My Silly Oppa


Hunhan's Fanfiction

Present by,

Parkizuna

Whole of this story is belong to me, except the casts, ofcourse.

Warn: Genderswitch, typos is my styles :D, tidak sesuai EYD


My Silly Oppa Chapter 6


Kamar Sehun. Dini hari.

Suara gemericik air hujan mulai memudar seraya matahari menampakkan cahayanya. Badai yang ganas semalam telah tergantikan dengan sinar lembut matahari menciptakan suasana tenang di dalam kamar ini. Sang pemuda merengkuh tubuh mungil si gadis dalam pelukannya seakan ingin melindunginya dari gemuruh petir yang menggelegar semalam, sampai-sampai tertidur. Atmosfer di kamar tersebut begitu menenangkan, membuat kedua insan yang lelap itu terbuai. Tanpa dirasa hari telah pagi. Namun kenyamanan tersebut hanya berlangsung sesaat saja.

Kewajiban Luhan bangun pagi untuk bersekolah mengharuskan nya untuk bangun dan segera bergegas untuk menyiapkan diri ke sekolah. Ia menggeliat kan tubuhnya yang kaku karena semalaman tertidur di lantai kamar Sehun.

Mata Luhan membola begitu mendapati lengan seorang pemuda melingkari pinggangnya. Pemilik tangan tersebut sudah sangat di kenalnya sehingga ada secercah perasaan hangat dan gembira mengetahuinya.

Dengan perlahan Luhan pun melepaskan tangan Sehun, berharap pemuda itu tidak terganggu dalam tidurnya.

Gerakan Luhan membuat seekor anjing putih yang tadi meringkuk di dekat mereka pun terbangun. Anjing itu menyalak pada Luhan tanda menyapa. Luhan pun mengisyaratkan anjing itu agar diam. Seketika Vivi pun mematuhinya. Ia pun tersenyum dan mengelus bulu lembut milik anak anjing kesayangannya tersebut.

Semalam ia begitu ketakutan karena hujan lebat dan petir yang menyambar tak kunjung berhenti seolah mengingatkan nya pada kenangan buruknya dulu.

Kenangan saat kematian Mama.

Luhan masih sangat ingat betapa bahagianya hari itu, ia bersama Mama nya baru saja membeli kue ulang tahun Papanya. Mereka diam-diam telah merencanakannya sedari siang. Dan sepulang mereka dari membeli kue coklat kesukaan Papa, tiba-tiba mobil mereka terguling karena di hantam dari samping oleh sebuah truk besar. Ia selamat karena mengenakan seatbelt. Mamanya terlempar jauh dari dalam mobil karena pintunya copot. Luhan menghampiri tubuh Mamanya yang terluka parah dan berteriak minta tolong sambil menangis sesenggukan, namun teriakan tertelan oleh suara hujan lebat dan gemuruh petir yang menyambar seakan tak bersimpati padanya.

Luhan melihat buku diary nya yang berisi tentang Mama nya terbuka. Ia pun segera memungutnya dan memeluknya. Hujan semalam membangkitkan kenangan buruk yang tidak ingin ia ingat. Kalau saja pada saat itu tidak hujan, mungkin saat ini Mama nya masih hidup. Perasaan bersalah yang tidak masuk akal itu selalu saja menyelinap dihatinya di kala hujan datang.

Pandangan mata Luhan berhenti pada Sehun yang sedang tertidur. Luhan berpikir kalau Oppa nya itu nampak lebih muda kalau sedang tertidur. Sehun Oppa nya tidak mengingat kenangannya bersama dulu, namun ia tidak akan pernah melupakan bagaimana Sehun Oppa menghiburnya dulu sepeninggal Mama nya pergi. Sehun Oppa selalu saja menghibur dirinya yang di rundung duka karena kehilangan Mama, hingga ia kembali menjadi gadis ceria dan periang lagi.

Tanpa sadar, Luhan mengecup bibir Sehun yang masih menutup matanya. Meskipun Sehun Oppa lebih memilih Irene si gadis cantik dan dewasa ketimbang dirinya yang masih kecil, berdada rata, dan kekanakkan namun ia tidak akan menyerah. Setidaknya ia dapat melihat dan merasakan apa yang Irene tidak bisa. Seperti saat ini, mencuri sebuah ciuman disaat Sehun tertidur. Hanya ia dan Tuhan dan Vivi(?) sajalah yang tahu.

