.
.
.
My Silly Oppa
.
.
.
Hunhan's Fanfiction
Present by,
Parkizuna
Whole of this story is belong to me, except the casts, ofcourse.
Warn: Genderswitch, typos is my styles :D, tidak sesuai EYD
My Silly Oppa Chap.3
.
.
.
"Apa? Anak kecil itu mendapatimu mimpi basah?" Tanya Yifan pada Sehun dengan suara yang besar. Membuat beberapa mahasiswa yang berada di kampus memperhatikan mereka sesaat.
Sehun terpaku sebentar. Kemudian tersadar dari keterpakuannya dan mendelik kesal."Stttttt!"
Seketika, seluruh orang yang berada di meja itu tertawa. Wu Yifan, sahabat Sehun sejak highschool yang berbeda jurusan. Yifan lebih memilih jurusan manajemen bisnis, mengingat dirinya akan meneruskan perusahaan orang tuanya yang mengelola salah satu departemen store asal China dan membuka banyak cabang juga di Asia seperti Korea, dan Jepang. Sekedar informasi, saat semester kemarin Yifan mendapatkan nilai IPK tertinggi seangkatannya. Jadi hal itu membuat Sehun bingung pada sahabatnya.
Sudah kaya, tampan, dan pintar bagaimana dia mau berteman dengan Sehun yang hanya mahasiswa biasa saja, dan keluarganya juga bukan dari kalangan atas. Jika Sehun bertanya pada Yifan, lelaki bersurai blonde itu hanya menjawab "Karena aku menyayangimu Oh Sehun." Dengan suara yang menjijikan, membuat Sehun ngeri, jadi iya memutuskan untuk tidak akan pernah menanyai hal itu lagi sahabatnya.
Terkadang Sehun curiga apakah Yifan itu gay. Namun pikiran buruk tentang Yifan itu segera hilang saat ia mengenalkan Zitao, gadis bermata panda sebagai pacarnya pada Sehun. Dan ia pun turut hadir menertawakan, Sehun di meja itu.
Dan yang terakhir, ada Irene. Gadis itu bersahabat dengan Sehun dari awal dirinya masuk ke universitas. Wajahnya cantik, tipikal mahasiswi populer yang kecantikan nya tersohor sekampus. Begitu banyak pemuda tampan yang menginginkan dirinya, namun bagi Irene tidak seorangpun yang dapat membuat gadis cantik itu luluh. Jadi gadis cantik itu setia menyandang gelar Jomblo sama seperti Sehun.
"Bukan hanya anak kecil itu, tapi ada Eomma ku yang membangunkan ku dengan segayung air." Sehun menghembuskan nafas kencang saat mengingatnya.
Hal itu justru bukan mengundang simpati untuknya, melainkan gelak tawa teman-temannya atas kemalangan yang menimpa dirinya.
"Sepertinya, aku jadi tidak sabar ingin melihat gadis berkuncir dua yang belakangan ini menjadi penyebab ke uring-uringanmu itu Sehun." Kata Irene masih tertawa.
"Lebih baik kau tidak usah menemuinya, dia akan membuatmu sial dan kesal nanti." Sehun menyahut dengan ketus.
"Baru pertama kali, ku lihat kau begitu kesalnya pada seorang gadis. Mana Oh Sehun Sunbae idola setiap mahasiswi kesenian junior?" Yifan meledek Sehun, sengaja.
Kemudian Zitao setuju dengan Yifan. "Bukankah kau bisa bersikap manis pada gadis-gadis muda itu Sehun, kenapa dengan Luhan kau tidak bisa? Mungkin gadis itu hanya ingin dekat denganmu, namun kau keburu sensi."
"..."
"Ia kalau ku pikir-pikir kasihan juga ya, Luhan. Gadis yang malang.."
Sehun memutar bola matanya kesal, bagaimana bisa dia masih saja disalahkan? Salahkan saja Luhan yang sudah merebut kasih sayang Eomma nya. Ya, Sehun mengakui, di usianya yang sudah 22 tahun ini ia masih saja begitu kekanakan, karena tidak suka pada gadis kecil yang memang masih memerlukan kasih sayang itu merebut segalanya dari Eommanya.
.
Sedangkan yang menjadi topik pembicaraan, si gadis berkuncir dua itu membuatnya bersin tiba-tiba.
"Luhan? Apa kau flu?" Tanya Baekhyun di sela-sela pelajaran. Gadis berkuncir dua itu tengah menyeka hidungnya dengan tissue yang barusan diberi Baekhyun. "Ah, terimakasih Baekhyun. Tidak, aku tidak flu." Ucap Luhan sambil tersenyum pada teman sebangkunya.
"Hmm.. kurasa kau alergi serbuk bunga. Sekarang kan sudah memasuki awal musim semi, walaupun masih bersalju, kulihat bunga sakura di depan sekolah kita mulai bermekaran." Luhan berpikir, seingat gadis itu tubuhnya tidak pernah mengalami alergi-alergi terhadap hal hal tertentu. "Benarkah? Tapi sebelumnya aku tidak pernah mengalami alergi yang aneh aneh sebelumnya." Gadis berkuncir dua itu bertanya sambil bertopang dagu.
"Kalau bukan alergi, bersin tiba-tiba itu biasanya bertanda ada orang yang sedang membicarakanmu." Jelas Baekhyun, seperti mendapat sebuah informasi penting kemudian ia bertanya dengan semangat. "Kira-kira siapa yang sedang membicarakanmu Luhan?"
"Hmm.. Siapa ya?" Luhan mengerlingkan matanya genit sama ceria nya dengan Baekhyun, membuat gadis bermata sipit itu sebal. Sikap ceria Luhan itu seolah-olah menutupi sesuatu.
Baekhyun manyun."Hhhh.. sudahlah, terserah kau saja Luhan."
.
"Jadi bagaimana dengan skripsimu, Sehun?" Tanya Irene pada Sehun yang sedang mengaduk-aduk minumannya bosan.
Sehun menggeleng-geleng pasrah. "Masih revisi. Seperti biasa. Kau tau kan Irene, dosen pembimbing ku itu begitu sulit untuk di temui, namun sekalinya bertemu malahan revisi lagi."
"Wah, semangatlah Sehun. Mungkin dosenmu masih sayang padamu, dan ingin terus kau menemuinya. Oh ya, seingat ku dosen pembimbingmu berusia 40 tahun dan belum menikah. Hmm.. Jangan-jangan.." Ledek Zitao pada Sehun. Ketidak berdayaannya pemuda bermata sipit itu, entah kenapa ia begitu menikmatinya.
