ONCE AGAIN
PART 5
Jika memang sebenarnya aku adalah hal terulang bagimu, apakah tidak ada harapan bagiku untuk membuatnya lebih baik? Aku hanya ingin dirimu mengerti bahwa walaupun aku adalah hal yang terulang, aku berbeda.
Baekhyun segera pergi keluar dari ruangan Luhan, ia bahagia tentunya mengetahui bahkan merasakan angin segar dan motivasi dari terbangunnya pasien yang mirip dengan kekasihnya itu. Ia merasa bahwa keadaan Sehun juga masih bisa kembali, maka dari itu senyumannya mengembang saat ia pergi ke ruangan Sehun.
Bahkan senyuman Baekhyun juga membuat seluruh anak buahnya tersenyum lega melihat kekasih bos nya itu terlihat bahagia kali ini. Rasanya sudah lama sejak keadaan Sehun yang pernah sekalinya drop, dan membuat semua orang khawatir termasuk keluarga Baekhyun yang mengetahui hubungan mereka berdua.
Walau Sehun sudah tertidur cukup lama tapi ia masih diurus seperti biasanya, bahkan rambut Sehun pun pernah dipotong oleh Changwook atas permintaan Baekhyun karena tidak ingin melihat kekasihnya begitu sangat diperhatikan sebagai pasien dan melupakan penampilan mewah sang bos mafia itu.
"Hyung, seorang pasienku baru saja terbangun beberapa menit yang lalu, itu membuatku sangat bahagia," ceritanya pada Changwook yang tengah menemani Baekhyun yang tengah membereskan ruangan Sehun yang sebenarnya rapih.
"Kenapa?" tanyanya. Baekhyun tersenyum dihadapan tubuh Sehun, yang menurutnya tak pernah berubah selama satu tahun. Ia kemudian mengusap pipi tirus dan rahang tegas itu dengan lembut. "Karena pasienku memiliki riwayat medis yang sama seperti Sehun."
"Ia koma selama satu tahun dan sempat mengalami pendarahan diotak, tapi ia berhasil bangun dari tidurnya. Ah, aku sungguh berharap Sehun bisa melakukan hal sama seperti itu," kata Baekhyun berharap.
Luhan masih bingung kenapa ia tidak bisa mengingat apapun bahkan namanya. Berapa lama ia tidur kalau begitu? Ia mengharapkan apa yang dokternya katakan benar terjadi, keluarganya akan datang menjemputnya. Tapi harapannya sirna karena ia merasa sudah lama sejak ia terbangun, tidak ada siapa-siapa yang datang.
"Luhan-ssi, kami akan membawa anda untuk melakukan CTScan," beberapa perawat mendatanginya dan membawanya keluar ruangan ICU.
Banyak orang yang ia lihat kini, bermula dari kesendiriannya kini ia merasa ia telah kembali kedunianya. Ia bisa merasakannya, tentu hal ini sangat bahagia jika seandainya keluarganya atau siapapun datang menjenguknya.
"Apa kau bisa menggerakan anggota badanmu?" tanya seorang dokter, berbeda dari sebelumnya kini dokter yang bertanya itu lebih tinggi dan tentunya tampan. Umm, kalau boleh berkata dokter yang sebelumnya itu lebih manis daripada tampan.
Ia menggeleng, tentu ia belum mencobanya. Badannya mungkin sudah sangat kaku, seperti robot. "Aku tidak tahu, apakah badanku bisa digerakkan atau—," "Cobalah," potong dokter iu dengan suara lembut.
Luhan menelan ludahnya kasar, ia tak yakin. Tapi ia berusaha mencoba untuk menggerakan tangannya, rasanya sedikit berat seperti sesuatu mencegahnya. Perlahan tapi pasti, ia kembali bisa merasakan tubuhnya berkerja sama. "Hahh...," desahnya saat akhirnya ia berhasil menggerakan tangannya bebas.