Pipi Luhan memerah menyadari apa yang sudah ia lakukan. Ia pun segera melarikan diri dari kamar Oh Sehun di iringi oleh langkah kecil Vivi yang mengikuti nya dari belakang.


Halte Bus. Pagi hari.

"Selamat pagi, Cantik." Sapa seorang pemuda yang wajahnya nampak familiar di mata sipit bereyeliner tipis milik Byun Baekhyun.

Baekhyun membalas nya tak kalah ceria. "Pagi juga tampan, apa aku mengenalmu?"

Kedua pemuda tinggi yang menemani si orang asing menyapa Baekhyun itu menahan tawa melihat temannya sekarang terlihat bodoh akibat Baekhyun.

"Aku Taehyun. Anak basket kau ingat?"

Refleks, seketika Baekhyun menyeritkan matanya ngeri. Mendengar kata 'Anak Basket' membuatnya bergidik. "Teman Park Chanyeol kalau begitu?"

"Ya.. bisa dibilang seperti itu sih. Tapi sebenarnya aku tidak menyukai Park Chanyeol. Dia sangat sombong dan angkuh." Ucapnya melecehkan saat lidahnya menyebutkan nama pemuda yang paling Baekhyun benci di muka bumi ini.

"Aku juga membenci Park Chanyeol." Jawab Baekhyun tiba-tiba antusias dengan topik ini, entah kenapa tiba-tiba Baekhyun mulai menyukai Taehyun ini. Wajahnya pun lumayan manis gumam Baekhyun dalam hati.


Kelas. Pagi hari.

"Pagi Byun."

"Pagi." Sahut Baekhyun sambil memainkan smartphone-nya.

"Sibuk sekali dengan ponsel mu..?"

Luhan mencoba mengintip smartphone Baekhyun dan dengan sigap gadis itu segera menutupnya.

Baekhyun terkekeh penuh rahasia. Membuat Luhan menggembungkan pipinya kesal.

"Jadi sekarang sudah main rahasia-rahasiaan bersama ku Baek. Huh, Baiklah kalau begitu." Luhan pun memulai acara merajuknya.

"Ya! Luhan kau seperti anak kecil saja.. Hei sini lihat ini." Rayu Baekhyun seraya menyodorkan ponselnya.

Luhan pun melihat apa yang ada di layar. Sebuah ruang chat bersama kontak bernama Taehyun. Nampaknya Baekhyun sedang merencanakan janji kencan.

"Apa? Pulang sekolah nanti kau mau berkencan?" Tanya Luhan dengan suara kencang menyebabkan beberapa mata tertuju pada mereka berdua.

Baekhyun pun mendelikkan matanya pada Luhan menyuruh agar gadis itu mengecilkan suaranya.

"Lihat ini pemuda yang mengajak ku kencan nanti malam." Ujar Baekhyun sambil membuka foto profil Taehyun.

"Lumayan imut ya?" Komentar Luhan sekedarnya saja, wajah Taehyun yang cute itu bukan tipe nya, Luhan lebih suka pemuda yang lebih tua dan macho seperti Sehun contoh nya.

Baekhyun balas dengan memberikan Luhan seringaian bodoh saja.

Jadi secepat inilah Baekhyun melupakan Park Chanyeol dalam hatinya? Tanya Luhan yang tidak ia suarakan. Cukup ia simpan untuk dirinya sendiri saja. Ia masih belum mau menyebutkan nama orang yang membuat sahabatnya hancur hatinya.


Di rumah. Malam hari.

Sepulang sekolah tadi Luhan sudah mendapati Eomma Sehun tangan memasak makanan untuk makan malam. Tanpa di beri aba-aba Eomma Sehun menanyakan apa saja yang terjadi saat ia tidak ada dan apakah Sehun membuatnya kesal atau menelantarkannya, Luhan pun segera berdalih ingin mengganti seragamnya untuk menghindari interogasi dadakan tersebut. Setelah berganti pakaian, ia pun segera membantu Nyonya Oh di bawah.

Sehun belum pulang dari kampus sepertinya, karena Luhan belum melihat batang hidung pemuda tampan itu semenjak ciuman rahasianya tadi pagi. Dan pucuk dicinta ulam pun tiba, Sehun pun pulang dengan selamat dan makan malam bersama mereka.

