.
.
.
My Silly Oppa
.
.
.
Hunhan's Fanfiction
Present by,
Parkizuna
Whole of this story is belong to me, except the casts, ofcourse.
Warn: Genderswitch, typos is my styles :D, tidak sesuai EYD, Chapter ini panjang dan membosankan.
.
My Silly Oppa chap.2
.
.
.
Sedari tadi Luhan terus saja menatap kearah pintu kamar Sehun, berharap pemuda yang lebih tua dari nya 7 tahun itu keluar dari kamarnya dan makan malam bersama-sama. Eomma Sehun yang menyadari keadaan segera menenangkan Luhan.
"Sudahlah Luhan, jangan dipikirkan. Sehun memang seperti itu, dia selalu saja meledak-ledak, mungkin akibat stress skripsi nya yang tak kunjung selesai. Aku yakin dia sekarang sedang meringkuk kelaparan didalam sana. Namun rasa gengsinya lebih besar dari pada akalnya, sehingga ia menyiksa dirinya sendiri dikamar. " Ujar Eomma Sehun sambil mengambilkan potongan daging ke piring Luhan.
Wajah cantik gadis rusa itu mencoba tersenyum meskipun masih terlihat muram.
"Aku hanya merasa merepotkan Ahjumma. Ku rasa Sehun Oppa juga membenciku.. Tadi siang merupakan awal pertemuan yang sangat buruk bagi kami."
"Pada awalnya, Sehun juga bersikap kekanakan ketika awal kedatangan Jongin di rumah ini, namun seiring waktu berlalu akhirnya mereka sangat dekat. Ku rasa Sehun hanya khawatir kasih sayangku terbagi. Maklumlah, dia anak satu-satunya yang ku perlakukan layaknya pangeran kecil sewaktu dulu, tapi tidak lagi untuk sekarang ia sudah dewasa." Jelas Eomma panjang lebar.
"Jongin? Siapa itu Ahjumma?" Tanya Luhan penasaran karena sedari tadi siang beberapa kalo ia sempat mendengar nama tersebut.
Eomma Sehun kemudian menelan makanannya sebentar dan menjawab "Aku hampir lupa memberi tahumu, Luhan. Jongin anak tetangga kita, dia seusiamu. Dan besok pagi dia akan menjemputmu dan berangkat bersama dengan mu kesekolah. Dia sebaya dengan mu, sayang."
Luhan baru teringat besok ia harus sekolah. Beruntung sekali Ayah Luhan, Yixing mengajarkan dirinya bahasa Korea, mengingat Baba nya bertemu dengan Mama nya di Korea dan Mama nya merupakan orang asli Korea. Luhan bukan sepenuhnya berdarah China. Dan hal ini akan memudahkan dirinya bergaul dengan teman-teman barunya di Korea tanpa menghambat komunikasi mereka nanti.
Selesai makan, Luhan membantu Eomma Sehun menyuci piring-piring dan gelas kotor.
"Ahjumma biar aku saja yang melakukannya." Cegah Luhan saat Eomma ingin mengeringkan piring dengan kain lap bersih.
"Wah, senangnya melihat seorang gadis rajin didalam rumah ini. Aku sudah bosan dengan lelaki pemalas di rumah ini dan kedatanganmu membuatku terharu Luhan. " Puji Eomma Sehun sambil mencubit pipi gembil si gadis bermata rusa itu.
"Jangan berkata seperti itu Ahjumma. " Sahut Luhan sambil senyum malu-malu.
"Luhan, jangan panggil aku Ahjumma. Panggil aku Eomma saja. Kau sudah seperti anak gadis ku yang selama ini ku idam-idamkan." Ujar Eomma sambil mengelus-elus kuncir dua Luhan.
"Wah kau memiliki rambut yang lembut, Luhan."
"Benarkah Ahjumma, eh maksudku Eomma?"
"Iya benar. Bagaimana kalau nanti ku rias rambutmu saat kau berangkat sekolah besok pagi?"
Tanpa kedua wanita itu sadari, ternyata sedari tadi Sehun sudah keluar dari kamar dan mendengarkan seluruh percakapan mereka. Hati Sehun terasa panas saat mendengar Eomma nya memuji Luhan, dan barusan dirinya disebut apa? Pemuda pemalas? Astaga, Eomma nya benar-benar membuat Sehun kesal. Bagaimana bisa Eomma nya berkata seperti itu tentang dirinya didepan Luhan yang bahkan baru bertemu dengan nya sekali.
