My Silly Oppa


Hunhan's Fanfiction

Present by,

Parkizuna

Whole of this story is belong to me, except the casts, ofcourse.

Warn: Genderswitch, typos is my styles :D, tidak sesuai EYD


My Silly Oppa Chapter 5


The moment you hesitate, you've already lost.


Dimalam yang sunyi ini, aku merindukanmu. Hei, ini aneh. Mana mungkin aku menyukaimu?

Tok! Tok! Tok!

"Sehun Oppa!" Jerit suara yang sudah sangat Sehun kenal mengalihkan semua fokusnya pada skripsi-lama tak tersentuh.

Sepulang dari rumah Baekhyun tadi Luhan amat terkejut melihat anjing putih kecil yang pernah ia temukan di pinggir jalan waktu itu. Luhan heran mengapa bisa anak anjing itu ada disini, dan belum lagi kalung anjing yang sekarang di gunakan di kalungkan ke lehernya, disana tertulis nama 'Vivi'. Jadi anak anjing ini sudah ada yang mengambil, tapi anehnya kenapa sekarang anjing yang sekarang bernama Vivi itu berada di rumah ini? Apa mungkin Sehun Oppa yang memungut anak anjing ini?

Saat bertanya pada Eomma, ia hanya mendengus sebal dan menggerutu samar, dan Luhan masih tidak mengerti. Jadi sekarang ia memutuskan untuk bertanya pada Sehun, walaupun sebenarnya ia masih kesal dan tidak ingin melihat wajah pemuda tampan tersebut, namun hanya Sehun lah yang dapat menjawab pertanyaan ia sekarang.

Tok! Tok! Tok!

"Sehun Oppa, cepat buka pintunya! Ada yang ingin aku tanyakan padamu!" Seru Luhan di balik pintu.

Kalau bukan Luhan, sudah dipastikan Sehun tidak akan keluar dari kamarnya. Karena momen ini sangatlah Kramat, yaitu disaat pintu hati Sehun terbuka dan tergerak untuk menyusun skripsi nya tanpa harus disuruh atau diancam. Namun sekali lagi, karena yang berada di depan pintu nya adalah Luhan, ia pun menjeda sebentar momen Kramat tersebut. Sehun bersumpah akan mengacak-acak kuncir dua Luhan apabila apa yang anak kecil itu tanyakan ternyata sama sekali tidak berfaedah.

Sehun pun mengacak rambutnya sebentar, kemudian beranjak dari Matilda yang masih menyala.

"Iya, tunggu sebentar!" Sahut Sehun sebal. Ketukan di pintunya pun terhenti.

Sehun mematut dirinya di cermin terdapat sesosok pemuda berambut berantakan, mengenakan kemeja piyama garis-garis namun tetap tampan. Sesaat terlintas di benak Sehun untuk membalas insiden mimpi indahnya beberapa saat yang lalu. Kemudian Sehun membuka seluruh kancing piyamanya dan membiarkan dada bidangnya dan otot perutnya terpampang nyata. Sehun pun menyeringai licik. Ia pun membenarkan posisi kacamatanya-yang biasa ia pakai saat belajar.

Sehun beranjak dan membuka pintu sambil melipat tangannya di dada.

"Apa yang ingin kau tanyakan?"

Sedangkan Luhan, pulang sekolah, masih menggunakan seragam, rambut kuncir dua yang berantakan karena diterpa angin saat dibonceng Jongin, wajah kucel namun tetap imut sambil menggendong Vivi anjingnya. Sehun tersenyum melihat gadis itu sudah tidak menghindarinya lagi seperti semalam.

Begitu bola mata rusa milik Luhan menangkap pemandangan yang tersuguh kan di depannya, sontak wajahnya memanas. Dan tumpukan pertanyaan yang tadi menumpuk di otaknya perlahan memudar dan tergantikan oleh sosok Oh Sehun yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Otot-otot liat Sehun, terutama di perutnya membuat Luhan menutupi wajahnya dengan Vivi. Luhan mengambil nafas panjang dan memejamkan mata. Luhan merasa seperti anak umur dua tahun, jika ia menutup mata maka ia tidak benar-benar berada disini.

"Oppa! Kenapa kau tidak mengancingkan piyama mu itu ?" Teriak Luhan malu, gugup dan sebal.

Sedangkan Sehun sedang mengulum senyum penuh kemenangan.

Bagus, 1-1.

"Apa katamu? Kancing piyama ku? Memangnya kenapa? Kenapa aku harus mengancingkan piyama ku? Ini kan kamarku, jadi sesukaku saja!" Sergah Sehun sambil menarik Vivi dari tangan Luhan, membiarkan ia kehilangan pelindung matanya.