Dokter itu tersenyum bahagia sama seperti dirinya. "Kau akan mendapatkan perawatan untuk memulihkan kembali keadaanmu, ah iya, perkenalkan aku adalah dokter dan temanmu sekarang, Kim Kasper," katanya lalu menjabat tangan Luhan.
Luhan membalas tersenyum. Banyak hal yang ia kembali rasakan, walau ia tidak mengingat apapun bahkan mimpinya selama koma, ia tetap senang akhirnya ada yang menerima dirinya kembali. Aaahh, ia sangat penasaran apa yang akan kemudian terjadi setelah ini?
Setelah melakukan beberapa tes yang membingungkan dan melelahkan akhirnya Luhan kembali ke ruangannya, tepatnya ruangan inap baru. Hanya keheningan yang ia dengar disana selain televisi didepan tempat tidurnya yang menyala. Bosan lebih menyeruak dalam hatinya, terlebih belum ada sanak keluarganya yang datang menjenguknya.
Luhan menatap ruangannya, sebelum berusaha untuk duduk dari tidurnya. Ia pikir ruangannya sungguh luas, dan mungkin bukan ruangan untuk pasien biasa. "VIP?" gumamnya ketika merasa ruang inapnya terlalu mewah.
Tok tok
Seorang dokter masuk keruangannya. Ketika mengingat wajahnya, Luhan tersenyum, itu Baekhyun. Orang yang pertama kali ia lihat saat terbangun, ia mengaguminya ketika dokter itu memprlakukannya dengan ramah. Karena terkadang, ada dokter yang anehnya bisa lulus dengan etika yang diragukan.
"Luhan-ssi sudah bisa duduk? Wah, siapa yang melatihmu?" tanyanya sambil tersenyum manis. Luhan membalas tersenyum. "Dokter Kim, ia yang melatihku."
Dokter Byun atau Baekhyun mengangguk sebelum akhirnya meminta izin Luhan untuk melakukan pemeriksaan. Dengan kata lain, Luhan harus terpaksa kembali tertidur selama pemeriksaan. Dimulai dari tanda vital, dan bagaimana respon kerja setelah Baekhyun mengatakan pemeriksaanya selesai, Luhan dengan cepat kembali duduk.
"Omo! Sepertinya anda benar-benar telah sembuh, kekeke," gurau Baekhyun. Luhan tersenyum kikuk, menurutnya tidur lebih membosankan daripada apapun.
"Dokter Byun," panggil Luhan. Baekhyun menoleh dari kertasnya. "umm, mungkinkah keluargaku sudah datang?" tanyanya ragu. Ia bisa melihat ekspresi dokter yang bertanggung jawab atas keadaannya itu berubah, sesuai dengan apa yang ia kira. Tapi ia tidak mengira bahwa keramhan dokter itu sangatlah besar.
Terlebih ketika Baekhyun menepuk pundaknya. "Mungkin belum, tapi kau tahu Luhan-ssi? Semua dokter disini sangat ramah dan akan menjadikanmu sebagai teman mereka. Begitu pula aku, mulai sejak saat ini aku adalah temanmu, jika keluargamu tidak ada maka aku akan merawatmu."
Luhan terkejut mendengarnya, bukan karena fakta bahwa keluarganya belum ada, tetapi karena dokter itu berkata bahwa ia akan merawat dirinya. Fakta bahwa Baekhyun hanyalah dokter atau bahkan orang asing ia abaikan, yang ia butuhkan adalah seseorang yang bisa bersamanya.
Mata Luhan sudah berkaca-kaca, namun Baekhyun merusaknya. "Aku tidak tahu bahwa perkataanku bisa membuat seseorang menangis, bagaimana ini?" guraunya kembali. Luhan tertawa bersama air mata bahagianya. "Terima kasih, saem."
Beberapa menit sebelumnya...
