My Silly Oppa
Hunhan's Fanfiction
Present by,
Parkizuna
Whole of this story is belong to me, except the casts, ofcourse.
Warn: Genderswitch, typos is my styles :D, tidak sesuai EYD
My Silly Oppa chap.8
Keheningan rumah kediaman Oh, kemudian pecah saat terdengar suara pintu masuk terbuka. Nyonya Oh yang sedari tadi merasa khawatir, berangsur menjadi lega.
"Darimana saja kalian?" Tanya Eomma begitu Sehun dan Luhan sampai ke rumah.
Eomma segera menghampiri Luhan, dan memeluknya. Gadis bermata rusa itu membola karena terkejut.
"Ku kira kau tersesat di suatu tempat sayang. Aku sampai mencari mu ke rumah keluarga Kim, dan Jongin bilang kau sudah pulang duluan." Ujar Eomma Luhan sambil mengecek keadaan gadis itu.
Luhan terdiam merasa tidak enak dengan Eomma.
"Apa kau sudah mengecek ponsel mu? aku mencoba menghubungi mu tapi tidak bisa. Jadi aku menghubungi teman-teman mu. Mereka juga tidak tahu dimana keberadaan mu." Jelas Eomma masih dengan nada khawatir.
"Ponsel ku habis daya Eomma. Maafkan aku membuatmu khawatir.." cicit Eomma sambil tertunduk, matanya pun berkaca-kaca.
Melihat Luhan, Eomma pun menenangkan Luhan. "Aku tidak marah padamu, Luhan. Hanya saja, hubungi aku sebentar kalau ingin pulang lebih malam. Memberi kabar setidaknya."
"Kenapa Eomma tidak menanyakan ku?" Tanya Sehun dengan nada jengkel memotong acara khawatir-cemas bersama Eomma dan Luhan.
"Memangnya apa hubungannya dengan mu?" Balas Eomma dengan tatapan sinis pada putra semata wayang nya.
Sehun bergumam dalam hati tidak percaya.. Bagaimana bisa?
"Ya jelas ada hubungannya dengan ku. Barusan aku dan Luhan bertemu di taman dan bermain di sana sebentar. Kalau kau menghubungi ku pastilah kejadiannya tidak akan seperti ini!" Ujar Sehun mencak-mencak persis seperti anak SD yang marah karena dibanding-bandingkan dengan anak tetangga.
Luhan yang tadinya tertunduk dan berkaca-kaca matanya, menjadi terkikik geli melihat pria berusia 24 tahun itu bertingkah seperti anak kecil.
Eomma pun mengerti kalau pangeran tampan nya itu cemburu kemudian menghampiri Sehun.
"Iya, iya.. maafkan Eomma, iya Eomma salah. Seharusnya Eomma menghubungi mu juga ya?" Bujuk Eomma sambil mengelus-elus pundak Sehun. Sedangkan pemuda itu masih saja memberengutkan wajahnya tanda kesal.
"Walaupun larut malam aku belum juga pulang Eomma tak pernah menghubungiku untuk menanyakan kabar ku, apalagi mencari ku tidak akan mungkin." Cetus Sehun meluapkan isi hatinya.
Bukannya iba, Eomma dan Luhan justru saling cekikikan melihat kelakuan Sehun.
"Ya! Sehun, kau ini pria. Luhan ini wanita, apalagi ia masih kecil. Kau sudah dewasa, mana mungkin aku masih harus menanyakan kabar mu setiap saat. Kau seharusnya lebih mengerti soal ini Sehun." Jelas Eomma pelan-pelan agar masuk kedalam otak Sehun.
Menjadi anak satu-satunya membuatnya menjadi manja bukan kepalang. Tidak menutupi kemungkinan walaupun ia sudah menjadi pemuda dewasa sekalipun.
Sehun pun sudah mulai agak mengerti, kemudian ia tersadar kalau kelakuannya sangatlah kekanakan, dan Luhan si gadis kuncir dua itu menertawakannya! Ia pun menepis tangan Eomma kemudian berlalu.
"Yasudah kalau begitu Eomma. Makan malam sudah siap? Aku lapar!" Teriak Sehun sambil berjalan menuju ruang makan.
Eomma dan Luhan pun menyusul Sehun menuju ruang makan sambil menggelengkan kepalanya. Ternyata penjelasan panjang lebar itu hanya bertahan kurang lebih 60 detik di kepala pemuda penerus keluarga Oh tersebut.