"Tolong, piring ini sekalian dicuci. Tadi tertinggal di kamarku." Sehun berkata keras-keras. Membuat kedua wanita yang berada di wastafel terkejut mendapati Sehun berada di belakang.
Eomma Sehun berdecih begitu melihat Sehun. Ternyata anak bujangnya masih saja bersikap ketus pada Luhan.
"Kau sendiri saja yang cuci. Ayo Luhan, kita ke kamar. Waktunya tidur." Tanpa menghiraukan Sehun, Eomma nya menarik tangan Luhan kencang.
"Tapi Eomma.. " Luhan merasa tidak enak kepada Sehun, belum lagi ketika Luhan melihat poker face Sehun saat Eomma nya menarik tangannya menjauh.
Meninggalkan Sehun yang berdiri terpaku di depan wastafel cucian, dengan setumpuk cucian piring yang masih kotor.
.
.
.
Sehun terbangun dari tidur saat merasa tidak nyaman dikarenakan kantung kemihnya terasa begitu penuh. Sekilas ia melihat ke arah jam di kamarnya.
7.30 am
Astaga ini masih pagi sekali baginya yang terbiasa bangun pada pukul 11 siang. Dengan ogah-ogahan Sehun keluar dari kamar menuju kamar mandi. Dirumahnya, hanya terdapat satu kamar mandi yang berada di samping kamar Eomma Sehun dan sekarang menjadi kamar Luhan juga. Teringat pada gadis kuncir dua yang sekarang merupakan anggota dari rumahnya, membuat nya sebal.
Begitu sampai di kamar mandi, Sehun membuka pintu kamar mandi namun terkunci.
"Siapa didalam?" Tanya Sehun dengan suara parau ala orang bangun tidur.
Matanya masih belum bisa terbuka sepenuhnya, sehingga ia memutuskan untuk menyuci wajahnya di wastafel depan kamar mandi.
"Aku.. Tunggu sebentar." Terdengar suara menyahut dari dalam.
Sehun menyeka wajahnya dengan handuk kecil yang dibawanya, lalu menyampirkan handuknya di pundak nya.
"Bisa lebih cepat sedikit. Aku sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi.." Teriak Sehun sewot saat dirinya mulai keblingsutan menahan pipis sambil menggedor pintu kamar mandi tidak sabar.
CEKLEK
"Astaga Luhan.." Gumam Sehun shok melihat keadaan Luhan dalam keadaan hanya memakai handuk saja.
Rambut Luhan yang terbiasa dikuncir dua dililit oleh handuk. Tapi tunggu, matanya menangkap sesuatu disana. Ternyata Luhan tidak seperti yang selama ini ia lihat, gadis bertubuh rata itu ternyata memiliki lekuk tubuh yang indah. Sejenak, Sehun terpaku melihat objek yang berada di ambang pintu itu tapi ia segera menyadarkan keterpakuannya tersebut.
"Yak gadis bodoh! Apa yang kau lakukan dengan handuk itu?" Bentak Sehun sedikit berteriak.
"Apa yang aku lakukan dengan handuk ini?" Luhan melirik ke handuk yang sedang ia kenakan. Kemudian ia bersedekap dan memutar bola malas.
"Apa menurutmu aku tampak seperti orang yang habis bermain tinju?" Tanya Luhan sambil mendesah ,"Tentu saja aku baru saja mandi.. Dasar kau pria aneh!" Jelasnya.
Pemuda tinggi yang bernama Oh Sehun mendengus itu kasar. Matanya secara otomatis menyusuri kulit putih susu milik Luhan yang begitu mulus, membuat Sehun ingin meninggalkan tanda di sekujur kulit mulus itu, membuat gadis kecil itu mendesahkan namanya, mencumbuinya hingga lupa diri... Hentikan pemikiran itu Oh Sehun! Pikiran pemuda itu kini tengah berkecamuk. Astaga, dia hanya anak kecil. Sehun berusaha mensugestikan dirinya. Dia hanya anak kecil ulangnya dalam hati.
"Apa kau lupa bahwa disini ada seorang pria dewasa, lantas kenapa kau berkeliaran dirumah ini hanya mengenakan handuk seperti itu?" Suara Sehun kini terdengar begitu histeris.