Baekhyun segera bertemu dengan Taeyoung untuk kembali menemui pasiennya yang baru terbangun, Luhan. Karena ia tahu, bahwa jadwal pasiennya untuk diberi beberapa tes dan perawatan, maka ia tidak mengunjungi tempat dimana pasiennya berada. Ia memutuskan untuk pergi ke ICU dan bertemu dengan wali Park Seo Joon, dan berbincang sebentar sebelum pergi ke ruangan Luhan.
Ketika ia hendak menemui Taeyoung, dokter residen itu sudah berada di hadapannya. "Ah, baguslah kau berada disini, tadinya aku akan mencarimu ke antartika jika tidak ketemu," gurau Baekhyun karena bahagia. Taeyoung tersenyum tipis sebelum memberikan beberapa file milik Luhan.
Baekhyun menerimanya, dan membacanya sekilas. "Keluarganya atau walinya? Apa ada yang sudah datang?" tanyanya. Taeyoung menunduk. "Tidak bisa dihubungi," cicitnya. Baekhyun mengernyit bingung dan menunda bacaanya. "Lalu siapa yang membayar perawatan ini semua? Ani-.. bukankah sebelum ia sadar seseorang pernah mengunjunginya? Ia pasti meninggalkan kontaknya."
Taeyoung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali itu."Itu-..,"-..baiklah, aku akan memberikanmu tugas lain selama 30 menit kau harus menghubungi keluarganya atau siapapun yang mengenal keluarganya. Kalau perlu lacak keberadaan orang itu!" kesal Baekhyun lalu pergi meninggalkan Taeyoung.
Karena hati nuraninya sebagai dokter berkata, bahwa ia bukan hanya bertugas untuk merawat luka luar pasiennya, tapi juga luka dalam (hati), karena sebagian besar luka yang ada ditubuhnya bergantung bagaimana hatinya.
"Terima kasih, saem," kalimat sederhana yang membuat Baekhyun tersenyum tulus. Ia merasa telah kembali sebagai dokter yang baik bagi pasiennya.
Baekhyun kemudian pergi dari ruangan itu, untuk mengunjungi pasien VIP nya yang lain yang masih berada di ICU. Mata sipitnya menajam ketika melihat seseorang tengah berada didalam ruangan Park Seojoon dan bertingkah aneh.
"Dokter Byun!" interupsi seseorang, saat Baekhyun hendak membuka pintu ruangan itu. Baekhyun dengan terpaksa harus menoleh dan mengabaikan apa yang ia tadi ia curigai. "Eoh? Kang Minkyung noona?" sedikit bingung ketika dokter pendampingnya saat melakukan operasi tengah berada disana.
Nmaun detik kemudian ia mengerti. "Ah, arraseo-.. keluarganya mengira kau benar-benar memimpin operasinya bukan? Bagaimana?" goda Baekhyun. Dokter wanita itu terlihat cemberut setelahnya. "Buruk, ku pikir akan menyenangkan namun ini lebih jauh daripada menyenangkan-.. oh ya kau sedang apa?" balasnya.
Baekhyun baru kembali tersadar dengan tujuannya yang pertama, tentang mengetahui orang yang berada di bangsal Park Seojoon. Namun ketika ia membalikkan tubuhnya, ia tidak bisa melihat siapapun didalam sana. Akhirnya ia membuka pintu itu untuk mencari seseorang yang mencurigakan itu.
"Tunggu, ada apa?" interupsi Minkyung dibelakang tubuh Baekhyun. "Aku yakin seseorang berada didalam sini beberapa menit yang lalu, dan kini menghilang? Aku punya firasat tak beres dengan hal itu," jawab Baekhyun masih mencari sekelilingnya. Bukan begitu hanya saja, ini adalah ruangan pasien super VIP, tidak ada orang yang boleh sembarangan masuk kecuali atas izinnya sebagai dokter yang mengawasi Park Seojoon.
