ONCE AGAIN!

Part 3

BGM : Nayoung ft Mad Clown – Once Again (DOTS OST), Davichi – This Love (DOTS OST),

Satu hal yang Baekhyun ingat ketika ia baru saja terbangun dari pingsannya adalah lelaki yang pertama kali menolongnya. Ya, lelaki tinggi yang hampir membunuhnya juga. Park Chanyeol, lelaki yang ia anggap sebagai seorang boss mafia sama seperti kekasihnya.

Baekhyun mendudukkan dirinya, dan tersadar bahwa ia menjadi seorang pasien sekarang. Astaga, lihat baju rumah sakit yang melekat ditubuhnya dan anak buahnya yang tengah membaca koran disalah satu sofa ruangannya. "Oh, Boss! Anda akhirnya bangun!" serunya, yang Baekhyun tahu nama lelaki itu adalah Hanbin.

Baekhyun tersenyum canggung. "Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Baekhyun. Namun sebelum Hanbin menjawabnya seseorang membuka pintu ruangannya dengan keras dan menunjukan sosok yang pasti paling pertama yang akan mengkhawatirkan dirinya, Kasper.

"BAEKHYUN!" teriak Kasper, lalu berjalan cepat kearahnya.

"Kau tak apa? Aku sangat terkejut dan khawatir! Bagaimana bisa anak buah Sehun itu tidak mengabariku saat sesuatu terjadi padamu?! Ah, sialan. Kau benar baik-baik saja? Aku menyesal saat itu tidak mengawasimu," kata Kasper. Sudah dipastikan Hanbin menggeram kesal kini karena nama Boss nya diangkat oleh Kasper, belum lagi dokter itu juga merendahkan kualitas anak buah Bossnya, alias dirinya dan kawan-kawannya.

Baekhyun tersenyum tipis lalu memegang tangan Kasper. "Aku baik-baik saja hyung... Ah, Hanbin, boleh aku meminta bantuanmu? Tolong panggilkan Changwook hyung kemari," kata Baekhyun, Hanbin mengangguk, lalu memberi hormat sebelum akhirnya melangkah pergi dari ruang inap Baekhyun itu. Kini Baekhyun menatap sahabatnya.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Kasper. Baekhyun kembali tersenyum tipis.

"Seperti biasa, musuh Boss Oh yang menyebalkan," jawab Baekhyun tak berusaha untuk menaruh rasa kesal atau marah pada jawabannya karena ia sudah terbiasa dengan penyerangan seperti ini semenjak mereka mengetahui hubungannya dengan seorang boss mafia yang terkenal kejam itu.

Awalnya mungkin Sehun akan kembali mengejar musuh-musuhnya itu lalu membantainya, tapi semenjak kecelakaan itu mereka bersorak karena wajah dingin yang menghantui mereka sudah tumbang. Tapi ternyata anak buah Sehun yang sudah dilatih dan memang sudah dekat dengan kekasih bosnya, tak pernah membiarkan Baekhyun terluka. Baekhyun sangat bersyukur akan itu.

"Ini yang aku benci dari hubunganmu! Kau mempertaruhkan nyawamu untuk lelaki yang berbahaya seperti Sehun!" seru Kasper, tak terhitung berapa kali Baekhyun pernah mendengar perkataan itu dari orang yang menyandang status sebagai sahabat itu. Baekhyun menyunggingkan senyum mirisnya.

"Sudahlah hyung lagipula aku tidak pernah mempermasalahkan hal ini. Ah, aku menepati ucapanku tentang mengambil pasienku bukan? Cepatlah pergi, mungkin mereka menunggu dokternya," suruh Baekhyun, Kasper mendecak kesal lalu meninggalkan ruangan Baekhyun juga dengan kekesalannya. Sedangkan lelaki cantik itu hanya menghela nafasnya.

TOK! TOK!

Baekhyun kembali melempar pandangannya kearah pintu dimana kini Changwook tengah berdiri disana. "Masuklah," ujar Baekhyun. Changwook mendekati Baekhyun, lalu memberi hormat pada salah satu Boss nya itu. "Apa kau memerlukan sesuatu?" tanya Changwook, Baekhyun menggeleng.

"Aku hanya ingin tahu, apa yang terjadi saat aku pingsan. Ya, kau tahu sendiri aku sangat terkejut saat Cha- tidak, lelaki itu hampir menembakku, jadi bisakah kau memberi tahuku?" jawab Baekhyun. Sedikit aneh karena ia tidak mengatakan Chanyeol pada Changwook. "Ah, tentang lelaki yang menolongmu lebih dulu? Kami tengah mencari informasinya-"

"Jangan lakukan itu!" potong Baekhyun membuat Changwook mengernyit bingung. Eh? Baekhyun langsung menutup mulutnya, ia juga terkejut akibat ucapan refleksnya itu. Well, maksudnya adalah untuk menyelamatkan identitas lelaki itu, jika memang Chanyeol adalah boss mafia.

"Kenapa?" tanya Changwook. Baekhyun menggeleng ragu. "Tidak, hanya saja.. kau tidak perlu mencari mencari keberadaan atau tentang lelaki itu. Jangan pernah, ini perintah! Lalu apa yang lelaki itu katakan?" lanjut Baekhyun. Changwook terlihat menggaruk tengkuknya yang bahkan Baekhyun tebak tak gatal sama sekali. "Aku tidak tahu maksud percakapannya, tapi ia berkata bahwa ia takkan pernah bertemu lagi denganmu," Baekhyun mengangkat alisnya, lalu mengangguk dengan mulut terbuka.

Jadi, Chanyeol tak ingin bertemu dengannya lagi? Bukannya itu lebih bagus? Pikir Baekhyun. Setelahnya Changwook meninggalkan ruang inap Baekhyun, karena dokter itu berkata ingin beristirahat sebelum akhirnya ia akan kembali berkerja sebagai dokter spesialis syaraf. Walau awalnya Changwook melarangnya dengan keras, seorang kekasih boss sama tidak bisa ditolak permintaanya.

"Baguslah kalau kau memang tak ingin bertemu, aku juga tidak ingin," ucap Baekhyun didepan layar handphonenya yang menunjukan kontak milik Chanyeol itu sebelum ia memutuskan untuk beristirahat kembali.

#

DOR! DOR! DOR! DOR!

Chanyeol kembali mengisi peluru untuk senjata apinya, tak terhitung berapa kali ia sudah mensia-siakan biji timah itu. Karena hatinya tengah tidak tenang maka ia melampiaskannya pada latihan menembak yang sebenarnya tidak diperlukan. Untungnya, anak buahnya mengerti kondisi dirinya yang tengah dalam mood terburuknya. Meninggalkan Chanyeol sendiri di ruang bawah tanah dimana biasanya mereka memakai ruangan luas itu sebagai tempat berlatih menembak.

DOR! DOR!

"Ah sial," umpatnya ketika salah satu pelurunya tidak mengenai sasaran. Chanyeol kemudian melepaskan headphone penjaga pendengarannya dengan kesal. Menatap kearah papan kayu yang berada 20 meter dihadapannya. Menggelengkan kepalanya ketika bayangan dimana ia menembak lawannya yang tengah mengancam keselamatan dokter itu kembali datang menghampirinya.

Tak mau lama teralrut akhirnya Chanyeol kembali memasukan amunisinya dan mengarahkan pistol itu kearah papan kayunya. Sebelum seorang mengetuk pintu dan menghampirinya. "Bos, ada panggilan dari jaksa Kim."

Chanyeol menurunkan senjatanya lalu menerima handphonenya dari salah satu anak buahnya itu. Dilayarnya tertera tulisan 'jaksa Kim' sebelum berbicara ia menghela nafasnya dan mengerlingkan matanya terlebih dahulu malas. "Ada apa?" tanya Chanyeol langsung pada intinya. Terdengar kekehan dari ujung sana. "Selamat Pagi, Park Chanyeol."

"Ada apa menghubungiku sepagi ini?" tanya Chanyeol sekali lagi. Ah ya, Chanyeol hanya kembali ke apartementnya hanya untuk beristirahat sebenatr kemudian kembali lagi ke markasnya itu. "Oh tenang saja, aku hanya ingin bertanya apa rencana kita sudah disiapkan?" tanyanya, dasar kakek tua umpat Chanyeol.