"Apa? Pfttt..."
Mendengar nada histeris pada pemuda yang kemarin marah-marah padanya begitu menghiburnya. Luhan tertawa sangat keras membuat Sehun semakin jengkel dibuatnya.
"Kenapa tertawa apa ada yang lucu?"
"Ya, kau sungguh lucu Oppa. Ku pikir kau hanya menganggap ku sebagai gadis kecil. Tapi nyatanya kau malu dan risih melihat diriku dalam keadaan seperti ini."
"Jangan terlalu percaya diri, aku hanya tidak ingin merusak mataku dengan melihat pipa panjang yang rata sepertimu berkeliaran dengan handuk seperti itu." Sangkal Sehun sepenuhnya berbohong.
"Yak! Dasar kau albino! Rasanya aku ingin menyumbangkan darah ku agar kau sedikit berubah kemerahan."
"Cepat kau pergi ke kamarmu, aku sudah tidak.."
"Tidak tahan melihat tubuh indahku?" Goda Luhan membuat pipi Sehun memerah. Sial! Anak kecil itu membuat Sehun malu. Luhan berlari ke arah kamarnya dan tak sengaja Sehun melirik ke arah bokong Luhan yang sedikit padat itu.
"Yakkkkkk!" Teriak Sehun hampir gila.
.
.
"Salam kenal namaku Kim Jongin." Sapa tinggi kurus dan berkulit hitam itu pada Luhan.
Lalu dengan agak ragu, Luhan membungkukkan tumbuhnya kemudian memperkenalkan dirinya juga.
"Senang bertemu denganmu Jongin, namaku Xi Luhan." Ujar gadis itu semanis mungkin membuat pemuda tinggi di depannya salah tingkah.
Eomma Sehun tersenyum menatap kecanggungan mereka berdua.
"Jadi Luhan, maafkan Eomma yang tidak dapat mengantarkan mu ke sekolah di hari pertamamu. Jadi, mulai sekarang kalian akan berangkat dan pulang bersama setiap harinya." Jelas Eomma sambil mengelus rambut kepang dua mahakarya nya yang sudah mereka rencanakan semalam.
"Baiklah Eomma. Kalau begitu aku berangkat dulu ya. " Pamit Luhan pada Eomma.
"Ayo Luhan, naiklah. Jangan malu-malu." Ajak Jongin begitu ia siap sedia di sepedanya.
Dengan ragu-ragu Luhan mencoba menaiki jok belakang sepeda Jongin. Ia sedikit khawatir jika rok pendek nya akan tersingkap oleh terpaan angin nanti, jadi ia mencoba mengatur posisi se aman mungkin.
"Jangan takut Luhan, aku sudah sangat pro dalam bonceng-membonceng."
Mendengar ucapan Jongin membuat Luhan tersenyum malu, kalau pemuda itu menyadari kekhawatirannya. Begitu posisi nya terasa siap, kemudian Luhan melambaikan tangannya ke arah Eomma nya. Dan kemudian Jongin menggowes sepedanya.
"Ahjumma.. Kami berangkat dulu.." Pamit Jongin sambil berlalu dengan sepedanya bersama Luhan.
Eomma Sehun membalas lambaian tangan Luhan, dan tersenyum haru, melihat kedua anak kecil yang dulu sering bermain bersama nya sudah beranjak remaja. Mereka menggunakan seragam sekolah highschool yang sama, membuat Eomma Sehun merasa begitu tua.
Dilantai dua, Sehun menatap keberangkatan Luhan dan Jongin dari atas. Akhirnya pergi juga hama kecil itu, pikir Sehun lega. Setidaknya dirinya akan terhindar untuk sementara dari hal-hal yang tidak terduga seperti kejadian di kamar mandi barusan. Sehun benci hal yang tidak terduga.
.
.
.
"Selamat pagi." Sapa Mr. Choi pada murid-murid yang duduk rapi di tempat masing-masing.
Luhan berdiri kikuk di samping Mr. Choi yang sangat tinggi, dapat dirasakan tangannya membeku saat mendengar murid-murid membalas sapaan gurunya barusan. Ada beberapa murid yang terlihat heran oleh kedatangan Luhan.
"Hari ini kita kedatangan murid pindahan dari China. Silahkan perkenalkan dirimu, nak." Kemudian Mr. Choi duduk pada tempatnya, dan meninggalkan Luhan yang berdiri sendiri canggung di tengah kelas.