Sekarang mereka pun tengah menikmati makan malam bersama. Sehun nampak sangat tampan dengan rambut basah sehabis mandi dan kaos hitam polos. Sedangkan Luhan masih dengan Piyama Pororo kesayangannya, nampak seperti anak sekolah dasar tingkat akhir.

Mata Sehun melebar saat melihat menu makanan kesukaannya tersaji di meja. "Wah, ada sup iga kesukaan ku.."

Eomma melirik ke arah Sehun, lalu bertanya "Enak tidak rasanya?"

Sehun hanya mengacungkan jempol saja, bukannya menjawab karena mulutnya penuh dengan nasi dan potongan daging iga tersebut.

Eomma nya tertawa geli melihat kelakuan putranya. "Yang membuat sup iga itu Luhan, dia sekarang sudah makin terampil memasak. Lihat Luhan, bagaimana lahapnya Sehun memakan masakanmu."

"Ah, Eomma. Aku hanya terbiasa memasak, karena aku hanya tinggal berdua dengan Baba ku di China." Jelas Luhan kepada Eomma.

Sehun terkejut mendengar nya. Ia tidak menyangka anak sekecil Luhan dapat memasak seenak ini, bahkan kalau di banding kan dengan dirinya yang sudah dewasa ini hanya memasak telur saja suka overcooked alias gosong.

"Wah Luhan, kau pasti akan jadi istri yang baik. Masakanmu enak sekali, sungguh!" Puji Sehun dengan mulut yang masih penuh dengan nasi.

Tanpa perasaan Eomma menepuk punggung Sehun kencang. "Yak! Oh Sehun, kalau ingin bicara, setidaknya telan dulu makananmu."

Luhan yang barusan memerah akibat pujian Sehun, kini tak dapat menahan tawanya. Sedangkan Sehun kesal sekali dengan Eomma nya.

"Oh, ya ngomong-ngomong soal istri, pengantin nya cantik sekali. Eomma sampai pangling melihat sepupu mu yang dulu tomboi itu Sehun." Ujar Eomma mengingat acara pernikahan sepupu Sehun yang ia hadiri kemarin.

Sehun yang sedang menyendoki lauk pun menanggapi. "Iya benar. Aku juga terkejut melihatnya."

"Dimana kau melihat nya? Bukannya kau di rumah menemani Luhan ?" Tanya Eomma terkejut.

Sehun menghela nafasnya. "Tentu saja semua gadis akan mengupload foto pernikahannya di akun social media nya Eomma. Aku melihatnya dari sana." Jelas Sehun dengan penuh kesabaran.

Luhan terkikik geli melihat kelakuan Ibu-Anak tersebut.

"Oh ya, Kuncir dua. Apa kau sudah memberi makan Vivi?" Tanya Sehun.

"Sudah." Jawab Luhan.

"Kemarin?" Tanya Sehun.

Sambil mengangguk Luhan menjawab. "Sudah."

"Bagus. Anak pintar." Komentar Sehun.

"Memangnya kau pergi kemana kemarin, sampai tidak memberi makan Vivi?" Tanya Eomma curiga.

Sehun mulai berkeringat dingin. Ia membuat kesalahan. Seharusnya ia tidak bertanya di depan Eommanya.

"A-aku cuma pergi sebentar kok. Kan Eomma juga tahu. Saat ku meneleponmu kemarin.." jawab Sehun tergagap, karena di intimidasi oleh pelototan Eomma.

"Benarkah itu Luhan? Apa dia pulang semalam?" Tanya Eomma meragukan putra semata wayangnya.

"Itu benar Eomma. "

Eomma pun baru mengangguk percaya setelah mendengar klarifikasi dari gadis kuncir dua.

Melihatnya membuat Oh Sehun tidak terima. "Yak! Eomma kau lebih mempercayainya dibandikan aku ?" Teriak Oh Sehun frustasi.

Eomma mengangguk. "Benar sekali."

Sekali lagi Sehun speechless dengan sikap Eommanya.

...

Luhan masih belum mau tidur. Ia teringat akan tugas rumah fisika yang banyak dan belum ia kerjakan beberapa menit menjelang ia tidur. Dan dengan sangat terpaksa, Luhan pun pergi ke ruang TV untuk mengerjakan pr nya disana. Ia tidak tega untuk menyalakan lampu di kamar dan mengerjakan tugasnya disana karena Eomma akan terganggu tidurnya.