"Kau tenang saja, dan siapkan pembayaran yang kau janjikan atau aku juga akan melubangi otak kecilmu itu dengan peluruku," geram Chanyeol, bukannya takut tapi malah terdengar kekehan diujung sana. "Kau tahu, asalkan kau membunuh si Park Seo Joon dan mendapatkan stempel itu maka semua keinginanmu akan tercapai! Kau mau apa? Tahta? Kaya? Atau Wanita?" tanya jaksa Kim.

Chanyeol sedikit terkekeh mencibir lalu memutuskan sambungannya sebelum ia memberikan benda persegi panjang itu, sebuah panggilan kembali masuk dengan nomor yang tidak diketahui. Dengan cepat ia mengangkat panggilannya, karena ia rasa sesuatu tidak berjalan dengan baik. "Halo?" tanya Chanyeol pertama kali. Well, kau tidak bisa langsung menyimpulkan sesuatu yang jahat sekalipun kau itu orang jahat.

"Wah...wah..wah, akhirnya seorang pemimpin Raven Fire mengangkat panggilanku," jawab yang disebrang. Chanyeol menajamkan tatapannya marah. Ia tahu siapa yang menghubunginya saat itu, namun tak mengetahui alasannya. "Kenapa kau menghubungiku? Tak puas untuk menggangguku selama ini?!" tanya Chanyeol tak sabar dengan berteriak. Terdengar tawa dari ujung sana.

"Aku yang seharusnya bertanya seperti itu! Tak puas kau memasuki wilayah permainanku?! Sekarang kau melindungi seorang dokter? Hahahaha, sangat lucu Park Chanyeol! Kusarankan kau untuk diam! Atau aku akan melukaimu seperti terakhir kali!"

BIIPPP! Sambungannya terputu begitu saja ketika Chanyeol menggebu-gebu marah akan meledak sebenatr lagi pada orang yang menghubunginya itu. Ah, dunia sudah gial pikirnya. Dengan kesal ia membanting handphonenya itu, yang untungnya bisa terselamatkan oleh anak buahnya.

"Taecyeon, kau sudah tahu tentang kepindahan kita?" tanya Chanyeol pada Taecyeon yang baru datang ke ruangan itu. "Ya, aku baru mengetahuinya. Kenapa?" balas Taecyeon, Chanyeol memejamkan matanya sekali lagi, lalu menatap Taecyeon. "Tidak, hanya urus saja semuanya sebelum kita pindah," jawab Chanyeol dingin.

Kalau Baekhyun memiliki Kasper sebagai sahabat baiknya, maka sama seperti Chanyeol yang memiliki Taehyung dan Taecyeon yang dekat dengannya, namun Taehyung lebih kasar dan bertemperamen buruk dibandingkan Taecyeon itu kenapa Chanyeol akan lebih tenang jika bersama lelaki ini. Tapi mungkin tidak kali ini. "Apa kepindahan kita terjadi karena lelaki yang kau tolong pagi tadi?" tanya Taecyeon, sedikit menohokkan hatinya.

"Diam berarti iya, bos kau tahu aku tidak bisa menolak perintahmu tapi setidaknya berikan aku alasan kenapa lelaki itu menjadi alasanmu?" tanya Taecyeon lagi. Chanyeol yang terlalu kesal karena perbincangan ini terus berujung kearah Baekhyun yang ia tolong akhinya mendekati Taecyeon dan mencengkram kerah bajunya kasar.

"Jangan banyak bertanya, hanya lakukan apa yang aku minta!" gertak Chanyeol. Taeyeon melepaskan tangan lelaki itu dengan cepat. "Tapi bagaimana dengan kekasihmu itu? Siapa yang akan menjaganya?" tanya Taecyeon. Chanyeol diam ditempat, bungkam. Sebelum akhinya menjawab. "Sisakan perawat disini, aku tak ingin membicarakannya lagi," kata Chanyeol lalu pergi dari sana dengan amarahnya.

DUGH!

Chanyeol menutup pintu ruangan pribadinya dengan kasar, ia kecewa karena Taecyeon memancing amarahnya entah disengaja atau tidak. Kenapa setelah pertemuannya dengan dokter itu, dirinya seperti runtuh? Padahal ketika ia tidak berpikir lebih tentang dokter itu, dan belum memutuskan untuk pindah, dirinya baik-baik saja. Ah ya, tentu karena kekasihnya –mantan-.

Chanyeol menghela nafasnya berat. Bahkan ketika ia mendengar suara ketukan pintu rasanya sangat menyebalkan.

TOK! TOK!

"Aku sedang tak ingin diganggu!" katanya, namun Taehyung yang dibalik pintu itu tetap memaksa untuk masuk. "Ada masalah dalam besar terjadi di Tokyo hyung, kau harus cepat turun kebawah!" balas Taehyung memberi tahu, Chanyeol menggeram kesal, sebelum akhirnya pergi dari ruangan itu lagi, padahal niatnya ingin menenangkan pikirannya. Ugh.

"Kau yakin karena wanita gila itu? Tapi dia manamungkin tahu bisnis kita!" teriak Taecyeon pada salah satu anak buah Chanyeol. Chanyeol yang baru saja datang ke ruang pertemuan itu juga hanya memperahtikan sahabatnya itu, lalu menghampirinya. "Kenpa kalian mempeributkan sesuatu yang tidak pasti. Darimana kalian tahu bahwa wanita gila itu yang menghancurkan bisnis kita?" tanya Chanyeol.

"BOS!" serentak mereka memberi hormat pada pemimpin Raven Fire itu.

"Chanyeol, seseorang menghancurkan bisnis kita di Tokyo pagi ini, mereka mengatakan bahwa ada seseorang yang menyerangnya dan memberi tahu polisi setempat. Untung saja..-," ucapan Taecyeon terpotong ketika Chanyeol menatapnya tajam. "Dengar, seseorang itu bukan berarti selalu wanita gila itu. Tetapi, bisa saja mafia lain, cepat cari siapa yang merencanakan ini semua!" perintah Chanyeol.

#

Sedangkan Baekhyun sudah mendapatkan keinginannya yaitu pulang ke apartmentnya segera ia beristirahat kembali, walau dengan penjagaan setidaknya ia tak perlu mendapat tatapan menyebalkan dari beberapa perawat yang memang tidak dengan senang hati merawatnya di rumah sakit itu. Ah, ia sudah berjanji untuk segera bertemu dengan pasiennya.

"Ah benar, aku tidak bisa diam disini. Baiklah, aku akan pergi ke rumah sakit nanti malam," ucapnya lalu menaikkan selimut tebal yang hangat itu sebelum terlelap ia tidak lupa memastikan alarmnya dinyalakan. Terlalu lelah dapat menyebabkan cepat terlelap, dan Baekhyun yang sudah menghabiskan waktunya untuk kerja pasti cepat terlelap.

TRING!

Suara dentingan besi itu membuat Baekhyun terbangun, namun ia mengernyit ketika menyentuh lengan seseorang. Betapa terkejutnya ia ketika melihat tubuhnya sendiri tengah tertidur pulas. Tunggu, Baekhyun baru menyadari bahwa dirinya cantik dan imut juga untuk ukuran lelaki. Eh?

Ia melihat bibir tipisnya sendiri, ah pantas Sehun suka mencuri kecupan dibibirnya itu. Jika dilihat kembali ternyata ia tidak terlalu buruk juga untuk menghancurkan kesombongan perempuan yang mengira dirinya cantik, karena nyatanya ia sebagai lelaki juga cantik. Hahahaha.

"Baekhyun?" Baekhyun menoleh ketika seseorang memanggil namanya.

Matanya membulat ketika melihat soosk yang memanggilnya itu. Rasa terkejut, rindu, bingung menganggu pikirannya. Namun tidak berarti ketika rasa rindu itu terus mebludak dalam hatinya, membuatnya berlari dan memeluk sosok itu. Ia tidak peduli apakah ini mimpi belaka atau hanya ilusinasinya saja. Tapi melihat Sehun berdiri dihadapannya adalah hal terbaik kini.

