ONCE AGAIN!
Please still stay stay stay with me.
Baekhyun diam membelakangi pintu ruangan ICU, gemuruh didadanya belum hilang sedikitpun membuatnya sedikit bingung dan cemas akan hal itu. Ia tidak mungkin berpindah kelain hati bukan? Chanyeol adalah Chanyeol, dan Sehun adalah belahan jiwanya.
Mungkin jika Baekhyun berpikir ia hanyalah dokter, tapi kenangan mereka yang sudah melakukan ciuman sebanyak dua kali membuat Baekhyun berpikir kembali. Ada apa dengannya, bahkan semiggu ini Baekhyun habiskan beberapa waktu berharganya hanya untuk memeriksa pasien spesialnya itu.
Lelaki manis itu mengacak rambut kelam hitamnya sekarang dengan frustasi mengundang tatapan bingung beberapa orang yang melihatnya dari kejauhan. "Sial," desisnya.
Kepalanya melirik sekilas ke arah belakang sebelum tubuhnya jatuh kebawah dan berjongkok frustasi didepan pintu ICU. Baekhyun menghela nafas panjangnya. "Sehun, bagaimana ini? Aku masih mencintaimu, jangan biarkan lelaki itu merebut diriku dari sisimu," lirihnya dalam tundukan kepalanya.
Derap langkah terdengar dari kejauhan, semakin dekat dengan Baekhyun semakin terdengar suara itu oleh pendengaran Baekhyun. "Dokter Byun?" Baekhyun mengangkat wajahnya dan menemukan dokter residen kebanggaannya alias Taeyong tengah mengulurkan tangannya dengan tatapan bingung.
Baekhyun tersenyum dan menerima uluran tangan itu untuk berdiri. "Sedang apa anda disini?" tanyanya. Baekhyun tersenyum lirih. "Hanya kelelahan, apa sekarang jadwal pemeriksaan Park Seojoon?"
Taeyong tersenyum tipis. "Ya, awalnya saya ingin pergi lebih dulu dan akan memberitahukan anda tentang keadaan Park Seojoon tetapi melihat anda berada disini, saya pikir lebih baik anda yang memeriksanya," jawabnya.
"Kau tahu sendiri, bayaranku mahal untuk setiap pemeriksaan, Taeyong-ssi," gurau Baekhyun.
Chanyeol mengerang kesal karena kebosanannya setelah satu jam ia tersadar. Tangannya yang tidak diinfus memegang kepalanya yang sudah terbalut perban hasil operasi yang dilakukan oleh Baekhyun satu minggu yang lalu katanya. Dan ia pikir ini benar benar buruk jika rambutnya dicukur habis saat itu.
Tidak terbayang jika ia harus menunjukan ini dihadapan Taehyung atau Taecyeon, ah bedebah itu pasti akan menertawakannya. Sial, sangat sial pikirnya. Jaksa Kim harus membayar ini semua, kecelakaannya, operasinya, dan rambutnya yang berharga. Ah, jangan lupa nyawanya yang hampir hilang.
Ia sangat berterima kasih Tuhan masih menyayanginya walau ia sudah lama tak pergi untuk beribadah, atau karena ia sudah terlalu banyak membuat kejahatan. Baekhyun juga, lelaki baik itu telah menolongnya.
Sebuah senyum terulas diwajahnya yang tampan itu. "Kini aku mengerti, aku tidak berharap lebih tapi inilah yang disebut dengan takdir. Baekhyun bukan hanya sekedar sesuatu yang terulang dan harus aku hindari, tapi ia juga sesuatu yang berharga bagiku mulai sekarang," ucap Chanyeol.
Kehidupan mereka berdua memang masih misterius satu sama lain, tapi Chanyeol yakin pada akhirnya mereka akan bersama. Mulai saat ini, Chanyeol akan mulai melupakan Luhan dan masa lalunya. Mencoba memulai hidup barunya. Tentu setelah semua urusan gelapnya itu selesai, tapi dirinya tidak yakin karena pekerjaan gelap itu sudah mendarah daging baginya.
SRET!
Perhatiannya teralih ketika seorang dokter mendekati bangsalnya. Seorang dokter yang ia sudah kenal lama. "Nayoung? Kupikir kau melupakanku," gurau Chanyeol. Merasa hidup ketika kebosanan dan khayalannya terlalu tinggi. Dokter wanita itu membuat gestur untuk diam.
"Bagaimana bisa aku melupakan boss mafia yang tiba-tiba terluka dan datang ketempat yang ia benci dan menginap beberapa hari disini. Astaga-..," cibirnya tanpa ragu didepan Chanyeol. Sedangkan lelaki itu malah tersenyum meremehkan ucapannya.
"Ah, ya.. boss mafia ini lupa bahwa dokter dengan martabat tinggi sepertimu akan berada dalam bahaya jika publik tahu ia berkerja bagi boss mafia sepertiku," balasan Chanyeol sukses membuat Nayoung kesal dan hampir memukulnya. Tapi tidak jadi tentunya, mana mungkin ia berani.
Chanyeol tertawa kecil sebelum mengeluh sakit dikepalanya terasa. "Itu biasanya, efek bius nya baru terasa sekarang sepertinya? Baguslah, semoga Dokter Byunbaek tidak menyelamatkanmu lain kali."
