ONCE AGAIN:

Kau menolongku saat pertama kali kita bertemu, kita memutuskan untuk berpisah kemudian, walau aku telah mengetahui sesuatu yang aku tak suka, hey aku mohon sekali lagi bolehkah? Aku mohon tolong aku sekali lagi, Byun Baekhyun-ssi.

Sesuai dengan janji yang telah ia buat bersama Changwook dan Kasper, Baekhyun juga segera kembali ke apartement mewahnya dan bersiap. Suasana hatinya tengah baik, jadi jangan menghilang saat orang lain bisa merasakan bagaimana jika Baekhyun dalam mood baik.

Lelaki itu menatap cermin dihadapannya, ia mengenakan sweater turtle neck berwarna putih, jeans hitam dan long coat berwarna merah maroon untuk luarannya. Ia tahu, bahkan tahu sangat betul jika dinginnya malam adalah musuhnya, tapi untuk apa kau meminta kedua sahabatmu ikut kalau tidak untuk dipergunakan jaket tebalnya nanti.

"Kau terlihat mengesankan," interupsi seseorang diujung pintu kamarnya.

Baekhyun terkejut dan hampir menjerit jika ia tidak tahu bahwa itu adalah Kasper. Namun tetap ia kesal karena menganggap itu adalah hal yang tak ingin ia harapkan. Mistis dan any creepy stuff there.

"Berhenti omong kosong, dan bukankah aku berkata untuk menjemputku didepan rumah sakit?" tegur Baekhyun, sedangkan Kasper memutar bola matanya. Tangannya ia masukan kedalam saku celana, dan kemudian mendekati tubuh mungil itu berdiri dibelakangnya menghadap cermin besar.

"Kau sendiri berkata akan meminta izin dulu untuk bolos dalam shift malam, lalu kenapa sudah ada diapartement ini? Aku berniat menunggumu disana kalau Changwook tidak berkata bahwa kau pulang lebih awal."

Baekhyun tersenyum tipis dan mengatakan hal yang seharusnya Kasper hindari untuk didengar karena ia akan membenci posisinya untuk selamanya. "Karena aku harus kembali lagi kesana dan meminta izin pada Sehun, kau mengerti alasanku?"

Sekali lagi, posisi itu.

"Hm.. aku mengerti, kalau begitu cepat aku akan mengantarkanmu ke rumah sakit dan kita akan berangkat bersama Changwook," kembali lagi Kasper berpura-pura untuk tidak merusak mood puterinya itu.

Kedua lelaki itu kemudian keluar dari kamar luas Baekhyun. Berjalan beriringan dan meninggalkan tempat yang disebut apartement mewah itu. Kasper senang ketika melihat Baekhyun terus berusaha baik-baik saja setelah ia menyadari beberapa saat yang lalu, bahwa kebahagian Baekhyun juga bersumber darinya.

"Kasper hyung," panggil Baehyun.

Kasper menoleh sekilas dari tatapan fokusnya pada jalanan yang sedikit ramai. Harus diakui kota besar akan penuh setiap saat layaknya tak ada waktu untuk beristirahat. "Kenapa? Apa sesuatu tertinggal diapartement mu?" balasnya.

Baekhyun menggeleng. "Ani-.. hanya saja kau sudah menyebut nama Changwook dua kali seingatku-.. jangan-jangan kau mulai menyukainya?" Psshh... dikira ada sesuatu yang penting. Kasper mengalihkan matanya ke kaca spion mobilnya sebelum menjawab pertanyaan itu.

"Hm-.. terserah, tapi malam ini kau terlihat lebih manja, apa aku benar?" tebak Kasper kali ini. Entah perasaannya atau apa ia merasa Baekhyun sekarang seperti anak gadis, tapi ia tetap menyukainya, karena ia pernah bermimpi dokter spesialis syaraf itu berkostum sebagai perempuan yang cantik dan manis.

Baekhyun menggeleng kecil.

"Aku hanya ingin terlihat lebih baik dimata para penjagaku, tidak bisakah?-.. jadi bagaimana kau mulai menyukai Changwook hyung kan?" goda Baekhyun. Entah apa maksudnya juga Baekhyun berkata seperti ini. Menyebalkan.

"Tidak, tentu saja aku tetap tidak menyukai keberadaannya yang selalu kau nomer satukan jika kau dalam keadaan darurat. Apa kerennya seorang Changwook hyung, ia sama seperti Sehun terlalu datar," Baekhyun mendesah kecil mendengar jawaban itu.

"So mean," cibirnya.

Baekhyun kemudian mengalihkan pandangannya ke luar jendela, dimana mereka melewati gedung-gendung pencakar langit, dan salah satu yang menarik perhatian Baekhyun ialah sebuah tayangan dari perusahan berita nasional yang tengah menayangakan berita tentang keadaan Park Seojoon dilayar besar gedung perusahaan itu.

"Sepertinya dunia sudah tahu siapa yang menyelamatkan anak presiden itu, lihat!" tunjuk Baekhyun pada layar itu, Kasper sekilas melihatnya dan menemukan nama Byun Baekhyun tertera disana. Sedangkan si dokter manis itu tersenyum bangga akan kerja kerasnya.

