My Silly Oppa

.

.

.

Hunhan's Fanfiction

Present by,

Parkizuna

Whole of this story is belong to me, except the casts, ofcourse.

Warn: Genderswitch, typos is my styles :D, tidak sesuai EYD

.

My Silly Oppa chap.4

.

.

.

.

.

Saat Sehun membuka pintu kamarnya, ia melirik ke arah jam di dinding ruang makan menunjukkan 7 pagi. Sesosok makhluk berbulu putih itu dengan lugunya mengikuti tuan barunya dari belakang. Benar, anjing kecil yang semalam ia temukan bersama Luhan. Ia lah pemilik nya sekarang. Pemuda berkulit albino itu pun menuruni tangga dan mencari Eomma nya.

"Eomma, mana gadis China itu?" Tanya Sehun begitu mendapati Eomma nya sedang membereskan toko, dan bersiap untuk buka.

Eomma Sehun berdecak. "Dia punya nama, Oh Sehun. Sama sepertimu.."

Walaupun pemuda itu sedang memutar bola matanya, namun hal itu sama sekali tidak membuatnya enggan membantu Eomma nya yang kini menjadi tulang punggung keluarga.

Ia pun segera menghampiri Eomma nya yang sedang mengisi keranjang-keranjang dengan kue kue yang baru datang.

"Iya.. iya.. Gadis kuncir dua itu, maksudku Luhan. Apa dia sudah berangkat sekolah?" Tanya Sehun masih penasaran.

Eomma Sehun melirik putra bungsunya dengan curiga.

"Dari sebelum matahari terbit ia sudah berangkat. Sepertinya sedang terburu-buru. Bahkan dia berangkat duluan tidak menunggu Jongin." Jelas Eomma nya.

Sehun diam saja mencerna informasi dari Eomma nya.

"Memangnya ada apa Sehun? Tidak biasanya kau menanyakan Luhan seperti ini?" Tanya Eomma menyelidik.

Pemuda itu tersenyum mendengar Eomma nya seperti itu.

Anjing mungil yang sedari tadi bersembunyi dibelakang kaki Sehun kemudian menunjukkan diri saat Eomma nya mengeluarkan bolu gulung berisikan daging. Anjing itu kelaparan. Sehun belum sempat memberikan makanan pada anjing itu pagi ini.

Mata Eomma melotot menyaksikan anak anjing yang berusaha mengambil kumpulan bolu gulung hangat di etalase toko.

"Sehun! Apa maksudnya ini?" Pekik Eomma nya terheran-heran.

Pemuda yang belum mandi namun tetap tampan itu dengan santai menggendong anak anjing miliknya dan kemudian menghampiri Eomma nya.

"Ayo Vivi, berikan salam pada pemilik rumah ini." Ucap Sehun kepada anak anjing itu di depan Eomma.

Dan Sehun menggerakkan tubuh Vivi seolah-olah sedang membungkuk.

"Hallo Eomma, namaku Vivi." Ucap Sehun dengan suara dibuat seperti anak kecil.

Dan seolah mengerti, anak anjing itu menyalak sekali. Ekornya bergerak kekanan-kekiri tanda hatinya tengah senang. Anak anjing itu begitu antusias dengan keluarga barunya. Membuat Sehun tersenyum senang melihatnya.

Pasti kemarahan Luhan akan hilang dalam sekejap setelah melihat anak anjing ini. Batin Sehun begitu menyayangkan gadis kuncir dua itu tidak melihat Vivi sedang mengenalkan dirinya pada Eomma.

Eomma hanya menatap shock pada putra semata wayangnya. Entah apa yang membuat Sehun yang sebelumnya membenci binatang dan tidak mungkin mau repot-repot mengurusnya tiba-tiba berbuat demikian.

Eomma mengurut keningnya frustasi. Lagi-lagi karena ulah Sehun.

"Eomma, setelah ini aku izin pergi dulu ya. Aku ingin membawa anjingku dulu berkencan. Kencan di petshop!"

Ya.. Sesuka hati mu saja Oh Sehun !

Dalam hati Eomma nya menduga keanehan-keanehan sikap Sehun merupakan bawaan dari mendiang Appa nya.

.

.

.

.

Hari sudah sore. Begitu pulang sekolah, ia memohon pada Kim Jongin agar diantar ke rumah Baekhyun. Luhan, Jongin dan Taemin mengerti apa yang membuat gadis bermata sipit itu tidak masuk hari ini. Dan Luhan begitu senang saat kemudian Jongin bersedia mengantar Luhan. Namun hanya mengantar ia tidak ingin ikut mengunjungi Baekhyun. Ia tau kalau Baekhyun pasti butuh waktu dulu sebelum bertemu dengannya dan Taemin, lain cerita dengan Luhan.