Sehun memelototi gadis bermulut kurang ajar itu. "Jangan bicara yang bukan-bukan Zitao. Ucapanmu itu sama sekali tidak membantu." Sahut Sehun ketus.
Zitao langsung mempoutkan bibirnya berpura-pura ngambek. Sedangkan Yifan hanya tersenyum melihat kelakuan gadisnya, dan kemudian mengusak rambut hitam pendek Zitao. Mendapat perlakuan seperti itu, Zitao tersenyum manja pada Yifan. Membuat Sehun muak.
"Wah, sayang sekali aku tidak bisa membantu mu dalam urusan seperti ini. Mungkin kalau kau minta bantuan tentang bagaimana berbisnis yang baik dan benar aku bisa. Namun kalau masalah seni, otak kanan ku sepertinya benar-benar tidak bisa menghasilkan apapun, sangat payah." Timpal Yifan sedih.
Irene tertawa melihat Yifan dan Zitao begitu berusaha untuk membantu Sehun namun sayang sekali bukan bidang mereka. Sedangkan Sehun kini terlihat stress dan kalau Irene perhatikan, di wajah tampan pemuda itu terdapat kantung mata yang begitu tebal. Perasaan nya terasa sedih melihat pemuda yang ia cintai diam diam selama 2 tahun belakangan ini terlihat begitu kacau.
"Aku mau membantumu Sehun. Lagi pula, skripsi ku sudah selesai sekarang dan hanya tinggal menunggu tanggal untuk sidang. Kira-kira kapan aku bisa membantu mu?"
Mendengar penawaran Irene membuat Sehun sontak bersemangat. Matanya terlihat berbinar. Merasa mendapat pencerahan.
"Wah benarkah? Kau bersedia membantu ku?" Tanya Sehun dengan sumringah dan mencoba memastikan sekali lagi, takut salah dengar.
Irene hanya mengangguk manis.
Sehun mengambil tangan Irene dan menggenggam nya erat erat. "Terimakasih banyak Irene. Kau memang Dewi penyelamatku. Aku cinta padamu."
Kali ini gantian Zitao dan Yifan tersenyum maklum melihat kearah dua sahabatnya itu. Jangan tanyakan dengan Irene, gadis itu sekarang sedang terbang ke angkasa setelah mendengar kata kata Sehun barusan. Walaupun ia tau Sehun tidak sepenuhnya benar benar mengucapkan kata itu dengan perasaan nya. Hanya sebatas sahabat. Namun salahkah bila untuk hari ini saja ia merasa bahagia?
.
.
.
.
Luhan membulatkan pipi nya semenjak Baekhyun menariknya dengan paksa ke lapangan basket sore ini. Entah apa yang membuat Baekhyun membulatkan tekadnya sehingga ia berani bertemu dengan Chanyeol secara langsung untuk memberikan suatu hadiah yang sekarang Baekhyun peluk erat.
Protes dan keluhan Luhan sama sekali tidak mempengaruhi tekad Baekhyun untuk memberikan syal rajut merah yang sudah terbungkus dalam papperbag bermotif bunga bunga dengan pita merah yang begitu cantik. Saat Luhan bertanya mengapa baru sekarang Baekhyun memberikan syal yang sebenarnya sudah dibuatnya dari awal tahun lalu, dengan santai Gadis bermata sipit itu menjawab 'Kau tau, kemarin saat kita pergi ke toko roti mu aku membeli sebuah fortune cookie. Dan kertas itu yang membawa ku sekarang.' Ingin rasanya Luhan protes, sesungguhnya bukan hanya Baekhyun yang terbawa, tapi dirinya pun ikut serta. Walaupun ada sebagian dari diri Luhan yang ikut senang karena perubahan sahabat baru nya ini kini sudah memberanikan diri untuk mendekati Chanyeol.
Gadis berkuncir dua kini tampak sedikit grogi saat memasuki pelataran lapangan, karena begitu banyak anggota klub basket yang sedang beristirahat sehabis latihan nya siang tadi. Mata Luhan menangkap begitu banyak pemuda asing yang menatap ke arahnya bingung, hanya satu yang ia bisa kenali, Taemin-yang kini sedang menatap kearah nya shock. Sedangkan gadis berambut panjang yang sedang menggandeng tangannya nampak tidak menghiraukan.
Dengan langkah yang mantap gadis bermarga Byun itu kemudian menghampiri Chanyeol yang sedang duduk di bangku-sedang berbincang dengan pelatih nya. Mereka tidak menyadari keberadaan Baekhyun dan Luhan. Mendapati keadaan tersebut, kemudian Baekhyun berdehem dengan sengaja. Gadis bermata sipit itu bersuara "Park Chanyeol, bisa kita bicara sebentar?" Ucap gadis itu sambil memberikan senyuman sejuta volt. Tangan Baekhyun membawa hadiah yang disiapkannya dari semalam.
Chanyeol dan pelatihnya pun termenung sebentar saat menatap ke arah kedua garis di hadapan mereka.
"Byun Baekhyun?"
Baekhyun mengangguk senang, dan kemudian Chanyeol pun mengajak mereka untuk berbicara di pos kesehatan dekat lapangan.
"Park Chanyeol? Kau mengenaliku?" Tanya Baekhyun pada Chanyeol begitu mereka sampai di tempat tujuan.
Park Chanyeol tersenyum hingga terlihat lesung pipinya. "Aku tahu, kau salah satu dari sahabat Taemin kan? Taemin juga sering membicarakan mu. Bagaimana aku tidak bisa mengenali gadis secantik dirimu."
Ternyata tanpa sepengetahuan Baekhyun, Chanyeol mengenalinya. Untuk pertama kalinya Baekhyun merasa beruntung bersahabat dengan Taemin. Karena sebelumnya ia selalu berpikir kalau Taemin sama sekali tidak suka melihat dirinya yang menyukai Park Chanyeol. Saat Baekhyun hendak memprotes, Taemin hanya bilang kalau Park Chanyeol tidak pantas untuk Baekhyun, dan ia menilai kalau ia gadis yang terlalu baik untuk Park Chanyeol. Namun apa yang membuat Park Chanyeol tidak pantas untuknya? Setahu Baekhyun, Park Chanyeol adalah pemuda yang ceria, sopan dan begitu baik hingga bisa membuat Baekhyun terbuai oleh pesonanya. Dan saat mendengar Chanyeol menyebutnya sebagai gadis yang cantik, membuat perutnya seakan diterbangi oleh banyak kupu-kupu, meskipun dirinya tau Chanyeol hanya mencoba merayu.
