ONCE AGAIN!
Part 4
Listen to : 4Minute – Cold Rain, Adele – All I Ask.
[Review Last Part]
"Baguslah kalau kau memang tak ingin bertemu, aku juga tidak ingin," ucap Baekhyun didepan layar handphonenya yang menunjukan kontak milik Chanyeol itu sebelum ia memutuskan untuk beristirahat kembali.
"Apa kepindahan kita terjadi karena lelaki yang kau tolong pagi tadi?" tanya Taecyeon, sedikit menohokkan hatinya. "Diam berarti iya, bos kau tahu aku tidak bisa menolak perintahmu tapi setidaknya berikan aku alasan kenapa lelaki itu menjadi alasanmu?" tanya Taecyeon lagi.
"Dengar sayang, ingat perkataanku. Aku akan selalu mencintaimu, dan menjagamu dari tempatku berada. Aku mencintaimu selamanya, walau aku tidak bisa melihatmu lagi, tapi ingatlah perkataanku ini. Jangan takut sayang, banyak orang yang menjagamu. Ada malaikat kedua yang menjagamu selain aku, aku masih dan tetap menjadi malaikat pertamamu bukan?" Sehun terkekeh dengan ucapannya, walau air mata juga mengalir dari matanya.
"Dengar, kau tahu aku seorang dokter. Bukan Tuhan, dan aku tidka tahu tapi ini mungkin sama dengan keadaanmu. Aku memiliki pasien yang keadaannya sama seperti dirimu, ia mengalami kecelakaan hebat beberapa waktu yang lalu, dan kehilangan kesadaraannya cukup lama. Lalu tiba-tiba saja beberapa menit yang lalu saat aku datang untuk mengecek keadaannya ia mulai tersadar."
Baekhyun mengeratkan genggamannya. "Inti dari pembicaraanku adalah sama seperti yang aku ucapkan dalam mimpiku padamu, kau masih ada kesempatan untuk kembali dan bangun Sehun. Jika kau mau berusaha untuk bertahan demiku, kenapa kau juga tidak bisa membuka matamu, demi aku dan keluarga kita."
"Tidak Taec! Ia mengancam Raven Fire! Jika kita membunuhnya, mereka akan menangkap kita semua!"
Baekhyun tidak mengerti kenapa respon tubuhnya berubah ketika bersama Chanyeol, rasanya seperti deja vu, tentu itu pernah terjadi dengan Sehun. Ia membencinya, ia merasa ia bukanlah Baekhyun yang sama jika ia bertemu dengan Chanyeol, bukanlah Baekhyun yang mencintai Sehun dan menunggu kekasihnya itu untuk kembali bangun dan hidup sebagai kekasih dari seorang pemimpin mafia.
Kini disinilah Baekhyun mengeratkan pegangannya dipagar pembatas diatap ruamh sakit yang luas itu. Melampiaskan rasa tak nyaman dalam hatinya. Namun semakin ia mengeratkan tangannya, maka semakin terbayang dua bayangan perbandingan antara Chanyeol dan Sehun. Perbandingan bagaimana keduanya memperhatikan dirinya ketika bertemu.
"Sial," desis Baekhyun. Hatinya sesak, pikirannya kacau, ia yakin seharusnya nanti ketika ia mengecek dirinya pada sahabatnya akan tercetak jelas bahwa dirinya stress berat kali ini.
Mata sipitnya menatap langit diatasnya yang masih begitu indah. Dan ketika ia alihkan pandangannya kebawah maka ada lapangan luas milik rumah sakit. Baekhyun berpikir jika ia jatuh dari tempatnya berdiri, maka ia bisa pergi ke langit untuk bertemu dengan Sehun bukan?
"Jangan berpikiran yang aneh-aneh, dokter Byun."
Baekhyun menoleh ketika suara itu menginterupsi pemikiran anehnya. Lelaki mungil itu tersenyum canggung ketika mendapati Kasper tengah berjalan kearahnya dan membawa dua kaleng minuman dingin ditangannya. Ah, rasanya tepat ketika melihat minuman itu, kata hatinya.
"Kau mau?" tanya Kasper. Baekhyun mengangguk lalu dengan cepat seperti ia tidak pernah minum untuk waktu yang lama mengambil kaleng dingin itu. Sebenarnya ya, ia tak pernah minum untuk beberapa waktu karena terlalu sibuk. Maksudnya meminum minuman kaleng seperti ini.
"Ah, ini sungguh enak," kata Baekhyun setelah meminum beberapa tegukan. Kasper yang ada disampingnya menyunggingkan senyumannya gemas karena tingkah Baekhyun yang menggemaskan disetiap detiknya, terkecuali jika itu berurusan dengan Sehun, Kasper membecninya.
Hatinya berdegup kencang ketika mengingat ini sudah lama sejak ia menyukai lelaki disampingnya itu, rasanya seperti ia kembali kemasa dimana Sehun belum ada diantara mereka dan Baekhyun selalu disisinya. Kasper kembali tersenyum kecut ketika mengingat hal itu, tapi apalah daya, beberapa hal didunia ini tidak mudah untuk diubah semudah membalikkan telapak tangan.
"Terima kasih telah datang diwaktu yang tepat Hyung," ungkap Baekhyun dan mendapati Kasper tengah menatapnya. "It's okay, aku memang harus ada disisimu setiap kau membutuhkan sandaran," jawab Kasper tenang. Kini giliran Baekhyun yang tersenyum kecut, ia merasa Kasper masih belum bisa melupakan kisah cinta bertepuk sebelah tangannya.
Baekhyun kembali menatap kebawah gedung. "Hyung, kau ada jadwal hari ini?" tanya Baekhyun lebih dulu.
"Sayangnya jadwalku denganmu berbeda, kau libur hari ini bukan? Tapi tidak denganku. Kenapa tiba-tiba bertanya?" balas Kasper, Baekhyun tersenyum lalu menunjuk kebawah dimana ada sebuah ambulans yang tengah menuju rumah sakitnya. Kasper juga mengikuti arah yang ditunjuk.