"Sepertinya seseorang harus mentraktir seluruh anggota divisi bedah syaraf esok hari," gumam Kasper, namun Baekhyun dengan baik mendengarkannya.

"Bukan hanya aku, tapi kau dan Minkyung juga tertera disana bodoh," cibir Baekhyun kemudian tertawa terbahak melihat ekspresi Kasper yang membulatkan matanya terkejut karena ia termakan omongannya sendiri.

"Oh ya, Hyun-.. menurutmu apa yang akan terjadi dengan Luhan? Maksudku, belum ada sanak keluarganya yang datang mengunjungi walau sebelumnya ada, tapi kita tidak bisa menghubunginya lagi," Kasper mengubah topik perbincangan mereka.

Mendengar Luhan, Baekhyun jadi teringat bahwa itu adalah pasien pertamanya yang merupakan pasien pindahan yang ia tangani dengan sepenuh hati sampai terbukanya mata rusa itu. Karena biasnya ia akan jarang mendatangi pasiennya, kecuali yang sudah sadar. Dan hal lain yang membuat Baekhyun sedikit simpatik adalah keadaan Luhan yang mirip dengan kekasihnya, Sehun.

"Aku tidak tahu-.. mungkin ia akan berakhir di panti sosial? Tapi-.." Kasper menoleh ketika Baekhyun menggantungkan perkataannya. "Tapi kenapa?"

"Tapi aku berpikir tentang menjadi walinya, bagaimana?" lanjut Baekhyun, Kasper tidak menduga Baekhyun akan sangat membuka tangannya pada orang lain. Walaupun pekerjaan mereka tentu sudah digambarkan untuk membuak tangan mereka, tapi menolong lebih dari itu?

"Kau apa? Lalu kau akan membawa ia ke apartementmu?" tanya Kasper.

"Hm-.. sepertinya begitu, jika perawatannya sudah selesai mungkin saja aku membantunya juga untuk bersekolah kedokteran, hey aku sudah menganggapnya sebagai saudaraku sendiri. Bagaimana?" jawab Baekhyun.

Kasper awalnya berpikir lama untuk mengambil keputusan ini, karena ia mengerti kenapa Baekhyun meminta sarannya. Setelah itu ia mengangkat kedua bahunya, menimbulkan tanda tanya pada Baekhyun sebelum lelaki itu kembali berkata.

"Asalkan itu tidak membebani dirimu aku akan selalu disisimu, dokter Byun," ucap Kasper manis.

Ugh! Baekhyun takkan pernah menyesal akan keputusannya bersahabat dekat dengan Kasper, karena lelaki itu akan selalu mendukungnya jika ia merasa benar. Walau terkadang beberapa hal tidak akan berjalan sesuai dengan keinginan keduanya, seperti hubungannya dengan si Bos Mafia Sehun.

"Assaa! Kau sangat baik, hyung! Kuharap seseorang yang baik datang lebih cepat untuk mengisi ruang sela-sela jarimu, kau adalah lelaki paling baik, and you deserve better than me," lirih Baekhyun kembali memberi jarak pada Kasper untuk menggapainya secara tidak langsung.

'kau selalu mendoakan orang lain untuk menjadi bagian dari hidupku, tanpa kau sadari bahwa kaulah bagian dari hidupku, Baekhyun. Aku selalu mendoakan itu.'

Kasper tidak menanggapinya, sampai merek akhirnya sampai diparkiran luas rumah sakit mewah dan hangat itu. Malam datang, dan lampu-lampu dengan taing tinggi disana menerangi jalan menuju rumah sakit. Sangat indah jika dipandang dari atas gedung tinggi itu.

Keduanya berjalan beringingan. Ah ya, kita belum membicarkan penampilan Dokter Kim bukan? Lelaki itu tak jauh berbeda dari penampilan Baekhyun, lelaki itu memakai sweater putih tanpa turtle neck, kemeja biru dongker untuk dalamanya dan long coat berwarna senada dengan kemeja itu sebagai luarannya.

Hanya saja Kasper terlihat lebih formal daripada Baekhyun.

Mereka memasuki rumah sakit megah yang mulai sepi itu, hanya orang-orang yang masih memiliki keperluan disana. Keduanya berjalan menuju ruangan Sehun dan menemukan Changwook sudah berada diluar ruangan itu dengan pakaian yang berbeda dari biasanya. Uh, mungkin ia hanya bosan.

"Mau masuk?" tanyanya pada Baekhyun. Baekhyun tersenyum, lalu menggeleng.

"Aku mengubah pikiranku, Sehun pasti mengizinkan kita pergi jadi sekarang ayo kita pergi," ajak Baekhyun lalu merangkul bahu lelaki itu bersama dengan Kasper segera meninggalkan tempat itu. Bercengkrama kecil selama menuju tempat parkir seblumnya.

Seharusnya Kasper tidak perlu ikut jika tahu Baekhyun hanya menjemput salah satu bodyguard kesayangannya itu. Membuang waktu dan tenaga namun sekali lagi, ia sedang tidak tahu apa yang ada didalam kepala Baekhyun saat ini.