"Siapa namamu? Sepertinya aku baru melihatmu." Tanya Chanyeol memaksudkan ke gadis kuncir dua yang tampak asing padanya.
"Dia Xi Luhan, teman sebangkuku." Jelas Baekhyun terdengar seperti kumur-kumur akibat gugup.
Chanyeol mengangguk mengerti. Luhan menyenggol pelan bahu Baekhyun agar cepat melakukan niatannya tadi. Gadis sipit itu berdehem sebentar guna menghilangkan kegugupannya.
"Chanyeol.. " panggil Baekhyun memajukan dua langkah menjadi lebih dekat dengan pria bertubuh tinggi bak gedung-gedung di pusat kota.
"Aku datang kesini untuk memberikan mu sesuatu." Baekhyun menyodorkan sebuah papperbag bermotif bunga-bunga diikat dengan tali merah. Sungguh manis.
Mata Chanyeol membulat, "Apa ini?" Ia meraih papperbag tersebut. Tatapannya terus tertuju ke arah hadiah yang diberikan Baekhyun
"Terimalah. Ku harap kau membukanya nanti saja. Saat sudah dirumah."
"Tapi aku sedang tidak berulangtahun, Baek?"
Baekhyun terdiam, ia tak bisa menjawabnya karena tidak mungkin Baekhyun berterus terang pada Chanyeol jika hadiah ini sebagai tanda bahwa ia menyukai pria itu.
"Chanyeol, Baekhyun hanya sekedar ingin memberikan hadiah itu padamu. Karena ia pikir itu cocok untukmu. Ku harap kau menyukainya. Perlu kau tau, hadiah itu adalah hasil dari tangan Baekhyun sendiri." Celetuk Luhan. Baekhyun semakin menunduk malu. Wajahnya merah sempurna.
Sekilas Chanyeol memperhatikan jari jari tangan Baekhyun yang di penuhi dengan plester luka. Merasa diperhatikan oleh Chanyeol, gadis berambut panjang itu segera menyembunyikan kedua tangannya di belakang pinggang.
"Ok. Aku akan membukanya nanti. Terima kasih Baek kau sudah repot-repot memberikanku hadiah. Mungkin lain kali aku akan memberikanmu hadiah juga untuk membalas kebaikanmu."
Blush~
Entah kenapa, Baekhyun berpikir percuma saja memberikan hadiah seperti itu pada Chanyeol. Karena pemuda itu pasti sudah melupakannya. Melupakan kejadian yang selalu terkenang oleh benak Baekhyun, dan tak pernah lepas oleh hatinya. Namun hati kecilnya masih ingin berharap agar Chanyeol mengingatnya lagi, begitu pemuda itu membuka hadiah yang berisikan syal merah rajutan tangan buatannya. Yang ia rajut dengan seluruh perasaannya.
"T-tidak perlu Chan. Aku tulus memberikannya. Aku permisi dulu."
Baekhyun berbalik dan menarik tangan Luhan untuk segera pergi meninggalkan tempat itu.
.
.
.
.
"Luhan! Apakah tadi aku terlihat memalukan? Atau mungkin badanku bau?" Tanya Baekhyun saat mereka sampai di depan gerbang sekolah.
Gadis berkuncir dua itu heran melihat kelakuan sahabatnya yang satu ini. Setelah memberanikan diri untuk memberikan syal untuk pujaan hatinya, sekarang sahabatnya bertingkah aneh seperti ini. Apa memang setiap gadis yang sedang jatuh cinta seperti ini? Pikir Luhan bingung.
"Atau mungkin rambutku berantakan? Ayolah bicara Luhan jangan diam saja.. Lihat, rambutku berantakan, badanku bau, bahkan tubuhku terlihat begitu gemuk. Astaga aku tidak tau apa yang dipikirkan oleh Chanyeol saat aku menemuinya tadi!" Ceplos Baekhyun benar-benar terlihat seperti gadis gila.
Luhan sekarang mulai kesal ternyata sahabatnya yang satu ini sedang krisis percaya diri. Luhan sekarang sedang berpikir kemana perginya gadis pemberani yang baru saja memberanikan diri menemui bahkan memberikan hadiah untuk pemuda yang disukai nya.
"Apa yang kau khawatirkan? Kau tampak begitu cantik. Rambut mu tidak berantakan, badanmu tidak bau, dan kau terlihat langsing. Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal yang bukan-bukan." Jelas Luhan agak frustasi.
"Bukan begitu Lu, aku hanya khawatir Chanyeol berpikir yang negatif tentangku.." suara Baekhyun kini terdengar lirih.
Mendengarnya membuat Luhan melunak sesaat, dan turut merasakan kegalauan hati sahabatnya yang satu ini. "Sudah lah Baekhyun, seharusnya Park Chanyeol merasa dirinya adalah pemuda yang paling beruntung di dunia. Karena gadis sebaik dirimu jatuh hati padanya, dan memberikan seluruh perasaanmu padanya."
"Benarkah? Entah kenapa aku hanya takut, Chanyeol membanding-bandingkan ku dengan Noona Noona yang biasa mendekatinya. Kau tau kan, kalau dengan Noona Noona cantik itu, aku sama sekali bukan apa-apa. Mereka bukan tandingan ku. Bahkan untuk bertanding denganku saja, rasanya begitu tidak pantas."
Luhan menghela nafas, dan mencoba menenangkan sahabatnya dengan mengelus rambut Baekhyun lembut. "Jika Chanyeol benar pemuda yang baik. Ia pasti menilai segala sesuatu bukan dari permukaan saja. Dan juga kalau kau benar benar-benar mencintai Chanyeol tulus, maka Noona Noona cantik itu akan kalah telak darimu. Karena mereka hanya ingin mendapatkan Chanyeol hanya menumpang ketenaran, lain darimu yang memang dengan tulus mencintainya, Baekhyun."
Dengan perlahan Baekhyun menyimak perkataan gadis kuncir dua yang sudah menjadi sahabatnya ini. Ia merasa bersyukur bisa bertemu dengan gadis seperti Luhan. Karena kata-kata Luhan barusan, percaya dirinya perlahan mulai muncul setelah mati tadi akibat pemikiran negatif yang timbul di benaknya tadi.
Baekhyun memeluk Luhan, "Terimakasih Luhan. Ku harap Chanyeol berpikir demikian."
Si gadis berkuncir dua itu pun ikut tersenyum dan membalas pelukan sahabat barunya itu.
"Sudah seharusnya, dia seperti itu Baekhyun. Mulai sekarang, hilang kan pemikiran pemikiran negatif itu dalam otakmu!"
"Arraseo.. Eomma"
"Yak!"
.