"Kau melihatnya?" tanya Baekhyun kini, Minkyung dibelakngnya tersenyum kikuk. "Ehehe, aku yang menyuruh salah satu dokter residenku untuk mengecek keadaan vital Park Seojoon, tidak apa kan? Tolong jangan marah~,"rengek Minkyung. Baekhyun memutar matanya malas. Sedikit lega bahwa itu adalah bawahan Minkyung, sepertinya akhir-akhir ini ia selalu berpikiran negatif.
Ah, mungkin karena ia kekurangan istirahat. Baekhyun segera meninggalkan tempat itu setelahnya, bersama Minkyung si deokter cantik, mereka meninggalkan ICU itu bersama penjaga dari kepresidenan.
Sedangkan Jinyoung kini bernafas lega ketika ia bisa keluar saat dokter wanita itu mengajak berbicara Baekhyun yang sempat memergokinya didalam ruangan Park Seojoon tengah mencari tahu tentang keberadaan stampel itu, mungkin saja seseorang menyimpannya di dekat bangsal itu, atau mungkin kita bisa memprediksi kapan lelaki itu akan bangun.
Tangannya merogoh saku jas putih panjangnya mengambil handphonenya disana dan menghubungi salah satu partnernya Jackson. Matanya melihat sekitar memastikan bahwa tidak ada seorang pun menaruh kecurigaan padanya.
"Bagaimana kau menemukannya?" tanya Jackson pertama kali saat lelaki itu menjawab panggilannya. Mata Jinyoung yang sejak tadi melihat sekitar bertabrakan dengan mata seorang perawat perempuan didepannya. Dengan cepat perempuan itu menundukan tatapannya. Jinyoung mendecih kesal kemudian berjalan keluar dari tempat itu.
Ia menghela nafasnya. "Tidak, benda itu tidak ada diruangannya. Juga sepertinya, hanya aku yang baru masuk ke , aku sempat dipergoki oleh seorang dokter, namun aku berhasil melarikan diri. Kau?" balasnya. Matanya kembali bertabrakan dengan pandangan seorang penjaga diluar ICU, ia menunduk berpura-pura debagai dokter yang sibuk. "Ah, ya.. Dok, aku akan pergi sekarang, ia dalam kondisi yang bagus," tambahnya berpura-pura.
Jackson mendecak kesal ketika menyadarinya. "Aku? Belum, tapi sepertinya ada yang kita lewatkan. Kau tahu, ia mungkin tidak akan bodoh untuk membawa benda itu sepanjang waktu, satu-satunya tempat dimana menurutku teraman adalah rumah presiden."
TING!
Keduanya mungkin memang sempat memikirkan hal ini, tapi karena pikirannya terfokus pada perintah sang Bos, maka mereka mengabaikannya. Jinyoung melempar maskernya kesal. "Yah! Cepat hubungi Jaehyun dan Sunggyu, kita harus mendapatkannya sekarang juga!" lelaki itu dengan tergesa-gesa pergi, melewati seorang yang baru saja datang dengan membawa sebuah kotak kecil ditangannya.
"Kita butuh banyak bantuan, aku akan panggil Taecyeon hyung. Kau cepat keluar dari tempat itu!" suruhnya lagi pada Jackson kemudian mematikan sambungannya. Dan mengganti panggilan menuju salah satu orang yang ia hormati juga di Raven Fire. Ok Taecyeon, orang kedua di Raven Fire setelah Park Chanyeol.
"Hyung, kita akan mencoba menyelidiki rumah presiden!" katanya memberitahu secara langsung setelah Taecyeon mendapatkan panggilannya. "MWO?! Kau gila?! Apa ini Plan C?!" jawab Taecyeon terkejut dan emosi. Jinyoung menundukkan kepalanya, namun ia tidak mempunyai pilihan lain.
"Ya, karena kami tidak menemukan apa-apa disini, kami akan mencoba untuk masuk kedalam rumah itu, maka dari itu aku membutuhkan bantuanmu."