"Hei, ini anjingku! Vivi kenapa kau mau diambil oleh gadis berkuncir dua yang aneh?" Desah Sehun sambil mengelus elus bulu Vivi berlebihan.

Luhan membuka matanya sebentar, lalu memberanikan diri menatap mata Oh Sehun. Tatap mata nya saja Luhan, jangan lihat ke perutnya.

"Jadi sekarang kau pemilik Vivi?" Tanya Luhan sekarang mulai memberanikan diri, ia hanya berfokus pada wajah tampan Sehun yang kini mengenakan kacamata, tidak lebih dari itu.

Sehun berkacak pinggang. "Yap, benar sekali. Aku bukan pemilik nya, tapi Vivi adalah Baby-ku dan aku adalah Daddy-nya Vivi."

Luhan tercengang mendengarnya,

"Lucu sekali, kenapa wajah dan telingamu memerah?" Ledek Sehun menikmati rona wajah Luhan, dan dengan menyebalkan pemuda pucat itu pun menaruh telapak tangannya di pipi Luhan.

"Tidak! Aku tidak memerah!" Sergah Luhan sambil mempoutkan bibir pink alaminya dengan lucu.

Sehun menyentuh lembut pipi Luhan. Mata Sehun pun melembut, "Jadi kau sudah tidak marah?" Tanya Sehun

Luhan terkesiap, kemudian ia menepis tangan Sehun di pipinya, namun sebelum ditepis Sehun mencubit kencang pipi gadis berkuncir dua itu dengan kencang.

"Senangnya, melihatmu sudah tidak menjauhi ku lagi, adik manis." Kini tangan Sehun berpindah pada puncak kepala Luhan.

Debaran jantungnya kini kian tak menentu. Belum lagi melihat kearah mata Oh Sehun, semua marah, kesal, dan sakit hatinya hilang. Begitulah nasib Luhan, luluh hanya karena melihat mata Oh Sehun.

"Luhan! Apa kau sudah mengganti seragammu? Kalau sudah ayo turun bantu Eomma menyiapkan makan malam!" Teriak suara Eomma dari bawah.

"Ah- iya.. Baiklah Eomma, aku akan kesana!" Sahut Luhan gelagapan, masih tidak bisa menetralisir detak jantungnya.

Sehun menatap kearah Luhan sambil tersenyum, pemuda itu begitu terhibur melihat rusa kecil itu berada disisinya.

"Kenapa kau menatapku seolah-olah aku ini binatang yang berada di kebun binatang?" Tanya Luhan heran pada Sehun.

Sehun menyeringai- menyebabkan ketampanannya naik 100%. Belum lagi ia belum mengancingkan kemeja piyama garis garisnya.

"Kau salah. Nampaknya akhir-akhir ini aku melihatmu semakin cantik saja. Apa kau sedang jatuh cinta? Biasanya gadis akan menjadi cantik kalau ia sedang jatuh cinta."

DEG!

Bagaimana ia bisa tau?

Luhan mencoba menutupi shocknya."Apa? Jatuh cinta? Mungkin kau sedang mabuk Oppa, bicaramu ngawur!"

Ia pun segera melarikan diri ke kamarnya untuk ganti baju, karena takut pertanyaan ini mulai beranak dan semakin menyelidik.

"Hei Luhan, siapa pemuda beruntung itu? Kim Jongin atau Lee Taemin?" Teriak Sehun tepat saat ia menutup pintu kamarnya-bersama Eomma.

Tentu saja kau, Bodoh! Umpat Luhan dalam hati.


Setelah makan malam, Eomma, Sehun dan Luhan berkumpul di ruang tv. Mereka menyaksikan acara berita. Kepala Sehun berpangku pada paha Eomma. Sedangkan Luhan memilih duduk di sofa ujung. Mulut mungil Luhan tiada hentinya mengunyah biskuit favoritnya yang sekarang sudah menjadi hak milik. Sehun cemberut dan merajuk pada Eomma karena biskuitnya sekarang sudah di hak milik oleh gadis berkuncir dua itu, bukannya membela Sehun Eomma justru memelototi nya penuh ancaman.

Presenter cantik di televisi tengah memperkirakan cuaca di Korea Selatan dalam seminggu kedepan. Sepertinya akan sering datang hujan dan juga petir ataupun badai dikarenakan cuaca kini mulai memasuki musim panas.