Jongin berhenti menggowes sepedanya tepat saat sampai di sebuah halaman yang begitu luas. Mungkin luasnya seperti sebuah ladang rumput? Karena sebelumnya Luhan pikir itu hanya sebuah ladang rumput, namun saat ia melihat sebuah rumah yang begitu besar dan mewah pikirannya pun berbeda.

"Jongin, apa ini rumah Baekhyun?" Tanya Luhan dan mengikuti Jongin yang berjalan menuju rumah besar yang kemungkinan 4 lantai tersebut.

Jongin terkekeh pelan, namun masih dapat terdengar oleh Luhan. "Iya benar. Ini milik Byun Baekhyun, si gadis yang suka sembarangan bicaranya itu. Ayahnya adalah direktur departemen store tempat biasa kita berbelanja, jadi jangan heran kalau ia bisa tinggal di rumah sebesar ini." Jelas Jongin sambil berjalan kearah pintu masuk dan mengetuknya pelan.

Luhan tidak menyangka, kalau Byun Baekhyun teman sebangku nya yang sehari-hari berpenampilan selebor, dan cenderung acak-acakan ternyata sebenarnya menyandang status putri konglomerat.

Begitu memasuki rumah tersebut, Luhan terkagum-kagum mengamati berbagai furniture mewah dan futuristik. Sesuatu yang tidak pernah Luhan lihat sebelumnya di Korea. Ada begitu banyak maid yang sedang berseliweran membersihkan tiap-tiap bagian rumah besar itu.

Salah seorang Maid yang melayani mereka terlihat lebih berumur dibanding maid-maid yang lain dan pakaiannya pun lebih terlihat seperti wanita karir dibanding pelayan.

"Tuan Kim. Ada yang bisa saya bantu?"

"Bibi Park, perkenalkan, ini Luhan teman Baekhyun. Dan dia ingin bertemu dengan Baekhyun."

"Sebenarnya, Nona Muda sedari kemarin tidak ingin bertemu dengan siapapun. Bahkan beliau menolak makanan yang kami bawa. Meskipun itu menu favorit nya." Jelas Bibi Park dengan wajah khawatir.

"Apa dia menangis Bi?" Kini Luhan yang bersuara, ia mencemaskan sahabatnya.

"Tidak, namun ia terlihat begitu murung.. Apa kalian tau penyebabnya?"

"Begini saja Bi, bagaimana kalau Luhan akan membujuk Baekhyun untuk makan. Pasti akan berhasil. Gadis itu harus di hibur." Saran Jongin sambil menghindari pertanyaan menjebak Bibi Park.

"Baiklah.. Nona Muda sekarang berada di ruang keluarga."

.

.

.

Sambil memegangi nampan berisikan piring-piring yang penuh makanan lezat, Luhan memasuki ruang keluarga. Ia mendengar dentingan piano yang begitu indah, namun terasa begitu sedih, membuat hatinya terenyuh sesaat ia melihat ternyata sahabatnya yang tengah memainkan piano. Sebuah Grand Piano putih besar terletak di tengah-tengah ruang keluarga yang begitu luas. Begitu kontras dengan tubuh Baekhyun yang mungil.

Baekhyun tau, kalau Luhan datang. Luhan meletakkan nampan tersebut di meja terdekat.

Dengan perlahan Luhan pun mendekati piano. Dan duduk di samping Baekhyun, permainan piano tersebut kemudian terhenti.

"Luhan, mau apa kau kesini?" Tanya Baekhyun, namun tidak mampu menatap bola mata rusa milik Luhan.

Bukannya menjawab pertanyaan Baekhyun, Luhan malah tersenyum melihat ekspresi sahabatnya yang sekarang nampak sedikit kesal.

"Melodi yang indah. Karya Bach?"

"Disalin oleh Bach, tapi aslinya oboe concerto oleh Alessandro Marcello."

"Itu indah, tapi sangat sedih, seperti melodi melankolis."

Baekhyun tersenyum melihat Luhan. Ia mengerti kedatangan gadis berkuncir dua ini bukan untuk membahas atau mengungkit kejadian yang begitu menyakitkan kemarin. Tapi hanya untuk menghibur dirinya. Menghibur dirinya yang kini sudah menjadi sahabatnya.

Luhan pun mengambil alih piano tersebut, jemarinya bergerilya memainkan tuts putih dan hitam. Menari-nari memainkan lagu yang Baekhyun kenal. Karya Chopin, Nocturne dengan irama polka. Membuat suasana ruangan tersebut mendadak lembut dan sendu.