"Dokter Byun!" teriak seorang perawat dari kejauhan memberhentikan langkah ketiganya. Baekhyun menoleh kearah perawat lelaki itu yang terlihat tergesa-gesa menghampirinya dari arah UGD.

Oh, sial. Jangan bilang ada panggilan mendadak. Ia tidak bisa, ia sudah izin dan apapun itu ia tidak bisa menggangu waktu pribadinya.

"Dokter Byun, ada pasien gawat darurat yang baru saja datang dan membutuhkan pertolongan anda!" serunya. Baik Baekhyun dan Kasper mengerutkan kedua dahi mereka. "Memangnya ada apa dengan pasien itu? Bukankah dokter spesialis syaraf masih banyak? Aku pikir aku sudah meminta izin untuk tidak terjaga kali ini."

Perawat lelaki itu menunduk, membuat Baekhyun mengerti keadaan yang sebnarnya. Lelaki mungil itu akhirnya menghela nafas dan mendahului perawat lelaki itu untuk pergi ke ruang UGD yang dikatakan darurat. "Setelah ini, beri tahu aku siapa yang bertugas selain aku malam ini," perintahnya.

"Ya!"

Keadaan diruangan itu lebih sibuk daripada sebelumnya. Perawat lelaki yang tadi menemuinya menunjukan jalan ke sebuah bangsal yang tak jauh dari tempat Baekhyun berada. Sebelum kembali berjalan, Baekhyun menoleh kearah Kasper dan Changwook yang sejak tadi mengikutinya.

"Aku harap ini takkan mengambil waktu yang lama, Kasper Hyung, bisa membantuku?" tanya Baekhyun lelaki yang lebih tinggi itu tersenyum manis dan mengangguk sebelum meminta seorang perawat lain membawakan dua jas putih dan sarung tangan untuk mereka.

Hanya Kasper yang menggunakan sarung tangan, Baekhyun tidak. Lelaki itu terlampau penasaran dengan apa yang terjadi dengan pasien barunya. Rasanya sungguh aneh ketika ia merasa sesuatu yang salah sedang terjadi. Atau setidaknya, ia harap tidak ada sesuatu yang akan membuatnya terkejut kemudian.

"Apa yang terjadi dengan..-."

Waktu adalah uang, menurut seorang workaholic, tapi menurut Chanyeol waktu adalah bagian terpenting dari hidup, kehilangan waktu yang pentinga dalah hal terburuk sejak waktu itu tidak bisa diulang. Hanya variable – variable tertentu yang bisa terulang. Perjalanannya menuju tempat dimana Jaksa Kim terkesan terlalu terburu-buru. Namun siapa peduli jika itu untuk keselamatan semua orang?

Lelaki tinggi itu semakin mempercepat kecepatannya untuk bertemu dengan si tua bangka yang menyebalkan. Dan ketika ia sampai di sebuah mansion megah milik seorang jaksa, kekesalannya semakin memuncak tatkala seorang bertubuh lebih besar darinya menghalangi jalannya.

"Tunggu, ada keperluan apa tuan datang kesini?"

"Apa itu sebuah masalah bagimu? Aku adalah tamu dari tuanmu, brengsek!" balas Chanyeol terlanjur emosi. Lelaki dihadapannya terlihat tak suka dengan ucapan yang ia sampaikan, namun tetap memberikan jalan bagi Chanyeol.

Megah, kesan pertama. Juga, bodoh. Untuk apa seorang jaksa terkenal meminta kelompok mafia berbahaya seperti Raven Fire untuk membunuh anak presiden?

Juga sangat bodoh, karena tawaran tujuh ratus juta won itu. Seharusnya Chanyeol tahu inihanya akal busuk si jaksa yang otomatis sudah terhubung dengan kepolisian.

"Tujukan aku dimana ia!" perintah Chanyeol kembali.

Krek! Namun sepertinya bukan kepatuhan yang Chanyeol dapatkan ketika seseorang mengarahkan senjata apinya tepat dibelakang kepalanya. "Jangan bergerak atau aku ledakan kepala tanpa isimu itu dengan senjata ini," ancamnya.

Chanyeol mendecih halus. Dengan cepat ia membalikan tubuhnya dan melintir tangan orang itu kebelakang serta menjatuhkan senjata yang ditangannya. Bukan tandingannya. Memukul punggung orang tersebut sampai tak sadarkan diri. "Ternyata otot kekarmu itu hanya sekumpulan lemak," cibir Chanyeol.

CLAP! CLAP! CLAP!

Suara tepukan tangan itu mengalihkan perhatiannya, dan tepat beberapa meter jaksa itu berada dihadapanya dengan kepala sombong dan senyuman menyebalkan menurut Chanyeol. Ia rasa ingin muntah ketika melihat wajah ornag itu, atau paling tidak menlenyapkannya. Hah...

"Wah.. wah.. wah, Boss Raven Fire benar-benar hebat, ada angin apa kau datang kesini?"

Chanyeol mendecih, muak dengan perkataan seperti itu. Jijik lebih tepatnya apalagi jika itu berasal dari musuhmu. Hahaha, semakin ia ingin muntah karenanya. "Kau mendapatkannya?" lanjut jaksa Kim.