"Hun-a!" Baekhyun segera berhambur dalam pelukan hangat lelakinya.

"Aku merindukanmu," kata Baekhyun selanjutnya lalu melepaskan pelukannya dan menatap wajah pucat dan dagu tajam itu. Sehun juga begitu, menatap lelaki cantik yang lebih pendek darinya, yang sudah lama ia rindukan. "Aku juga, bagaimana keadaanmu?" tanya Sehun. Mengejutkan Baekhyun karena ia berbicara layaknya ia sudah kembali.

"Merindukanmu sepanjang waktu, apa itu bisa disebut dengan hal yang baik? Aku harap kau segera bangun, aku merindukanmu Sehun," jawab Baekhyun sedih. Jika ini hanya mimpi maka ia tidak ingin bangun, bahkan jika hanya dengan cara ini ia bisa bertemu dengan kekasihnya itu maka ia rela untuk terbaring kaku seperti kekasihnya.

"Aku mendengar semua ucapanmu sayang, tapi dengar aku tidak tahu kapan aku bisa kembali padamu. Baekhyun, kau harus jaga dirimu baik-baik, bukan untukku tetapi untuk pendampingmu yang lain nanti. Jika tuhan mengambilku dari sisimu, aku ingin kau tidak bersedih terlalu lama," Sehun menangkup wajah sedih Baekhyun yang sudah mengeluarkan air matanya.

"Ta-tapi kenapa? Kau masih ada kesempatan untuk bangun Sehun... kumohon, kau masih punya waktu untuk terus bersamaku, kau tidak ingin melanjutkan mimipi kita? Aku tidak bisa menjaga diriku sendiri, kau yang bisa. Maka dari itu, aku mohon Hun-a bangunlah," tangis Baekhyun pecah saat itu juga, baik Baekhyun maupun Sehun merasakan yang namanya luka. Mereka saling mencintai, tapi kenapa?

Sehun membawa Baekhyun kembali berbaring dengan tubuhnya, walau berat tidk baik bagi jiwa yang masih sadar untuk keluar dari tubuhnya. Ini hanya permintaan bodohnya pada Tuhan untuk bertemu dengan kekasihnya jika seandainya ia kembali pada sang pencipta sebelum matanya kembali terbuka dan mengatakan betapa ia merindukan dan mencintainya. Baekhyun tetap menangis dan meronta tak ingin kembali pada tubuhnya, namun Sehun tak ingin mendengarkannya.

"Sehun kumohon bawa aku bersamamu," mohon Baekhyun, Sehunmenggeleng tepat, walau hatinya sebenarnya memberontak juga.

"Dengar sayang, ingat perkataanku. Aku akan selalu mencintaimu, dan menjagamu dari tempatku berada. Aku mencintaimu selamanya, walau aku tidak bisa melihatmu lagi, tapi ingatlah perkataanku ini. Jangan takut sayang, banyak orang yang menjagamu. Ada malaikat kedua yang menjagamu selain aku, aku masih dan tetap menjadi malaikat pertamamu bukan?" Sehun terkekeh dengan ucapannya, walau air mata juga mengalir dari matanya. Sebelum Baekhyun kembali tertidur ia mencium dahi Baekhyun lama, sebelum akhirnya tubuhnya kembali hilang menyatu dengan angin hangat yang menjemputnya.

"Aku mencintaimu Baekhyun."

"SEHUN!" Baekhyun terlonjak dari tidurnya. Ia tersadar bahwa itu hanya mimpi belaka mendesah kesal. Tapi pikirannya menyangkalnya, itu bukan sebuah mimpi ia bahkan melihat dirinya tengah tertidur pulas saat itu. Baekhyun memijat pelipisnya, pening. Lalu suara pintu terdengar.

"Baekhyun apa terjadi sesuatu? Kenapa berteriak?" tanya Changwook diambang pintu. Baekhyun tak mengangkat wajahnya, masih berpikir tentang pertemuannya dengan Sehun sebelumnya. Namun air mata kembali mengalir dari kelopak matanya, mengingat itu bukanlah sebuah pertemuan yang indah. Sehun mungkin berkata ia mencintainya, tapi tidak dengan raut sedih itu.

"Hyung, aku baru saja bertemu dengan Sehun..-entahlah itu sebuah mimpi atau bukan tapi ini sangat aneh ia berkata ia akan meninggalkan kita semua," "Itu hanya mimpi Baekhyun, tidak mungkin bos akan berkata seperti itu. Ia tidak akan meninggalkan tuan putrinya sendiri disini," gurau Changwook, sebelum mendapatkan tatapan tajam karena menyebut Baekhyun dengan tuan putri. Oke, ia berada diposisi bawah tapi, sudahlah.

Baekhyun bangun dari tidurnya lalu mengambil handuk dari lemarinya sebelum melangkah masuk kedalam kamar mandi. "Aku ingin kembali ke rumah sakit," katanya pada Changwook yang langsung diangguki oleh anak buahnya itu.

Bukan hal yang cukup baik jika kembali ke rumah sakit setelah matahari terbenam selain tidak ada pasien yang akan ia tangani dimalam hari kecuali pasien rawat inap, ia hanya akan menghabiskan waktu diruangan Sehun sampai larut malam atau esok hari. Kecuali jika ada Kasper disana.

Baekhyun memakai sweater turtle neck berwarna putih dan long coat berwarna baby blue saat pergi ke rumah sakit itu, dan ketika ia sampai di ruangannya ia disambut oleh perawat kesayangannya, Dasom. "Ah, kau sudah sehat Oppa?" tanya Dasom bingung ketika menemukan lelaki itu tengah menggantung long coatnya dan menggantinya dengan jas lab rumah sakit itu.

"Hm, begitulah. Ah ada hal penting yang aku lewati?" tanya Baekhyun, lalu dengan cepat Dasom memberi beberapa kertas kepadanya. Membuat Baekhyun membulatkan matanya terkejut, wah. Ia tidak lebih dari 24 jam meninggalkan pekerjaannya tapi lihat. Ah menyebalkan.

"Ah ya benar pasti banyak," kikuk Baekhyun lalu membaca tugasnya satu persatu dengan teliti. Bahkan ketika pikirannya terkadang teralihkan oleh bayangan kejadian dimana ia bertemu dengan Sehun, ia tetap mencoba untuk profesional.

"Dokter Byun, ini sudah waktunya untuk check up pasien kita," panggilan Dasom sukses membuat Baekhyun terbuyarkan dari lamunannya. Baekhyun mengangkat wajahnya. "Ah ya? Kalau begitu panggil Taeyeong untuk menemaniku," balas Baekhyun lalu berdiri dari duduknya.

"Aku sudah disini Profesor Byun," interupsi seseorang diujung pintu. Baekhyun mengangkat alisnya,mendapat panggilan yang begitu asing ditelinganya membuatnya terkekeh geli. "Aku belum setua itu, Taeyeong," jawab Baekhyun.

Baekhyun beranjak dari ruangannya menuju ruangan dimana pasien-pasiennya dirawat. Kebanyakan dari mereka tengah beristirahat, dan masih ada yang belum sadar dari koma mereka. Well, karena penyakitnya berhubungan dengan saraf maka tak lain yang ia rebut sementara adalah kesadarannya.

Baekhyun mungkin hanya akan tersenyum hangat jika ia mendapati pasiennya yang sudah kembali sehat, dan berpesan agar tak lupa untuk selalu check up kesehatan dan meminum obatnya. Sedangkan menurut para pasiennya, dokter Byun adalah dokter yang baik hati tidak seperti –ekhem- dokter Kim Kasper- ekhem- yang katanya selalu sedikit tegas. Dokter Byun selalu hangat pada pasien dan keluarga pasien, katanya.

"Apa sudah habis?" tanya Baekhyun. Taeyeong yang sedang menuliskan pesan-pesan Baekhyun langsung mengalihkan fokusnya dengan terburu-buru. "Ah ya, satu lagi pasiennya.. um.. Luhan! dan kekasih anda," cicit Taeyeong diakhir.

