atas doanya yang menginginkan bertemu dengan Sehun walau ia harus kehilangan kesadarannya. Ia menyesal mengatakan itu.

"Kau dengar, sialan?! Aku sudah tidak membutuhkanmu!" umpat Baekhyun lalu memutuskan panggilannya, dan kembali memacu mobilnya lebih cepat. Tangannya kembali terbagi fungsi, untuk menghubungi salah satu anak buahnya.

"Ya, Baekhyun? Ada apa?"

DOR! PRANG!

Baekhyun yakin, sudah ada dua lubang dikaca mobil belakangnya. Ah, ia benar-benar ingin menyerah sekarang.

"Tunggu! Kenapa ada suara tembakan?! Baekhyun katakan apa yang sedang terjadi?! Apa kau dalam bahaya?!" seru Changwook di ujung. Baekhyun terkekeh, ia menyerah.

"Changwook hyung, sekelompok motor menyerangu, bisakah kau membantuku? Aku sudah lelah, aku tak bisa lagi membawa mobil ini berkeliling dengan kecepatan tinggi," ujar Baekhyun, hampir menangis karena ini bukanlah hal yang ia inginkan, sungguh.

"Oke, Baekhyun jangan menyerah, aku akan turun sekarang! Tetap dalam kecepatan tinggi! Dan usahakanlah, bawa mereka ke tempat yang ramai! Sial! Bajingan mana yang berani menyerangmu!"

Tutttt! Sambungannya terputus. Baekhyun menghela nafas, ya setidaknya ada seseorang yang mau menolongnya kini, dan jika seandainya sesuatu yang buruk terjadi ada seseorang yang akan merawatnya nanti. Ah, Park Chanyeol sialan! Namun ia juga bodoh, kenapa meminta tolong kepada boss mafia yang tentu takkan menolongnya.

DOR! PRANG!

Habislah, kaca belakang mobilnya sudah mempunyai 4 lubang, sudah dipastikan jika dua atau tiga tembakan lagi datang, maka jendela itu akan hancur dan tak melindunginya. "Yah! Bajingan! Bisakah kalian berhenti menembak kaca mobilku?!" teriak Baekhyun frustasi. Ia terus membawa mobilnya berkeliling tanpa para pengendara motor sialan itu tahu.

Well, itu karena mobilnya memakai GPS, jadi sebenarnya Baekhyun hanya berkeliling disana. Namun ia juga merasa sial ketika salah satu motor itu berhasil menyamai posisinya. Kalau bukan karena ia ragu dan bukan seorang yang amatir dalam mengendarai seperti ini, ia bisa menabrak pengendara motor itu dan membuatnya jatuh.

TOK! TOK!

Pengendara disamping mobilnya mengetuk jendela, dengan takut Baekhyun sedikit menoleh, sedikit membuka jendela itu setidkanya agar orang diluar sana mendengar perkataannya nanti. "Yah! Bajingan tengik! Berhenti menembaki mobilku sialan! Atau aku akan membunuhmu! Kau dengar itu! Cepat menyingkir!" teriak Baekhyun.

"Jika kau membunuhku, siapa yanga akan menolongmu, dokter Byun?" balas orang itu dengan berteriak sama dengan yang Baekhyun lakukan. Baekhyun membulatkan matanya. Tunggu, itu bukan Changwook.

"Park Chanyeol?!" teriak Baekhyun tak percaya.

"Teruslah mengendari dengan cepat, jangan bawa mereka berkeliling!" teriak Chanyeol. Baekhyun sedikit bingung namun tetap melakukannya, setidaknya dalam pikirannya ini bisa membantu. Yah, semoga.

Namun sepertinya telat untuk menyadari bahwa, sekelompok motor itu juga memiliki otak yang licik dan menyadari bahwa sejak tadi Baekhyun hany membawa mereka berkeliling. Baekhyun mendesah kesal ketika lima puluh meter dihadapannya, motor-motor itu siap untuk menabrakkan diri mereka dengan mobil Baekhyun ah, mungkin itu lebih untung bagi Baekhyun jika mereka tidak hendak menembak lebih dahulu.

CKKIITT! BRRAK! Baekhyun segera memberhentikan mobilnya ketika melihat sebuah mobil menabrak motor-motor itu dengan cepat dari arah samping mereka. Sedikit ngeri dan ya merasa bersalah. Baekhyun segera keluar dari mobilnya dan menghampiri para korban tersebut yang mungkin sudah tak sadar diri.