"Sayangnya, aku juga harus mengurus salah satu pasien itu. Berani bertaruh berapa jika aku benar bahwa itu pasienku?" Kasper tertawa kecil, hal kecil yang tak pernah berubah dan tak ingin berubah. Sifat kekanakkan yang membuat Baekhyun spesial dimatanya, baik sebagai sahabat, adik atau seseorang yang ia cintai. Ia memasukkan kedua tangannya dalam saku jas labnya.
"Memangnya kenapa jika pasien itu harus ditangani oleh dirimu dokter Byun? Aku bertaruh makan malam gratis jika itu memang pasienmu," Baekhyun membulatkan matanya ketika mendengar ia akan mendapat makan malam gratis dari sahabatnya itu, dengan semangat ia menatap Kasper. "Call! Jika ambulans itu menginginkan aku menjadi dokternya maka kau harus mentraktirku makan malam, dan ingat! Menu tergantung siapa yang menjadi pemenang hari ini!" seru Baekhyun segera pergi meninggalkan tempat itu dengan semangat.
Kasper menyusul lelaki manis itu dengan senyuman tercetak jelas di wajah tampannya, ia bahkan berani untuk kehilangan beratus ribu won hanya untuk bersama Baekhyun untuk makan malam.
Suara nyaring ambulans memekikkan telinga orang-orang yang ada disekitar rumah sakit itu terutama dibagian depan dimana ada unit gawat darurat yang bertugas menangani pasien yang baru datang sebelum akhirnya akan ditangani oleh dokter yang bersangkutan dengan trauma dan cedera yang dialami.
Namun keadaan disana semakin hiruk piruk terlebih ketika diketahui bahwa pasien yang dibawa oleh ambulans itu adalah Park Seojoon anak pemimpin negera gingsen merah saat ini. Awak media yang mengetahui hal tersebut tentu segera memenuhi tempat kejadian.
Baekhyun mengernyit kecil ketika mengetahui banyak orang memenuhi tempat kerjanya. Bahkan jika itu adalah ketua PBB pun ia akan tetap berdecih kesal jika ada keributan ditempatnya berkerja. Sungguh, maksudnya adalah siapa yang tidak suka dengan sebuah keributan didepan mata? Well, all people do.
Seorang petugas bergegas mendekatinya dan memberikan sebuah dokumen, sedangkan para penjaga tengah berusaha menertibkan reporter-reporter yang tengah meliput kejadian itu. "Dokter ini adalah Park Seo—," "Aku tahu itu," potong Baekhyun.
"Ia mengalami serangan epilepsi, namun kemudian setelah beberapa saat ia sadar ia kembali tak sadarkan diri," katanya.
Baekhyun menatap tubuh yang terbaring lemas diatas bangsal itu mulai memasuki ruangan UGD. Namun pandangannya tiba-tiba berubah menjadi bingung ketika melihat seorang petugas medis dari ambulans yang tidak mengikuti teman-temannya yang berada didepannya. Matanya menyipit ketika melihat orang tersebut berjalan menjauh dari petugas medis yang lainnya.
"Dokter Byun?" tanya orang yang sebelumnya bercengkrama padanya itu. Baekhyun kembali mengalihkan fokusnya dan tersenyum canggung. "Aku mengerti, kau bisa kembali ketugasmu, terima kasih," kata Baekhyun, kemudian pergi dari tempat itu.
Kasper dan beberapa dokter lainnya segera pergi menemui Baekhyun dan pasien super VVIP itu, jika sesuatu yang salah terjadi dengannya atau mereka maka dipastikan rumah sakit ini yang menjadi bayarannya. Maka dari itu jangan lupakan tentang pepatah kekuasaan adalah hal yang paling bahaya.
"Lakukan pemeriksaan CTScan, dan berikan hasilnya secepatnya," kata Baekhyun memberitahu dokter residen yang bersamanya. Kasper dan beberapa dokter dibelakangnya sudah berharap harap cemas tentang keadaan orang penting itu, sedangkan Baekhyun hanya bertingkah biasa saja.
"Bagaimana dokter Byun?" tanya salah satu dokter disana. Baekhyun menghela nafasnya.
"Kita akan mengetahuinya setelah mendapatkan hasil ct scan, semoga saja dugaanku benar," jawab Baekhyun, mereka menghela nafasnya lega dihadapan Baekhyun termasuk Kasper membuat Baekhyun mau tak mau tersenyum geli karena raut wajah takut Kasper beberapa waktu sebelumnya itu sangat lucu.
Hanya Baekhyun dan Kasper yang akhirnya berada diruangan hasil pemeriksaan setelah itu sebelum akhirnya mereka akan melakukan pertemuan tentang apa yang harus dilakukan pada pasien penting tersebut bersama dokter syaraf lainnya.
"Ini pendarahan di otak, sekitar 80 cc diotak kanan kita harus segera melakukan penanganan sebelum lelaki itu mematikan rumah sakit ini," kata Kasper saat melihat hasil pindai itu. Baekhyun melirik sekilas sahabatnya sebelum mencibir.
"Heol, kau pikir kita adalah Tuhan? Kita hanya berusaha untuk memulihkannya kembali," cibir Baekhyun. Kasper menggelengkan kepalanya mendengar cibiran itu, memang betul tapi kenyataannya manusia berkuasa terkadang sombong akan keadaanya.
"Jja, ayo pergi," ajak Kasper lalu kemudian berdiri dari duduknya. Sedangkan Baekhyun hanya diam membuat lelaki yang lebih tinggi bingung akan sikap lelaki yang lebih kecil.
"Butuh waktu lama untuk memulai pertemuan, aku akan segera mengambil tindakan," kata Baekhyun dengan santai, Kasper yang mendengarnya membulatkan mata dan menahan kepergian Baekhyun. "Apa? Hey, hey, Baek, kita butuh konfirmasi siapa yang akan mengambil alih operasi ini oke? Ingat, pasien itu adalah pasien penting dan jika sesuatu terjadi dengannya maka media tidak akan berhenti menyorotmu, belum lagi presiden, ah lupakan! Kenapa?"