Chanyeol mengernyit. "Bagaimana kau tahu, bahwa Byun Baekhyun yang menyelamatkanku?" ia mengerti tentang mereka sama-sama dokter dan karena itu tertulis di bangsalnya siapa dokter yang menanganinya. Tapi tentang menolongnya?
"Itu menjadi trending topic beberapa hari sebelumnya, tepatnya setelah kau datang ke rumah sakit ini. Dokter Byun mengambil tindakan cepat untuk menolongmu dan hampir membuat petugas di Gawat Darurat diskorsing karena saat itu dokter yang berjaga malah pergi. Apalagi kalau bukan menolongmu dalam hal lain?-..,"
"-..., bahkan aku dengar ia hampir bertengkar dengan Dokter Kim karena mengambil tindakan cepat yang kau tahu, jika seseorang sangat khawatir dengan orang yang ia mereka sayangi, mereka tidak bisa menyembunyikan ekspresinya walau dalam tatapan matanya," lanjut Nayoung.
Chanyeol kembali menyadari bahwa takdirnya memang sudah mulai berjalan bersamaan dengan Baekhyun. Tapi, ada apa dengan lelaki-lelaki yang berada disekitar lelaki manis itu? Apa salah satu dari mereka adalah kekasihnya? Atau semua orang itu adalah memang pengawalnya?
Ah, ini membuatnya semakin kesal.
"Ah, benarkah? Kalau begitu kau bisa meninggalkanku sekarang Nayoung-ssi."
Nayoung membulatkan matanya ketika mendengar usiran tersebut. "Baiklah, ah tapi ada satu hal yang harus kau tahu, Boss..- Luhan... ia tengah berusaha untuk mengembalikan ingatannya, dan ia adalah pasien dibawah dokter yang sama denganmu."
Chanyeol membeku, tepatnya tak pernah mengira bahwa takdir benar-benar mempermainkannya begitu menarik.
"Kalau begitu aku akan pergi," pamit Nayoung.
Chanyeol tersenyum miring tak habis pikir, tatapannya menajam seiringg berpudarnya senyuman itu. Tanda bahwa perjalanan hidupnya kali benar-benar takkan semudah sebelumnya. Sehingga ia harus berusaha untuk mendapatkan apa yang ia inginkan kali ini.
Sepertinya, banyak wishlist yang kau dapatkan tuan Park?
Baekhyun mendekati bangsal Park Seojoon, lelaki yang anehnya masih tak sadarkan diri walau Baekhyun sudah merasa bahwa penanganan yang ia berikan sudah benar. Tatapannya teralih pada stampel kecil yang berada didekat tubuh Seojoon. Jari lentiknya mengambil benda itu.
"Kenapa benda ini masih berada disekitar pasien?" tanyanya pada Taeyong.
Lelaki yang lebih muda dari Baekhyun itu terkejut, namun tak bisa menjawab apa-apa. "Ah,.. I-tu... itu.. sepertinya..," "-... Sudahlah, sekarang coba kau periksa keadaan pasien sebagai gantinya," kata Baekhyun.
Tolong jangan tiru kelakuan Dokter Byun yang buruk ini. Karena sesungguhnya Baekhyun hanya ingin pekerjaannya lebih cepat selesai, dan kembali ke ruangan Sehun untuk beristirahat.
Terlihat Taeyong dengan cepat menuruti perintah Baekhyun, dan beberapa saat setelahnya lelaki itu terlihat sedikit gugup saat hendak memberi tahu hasil pemeriksaannya. Baekhyun yang menyadari hal itu akhirnya memulai percakapan. "Apa hasilnya?" diam, Taeyong masih belum bisa menjawabnya.
"Dokter Kim Taeyong, apa harus aku mengulang pemeriksaan dan memberi teguran padamu?" ancaman Baekhyun sukses membuat Taeyong membuka suaranya. "Maaf, Dok. Ini karena saya terlalu gugup untuk menyimpulkan," jawabnya.
Baekhyun kemudian tersenyum tipis dan menepuk pundak yang lebih muda. "Dengar Tae, kau tak perlu takut untuk menyimpulkan. Aku ada disini, jadi hanya beritahu pendapatmu. Toh, aku akan memeriksanya kembali, ini hanya untuk mengujimu."
Baekhyun bisa mendengar lelaki yang ia pikir cocok untuk dijadikan adiknya itu menghela nafasnya lega, seperti berhasil lolos terkena amukan sang kakak. "Jadi apa?" tanya Baekhyun kembali.
"Saya pikir ada yang salah, semenjak.. semenjak respon motoriknya malah semakin melemah sejak terakhir saya memeriksanya," kata Taeyong. Baekhyun mengernyit, namun kemudian dokter lelaki itu mengeluarkan senter kecil dan stetoskop dari sakunya, mengulang pemeriksaan yang dilakukan oleh Taeyong.
Setelah itu raut wajah dokter muda itu berubah menjadi serius. "Aku ingin melihat catatan sebelumnya," katanya pada Taeyong.
Kerutan didahi itu kembali terlihat jelas setelah membaca catatan hasil pemeriksaan sebelumnya. Baekhyun yakin ada yang salah dengan Park Seojoon, tapi apa yang sebenarnya terjadi. Matanya terus membaca hasil pemeriksaan dan penanganannya. Matanya bergerak cepat dan teliti.
"Kau benar, responnya mulai melemah. Jika terus seperti ini, ia bisa mengalami kematian otak."