"Selamat pagi. Namaku Xi Luhan, kalian bisa memanggilku Luhan.." lagi-lagi perkenalan, Luhan sangat benci jika harus memperkenalkan dirinya. Membuat jantungnya berdebar begitu kencang, belum lagi perut nya yang terasa mulas mendadak akibat terintimidasi oleh tatapan sepenjuru kelas yang terpusat olehnya.
"Baiklah, silahkan duduk Luhan."
Luhan merasa begitu berterimakasih pada Tuhan hari ini, karena Mr. Choi bukan tipikal guru yang betah berlama-lama melakukan perkenalan, sehingga membuat Luhan lega bukan main.
Luhan membalas senyuman Jongin yang ternyata duduk di pojok kelas bersama seorang teman sebangkunya. Kemudian Luhan memilih duduk di sebelah gadis bermata sipit yang tersenyum ke arahnya sedari tadi. Gadis bermata sipit itu mempersilahkan Luhan untuk duduk di sebelahnya.
Setelah Luhan duduk dan mengatur posisi, Mr. Choi memulai pelajaran. Luhan nampak bingung begitu mereka ditugaskan membuka buku matematika, sedangkan Luhan belum memilikinya.
"Kita bisa memakai buku ini bersama Luhan, bukankah kau belum memilikinya?" Ujar gadis itu sambil mendorong bukunya ke tengah meja, sehingga Luhan bisa menggunakannya bersama.
"Ah, ya. Terimakasih.." ucap Luhan tergantung, karena ia belum mengetahui nama teman sebangkunya.
Luhan memperhatikan teman sebangkunya. Gadis yang manis dengan rambut hitam panjang sepinggang. Wajah teman sebangkunya ini sebenarnya sangat manis, namun sayang, paras cantiknya terhalang oleh poni panjang yang menutupi hampir sebagian wajahnya. Dan juga terlihat gayanya yang agak selebor, membuat Luhan semakin menyukainya.
"Byun Baekhyun. Panggil aku Baekhyun. "
"Terimakasih Baekhyun," kata Luhan tersenyum tulus.
"Sama-sama Nona Xi."
"Apa kau pindah dari China? Bagaimana bisa kau berbicara Korea lancar?" Tanya Baekhyun membuka pembicaraan.
"Eomma ku orang Korea asli, begitu juga Appa ku. Dan terkadang Appa ku membiasakan ku menggunakan bahasa Korea saat masih di China dulu, sehingga aku bisa lancar berbahasa Korea." Jelas Luhan pada Baekhyun.
Mendengar penjelasan Luhan, Baekhyun mengangguk paham.
"Apa kau mengenal Kim Jongin? Ku lihat tadi pagi kalian berboncengan sepeda bersama?" Tanya Baekhyun lagi.
"Iya, Jongin tetangga ku. "
"Wah bagus kalau begitu. Si Hitam itu adalah sahabat karibku. Dan Lee Taemin itu yang duduk bersama Kim Jongin yang wajahnya hampir mirip dengannya, itu adalah sahabatku juga." Ujar Baekhyun menunjuk ke arah tempat duduk Kim Jongin.
"Apa mereka kembar?"
"Tidak. Hanya saja karena saking bersahabat nya, kami sering kali memiliki selera fashion yang sama."
"Jadi bagaimana, Luhan? Apa kau mau bergabung dengan kami?" Tambah Baekhyun.
"Baiklah.. aku akan bergabung dengan kalian."
"Yeayy" sorak Baekhyun kelewat keras. Mengundang tatapan aneh dari beberapa orang.
Baekhyun mengajak Luhan untuk bertos ria.
.
.
.
"Aku tidak menyangka kita akan sekelas Luhan." Sambut Jongin pada Luhan ketika mereka duduk bersama di meja kantin.
Yang dimaksudkan hanya tersenyum malu saja sambil meletakkan makanan ringan yang baru ia beli bersama Baekhyun. Sedangkan Baekhyun sedang sibuk mengaduk kuah panas ramyoon yang dipesannya barusan.
"Mana Taemin?" Tanya Baekhyun pada Jongin.
Jongin mengangkat bahunya tidak tahu. "Kurasa dia sedang kumpul dengan kelompok eskul basketnya, nanti juga kemari."