Baekhyun menghela nafasnya kesal kepada Kasper yang terlalu mengikuti sesuatu yang akan memakan waktu lebih lama. Dalam kasus ini ia mungkin memang harus mengambil keputusan bersama dokter yang lainnya tentang hal-hal yang harus diperhatikan, tapi sebagai dokter ia tidak bisa menunggu pasiennya yang penting itu untuk semakin dalam bahaya. Pendarahan otak bisa menjadi berbahaya jika tidak ditangani dengan cepat.
Tangannya terangkat untuk menepuk bahu Kasper yang kini terlihat menyedihkan. "Dengar, ia sudah hampir dua jam bertahan seperti itu, jika kita memakan waktu yang lama untuk berdiskusi yang bisa jadi akhirnya akan berkata bahwa kau dan aku yang mengambil operasi ini maka itu hanya membuat keadaan semakin berbahaya. Percaya padaku kau bisa melakukannya, hyung," jawab Baekhyun.
Terkadang Kasper sering mengkhawatirkan sikap Baekhyun yang terkesan suka terburu-buru, tapi jika itu sudah menjadi keputusan Baekhyun sebagai dokter maka ia tidak bisa melawan, karena kepentingan pasien itu adalah yang utama. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Baekhyun sudah berada dihadapan dokter lain. Mungkin mereka tidak bisa menerima perkataannya.
"Baiklah kalau begitu."
Chanyeol segera keluar dari ruangan pribadi Baekhyun dengan perasaan yang tidak nyaman karena kejadian sebelumnya. Terlebih ketika lelaki yang lebih kecil mengatakan bahwa mereka tidak perlu lagi bertemu, mungkin memang ada kebenarannya tapi rasanya terlalu hambar jika memang terjadi.
Ia akui bahwa dirinya kini tidak bisa berhenti memikirkan dokter itu, tapi sesungguhnya ia harus bagaimanapun caranya bahkan jika ia harus pergi ke luar korea sekalipun, tapi kembali bayangan bagaimana ia merasa nyaman bersama dokter itu menghentak hatinya. Begitupula dengan perasaannya yang berkaata bahwa Baekhyun adalah hal yang kembali terulang sama seperti ia bertemu dengan Luhan.
Hal terulang adalah hal yang mengerikan pikir Chanyeol.
Chanyeol mengerang kesal ketika mendapatkan panggilan dari orang yang menginginkan kematian Park Seojoon, adalah jaksa Kim Joon Myeon yang menghubunginya. Ia dengan terpaksa menjawab panggilan itu, terlebih lagi ini adalah kali pertamanya mendapattkan masalah dalam melakukan sebuah misi tak seperti biasanya.
"Halo Raven Fire, aku mendengar kau belum berhasil mendapatkan stempel itu dan membunuh Park Seojoon,huh?" nadanya berbicara bahkan terdengar kesal, Chanyeol mengetahuinya. Ia bahkan lebih kesal karena lelaki bangka itu bahkan tidak menghargai pekerjaannya.
"Dengar kau tidak bisa pergi ke Beijing sebelum kau menyelesaikan pekerjaan ini, ingat!" Chanyeol terkejut ketika rencananya diketahui oleh orang tersebut. Namun ia kemudian menyeringai nampak seperti tidak peduli jika ia dilarang oleh lelaki yang hanya bisa memberikan ia 200 juta won untuk melakukan hal ini.
Didalam pikirannya bahkan jika itu hanya satu-satunya jalan untuk tidak bertemu dengan Baekhyun maka ia akan melakukannya, kenapa harus dihadang oleh pekerjaan ini, dimana kerugian ini bahkan tidak menyentuh seujung kuku kakinya.
"Dengar jaksa Kim, kau mengancamku sekarang? Kalau begitu lakukan oleh tanganmu sendiri, dan satu hal lagi jika kau kembali mengganggu pekerjaanku maka aku akan memberhentikan ini semua dan menyerangmu kembali, hanya siapkan 500 juta lagi jika kau ingin aku meneruskan pekerjaan ini."
Chanyeol segera memutuskan sambungannya dan berjalan lebih cepat untuk menemui Jackson yang sepertinya sudah sampai kerumah sakit ini untuk membawa Seojoon. Ia harus memastikan kini permainannya harus berhasil dengan sekali gerakan. Dan bisa menjadi alasan kenapa ia pergi menjauh dari Seoul.
Kerumunan media yang berusaha mencari tahu keadaan Park Seojoon benar-benar membuat ricuh diluar sekitar unit gawat darurat itu. Sedangkan Chanyeol berada sedikit lebih jauh dari kerumunan itu hanya mengamati dan mencoba menemukan sesuatu yang bisa menguntungkan pekerjaannya nanti.
Kemudian ia mencoba menghubungi jackson yang belum nampak batang hidungnya itu. Sial, desisnya ketika melihat kerumunan itu semakin mengurangi kesempatannya untuk mencari Jackson. Apalagi ketika ia melihat banyak mobil mewah yang mulai masuk pekarangan parkir rumah sakit yang luas itu, sudah dipastikan ini adalah presiden.
Chanyeol kembali mengumpat ketika mengetahui keadaannya semakin tak memungkinkan untuk bergerak cepat. "Bos!" seru Jackson dihadapan Chanyeol, lelaki itu berlari dari arah yang berlawanan dengan kerumunan yang sejak tadi Chanyeol perhatikan. Sialan! Jadi apa artinya ia sedari tadi melihat kerumunan tak berguna itu?!
"Keadaan Seojoon yang kudengar adalah ia memiliki pendarahan di otak. Aku sudah menyusun rencananya dan mereka akan beraksi setelah operasi dijalankan," kata Jackson memberi tahu. Chanyeol kembali mengalihkan pandangannya kearah UGD dan matanya tak sengaja melihat seorang dokter yang masuk kedalam setelah bercengkrama dengan seorang petugas ambulans.
Terbesit dipikirannya untuk menggunakan cara lain yang lebih mudah untuk mengkambing hitamkan seseorang daripada kemungkinan terburuk ia akan diketahui. Chanyeol mengalihkan pandangannya kembali pada Jackson. "Pastikan kali ini ia benar-benar terbunuh dan kita mendapatkan stempel sialan itu," perintah Chanyeol suaranya mengambung kesan menekan dan sudah muak dengan semua kegagalan ini.