Segerombolan pemuda yang habis bermain basket itu sedang berjalan melintasi gerbang sekolah, setelah bermain basket mereka ingin melanjutkan acara dengan makan di kedai ramen langganan mereka. Terlihat ada beberapa pemuda yang tengah asik berbincang, salah satunya Park Chanyeol.
"Aku tidak habis pikir, apakah gadis itu tidak salah berani menghampirimu seperti itu Chanyeol?"
Chanyeol mendengus. "Aku juga tidak percaya, berani sekali dia. Bahkan begitu banyak gadis yang lebih cantik darinya, namun memberikan hadiah nya hanya di dalam loker ku."
"Astaga, untung saja saat ia memanggil mu, Noona Noona Fangirl mu sudah pulang. Aku rasa kalau Noona Fangirl itu melihat gadis malang itu, dia akan di bully habis-habisan Chanyeol." Ujar Zico, salah satu dari komplotan bergidik ngeri membayangkan Noona Noona Fangirl Chanyeol yang begitu mengerikan itu.
"Dengan wajah yang pas-pasan seperti itu, bahkan dia tidak terkenal. Berani sekali dia mendekatiku seperti itu. Dia pikir aku akan luluh hanya karena di beri hadiah seperti ini?" Keluh Chanyeol sambil melipat tangan.
Zico menepuk bahu Chanyeol. "Salah sendiri kau yang selalu bersikap baik pada gadis-gadis biasa seperti dia, kau tahu, gadis itu mudah terbawa perasaan hanya karena perhatian kecil yang bahkan kadang kita tidak sadari namun ia menganggap nya spesial. Lain kali kau harus hati-hati, Park!"
Chanyeol menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Jika aku dingin dan menolaknya, pasti gadis-gadis itu akan membenciku."
"Jadi apa maumu dasar pria brengsek?" Tanya Zico kesal seraya menoyor kepala Chanyeol.
Chanyeol hanya tertawa saja, dia memang pria brengsek dan ia mengakuinya. Begitu banyak gadis yang suka padanya, mengaku mencintainya, namun bukan berarti Chanyeol bodoh. Ia tau kalau gadis gadis itu hanya menyukai Park Chanyeol si pemuda pintar, terkenal, tampan, dan jago olahraga. Bukan Park Chanyeol dengan segala kekurangan, keburukan dan dirinya yang sesungguhnya. Walaupun sebenarnya ia menunggu gadis yang mencintai dirinya apa adanya. Namun, ia tidak mau berharap banyak. Gadis seperti itu mustahil untuk didapatkan.
"Kita kan masih muda. Jadi nikmati saja.." ucap Chanyeol sambil terkekeh.
"Sesukamu saja Idiot."
Pemuda tampan dan sombong yang bernama Mino pun menimpali. "Coba kau lihat Chanyeol, apa yang gadis itu berikan padamu.. kalau dilihat dari bungkus nya saja, sudah pasti hadiah murahan."
Chanyeol pun melihat kearah papperbag yang tadi ia simpan di dalam tasnya. Dengan santai ia mengambil syal yang gadis itu rajut sepenuh hati.
"Hanya sebuah syal rajut kampungan. Tidak bermerek, sepertinya gadis itu membuatnya sendiri." Jelas Chanyeol, sambil berseringai.
Diantara gerombolan anak basket tersebut, ada Lee Taemin. Sahabat Baekhyun, yang juga mendengar setiap kata yang melecehkan sahabat perempuannya.
Taemin sedari tadi hanya diam saja, menahan kesal. Padahal sebelumnya ia sudah memperingati Baekhyun untuk melupakan perasaannya pada Chanyeol. Ia hanya tidak ingin kejadian seperti ini terjadi. Bukan sekali Chanyeol menjelek-jelekkan gadis yang berdatangan padanya. Singkatnya Chanyeol adalah pemuda brengsek. Ia selalu saja memperlakukan gadis sembarangan, menyampakkannya, dan kerap gadis itu di permainkan dahulu sebelum dibuang. Mendengar sahabatnya menjadi bahan olokan seperti ini membuat darahnya mendidih. Namun ia tidak ingin memberi tahu Baekhyun akan hal ini. Ia hanya akan membuat gadis itu semakin patah hati.
Chanyeol memanggil Taemin, sambil menyodorkan Syal merah buatan Baekhyun.
"Hei, Lee Taemin. Ini Syal buatan sahabatmu. Lebih baik kau saja yang menyimpan nya. Aku sudah sering menerima yang seperti ini. Dan sekarang sudah menjadi lap kaki dirumahku."
Taemin menatap nanar kearah syal merah itu. Diikuti tawa dari beberapa komplotan Chanyeol seperti Mino, dan Zico.
"Sudah ambil saja Taemin!" Teriak Zico.
"Benar, daripada syal itu berakhir di tong sampah. Apa kau tidak kasihan pada sahabat mu itu?" Timpal Mino, kemudian mereka tertawa karena lelucon ironis tersebut yang sama sekali tidak lucu menurut Taemin.
"Ambilah, aku sedang berbaik hati." Ucap Chanyeol seakan meledek. Ia tahu Taemin sedang menahan kesal, namun ia tak perduli.
GREB!
Pemuda tinggi itu terkejut saat melihat tangan mungil Baekhyun merampas syal yang baru saja hendak dibuangnya bila Taemin tidak berniat untuk mengambilnya.
"Jadi kau masih disini?" Tanya Chanyeol santai pada Baekhyun.
Sesaat sebelum kedatangan pemuda-pemuda itu Baekhyun dan Luhan masih berada di depan gerbang sekolah. Baekhyun memutuskan untuk bersembunyi dan ingin melihat Chanyeol lebih lama lagi, namun malang nasibnya, ia justru mendengar hal yang seharusnya tidak ia dengar. Hati Baekhyun sudah hancur berkeping-keping sedari tadi. Ia mendengar setiap hinaan, dan cemoohan yang Chanyeol berikan untuknya, dan syalnya yang ia rajut dengan seluruh perasaannya. Syal itu bukan hanya sekedar syal bagi Baekhyun. Tapi itu melambangkan segenap perasaannya pada Chanyeol yang tidak bisa ia ungkapkan dan ia tuangkan pada syal merah tersebut. Namun Chanyeol menyebutnya murahan. Berarti pemuda tinggi itu tidak menghargai cintanya, dan seluruh perasaannya.
Demi memunguti harga dirinya yang tersisa sekarang Baekhyun berdiri disini. Mengambil syal nya kembali. Chanyeol tidak pantas menerima syal itu.