"Basket? Wah, ku harap dia akan membawa informasi baru tentang Park Chanyeol." Ucap Baekhyun berbinar-binar membayangkan cowok idamanannya.
"Siapa itu Baek? Park Chanyeol?" Tanya Luhan tidak mengerti.
Jongin terkekeh nyebelin, "Park Chanyeol anak kelas sebelah. Tinggi, tampan, meski masih kelas 1 tapi dia sudah menjadi pemain inti tim basket sekolah kami. Dan dia pria incaran Baekhyun sedari awal dia masuk ke sekolah. "
Luhan mengangguk-angguk mengerti.
"Kalau begitu, pasti dia sangat terkenal?"
"Sangat. Begitu banyak Noona cantik, apalagi teman seangkatan yang mengincar nya. Sedang kan Baekhyun si gadis biasa saja menunggu Chanyeol bagaikan pungguk yang merindukan bulan." Penjelasan Jongin membuat Baekhyun tersedak saat menelan kuah panas ramyoon.
Luhan hanya tertawa menyaksikan kelakuan mereka berdua.
"Yak! Kkamjong! Kau sendiri juga harus berkaca sebelum kau mengatai ku. Siapa bocah ingusan yang mendambakan Kyungsoo Eonnie, anak penjual kantin yang sangat cantik itu? Segeralah cuci wajahmu, Jongin. Kalau tidak Kyungsoo Eonnie tidak bisa membedakan mu dengan babi ternak yang sedang berkubang di lumpur seharian."
Baekhyun dan Luhan menatap ke arah wajah Jongin sebentar, lalu mereka tertawa terbahak-bahak bersama. Jongin merengut sebal kulit hitam eksotis nya ditertawakan oleh dua gadis awam yang tidak memahami bahwa tak selamanya estetika hanya memandang warna kulit.
"Hei kalian berdua rasis! Kulitku ini eksotis kalian tau? Menurut orang barat, kulitku ini sexy!" Elak Jongin di sela kekesalannya.
Mendengar pernyataan Jongin, semakin membuat kedua gadis di depannya tertawa.
"Astaga Jongin. Bagi mereka yang orang barat mungkin kulitmu sexy, sayangnya kita berdua murni 100% berdarah timur. Jadi, percuma saja. Terima lah kenyataan Jongin." Ledek Baekhyun lagi.
"Aissh! Kalian berdua!" Gerutu Jongin.
"Sudahlah Jongin, Baekhyun. Mungkin suatu saat nanti ada waktunya para pujaan hati kalian akan datang sendiri. Tinggal tunggu saja.." ucap Luhan sambil cekikikan.
Kemudian di aminkan oleh kedua makhluk jones itu dengan khusyuk.
"Oh, ya.. Luhan, apa kau juga sedang menyukai seseorang?" Tanya Jongin.
Pertanyaan Jongin membuat pipi Luhan memerah seketika. Orang yang terbesit dalam benak Luhan saat pertama kali adalah Sehun. Oppa yang melupakan masa kecil mereka saat dulu. Sedangkan Luhan selalu ingat betapa Luhan mengagumi Sehun dulu. Betapa kecewanya Luhan begitu mendapati Sehun lupa padanya.
Baekhyun menunjuk hidung Luhan yang bangir itu. "Pasti ada.. Lihat wajahnya yang memerah.."
"Apa seseorang yang kau suka berada di China? Atau berada disini?"
Luhan menggeleng. "Bukan seseorang dari China.."
"Lalu seseorang di Korea?" Tanya Jongin penasaran, ada secercah ke ge-eran dalam hatinya. Mengingat Luhan baru saja pindah dari China dan sudah dipastikan Jongin adalah pemuda pertama yang di kenal oleh Luhan.
"Wah, jangan bermimpi Jongin. Luhan tidak mungkin menyukai mu. " Seketika Baekhyun mematikan harapan Jongin.
"Aku tidak tahu.. Mungkin saja aku belum menemukannya.. Aku bingung." Jawab Luhan lirih.
"Hoo.. baiklah, namun pipimu yang memerah seolah kau menyimpan sesuatu dari kami. " Kata Baekhyun sambil mengunyah sendok terakhir ramyoonnya. Luhan meringis saja mendengarnya.
"Taemin! Dari mana saja kau!" Panggil Jongin pada Taemin yang baru datang.