"Aku akan berada disekitar kalian mulai saat ini dan lakukan dengan cepat!" Jackson bergegas pergi setelah merasa ucapan Chanyeol benar-benar mengandung unsur kemarahan didalamnya. Hey, karena kemunginan terburuknya adalah ia dan anak buahnya yang lain akan dihabisi jika kembali gagal.
"Hyung!" teriak seseorang dibelakangnya. Chanyeol berbalik dan mendapati Taehyung bersama Taecyeon berlari mendekatinya. Ia tahu keduanya juga sama merasa kesal, terutama Taecyeon yang gagal menjadi sniper dan melubangi kepala Sejoon. "Bos! Bagaimana dengan rencana Jackson?" tanya Taecyeon kini. Chanyeol menghela nafasnya, masih sedikit sensi dengan kejadian tadi pagi.
"Aku tidak mendengarnya, tapi ini pasti seperti biasanya bukan? Pekerjaan ini terlalu mudah untuk dilakukan tapi kalau bukan karena Yoona si mantan dokter residen itu terlalu peduli dengan keadaan Seojoon dan memperhatikan ancamannya maka kita pasti bisa menyelesaikan pekerjaan ini dengan cepat," ujar Taehyung. Chanyeol mengernyit ketika mendengar nama teman wanitanyaitu terbawa dalam kegagalan pekerjaannya sekarang.
Tapi ia tidak mau tahu kecuali tentang ancaman yang dilontarkan Seojoon pada Yoona, yang pasti itu adalah hal yang sensitif sampai membuat Yoona mengacaukan semua ini. "Apa maksudmu dengan ancamanya?" kini Taehyung menghela nafas lalu menunjuk para penjaga kepresidenan yang masih mengitari sekitar ruang UGD dan memeriksa setiap orang yang akan masuk kedalamnya.
"Ia mengancam akan menghabisi Raven Fire, jika kita tidak memberitahu bahwa jaksa Kim lah yang menyuruh kita untuk membunuhnya. Lelaki itu juga menawarkan Yoona sebagai wanitanya, hell aku rasa Yoona tergiur dengan ucapan lelaki hidung belang itu, aku yakin itu."
Chanyeol mendecih tak suka mendengarnya. "Ia akan mendengar siapa yang menyuruh kita untuk membunuhnya tepat sebelum kita menghabisi nyawanya, dan ah... satu pekerjaan lagi untuk kalian, bunuh jaksa Kim setelah ini," ujar Chanyeol santai. Taecyeon dan Taehyun membulatkan matanya terkejut dengan perkataan bos nya itu.
"Tunggu, apa? Kau ingin kami membunuh Jaksa Kim setelah ini? Tapi kenapa? Boss ia yang memberi kita uang sebanyak itu untuk membunuh Seojoon dan mencuri stempelnya, lalu memberikannya, apa maksudmu dengan membunuhnya?" tanya Taecyeon yang disetujui oleh Taehyung.
"Anggap saja ini adalah hadiah terakhir dari Seojoon untuk Jaksa Kim yang menginginkan kematiannya, kita akan tetap mengambil dan memberikan stempel itu tetapi bukan untuk Jaksa Kim, tetapi untuk orang lain," Chanyeol menunjukan sebuah email yang baru diterimanya. "Lagipula aku juga tak menyukai lelaki itu," lanjutnya.
Chanyeol segera menghidupkan earpiece handsfree yang memberi informasi dari rencana yang Jackson lakukan. "Ini aku, Sunggyu, aku tengah menyamar menjadi salah satu dokter residen yang akan menangani Sejoon," suara Sunggyu terdengar, Chanyeol mengangguk. "Rencana yang pasaran, huh?" cibir Taehyung. Taecyeon dan Chanyeol kemudian langsung menatap tajam lelaki yang paling muda diantara mereka.
"Seojoon akan operasi sekitar sepuluh menit lagi, dan dokter yang menanganinya adalah Baek—," "Kau benar-benar bertingkah seperti dokter, huh? Astaga," potong Taehyung kembali, membuat nama yang Sunggyu ucapkan tak terdengar dengan jelas oleh yang lainnya. Taehyung berdeham setelahnya, hanya ia yang mendengar nama dokter itu. "Sudahlah nama dokter itu tidak penting hanya lakukan dengan cepat, terserah kita tidak peduli apakah caramu sangat pasaran atau sebagainya. Hanya jangan sampai kejadian Yoona yang benar-benar bodoh itu tak boleh terulang!" kata Taehyung selanjutnya.
Sejujurnya Taehyung merasa bersalah, namun sejak ia menemukan Chanyeol yang kehilangan fokus beberapa waktu yang lalu ia tak menyukainya. Ini adalah hal yang terulang bagi dirinya juga menemui seseorang yang memiliki garis takdir yang sama dengan seseorang sebelumya, Luhan.
Lelaki yang lebih baik dan lebih lembut dari siapapun dan tidak bisa digantikan, Luhan adalah Luhan dan Baekhyun adalah Baekhyun.
"Taehyung! Ada apa denganmu, huh?!" geram Taecyeon marah tercetak jelas disana, sedangkan Chanyeol menatapnya tajam. Taehyung hanya tersenyum canggung dan sedikit takut kalau Chanyeol menghajarnya sekarang. Bukan apa-apa tapi kemarahan Chanyeol adalah hal yang menyeramkan dibandingkan dengan Taecyeon.
"Lagipula itu hanya nama, kalau kalian ingin tahu namanya adalah Baek Ah Yeon!" seru Taehyung, Taecyeon mencibir lalu mengapir leher lelaki itu dengan lengan kekarnya. "Dia adalah penyanyi, bodoh! Katakan dengan benar siapa namanya!" balas Taecyeon. Taehyung meronta hebat karena perlakuan yang lelaki lebih tinggi itu berikan. Astaga ia bahkan kehabisan nafasnya!
"Namanya Baekhee! Yoon Baekhee! Iya! Sunggyu mengatakannya tadi!" Chanyeol terlihat tidak mempercayainya pada awalnya, namun ia kemudian tidak peduli. Ia harrus segera membunuh orang-orang itu, lalu pergi menjauh dari kota ini, dan tak memperdulikan Luhan atau Baekhyun.