Taemin terkejut melihat Baekhyun datang, dan tak lama kemudian Luhan datang menyusulnya. Gadis berkuncir dua itu juga sama terkejutnya dengan Taemin. Hatinya pun turut hancur bersama Baekhyun, sahabat baiknya. Ia tidak menyangka, kalau gadis sebaik Baekhyun akan diperlakukan seperti ini oleh pemuda yang dicintainya.
"Aku sudah mendengar semuanya." Kata Baekhyun singkat, jelas dan padat.
Mata sipit Baekhyun berkaca-kaca. Wajahnya memerah hingga telinga, bahu mungilnya bergetar. Menahan tangis. Ia sudah tidak tau harus bagaimana lagi.
Chanyeol hanya menyeringai. Zico dan Mino yang barusan ikut menghina Baekhyun, bungkam melihat gadis itu. Gadis itu terlihat begitu menyedihkan, namun ia mencoba terlihat tegar. Entah bagaimana bisa, kedua pemuda itu nampak menyesali perkataan mereka barusan. Lain dengan Chanyeol.
"Baguslah kalau begitu. Kau sudah mendengar semuanya kan? Kalau begitu aku tidak perlu repot-repot lagi, untuk menanggapi gadis seperti mu lagi."
Mendengar kalimat Chanyeol barusan hatinya bagai remuk hingga berkeping keping. Gadis berambut panjang itu tidak tahan lagi, ia tidak sudi Chanyeol pemuda brengsek itu melihat air matanya. Baekhyun pun memeluk syal buatannya dan lari meninggalkan semuanya. Tak lama kemudian Taemin menyusulnya.
Sekarang hanya tersisa gadis kuncir dua. Gadis itu menatap Chanyeol dan kedua temannya itu penuh dengan kebencian.
"Kau tidak ikut pergi?" Tanya Chanyeol sambil memutarkan bola matanya malas. Sekarang pemuda itu sudah tidak segan-segan menunjukkan sifat aslinya.
Tangan Luhan gemetar. Ia berusaha agar tidak menampar Park Chanyeol. Ia sudah tidak tahu apa yang harus dilakukan. Luhan tidak terima melihat sahabat nya Baekhyun diperlakukan seperti itu oleh pemuda brengsek yang tidak bertanggung jawab ini. Bibirnya begitu kelu, namun ia paksakan untuk berbicara. Setidaknya untuk membuat Park Chanyeol sadar kalau sebuah kesalahan besar membuat Byun Baekhyun patah hati.
"Asal kau tahu Chanyeol. Baekhyun mungkin bersedih karena kau sudah mematahkan hatinya dengan cara yang tidak berperasaan." sesaat bibir Luhan berhenti, suaranya terdengar begitu kacau.
"Namun kaulah yang akan paling menyesalinya. Karena kau telah kehilangan orang yang sangat mencintaimu." Tambah Luhan sambil menatap lurus kearah mata Chanyeol.
Kedua teman Chanyeol di belakang nampak sangat bersalah pada gadis malang itu. Sedangkan pemuda tinggi itu hanya diam saja menatap punggung mungil yang sedang mengejar sahabatnya. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Chanyeol, setelah mematahkan hati seorang gadis begitu buruk.
.
.
.
.
.
.
.
Dengan kebingungan Luhan mencari Baekhyun dan juga Taemin. Sepertinya kedua sahabat nya itu sudah pulang duluan. Gadis berkuncir dua kini duduk di depan halte bus depan sekolah, kebingungan. Dia sama sekali tidak tahu jalan. Karena biasanya ia di antar jemput oleh Jongin. Namun untuk hari ini, ia pulang bersama Baekhyun. Sayangnya Baekhyun sudah pulang duluan dengan Taemin karena kejadian tadi. Hatinya ikut sedih saat mengingatnya.
Hari sudah nampak mulai gelap, dan sudah ke 6 kalinya bus lewat. Namun ia tidak berani menaikinya. Ia tidak tahu bila naik bus harus lewat rute yang seperti apa. Singkatnya Luhan sekarang tengah tersesat.
Dengan pengetahuan yang seadanya, Luhan mencoba berjalan sambil menebak-nebak jalan. Terlambat baginya menyesali tidak membawa peta Seoul hari ini. Walaupun bertanya, ia tidak tahu dimana dan apa daerah tempat tinggalnya.
Matahari nyaris terbenam dan tiba tiba turun salju. Pantas saja sedari tadi Luhan merasa kedinginan. Sambil memeluk diri sendiri, ia pun melangkah kemana kaki kecilnya akan membawanya.
Saat melewati jalan, gadis berkuncir dua itu mendengar suara rengekan anak anjing yang berasal dari ujung gang. Sumber suara terdengar dari kardus lusuh di dekat tong sampah. Luhan terkejut saat mendapati seekor anak anjing puddle berbulu putih polos namun terlihat coklat karena kotor.
Di tengah hari bersalju seperti ini, tega sekali orang yang meninggalkan anak anjing ini dijalanan. Luhan pun berjongkok sambil mengambil anak anjing tersebut. Ia menemukan sebuah kertas didalam kardus yang berisikan kain lusuh satu satunya cara agar membuat anak anjing itu tetap hangat. Kertas itu bertuliskan 'Pungutlah Aku..'
Anak anjing putih yang sekarang berada di genggaman Luhan itu kemudian menjilati tangannya. Anak anjing malang ini pasti lapar, pikir Luhan.
Kemudian Luhan mengeluarkan bolu daging sisa makan siangnya dari dalam tas. Dengan lahap anak anjing itu memakan nya hingga habis. Setelah memberi makan anak anjing itu, ia pun berpikir untuk pulang.
Ia teringat dirinya tengah tersesat di tengah hari bersalju seperti ini. Bahkan langit sudah nampak begitu gelap. Gadis berkuncir dua itu sekarang tengah memeluk anak anjing putih itu agar tidak kedinginan. Salju mulai berjatuhan ke rambutnya, seingatnya ia membawa payung lipat kemarin. Saat ia memeriksa tasnya, ternyata ada. Luhan bersorak dalam hati. Ia pun memayungi anak anjing itu dengan payungnya.
"Maafkan aku anak anjing. Tapi kurasa aku tidak boleh memungutmu. Aku juga tidak bisa mengurusmu." gadis itu bermonolog sendiri.
Sambil tersenyum gadis itu berjongkok sambil memayungi anak anjing yang ia masukkan lagi kedalam kardus. "Ironis sekali, kita sama-sama tersesat anjing kecil. Aku mau pulang tapi tidak tahu jalan.."
KRUCUKK!
Luhan tertawa mendengar suara perutnya yang terdengar begitu memalukan.