Baekhyun menghela nafasnya berat. Apapun yang terjadi pada Park Seojoon kali ini tidak menguntungkan, maka dari itu Baekhyun mengeluh. Ia harus meneliti keadaan ini dengan cepat sebelum media tahu apa yang terjadi. Matanya kembali bergerak cepat untuk menemukan titik yang salah dari penanganan yang ia berikan.
"Semua penaganan yang kita berikan sudah benar, tapi kenapa ini bisa terjadi? Taeyong-ah, tolong ambil sampel darahnya dan berikan pada petugas laboratorium untuk segera memeriksanya," kata Baekhyun. Taeyong mengangguk kemudian mengeluarkan alat-alat yang diperlukan.
Tatapan Baekhyun jatuh pada stempel yang ia temukan masih berada disekitar Seojoon itu artinya memang tidak ada orang yang masuk kecuali Taeyong selama ini. Tapi kenapa bisa keadaan Seojoon semakin melemah? Baekhyun merasa seseorang sudah memberi racun pada lelaki itu.
Setelah selesai dengan pemeriksaan pada Park Seojoon, Baekhyun kemudian pamit dan akan segera menemui Sehun sebelum akhirnya langkahnya terhalang oleh barisan para professor rumah sakit yang sudah menganggap Baekhyun sebagai tuan muda mereka. Setidaknya untuk mencari muka mereka saat berhadapan dengan Kakek Byun, sang pemilik rumah sakit.
"Selamat siang Dokter Byun, saya diminta untuk membawa anda kehadapan Presdir sekarang juga."
"Tch!"
Baekhyun menolehkan pandangannya kepada para pria berumur dan beruban itu dengan tatapan dingin, kali terakhir ia dipanggil oleh lelaki yang ia panggil Kakek itu adalah saat Sehun terbaring di rumah sakit itu dan memintannya untuk tak mempedulikan kekasihnya. Baekhyun kecewa.
Sampai saat ini.
"Katakan padanya bahwa tuan mudanya sedang tidak bisa diganggu."
Baekhyun hendak melangkahkan kakinya ketika ucapan dokter yang paling depan mengusiknya. Siapapun akan terganggu jika seseorang mencampuri urusannya, bahkan jika itu adalah keluarga sendiri. "Beliau meminta anda untuk berhenti bertugas diruang gawat darurat dan kembali bertugas di bagian VIP, terlebih setelah apa yang terjadi seminggu yang lalu anda membuat sedikit keributan karena seorang pasien yang masih belum diketahui sanak keluarganya."
Baekhyun mendesah terkejut, menolong seseorang yang mebutuhkan dengan cepata dan tepat adalah sebuah kesalahan? Ada apa dengan kakeknya? Bukankah ia yang seharusnya trauma dengan kejadian itu? Ia hampir kehilangan kekasihnya di unit gawat darurat saat itu kalau seandainya Kasper tidak memberi tahu bahwa unit gawat darurat sedang sibuk.
"Jika aku memang salah untuk berada di unit gawat darurat hanya karena kekhawatiranku akan adanya seseorang yang akan bernasib sama seperti Sehun, maka silahkan bawa aku ke pertemuan rumah sakit. Jika tidak, tolong beritahu Predisr Byun bahwa tuan mudanya takkan pernah mengulangi kesalahan yang sama, permisi."
Baekhyun melangkah pergi meninggalkan para dokter tua itu kebingungan. Bukan masalahnya jika ia menolak keinginan kakeknya, bukan masalahnya jika yang paling depan tadi akan diberi beberapa semprotan karena kakeknya begitu- bisa dikatakan- posesif pada cucunya ini. Semuanya terjadi sangat cepat merubah perasaan itu. Karena sebuah kekecewaan yang mendalam ia menjaga jarak dengan kakeknya.
Egois mungkin tapi Sehun sama berartinya.
CKLEK!
Baekhyun membuka ruangan rawat Sehun yang sudah dibersihkan, dan menatap kembali sosok yang ia rindukan ia menyerah?... Tidak, belum saatnya. Baekhyun menggeleng dan memasang senyum terbaiknya untuk bertemu sang kekasih seakan akan sang kekasih memang tengah menunggunya selama ini. Menunggu apa?
"Sehun-ah, seandainya kau bisa mendengarku... aku tengah iri kepada dua orang, mereka adalah pasienku, dan mereka bangun dari koma-nya ditanganku, tetapi kenapa kau masih belum bangun juga sayang? Heum?"
Baekhyun menghela nafasnya sambil mengusap tangan lemas kekasihnya dan kembali menceritakan kisahnya, berharap memang selama ini Sehun mendengarnya.
"Kakek memintaku untuk kembali ke bagian VIP, aku tidak tahu apa yang dipikirannya dan aku tak ingin menerima ajakannya lagi jika semua itu hanya membuat kita terpisah, jadi cepatlah bagun Sehun... lindungi aku lagi dan saudara baruku namanya Luhan, ia menjadi saudaraku mulai sekarang."
Mungkin Baekhyun merasa tengah berbicara sendiri, tetapi sesungguhnya Changwook mendengarkan semua perkataan Baekhyun dari awal sampai akhir dibalik pintu kamar mandi ruang rawat boss–nya. Tatapannya menajam ketika Baekhyun menyebutkan nama saudara barunya, namun hanya sekilas sebelum ia kembali menajamkan pendengarannya pada ucapan Baekhyun selanjutnya.