Chanyeol lebih suka diam didalam mobilnya bersama secangkir kopi americano dan sebatang rokok ditangannya. Matanya masih berada menangkap suasana didepan ruang unit gawat darurat yang masih dijaga oleh para polisi sekarang. Mencoba mencari tahu apa yang tengah anak buahnya lakukan didalam sana, well tidak hanya unit gawat darurat saja yang ia perhatikan sejak tadi, tetapi bagian depan utama rumah sakit itu. Sedangkan Taehyung dan Taecyeon berada dikafe yang tidak jauh didepan rumah sakit ini.
Chanyeol kembali menghembuskan asap dari rokoknya keluar mobil. Ia kembali mengulang sesuatu yang sudah lama ia tinggalkan sejak kedatangan Luhan, merokok.
"Chanyeol sayang~ berhenti merokok oke?Kau pasti sudah tahu dampaknya, tapi apa seorang boss Raven Fire itu bodoh sampe berpura-pura tak mengetahuinya?" rengek Luhan pada Chanyeol yang sebelumnya merokok dihadapannya itu. Well, ia hanya tidka ingin kekasihnya menjadi kecanduan rokok dan merusak tubuhnya secara perlahan. Chanyeol menggeleng tepat dihadapan wajah imut yang memelas itu. "Tidak jika kau memberiku jatah lebih malam ini," jawab Chanyeol.
Luhan merengut kesal lalu mengerucutkan bibirnya tak suka. "Kau akan mengkhianatinya! Ah, sangat sulit untuk berbicara dengan batu," cibir Luhan lalu meninggalkannya."Lagipula siapa yang akan sudi dekat dengan orang yang bau asap rokok, apalagi dengan ganja dan narkoba astaga aku ingin segera pergi dari sini," kata Luhan sebelum benar-benar pergi. Chanyeol tertawa kecil, lalu menyusul lelakinya.
Chanyeol memeluk Luhan dari belakang dan mencium pundak yang terekspos bebas itu. "Baiklah aku benar-benar akan berhenti, jadi berhenti berkata kau berniat pergi dari sini," katanya membujuk Luhan yang marah. Luhan tersenyum manis lalu membalikkan badanya dan melangungkan tangannya dileher Chanyeol. "But no kissing! Kau belum menghilangkan bau asap rokokmu hari ini, jadi pergilah mandi."
Dan begitulah caranya agar ia berhenti dari kebiasaan merokok ini, tapi kini ia mengulangnya. Sekali lagi ia merasa ingatan itu benar-benar memukulnya sangat keras, namun hatinya benar-benar menolaknya untuk kembali, atas pengkhianatan yang pernah terjadi siapapun takkan menyukainya jika itu terkena hati. Handphonenya bergetar menunjukan nama Yoona dilayar itu, kebetulan sekali pikirnya. Chanyeol segera menjawab panggilan itu.
"Ada apa, huh? Kau ingin mengingatkanku tentang ancaman Seojoon? Dan setelah kau memberi tahu itu kau ingin menjadi wanitanya? Oh betapa mulianya pengkhianatanmu Yoona," sapaan Chanyeol saat pertama kali ia mengangkat panggilan itu. Terdengar isakkan wanita diujung sana. Chanyeol sedikit mengernyit bingung ketika Yoona belum berbicara sama sekali. Tapi Chanyeol tidak peduli.
"Maafkan aku karena merusak rencanamu, tapi aku benar-benar takut Seojoon akan benar-benar melakukannya jika ia masih belum tahu tentang jaksa Kim yang membayar kita," kata Yoona cemas. Chanyeol terkekeh kesal mendengar perkataan tak bernilai itu, ia segera memutuskan sambungannya, kemudian meminum kopinya dan membuang batang rokok itu. Matanya melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya itu.
Waktu menunjukan jam empat sore, sudah tiga jam dan masih belum ada kabar terbaru dari anak buahnya dan Jackson. Atau jangan-jangan Sunggyu juga mengikuti operasi itu? Lalu apa rencananya? Menghancurkan operasi itu dan membuat Seojoon mati disana, menyalahkan dokter bernama Baekhee atas kematiannya? Boleh dicoba, ia baru terpikir dengan strategi itu, tapi kemungkinan untuk menghancurkan sebuah operasi yang berlangsung dengan dokter handal itu tidak besar. Chanyeol kembali menghidupkan earpiece handsfreenya. "Jackson, kau tengah berada dimana?" tanya Chanyeol.
"Aku berada ditempat penyimpanan barang milik Seojoon, kita harus mencari stempel itu. Jinyoung dan Jimin berada di pengawasan obat, mereka akan mengubah obat yang akan diberikan pada Seojoon setelah operasi, apa itu diterima?" tanya Jackson. Chanyeol terdiam sebelum akhirnya menggeleng. "Tidak, jangan dulu diberi racun, kita masih membutuhkannya untuk memberi tahu dimana stempel tersebut, ah ya dimana Sunggyu?"
Sesuai dengan dugaannya Sunggyu berada diruang operasi kali ini, dan mengawasi jalannya operasi lebih baik jika ia bisa mengacaukannya. "Kalian benar-benar antusias untuk membunuh 700 juta won, baguslah," Chanyeol kembali melirik layar handphone yang menunjukan panggilan dari Yoona. "Kau bisa membunuhnya jika tahu dimana stempel itu berada."
Chanyeol segera menggeser tanda tolak untuk menjawab panggilan dari Yoona, matanya kembali melihat jam. Mustahil jika operasinya memang dikacaukan oleh seorang Sunggyu, apa yang akan ia lakukan kecuali menunggu dan hanya memperhatikan jalannya operasi disudut ruangan kecuali kalau ia memang menjadi asisten disana. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari mobil itu, dan memasuki rumah sakitnya lagi.
Chanyeol segera mencari ruang operasi yang sudah pasti akan terdapat anggota keluarga Seojoon yang menunggu. Rasanya sangat canggung ketika mengetahui ruang operasi itu berada dekat dengan ruang ICU, pikirannya kembali melayang tentang keadaan Luhan didalam sana. Ah, tidak, ia sudah berjanji kan, tadi adalah terakhir kalinya. Walaupun ini masih dihari yang sama, tapi waktunya sudah berbeda.