Tanpa gadis berkuncir dua itu sadari, ada seorang pemuda tinggi sedang mengawasi tingkahnya sedari tadi. Sehun mencoba menahan tawa saat mengetahui fakta kalau gadis berkuncir dua itu tersesat dan juga kelaparan bersama anak anjing di pinggir gang dekat rumahnya. Bahkan jarak rumah mereka sudah tinggal 100 meter lagi, tapi gadis itu bilang dirinya tersesat. Aigoo.. batin Sehun.
"Kuncir dua!"
Gadis itu tersentak kaget mendengar suara yang sudah tidak begitu asing baginya.
"Sehun Oppa?" Tanya Luhan sambil menghadap Sehun.
Sehun tertawa melihat wajah gadis itu yang kemerahan akibat kedinginan. Rambutnya yang acak-acakan dan muka kumal khas anak pulang sekolah. "Ayo kita pulang, kau tersesat kan?"
Bahkan gadis ini tidak memakai mantel atau pun syal sama sekali di hari yang dingin ini, keluh Sehun dalam hati. Saat Sehun mencoba meraih tangan Luhan, gadis itu justru menepisnya. "Kenapa? Kau tidak ingin pulang?"
Luhan mempoutkan bibirnya. "Apa kau punya rasa kemanusiaan? Lihat anak anjing itu! Apa kau tega meninggalkannya sendirian Oppa?!" Protes Luhan pada pemuda tinggi yang sama sekali tidak memperhatikan dirinya.
Dengan cuek, Sehun melirik ke arah anak anjing itu tidak berminat. Anak anjing itu sedang menjulurkan lidahnya bersemangat sambil memperhatikan mereka berdua. "Tidak. Sudah tinggalkan saja dia. Ayo kita pulang."
Sehun pun menyeret Luhan yang bersikeras ingin tetap bersama anak anjing itu.
"Tapi kasihan kan! Yak! Sehun Oppa!" Gadis mungil itu mencoba melawan tenaga pemuda yang tingginya mencapai 6 kaki lebih itu.
Sehun menarik tangan Luhan kedalam kantung mantel panjangnya. Tangan mereka sambil bergenggaman di dalam kantung Sehun, sedangkan tangan Luhan yang satu lagi sedang dihangatkan oleh Sehun dengan meniup-niup genggaman tangan Luhan.
"Tanganmu beku kuncir dua. Sudah berapa lama kau berada di luar sini?" Tanya Sehun, namun dirinya masih berfokus untuk menghangatkan tangan gadis bermata rusa itu.
Tanpa diminta, pipi Luhan makin memerah, jantung nya berdebar begitu kencang. Ia khawatir hal itu akan terdengar oleh Sehun. Detak jantungnya makin kencang saat tanpa sengaja mata rusa itu bertatapan langsung dengan mata Sehun yang tajam. Wajah Luhan kini memerah, hingga ketelinga.
Sehun dengan jahil menowel hidung bangir Luhan yang merah.
"Biarkan saja anak anjing itu disana. Kau tidak bisa mengurusnya Luhan. Pasti nanti akan ada orang yang datang dan memungutnya, dan orang itu pasti bisa merawatnya lebih baik daripada dirimu."
Sebenarnya Luhan masih ingin mengurus anak anjing malang itu, tapi kata-kata Sehun ada benarnya juga. Sambil melangkah menuju rumah, ia berdoa agar anak anjing itu di pungut oleh orang yang baik dan bisa merawatnya.
"Sehun Oppa bagaimana kau bisa menemukan ku?" Tanya Luhan memulai percakapan.
Senyum Sehun mengembang. "Sama seperti anak anjing itu. Aku mendengar kau melolong minta pertolongan."
Lagi-lagi Sehun meledeknya, "Yak!" Luhan segera memukul bahu pemuda itu dengan tangannya yang bebas.
Sehun tertawa, kemudian menjelaskan. "Aku baru saja pulang dari kampus. Saat di perjalanan aku melihatmu sedang memayungi anak anjing itu. Ternyata gadis manja seperti mu itu mempunyai sisi kemanusiaan juga ya.."
Mata Luhan terbelalak mendengar sebutan dirinya oleh Sehun. Tidak terima. "Apa? Gadis manja?"
Sehun tertawa lagi. Entah kenapa meledek Luhan, si gadis berkuncir dua ini begitu menyenangkan bagi Sehun akhir-akhir ini. Membuat gadis ini kesal, dan marah adalah hobbinya.
"Ayo kita harus cepat pulang, pasti Eomma mengkhawatirkan mu." Sehun mencoba mengalihkan perhatian Luhan.
.
Sesampainya dirumah, Eomma menyambut mereka berdua.
"Luhan, kenapa baru pulang sekarang? Eomma mengkhawatirkanmu sayang." Begitu Luhan sampai, Eomma memeluk Luhan.
Sehun hanya tersenyum kecut begitu melihat Eommanya dan Luhan.
"Maafkan aku Eomma. Aku tersesat saat mau pulang tadi. Tapi beruntung aku berpapasan dengan Sehun Oppa, jadi kami bisa pulang bersama." Jelas Luhan menyesal telah membuat Eomma khawatir.
"Kemana Jongin? Bukankah Eomma sudah meminta Jongin untuk mengantar jemput mu?" Tanya Eomma bertubi-tubi.
"Jongin sedang eksul, sehingga kita tidak bisa pulang bersama Eomma."
Sehun panas melihat Eommanya begitu mengkhawatirkan Luhan. Bahkan sedari tadi Sehun berdiri disini, Eommanya sama sekali tidak menanyai dan menghawatirkan dirinya bila pulang terlambat. Kekanakan? Memang itu nama tengah Sehun kalau sudah menyangkut Eomma nya.
"Eomma, sudahlah. Aku lapar. Mana makanannya? Barusan saat aku bertemu dengan si kuncir dua pun aku mendengar suara perutnya yang memalukan itu."
"Yak! Oppa! Kenapa kau berkata seperti itu?"
Sehun menari Gangnam style dalam hati, setidaknya sekarang mereka sudah seri- mengingat kejadian mimpi terlarang itu.
Eomma Sehun menoleh kearah anak bujangnya. "Lapar? Kenapa kau panggil aku? Ambil saja sendiri di meja makan. Kau kan punya tangan dan kaki."
Sehun mendengus. Ia sudah menduga reaksi Eomma nya.
"Luhan? Benarkah itu? Kau kelaparan ya? Gadis yang malang. Kalau begitu, biar Eomma siapkan makanannya, sekarang kau ganti baju dan cuci muka dulu."