"Tapi bos takkan menyetujuinya," tolak Taecyeon dengan santai. Jinyoung mengumpat dalam hatinya, benar juga. Bos nya tidak akan mengampuninya jika rencana ini gagal hanya karena ini adalah Plan C. Bagaimanapun juga Plan C ini terlalu besar dengan persiapan minim. "Lalu aku harus bagaimana?" balasnya. Sejujurnya ia juga ingin cepat menyelesaikan pekerjaan ini, sejak keadaan di Beijing mereka lebih berjaya dan banyak hal yang menyenangkan daripada di Korea, jadi ia menginginkannya.
"Kembalilah ke markas, biar aku yang melapor pada bos tentang hal ini-.. Ah tunggu, sebelum itu, tolong jenguk Luhan-..," ada jeda disana ketika Taecyeon berkata seperti itu. Jinyoung juga merasakannya. Ia sudah lama tidak bertemu dengan salah satu kakaknya itu. Ia kemudian membalikkan tubuhnya kembali menatap isi rumah sakit megah itu.
"-.. Jika kau tidak keberatan, dan-..," "-.. Tidak, aku tidak keberatan. Baiklah aku akan memberitahu yang lain untuk kembali ke markas. Aku permisi," Jinyoung memutus hubungannya, kemudian menghela nafas.
Ia sudah lama berada di Raven Fire, dan selama ia berada disana ia bisa merasakan kekeluargaan yang ada walau Raven Fire dibentuk untuk menghancurkan, tapi mereka tidak menghancurkan diri mereka juga. Tentu, apalagi sejak Luhan datang dan mengubah semuanya. Ia juga tidak tahu apa yang terjadi pada lelaki cantik itu, tapi ia hanya diam. Tak ingin mengetahui lebih dari sebatas lelaki cantik itu mengalami kecelakaan yang membuatnya tertidur panjang.
Setelah berganti pakaian, ia kembali ke meja administrasi untuk menanyakan keberadaan Luhan. Dan ia mendapatkan nomor kamar VIP disana. Ketika berada didepan pintu itu, ia sedikit gugup. Namun kemudian membukanya perlahan. Matanya menemukan sosok Luhan tengah duduk diatas tempat tidurnya dan terkejut melihatnya.
"Hyung~" lirih Jinyoung tak terdengar. Ia tidak berani untuk lebih mendekat tapi sampai ujung tempat tidur Luhan. Ia bisa melihat kebingungan pada lelaki manis itu.
"Siapa kau?" Jinyoung tidak terkejut ketika mendengar kalimat itu terucap karena ia tahu betapa besaf kecelakaan yang pernah lelaki itu alami, sampai mungkin sekarang Luhan sudah kehilangan ingatannya. Tapi ia tidak menjawab pertanyaan itu, pergi dari sana adalah keputusannya setelah mendengar perkataan Chanyeol tentang kepergian mereka yang akan meninggalkan Luhan disini. Bagaimanapun ia lebih patuh pada Chanyeol.
Baekhyun duduk dikursi hadapan Kasper yang tengah meminum kopinya dengan tenang, namun kedatangan dokter manis dengan cara yang benar-benar menyebalkan membuat Kasper sendiri gemas ingin segera memeluk-ups- memarahi dkter Byun itu. Pasalnya, lelaki itu dengan tiba-tiba datang menganggu ketenangannya dan menyimpan kepalanya diatas meja.
"Apa ada yang mengganggumu?" tanya Kasper sebelum kwmbali meminum kopinya. Baekhyun meggeleng. "Tidak, hanya saja aku begitu lelah hari ini, sepertinya aku harus memberikan shift UGD-ku ke seseorang," jawab Baekhyun dengan memainkan alis dan senyum mirip psikopat. Tambah menyebalkan.