Chanyeol melihat keluarga itu, keluarga yang menunggu pintu kaca tebal itu terbuka dan menunjukan dokter yang tersenyum lebar kemudian berkata bahwa operasi yang mereka lakukan berhasil. Dari jarak jauh ia melihat, dan entah mengapa pikirannya kembali melayang membayangkan bahwa itu adalah anak buahnya yang menunggu operasi Luhan waktu dulu.
Chanyeol memang tidak berada disana saat itu, bahkan tidak pernah berniat untuk melakukan sesuatu selain menyuruh anak buahnya untuk mengambil alih soal itu. Ia terlalu malas, dan bahkan mengharapkan Luhan tidak pernah kembali lagi, walau ia tidak tega jika memang hal itu terjadi. Tapi kembali ketika masalah apa yang Luhan buat sampai hatinya kembali membeku teringat, ia kembali tak memperdulikan keadaannya. Tidak sama sekali.
Ia membayangkan wajah Taecyeon yang memang menyayangi Luhan lebih dari yang lain tengah berharap keselamatannya dengan menunduk dalam-dalam. Chanyeol bisa membayangkan hal itu dengan jelas karena ia melihat juga sekarang, bagaimana seorang lelaki yang ia pikir adalah kakak Seojoon tengah menunduk diam. Walau ia berdarah dingin dan sempat tidak mempercayai kasih sayang, ia masih memiliki perasaan sebagai seseorang yang pernah kehilangan.
Chanyeol akhirnya memutuskan untuk duduk diseberang ruang operasi itu lebih jauh daripada tempat tunggunya, ia hanya ingin memastikan tentang dokter yang menangani Seojoo, karena sejujurnya ia ragu dengan nama yang disebutkan oleh Taehyung. Apakah itu Baekhyun atau memang Yoon Baekhee. Ia hanya penasaran. Well, sekedar informasi Chanyeol juga belum mengetahui spesialis apa yang lelaki mungil itu ambil. "Aku harap bukan kau, Baekhyun. Karena sulit menerima kau menolong orang yang aku harapkan kematiannya."
"Bos, operasi telah dilaksanakan. Dokter itu berhasil menyelamatkan Seojoon, ia hendak keluar dari sana," tiba-tiba Sunggyu berbicara, ketika Chanyeol tengah menutup matanya. Dengan segera Chanyeol membuka matanya dan beranjak mendekati ruang operasi itu. Bayangan seseorang yang hendak keluar dari ruangan itu terlihat, semua orang yang berada dikursi tunggu juga segera berdiri hendak menyambut dokter tersebut.
Sreeeettt!
"Kerja bagus, ah sepertinya aku harus mengganti fellow ku menjadi Kang Min Kyung sunbae-nim," kata Baekhyun lalu melepas masker yang sejak tadi melekat selama berjam-jam. Kasper yang mendengarnya sedikit kesal.
Sebenarnya sebelum mereka memutuskan untuk langsung pergi ke ruang operasi mereka bertemu dengan dokter Kang, yang akhirnya menawarkan diri sebagai asisten operasi bersama Kasper yang sejak tadi menolak untuk memimpin operasi karena takut terjadi sesuatu sejak dirinya takut dengan yang namanya orang penting ini. Akhirnya setelah memakan waktu empat jam untuk operasi pengangkatan gumpalan darah itu, mereka terutama Kasper bernafas lega.
Minkyung tertawa kecil sambil mencuci tangannya. "Tapi aku tidak mau menjadi fellow-mu Baekhyunee, ah ya aku harus lebih dulu kembali ke ruanganku. Haruskah aku yang memberi tahu keluarga pasien?" tanyanya, kini Baekhyun mencibir pertanyaan wanita itu. "Bilang saja jika kau ingin bertemu dengan presiden, kekeke," Kasper juga mendengarnya dan sedikitnya ia ikut tertwa atas cibiran Baekhyun yang benar adanya.
"Silahkan, aku harus memastikan dokter residenku menjahit kepala pasien dengan baik,ah kau tahu aturannya bukan?" tanya Baekhyun, kini Minkyung mengernyit bingung. "Jangan menggunkan bahasa medis saat memberi tahu," jawab Kasper lalu menarik Baekhyun untuk kembali masuk kedalam ruang operasi yang masih ada beberapa orang didalamnya, tengah membereskan ruangan itu.
Minkyung keluar dari ruang operasi, dan kemudian mendekati keluarga pasien yang tidak lain adalah bapak kepala negara serta keluarganya. Sedikit malu karena bukan ia yang memimpin tapi dirinya yang harus tersorot media, ah haruskah ia berbohong bahwa dokter Byun Baekhyun adalah seorang perempuan. Tidak, tidak, semua orang pasti tahu itu bohong. Jadi, yah mungkin jujur sajalah pilihannya.
Wanita itu terssenyum manis. "Operasi yang kami lakukan berhasil, kami telah mengangkat gumpalan darah yang ada diotak Seojoon, untungnya pendarahan di otak beliau adalah belum melebar. Ia akan segera dipindahkan keruangan ICU ia akan sadar dalam beberapa hari, apa ada pertanyaan? Kalau tidak saya ijin permisi, karena masih banyak pasien yang harus saya tangani," kata Minkyung.
Ternyata rasnya tidak terlalu buruk, tapi tetap canggung ketika melihat secara langsung seseorang yang memimpin negara ini ad dihadapannya. "Apa anda benar-benar yang menangani Park Seojoon?" tanya seseorang, Minkyun tersenyum manis kembali. "Iya, tentu saja," karena bagi Minkyung walau ia hanya membantu pekerjaan Baekhyun tapi ia tetap menanganinya bukan?
Minkyung segera bergegas pergi begitu pula keluarga Seojoon yang segera pergi meninggalkan seorang lelaki disana. Setelah beberapa menit berlalu, tubuh Seojoon keluar dari ruang operasi itu dan kemudian dibawa langsung keruangan ICU yang dekat dengan ruangan operasi. Diikuti dibelakangnya beberapa petugas tadi serta Baekhyun dan Kasper. Baekhyun terlihat puas ketika Seojoon sudah masuk kedalam ruangan ICU dan Kasper terlihat lega karena setelah ini ia tidak bertanggung jawab atas keadaan Seojoon melainkan Baekhyun.