Baekhyun tersenyum bahagia, terharu, dan yang perasaan yang membuatnya senang adalah, ia merasa diinginkan. Sesuatu yang sangat jarang ia rasakan, sesuatu yang sebenarnya seharusnya ia dapatkan dari kedua orang tuanya, namun kedua nya begitu sibuk dengan bisnis mereka. Dalam hati ia bersyukur pada Tuhan telah mendatangkan seorang sahabat untuknya.

.

.

.

.

.

Kedua gadis itu tengah duduk di bangku taman bunga keluarga Baekhyun. Mereka memandang kearah matahari terbenam, langit menampakan pesonanya dengan warna merah saga. Keduanya tengah terlarut pada pikiran mereka masing-masing.

Dalam pangkuan Baekhyun, ia memeluk sebuah syal merah. Bukan syal yang waktu itu dibuang oleh Park Chanyeol, karena terlihat begitu kusam di makan usia, dan compang-camping disana-sini.

Luhan ingin bertanya, namun keheningan yang tercipta membuatnya enggan.

"Luhan, aku ingin menceritakan sebuah kisah padamu." Kata Baekhyun memecahkan keheningan diantara mereka berdua.

"Kalau begitu berceritalah.."

"Pada suatu hari, ada seorang gadis kecil yang sedang di diejek oleh temannya karena tidak memiliki orang tua. Padahal, sebenarnya gadis itu memiliki orang tua, namun orang tua nya begitu sibuk dengan bisnisnya dan tidak pernah datang." Baekhyun menatap kearah matahari yang mulai terbenam itu dengan tatapan sendu, mengenang masalalu pilunya dulu.

"Gadis kecil itu masih berusia 5 tahun. Puncaknya saat pohon sakura tengah menggugurkan daun dan bunganya.. Tiga bocah lelaki sok jagoan mencoba mengambil boneka kesayangannya.. Saat ketiga bocah ini hendak mengambil boneka tersebut datanglah seorang penolong."

"..Bocah gendut berkaca mata pun datang menolong nya. Namun bukannya menolong, dia yang malah tidak tertolong," Baekhyun terkekeh sebentar. "Kacamata nya patah karena dihajar oleh ketiga bocah sok jagoan itu, dan syal merah yang melingkari pundak bocah gendut itu dirusak. Namun setidaknya, ia telah membuat ketiga bocah nakal itu pergi. Gadis kecil itu begitu takut dan gugup sehingga ia lupa mengucapkan terimakasih, melihat bocah gendut yang sedang meringis kesakitan itu ia mengambil syal merah yang tergeletak di tanah dan memberikannya. "Simpan saja, syal itu. Aku sudah tidak membutuhkannya." Kata bocah gendut itu kemudian pergi meninggalkan si gadis kecil."

"Sebelum jauh, gadis kecil itu berteriak: "Siapa namamu?" Kemudian bocah gendut itu meneriakkan namanya. "PARK CHANYEOL!" "

Dan untuk sekian kalinya Baekhyun menangis. Namun tangisan ini ia tekankan untuk yang terakhir kalinya. Terakhir kalinya karena ia memutuskan akan melupakan Park Chanyeol, cinta pertamanya.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

A/N

Hai hai.. Ketemu lagi ^_^

Sebelumnya aku mau minta maaf karena udah lama banget gak update, ngaret banget ini sumpah deh.

Mohon maaf juga kalau FF ini banyak kurangnya, ini semua karena keterbatasan aku dalam menulis. Mohon bimbingannya ya.

Makasih sebanyak-banyaknya buat kalian yang udah nyempetin baca FF Abal aku ini.

Dan kalian yang udah Follow, Favorite, dan Review cerita ini

Terimakasih banyak, tanpa kalian FF ini ga ada apa-apanya.

Oh iya buat kalian yang masih ga ngerti jalan ceritanya atau bertanya-tanya aku udah nyiapin QNA :)))

.

.

.

QUESTION&ANSWER

Q: Sehun jadi Pedophil?

A: Bukan! Dia bukan Pedophil. Tapi dia Efebofilia.. haha..

Q: Chanyeol jahat.. Baek jangan mau sama dia!

A: Nanti dia tobat kok, soalnya kan aku CBHS :)) pokonya mereka harus bersatu! Walaupun nanti bakalan ada cowok lain yang ngedeketin Baek, Oppss.. Spoiler:))

Q:Kenapa harus ada Irene?

A: Kenapa yaa...? Abisnya kalau gak ada nanti FF ini jadi flat ga ada konflik, lagian Sehun juga ga suka sama Irene, jadi si Irene kena Friendzone. #pukpukIrene

Q:Siapa Eomma nya Sehun?

A: Namanya adalaaaaaahhhhh... *jengjeng* di Chapter depan dikasih tau kok ;)

.

.

.

.

See you in next Chapter!

.

.

.

Mind to Review? :3