"Itu bukan satu, tetapi dua. Kau tidak perlu mengikutiku saat mengunjungi Sehun, kau mengerti?" tanya Baekhyun, Taeyeong mengangguk dibelakangnya, tanpa sadar. Lalu membulatkan matanya ketika ia sadar, Baekhyun bukan butuh anggukan.

"Ah! Iya, tentu saja!" seru Taeyeong.

Pintu ruangan ICU itu terbuka, Baekhyun dan Taeyeong segera menuju sisi bangsal milik pasien yang bernama Luhan itu. Baekhyun pikir tak ada yang berubah dari keadaan pasiennya, atau setidaknya belum ada walau penanganannya sudah dilakukan sejak lelaki itu datang kerumah sakit ini.

"Bagaimana keadaan tanda vitalnya terakhir kali?" tanya Baekhyun. Taeyeong kembali membuka catatan kecilnya. "Uh, semuanya normal saat terakhir kali aku mengeceknya," jawab Taeyeong. Baekhyun memberikan tanda untuk memberikan jubah lab dan sarung tangannya, dan Taeyeong segera membantu Baekhyun untuk memasangnya.

"Ia pernah dioperasi karena pendarahan diotaknya sebelum datang kemari bukan? Itu sebabnya ia berada di ICU, perhatikan kesterilan tempat ini," Baekhyun segera medekati bangsal pasien itu dan mengecek keadaan tanda vitalnya. Mulai dari petunjuk dari layar EKG dan tindakan manual untuk mengetahui keadaan vitalnya.

"Vitalnya normal, hanya pastikan kau memberi obat-obat yang aku sarankan sebelumnya dengan teratur," jelas Baekhyun pada Taeyeong sebelum ujung matanya menangkap suatu pergerakkan kecil dari ujung jari lelaki itu.

"Dok-," "-kau melihatnya juga?" tanya Baekhyun, dengan segera ia mendekati kembali lelaki itu. "Tuan! Apa anda mendengar saya? Tuan? Tuan tolong berikan respon!" kata Baekhyun, lalu mengeluarkan senter kecil dari saku jubah labnya. Sebelum membuat rangsangan respon dan mengecek ukuran pupil lelaki itu.

Setelah memastikan bahwa respon cahaya yang ia berikan sedikit membuahkan hasil, ia mencoba hal lain yaitu dengan menekan ruang yang ada diantara ibu jari dan telunjuk. Tangan itu terlihat tertolak akibat perlakuan Baekhyun. Masih terlalu lemah menurut Baekhyun, walau bisa dipastikan tingkat kesadaran meningkat.

"Aku butuh dokter Kim sekarang," gumam Baekhyun. Taeyeong segera keluar dari ruangan itu untuk menghubungi oraang yang Baekhyun butuhkan. Sedangkan Baekhyun masih didalam dan mengamati lebih tepatnya menjaga keadaan pasien agar tingkat kesadarannya terjaga.

Taeyeong kembali masuk kedalam ruangan dan mendekati Baekhyun yang masih mengamati pasiennya dengan tenang. "Dokter Kim dalam perjalanan, uhm.. dokter Byun, apa ada yang harus saya ganti dari pesan yang sebelumnya anda berikan? Mengingat pasien ini sedikitnya meningkatkan kesadarannya."

Baekhyun tiba-tiba mengernyit ketika mendengar perkataan Taeyeong. "Bisakah kau memberi tahu lagi hasil pemeriksaan pasien yang dulu, tentang epilepsi atau kronologisnya? Aku sepertinya menemukan sesuatu yang salah disini," kata Baekhyun. Taeyeong sedikit terkejut, lalu membuka kembali catatan kecilnya dengan cepat.

Ah untungnya catatan ini masih ada. "Ah ya, pasien bernama Luhan, datang dari rumah sakit Guk Il Hospital dengan catatan medis pernah mengalami pendarahan diotak dan telah dilakukan penangan, lalu sebab akibatnya.. um.. karena trauma otak dari kecelakaan yang ia alami."

"Epilepsi?" tanya Baekhyun, Taeyeong kembali membuka catatanya, dan untungnya kembali ia menemukan catatan medis itu. "Ah, iya, setelah dilakukan CT Scan dan MRI, kami mendapatkan catatan bahwa impuls listrik diotak pasien pernah tidak stabil yang membuatnya kejang beberapa saat," jawab Taeyeong.

Baekhyun kembali mengernyit, ia baru sadar sesuatu. "Uh, tunggu."

"Baekhyun, sesuatu terjadi?" interupsi Kasper yang membuat Baekhyun menoleh lega. "Ah, akhirnya. Kau pasti sudah tahu tentang keadaan pasien ini? Ia merespon kesadarannya. Walau untuk respon cahaya sedikit lebih lemah daripada respon motoriknya," kata Baekhyun.

Kasper mendekati tubuh Luhan dan mencoba membuktikan ucapan Baekhyun. "Kau lihat? Respon motoriknya bernilai 4, itu artinya kita mempunyai kesempatan untuk menyadarkan dia sepenuhnya," lanjut Baekhyun dengan senang. Well, setidaknya jika pasien ini tersadar maka tidak ada yang harus ia khawatirkan.

"Uhm, benar. Lalu apa selanjutnya?" tanya Kasper. Baekhyun menrengut bingung. "Kau yang bertugas untuk merawatnya, Byun. Keputusan ada ditanganmu."

"Ah ya, tetap lakukan apa yang aku pinta, tapi sebelumnya kau harus memberiku laporan. Ah ya, lakukan CT Scan lagi untuk memeriksa apa ada yang salah dalam otaknya karena respon cahaya kurang. Kita bisa mengetahui apa yang bisa lakukan setelahnya," ujar Baekhyun.

Kasper tersenyum manis melihat Baekhyun kembali seperti biasa yang menunjukan bakat dokternya. "Baiklah dokter Byun," jawab Taeyeong.

Baekhyun dan Kasper yang akhirnya keluar dari ruangan itu meninggalkan Taeyeong yang maish harus berkutat dengan pemeriksaannya. Well, terkadang itulah yang membuat dokter residen mengerang kesal, karena yah sebenarnya itu terlalu sibuk bagi mereka. Kasper menunggu Baekhyun yang masih harus berurusan dengan petugas ICU, sebelum akhirnya berjalan bersamanya.

"Senang bukan melihat kesadaran pasienmu kembali dihadapanmu," Baekhyun tahu lelaki disampingnya tengah mencibir sifat dirinya yang selalu memberikan pekerjaan pada dokter residen yang sibuk itu. Tapi apa gunanya dokter residen jika tidak bisa diandalkan olehnya.

"Hm, begitulah. Namun lebih baik jika aku mendapatkan pasien yang jelas penyakitnya, karena kau mengerti sendiri, aku takut pasien bernama Xi Luhan itu malah membuat kita berkerja dua kali," balas Baekhyun, Kasper mengangguk setuju.

Hening kemudian. Ketika mereka berada diujung koridor, Baekhyun melirik kearah kanan dia berdiri yang artinya menuju ruangan Sehun, sedangkan Kasper berlawanan arah yang artinya kembali keruangannya. "Aku harus ke ruangan Sehun," kata Baekhyun cepat.

Kasper sebenarnya akan mengajak Baekhyun ke kafetaria setelah ini, tapi mendengar lelaki mungil itu mengatakan bahwa ia akan pergi ke ruangan kekasihnya berada maka tak ada pilihan selain pergi mengikutinya atau membiarkannya. "Baiklah, tapi setelah itu ayo makan malam bersama," ajak Kasper.

Baekhyun tersenyum manis. "Selama itu kau yang membayarnya aku akan ikut, kekeke," jawab Baekhyun lalu beranjak dari sana.

Seperti biasa kedatangannya disambut baik oleh anak buahnya, tanpa kata mereka kemudian membuka pintu untuknya masuk kedalam ruangan itu dan meninggalkan Baekhyun berdua bersama Sehun. Tak seperti biasanya juga Baekhyun tak langsung duduk untuk kembali mencoba berinteraksi pada Sehun yang kehilangan kesadarannya. Kini lelaki itu mengecek dulu tanda vital Sehun sama seperti beberapa saat yang lalu, bahkan ia juga mencoba mengecek infusan Sehun.