Chanyeol masih diam, malah memungut senjata api yang lelaki tadi bawa dan memainkannya. "Tidak, benda itu ada di rumah Presiden, kau mau aku tetap mengambilnya?" tawar Chanyeol. Jaksa Kim itu lantas tersenyum bahagia ketika seolah mendengar tawaran Jackpot.

"Tentu! Tentu! Aku menginginkannya! Cepat bawa itu padaku dan aku akan membagi kekayaannya dengan mu!" seru jaksa Kim, terlalu senang bahkan tidak bisa melihat bahwa Chanyeol tengah memasang seringainya. "Tapi aku tidak mau!" kata Chanyeol tiba-tiba.

Jaksa kim merengut kesal. "Aku berhenti melakukannya, dan mengembalikan uang itu. Aku tidak bisa mempertaruhkan anak buah ku untuk tertangkap tangan nanti, lagipula jika kau meminta dua kali lipat dari harga yang kau berikan aku akan memberikannya."

Chanyeol menarik senjatanya tepat kearah dada kiri orang itu. "Mungkin kau tahu jika kita sama-sama memegang kunci masing-masing. Kau mau menghancurkanku, maka aku pula akan menghancurkanmu. Jadi jangan bertindak macam-macam Jaksa Kim yang terhormat, dan kau memiliki cukup anak buah juga ternyata, kenapa tidak memakai anak-anak mu itu untuk menerobos Blue House?" lanjut Chanyeol.

Jaksa Kim mengumpat kesal. "Bajingan, aku takkan membiarkan anak buahku untuk tertangkap tangan disana," jawabnya dengan kesal. "Begitupula dengan aku, selamat tinggal."

DOR! PRANG!

Membuat kekacauan dirumah seseorang itu adalah salah satu hobi Park Chanyeol, seperti sekarang sebelum ia membalikkan badannya dan pergi dari sana, lelaki tinggi itu memecahkan satu jendela besar, yang mungkin harganya sangat mahal mengingat ukurannya yang besar. Tapi siapa yang peduli?

BRAK!

Chanyeol segera meninggalkan Mansion milik Jaksa Kim itu, berencana untuk segara pulang ke markasnya dan langsung pergi ke bandara Incheon menuju Beijing jika anak buahnya dan Taecyeon benar-benar sudah siap untuk melakukan misi baru disana.

Namun kekesalannya kembali memuncak ketika melihat beberapa mobil mengikuti jejaknya dengan sangat-sangat terlihat sebagai penguntit. Mobil hitam mewah yang mengikutinya sejak belokan pertama di Mansion jaksa Kim. Tidak aneh jika lelaki tua bangka itu menyebalkan.

Ia menginjak pedal gas nya sebagai bentuk percobaan melarikan diri, dan sesuai dugaanya para penguntit itu juga terus mendekatkan mobil mereka dengan milik Chanyeol. "Shit, ini seperti Deja vu bersama Baekhyun," decih Chanyeol.

Lelaki itu terus menghindar, bukan karena ia bukanlah seorang yang tahu teknik pedal gas, tapi jalanan sialnya tiba-tiba ramai. Sulit untuk tidak membuat kecelakaan baru. Ia melajukan mobilnya menuju tempat yang lebih ramai,bahkan bisa dikatakan macet setidaknya ia bisa berkamuflase.

Tapi ada apa dengan hari ini? Sungguh! Tiba-tiba saja jalan yang ia lalui kembali kosong, Chanyeol mau tak mau membawa mobilnya lebih cepat. Tanpa menyadari ketika ia terus melaju lurus sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melaju kearahnya dari sebelah kiri.

BRAK!

Yang Chanyeol ingat terakhir kali adalah wajah Luhan dan Baekhyun yang terakhir kali ia lihat hari ini sebelum mobil sportnya terpental jauh. Kepalanya sudah berbenturan dengan kaca banyak kali, pandangannya mulai hilang dan darah mengucur dari kepalanya. Bagai sebuah pembunuhan berencana oleh psikopat, belum cukup dengan terpental, mobil Chanyeol berguling-guling diatas aspal yang panas.

"Hah..." desah Chanyeol ketika mobilnya berhenti berguling.

"Raven Fire-...," lanjutnya. Bayangan buramnya menunjukan ada ambulance yang tengah mendekat ke arahnya. Sebelum ia tak sadarkan diri, sesuatu terucap dihatinya, mirip permintaan atau sebenarnya permintaan? Tapi yang pasti ini adalah hal yang paling Chanyeol bingungkan.

"Aku mohon tolong aku lagi, Baekhyun."

"Apa yang terjadi dengan-..," ucapan Baekhyun terhenti ketika melihat seseorang yang tengah terbaring tak sadarkan diri dengan darah mengotori bajunya. Terlalu terkejut dengan apa yang ia lihat, sedangkan Kasper bingung dengan reaksi sahabatnya itu.