Lancang memang, tapi jika itu menggangu keadaan kedua bos nya serta ingin menunjukan loyalitas tingginya, ia bahkan bisa langsung mendatangi orang yang bersangkutan terhadap keadaan bosnya.
Baekhyun terdiam menatap tangannya dan milik Sehun, secepat kilat perasaan bersalah tiba-tiba muncul dalam hatinya. Ia tidak bermaksud mengkhianati Sehun, tapi seorang manusia memiliki batasan – batasan tertuntu dalam hidupnya, dan disinilah Baekhyun merasa batasan menunggu dan cintanya pada Sehun mulai mengurang akibat kedatangan lelaki tinggi bernama Chanyeol.
"Hun-ah, aku tahu ini salah tetapi harus ku akui bahwa ada seseorang yang mengalihkan pikiranku akhir-akhir ini, seseorang yang entah kenapa selalu membuatku hidup sama seperti yang kau lakukan dulu... Aku tidak bermaksud untuk mengkhiantimu, tetapi aku terus merasakan perasaan itu dan aku takut..."
Baekhyun melepaskan pegangannya karena otaknya sudah lelah dan meminta untuk beristirahat, ia segera membaringkan tubuhnya di sofa ruang rawat itu dan berusaha melupakan racauan yang ia harap terkadang Sehun tak pernah mendengarnya. Ia terlelap begitu cepat terlihat dari nafasnya yang teratur.
Cklek!
Pintu kamar mandi ruangan itu terbuka menampilkan seorang lelaki dengan tampilan khasnya,ia sudah berada disana dan mendengar semua perkataan kekasih dari bos nya tersebut yang kini sudah terlelap. Changwook mengedarkan pandangannya pada keadaan bosnya yang masih setia terlelap, kemudian pada kekasih bos-nya. Sebagai seseorang yang sangat menghormati Sehun lebih dari siapapun wajar jika ia merasa tidak suka dengan apa saja yang akan terjadi jika itu membuat Sehun menderita nantinya.
"Sehun-ah, maafkan aku untuk apa yang akan kulakukan setelah ini karena aku tidak ingin kehidupanmu dengan Baekhyun terancam karena kehadirannya lagi... lelaki itu diselamatkan oleh Baekhyun, tapi kini aku harus melenyapkannya dengan tanganku, mianhae..."
Setelah berkata seperti itu kepada bosnya Changwook meninggalkan ruangan tersebut dan memulai misinya untuk menyelamatkan bosnya. Ia tidak ingin kesalahan dimasa lalu terulang kembali hanya karena kesalahnnya tidak bisa menghentikan sang bos untuk mengambil tindakan tidak masuk akal yang menyebabkan dirinya terbaring seperti saat ini.
Mencari keadaan sebuah nama yang ia anggap sudah menghilang dari muka bumi ini.
Disisi lain dua orang pria tengah berusaha untuk memasuki suatu mansion megah. Mereka bukan hanya bermaksud untuk mendapatkan informasi, mereka ingin sang ketua dan pemilik mansion megah ini dapat merasakan akibatnya. Bisa menebaknya? Seorang penembak jitu dan ahli strategi serta mengemudi berada ditempat yang sama. Orang yang sama yang sempat menuruti pemilik mansion ini.
Taehyung memberi tanda untuk masuk lebih dulu kepada Taecyeon. Iya mereka berdua. Mereka tidak pergi sesuai dengan permintaan bos mereka, tetapi lebih memilih untuk membalaskan dendam mereka secara langsung.
Dari kejauhan terdengar secara samar, namun semakin dekat mereka dapat mendengarkannya suara tertawa hebat yang menjijikan untuk didengar. Rasanya hanya ingin membunuh pemilik suara itu dengan kedua tangan mereka.
"HAHAHAHA! Benarkah? Benarkah ketua Raven Fire itu kini tidak berdaya? Astaga ia memang bodoh! Park Chanyeol memang bodoh!"
Baik Taehyun maupun Taecyeon mengeratkan kepalan tangan mereka mendengarkan ucapan lelaki tua bangka itu dari kejauhan. Memang minta dihabisi, menurutnya. Kemudian Taehyung memberikan aba-aba untuk menunggu konfirmasi dari alat yang ia buat untuk melacak keadaan sekitar menggunakan robot lalat kecil.
Mata sipitnya membuka ketika melihat ada sosok lain yang tengah berada bersama Jaksa Kim.
"Anda tahu bahwa Raven Fire hanya sekumpulan orang bodoh yang memakai baju hitam untuk anak kecil, mungkin seperti keponakanku yang masih berumur lima tahun dan mudah dibohongi. Tetapi kami tidak, kami bisa membuat anda mendapatkan stampel itu dengan mudah, sekaligus melenyapkan Park Seojoon dari dunia ini."
Suara wanita terdengar jelas dari dimana mereka menguping. Suara yang tidak asing bagi mereka karena selalu berurusan dengannya. Dengan kata lain, hubungan mereka penuh dengan persaingan. Dunia Mafia itu bebas, bisa mengandalkan segala cara hanya untuk mendapatkan keinginannya.
Kemudian terdengar suara tawa yang membahana dari seorang lelaki tua, berasa dunia milik sendiri,huh?
"Benarkah itu? Lalu, apa yang kau inginkan? Apa yang grim reaper ini inginkan dari seorang jaksa sepertiku?" tanya Jaksa Kim, Taehyun dan Taecyeon menajamkan pendengaran mereka untuk mengetahui kesepakatan antara kedua orang yang mereka benci seumur hidup mereka.