"Hai, senang bertemu denganmu sayang," ucapnya sambil mengecek tanda vital kekasihnya itu. Walau tidak ada jawaban, ia setdaknya berinteraksi dan merangsang respon mungkin. Tak ada yang tahu sebenarnya apa yang berada pada seseorang yang tengah koma kecuali tertidur dan bermimpi katanya.

"Aku senang kau masih mau bertahan Sehun," kini Baekhyun mengecek infusannya.

"Karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku kehilanganmu kemarin atau sekarang atau esok hari," lanjut Baekhyun. Ia kemudian menekan tombol dimana seorang perawat akan datang nantinya. Well, ini adalah kelebihan dari perawatan spesial kekasihnya.

Baekhyun kemudian duduk disamping bangsal milik Sehun dan menggenggam tangan yang lebih besar dari miliknya itu. "Umm, Sehun-a, jika memang kemarin kau mengunjungiku dalam mimpiku kuharap kau juga mendengar hal ini sekarang," ucapnya memohon pada kekashinya, karena ia teringat dengan kejadian yang beberapa saat lalu terjadi.

"Dengar, kau tahu aku seorang dokter. Bukan Tuhan, dan aku tidka tahu tapi ini mungkin sama dengan keadaanmu. Aku memiliki pasien yang keadaannya sama seperti dirimu, ia mengalami kecelakaan hebat beberapa waktu yang lalu, dan kehilangan kesadaraannya cukup lama. Lalu tiba-tiba saja beberapa menit yang lalu saat aku datang untuk mengecek keadaannya ia mulai tersadar."

Baekhyun mengeratkan genggamannya. "Inti dari pembicaraanku adalah sama seperti yang aku ucapkan dalam mimpiku padamu, kau masih ada kesempatan untuk kembali dan bangun Sehun. Jika kau mau berusaha untuk bertahan demiku, kenapa kau juga tidak bisa membuka matamu, demi aku dan keluarga kita."

Hanya suara detak teratur dari monitor EKG yang menjawabnya. "Aku rasa aku terlalu meminta banyak, Sehun cepatlah bangun, aku merindukanmu."

Baekhyun beranjak dari tempatnya tepat ketika Changwook mempersilahkan seorang perawat yang biasa mengunjungi ruangan Sehun untuk mendapat pesan dari Baekhyun untuk dikerjakan. "Semuanya normal, hanya jangan banyak mengatur infusannya," kata Baekhyun lalu pergi meninggalkan ruangan itu, dibelakangnya sudah siap beberapa anak buah yang akan menjaganya. Sudah rutinitas akan dijaga setelah ia berkunjung.

"Aku akan pergi ke kafetaria, kalian belum makan malam bukan? Makanlah dan bawa beberap kopi disana."

Dibelakang Baekhyun para penjaganya itu tersenyum bahagia. Kekasih Boss nya memang selalu baik, mungkin itu juga alasan kenapa mereka menyukainya dan menjaganya dengan sangat baik. "Terima kasih," jawab mereka. Baekhyun mau tak mau senyum mendengarnya.

Ketika mereka berada di kafetaria, Baekhyun dan anak buahnya yang sudah dikenal oleh petugas kafetaria itu langsung mengambil mengambil makanan mereka. Berbeda dengan Baekhyun yang akan menghabiskan makanannya dengan tenang, anak buahnya juga harus makan sambil mengawasi jika ada ancaman yang menimpa kedua Boss nya.

"Memberi makan pada anak kucing huh?" cibir Kasper saat melihat Baekhyun membawa anak buah Sehun. Baekhyun mendecih kesal. "Hyung, tidak bisakah kau berhenti mencibir tentang mereka? Lagipula mereka lebih bisa menjagaku ketika sesuatu terjadi," jawab Baekhyun.

Kasper merasa hatinya terbentur sesuatu ketika Baekhyun berkata demikian, merasa ia lebih buruk daripada anak buah Sehun yang selalu menjaganya dalam keadaan darurat sekalipun. Terutama kapten mereka yang bernama Changwook. "Baiklah, maafkan aku."

"Hey, jangan marah padaku. Aku tidak bermaksud begitu, Kasper hyung," ujar Baekhyun ketika mendapati Kasper memiliki aura berbeda setelah ia meminta maaf. Oke, cukup sampai disini, Baekhyun tak peduli dengan sikap tidak kesukaannya Kasper terhadap Sehun atau anak buahnya.

"Kalian makan dengan baik, jangan lupa minum vitamin jika tidak ingin merepotkan satu sama lain. Ah dan jangan terfokus pada pengawasan, kalian juga manusia yang memiliki kebutuhan manusia, makanlah dengan bahagia!" seru Baekhyun.

Untung saja tidak ada orang lain selain mereka disini. Kasper sepertinya juga masih agak risih, Baekhyun memutar matanya malas. "Kau tahu kenapa aku menyayangi mereka? Karena mereka tidak seberuntung kita, jadi berhenti untuk membencinya."

Baekhyun kembali ke ruangannya dan kembali membuka kertas-kertas yang ia tinggalkan. Ini sudah larut malam, namun kantuk belum menyapanya. Kasper juga memutuskan untuk pulang ke apartementnya sejak katanya saudaranya pulang dari luar negeri dan memutuskan untuk tinggal dengannya.

DRRRTT!

Sebuah pesan masuk ke handphonenya, Baekhyun memberhentikan kegiatannya dan mengecek apa isinya. Tak lama kemudian ia mengernyit ketika mendapat pesan dari Taeyeong, dokter residen dibawahnya itu. "Ah, iya aku membutuhkan data pasien yang bernama Luhan itu, benar."

Baekhyun membuka file yang dikirimkan itu, ada dua jenis file yang dikirimkan. Yang pertama adalah catatan medis dari rumah sakit yang sebelumnya, dan catatan medis yang baru hasil dokter-dokter yang ada disini. Baekhyun membaca pilihan keduanya, mencoba mencari jika ada sesuatu yang salah dilakukan olehnya.

TOK! TOK!

Pintu diketuk ketika ia hendak membaca file pertama yang dikirimkan, Baekhyun menundanya. Seorang lelaki muncul dari pintu ruangannya, Changwook. Baekhyun tersenyum manis lalu mempersilahkan lelaki itu untuk masuk. "Apa kau sibuk?" tanya Changwook. Baekhyun menggeleng.

"Tidak, hanya masih ada beberapa pekerjaan yang belum aku selesaikan. Aku berniat untuk lembur hari ini, ada apa menemuiku?" tanya Baekhyun. Changwook mengeluarkan sesuatu dibalik jas hitamnya. Ketika barang itu tepat diatas meja Baekhyun, Baekhyun membulatkan matanya.

"Aku menemukan benda ini dimobilmu. Kau tahu Baek, kau dilarang membawa senjata api oleh Sehun," kata Changwook. Baekhyun mengepalkan tangannya, gugup. "Dengar aku bisa jelaskan ini semua, ini bukan milikku okay? Ini milik lelaki yang menolongku kemarin, dan aku berniat untuk mengembalikannya jika aku bertemu dengannya lagi."

"Sebaiknya kau lakukan itu dengan cepat sebelum Sehun terbangun, atau haruskah aku yang melakukannya? Aku terlihat ragu dengan identitas lelaki itu," balas Changwook. Baekhyun tidak tahu tapi ia tetap ingin menyembunyikan identitas Chanyeol dari anak buah Sehun. Baekhyun menggeleng. "Biar aku yang memberikannya."

Baekhyun menghela nafas lega setelah Changwook pergi dari ruangannya. Dengan cepat ia memasukan pistol itu kedalam lacinya. "Hah, syukurlah ia tidak bertanya lebih. Aku harus cepat membuang benda ini," ujar Baekhyun.