"Apa mereka sudah mati? Tunggu, ada yang masih sadar!" pekik Baekhyun. Namun ketika tangannya hendak menyentuh orang itu, ia ditahan oleh tangan besar lainnya. Chanyeol dengan tatapan tajam yang tak pernah lepas darinya itu, sama seperti Sehun.

"Berusaha menjadi pahlawan, hyung?" tanya seseorang dari mobil yang tadi menabrak orang-orang itu. Ugh, mobilnya sangat hancur karena menabrak beberapa motor.

BRRRMMM! BRRMM!

Baekhyun menoleh ke belakang dimana banyak motor mengarah kearahnya, ah tepatnya mengerumuni dirinya dan Chanyeol. Baekhyun menoleh kearah Chanyeol. "Apa ini belum berakhir?" tanyanya polos, sungguh Baekhyun kini tak bisa berpikir lebih jernih dari biasanya.

"Aku tidak tahu apa masalahmu, tapi ini benar-benar gila! Berlindung!" Chanyeol langsung membawa Bekhyun kedalam pelukannya, dan berlari kearah mobil Baekhyun, bersembunyi dari tembakan-tembakan yang sudah terdengar. Kini Chanyeol memegang kemudi mobilnya.

"Bukanka kau memiliki Berreta-ku? Kenapa kau tidak gunakan? Setidaknya buatlah keributan, ah, aku tahu kau masih belum bisa menggunakannya bukan?" cibir Chanyeol disamping Baekhyun, Baekhyun mendecak kesal sebelum memperhatikan sekitarnya. Ini lebih parah dari sebelumnya, pikirnya.

"Kau lupa, tuan? Kau mengambil isi pelurunya, ugh, menyebalkan," balas Baekhyun tak kalah mencibir Chanyeol. Chanyeol tidak menjawab tapi menjalankan mobil itu benar-benar lebih cepat daripada yang Baekhyun bayangkan.

"Argh, sial apa yang pernah kau buat sebelumnya?!" cibir Chanyeol kembali, ketika motor-motor itu tidak berhenti menembaki mobil mereka. Baekhyun yang takut sekaligus bingung tidak menjawab, hanya berusaha menghubungi anak buahnya. "Yah! Dokter Byun!" interupsi Chanyeol.

"Aku juga tidak tahu! Jika aku tahu, untuk apa aku berlari seperti ini?! Aku bisa membicarakan masalah ini, jika saja, argh wanita sialan! Aku tahu, wanita itu yang membuatku dalam bahaya seperti ini!" teriak Baekhyun frustasi, membuat Chanyeol bungkam, karena baru pertama –tidak yang kedua melihat dokter itu berteriak.

Kembali kesialan itu datang, terlebih ketika mereka benar-benar dihadang oleh mobil-mobil besar kali ini. Chanyeol menggeram kesal, seharusnya ia tak ikut campur dengan orang disampingnya itu. Tapi, entahlah ketika ia mendapat panggilan itu saat sedang berada dimarkas hatinya sungguh tidak tenang menolak permintaannya.

Mobilnya berhenti tepat beberapa meter dari blokade itu. Seharunya ia tahu, jalan ini memang sangat sepi dan tak terpakai. Keduanya tidak keluar dari mobilnya, bukan karena takut. Tapi mereka tidka yakin untuk memenangkan pertandingannya jika seperti ini.

Beberapa orang itu kini mengangkat senjata api mereka kearah Baekhyun dan Chanyeol. Sedangkan alasan lain Chanyeol tidak lebih berani adalah, mereka bisa saja mengenali boss mafia yang terkenal seperti Chanyeol. Ah, Raven Fire.

"Keluar!" kata orang-orang itu. Baekhyun menoleh kearah Chanyeol. Chanyeol mengganguk, Baekhyun menghela nafasnya lalu membuka pintunya. Seperti buronan yang tertangkap, mereka sudah ditarget oleh senjata-senjata api itu.

Berbeda dengan Chanyeol yang berjalan dengan keberaniannya, Baekhyun berjalan sedikit takut. Merasa benar-benar tertekan, dan ia tidak bisa tahu dimana anak buahnya sekarang. Seseornag berbadan besar menghadang mereka. Baekhyun yakin,orang itu bukanlah orang yang menginginkannya.