"Tadi anggota tim basket baru saja rapat mengenai turamen di Universitas yang akan kita datangi besok." Jelas Taemin pada Jongin. Matanya melirik ke arah Luhan.
"Taemin, ini kenalkan teman baru kita. "
"Hai Taemin, namaku Luhan."
"Aku sudah melihatmu tadi Luhan. Kau cantik sekali, Jongin pasti beruntung bisa berangkat dan pulang bersamamu." Puji Taemin sambil meninju pundak Jongin.
"Aku memang beruntung." Cengir Jongin dari kuping kanan hingga kuping kiri.
KRIING!
Bel masuk pun berbunyi berarti para murid harus melanjutkan proses belajarnya. Saat mereka berjalan beriringan menuju kelas, ada segerombolan anak lelaki berpapasan dengan mereka. Dan ada salah satu sosok tinggi yang begitu familiar oleh Baekhyun. Bahkan, dalam kerumunan demo 411 yang sejuta umat itu pun dengan mudah Baekhyun dapat mengenali pemuda bertelinga peri itu. Park Chanyeol yang tak pernah absen dalam pikirannya barang seharipun. Mereka berpapasan dengan Park Chanyeol.
"Taemin." Sapa Chanyeol singkat pada Taemin sebelum kemudian berlalu.
Sedari tadi Baekhyun mencubit tangan Luhan yang sedang di gandengnya. Dan mulutnya berkomat-kamit tanpa suara 'Dia Park Chanyeol' pada Luhan lucu. Membuat Luhan tersenyum maklum melihat temannya yang salah tingkah bertemu dengan gebetannya.
Saat dirasa Park Chanyeol sudah jauh, "Wah, Baekhyun. Dia tinggi sekali ya.. tampan juga." Komentar Luhan pada Baekhyun.
Sedangkan Baekhyun hanya bisa tersenyum malu dan menenangkan debaran jantungnya yang barusan serasa hendak copot meskipun Chanyeol hanya menyapa Taemin, temannya bukan dirinya. Seperti yang banyak orang katakan, gadis yang tengah jatuh cinta nampak begitu cantik. Hal itu berlaku pada Baekhyun kini, pikir Luhan lugu.
.
.
.
"Aku pulang,"
Luhan melihat Eomma Sehun tengah menyiapkan makan malam di meja. Wanita tua itu tersenyum begitu cantiknya melihat kepulangan Luhan. Gadis berkuncir dua itu tampak begitu lesu, khas anak pulang sekolah. Hari ini pasti begitu melelahkan bagi Luhan, karena dia harus memulai semuanya dari awal lagi, pikir Eomma Sehun. Pemuda bermata sipit itu juga turut hadir membantu Eommanya dan kini menatap ke arah Luhan.
"Bagaimana hari pertama mu sayang?" Tanya Eomma Sehun, dan saat itu juga menghampiri Luhan.
"Menyenangkan." Jawab Luhan sambil tersenyum.
"Baiklah, kalau begitu ayo kita makan malam bersama.. tapi ganti pakaian mu dulu Luhan."
Luhan mengangguk, dan segera berganti baju di dalam kamar. Baju tidur bermotif bunga-bunga menjadi pilihan gadis itu.
"Ayoo makan yang banyak sayang, kau pasti sangat lapar kan?" Ujar Eomma Sehun sambil mengambilkan beberapa potong lauk ke dalam mangkuk Luhan.
Gadis itu melirik ke arah Sehun yang hanya terdiam melihat ke arah piring-piring di atas meja. Nampaknya pemuda itu juga ingin dilayani oleh ibunya.
"Eomma, kenapa Oppa tidak diambilkan juga?"
"Oh begitu ya.. Sehun sayang apa kau ingin Eomma ambilkan juga?" Kini Sang Eomma beralih pada Sehun.
"Tentu saja Eomma, aku akan sangat senang jika kau mengambilkannya untukku."
Setelah melayani kedua anaknya, akhirnya mereka makan bersama. Di sela-sela makannya, tiba-tiba Luhan atau yang biasa di sebut Sehun kuncir dua mengarahkan sendok yang berisi nasi dan irisan daging ayam tersebut ke arah Sehun, ia berniat untuk menyuapi sang Oppa.
"Apa ini?" Tanya Sehun mengernyitkan dahinya.