#

Chanyeol melangkah ke ruang tengah markasnya, mendengar banyak keributan diruang tengah pagi buta seperti ini memang sebenarnya bukan hal yang biasa terlebih jika mereka memiliki pekerjaan. Banyak anak buahnya tengah bersiap, Chanyeol hanya menyeringai senang. Mungkin yang berbeda hanyalah, karena setelah ini mereka akan pindah ke Beijiing dan melakuakn pekerjaannya disana.

"Hyung, ada panggilan dari rumah sakit, mereka berkata bahwa kekasihmu sudah mulai tersadar dari komanya danmelewati masa kritis," Taehyung menghampiri Chanyeol yang berada diujung ruangan itu. Ia melihat boss serta sahabatnya itu mengernyit tak suka.

"Mereka meminta kau untuk datang, atau—," "— Kau harus kesana sebelum pergi ke Beijing setidaknya," potong Taecyeon. Chanyeol mengalihkan pandanganya kearah Taecyeon. "Apa maksudmu? Aku tak akan kesana," balas Chanyeol tak suka.

Taecyeon memutar matanya. "Ya kau tak akan tapi kau harus kesana, Yeol."

Chanyeol memutar matanya malas lalu pergi meninggalkan ruangan itu, namun sebelum ia benar –benar pergi ia memberi pesan agar misi ini selesai dengan cepat. Agar mereka bisa langsung pindah dari sana ke Beijing tentunya. Oke, ini terdengar egois jika alsan kepindahan mereka hanya karena alasan bodoh Chanyeol, tapi sebenarnya Chanyeol hanya ingin mereka tidak diganggu oleh wanita gila itu lagi, setidaknya jika mereka pergi ke Beijing ia bisa bertemu dengan kelompok mafia lainnya yang sedikit bersahabat dengannya.

"Hyung, biar aku yang ke rumah sakit, kau bisa disini mengawasi permainan," Taehyung masuk kedalam ruangannya. Chanyeol menggeleng, ia sudah mempertimbangakan ucapan Taecyeon. Well, sebenarnya permainan yang akan segera mulai lebih berharga daripada mengunjungi seorang yang ia benci dan ingin ia tinggalkan kalau bukan karena permintaan anak buahnya yang menyayangi orang itu.

"Aku akan pergi ke rumah sakit untuk terakhir kalinya, kau akan mengawasi situasi ditempat kejadian aku akan menggunaka earpiece untuk mengawasi kalian," balas Chanyeol. Taehyung tersenyum tipis. "Baiklah."

Chanyeol pergi dari markasnya sepuluh menit setalh anak buahnya pergi. Ia memasang earpiece yang sudah tersambung dengan semua anak buahnya yang melakukan pekerjaan ini. Mendengar seluruh penjelasan situasi dari Taecyeon yang bertugas menjadi sniper disebuah gedung dekat dengan restoran yang akan dipakai oleh Yoona dan Sunggyu untuk pertemuan mereka dengan Park Seojoon itu.

"Aku mengerti, sekarang bagaimana dengan Jackson apa ia sudah berada di posisi ambulansnya?" tanya Chanyeol, setelah itu terdengar suara lelaki yang lebih muda darinya itu. "Aku sudah berada diposisi," jawabnya.

Baguslah, pikir Chanyeol. Setelah memarkirkan mobilnya ia segera masuk kedalam rumah sakit itu, tangannya bermain selancar diatas layar handphonenya tengah berusaha menghubungi dokter pribadinya yang mungkin tengah berkerja disana. "Aku sedang berada dirumah sakit kali ini...bukan aku hanya ingin mengunjunginy untuk terakhir kali, aku akan menemuimu setelahnya," kata Chanyeol lalu memutuskan sambungannya.

Ia berjalan ke arah meja yang biasanya menjadi tempat pendaftaran atau apa itu, ia tidak pernah memperhatikan dan tak ingin. "Dimana aku bisa menemui pasien bernama Xi Luhan?" tanya Chanyeol, perawat dihadapanya melirik sekilas sebelum akhirnya membuka bukunya.

"Anda bisa ke ruang ICU yang ada dikoridor sebelah sana," jawabnya lalu menunjukkan sebuah koridor di sisi kirinya. Chanyeol mengangguk, lalu meninggalkan tempat itu tanpa kata. Pikirannya terngian oleh perkataannya sendiri. Iya, ini adalah kali terakhirnya ia bertemu dengan lelaki itu.

Ini harus menjadi terakhir kali, dan entah siapa lelaki yang ia maksud.

Chanyeol memasuki ruangan ICU yang luas itu, lalu mendekati meja informasi seperti sebelumnya. "Dimana aku bisa menemui pasien bernama Xi Luhan?" tanya Chanyeol lagi, perawat itu menunjuk ruangan yang berada dibelakangnya. "Tapi anda harus memakai jas lab, sarung tangan, dan masker ini. Keadaan lingkungan disekitar pasien harus bebas bakteri sejak pasien sudah melakuakn operasi," kata perawat itu.

Chanyeol dengan berat hati menggunakan prosedur yang berlaku itu. Setelahnya ia membuka pintu ruangan yang ditempati oleh seorang lelaki bernama Xi Luhan itu. Chanyeol memejamkan matanya ketika bayangan masa lalu menghampirinya. Karena lelaki yang terbaring lemah itu adalah masa lalunya.

Chanyeol mendekati tubuh yang kini hidupnya bergantung pada alat-alat yang menempel pada tubuhnya. "Kudengar kau hampir terbangun dari komamu?" bukan hal bagus untuk diucapkan pada saat pertama kali mengunjungi seseorang yang pernah berarti bagi hidupmu. Tapi Chanyeol, memiliki hal yang takkan pernah ia lupakan.

"Bangunlah jika kau ingin, aku tidak memaksamu untuk terus tidur seperti ini. Aku juga tak menginginkan kematianmu, tapi aku ingin kau berhenti mengikutiku setelah ini."

#

Yoona dan Sunggyu memasuki restoran yang mewah itu. Matanya melihat kesekeliling atap dimana disetiap sudut terdapat cctv. "delapan cctv lantai satu off," gumamnya langsung terhubung dengan Jaehyun yang sudah berada diruang security, lelaki itu berhasil melabuhi orang yang harus memegang kendali cctv dengan berkata bahwa ia adalah penggantinya sementara.

"Shoot!" jawab Jaehyun. Yoona kemudian duduk disalah satu meja disana, seorang pelayan kemudian mendekatinya dan memberi sebuah buku menu. "Bisakah aku memesan saat tamuku datang?" tanya Yoona dengan senyum manisnya. Pelayan itu kemudian mengangguk dan meninggalkan Yoona dan Sunggyu yang tengah menunggu Park Seojoon.

Tak berapa lama kemudian tamu yang mereka tunggu datang dengan membawa sebuket bunga ditangannya. Yoona segera memasang senyum manisnya. "Maaf aku terlambat," kata lelaki tinggi itu, dibelakangnya sudah berada beberapa guard yang siap menjaganya. Yoona menatap tajam guard itu sebelum beralih kearah Seojoon.

"It's okay, aku juga belum memesan makanannya. Ah kalian bisa ikut kami untuk makan," ajaknya pada Sunggyu yang berperan sebagai guardnya dan guard milik tamunya itu. Seorang pelayan kemudian menghampiri mejanya, berbeda dari sebelumnya pelayan itu kini tersenyum kearah Yoona, salah satu partner crime nya Jinyoung.

Baik Seojoon dan Yoona tidak memesan makanan, awalnya hanya Seojoon namun Yoona dan Sunggyu mengernyit akhirnya ia juga tidak memesannya. "Aku senang bisa bertemu denganmu setelah sekian lama," kata Seojoon. Yoona tersenyum manis. "Aku juga, tapi sayang kita harus bertemu seperti ini hanya untuk membicarakan bisnis kita," balas Yoona.

Seojoon terkekeh kemudian. Namun kembali Yoona mengernyit ketika mendapati wajah Seojoon yang pucat, kemudian ia melihat guard dibalakang Seojoon menghampirinya dan membisikkan sesuatu. "Aneh, ia sangat pucat sekarang, dan aku memiliki firasat buruk tentang hal ini," bisik Yoona pada jam tangan yang telah dimanipulasi untuk memiliki microphone itu.