"Chanyeol-ssi...," lirihnya hampir tak terdengar. Baekhyun mendekati tubuh itu sebelum menengok kearah perawat yang membawanya ke bangsal Chanyeol. Meminta penjelasan tentang apa yang terjadi dengan lelaki yang akhir-akhir ini membuatnya tak tenang itu.

"Ia mengalami kecelakaan dijalan dan menyebabkan pendarahan di otak, ia sudah kehilangan kesadarannya sejak sampai dirumah sakit. Ah refleks pupil juga sangat lambat," katanya. Baekhyun menghela nafasnya berat dan memijat pangkal hidungnya masih terlalu shock, dna bingung.

"Cepat lakukan CT Scan dan berikan hasilnya kepadaku!" perawat itu akhirnya membawa Chanyeol untuk melakukan CT Scan, meninggalkan Baekhyun disana yang masih menetralkan rasa kagetnya. Tentu siapa yang tidak kaget?

Kasper menahan kepergian Baekhyun dengan menggenggam tangannya. Terlihat raut wajah yang bingung dan kesal diwaktu yang bersamaan pada lelaki yang lebih tinggi itu. Baekhyun menyadarinya, bahkan kembali bingung apa yang harus ia jawab jika Kasper mencurigai hubungannya dengan Chanyeol.

"Katakan yang sebenarnya, apa kau mengenal lelaki yang baru saja pergi itu?" sesuai tebakannya.

Baekhyun menelan ludahnya kasar, serta berpura-pura seperti tak terjadi apa-apa. Padahal jelas, wajahnya yang pucat dan gugupnya itu terlalu dikenali oleh Kasper. Baekhyun mencoba untuk tidak membalas tatapan lelaki itu, namun itu malah membuatnya semakin gugup.

"Ah, maksudmu perawat itu? Tentu aku tahu, ia salah satu-...," "-.. pasien itu!" potong Kasper tepat membuat Baekhyun terdiam. Bagaimanapun Kasper belum mengetahui tentang Chanyeol.

"Bukan siapa-siapa aku tidak mengetahuinya, sepertinya kau harus berjaga malam ini."

Kasper melepaskan genggamannya. "Kau tahu, kau selalu mengubha posisiku dihatimu, itu yang selalu membuatku ingin menyerah memperjuangkanmu, Byun," katanya. Baekhyun mengerti maksudnya, tapi ia tidak bisa menerima perkataan itu karena hatinya masih cemas akan keadaan Chanyeol.

"Kita akan melanjutkan ini setelah aku mengoperasi pasien itu, aku mohon."

Tanpa kata Baekhyun meninggalkan Kasper dan Changwook diruangan itu. Perasaan khawatir yang tidak beralasan. Apakah ia khawatir karena keadaan Chanyeol, atau khawatir jika kedua orang yang ia tinggalkan itu mencari tahu tentang Chanyeol setelah ini. Tentu, jika keduanya melakukannya maka Chanyeol akan dihadiahi dengan larangan untuk berada disekitar Baekhyun.

Atau lebih parahnya, Whirlwind akan mencari kelompok mafia milik Chanyeol.

Setelah menghubungi beberapa dokter kecuali Kasper, Baekhyun sampai diruangan hasil CT Scan. Lelaki itu mendecih kesal dan kembali khawatir ketika melihat daerah pendarahan milik Chanyeol sudah meluas dari yang Baekhyun pikirkan. Tangannya terkepal bingung, perasaan takutnya menguasai.

"Ada riwayat lain sebelum ini?" tanyanya pada salah satu dokter residen disana.

"Tidak ada"

Baekhyun menghela nafas lega mendengarnya. Jika sesuatu yang lebih parah terjadi, Baekhyun benar-benar tidak bisa mengatasi ini, walau seharusnya seseorang yang mengambil alih sebuah operasi seseoarang tidak boleh mengambil alih emosinya juga. Ia berusaha tenang sekarang.

"Siapkan ruang operasi sekarang, aku akan memimpinnya," kata Baekhyun memberi tahu, dokter residen itupun segara melakukan perintah Baekhyun yang menurut matanya terlihat pucat entah kenapa, sejak memasuki ruangan tersebut.

Setelah beberapa menit Baekhyun berusaha menenangkan dirinya dan memikirkan beberapa hal untuk nanti, akhirnya Baekhyun pergi ke ruangan operasi. Jnatungnya berpacu dengan cepat, namun ia berusaha setenang mungkin terutama ketika ia sudah melihat tubuh itu berbaring dan beberapa alat-alat penunjang selama operasi sudah dipasangkan pada Chanyeol.

"Aku sudah berkata bukan, ini adalah operasi craniotomy, aku harap kalian bisa berkerja sama denganku," segera setelah itu Baekhyun mulai duduk dan berusaha fokus pada tugas barunya. Menyelamatkan hidup Park Chanyeol. Banyak hembusan nafas yang berusaha menenangkan kondisi jantung Baekhyun, dan banyak orang yang masih menanti tangan handal itu untuk berkerja dengan cepat.

"Aku mohon berjuanglah bersamaku, Park Chanyeol. Kau pasti bisa melewati ini!" gumam Baekhyun dalam hati. Sebelum tangannya membuka kesamping.