Sambil berjuang melawan kantuk, ia pun menyelesaikan soal dengan rumus ini itu. Tanpa Luhan sadari ada kehadiran seseorang di hadapannya, namun ia tidak menyadarinya karena sibuk dengan beberapa soal terakhir.

Sehun menahan tawa saat melihat wajah Luhan yang mengerucut kan bibirnya lucu tanda ia sedang serius. Membuatnya ingin mengganggunya.

"Hai Luhan. Belum tidur?" Tanya Sehun mengagetkan Luhan.

Luhan terkejut hingga tanpa sengaja membuat sebuah coretan di lembar buku tulisnya. "Astaga Oppa! Kau mengagetkan ku saja."

Sehun hanya terkekeh saja.

"Kau sendiri kenapa belum tidur?" Tanya Luhan penasaran.

Sehun menggeleng, dan mulai menyalakan televisi.

"Aku mau nonton pertandingan bola." Jawab Oh Sehun sambil mencari sport station tv kesukaannya.

Luhan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.

"Oh ya Luhan." Panggil Sehun kembali saat Luhan tengah mengerjakan soal terakhirnya.

"Ya?"

"Maafkan aku."

Luhan terkejut. Ia bertanya lagi untuk memastikan. "Apa?"

"Maafkan aku." Ucap Sehun serius, kini ia berangsur mendekati Luhan dan duduk bersebelahan dengan gadis manis itu.

"Untuk apa?" Tanya Luhan bingung oleh perubahan sikap Sehun Oppa yang tiba-tiba ini.

Sehun menatap mata Luhan dalam. "Banyak hal."

"Salah satunya?" Pancing Luhan.

"Bersikap menyebalkan padamu." Jawab Sehun dengan menyesal.

"Aku rasa kalau yang satu itu kau tidak menyesalinya Oppa.." Canda Luhan.

Sehun Oppa menarik kedua tangan Luhan dalam genggaman nya. "Aku serius. Aku minta maaf soal itu, tidak seharusnya aku bersikap seperti itu padaku Luhan. Itu baru satu hal, aku masih ingin kau menerima maafku untuk hal yang lainnya."

"Sebenarnya ada apa ini Sehun Oppa?" Tanya Luhan tidak mengerti.

"Aku akan menjelaskan, tapi sebelumnya, katakan terlebih dahulu kalau kau akan memaafkan ku."

Akhirnya Luhan pun memilih untuk mengikuti keinginan Sehun. "Baiklah Oppa, aku memaafkanmu. Sekarang, jelaskan.."

"Aku merasa kalau sudah keterlaluan padamu. Aku ingin menebus perlakuan buruk ku padamu. Salah satu nya seperti semalam. Maafkan aku Luhan."

"Tidak apa Oppa. Yang terpenting kau pulang semalam dan menemaniku kan?"

Sehun mengangguk lesu.

"Apa kau bersama dengan Irene Eonni semalam?" Tanya Luhan mengingat peristiwa semalam.

"Iya, aku bersama Irene namun ada teman-teman lain juga disana. Tapi, dari mana kau tau kalau ada Irene disana?"

Luhan menjelaskan secara perlahan. "Semalam aku menelpon mu. Irene eonnie yang mengangkatnya, dan ia bilang kalau kau tidak bisa diganggu."

Sehun terdiam. Kemudian tersadar kalau kecurigaannya pada Irene semalam itu benar. Tapi untuk apa gadis itu mengatakan hal tersebut pada Luhan ? Pikir Sehun tidak bisa mengerti.

Luhan menyaksikan Sehun khawatir. "Yasudah lah Oppa. Tidak usah di pikirkan. Lagipula aku sudah memaafkan mu, kan?" Terang Luhan mencoba membuat Sehun tidak cemas.

"Semudah itu kau mau memaafkanku?" Tanya Sehun tak percaya.

Luhan pun pura-pura berpikir. "Apa kau ingin aku menyulitkan nya?" Tanya Luhan bernada mengancam yang juga pura-pura.

"Aku sudah membeli tiket Lotte World untuk kita berdua sebagai tebusan maafku. Apa kau mau menerimanya?" Ujar Sehun sambil menaikkan alisnya persuasif.