Siang hari, di Sekolah.
Sebelum bel istirahat selesai, Byun Baekhyun menyempatkan diri untuk bertemu dengan Taehyun.
"Hai, Sayang.." sapa Taehyun begitu melihat Baekhyun datang.
Baekhyun pun tersenyum manis mendengarkan panggilan sayang dari Taehyun. "Malam ini kita berkencan yuk?" Ajak Taehyun pada Baekhyun.
Malam ini? Kenapa harus malam hari?
Namun Baekhyun tidak menyuarakan pertanyaan nya.
"Okay. Tapi kita akan kemana?" Tanya Baekhyun penasaran.
Taehyun mengelus puncak rambut pirang Baekhyun kemudian menciumnya lembut tepat di bibir.
"Rahasia. Aku ingin memberi Surprise padamu, sayang."
Baekhyun menengadah kan wajahnya untuk melihat Taehyun. Ia terkejut baru saja pemuda itu mencium nya?
Pemuda membalas tatapan terkejut Baekhyun dengan tersenyum, "Kenapa? Kau tidak suka ku cium?"
Baekhyun pun menggelengkan kepalanya cepat-cepat menepis pikirannya.
"Tidak, aku menyukainya kok.." tambah Baekhyun cepat-cepat.
Gadis berambut pirang itu membuang pikirannya jauh-jauh tentang ciuman tersebut, ia merasa kalau ada yang salah skinship dengan Taehyun. Apa karena ini terlalu cepat? Ia bahkan tidak mengetahui jelas rasa suka nya terhadap Taehyun akan apa? Mengapa ia merasa kalau Taehyun bukan orang yang tepat? Kalau begitu jika Taehyun terasa salah, siapa yang benar?
Park Chanyeol.
Baekhyun segera menggeleng kuat. Ia sudah tidak sudi untuk memikirkan nama pemuda jahat itu.
Terdengar dering bel yang memekakkan telinga pertanda masa istirahat telah berakhir.
"Baiklah Baekkie, aku ke kelas dulu.. Ingat janji kita!" Ujar Taehyun dengan ceria sambil berlalu menuju kelas nya.
Baekhyun pun tergopoh-gopoh berlari menuju kelasnya. Sesaat sebelum ia memasuki kelasnya, Baekhyun tidak sengaja bertemu dengan seorang guru yang terkenal sebagai perawan tua seantero high school. Dan perawan tua itu bersikap kejam pada murid seolah merekalah yang patut disalahkan karena ke jombloan-nya selama ini.
"Nona Byun! Kenapa kau masih berkeliaran di sini!" Teriak seorang guru. Jung seonsaeng-nim. Perawan tua.
Baekhyun pun berhenti, ia pun menjawab. "Saya baru saja dari Toilet, seonsaeng-nim"
Jung seonsaeng-nim menatap Baekhyun penuh curiga. "Kalau begitu sebagai hukuman, bantu aku membawa peralatan musik ini menuju kelas." Ujar Jung Seonsaeng-nim sambil menunjuk ke arah musik. Terdapat banyak gitar dan flute dan alat musik lain.
Ia harus membawanya sendirian?
Membaca ekspresi tidak percaya Baekhyun, ia pun segera menjelaskan. "Di dalam sana ada seorang murid lagi. Bantu dia."
Baekhyun pun mengangguk dan memasuki ruang musik. Mengira-ngira siapa siswa yang bernasib sama sialnya dengannya. Baekhyun mendapati seorang pemuda tengah mengangkat alat perkusi, dan beberapa gitar. Jadi Baekhyun hanya membawa tas besar berisi banyak flute.
Wajah pemuda itu nampak berpeluh karena beban yang banyak. Dan wajah itu adalah wajah yang paling Baekhyun benci di muka bumi ini.
Park Chanyeol.
Mereka berdua sama-sama terkejut atas pertemuan yang tidak disengaja ini. Baekhyun memicingkan mata dan segera membuang muka.
"Ayo cepat anak-anak.. ku tunggu segera di kelas 11 A3." Ujar Jung Seonsaeng-nim kemudian berlalu meninggalkan mereka berdua dalam keadaan yang canggung.
Baekhyun pun segera memungut tas besar berisi flute, dan berlalu dengan terburu-buru tanpa menghiraukan Park Chanyeol yang berjalan di belakangnya.
Karena tas itu begitu besar, membuat pandangan Baekhyun menjadi terhalang.