"Ah, aku benci sekali cuaca seperti ini.." gumam Luhan saat acara tersebut menampilkan ke kacauan cuaca tersebut pada tahun lalu, begitu banyak pohon tumbang, kemacetan, dan lain lain.

"Sepertinya kau tidak berubah, sayang. Apa sampai sekarang kau masih takut pada petir?" Tanya Eomma teringat pada masa kecil Luhan begitu takut pada hujan lebat dan petir. Bahkan Yixing harus menemaninya semalaman karena gadis bermata rusa itu tidak bisa tidur karena ketakutan oleh kilat dan petir yang menyambar-nyambar.

Luhan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Eumm.. Sudah sedikit berkurang sepertinya Eomma." Ujar gadis berkuncir dua itu berlagak berani namun dalam lubuk hatinya sedang ketar-ketir.

Eomma Sehun tersenyum maklum melihat kelakuan Luhan. "Benar juga ya, Kau kan sudah besar Luhan."

Luhan kemudian tertawa kaku. "Ah, benar Eomma aku kan sudah dewasa. Tapi sebenarnya aku sedikit takut. Sedikit saja kok!" Jelas Luhan terdengar berusaha keras untuk meyakinkan Eomma bahwa ia sudah tidak takut lagi. Walaupun sebenarnya ia masih sangat ketakutan pada petir dan kilat.

Sehun diam saja mendengarkan kedua percakapan wanita dirumahnya. Seorang anak kecil yang takut pada hujan, petir dan kilat entah kenapa membangkitkan sebuah ingatan. Ia berusaha mengingat nya, namun ia rasa otaknya mendadak tidak mau bekerja.

"Sehun, apa kau ingat Min Jung sepupumu yang sangat tomboy itu?" Tanya Eomma tiba-tiba mengagetkan Sehun yang sedang terlarut pada pikirannya.

Sehun mengingat nya sebentar, kemudian ingatan ia sedang mengangkat rok gadis tomboy itu terlintas. "Min Jung anak gadis paman Kim itu? Aku ingat padanya Eomma."

"Besok dia akan menikah! Eomma akan pulang ke Busan sehari untuk mendatangi pernikahannya."

"Bagaimana bisa gadis tomboy itu menikah? Kira-kira pria seperti apa yang mau menikahi nya?" Tanya Sehun dan terkekeh sebentar. Kemudian kekehannya terhenti. "Apa barusan kau bilang Eomma? Pergi sehari?"

"Iya benar. Kau jaga rumah ya,"

"Aku mau ikut~" rengek Sehun.

Eomma menggeleng. "Kalau kau ikut bagaimana dengan bimbingan skripsi mu? Lalu Luhan? Tapi kau bisa menutup toko kalau kau merasa kerepotan Sehun-ah."

Sehun merajuk. Kemudian mengkerut kan bibirnya seperti anak TK yang marah tidak dibolehkan main hujan-hujanan oleh Eommanya.

"Sehun, bagaimana denganmu?" Tanya Eomma.

"Denganku maksudnya Eomma?" Tanya Sehun balik disela sela frustasi nya akan ditinggal Eomma seharian penuh.

"Min Jung saja sudah menikah. Bagaimana denganmu?"

Seketika Sehun merasa tersedak entah oleh apa.

Luhan mendengarkan dengan seksama, melihat reaksi Sehun Oppa. Dalam hatinya khawatir mendengar hal ini akan membuat hatinya sakit lagi namun ia juga tidak dapat menahan rasa penasaran nya.

"Kau kan sudah cukup umur Sehun. Setidaknya calon saja. Apa Irene adalah calon mu?"

Lagi-lagi Irene. Luhan nampaknya sudah terbiasa oleh nama itu. Ia dapat merasakan hatinya berdenyut nyeri sesaat, namun tergantikan oleh perasaan yang kemudian menguat karena ini belum seberapa sakitnya dibanding saat melihat Sehun Oppa dan Irene di kamar kemarin.

Sehun merasa tertohok oleh pertanyaan tersebut.

"Astaga Eomma. Aku belum memikirkan hal sejauh itu. Bahkan untuk saat ini saja aku belum menyelesaikan skripsi ku." Jawab Sehun kebingungan entah apa yang merasuki Eomma nya.

"Lagipula, apa Eomma ingin aku menikah secepatnya?" Tanya Sehun pada Eomma sambil bercanda.

Mata Sehun membola saat melihat Eomma nya mengangguk. "Eomma sudah tidak sabar ingin menggendong cucu dari mu Sehun."