"Kau baik-baik saja?" tanya Yoona kemudian. Seojoon tersenyum dengan wajah pucatnya. "Tentu aku baik-baik saja, bagaimana dengan perusahaanmu? Kudengar kau akan meliriskan produk terbaru?" balas Seojoon, Yoona kini tersenyum canggung. Ia bukan datang kesini untuk membicaraan bisnis, atau hal lain. Tapi kenapa lelaki dihadapannya membawanya pada percakapan bisnis?

"Hm, begitulah. Tunggu, apa kau yakin kau baik-baik saja? Wajahmu sangat pucat."

"Yoona! Jangan pedulikan tentang wajahnya, kau bisa?" interupsi Taecyeon ketika ia merasa Yoona terlalu aneh saat itu. Jinyoung kembali kemeja mereka membawakan pesanan milik Yoona dan Seojoon. Sedangkan wanita itu masih memikirkan firasat buruk yang ia rasakan beberapa saat yang lalu, Seojoon menyeringai tanpa sebab.

"Bukankah kau menginginkan wajahku bahkan lebih pucat dari ini, Yoona-ssi? Atau kau ingin aku meminum minuman yang sudah diberi racun ini?" baik Yoona, Sunggyu, dan Jinyoung membulatkan matanya terkejut karena perkataan Seojoon yang bersifat menyerang itu. "Ba-bagaimana bisa-,"

Seojoon mendekatkan wajahnya kearah Yoona dan membisikan sesuatu. "Hanya beritahu aku siapa yang menginginkan kematianku, dan setelah itu aku akan membebaskanmu dan menjadikanmu sebagai wanitaku."

Yoona diam. "Kalau begitu, jika sesuatu terjadi padaku kali ini. Maka Raven Fire akan berakhir, beri tahu pemimpinmu itu," lanjut Seojoon, lalu dengan sengaja ia menjatuhkan minumannya sebelum beranjak dari tempat itu. Yonna membeku dan hanya bisa menatap kepergia lelaki itu. Ia hanya mempunyai pilihan yang sama-sama merugikan.

"Yoona, ada apa?! Kenapa kau membiarkan ia pergi?! Apa ia sudah ememinumnya?" teriak Taecyeon. Sunggyu menghampiri Yoona dan menanyakan hal yang sama. "Ia mengetahui rencana kita, Taec."

Taecyeon menggeram kesal begitupula dengan Taehyung yang segera mencoba menghubungi Chanyeol karena sejak tadi dari lelaki itu tidak ada respon atas ucapan Yoona yang seharusnya langsung meledak marah. "Aku akan menembaknya sekarang juga!" geram Taecyeon lalu mengarahkan senjatanya kearah pintu restoran itu.

"Tidak Taec! Ia mengancam Raven Fire! Jika kita membunuhnya, mereka akan menangkap kita semua!" sergah Yoona lalu beranjak dari restoran itu hendak menemui Taecyeon setidaknya atau Seojoon untuk memberi tahu segalanya. "Sunggyu! Tangkap Yoona sekarang, ia bisa mengacaukan segalanya! Yoona berhenti!" Sunggyu segera menarik lengan perempuan yang hendak mengacaukan pekerjaan Taecyeon itu.

Seojoon berhenti dari langkahnya ketika merasa kepalanya sakit dan tiba-tiba saja penglihataannya buram. Beberapa penjaganya menghampiri tuannya itu. "Apa anda baik-baik saja?" tanyanya. Seojoon mengangguk dengan berat walau ia merasa sangat pusing, dengan penglihatannya yang kurang ia merasa melihat seseorang diatas gedung tengah membidiknya. Tapi itu terlambat ketika ia sudah terjatuh dengan kejang-kejang yang ia alami.

Shoot!

"SHIT!" umpat Taecyeon ketika pelurunya tidak mengenai Seojoon tetapi pohon dibelakangnya. "Fail! Kita gagal untuk membunuhnya, tapi ia terjatuh karena pingsan! Lakukan plan B! Jinyoung, keluar dari sana!" teriak Taecyeon, lalu kemudian ia membereskan senjatanya sbeleum langsung turun dari gedung itu bersama Taehyung yang masih berusaha menghubungi Chanyeol.

"Kau sedang apa?" tanya Taecyeon. "Boss tidak bisa dihubungi aku khawatir ia tidak mendengar kita semua sejak tadi," jawab Taehyung lalu memasuki mobil mereka dan meninggalkan tempat itu. "Jaehyun, coba kau cari cctv yang ada diluar restoran tadi!" suruh Jinyoung, lalu keluar dari restoran itu menuju mobilnya bersama Sunggyu dan Yoona.

#

Chanyeol masih berada diruangan ICU itu, ia masih setia bersama tubuh yang terbaring lemas itu. Ia sudah menekankan dalam hatinya bahwa ini adalah kali terakhir untuk bertemu dengan sang mantan kekasih itu, maka dari itu ia mematikan earpiece yang menghubungkannya dengan anak buahnya.

"Kau tahu, seharusnya aku meninggalkanmu disini sendiri atau bahkan tak pernah merawatmu setelah kecelakaan bodohmu itu. Tapi karena anak buah bodohku yang tak mengetahui kau berkhianat padaku, mereka merawatmu."

Chanyeol mengalihkan pandangannya ketika seorang lelaki yang ia pikir adalah seorang dokter masuk kedalam ruangan itu. "Apa anda keluarga pasien ini?" tanya lelaki itu. Chanyeol tidak menjawab. Kemudian lelaki itu menghampiri tubuh Luhan dan kemudian menyuntikan sesuatu pada selang infusannya. Chanyeol hanya terdiam dan mengamatinya. "Uh, keadaan pasien kemarin menunjukan peningkatan, jika ia kemudian sadar maka kami akan membawanya ke ruang inap biasa," katanya lagi.

"Boleh aku tahu kapan kira-kira ia akan bangun?" tanya Chanyeol.

Taeyeong mengernyit namun tetap menjawabnya. "Kira-kira satu minggu lagi, tergantung keadaannya apakah semakin membaik atau sebaliknya. Setidaknya ia sudah melewati masa kritis dan koma yang tidak diketahui kapan ia terbangun, kini ia berada di stupor coma dimana ada kemungkinan ia bisa bangun, aku permisi tuan" jelasnya.

Chanyeol mengeluarkan kotak dari saku coatnya, lalu menyimpannya disamping tubuh Luhan. Kotak cincin yang sebenarnya sudah ia simpan lama dan hendak diberikan pada lelaki manis itu, namun karena sesuatu yang buruk terjadi pada mereka berdua dan menyebabkan rasa benci. "Kau berhak untuk mendapatkan benda ini, tapi aku tak ingin bersamamu."

Chanyeol segera keluar dari ruangan itu setelahnya, ia terus mengulang dalam hatinya bahwa ini sudah berakhir. Ia segera membuka semua prosuder ICU yang sebelumnya ia pakai itu dan segera keluar dari sana. Tepat ketika ia berada diluar pintu itu, ia menghela nafasnya. Satu tahun itu belum cukup untuk melupakan kenangannya bersama Luhan, tapi ketika ia mengatakan bahwa ini adalah saat terakhir kali ia kana bertemu dengan lelaki itu, hatinya kembali bergemuruh dan hampir mengembalikan semua kenangannya.

"Bisakah kau berhenti menghantui ingatanku, agar aku bisa nmenerima yang lain? Karena aku takut ketika aku menerima yang lain, dan ingatanmu masih ada dalam diriku, aku takut aku akan mengulang sesuatu yang sama."

Chanyeol melangkahkan kakinya dari koridor itu, meninggalkan perasaannya yang tak seharusnya kembali muncul. Ia kemudian melihat beberapa panggilan dari Taehyung yang tak terjawab. Ia kemudian mencoba menghubungi Taehyung, namun ia mengernyit ketiak mendapati bahwa Taehyung ta menjawab panggilannya.