"Jadi, kenapa kau membawa tamu yang tak di undang? Ah, seharusnya aku membunuhmu tuan tinggi!" serunya pada Chanyeol. Baekhyun menoleh kearah Chanyeol, khawatir kalau orang yang ia anggap sebagai boss mafia itu juga tak bisa berkutik dan menjadi korban disini.

"Lepaskan dia," ucap Baekhyun lirih terdengar oleh semua orang yang tengah terdiam itu. Chanyeol menatapnya tajam, tentu. "Lepaskan dia, dia hanya tamu disini. Aku yang kalian inginkan, jadi lepaskan dia."

"Jangan bodoh, Byun!" gumam Chanyeol. "Kau pikir kau siapa? Kau sudah berusaha menolongku, jadi kau bisa dilepaskan disini," balas Baekhyun. Ia sudah menyerah, setidaknya nanti anak buahnya yang akan menyelamatkannya. Chanyeol melangkah mendekati Baekhyun, namun sebelum keinginan lelaki tinggi tersampaikan, ia dihadang dua tubuh besar.

"Aku tidak tahu apa masalah kalian dengan dokter itu, tapi jika kalian pintar, kalian tak perlu membuatnya menderita dan menyerah seperti ini. Minggir! Aku masih ada urusan dengan dokter itu!" seru Chanyeol, namun karena merasa ucapan Baekhyun lebih benar orang-orang itu tidak mengizinkannya.

"Argh, kalian memang benar-benar menyebalkan!" Chanyeol terlalu kesal, namun ketika ia sadar bahwa hampir semua orang disana memegang senjata api, ia tidak punya pilihan selain mundur kebelakang.

DOR!

Bukan Chanyeol apalagi Baekhyun, tapi Changwook yang baru saja berhasil datang dan hendka menolong kekasih Boss nya yang mereka sayangi. Kemudian Baekhyun tak bisa membayangkan lebih daripada suara-suara tembakan yang memekikkan telinganya. Namun ketika tembakan itu berhenti, Baekhyun melihatnya semua berubah, bukan lagi tembakan api perkelahian.

Baekhyun hendak melarikan diri, ketika seseorang yang lebih besar darinya menahannya untuk bergerak. "Kau pikir dengan memukul perut buncitku, aku akan kesakitan nona?" katany mencibir kemampuan Baekhyun. Baekhyun tersenyum sinis. Lalu dengan tenaganya, ia memukul kemaluan orang itu dengan keras.

"Kau pikir aku tidak tahu jalan lain untuk melepaskan diriku dari tubuh jorokmu?!" teriak Baekhyun setelah berhasil melarikan diri. Ia hendak menolong anak buahnya, walau dalam kondisi yang lelah seperti ini setidaknya ia harus bisa menumbangkan beberapa orang.

CKREK!

"Kau pikir kau bisa melarikan diri kemana, cantik? Dengar sekalinya kau bergerak maka timah panas ini, bisa saja menembus kepalamu yang sangat keras kepala itu" seseorang mengarahkan senjatanya kearah kepalanya dengan tenang. Hanya tersisa ornag itu yang tengah mengancam Baekhyun.

Chanyeol melempar orang terakhir yang berurusan dengannya. Memandang kesal kearah Baekhyun yang masih menjadi tawanan orang-orang bodoh itu. Dengan kesal Chanyeol mengeluarkan senjata apinya dari jaket dan mengarahkannya pada Baekhyun. "Kau pikir kau berani untuk membunuhnya?" tanya Chanyeol.

Orang itu terkekeh. "Tentu, seharusnya aku yang menanyakan hal itu. Kau berani membunuh dokter ini?" tanyanya. Kini giliran Chanyeol yang tersenyum sinis, lalu mengarahkan pistolnya kearah lawannya yang masih tersisa.

DOR! DOR!

"Kau lihat?" tunjuk Chanyeol. Orang dibelakang Baekhyun itu terlihat ragu kini namuan, kemudian lelaki itu berkata. "Berani kau menembak lagi, maka aku akan menarik pelatuk ini tepat dikepalanya!" katanya. Chanyeol mencibir keberanian orang itu, lalu sedikit mendekat kearah Baekhyun yang sudah pucat.

"Silahkan, akupun ingin membunuh dokter itu," perkataan Chanyeol lolos membuat Baekhyun semakin lemas, dan anak buah Baekhyun yang baru datang mengarahkan senjata api mereka kearah Chanyeol. Chanyeol terlihat tak percaya dengan kepekaan orang-orang disana.