Luhan memekik kegirangan. "Lotte World! Dari mana Sehun Oppa tau aku sangat ingin ke Lotte World?"

Sehun tersenyum penuh rahasia, informasi tersebut kudapat kan dari diary mu jawab Sehun dalam hati.

"Luhan kenapa kau tidak menguncir dua rambutmu?" Tanya Sehun iseng. Namun sebenarnya ia benar-benar ingin mengetahui jawabannya.

Kontan membuat Luhan menyentuh rambut lurus panjangnya sepinggang. "Aku kan mau tidur, jadi ku lepas kunciran rambutku."

Entah apa yang membuat Sehun ikut-ikutan menyentuh rambut Luhan yang halus. "Kau terlihat sangat cantik kalau rambutmu di gerai."

"Benarkah?" Tanya Luhan dengan wajah yang memerah karena di puji oleh Oh Sehun.

Sehun pun tersenyum meyakinkan. "Coba lihatlah bertapa merahnya pipimu! Kau harus belajar menerima pujian Luhan.." ledek Sehun membuat gadis itu kesal.

Menurut Sehun melihat Luhan yang memerah dan rambut yang diurai ini membuat kecantikan gadis itu berlipat ganda.

"Sudahlah Oppa, berhenti meledekku. Kau mulai lagi.." Ujar Luhan sambil cemberut.

"Baiklah.. Kau pasti belum pernah ke Lotte World kan? Sekaligus ku ajak kau berkeliling kota Seoul. Semenjak kepindahan mu dari Beijing sepertinya kau belum pernah di ajak jalan." Jelas Oh Sehun panjang lebar.

Mata Luhan berbinar-binar membayangkan perjalanan mereka berdua, membuat ia lupa akan soal fisikanya. "Kapan kita akan kesana Oppa?" Tanya Luhan dengan harapan secepatnya mereka bisa kesana.

Luhan sudah sering melihat Lotte World dari drama Korea yang ia tonton. Ia membayangkan dirinya seperti berkencan dengan Sehun Oppa. Tempat itu sangat lah romantis. Kalau pergi ke sana rasanya seperti membintangi drama bergenre komedi romantis.

"Hari Minggu nanti. Cepat selesaikan PR mu Luhan. Sebentar lagi sampai tengah malam. Kau tidak ingin kesiangan besok kan?" Ujar Sehun mencoba mengingatkan Luhan.

"Pr ku sudah selesai kok. Baiklah aku akan tidur Oppa. Jalja~ mimpi indah ya Oppa." Ucap Luhan dan sebelum Sehun membalasnya ia telah melesat menuju kamar Eomma.

Sehun hanya tersenyum geli saja memperhatikan tingkah laku gadis mungil itu.


Flashback

"Hei apa kau kenal gadis itu?" Tanya Taehyun menunjuk ke arah Baekhyun yang tengah bermain piano di ruang musik bersama Luhan.

"Lumayan cantik juga. Setahuku namanya Baekhyun." Jawab salah satu teman nya.

"Kemarin ku lihat Park Chanyeol bersama dengan gadis itu sepulang sekolah." Ujar Taehyun matanya tak lepas memandangi Baekhyun. "Kalau aku tidak salah menduga, pasti ia salah satu mantan pacar Park Chanyeol yang ia campakkan." Lanjut Taehyun kemudian tersenyum separuh.

Temannya pun mengangguk paham. "Lalu apa hubungannya?"

"Kemarin Chanyeol menolak dengan kejam Sojung gadis yang sangat ku sayangi.." Desah Taehyun sambil memandangi foto Sojung, adik kembarnya yang terkapar di rumah sakit karena percobaan bunuh diri setelah di tolak Chanyeol beberapa Minggu yang lalu.

"Akan ku hancurkan Baekhyun, agar pemuda brengsek itu tau apa akibatnya menghancurkan adik yang kusayang."


TBC


A/N

Ada beberapa cast baru yang nongol. Itu Kim Taehyun sama Kim Sojung OC (Original Character) hehe ^^

Mohon maaf sekali ya, ngaret parah ini update nya.. Makasih banyak buat yang udah nungguin fanfict abal ini. Don't give up with this fanfict.

Oh ya, agak sedih sih sama kabar our Luhan punya pacar. Jadi semoga updatean ini menghibur para HunHan shipper yang di rundung galau hehe..

RnR Please.. ^^ e