Sehun mengusap wajahnya frustasi. Tercengang. Kemudian melarikan diri nya keatas menghindari Eomma. Namun saat ia melangkahkan kakinya di tangga, pemuda tampan itu terhenti.

"Aku mau melanjutkan belajar dulu Eomma. Jangan ganggu aku dulu."

Luhan tersenyum saat terdengar Sehun membanting pintu kamarnya dari atas.

"Eomma sepertinya kau sudah membuat Sehun Oppa kebingungan." Kata Luhan sambil cekikikan.

Eomma Sehun hanya tersenyum saja menanggapi Luhan.


Pagi hari Luhan pun berangkat sekolah bersama Jongin. Eomma berkata padanya kalau ia akan berangkat pada siang nanti dan pulang besok sore. Kemudian Luhan pun berangkat sekolah.

Sesampainya di kelas, ia terkejut melihat seorang gadis berambut pirang dengan bob pendek duduk di bangku Baekhyun.

"Maaf sebelumnya, namun bangku ini sudah diisi oleh temanku," protes Luhan sambil menepuk bahu gadis tersebut namun terhenti saat melihat gadis itu menoleh padanya.

Alis Luhan melengkung. "Baekhyun?!" Pekik Luhan tidak menyangka.

Kemudian gadis bersuara indah itu tersenyum. Luhan mengerjabkan matanya seolah-olah tidak percaya dengan apa yang ia lihat kini.

Baekhyun yang ceria telah kembali.

"Selamat pagi, Luhan!"

Luhan begitu terkejut sampai-sampai tidak dapat berkata kata. Penampilan Baekhyun begitu berbeda. Bukan berbeda kearah yang negatif, namun positif karena Baekhyun sekarang nampak begitu cantik dengan polesan make up tipis nya dan potongan rambutnya yang baru. Dengan memotong rambut hitam panjang indahnya menjadi setelinga membuat nya terlihat begitu fresh, dan juga warna pirang itu nampak begitu serasi dengan kulit putih pucat milik Baekhyun.

"Kau pasti kembarannya Baekhyun. Cepat sebutkan dimana tempat kau menyekap Byun Baekhyun, dasar kau orang asing!" Seru Luhan kemudian bercanda.

Baekhyun hanya tersenyum. "Segitu berbedanya kah?"

Kemudian Luhan mengerutkan dahinya. Sambil bersungut-sungut ia pun memperhatikan Baekhyun dari ujung kaki sampai ujung kepala.

"Kemana rambut hitam panjang mu. Dan sejak kapan kau menggunakan eyeliner Baekhyun? Dan aroma apa ini? Parfum?" Cecar Luhan dengan pertanyaan.

Baekhyun hanya mengulum senyum melihat kelakuan temannya yang berkuncir dua ini.

"Aku sudah memangkasnya. Dan sekarang rambut panjang ku sudah berada di tempat pembuangan akhir ku rasa. Entah kenapa aku hanya ingin mengubah penampilanku." Cicit Baekhyun dengan puppy eyes nya yang berbinar-binar.

Hampir seluruh kelas terpana melihat penampilan baru Baekhyun. Bahkan ada beberapa orang yang tidak begitu mengenali Baekhyun menyangka dirinya murid baru. Baekhyun nampak tidak memperdulikan tatapan orang-orang tersebut. Ia nampak sangat nyaman dengan dirinya yang baru.

Dan Luhan tau penyebab Baekhyun merombak penampilannya habis-habisan seperti itu. Karena Sosok Baekhyun yang lama itu membuat gadis itu teringat pada kisah cinta pertamanya yang pahit. Luhan hanya mampu mendorong gadis itu untuk menjadi lebih baik.

Masih teringat oleh Luhan cerita Baekhyun pada hari itu. Kalau gadis itu telah jatuh cinta pada Park Chanyeol sejak kecil dulu. Bahkan tanpa harus mengubah penampilan Baekhyun, Chanyeol akan jatuh cinta pada Baekhyun seandainya ia mengetahui yang sesungguhnya. Itupun seandainya Chanyeol mengetahui yang sesungguhnya.

Seandainya.


Sore hari, Luhan pun pulang setelah diantar oleh Jongin. Suasana rumah begitu sepi, kecuali saat seekor anjing putih lucu yang menyambut nya pulang.

"Selamat sore Vivi." Sapa Luhan sambil menggendong anak anjing milik Sehun.

Ngomong-ngomong soal Sehun, pemuda itu belum menunjukkan tanda-tanda akan keberadaan dirinya di rumah ini. Dengan santai ia pun beranjak ke lantai atas untuk berganti pakaian.