BRUGH!
Tanpa sengaja ia tersandung oleh sepatunya sendiri. Ia pun terjatuh di lantai, dan tas nya terjatuh entah kemana.
Melihat hal tersebut, Chanyeol pun segera menurunkan bawaannya dan menolong Baekhyun untuk berdiri.
Namun gadis itu masih bersikukuh dengan egonya. Ia tidak sudi menerima pertolongan dari Park Chanyeol. Ia menepis tangan Chanyeol, dan mencoba berdiri sendiri, namun gagal.
"Keras kepala. Biar ku bantu." Ujar Chanyeol sambil menarik tangan Baekhyun kelewat kencang sehingga gadis itu meringis kesakitan.
"Aww.."
Chanyeol hanya melirik ke arah Baekhyun yang kesakitan, "merepotkan." Keluhnya.
Saat Baekhyun berdiri, ia pun segera mengambil peralatan musik yang terlantar, dan juga tas besar bawaan Baekhyun secara bersamaan.
Saat Baekhyun mencoba melangkahkan kakinya lagi, ia malah terjatuh.
Saat mendengar suara terjatuh lagi, Chanyeol pun menoleh ke belakang dan menolong Baekhyun.
"Sepertinya pergelangan kaki kecilmu itu terkilir." Ujar Chanyeol saat memegang engkel kaki Baekhyun.
"Sepertinya aku tidak butuh bantuan mu! Tinggalkan aku sendiri!" Teriak Baekhyun akhirnya. Gadis bermarga Byun itu menggigit bibir saat ia mencoba menggerakkan pergelangan kaki nya dab terasa sangat sakit.
Chanyeol menghela nafas panjang. "Kalau kau tidak butuh bantuan ku lalu siapa? Apa kau lihat ada orang lain selain aku disini?" Tanya Chanyeol sambil melihat keadaan sekeliling, yang sepi karena seluruh siswa telah masuk ke kelas masing-masing.
Baekhyun pun berkeras. "Aku bisa jalan sendiri!"
Tanpa menghiraukan ucapan gadis itu Chanyeol pun membopong Baekyun ke kursi terdekat, dan berkata. "Tunggu disini."
Pemuda itu pun berlalu sambil membawa seluruh alat musik itu sendirian. Mungkin mengantarkan nya ke kelas. Lalu kenapa ia bilang pada Baekhyun untuk menunggunya disini?
Baekhyun pun tidak ambil pusing, lalu mencoba berjalan dengan merembet ke tembok. Ia harus segera ke UKS. Mendapatkan perban untuk kakinya yang terkilir. Atau pertolongan pertama kali terkilir.
Dengan nafas ngos-ngosan seorang pemuda datang kepadanya. Ia berharap pemuda itu Taehyun. Namun malah Park Chanyeol yang datang.
"Mau apa lagi kau kesini?" Tanya Baekhyun kesal, dan tidak sopan pada orang yang sudah membantunya tadi.
"Sudah kubilang kau tunggu di sana dasar gadis keras kepala." Ujar Park Chanyeol frustasi pada sifat keras Byun Baekhyun.
Baekhyun tetap saja mencoba berjalan dengan langkah tertatih menuju UKS. Gerakan nya lambat sekali, membuat Chanyeol geram.
Baiklah habis sudah kesabaran ku.
"Biar ku antar. Maaf kalau caranya tidak sopan." Ucap Chanyeol dan seketika ia menggendong Baekhyun di bahunya seperti membawa karung beras.
"Yak! Park Chanyeol! Turun kan aku! Yakk!" Pekik Baekhyun terima ia pun memukuli punggung Chanyeol.
"Diam, sebentar lagi kita sampai."
"YAKK! PARK CHANYEOL SIALAN!"
Keadaan Ruangan UKS begitu hening. Jendela terbuka membawa angin dan beberapa kelopak sakura yang berasal dari pohon tepat diluar jendela. Baekhyun sedang di perban kakinya. Dan di rawat oleh seorang penjaga UKS wanita. Haru seonsaeng-nim nama penjaga UKS cantik dan berkacamata itu.
"Jadi, kau pacarnya?" Tanya Haru Seonsaeng-nim pada Baekhyun sambil menunjuk Park Chanyeol yang setia menunggu nya di UKS.
"A-aniyo! Tidak akan pernah terjadi! Bukan!" Jawab Baekhyun agak berlebihan.