"Buka mulutmu! Kau harus makan dari tanganku juga Oppa. Kata Eomma akan sangat mengenyangkan jika kita bisa makan dari tangan orang terdekatmu."
Blush~
Oh Sehun sedikit tersentuh mendengarnya.
"Ayolah pangeran, bukalah mulutmu.. hargai niat baik adikmu ini."
Dengan sedikit ragu Oh Sehun memajukan sedikit wajahnya kemudian membuka lebar mulutnya.
"Anak pintar..." Gumam Xi Luhan berlaga seolah-olah ia adalah sang eomma.
Melihat pemandangan manis ini hati Eomma Sehun sedikit terharu, matanya berkaca-kaca rasanya ia ingin sekali mengabadikan momen ini ke dalam sebuah photo. Ia berharap anak laki-lakinya bisa semakin dekat dengan Luhan.
"Baiklah, jaljayeo Oppa.." Luhan melambaikan tangannya saat hendak Masuk ke dalam kamar.
Ia sudah sangat mengantuk, sambil memperhatikan jalan ia menguap sangat lebar. Tanpa di duga, mata Luhan membulat ketika ia merasakan sebuah tangan besar mendarat di atas pucuk kepalanya. Gerakan seperti mengusap lembut. Ia segera memastikan siapa pemilik tangan tersebut, ternyata itu adalah Oh Sehun yang sedang tersenyum padanya.
"Jaljayeo gadis kuncir dua. Semoga mimpi indah."
Saat Luhan masuk ke dalam kamarnya, dirinya tidak dapat mengontrol debaran jantungnya. Akhir-akhir ini mengapa sering kali Luhan merasakan dadanya terasa sesak setiap mendapatkan perlakuan manis dari Sehun Oppa? Bukan berarti sesak didadanya terasa menyakitkan, namun dalam arti yang sebaliknya. Ia merasakan sebuah rasa yang belum pernah dirasakan olehnya sebelumnya. Sebuah kenyamanan mungkin? Entahlah, Luhan tidak dapat menjelaskan perasaan ini. Apakah Luhan menyukai Sehun? Lantas mengapa saat Jongin bertanya siapa orang yang disukainya, orang pertama yang terlintas di benak Luhan adalah Sehun? Begitu banyak pertanyaan yang berputar di kepala Luhan, tidak seorangpun yang bisa menjawab. Jadi gadis bermata rusa itu memutuskan untuk membiarkan waktu yang akan menjawabnya..
.
.
.
"Kuncir dua! Apa yang lakukan!" Teriak Sehun panik ketika Luhan mencoba membuka satu persatu kancing kemejanya perlahan-lahan dan satu tangannya lagi bergelanyut mesra di bahu bidang Sehun.
Tanpa menjawab, Luhan masih saja berkutat pada kancing kemeja Sehun. Luhan hanya mengenakan sehelai handuk putih polos yang membuat hamparan kulit putih pundak Luhan ter-ekspose, dan jangan lupakan juga paha mulusnya yang sedari tadi menggoda iman Sehun. Hal ini membuat serigala kesepian didalam diri Sehun bangkit secara tidak tahu dirinya.
Tanpa membuang waktu lama, seluruh kancing kemeja Sehun sudah terbuka, memamerkan dada bidang Sehun dan perut kencang ber-abs. Luhan mengelusnya dengan seduktif.
"Oppa.." lirih Luhan saat meraba otot perut Sehun yang terlatih itu.
Sehun bergidik ngeri saat mendengar lirihan Luhan tersebut, dan sentuhan dari jari Luhan seolah mengantarkan aliran listrik jutaan volt yang membuat sesuatu dari diri Sehun terbangun. Luhan memberikan tatapan memuja saat melihat perut Sehun dan meniup-niup kecil pusar Sehun, membuat pemuda di bawahnya gelisah.
"Jangan lakukan ini Luhan, ini salah." ucap Sehun parau dan terbata. Antara gugup dan...
BRUGH!
Luhan mendorong Sehun ke ranjang, dan tanpa ragu Luhan duduk diatas paha Sehun yang kini terbaring pasrah di bawah gadis berkuncir dua. Nafas keduanya melambat, dan Sehun kaget begitu Luhan melahap bibirnya tanpa aba-aba.
"Luhan! Berhenti! Ini salah!"
"Hentikan Luhan!"
"Kuncir dua! "
"Hentikan!"
BYURRR!