Setelah berganti pakaian Luhan segera mengecek keberadaan Sehun si kamarnya. Pintunya tidak terkunci. Luhan pun masuk kedalam kamar pemuda itu. Terdapat begitu banyak tempelan gambar-gambar design yang tidak ia pahami.

Kamar itu begitu berantakan, buku-buku berserakan, belum lagi asbak yang dipenuhi puntung rokok yang tumpah dan tercecer di lantai. Luhan menggelengkan kepalanya.

Sepulang sekolah ini ia merasa kelaparan. Ia pun memutuskan untuk memasak di dapur. Kemarin dengan sengaja Eomma telah menyiapkan beberapa bahan-bahan untuk memasak hari ini. Jadi Luhan memutuskan untuk memasak nasi goreng kimchi dan tempura udang kesukaan Sehun Oppa.

Tidak lupa Luhan pun memberi makan Vivi. Perut Luhan berbunyi tidak menyenangkan saat ia menyelesaikan masakannya. Yah, walaupun bentuknya tidak keruan namun Luhan sudah memasaknya dengan sepenuh hati dan rasanya pun lumayan enak menurutnya. Tinggal bersama Baba nya berdua saja mengharuskannya bisa memasak untuk dirinya dan Baba, hidup tanpa Mama nya selama 12 tahun membuat nya terbiasa mandiri.

Karena tidak sabar Luhan menyantap masakannya sendiri tanpa menunggu Sehun pulang, perutnya sudah tidak sanggup lagi menahan rasa lapar yang ia tahan dari sekolah. Luhan juga telah menata rapih makanan yang ia masakkan untuk Sehun Oppa di meja.


Malam itu hujan turun, berbeda dengan malam sebelumnya. Kali ini disertai dengan gemuruh petir dan kilat yang menyeramkan. Sesuai dengan perkiraan cuaca kemarin, dan Luhan yang sedang bermain dengan Vivi di ruang keluarga tiba-tiba ketakutan mendengar suara gemuruh petir tersebut. Suara riuh dedaunan dan hempasan angin yang membentur pada jendela terdengar dari luar. Luhan pun segera mematikan televisi dan menutup semua jendela yang berada di rumah.

Tanpa pikir panjang Luhan pun terpikirkan Sehun.

Dimana dia sekarang?

Luhan pun segera meraih ponselnya dan menghubungi Sehun.

Butuh waktu beberapa menit untuk menunggu sambungan telepon itu tersambung. Dan akhirnya..

"Yeoboseyo.." sahut diseberang sana.

DEG

Bukan.. itu bukan suara Sehun, tapi suara Irene. Mana Sehun? Kenapa harus Irene yang memegang benda sepribadi itu.

"M-maaf bisakah aku berbicara dengan Oppa?" Jawab Luhan terbata-bata.

"Oppa? " Sejenak Irene terdiam. Ia melirik ke arah Oh Sehun yang tengah asik bersama Yifan dan Zitao, mereka sedang kumpul-kumpul di rumah Irene.

"Oh Sehun maksudmu?" Tambahnya.

"Iyaa..." Jawab Luhan dengan nada penuh ketakutannya.

"Baiklah tunggu sebentar ya." Irene tak ingin acara kumpul-kumpulnya diganggu oleh anak kecil itu, ia pikir Luhan begitu manja. Ini masih pukul 10 malam, kenapa dia cerewet sekali sampai harus menghubungi Oh Sehun.

Irene kemudian memanggil Sehun, "Sehun..", Sehun menoleh ke arah Irene dan menyahutnya dengan anggukan. Bukannya memberitahu soal telpon melainkan Irene hanya melambaikan tangan sambil tersenyum, Sehun tak sadar jika ponselnya sedang di pegang oleh Irene. Ia pun kembali melanjutkan kegiatannya bersama teman-teman.

"Ahh Luhan sayang, maaf sekali ternyata Oppa mu sedang sibuk bersama yang lain. Jadi ia tidak bisa di ganggu. Katakan padaku apa kau ingin menitip pesan?" Ujar Irene dengan sinis.

DEG

Luhan merasa terjadi sesuatu di hatinya, begitu sakit karena Oh Sehun lebih mementingkan teman-temannya daripada menerima telpon darinya.

"Ahh tidak, aku hanya ingin bertanya padanya agar tidak pulang terlalu larut. Nanti Eomma bisa marah. Itu saja.." jawab Luhan.

"Baiklah kalau begitu, nanti aku akan sampaikan."