Kasper mengangkat tangannya. "No! Baek, aku sudah membantumu oke? Ah jadi bagaimana kalau kau memberikannya pada Minkyung?" pinta Kasper dengan memohon. Baekhyun tersenyum lebar, kemudian meminum kopi milik Kasper.
"Aku tidak akan memberikannya padamu, hyung... Ah, malam ini kau ada waktu? Aku ingin mengajak kau untuk pergi makan malam bersama Changwook- hyung. Kau tahu bukan, kalian berdua adalah penjagaku setelag Sehun," kata Baekhyun.
Mungkin jika Kasper boleh berteriak, ia ingin bertetiak betapa ia tidak inginnya selalu dibandingkan dengan Sehun atau anak buah lelaki dingin itu. Katakan egois tapi menurutnya dirinya lebih baik untuk Baekhyun, bukan orang lain.
Tapi kemudian fakta bahwa perasaannya hanya bertepuk sebelah tangan membuat ia terpukul. Hm, ia harusnya berusaha lebih untuk mendapatkan hati sahabatnya itu. " Ya, aku tidak ada acara malam ini. Kalau begitu aku akan menjemputmu, jam berapa?" tanya Kasper. Baekhyun tersenyum senang kemudian.
"Wah, thanks hyung~ Jam 8 malam, aku tunggu didepan rumah sakit," jawabnya.
"Eh? Kenapa dari rumah sakit?"
Baekhyun tertawa kecil. Bahagia dapat melihat ia tersenyum manis seperti itu. Hah, sepertinya ia juga harus berhenti iri terhadap Sehun, karena kini Sehun tidak dapat menikmati senyum manis Baekhyun. "Aku mana bisa pergi dari tugasku, aku bisa meminta izin dulu nanti."
Kasper mengangguk, keduanya kemudian berbincang tentang hal lain, mungkin seharusnya hanya Baekhyun. Karena Kasper lebih suka memperhatikan si wajah manis itu dengan senyuman bodohnya. Menatapnya layak tidak ada esok hari. Sampai seseorang datang menghamipiri meja keduanya, orang yang lima jam yang lalu bertemu dengannya.
"Dokter Byun," panggilnya. Baekhyun menoleh dan menemukan petugas ambulans yang sempat bertemu dengannya itu tengah berdiri disana menunggunya. Baekhyun memotong ucapan Kasper dan segera menghamipiri lelaki itu.
"Oh, ada apa?" tanya Baekhyun. Kemudian tanpa suara lelaki itu merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah barang berbentuk kotak, ah bukankah ini stampel? Tangan Baekhyun mengambilnya dan menatap barang itu bingung. "Kami menemukan stampel itu di dalam mobil ambulans kami, mungkin terjatuh ketika kita memberi pertolongan pertama."
Baekhyun mengangguk. "Tapi kenapa kalian tidak langsung berikan saja ke penjaga Seojoon di ICU?"
"Ah itu karena kami terlalu taut, dan hanya anda yang muncul diingatanku, haha," lelaki itu tertawa canggung setelahnya menyadari Baekhyun memasang wajah asam setelah mendengar jawabannya. "Baiklah, aku akan memberikannya. Terima kasih," segera setelah itu Baekhyun kembali ke tempat duduknya dengan perasaan sedikit kesal.
Kasper memperhatikan Baekhyun yang tengah memainkan barang yang baru lelaki itu dapatkan. Sedikit kesal juga ketika mendengar petugas ambulans itu sempat menggoda Baekhyun yang untungnya tidak dibalas dengan baik oleh lelaki cantik itu.
Siapapun akan jatuh cinta dengan sosok didepannya.
"Ada apa dengan benda itu?" tanya Kasper mengawali. Baekhyun menolehkan kepalanya dan tersenyum tipis tak peduli. Lalu menyimpan benda berbentuk kotak itu diatas meja mereka. Kemudian Kasper mengambilnya dan melakukan hal yang sama seperti Baekhyun beberapa waktu lalu.