Luhan pun tersenyum dan menuruti perintah Eomma. Ia pergi ke lantai atas untuk berganti baju. Tidak mau mendengar protesan Oh Sehun pada Eomma nya yang terdengar sampai lantai atas.
.
.
.
.
Sehun menghampiri Eommanya yang sedang bersantai di depan televisi bersama Luhan setelah makan malam tadi.
"Eomma, tolong bawakan minuman dan snack kedalam kamarku. Ada temanku datang." Pinta Sehun pada Eommanya.
"Siapa yang datang malam-malam begini Sehun ?"
"Irene, dia datang ingin membantu mengetik skripsiku." Jelas Sehun singkat.
Mulut Eomma hanya membentuk o. "Baiklah, nanti Eomma akan datang kesana sebentar lagi."
Sehun pun pergi ke kamarnya.
Gadis berkuncir dua itu penasaran oleh teman Sehun yang datang malam-malam itu.
"Eomma? Irene itu seorang gadis?" Tanya Luhan pada Eomma saat mengambil jus jeruk di dalam kulkas.
Tanpa diminta Luhan mengeluarkan nampan dalam lemari penyimpan, dan menyiapkan dua gelas kaca.
"Terimakasih sayang," ucap Eomma melihat Luhan rajin. "Iya dia seorang gadis. Irene sudah sering datang kerumah ini. Kurasa dia pacar Sehun, namun saat ditanya, Sehun selalu mengelak."
PRANGG!
Tanpa sengaja Luhan menjatuhkan botol jus jeruk yang baru saja ia tuangkan kedalam gelas.
"Yaampun, Luhan." Pekik Eomma.
Entah kenapa kini hatinya begitu sakit mendengar perkataan Eomma barusan. Mendengar nya, kata-kata itu seakan menghujam jantung Luhan telak. Jadi Sehun Oppa sudah punya pacar? Pikir Luhan tidak percaya.
"Ah, maafkan aku Eomma. Tanganku licin." Luhan bergumam. Tatapan matanya kosong, masih shock.
Eomma memperhatikan tangan Luhan yang sedang memunguti beling. "Biar Eomma saja yang membersihkan ini."
Luhan pun segera membersihkan kekacauan yang ia buat. Sambil mengelap lantai, mata Luhan kini terasa panas. Begitu juga hatinya. Pikirannya terasa kosong.
"Luhan, sudah biar Eomma saja yang membersihkan ini. Dan kau antarkan ini ke kamar Sehun, ya sayang." Ucap Eomma sambil menyerahkan nampan berisi dua gelas jus jeruk, dan beberapa bungkus roti pada Luhan.
Luhan mencoba menarik sudut bibirnya, demi menciptakan sebuah senyuman. "Baiklah Eomma."
.
"Kamarmu begitu berantakan Sehun, tidak pernah berubah." Sergah Irene sambil meloncat ke atas kasur Sehun.
Sedangkan Sehun sedang berdiri canggung di depan pintu kamarnya. Kedatangan Irene yang tiba-tiba membuat pemuda itu terkejut. Belum lagi hari ini sudah malam. Ia tidak terbiasa dengan keberadaan seorang gadis di malam hari didalam kamarnya.
"Sehun, mana laptop mu?"
Dengan salah tingkah Sehun melangkah ke dalam kamarnya, dan menutup pintu tanpa mengunci pintu.
Lantai kamarnya begitu banyak benda bersesakan dan tergeletak sana sini. Sehingga tidak ada ruang untuk berjalan, Sehun meniti langkah dengan hati-hati.
"Matilda didalam tas." Sehun pun menghampiri Irene yang berada di kasurnya, sambil menenteng tas ranselnya yang berisi Matilda, MacBook air kesayangannya.
Saat ia hampir sampai ke kasurnya, kakinya menginjak tumpukan DVD yang tergeletak. Sehingga Sehun oleng, ia tidak mau terjatuh di lantai karena perpaduan antara lantai dan barang elektronik bukan sesuatu yang baik, jadi Sehun menjatuhkan diri ke kasur bersama Matilda. Dan di atas kasur ada Irene yang sedang terduduk disana.
BRUGH!
Sehun pun terjatuh menimpa Irene. Sial. Namun misinya berhasil, Matilda terselamatkan.
CEKLEK!
"Sehun Oppa. Ini aku bawakan minumannya.." ujar Luhan terpotong saat memasuki kamar Sehun, ia tidak menyangka akan melihat Sehun sedang menindih Irene di atas kasur.
Canggung.
Dengan gerakan kikuk, Sehun langsung menjauhkan dirinya dari Irene. Gadis berkuncir dua itu sama canggungnya melihat mereka berdua.
"Kuncir dua!" Ujar Sehun tidak tahu harus berkata apa untuk menjelaskan apa yang gadis itu lihat barusan.
Tangan Luhan sedikit bergetar menyaksikan pemandangan didepannya. "Aku harus meletakkan ini dimana?"
"Nghhh.. berikan saja padaku, biar aku yang meletakkannya."
Luhan melirik sebentar ke arah Irene yang sedang melihat ke arahnya dengan tatapan datar. Ia menyerahkan nampan tersebut pada Sehun. "Terima kasih" Ujar Sehun tersenyum kaku.
"Sehun, apa dia Luhan yang sering kau bicarakan?"
DEG!
Luhan terkejut mendengarnya, 'Jadi Sehun Oppa sering membicarakan ku?' batin Luhan.
Irene beranjak dan berdiri di hadapan Luhan, ia menjulurkan tangannya, "Hai Luhan kenalkan aku Irene. Senang bisa bertemu langsung denganmu."
"Ahhhh.. i-iyaaa. Senang bertemu denganmu juga, Eonnie."
Luhan tidak menjabat tangan Irene melainkan hanya sedikit membungkuk memberi salam. Setelah itu ia langsung bergegas keluar kamar.
BLAM
Irene menoleh ke arah Sehun dengan tatapan bertanya-tanya kenapa Luhan bersikap seperti itu. Sementara Sehun hanya menggaruk canggung tengkuknya.
.
.
.
"Luhan, apa kau menangis?" Tanya Eomma melihat tingkah Luhan yang aneh begitu gadis itu masuk ke kamar.
Ia memperhatikan bahu mungil gadis itu yang sedikit gemetar. Kemudian memeluknya dari belakang. Hati Luhan pun perlahan menghangat mendapati perhatian dari Eomma seperti ini.
Dengan sedikit ragu ia pun menghadap ke arah Eomma. Sehingga ia sudah tidak bisa lagi menyembunyikan airmata dan Isak tangis nya.