PIP

Luhan sedikit tersentak karena Irene memutuskan sambungan telponnya begitu saja. Tapi dilain sisi, ia merasa kecewa dengan Oh Sehun.

Dengan cermat, Irene segera menghapus panggilan Luhan barusan dari ponsel milik Sehun dan meletakkan nya di tempat ia menemukan ponsel itu barusan. Dan dengan wajah tanpa dosa, Irene kembali berkumpul bersama Sehun, Yifan dan Zitao.

"Kau dari mana saja Irene?" Tanya Zitao menyadari keberadaan Irene.

Irene tersenyum dan menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. "Kamar mandi," jawab Irene santai.

Sehun melirik ke arah Irene curiga. "Kulihat barusan kau sedang mengangkat telepon, sepertinya.."

Perkataan Sehun barusan membuat Irene sedikit terkejut, namun ia segera tersadar dari keterkejutannya. "Benar baru saja aku mengangkat telepon." Aku Irene, sambil mengalihkan pemandangannya menuju hujan yang terlihat dari jendela kamarnya.

"Dari siapa?" Tanya Zitao kemudian.

Irene terlihat sedikit keki. Berharap topik ini segera berubah. "Sepertinya salah sambung." Jawab Irene sambil mengangkat bahu.

Karena suasana mendadak menjadi tidak mengenakkan, Yifan segera mengalihkan pembicaraan.

"Astaga hujan kali ini awet sekali. Belum lagi petir dan kilat yang mengerikan ini. Untung saja, sebelum kesini Zitao sudah mau berbaik hati mengangkat jemuran pakaian ku. " Curhat Yifan pada mereka.

Mendengar kata hujan, petir, dan kilat segera menyadarkan Sehun tentang Luhan.

Gadis itu sendirian di rumah, dan ketakutan karena gemuruh petir dan hujan.

"Kau baik sekali ya Zitao." Timpal Irene turut serta ingin mengubah pembicaraan.

"Ya, mau bagaimanapun juga sebagai pacarnya, aku harus mengurus bayi naga besar ini." Keluh Zitao namun nampak tidak terbebani.

Yifan mencubit pipi Zitao gemas. "Wo ai ni~"

Irene menggelengkan kepalanya sebal. "Astaga~ mereka sangat romantis sekali.. Aku jadi cemburu, Sehun." Ujar Irene manja sambil bergelanyutan pada lengan Sehun. Sehun hanya diam saja.

"Sehun?" Tanya Irene sekali lagi.

Pemuda berkulit albino itu kemudian sadar kalau terlalu dekat dengan Irene dan dengan sopan ia segera melepaskan tubuh Irene yang berdempetan dengan tubuhnya.

"Ah, ya? Ada apa Irene? " Tanya Sehun balik.

"Ada apa? Kau yang kenapa? Mengapa kau melamun?" Tanya Irene sedikit kesal.

Ada apa dengan gadis aneh ini? Tanya Sehun dalam hati.

"Teman-teman sepertinya aku harus pulang."

"Apa?" Tanya mereka berempat secara bersamaan.

Sehun menatap jam yang menunjukkan pukul 10. 30

"Sekarang sudah malam. Aku harus pulang sekarang." Jawab Sehun dengan tegas.

"Kenapa? Kau bukan anak kecil lagi Sehun. Lebih baik kau menginap saja disini. Diluar sana sedang hujan lebat."

"Aku telah meninggalkan seorang anak kecil dirumahnya sendirian. Ku rasa sekarang dia tengah ketakutan. Lebih baik aku pulang."

"Anak kecil yang kau maksud itu Luhan? Bukan kah dia sudah remaja dan tidak bisa di anggap anak kecil lagi?" Protes Irene tidak terima Sehun akan pergi meninggalkan dia(dan teman-temannya) karena Luhan.

"Bukan urusanmu." Jawab Sehun dingin dan segera mengemasi barang bawaannya.

Irene terkejut, baru pertama kali Sehun menunjukkan sisi dingin seperti itu. Sehun yang ia kenal adalah sosok yang baik, walaupun sedikit pendiam. Bukan pria dingin dan sedikit menakutkan seperti ini.

Irene, Zitao dan Yifan tidak dapat mencegah Sehun lagi. Saat Sehun beranjak menuju pintu, ia masih sempat berpamit, mengingat rasa kesopanan yang melekat pada diri nya.

"Aku pulang dulu."

Zitao dan Yifan hanya mengangguk mengisyaratkan bahwa mereka memakluminya. Sementara Irene memendam rasa kesalnya terbukti dari cara ia mengepal tangannya keras-keras.