Segayung air yang disiram oleh Eomma Sehun membuat pemuda albino itu mau tidak mau terbangun dari mimpi indahnya.
"Astaga! Hujannnn... Hujannnn... Eomma kamarku bocor Eomma!" Pekik Sehun gelagapan membuat sang Eomma terkikik geli.
"Yak! Bangunlah Oh Sehun! Hentikan mimpi kotormu itu!" Teriak Eomma Sehun.
Sang Eomma dan gadis mungil itu tertawa sangat keras hingga membuat Oh Sehun malu setengah mati. Ia menundukkan kepalanya tak berani melihat ke arah dua wanita yang berdiri di samping ranjangnya.
"Cepat kau bangun!"
Eomma Sehun pergi meninggalkan Sehun dengan Luhan disana dan melanjutkan kegiatannya menyiapkan sarapan pagi.
Luhan terkekeh kecil kemudian melempar sebuah handuk yang menggantung di kenop pintu kamar pemuda itu.
BRUK!
"Yak!" Teriak Oh Sehun mendelik tajam ke arah gadis bermata rusa yang terkekeh lucu.
"Kau memimpikanku, Oppa?"
DEG!
"Sial, apa aku mengigau? Darimana ia tau?" Batin Sehun.
"Oppa..." Panggil Luhan
"Wae?"
Luhan melirik ke arah celana Oh Sehun seperti memberitahu ada sesuatu disana. Tanpa pikir panjang pemuda itu segera memastikan apa yang terjadi. Betapa terkejutnya ia saat mendapati celananya basah akibat mimpi basah semalam. Mimpi basah yang terjadi akibat kejadian di kamar mandi kemarin, saat melihat tubuh setengah telanjang Luhan.
"YAK! KUNCIR DUA KELUAR DARI KAMARKU SEKARANG !"
Sehun berteriak sekuat angin cobaan hidup yang menerpanya sekarang, tertangkap basah mimpi basah oleh gadis berusia 15 tahun.
BRAKK! Sehun membanting pintu kencang sekali, ketika Luhan itu keluar dari kamarnya. Sedangkan, yang baru saja keluar dari kamar Sehun sedang cekikikan penuh kebahagiaan di depan pintu.
Astaga? Sejak kapan diriku menjadi pedofil seperti ini? Kemana Miranda Noona yang biasa kerap hadir di mimpi-mimpi indahku? Kenapa harus si gadis berkuncir dua itu? Ratap Sehun dalam hati.
.
.
.
TBC
.
.
.
Author note
Ps. Mengandung kelebayan yang akan membuat anak muak, sebaiknya sediakan sebuah kantong kertas di sebelah anda sebelum membaca ini *LOL
Halo, ketemu lagi *lambai*
Sebelumnya, aku mau ucapin makasih banyak buat 21 review pertama aku. Berkat dukungan kalian, buat aku jadi semangat buat lanjutin ff abal ini.. Jeongmal Kamsahamnidaa
;_;
*menangisterharu*
Fanfict ini terbuat karena kejenuhan aku, disaat belajar persiapan uas. Rasanya pusing banget liat buku pelajaran, jadinya lahirlah si gadis berkuncir dua dan mahasiswa albino disini. Hehehehehe.. *janganditiru *yangUASfighting!
Btw ini ff debut aku lhoo.. yang selama ini cuma mendedikasikan akun Parkizuna sebagai reader aja.. /gaadaygnanya -_-
Makasih buat masukannya, pas aku check chap.1 ternyata banyak banget typo dan kalimat yg gaje -_- maafin ya..
Mau diedit tapi ribet banget ;_; ada yg tau cara mudahnya..? Hehehe..
Fyi aku 00 line, jadi jngn panggil aku thor ya.. Soalnya belum sehebat itu buat di panggil Author :D tinggal pilih mau panggil, saeng, chingu, atau eonnie(?) Panggil istrinya Chanyeol juga boleh XD *maunya
See you in next Chapt!
Special Thanks:
Skymoebius,winwin16,Selenia Oh, cici fu,dedeRafka, sehundoyansodokluhan, Arifahohse,pinkeury,yongie17,
Hannie222,Seravin509,auliaMRQ,
bubblebloom,LSaber,akaindhe,
Juna Oh,Apink 464,chaa,tiaracrystal(that's my eonnie:)),joohyunkies,Rury 0418
Mind to Review?