"Apa ini?" tanya Kasper kemudian.
Baekhyun menghela nafasnya. "Milik Park Seojoon, dan petugas ambulans itu tak berani mberikannya kepada penjaga ICU. Entahlah aku juga sedikit risih dengan keberadaan mereka didepan pintu ICU," kata Baekhyun merenggut kesal diakhir. Mimik wajahnya juga berubah menjadi sedikit kesal mengingat keadaan itu, matanya memicing dan bibirnya ia lemgkungkan tak suka. (-_-)/
Kasper mendecih setuju. "Ya sedikit menyebalkan memang."
"Ah, kudengar kau berteman dengan pasien bernama Luhan? Ouh, kukira kau takkan melakukannya," ejek Baekhyun. Tiba-tiba saja ia teringat dengan pasien VIP nya itu. Lucu sekali. Matanya menangkap Kasper yang tengah mengangguk.
"Tentu, itu kewajibanku sebagai dokter, terlebih lelaki yang sama cantiknya seperti dirimu itu belum mendapatkan ingatannya. Tapi syukurlah ia bisa terbangun dari koma nya, kudengar rumah sakit yang sebelumnya ragu untuk mengatakan lelaki itu bisa bertahan dan kemungkinan ia akan terkena mati otak."
Pandangan Baekhyun merendah ketika mendengar perkataan Kasper tentang keadaan Luhan sebelumnya yang seperti kekasih dirinya itu. "Tidak mungkin," lirih Baekhyun tanpa suara. Kemudian mengerjapkan matanya beberapa kali berusaha untuk terlihat baik walau hatinya tidak begitu.
"Itu artinya kita benar-benar baik dalam mengusahakan kesembuhan pasien, bukan begitu?" Kasper mengangguk setelah meminum kopinya sampai hampir habis. "Hyung!" panggil Baekhyun.
Kasper mengangkat salah satu alisnya tanpa mengeluarkan suara, mulutnya masih penuh dengan kopi yang baru ia minum dan kini ia tengah mengambil gelas nya lagi untuk meminumnya sampai habis. Ia adalah seorang kopi maniak kedua setelah Changwook sahabatnya. "Apa kau berpikir Sehun juga akn bangun seperti Luhan?"
UHUK!
Tersedak saat mendengarkan sesuatu yang penting seperti ini adalah alamiah. Terutama hal yang sensitiv seperti ini jarang dan bahkan tak pernah dibahas oleh Baekhyun namun kini Kasper bisa merasakan mood Baekhyun yang berubah. Lelaki mungil itu juga tengah menunduk sedih. Tangan panjangnya meraih bahu itu untuk ia usap setelah menenangkan dirinya dari tersedak.
"Gwaenchanha... Aku mengerti perasaanmu jadi tak apa," katanya.
Baekhyun menatap keatas dan menemukan senyuman tipis diwajah Kasper, itu menghangatkan setidaknya untuk beberapa waktu kedepan. Karena yang ia butuh adalah kepastian dari keadaan Sehun dan kembalinya kekasihnya itu kedalam dunia sadar. "Hm, hanya saja terkadang aku lelah dengan semua ini dan menyerah."
"Dengar Hyun, kau juga tahu bahwa Luhan memiliki hal yang sama seperti Sehun, dan setelah lelaki itu dirawat disini ia bisa terbangun-..Itu artinya jangan menyerah Sehun pasti-..," sulit untuk mengatakan hal ini karena berbeda dengan seruan pikirannya yang selalu berharap lelaki pucat itu meninggalkan Baekhyun dan Kasper.
"APA?! APA MAKSUDMU MENUNDANYA?! OK TAECYEON, JAWAB AKU!" amarah Chanyeol bos Raven Fire menggema diseluruh ruangan itu. Bagaimana tidak jika keinginannya untuk segera menjauh dari Seoul malah tertunda seperti ini. Ia bisa saja mengabaikan pekerjaan ini dan lebih dulu untuk pergi ke Beijing, tapi sekali lagi ia masih memiliki hati untuk menjaga apa yang ia sebut keluarga ini.