"Tangkap Raven Fire, dan biarkan kami bebas."
Kedua kaki tangan Chanyeol itu terkejut bukan main, karena perintaan wanita yang mereka anggap sebagai musuh mereka. Pengkhianatan atas jaksa Kim? Akan segera dimulai pembalasan dendamnya. Oleh tangan mereka sendiri, setelah ini Taecyeon dan Taehyun bersumpah akan membunuh lelaki tua dan wanita licik itu dengan kedua tangannya sendiri.
"HEI! SIAPA KALIAN?!"
Sialan, rutuk Taehyun. Persembunyian mereka telah diketahui oleh seorang penjaga yang sepertinya baru saja datang, dan tidak sempat ditangani oleh mereka berdua.
Teriakan itu mengalihkan atensi kedua orang yang tengan melakukan kesepakatan. Bahkan sang wanita licik itu telah mengambil senjatanya dan mengarahkannya ke tempat persembunyian Taehyun dan Taecyeon.
Taehyung menangguk memberi tanda bahwa ia akan melakukan siasat lainnya yang telah disiapkan sekarang untuk menyerang Jaksa Kim. Kedua pria yang tingginya hampir sama itupun keluar dari persembunyiannya dengan mengangkat kedua tangan mereka, karena penjaga tadi langsung mengarahkan senjatanya.
Wanita yang sedari tadi mereka awasi tersenyum mengejek kemudian menurunkan senjatanya. "Wah, dua kaki tangan sang bos Raven Fire berada disini dan menguntit pembicaraan kami, bukankah itu merusak harga diri mereka?" cibirnya.
Jaksa Kim terdiam ia memang mengetahui bahwa Chanyeol dalam masa kritis akibat kecelakaan yang ia perbuat, tapi ia sendiri tidak percaya bahwa dua kaki tangan sang bos Raven Fire itu berani mendatanginya serta menemukannya tengah membuat rencana dengan kelompok mafia lain.
"Terkejut karena ketahuan berkhianat dari kami, jaksa Kim?" ujar Taehyung menyulut emosi.
"Kalian mendengarnya,kan? Bukankah lebih baik jika sekarang kita memulai kesepakatannya, jaksa Kim? Aku akan menyuruh anak buah ku untuk membunuh Park Seojoon dan sebagai awalannya, kau bisa menangkap serta menghabisi kedua orang penting di Raven Fire ini."
Taehyung tak bisa mengontrol emosinya segera mengeluarkan senjata api dari jaket hitamnya tersebut. "Diam kau jalang!"
DOR!
"Krystal!" seru jaksa Kim menolong wanita licik yang terluka dibagian bahunya.
Dan seperti yang telah diduga ssebelumnya, semua anak buah milik wanita itu segera mengerumuni tempat kejadian dan mengarahkan senjata mereka kepada kedua orang yang memasang tampang mengejek kepada ketua mereka. Taehyung bahkan tertawa keras setelah melihat semua orang yang berjumlah tiga kali lipat dari keduanya berada untuk membununhnya hari ini.
"Hahaha! Sepertinya semua perempuan didunia ini sama? Mereka hanya mengandalkan mulut mereka untuk menggoda dan merayu siapapun, tetapi lihat kemampuannya, bahkan butuh waktu lama untuk mengeluarkan pistol ini, tetapi kau tetap terluka!" cibir Taehyung.
"Bagaimana kalau hari ini, bukan kami yang terbunuh tetapi kalian semua?" sulut Taecyeon.
Terlihat bahwa wanita licik itu menggeram marah, tatapannya sudah mengartikan kekesalan yang memuncak, tetapi karena bahunya terluka mahakarya dari seorang kaki tangan Raven Fire, ia tidak berdaya.
"SIALAN! BUNUH MEREKA SEKARANG JUGA!" teriak Krystal frustasi.
Semua anak buah milik wanita licik segera mengeluarkan senjata api mereka, sedangkan jaksa Kim tengah menolong dengan sekuat tenaga untuk pergi bersama bos mafia yang ia tawari pekerjaan. Pengecut.
Taehyung dan Taecyeon segera mencari tempat aman untuk berlindung dari serangan tiba-tiba tersebut, Taecyeon segera mengeluarkan senjata api andalannya dan menembaki orang-orang yang ternyata terus bertambah, beberapa kali ia hampir tertembak jika bukan karena tempat bersembunyinya yang terlalu kecil.
DOR! DOR! DOR!
"Taehyung!" Teriakan Taecyeon mungkin tidak akan terdengar karena suaranya tenggalam bersama suara tembakan-tembakan tersebut. Tetapi melihat keadan Taehyung yang membahayakan tidak ayal jika lelaki berwajah tampan itu mengakhwatirkan keadaan lelaki yang lebih muda darinya itu.
Taehyung tengah membombardir ruangan itu dengan kedua senjata apinya, tangannya sudah terlatih untuk menggunakan kedua senjata api laras pendek secara bersamaan. Matanya sempat menemukan Taecyeon yang tengah mengkhawatirkannya tetapi tekadnya bulat untuk membalaskan dendamnya atas nama Raven Fire.
"Hyung, kita bisa menggunakan kesempatan ini untuk pergi, ayo!"