"Sclapel!"


"Nayoung-ssi!" sebuah teriakan memberhentikan langkah dokter wanita itu. Nayoung menemukan Taecyeon tengah berjalan terburu-buru kearahnya dan sesekali melihat kesekitar bila ada orang yang mencurigai dan mengenalnya. Tapi siapapun tidak tahu tentang dirinya, pasti.

"Oh, Oppa? Ada apa kau datang kesini malam hari?" tanya Nayoung.

"Chanyeol kecelakaan dan ia tengah dioperasi sekarang," jawaban Taecyeon sukses membuat wanita itu melebarkan matanya terkejut. Bagaimana bisa seorang Bos Raven Fire yang kuat itu mengalami kecelakaan pikirnya. Belum ia mengatakan sesuatu Taecyeon mendahuluinya.

"Kita juga manusia sepertimu, jangan bayangkan kami sebagai kucing yang katanya memiliki nyawa sembilan itu hanya mitos, dan kami nyata!" katanya.

Nayoung merengut kesal, namun tetap khawatir tentang identitas lelaki itu yang pasti sekarang sudah tersebar oleh bagian administrasi. Bodoh, seharusnya kalau ada acara ke rumah sakit seperti ini Chanyeol harusnya memberi tahu dirinya, agar bisa menutup mulut orang-orang itu.

Menurut Taecyeon, Nayoung adalah wanita bodoh dan polos yang entah bagaimana bisa menjadi dokter hebat. Duh, apa mungkin karena lama berkerja di rumah sakit ini?

"Kau yang mengurusnya oke? Aku akan mengurus jaksa Kim bersama Taehyung."

"Tunggu!" interupsi Nayoung memberhentikan langkah Taecyeon sekarang. Wanita itu terlihat merengut kesal sekarang. Tangannya dimasukkan kedalam saku jas putihnya dan berjalan mendekati Taecyeon.

"Kau mau aku yang menjadi walinya? Bagaimana jika sesuatu terjadi padaku?" tanya Nayoung. Taecyeon mendecih kesal mendengar ucapan polos dan menyebalkan itu. Dengan kesal ia menyentil dahi wanita itu saking gemasnya.

"Kau itu sahabatnya dan tidak banyak orang yang tahu, jadi jangan khawatir dan cepat pergi!" teriak Taecyeon bagaikan auman singa yang marah, maka dari itu wanita bermarga Kim itu pergi secepatnya menghindari auman lain yang akan ia dapatkan jika ia tidak melaksanakannya.

"Permisi, aku dengar ada pasien baru bernama Park Chanyeol disini," katanya dengan hati-hati saat mengunjungi meja administrasi. Suster yang awalnya menunduk itu terkejut ketika melihat orang yang berbicara adalah seorang dokter. Namun Nayoung lebih cepat untuk memberi tanda diam pada suster itu.

"Aku adalah walinya, tapi aku mohon jangan bilang siapa-siapa, oke?" suster itu mengangguk lalu memberikan beberapa berkas yang harus Nayoung isi dan tanda tangan sebagai wali Park Chanyeol.

Setelah selesai dengan urusan administrasi Nayoung kembali dibuat penasaran dengan keadaan Chanyeol sekarang. "Tunggu, apa kau tahu siapa yang memimpin operasinya?" tanyanya. Sepertinya ia tidak membaca dengan benar-berkas-berkas yang ia tanda tangani itu.

"Uh, itu adalah Dokter Byun Baekhyun, operasinya mungkin akan selesai setengah jam lagi."

Nayoung menyunggingkan senyumnya tipis lalu beranjak dari sana. "Byun Baekhyun, huh? Ternyata mereka mendapatkan satu dokter yang sama. Apa ada kemungkinan Luhan juga sudah sadarkan diri? Aku sepertinya harus mengunjunginya."

Langkah kakinya kini menuju ruangan yang ia dapatkan dari seorang dokter residen dibagian saraf, sepertinya keberadaan Luhan disini memang cukup terkenal sejak ia adalah pasien VIP dan Byun Baekhyun membuatnya tersadar walau rumah sakit sebelumnya menyerah.

Diluar pintu, Nayoung melihat kedalam dari kaca yang ada dipintunya. Ia tidak begitu mengenal dan dekat dengan Luhan, jadi tidak ada yang harus dikhawatirkan kecuali jika lelaki cantik itu mengenali dan mengingatnya sebagai dokter pribadi mantan kekasihnya, Paek Chanyeol.

CKREK!

Luhan mengalihkan pandangannya ketika seorang wanita memasuki ruangannya. "Aku rasa baru sepuluh menit yang lalu seorang dokter residen masuk kesini, apa ada obat lagi yang harus anda suntikkan?" tanya Luhan begitu Nayoung mendekatinya.

Nayoung tiba-tiba berhenti ketika merasa Luhan tidak mengenalinya. "Kau tidak ingat siapa aku?" balasnya.

Luhan menggeleng. "Apa kau mengenalku?"

Nayoung berdeham keras ketika mendengar pertanyaan itu keluar. Berakting layaknya ia tidak menyukai keberadaan Luhan bukanlah hal yang bisa ia lakukan terlebih ia adalah dokter maka dari itu ia berusaha untuk jujur. Tidak, sedikit berbohong.