Tanpa menghiraukan keadaan diluar, Oh Sehun pergi melanjutkan langkahnya. Hujan deras disertai petir tak menyurutkan niat Sehun untuk kembali pulang memastikan keadaan gadis kecil yang akhir-akhir ini cukup mempengaruhi hidupnya.

Hujan membuat jalanan cukup sepi dari biasanya, Pria jangkung itu berlari ke arah pemberhentian bus membiarkan tubuhnya basah karena guyuran air hujan. Entah sejak kapan rasa khawatir itu mulai ada hanya untuk gadis kecil seperti Luhan? Sehun tak mempunyai banyak waktu untuk mencari tahu, yang jelas saat ini Otaknya memberi interupsi agar cepat-cepat sampai ke rumah.

10 menit berlalu, Bus arah rumah Sehun tak kunjung datang.

Sial! Umpatnya dalam hati.

Akhirnya ia memutuskan untuk berjalan kaki saja, lagipula jaraknya tak terlalu jauh. Hanya memakan waktu 20 menit dan semoga saja gadis kecil itu baik-baik saja.

KRING~

Ponsel Oh Sehun berbunyi saat ia hendak melanjutkan langkahnya, segera ia lihat dan ternyata itu adalah sang Eomma.

DEG

Gawat! Jika Eomma Sehun tau ia tidak dirumah pasti beliau akan marah apalagi meninggalkan Luhan seorang diri malam-malam begini.

"Ne Eomma.." Sapa Sehun berusaha tenang.

"Kau sedang diluar? Kenapa berisik sekali, eoh?"

"Nghh ti-tidak Eomma, aku hanya sedang duduk di Toko dan pintunya ku biarkan terbuka." Dustanya.

"Syukurlah jika kau memang dirumah karena Eomma khawatir disini hujan deras, ibu teringat akan Luhan. Anak itu sangat takut petir, tolong kau temani adikmu ya sayang."

"Ibu tidak pulang?"

"Sepertinya ibu akan menginap dirumah bibi mu saja. Besok pagi ibu pulang. Sudah dulu ya.. hey Sehun jangan lupa kunci pintu ya."

"Iya Eomma, yasudah.."

PIP

Sehun bernafas lega karena Eommanya tidak curiga. Segera ia menaruh kembali ponselnya ke dalam saku dan iapun melanjutkan langkahnya.

JEGERRR...

Awan terus saja memperlihatkan keangkuhannya, tapi Oh Sehun jauh lebih angkuh, ia benar-benar menerjang hujan dan juga suara petir yang cukup memekik telinganya malam ini.

Sampailah Sehun di rumah, ia mengedarkan pandangannya ke segala arah tapi tak menemukan gadis kecil itu. Suasana rumahnya sudah gelap, mungkin gadis itu sudah tertidur. Tapi apa dia bisa terlelap dalam keadaan seperti ini?

Tanpa pikir panjang, Sehun berlari kecil menelusuri anak tangga menuju lantai dua. Memastikan dimana si gadis bermata rusa itu. Dimana lagi jika bukan dikamar Eommanya, Sehun menggerakkan kakinya ke arah sana. Tapi apa yang ia dapatkan? Tidak ada. Muncul kekhawatiran dihatinya lagi.

Dimana anak itu? Kenapa tidak ada? Batin Sehun.

Ia berbalik arah, mencoba untuk mencari Luhan di setiap ruangan rumahnya. Nihil. Sehun mulai panik, Luhan hilang dan ini sudah malam. Timbul rasa penyesalannya. Harusnya Sehun berdiam diri dirumah menemani gadis itu.

"Kau dimana gadis kuncir dua?" Lirih Sehun sudah diambang putus asa.

Kakinya secara spontan mengantarnya ke dalam kamar. Tak dipungkiri rasa dingin mulai menggerogoti tubuhnya, Sehun harus berganti pakaian dan setelah itu akan mencari Luhan lagi.

CEKLEK

Siapa sangka, bahwa yang sejak tadi ia cari ternyata tengah tertidur di atas ranjangnya. Meringkuk kedinginan hanya berselimutkan tubuh hangat seekor anjing kesayangannya yang tak lain adalah Vivi.

"Kuncir dua..." Seru Sehun. Ia mempercepat langkahnya, menghampiri si kuncir dua tersebut.