Taecyeon mengangguk kemudian mengarahkan senjatanya keatas untuk kembali menyerang musuhnya yang semakin lama ternyata berjatuhan akibat serangan yang Taehyung berikan. Keduanya segera berjalan perlahan dan tetap sambil menyerang musuh mereka, untuk keluar dari mansion tersebut.
Tanpa belas kasihan Taehyung dan Taecyeon menembaki siapapun yang mereka temui. Mereka terlalu dibutakan untuk menyelamatkan diri dan balas dendam sebelum akhirnya mereka berhasil keluar drai mansion itu dan pergi menggunakan mobilnya.
"Kau gila? Kita hampir mati disana!" seru Taecyeon didalam mobil yang ia bawa dengan kecepatan tinggi.
Taehyung membenarkan sabuk pengamannya. "Kita gila, bukan hanya aku saja yang gila, lagipula lihat! Kita baik-baik saja! Apa kau sebegitu terkejutnya sampai kau banyak berbicara seperti ini,hyung?" cibir Taehyung.
Ttak!
"Iya! Aku kahwatir! Jika kau mati disana, tidak, tepatnya kita yang mati disana, siapan yang akan membalakan dendam Raven Fire pada lelaki tua bangka itu?! Tidak-kah kau berfikir untuk kedepannya?! Aish, aku benar-benar akan gila oleh mereka!"
Taehyun tertawa melihat Taecyeon yang uring-uringan seperti itu, karena jarang melihatnya mengkhawatirkan sesuatu dan ekspresif dengan sesuatu. Diantara keheningan mereka selanjutnya, Taecyeon memecahkannya dengan ucapan yang sama sekali memancing emosi Taehyung seperti biasanya.
"Aku pikir kita harus menjaga Park Seojoon sekarang? Dia kunci dari kehidupan kita."
Taehyung membulatkan matanya. Ia sama sekali tidak setuju dengan usulan itu. Menjaga seseorang yang seharusnya sudah terbunuh sejak lama? Lebih baik jika ia menjadi malaikat pencabut nyawa bagi Park Seojoon sekarang sesuai keinginan jaka Kim bajingan itu.
"Kau gila, hyung? Park Seojoon tau bahwa kita adalah orang dibelakangnya saat itu!" seru Taehyung.
Taecyeon mengerang frustasi dikemudinya. "Tidak ada jalan lain! Kita bisa membuat kesepakatan dengan ayahnya atau bahkan dengan pengawal pribadinya bahwa si bajingan Kim itu menginginkan stampel yang ia miliki!" ujar Taecyeon, ia merasa sudah tidak ada pilihan lain untuk membuka kartu jaksa Kim dengan waktu yang singkat.
Tetapi disisi lain juga Taehyung tidak bisa memberi usulan lain karena dipikirannya jika ia membunuh Park Seojoon maka jaksa Kim akan tertawa karena mereka masuk kedalam jebakan yang sepertinya tengah dibuat oleh pengawal anak presiden itu, jika ia membunuh si bajingan Kim lebih dahulu, maka Krystal yang sudah sepakat untuk memback up jaksa Kim akan kembali menyerangnya bahkan sebelum ia membunuh jaksa Kim.
"Apa kau pikir Chanyeol akan setuju dengan ini? Mengetahui bahwa kita masih berada disini, dan tidak pergi ke Beijing pun akan membuatnya marah!" seru Taehyung. Tetapi tatapan Taecyeon menyiratkan hal pasti. "Aku yang akan menemuinya malam ini."
Changwook memperhatikan sekitarnya dengan mata elang yang ia miliki, setelah yakin dengan situuasinya lelaki berwajah dingin itu kemudian menyuruh salah satu anak buahnya untuk mendekat dan berkata sesuatu. "Beritahu aku jika Baekhyun keluar dari kamar ini, dan ikuti dia. Aku akan pergi ke suatu tempat," katanya yang langsung diangguki oleh orang tersebut.
Kaki panjangnya kemudian keluar dari ruangan khusus milik bosnya tersebut, ia berencana untuk menemui seseorang sekarang. Setelah berjalan beberapa menit akhirnya ia sampai ke tempat yang ia pikir disitulah ia bisa mendapatkan informasi keberadaan orang itu. Tangannya mengetuk diatas kayu itu dan mengalihkan perhatian seorang wanita yang berprofesi sebagai pegawai administrasi.
"Dimana aku bisa menemui pasien bernama Xi Luhan?"tanyanya langsung.
"Ah, apa anda salah satu kerabatnya?" tanya wanita itu. Changwook mendecih kesal.
"Aku bukan siapa-siapanya, hanya beritahu dimana letaknya?" tatapan dinginya berkerja pada situasi seperti ini, wanita itupun kemudian memberitahu letak kamar lelaki yang ingin ia temui sekarang.
Diluar pintu itu, Changwook bisa melihatnya. Seorang lelaki yang ia tidak sukai selama beberapa tahun sebelumnya. Lelaki yang ia kutuk dalam hati agar tidak pernah muncul didalam kehidupan dirinya serta bosnya lagi. Karena ia berbahaya, ia bisa membuat dua kelompok mafia besar bahkan bisa bertarung karenanya.
Lelaki yang bisa dikatakan cantik itu tengah tersenyum sambil membaca novelnya diatas tempat tidur. Sebuah senyuman yang bahkan Changwook terlalu benci untuk melihatnya.