"Hyung!" seru Taehyung ketika berhasil dihubungi. "Apa yang terjadi?" tanya Chanyeol langsung. "Maaf Boss, tapi kita gagal untuk membunuhnya namun target terlebih dahulu tak sadarkan diri bukan karena racun mungkin target memiliki penyakit, kita akan melakukan Plan B dirumah sakit yang terdekat adalah... sial! Rumah sakit dimana Luhan hyung berada!" seru Taehyung lagi.

Chanyeol menggeram kesal, dan hampir akan meledak jika saja ia sadar tenagh berada dirumah sakit. "Oke, aku masih berada dirumah sakit. Akan aku pastikan mereka datang kesini, apa yang lain sudah siap dalam posisi?"

"Ya, mereka seharusnya sudah ada, Jackson yang mengurus Plan B." Chanyeol mengangguk, setidaknya anak buahnya bagus dalam menyempurnakan misi ini. Chanyeol memutuskan sambungannya, dan penglihatan tajamnya tak sengaja menemukan seorang dokter yang seharusnya ia hindari untuk bertemu.

Mungkin salah satu sisi hatinya mengatakan bahwa ia harus pergi dari sana dan melakukan tugasnya, tapi sisi lainnya sangat menyukai ketika ia melihat dokter itu tersneyum manis dengan salah satu pasiennya yang tengah berada diatas kursi roda. Senyuman hangat yang baru saja ia temukan, dan mata bulan sabit itu semakin mempercatik dirinya. Chanyeol memperhatikannya tanpa sadar.

Namun senyum itu juga luntur ketika Baekhyun menemukan dirinya berada lima meter dihadapannya. Baekhyun menghampiri Chanyeol setelah itu. Berada dihadapan lelaki yang lebih tinggi dengan memasukan tangannya kedalam saku jas dokternya. Wajahnya harus terangkat untuk menatap wajah Chanyeol, sedangkan Chanyeol harus menurunkan pandangannya agar menemukan wajah cantik Baekhyun.

"Aku tak menyangka akan bertemu lagi denganmu, terima kasih telah menolongku kemarin," kata Baekhyun. Chanyeol diam tak bergeming membiarkan lelaki yang dihadapannya itu terus berbicara.

"Satu hal lagi, jaga dirimu baik-baik, kau berkata kau tak ingin bertemu denganku lagi itu artinya kau akan pindah. Ah, kebetulan kau ada disini dan ini Berreta 92-mu, kekasihku melarangku untuk memiliki senjata bahkan ketika ia sedang tidak bisa melindungiku lagi, jadi akan aku kembalikan padamu," lanjutnya lalu merogoh saku jas nya yang sedikit besar untuk menyimpan senjata api.

"Aku bahkan lupa apakah aku bisa melupakanmu ketika aku pergi atau tidak," gumam Chanyeol dalam hati. "Hey, Chanyeol?" tanya Baekhyun membuyarkan pikiran Chanyeol.

Chanyeol menerima senjata api tersebut dan memasukkannya kedalam saku long coat yang ia kenakan. Suasana mulai canggung ketika Baekhyun merasa ia sudah tidak ada urusan lagi dengan lelaki yang ada dihadapannya itu, begitupula dengan Chanyeol, namun satu kalimat yang Baekhyun ucapkan kemudian bisa merubah pikiran lelaki tinggi itu. "Aku sudah menghapus kontakmu di handphoneku itu berarti kita sudah tidak ada urusan untuk saling bertemu, ku harap kau juga tidak memilikinya. Aku harus pergi, permisi."

Chanyeol bingung dengan sikap respon tubuhnya kali ini yang membiarkan dokter itu pergi dari hadapannya, namun ia lebih bingung ketika ia menarik tubuh yang lebih kecil itu dan membawanya pergi. Baekhyun tentu terkejut, dan ia juga berusaha untuk melepaskan pegangan lelaki itu terhadapnya. Well, walau sejujurnya ia juga merasa nyaman senyaman ia bersama Sehun.

"Dimana ruangan pribadimu?" tanya Chanyeol. Baekhyun mengernyit. "Ada apa?" "Aku masih memiliki satu urusan untuk dibicarakan," jawab Chanyeol. Baekhyun menunjuk arahnya yang entah kenapa untungnya dekat dengan posisi mereka. Dengan segera Chanyeol kembali menarik tangan Baekhyun untuk mengikutinya memasuki ruangan itu dan menguncinya.

"Apa yang –," Baekhyun pernah mengalami hal ini, untuk kedua kalinya ia takkan pernah melupakan hal yang terasa sama walau berbeda.

"Tunggu! Apa yang terjadi?" tanya Baekhyun pada lelaki yang lebih tinggi –Sehun- saat ia ditarik menuju ruangannya. "Aku memiliki sesuatu untuk dibicarakan denganmu," jawab Sehun dengan tenang lalu mengunci ruangan pribadi Baekhyun dan mengunci pergerakkan Baekhyun di dinding ruangannya.

"Apa maksudmu, huh? Apa yang kau ingin bicarakan, Hun?" tanya Baekhyun. Sehun menyeringai lalu mendekatkan wajahnya. "Aku menyukaimu, dan ingin menciummu."

Bahkan sebelum Baekhyun menjawab, lelaki berwajah tampan itu langsung menyatukan bibirnya dengan milik Baekhyun dan menciumnya lembut. Namun Baekhyun menyukainya, setidaknya ia juga sudah kenal Sehun dan menyukainya. Tidak, tapi mencintainya.

Chanyeol menyudutkan tubuh Baekhyun, tangannya masih menggenggam tangan yang lebih kecil. Dengan cepat dan tanpa membiarkan Baekhyun berbicara ia kemudian mencium bibir dokter itu, dengan lembut sama seperti saat pertama kali mereka bertemu. Tangannya yang lain juga menahan tengkuk Baekhyun, dan memperdalam ciumannya. Berusaha agar lelaki mungil itu membalasnya, walau ia tahu ini salah tapi hatinya bersuara bahwa ini adalah untuk terakhir kalinya.

Baekhyun benar-benar merasa lemas ketika Chanyeol benar-benar menciumnya saat itu, awalnya ia tidak membalas karena keterkejutannya, namun ketika ia tahu maksud lelaki ini akhirnya ia membalasnya. Tangannya yang digenggam oleh Chanyeol ia semakin eratkan. Sebelum karena suplai oksigen yang mulai menipis, Baekhyun memutuskan pagutannya. Matanya menatap manik hitam kelam milik Chanyeol, hal yang sama ketika ia melihat manik hitam kelam milik Sehun, ia memujiinya.

"Kau boleh membenci ketidak sopananku, dan kekasihmu boleh menghajarku jika ia mau," kata Chanyeol lalu lelaki itu hendak beranjak dari tempat itu sebelum ia tersadar Baekhyun masih mengenggam tangannya erat. Ia kembali menatap mata indah Baekhyun yang kini menatapnya lembut.

"Ia bisa membunuhmu jika ia tahu, tapi sayangnya ia tak bisa berbuat apa-apa sekarang. Jaga dirimu baik-baik, ah dan urusan kita sudah selesai bukan? Jadi jangan pernah bertemu lagi denganku, oke?"

Kini giliran Baekhyun yang mengejutkan Chanyeol dengan melepaskan genggamannya dan pergi mendahului lelaki tinggi itu. Meninggalkan lelaki yang merasa berat hatinya setelah genggaman itu terlepas dan mendengar perkataan yang entah juga sangat berat untuk dilakukan. Namun Chanyeol tersadar jika apa yang dokter itu ucapkan adalah benar adanya, urusan mereka telah selesai, ini artinya mereka bisa untuk berusaha saling menhindari untuk tidak bertemu setelahnya.

Empeb gak tau kenapa FFN gak bisa dibuka, bahkan saat empeb mau baca part 21 My Forever Crush nya Triplet947 ada yang udah baca itu? gimana noh akhirnya?! Dede gak kuat alo sad end! Jadi yawdah lah daripada gak update sama sekali, jadi di wattpad aja dulu. Nawh, guys jangan lupa komen yahhh :))))

Well, sampai ketemu besok untuk chapter 4, ini udah 7k word loh guyss.. Jangan bosen ya