"Aku lapar, belikan aku makanan," rengek Baekhyun tiba-tiba. Kasper mengangkat alisnya, mereka baru sampai diluar ruang operasi oke?
Namun siapapun pasti akan menolak jika Baekhyun sudah mengeluarkan jurus andalannya, yaitu beraegyo. Kasper mau tak mau tersenyum lalu mengusak rambut halus itu, dan mengajaknya pergi. "Ayo pergi, ku tidak bisa bertahan lebih lama dengan aegyomu, dokter Byun."
Chanyeol pergi meninggalkan ruangan operasi setelah melihat bahkan mendengar bahwa dokter wanita itu adalah dokter yang menangani Seojoon, ia bernafas lega setelah pikirannya tadi berpikir yang aneh-aneh tentang Baekhyun yang menolong Seojoon. Tapi apa salahnya jika Baekhyun yang menolong Seojoon? Toh, ia bukan siapa-siapa Chanyeol selain sesuatu yang terulang dan menakutkan hatinya.
Ia beranjak keluar dari rumah sakit itu dan kembali ke markas. Namun seseorang menahan kepergiannya, dengan menepuk bahunya ketika ia hendak memasuki mobilnya. Chanyeol sedikit terkejut ketika menemukan seorang lelaki yang sempat bertemu dengannya beberapa waktu yang lalu ketika ia menyelamatkan Baekhyun. Ah ia ingat! Itu adalah penjaga Baekhyun?
"Ternyata aku benar, akhirnya aku bertemu lagi denganmu," katanya sambil menyeringai. Chanyeol mengernyit bingung, apa maksudnya berkata seperti itu. "Kau adalah orang yang sempat menolong Baekhyun, kan? Maaf tidak sempat memperkenalkan diriku, Changwook, pengawal pribadi dokter Byun," lanjutnya lalu memberikan tangannya berjabat dengan Chanyeol.
Chanyeol masih terdiam, ia sedikit curiga dengan lelaki yang ada dihadapannya itu. "Kami menemukan sebuah senjata api di mobil dokter Byun belum lama ini, dan ia berkata bahwa itu adalah senjatamu, apa ia sudah mengembalikannya?" tanya Changwook. Chanyeol akhirnya menyadari tentang hal itu. Perkataan Baekhyun sebelumnya tentang kekasihnya yang melarang dirinya memiliki senjata api. Inikah orangnya? Sejak ia berkata bahwa ia adalah pengawal pribadi Baekhyun.
Chanyeol mengangguk. "Ah, iya itu milikku. Dia juga sudah memberikannya," jawabnya. Ia belum beranjak disana, masih ada pertanyaan tentang kekasih Baekhyun itu. Tapi ia bingung untuk memulainya darimana. "Ah iya, dan ia juga sempat berkata tentang hal bahwa kekasihnya tidak mengizinkannya untuk menggunakan senjata api, well aku pikir bukankah itu terlalu overprotektif, sejak aku lihat ia juga masih memiliki musuh kemarin, sebaiknya kau menjaganya lebih baik jika memang kau mencintai kekasihmu itu, Changwook-ssi."
Satu hal lagi yang ia ingi ucapkan tentang kejadian beberapa jam yang lalu, tapi ia pikir itu terlalu vulgar dan akan menimbulkan dampak yang besar seperti perkelahian. Siapa juga yang ingin kekasihnya dicium sembarangan oleh orang lain?
Changwook terkekeh dengan ucapan lelaki yang ada dihadapannya itu. Lelaki itu berpikir bahwa Baekhyun adalah kekasihnya, dan ia adalah Sehun? Astaga walau ia memang menyukai, menyayangi Baekhyun, ia takkan berani untuk merebut milik bos nya."Baik, baik, aku akan menjaganya lebih baik, Park Chanyeol-ssi," tiba-tiba saja raut wajah Changwook berubah lebih menyeramkan dari sebelumnya, begitupula dengan Chanyeol yang diketahui namanya.
"Dengar, walau Baekhyun melarangku untuk mencari lebih jauh tentangmu tapi untuk keselamatan orang yang kau panggil sebagai kekasihku itu aku melakukannya. Tapi sayangnya, bahkan ketika aku belum selesai mencari, aku bisa mengetahui betapa buruknya seorang Park Chanyeol," tatapan Changwook menusuk dan menggambarkan betapa ia tak sukanya terhadap Chanyeol. "Satu hal lagi, Baekhyun lebih berharga dari apapun dan kau tidak pantas untuk dekat dengannya, mengerti? Keselamatannya adalah hal yang penting, dan aku takkan membiarkan keselamatannya terancam hanya karena ia bersamamu, Chanyeol."
Changwook bergegas pergi setelah itu meninggalkan Chanyeol yang masih memproses perkataannya, ia bisa meraskan bahwa Chanyeol kesal terhadapa ucapannya. Tapi untuk keselamatan Baekhyun dan Sehun ia bahkan berani memberikan nyawanya. Ia tahu dan dapat merasakan bahwa Chanyeol sama seperti mereka, maka dari itu ia tidak ingin Baekhyun dekat dengannya. Lebih baik jika bos nya bangun dan kembali menjaga Baekhyun.
Disisi lain Chanyeol kesal dengan perkataan Changwook yang seperti mengancamnya agar tidak dekat dengan Baekhyun. "Memangnya siapa yang akan kembali menemui dokter itu? Aku? Astaga, aku bahkan akan pergi setelah ini," katanya tak percaya, lalu dengan kesal Chanyeol segera masuk kedalam mobilnya dan meninggalkan tempat itu.
Baekhyun kembali ke rumah sakit setelah mengisi perutnya, seharusnya ia kembali ke apartement atau ke ruangan Sehun semenjak ia tidak memiliki jadwal khusus kecuali mengecek kondisi pasien pasien rawat inapnya. Namun sebelum itu ia memutuskan untuk membersihkan diri dahulu diruangan pribadinya, dan setelah menghabiskan wkatu dua puluh menit disana akhirnya ia memulai kembali pekerjaanya sebagai dokter yang sibuk.