"Seharusnya kau lah yang berada diposisi Sehun! Bahkan lebih baik jika kau mati saat itu juga!" teriakan hatinya yang memilukan dan kepalan tangan yang menunjukan buku-buku jari yang memutih menahan segala emosi yang ada didalam dirinya.
Setelah beberapa saat ia berusaha meredam amarahnya, tangannya terulur untuk membuka pintu tersebut, suaranya membuat lelaki yang tengah sibuk dengan dunianya itu mengalihkan perhatiannya.
Dalam hatinya ia merutuk sedemikian rupa untuk lelaki yang ia lihat terlihat baik-baik saja sekarang. Bukankah dunia itu tidak adil? Sehun yang baik terhadapnya harus masih terbaring lemah sedang lelaki ini bisa sembuh lebih cepat?
"Siapa kau?" tanya Luhan memberhentikan langkah Changwook yang tengah mendekat kearahnya.
"Apa kau keluargaku? Atau mengenalku?" tanyanya lagi.
Changwook membulatkan kedua matanya mendengar pertanyaan asing itu keluar dari mulut lelaki cantik itu. "K-kau kehilangan ingatanmu?" tanya Changwook, Luhan mengangguk kaku kemudian menepuk tempat disampingnya, memberikan tanda bahwa lelaki itu boleh duduk dikursi yang ada. Changwook melakukannya tanpa berpikir, ia duduk dikursi itu dan menemui Luhan.
"Apa kau mengenalku, tuan?" tanya Luhan.
Changwook masih memproses semuanya. Luhan kehilangan ingatannya? Bukankah itu bagus? Tetapi tetap saja didalam hatinya ia masih merasa tidak suka dengan keberadaan Luhan disekitar sini. Lelaki itu tidaklah baik jika masih berada disekitar kelompok mafianya. Terutama jika orang lain yang mengetahui keberadaannya.
"Tentu, aku mengenalmu, bahkan sangat mengenalmu hingga ingin rasanya aku menginginkanmu pergi dari kehidupanku."
Luhan terdiam tidak mengerti awalnya, semua persepsi buruk mengenai pikirannnya.
"Baguslah jika kau kehilangan ingatanmu, tapi lebih bagus jika kau menyingkir dari hadapanku juga."
Luhan semakin terdiam ditempatnya, perasaan takut menggerogotinya. "Apa makasumu? Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Apa yang sebenarnya terjadi padaku?" daripada ia merasa takut karena perkataan itu, ia lebih menginginkan untuk mengetahui kebenaranya.
"Kau benar-benar lupa?" tanya Changwook tak percaya.
"Astaga Luhan! Berhentilah berpura-pura tidak mengetahuinya, behentilah berbohong kepadaku! Karena itu hanya akan menyakitimu sendiri, okay?" ujar Changwook meracau, untuk memancing kebenaran dari Luhan.
Tetapi lelaki cantik itu tetap dalam pendiriannya, gumamannya berlanjut untuk bertanya apakah Changwook mengetahui apa yang terjadi sedangkan Changwook terus saja meintanya untuk berhenti berpura-pura. Lelah dengan semuanya, Changwook menggebrak besi penyangga tempat tidur milik Luhan.
"Baiklah, jika kau memang lupa, biarkan aku memberitahumu sesuatu yang akan membuatmu mengingat semuanya sekaligus dan pergi dari sisi Baekhyun dan Sehun selamanya!"
Luhan mengatupkan bibirny rapat ketika nama satu dokter yang ia sayangi terdengar dari ucapan lelaki gila disampingnya tersebut, lelaki ini memiliki hubungan dengan dokter Byun? Apa yang sebenarnya terjadi?
"Kau adalah seorang pembunuh! Kau adalah seorang pengkhianat besar diantara kami! Keberadaanmu! Keberadaanmu benar-benar menggaggu semua orang! Kau yang seharusnya mati bukan Sehun! Jika aku bisa melakukannya aku ingin sekali membunuhmu saat ini juga, tetapi tidak, aku akan membiarkanmu hidup dalam rasa bersalah! Sekarang ingatlah baik-baik, bahkan jika ingatan sialanmu itu tidak kembali, jauhilah Baekhyun!" peringat Changwook sebelum meninggalkan Luhan dalam keadaan terkejut.
Semua perkataan Changwook terngiang didalam otak Luhan, padahal Luhan sendiri tidak mengetahui siapa Changwook itu? Tetapi ia merasakan semua perkataannya memang benar-benar terjadi kepadanya dulu.
Dua nama.
Baekhyun dan Sehun.
Baekhyun adalah dokternya, ia mengetahui itu, Tetapi Sehun-... siapa lelaki itu? Apakah ia pernah mempunyai hubungan dengan lelaki yang berama Sehun? Lantas apa hubungan Baekhyun dan Sehun? Kenapa dirinya harus pergi meninggalkan Baekhyun?
Semuanya benar-benar buram dipikirannya, tidak terdapat petunjuk apapun.
"Argh!" Luhan mencengkram kepalanya yang terasa berdenyut hebat.
"Argh!" erangnya lagi. "Tolong aku!" lirihnya terpotong-potong karena rasa sakitnya.
"Kau pengkhianat! Pergi dari sini! Pergi!"
"Tapi-.. sayang, aku tidak-..""...-Pergi! Aku masih berbaik hati untuk tidak membunuhmu disini! Cepat pergi!"