"Turunkan senjata kalian, atau kami akan menembaki kalian!" teriak Changwook.

"Atau tidak.." gumam seseorang.

DOR!

Suara yang tembakkan yang memekikan telinga kembali terdengar, dan tepat setelah itu Baekhyun jatuh dari berdirinya, tak sadarkan diri. Namun sebelum ia benar-benar jatuh ketanah, Chanyeol menangkapnya. Dibaju Baekhyun terdapat noda darah. Anak buahnya langsung berlari kearah Chanyeol dan Baekhyun.

"Chan—yeol—?" tanya Baekhyun sebelum ia menutup matanya.

"Cepat bawa dia ke rumah sakit, bodoh!" teriak Changwook kearah anak buahnya yang lain. "Dia sangat terkejut, padahal ini bukan darahnya," kata Chanyeol, lalu mengangkat tubuh Baekhyun oleh dirinya dan membawanya masuk kedalam salah satu mobil yang Chanyeol tahu, sangat layak untuk Baekhyun ada disana.

Ketika ia kembali untuk menghampiri orang yang menolongnya dengan Baekhyun, ia melihat lawan-lawannya tadi sudah membantu rekannya untuk pergi sedangkan orang-orang yang menolongnya dengan Baekhyun juga mulai memasuki mobil mereka.

"Ah, siapa kalian? Kenapa kalian bisa mengetahui dokter itu berada dalam keadaan bahaya?" tanya Chanyeol, pada Changwook.

Changwook menoleh dari pandangan dimana musuh-musuh boss nya itu sudah mulai meningglkan jalanan itu. Astaga, ini terlihat seperti mereka baru selesai dan memenangkan peperangan. Lalu lelaki itu memungut sebuah biji timah dikakinya. "Itu sudah menjadi tugasku, terima kasih telah menolong Bo—Baekhyun kami sebelumnya. Permisi."

Changwook melangkah meninggalkan tempat itu, sebelum suara Chanyeol menginterupsinya. "Tunggu, pastikan kalian menjaga dokter itu! Ia sungguh menyebalkan! Dan jika ketika ia sadar nanti, beritahu dia bahwa aku takkan pernah berniat untuk bertemu dengannya lagi!" teriak Chanyeol, lalu mengambil salah satu motor yang tergeletak disana dan membawanya pergi.

#

"Sesungguhnya hyung, aksimu kali ini benar-benar terlihat bodoh!" kata Taehyung saat Chanyeol sudah berada di markasnya. Namun lelaki tinggi yang menjabat sebagai boss itu tidak menghiraukannya, hanya berjalan kearah meja billiard yanga da ditenga-tengah ruangannya.

"Aksimu dan tingkahmu tak mencerminkan sebagai boss mafia yang terkenal, well dan mereka itu pasti adalah anak buah dokter itu! Jika mereka tahu bahwa kau adalah pemimpin Raven Fire, mereka pasti akan menunduk padamu. Dan apa itu? Kau bahkan tidak membunuh mereka dengan keji disana!" seru Taehyung berisik.

Namun Chanyeol tetap tidak bergeming. "Hyung!" interupsi Taehyung. Chanyeol menoleh kearahnya sekilas sebelum beranjak meninggalkan ruangan itu, dan mengambil kunci mobilnya untuk segera pulang. Pikirannya tiba-tiba teralih pada Baekhyun, dokter itu. "Kini aku semakin mengerti kenapa kita tidak boleh kembali bertemu, Baekhyun. Kau juga adalah sesuatu yang kembali terulang bagiku."

"Ah, Taehyung-ah, setelah misi terakhir kita besok, kita akn pindah ke Beijing, beritahu yang lain!"

Chanyeol memasuki mobilnya, lalu menjalankan mobil itu. Kembali memecah keheningan pagi buta dijalanan yang masih sepi. Memikirkan keputusan untuk pindah ke Beijing, dan menghindari pertemuannya bersama dokter syaraf itu. "Aku benar-benar pergi kali ini, jaga dirimu baik-baik, dokter Byun."

Hanya dua pilihan ketika kisah kita terulang, luka lama atau hal yang lebih baik. Tapi aku tahu sesuatu yang terulang akan membuatku mengingat luka lama lebih banyak daripada memikirkan hal baik yang bisa kita raih. – Raven Fire's Boss.

#Once_again_Chanbaek

Don't Forget to Review Guys~~~