"Aku tidak terlalu mengenalmu jadi jangan berkata kepada orang lain, ada orang yang mengunjungimu. Aku hanya teman dari mantan kekasihmu," jawabnya. Luhan menghela nafas putus asa, lalu menunduk. Ia sudah lama menunggu seseorang datang selain para petugas rumah sakit.

"Boleh aku duduk?"

Luhan mengangguk sebagai jawabannya, dan melihat itu Nayoung pun duudk disamping tempat tidur Luhan. Pikiran wnaita itu tengah terbang entah kemana, intinya ia masih sangat terkejut dengan semua kebetulan yang terjadi. Chanyeol kecelakaan dan Luhan kehilangan ingatannya.

"Woah," lirih Nayoung tanpa sadar.

Luhan melirik sekilas. "Kenapa? Apa yang harus anda- wah -kan sekarang?" Nayoung tersenyum geli, tapi tetap meraih tangan Luhan dan menggenggamnya. "Dengar Luhan, aku tahu ini keterlaluan tapi kehilangan ingatanmu adalah hal yang bagus."

Lelaki cantik itu mengernyitkan dahinya bingung.

"Maksudku, karena aku juga tidak tahu tentang asal usulmu, jadi kita bisa mengulang semuanya dari awal. Namaku Kim Nayoung, dan kau Xi Luhan."

"Tapi menurutku kehilangan ingatan seperti sangat menyiksa, siapa nama mantan kekasihku? Bisakah aku bertemu dengannya? Ia pasti tahu siapa aku yang dulu bukan?" kata Luhan cepat menghasilkan keterkejutan pada Nayoung.

Diluar ekspektasi wanita itu, ia tidak bermaksud memancing keingin tahuan Luhan tentang hidupnya yang dulu, karena Nayoung juga sedikit tahu apa yang terjadi diantara Chanyeol dan Luhan saat itu. Tujuannya berkata seperti ini murni menginginkan Luhan tidak mencari masa lalunya, dan terus berfokus pada masa sekarang dan ia akan membantunya untuk melupakan Chanyeol. Itu saja.

"Dokter Kim," rengek Luhan karena tak mendapatkan jawabannya.

"Jika aku memberitahu siapa dan dimana ia sekarang apa yang akan kau lakukan?" tanya Nayoung.

"Aku akan memintanya kembali karena aku membutuhkannya."


"Irrigation!"

Tepat setelah itu darah yang Baekhyun tunggu-tunggu untuk dikeluarkan akhirnya menunjukan dirinya. Baekhyun menghela nafas lega. "Suction!" perintahnya, lalu asisten operasinya melakukan penghisapan pada darah itu.

"Anda benar-benar cepat, Dokter Byun!" pujinya. Baekhyun tersenyum tipis. Dalam hatinya ia bergumam bahagia, karena Chanyeol bisa bertahan sejauh ini. Kemudian lelaki cantik itu melanjutkan tugasnya untuk menutup bekas operasinya.

Jangan tanyakan tentang keahliannya, jika latar belakang lelaki cantik ini dulunya dihabiskan untuk pekerjaan mulia seperti ini. Setelah berhasil menutup lukanya, Baekhyun benar-benar bisa bernafas lega. Ia menanyakan apakah kondisi vital Chanyeol normal atau tidak, dan hal yang lebih segar dari angin segar adalah keadaan Chanyeol selama operasi yang normal.

"Kau benar-benar kuat Bos," lirihnya sebelum meninggalkan ruangan itu setelah memberikan pujian apresiasi pada asisten operasinya.

Baekhyun merenggangkan tubuhnya setelah ia membersihkan diri. Berkutat dengan operasi yang cukup memakan energi dan waktunya membuat badannya terasa pegal. Ia memutuska untuk pergi ke ruangan Sehun dan akan beristirahat sejenak disana, lagipula ini sudah larut malam untuk beristirahat.

Namun matanya terbuka ketika mengingat ia meninggalkan Kasper di ruang UGD. Dengan cepat ia menghubungi handphone Kasper yang pasti selalu dibawa oleh lelaki itu. Sambil berjalan menuju runagan Sehun, ia menunggu jawaban dari Kasper.

"halo?"

"Hyung! Kau masih disana? Aku sudah selesai dengan operasiku, jika kau ingin bertemu aku ada diruangan Sehun."

"Baiklah aku akan kesana."

Beep!

Baekhyun mengernyit awalnya ketika Kasper menjawab panggilannya dengan suara super dingin, namun ia tidak peduli. Terkadang itu hanya akting belaka, dan lelaki tinggi itu akan bersikap kekanakan lagi setelahnya.

Ketika memasuki ruangan super sepi itu, Baekhyun langsung duduk disamping bangsal Sehun dan menggengam tangan yang dingin itu. Mulai ercerita tentang kejadian sebelumnya, namun tertata rapih dengan tidak menyebutkan bagaiana ia berharap Chanyeol bisa bertahan selama operasi berlangsung.