"Aku kangen Baba." Kata Luhan terbata di sela tangisnya. Meskipun sebenarnya kerinduannya akan Baba nya bukan penyebab utama tangis nya kali ini. Melainkan Sehun dan Irene.
"Kalau begitu apa kau mau menelepon Baba mu?" Tawar Eomma Sehun.
Luhan hanya menggeleng. "Ini sudah larut malam Eomma. Baba pasti sudah tidur, lebih baik biarkan saja dia beristirahat dulu."
Eomma hanya mengangguk mengerti. Gadis ini punya masalah. Eomma bisa membacanya, dan masalahnya bukan karena Babanya. Namun Eomma Sehun tidak mempermasalahkan nya. Mungkin ketika gadis ini siap, baru dia akan menceritakannya.
"Baiklah sayang, kalau begitu ayo kita tidur." Dekap Eomma sambil mengelus-elus kepala Luhan, membuat gadis itu nyaman hingga tertidur.
.
.
.
Setelah Irene pergi, Sehun sedang bosan berada di kamarnya. Ia pun memutuskan untuk duduk di sofa depan televisi sambil menonton acara yang sebenarnya ia tidak tonton. Sehun merasa sedang sumpek berada di kamarnya terus-terusan. Belum lagi ia sedang menenangkan suasana hatinya yang tadi agak kacau.
Sehun terkejut melihat gadis berambut panjang sepinggang turun dari tangga, dan menuju kearah kulkas.
"Luhan?" Tanyanya pada gadis itu.
Pemuda tinggi itu sedikit pangling, biasanya ia melihat rambut gadis itu terkuncir dua. Namun, malam ini ia melihat pemandangan yang langka. Luhan dengan rambut tergerai hingga pinggang.
Gadis yang di panggil pun menoleh.
"Kau belum tidur?" Tanya Sehun seraya menghampiri Luhan di depan kulkas.
Gadis itu menggeleng, sambil menenggak susu putih yang baru saja ia ambil dari dalam kulkas.
Sehun memperhatikan Luhan dengan seksama. Entah kenapa kulit gadis ini terlihat begitu putih, nyaris transparan. Sangat kontras dengan pipi dan hidung bangir nya yang agak memerah. Ia pun menangkap kelopak mata Luhan yang membengkak, dan dugaan Sehun gadis ini habis menangis. Namun anehnya, Luhan nampak begitu cantik di matanya. Hati Sehun berdesir.
"Oh ya Luhan. Kejadian yang tadi. Tolong jangan salah paham." Sehun pun bingung mengapa ia harus menjelaskan ini pada Luhan.
Gadis itu terlihat bingung. "Kejadian yang mana Oppa?" Tanya Luhan.
"Soal aku dan Irene di kasur tadi." Sehun merasakan pipinya memanas.
Luhan mengangguk mengerti. "Tidak apa kok. Aku tidak akan mengadukannya pada Eomma."
Gadis itu pun hendak naik keatas lagi, hatinya sakit karena topik pembicaraan ini. Ia tidak sanggup. Dan yang paling ia khawatirkan adalah airmata nya yang sudah terasa mau jatuh lagi. Ia harus segera menghindari Sehun.
Sehun mencegat Luhan. "Ah, Bukan seperti itu Luhan."
Luhan nampak kesal melihat Sehun. "Lalu yang seperti apa Oppa? Sudahlah aku mau tidur. Lepaskan aku."
"Kau salah paham! Aku tidak sengaja jatuh dan menimpa Irene yang sedang duduk di kasur. Jadi kumohon kau tidak usah berpikir yang macam-macam Luhan!" Sehun menaikkan nada suaranya terdengar sama kesalnya.
"Kau tau dari mana kalau aku berpikiran yang macam-macam Oppa? Lalu memang apa pedulimu bila aku berpikiran seperti itu?" Tanya Luhan tak kalah keras.
Sehun hanya diam saja. Gadis itu sudah benar-benar salah paham. Percuma saja menjelaskan. Dan suasana hati gadis ini sedang buruk, jadi Sehun bertekad untuk menjelaskannya nanti. Saat gadis itu kembali ceria. Lalu, Sehun pun menyingkir. Membiarkan gadis ini naik ke atas dan tidur.
"Kau benar Luhan. Kenapa aku harus peduli pada pikiranmu itu. Tidurlah!" Ucap Sehun sambil berlalu ke arah televisi.
Namun pikiran Sehun tak bisa lepas dari apa yang membuat gadis bermata rusa itu menangis, dan menghancurkan suasana hatinya sampai seperti itu?
Sedangkan Luhan dengan tergesa menaiki anak tangga sambil memegangi dadanya yang terasa begitu sesak. Dan air matanya yang tak kunjung berhenti.
Jadi seperti ini sakitnya. Luhan pun mengerti betapa sakitnya hati nya seperti sama yang dirasakan oleh Baekhyun. Gadis itu tidak menyangka dirinya akan bertemu dengan Sehun di lantai bawah, dan kemudian bertengkar seperti ini. Hatinya masih terasa sakit. Ia tidak siap untuk bertemu Sehun lagi, namun keadaannya tidak mendukung. Mereka serumah, sehingga mengharuskan mereka mau tidak mau bertemu lagi setiap hari.
Luhan pun mengakui, kalau ia memang cinta pada Sehun. Oppa yang selalu menemani liburan musim panasnya di Korea. Oppa yang dulu pernah menjadi kesatria yang menolongnya saat anak-anak kecil nakal itu mengerjainya. Cinta pertama nya saat masa kanak-kanak dulu. Luhan tidak pernah melupakan itu semua hingga saat ini. Bahkan saat Babanya dulu bilang kalau ia akan tinggal di Korea, hatinya merasa begitu senang karena dapat bertemu dengan Sehun Oppa nya lagi.
Tapi saat datang, Sehun Oppa nya, ternyata sudah beranjak dewasa dan melupakannya. Awalnya Luhan sedih, namun tak apa setidaknya ia masih bisa bertemu dengan Sehun. Walaupun sekarang, mereka tidak seakan dulu, namun Luhan tetap senang. Ia hanya bisa menyimpan semua kenangan ini sendiri. Tanpa bisa membaginya dengan Sehun.
Dan kini, saat mendengar Sehun Oppa sudah memiliki kekasih. Luhan turut bahagia karenanya. Karena Sehun sudah menemukan gadis yang tepat untuknya. Luhan berjanji ia akan mendoakan kebahagiaan untuk Sehun. Meskipun hatinya ikut hancur melihatnya.
.
.
.
TBC/Delete?
.
.
.
Mind to Review?