Sehun bisa memastikan bahwa tersirat ketakutan di wajah Luhan. Ah, dia sungguh menyesal. Ia sudah membiarkan Luhan ketakutan malam ini. Kemudian Sehun menarik selimut tebalnya hingga menutupi tubuh mungil itu. Tak tega membangunkan Luhan ada baiknya membiarkan gadis itu tidur dikamarnya malam ini. Tapi, mata elang itu menangkap sesuatu yang ada di bawah tindihan tubuh gadis kecil itu, nampak sebuah buku.

"Buku Diary? Apa itu Diary si Kuncir dua?" Sehun bertanya-tanya.

Awalnya ia hanya berniat memindahkan buku itu, tapi saat ia meraih buku tersebut. Ada rasa ingin tau yang hinggap didalam diri Sehun. Mengira-ngira apa saja yang sudah di tulis oleh kuncir dua itu.

Sejenak, Oh Sehun melirik ke arah Luhan yang tak bergeming sejak tadi. Ia pun akhirnya memberanikan diri untuk membuka buku itu secara perlahan.


TBC


Hai!

Ngaret seperti biasa nya ya ^^ kali ini aku mau balesin review dari kalian :3 Dari kemaren kepengen sih, tapi aku masih bingung caranya waktu itu sekarang udah enggak, hehe


Selenia Oh : Betul banget! ^^ hehe kamu tau aja. Aku emang suka banget sama Naruto. Lagi sedih banget dia udah tamat, walaupun sekarang udah ada boruto sih-_- tetep aja. Iya ini sudah next. makasih udah ngereview :3

Apink464 : Walaupun aku CBHS aku tau kok, ini lapaknya HunHan. Sebenernya bukan karena aku pengen Chanbaek disini lebih menonjol, tapi lebih ke konflik kenapa si Luhan sama Baekhyun bisa bersahabat dekat. Ya gara-gara Baekhyun patah hati dan Luhan yang ada buat dia gitu hehe.. Iya, Chapter ini sudah dibanyakin HunHan nya :3. makasih udah ngereview :3

ElisYe Het : Hehe.. Abisnya foto kecilnya Chanyeol gitu sih, gemuk-gemuk berkacamata XD makasih udah ngereview :3

Arifahohse : Sudah next ini. Semoga suka! makasih udah ngereview :3

deer20wolf12 : Haha bener banget kemaren pendek. Maafkeun ya, alurnya tetep kok. Cuma mungkin kemampuan nulis aku masih amatir jadinya banyak yang bingung. XD makasih udah ngereview :3

Skyeilysma : Makasih! Kamu suka ngereview sampe 2 kali satu chap. Haha, *ketawa kaku* aku gak bisa nulis cepet-cepet. Tapi sekarang udah lumayan di usahakan deh, soalnya suka susah nunggu mood nulisnya muncul. makasih udah ngereview :3

tctbcxx : Udah dilanjut~ silahkan dibaca juseyo :3 makasih udah ngereview :3

auliaMRQ : Baekhyun udah gak peduli lagi sama Chanyeol sekarang hehe. makasih udah ngereview :3

OhXiSeLu : Hehe Baekhyun udah kapok dia jadinya gitu. Liatin aja nanti si ceye juga kemakan omongan nya sendiri XD. Iya HunHan momennya sudah dibanyakin, semoga suka :) makasih udah ngereview :3

ohjasminxiaolu : nungguin mood aku nulis dulu sih, hehe maaf ya always ngaret kayak gini. Iya beb ini udah di panjangin XD makasih udah ngereview :3

Princess Xiao : Maaf ya kalo kemaren kurang panjang. Iya ini sudah di next :) makasih udah ngereview :3

Wiwiet : Luhan payah nih, ngeliat abs Sehun sama di ledekkin aja udah gak marah hehe. Segeraaaa diupdateee! makasih udah ngereview :3

rizypau16 : Sudah di lanjut Saeng :D makasih udah ngereview :3

misslah : Amin deh seru ceritanya hehe.. Sudah di next :) makasih udah ngereview :3

xiHan.a-oh : Pendek karena kemaren aku lagi buntu T.T Iya sekarang sudah dibanyakin Luhannya, Oh iya maafkeun waktu itu kurang Aqua hehe, makasih koreksi nya. Aku juga bingung kenapa Irene ya? mungkin di Chap ini kamu bakalan sebel banget sama Irene XD makasih udah ngereview :3

Hannie : Iya ini sudah di lanjut :) makasih udah ngereview :3

kjdae21 : Ini sudah di Next ! makasih udah ngereview :3


Yeay! kelar sudah ngebalesin review :) Makasih ya buat semua yang udah ngereview, dan SIDER tanpa kalian Fanfict ini gak ada apa-apanya :D


Mind to Review?