"Hun-a, aku benar-benar tidak sabar melihat kau membuka matamu," hal yang Baekhyun ucapkan itu sebagai penolakkan atas perasaan anehnya terhadap Chanyeol.

"Selamat malam, Oh Sehun."

Baekhyun beranjak dari sana dan mulai berbaring untuk istirahat disebuah sofa disana. Melepaskan rasa lelahnya seharian ini, dan merelakan kesadaranya untuk hilang sementara sampai nanti Kasper akan membangunkannya, jika lelaki itu ingin. Tapi ia rasa, Kasper mana mungkin akan berani membangunkan princess-nya, betul?

Baekhyun tersenyum tipis.


Prediksi Baekhyun awalnya Chanyeol akan membuka matanya setelah tiga atau empat hari pasca operasi itu, tetapi tidak. Sepertinya, Chanyeol masih membutuhkan waktu istirahat lama untuk tubuhnya.

Ini adalah hari ketujuh, dan Baekhyun mulai khawatir dengan keadaan lelaki itu. Tanpa sepengetahuan Changwook dan Kasper ia mulai sering mengunjungi ruang ICU untuk memeriksa keadaan lelaki tinggi itu.

"Chanyeol-ssi, kau sudah bertahan selama operasi sekarang saatnya bangun masih banyak orang yang menginginkanmu," gumamnya ketika melihat tubuh Chanyeol masih saja tak sadarkan diri.

Maksudnya adalah anak buah Chanyeol bukan dirinya, sungguh! Tapi kemudian ia menghela nafas. "Kau tahu, aku sudah menyisihkan waktuku untuk bertemu dan menemanimu sejak tidak ada satu dari anak buah mu yang datang kesini, aku datang sebagai doktermu jadi cepat sembuh," ucapnya sambuk mengusap perban yang melilit dikepala lelaki tampan itu.

Baekhyun akui, ia selalu kalah dalam ketampanan versi lelaki sesungguhnya.

"Cepat buka matamu, Park," lirih Baekhyun sebelum akhirnya beranjak dari duduknya dan hendak pergi meninggalkan ruangan itu. Tugasnya sudah selesai, baik sebagai dokter Chanyeol, dan sebagai... kenalannya.

Namun langkahnya berhenti ketika sebuah tangan menahannya. Baekhyun membalikkan tubuhnya dan terkejut ketika melihat Chanyeol sudah mulai membuka matanya. Bahagia, ini adalah kedua kalinya ia menemukan pasiennya membuka matanya didepan mata. Baekhyun segera memeriksa Chanyeol yang masih mengumpulkan kesadarannya.

"Syukurlah kau sadar, apa kau membutuhkan sesuatu?" tanya Baekhyun. Lelaki itu menggeleng lemah dan dengan suara paraunya berata seperti berbisik. "Air," katanya. Baekhyun segera membantu Chanyeol untuk meminum airnya sedikit demi sedikit. Setelah itu membantunya kembali beristirahat.

"Apa ada keluhan lain?"

Chanyeol menggeleng namun tak melepaskan pegangannya.

"Terima kasih dokter Byun, karena telah menyelamatkanku," katanya sangat lemah. Baekhyun tersenyum tipis, kemudian membenarkan letak selimut yang Chanyeol pakai. Sebelum matanya menatap manik hitam kelam milik Chanyeol.

"Terima kasih juga telah bertahan dan berjuang selama ini, Park Chanyeol-ssi."

Tangan mereka masih menggenggam erat satu sama lain tanpa mereka sadari, dan ukuran tangan Baekhyun juga yang pas dalam genggaman itu membuat Baekhyun merasa nyaman. Rasanya sudah lama sejak seseorang menggenggam tangannya seperti ini.

Begitu pula dengan rasa nyaman dan tenangnya Chanyeol ketika menemukan bayangan Baekhyun ketika ia membuka matanya pertama kali. Ia merasa sangat senang kali ini karena Baekhyun kembali menolongnya. Tapi ketika ia melihat raut canggung itu keluar dari wajah cantik Baekhyun, Chanyeol sedikit mengerti ia melewati batasnya.

"ekhem," dehaman Baekhyun.

"Cepat sembuh, Chanyeol."

Dengan itu Chanyeol melihat Baekhyun pergi dari ruangannya, meninggalkan kesan kesepian yang amat mendalam. Ketika ia melihat kearah jendela lebar yang berada disamping kanannya, ia teringat akan nasib Raven Fire selama ia pergi. Sialnya adalah keadaanya yang tidak mungkin bisa kembali. Tapi ia harus membalas si Kim bangsat itu! HARUS!.

.

.

.

TBC

dengan tidak elit.

Absen yok! Chanyeol ada Baekhyun ada, Kasper ada, Taecyeon ada, Jaksa Kim ada, Changwook ada, Nayoung ada, yang ga ada siapa yah?/

Btw, alasan kenapa lama itu pas bagian Chanyeol dioperasi empeb butuh banyak referensi, dan kalau ada yang btuh penjelasan atau pengen diceritain gimana Baekhyun operasi tinggal di Chap depan yah..

Mau lanjut? Review yang banyak atuh yah..