"Toh-lo-ng.. Argh! Se-seorang tolong a-ku!" erang Luhan tangannya menggapai tombol darurat yang berada disamping tempat tidurnya.
"Sehun! Awas!"
"AAAAARRGHHH!" Luhan berteriak kesakitan, dan tepat kehilanagn kesadarannya ketika ia berhasil menekan tombol darurat tersebut.
Taecyeon mengamati suasana yang ramai dilobi rumah sakit, ia tengah menunggu Nayoung untuk datang menemuinya. Suasana rumah sakit itu memang selalu sama sepertinya, sibuk. Tidak ada yang lebih sibuk dari orang-orang yang berlarian untuk menolong pasien gawat darurat dan pemindahan bangsal.
Sampai ia tidak menyadari bahwa Nayoung sudah berada disampingnya sejak tadi.
"Jangan berkata bahwa kau akan berpindah profesi menjadi dokter!" perkataannya membuat lelaki tampan itu tekejrut hampir menendang Nayoung yang tengah berdiri.
"Astaga! Bisakah kau datang tidak seperti hantu?!" ucap Taecyeon protes. Nayoung tertawa kecil. "Lalu aku harus mengetuk pintu terlebih dahulu? Tok!Tok! Taecyeon-ssi?" balasnya dengan gurau. Taecyeon mengerlingkan matanya malas.
"Ada apa datang kemari?" tanya Nayoung kemudian.
Taecyeon mendengarnya kemudian memeriksa jika ada orang lain yang tengah menguping pembicaraannya dengan dokter muda tersebut.
"Aku harus bertemu Chanyeol, sesuatu terjadi, dimana dia?" tanya Taecyeon.
"Dia baru saja keluar dari ICU, dan kau tidak bisa menemuinya begitu saja, karena you know he's unidentify patient here," jawaban Nayoung sontak membuat Taecyeon berjengit kesal karena Chanyeol belum bisa ditemui.
"Aku pikir kau telah meregistrasikannya? Yah! Kim Nayoung, kau benar-benar!" kesal Taecyeon karena kelakuan Nayoung yang belum meregistrasikan bosnya agar bisa ditemui sekarang juga karena situasi ini sangatlah genting mengingat mereka bisa saja diserang sedemikian waktu oleh wanita gila.
Nayoung tertawa melihat wajah frustasi Taecyeon, "oke, oke, berhneti menunjukan wajah menggemaskan itu, aku sudah meregistrasikannya, dia sudah berada diruang perawatan VIP, kau bisa menemuinya sekarang, tapi apa yang terjadi?" tanya Nayoung tanpa bersalah telah membuat Taecyeong frustasi.
Taecyeon menghela nafasnya.
"Syukurlah-... dan wanita itu datang lagi."
Nayoung mengerti siapa yang dimaksud oleh Taecyeon tetapi ia tidak bisa untuk tidak terkejut karena mendapat informasi tersebut. "Dan ia ingin menyerang Raven Fire kedepannya dengan si bajingan Kim yang menginginkan kematian dan stampel Park Seojoon, Raven Fire kini dalam bahaya, dan aku harus memberi tahu Chanyeol tentang semua ini."
Sebagai dokter mungkin Nayoung tidak akan mengetahui dunia gelap seperti ini, tetapi sebagai manusia dan teman dekat Chanyeol, maka hal seperti ini bukanlah hal yang tidak biasa ia ketahui.
"Aku akan membantu kalian dengan Park Seojoon, mengambil stampelnya kan?" tanya Nayoung.
Taecyeon menggeleng khawatir, "tidak, masalahnya bukan hanya itu. Bukan hanya Raven Fire yang akan mengambilnya sekarang, tetapi Krystal, Dark Cloud yang akan mengambilnya dan mengincar kita semua. Maka dari itu, aku berpikir untuk berhenti mengejar Park Seojoon dan hendak memberitahu bahwa si brengsek Kim yang menginginkan kematiannya, bukan hanya Raven Fire."
Selagi Nayoung mencerna perkataannya Taecyeon berdiri dari duduknya. "Aku harus bertemu dengan Chanyeol, pastikan kau menjaganya lebih baik mulai hari ini, karena kita tengah terancam," pesannya pada Nayoung sebelum pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Bukankah dokter Byun juga tengah merawat Park Seojoon? Mungkinkah ia memiliki stampel itu?" gumam Nayoung.
계속
Back again awalnya Empeb bingung mau terusin atau enggak soalnya kan satu tahun ini bakal sibuk beneran sama segala ujian hidup, tapi setelah dipikir-pikir mungkin nggak ada salahnya menyampaikan 4K WORDS disetiap bulannya. Oh iya, karena sedikit sulit buat membagi jadwal up, jadi yang sabar yah, karena Empeb juga punya banyak worklist.
Nah tjoba yang kemaren nanyain Empeb buat up ONCE AGAIN, reviewnya juseyo...
Oh iya, Empeb dah bilang mau ngasih tau proses operasinya kan yah? Yah, sadly, Empeb cuman tau proseduralnya. Kayak abis itu ngapain nggak bisa ngebayangin soalnya takut salah gitu, kan gini-gini juga butuh ilmu.. referensinya kurang sih.. Bythe way my followers atau readers nim... Dingatkan kembali bahwa Empeb juga up FF ini di WP jadi jangan lupa buat Voment di WP yahhh.. Makasihhh
Readerdeul ga nae maeum soge jeojanggg.