Baekhyun mengambil cup kopi yang sebelumnya ia bawa dan meminumnya. Pikirannya melayang kewaktu saat ia mengoperasi Seojoon, kemudian ke waktu dimana Seojoon baru saja datang ke ruang unit gawat darurat. Terus menguras waktu kebelakang samapi ingatannya berhenti ke waktu dimana ia melihat seorang petugas ambulans yang berpisah dengan teman-temannya. "Aku mencurigai sesuatu, tapi aku tidak tahu apakah ini memang kecurigaanku belaka karena aku seorang kekasih bos mafia atau memang sesuatu terjadi dibelakangku?" tanya Baekhyun dalam hati.
Tanpa memikirkan hal lebih ia kemudian pergi dari ruangannya, tepatnya ke ruang ICU ia harus memastikan pasien terbarunya baik-baik saja, walau ini baru satu jam setelah operasinya. Ia bertemu dengan Minkyung saat berada di bangsal milik Seojoon. Sulit untuk menjaga seorang yang berada di ICU karena memang itu peraturannya. Hanya ada Minkyung dan dokter residensi nya.
Baekhyun tersenyum jahil. "Apa kau benar-benar mengatakan bahwa kau yang menangani Seojoon bukan aku?" tanya Baekhyun, Minkyung terkekeh. "Sayangnya, iya. Aku tidak mengatakan dokter Byun, tapi media pasti tahu bahwa dokter Byun lah yang sebenarnya memimpin operasinya, bersama Kang Minkyung dan Kim Kasper," jawabnya santai. Baekhyun kembali tersenyum. "Bagaimana keadaanya?"
Minkyung menghela nafasnya, apalagi yang diharapkan selain kesadaran Seojoon yang secara tidak langsung melepaskan keadaan yang tidak diharapkan itu pergi. "Dia baik-baik saja, hanya menunggu kesadarannya, jika ia tidak ingin membuat kita tersorot dan diselidiki ia harus secepatnya bangun," kata Minkyung. Baekhyun mengganguk setuju kali ini, karena hal yang paling ia benci adlah diselidiki atas hal yang tidak dimengerti olehnya sendiri.
Maksudnya, jika memang nanti Seojoon tidak kembali bangun, ia tidak ingin diselidiki atas kasus apapun. Tapi ia tidak beraharap Seojoon untuk tidak bangun. Baekhyun menepuk pundak Minkyung dan memberi tanda bahwa ia harus pergi ke tempat lain sekarang, Minkyung mengangguk mengizinkannya. Baekhyun segera pergi dari ruangan tempat Seojoon itu, kemudian memasuki ruangan yang lain. Pasiennya yang masih menimbulkan tanda tanya di kepalanya.
Sudah ada Taeyeong yang tengah memberi obat pada Luhan. Lelaki itu kemudian memberi hormat padanya. "Apa ia sudah sadar?" tanya Baekhyun. "Ah belum, oh iya, tentang hasil pemeriksaan CT Scan yang sudah kami lakukan, kami mendapatkan sedikit masalah" cicit Taeyeong. Baekhyun mengernyit bingung, namun Taeyeong yang menyadari raut itu segera kembali berkata. "Maksudku, kami kesulitan untuk mencari trauma lian semenjak ini sudah setahun sejak kecelakaannya," tambahnya.
Baekhyun tersenyum tipis memaklumi. "Tidak apa, aku mengerti kita tidak tahu apa saja yang sebenarnya terjadi dahulu. Kita akan berusaha untuk menyembuhkannya," mendengar hal itu Taeyeong tersenyum lega. Keduanya terdiam setelahnya, terutama Baekhyun yang tengah menatap pasien yang bernama Luhan itu. "Dia terlalu cantik untuk ukuran lelaki, bukan?" gumamnya terdengar oleh Taeyeong membuat lelaki itu bingung namun menyetujuinya.
"Ah iya, menurutku ia sama cantiknya sepertimu Dokter Byun," ucapnya memberi tahu. Oke Baekhyun berhenti takkan membahas masalah kecantikannya yang dikatakan sama dengan pasien ini, dan ia menyesal telah berkata seperti itu. Mata sipitnya membulat ketika ia menemukan pasien itu berusaha untuk membuka matanya, dan terdengar sura lenguhan kecil khas seseorang yang baru terbangun.
"Dia sadar!" seru Baekhyun bahagia, begitu juga dengan Taeyeong. Baekhyun segera mendekati lelaki itu. "Kau akhirnya bangun, ah syukurlah," lanjut Baekhyun. Mereka berdua masih berada disana menunggu kesadaran Luhan benar-benar pulih. Baekhyun tahu sangat ssulit untuk mengingat sejak Luhan tertidur satu tahun lamanya, dan belum lagi dengan pendarahan otak dikepalanya.
"Taeyeong, bisakah kau menghubungi keluarganya? Mereka pasti senang mendengar Luhan sudah bangun," kata Baekhyun memberi tahu, Taeyeong kemudian pergi keluar meninggalkan Luhan dan Baekhyun disana. Baekhyun masih setia dengan senyuman manisnya itu, ia bahagia salah satu pasiennya akhirnya bangun. Dalam hati ia meminta juga kesembuhan bagi kekasihnya, Sehun.
"Luhan-ssi, apa anda mengingat sesuatu?" tanya Baekhyun, anehnya Luhan menggeleng. "Si-apa i-tu Lu-han?" balasnya terbata. Baekhyun mengernyit ada apa dengan keadaan pasiennya, ia mendiagnosa bahwa Luhan memang kehilangan ingatannya. Baekhyun berusaha tenang setelahnya. "Ah, tidak apa jika kau tidak mengingatnya. Mungkin kau memang kehilanagn ingatanmu, namamu Luhan, sebentar lagi mungkin ada keluargamu yang akan datang menjengukmu, jadi beristirahatlah."
Baekhyun hendak beranjak pergi namun sebelum itu ia kembali mendekati tubuh Luhan."Terima kasih telah kembali bangun, dan memberikan motivasi untukku."