"Bos, untuk menerobos rumah presiden kita butuh persiapan yang cukup matang. Jika sesuatu yang salah terjadi maka kita akan mati. Jaehyun sudah pernah mencoba untuk meretas cctv disana namun masih belum selesai."
Mata Chanyeol melirik sekilas anak buahnya yang tengah bermain ria jarinya diatas laptop dihadapannya. Iya setuju, tapi tetap saja. "Apa ada kabar lain selain ini?" tanyanya. Taecyeon juga mengarahkan pandangannya ke arah lain dan tidak ada satu pun dari anggotanya yang menjawab, namun dering handphone Taecyeon yang jadul dan tak menyenangkan itu merusak suasana.
Tertera nama Jinyoung disana. Ah lelaki itu masih belum ada dimarkas rupanya. "Hyung, Luhan hyung sudah bangun, dan ia -.. ia tidak mengenaliku sama sekali."
Suara lelaki itu bergetar saat pertama kali berbicara, dan sialnya mata nya bertabrakan dengan Chanyeol, dengan cepat Taceyoen pergi dari tempat itu namun Chanyeol lebih cepat daripada angin yang berhembus untuk mendapatkan handphone itu ditangannya. Dan mendengarkan semua penjelasan Jinyoung tentang Luhan yang katanya terbangun.
"Taecyeon hyung,..?"
Mata Chanyeol menajam namun tak berani berteriak pikirannya terlalu lelah setelah Baekhyun, Jaksa Kim, Park Seojoon dan Luhan datang kehidupnya. Ia harus benar-benar pergi ke lelaki tua itu dan mengatakan bahwa ia menyerah. Bukannya tidak bertanggung jawab dalam hal bisnis, tapi ia akan memperkecil segala sesuatu hal buruk yang mungkin terjadi. Ia harus segera bergegas pergi.
"Katakan pada seluruh orang untuk kembali ke markas dan kita akan berangkat ke Beijing setelah aku memberitahu lelaki tua itu kita berhenti berkerja untuknya."
Chanyeol melangkahkan kaki panjangnya dengan kesal keluar dari markasnya itu, dan membawa mobil mewahnya untuk mendatangi jaksa Kim secara langsung . Taecyeon mengikutinya dari belakang sebelum Chanyeol berusaha untuk menutup pintu mobilnya lelaki itu menahannya. "Chanyeol kau yakin akan pergi kesana sendiri? Apa kau tidak membutuhkan kami?" tanyanya.
Chanyeol menghela nafasnya kasar. "Dengar, Taec. Aku bisa mengatasi ini. Hanya lakukan perintahku sebelumnya, aku harus memberitahu lelaki tua itu tentang ini secepatnya," kemudian setelah itu pintunya tertutup Suara mesin dihidupkan namun belum berangkat sebelum Chanyeol membuka jendela mobilnya dan mengatakan hal yang membuat Taecyeon ingin melakukan hal yang selama ini ia inginkan.
"Jika kau memang menyuai Luhan dan menginginkannya silahkan bawa si pengkhianat itu dan jangan pernah kembali bersama Raven Fire," ejek Chanyeol sebelum membawa dirinya pergi dari tempat itu. Meninggalkan Taevyeon yang menggeram kesal, namun tertahan karena ia masih bisa mengatur emosinya.
Sedangkan disisi lain seseorang tengah menyeringai setelah mendapat bahwa salah sau umpannya akan dimakan oleh sang ikan. Dan ia juga mendapat izin dari sang majikan untuk menghabisi ikan itu. "Lelaki itu sudah keluar dari markasnya, dan kini aku akan mendapatkannya untukmu jaksa Kim."