"Yak! Kau kenapa masih ada disini! Pergi sana! Aku bisa sendiri!" Teriak Baekhyun pada Chanyeol.
"Heol, dasar kau gadis keras kepala. Aku tidak sedang menunggumu. Aku malas kembali ke kelas." Jawab Park Chanyeol enteng.
Baekhyun pun menggerutu didalam hati. Ia berharap hari ini tidak ada di kalender, sehingga ia tidak harus sesial ini sekarang. Kaki terkilir, Park Chanyeol, terjatuh.
Chanyeol memperhatikan gadis berambut pirang dan pendek itu. Ia merasa ada yang berbeda di wajah itu. Terasa sangat berbeda dari awal gadis itu menyatakan cinta padanya.
Menjadi lebih cantik?
Bukan.
Atau Imut?
Sejak kapan gadis itu memiliki mata yang indah?
Chanyeol pun segera menepis pikiran anehnya itu. Wajah gadis itu seperti menghipnotis nya dalam beberapa saat. Begitu menakjubkan. Apakah baru saja ia menganggap gadis yang berteriak padanya saat Chanyeol menolongnya itu cantik dan imut? Pasti ada yang salah dalam otaknya.
Tiba-tiba suara tinggi milik Baekhyun memecahkan lamunannya.
"Yak! Apa kau lihat-lihat!" Tuduh Baekhyun sengit penuh dengan prasangka buruk.
Chanyeol menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Hei. Aku baru saja menolong mu. Bisakah kau bersikap sopan sedikit padaku?"
Baekhyun pun menggeleng. "Tidak." Jawabnya final.
Chanyeol mengacak rambut nya frustasi.
"Dasar kau gadis gila.." gerutu Chanyeol kelewat keras, membuat Baekhyun mendengar tanpa sengaja.
"Apa barusan yang kau katakan?!"
Chanyeol memutarkan bola matanya, "tidak ada."
Baekhyun pun memelototi Chanyeol dengan kesal. Rasanya ia ingin memakan pemuda itu hidup hidup. Bukannya merasa terintimidasi oleh tatapan Baekhyun, di mata Chanyeol gadis itu nampak seperti seorang anak anjing kecil yang berlagak seperti Pitbull dewasa.
Suara Haru Seonsaeng-nim menginterupsi duel pelototan maut antara Chanyeol dan Baekhyun. "Baekhyun?" Panggil Haru Seonsaeng-nim.
"Ne?"
"Kau bilang tadi pacar mu bukan dia. Kalau begitu siapa?" Tanya Haru Seonsaeng-nim dengan alis naik turun.
Baekhyun pun tersipu malu ditanyai seperti itu. "Kim Taehyun.." jawab Baekhyun malu-malu.
"Jadi kau pacaran dengan Taehyun?" Pertanyaan itu muncul begitu saja.
Seharusnya Haru Seonsaeng-nim yang bertanya, namun pertanyaan itu muncul dari Park Chanyeol.
Baekhyun pun mendesis kesal. "Bukan urusan mu!" Sergah Baekhyun pada Chanyeol.
"Wah, rasanya aku seperti menonton drama rom-com yang berawal dari benci menjadi cinta." Pekik Haru Seonsaeng-nim melihat ke dua muridnya.
"Maldoanwaeeeee!" Teriak Baekhyun.
"Aku sudah punya pacar saengnim. Kenapa aku harus dengan dia!" Saat Baekhyun mengucapkan kata dia nadanya terdengar sangat jijik. Seperti menyebutkan hewan menjijikkan macam kecoak atau ulat.
Lagi-lagi bukan Haru Seonsaeng-nim yang menjawab.
"Kim Taehyun, pacarmu. Dia bukan pemuda yang baik." Ujar Chanyeol, lebih terdengar seperti gumaman.
Byun Baekhyun berang mendengar komentar Chanyeol tentang pacarnya. "Bagaimana bisa seorang pemuda yang sudah menghancurkan banyak hati wanita dapat menilai seorang pemuda lain itu baik atau tidak?" Tanya Baekhyun pada Chanyeol.
Sedangkan Park Chanyeol terkejut mendengar perkataan Baekhyun yang begitu menusuk. Namun rasa itu ia alihkan sejenak. Sebenarnya niatnya baik berkata seperti itu. Terutama sebelumnya ia mendapat informasi dari Mino temannya. Ia hanya khawatir Baekhyun akan terluka lagi.
Kenapa aku harus khawatir?
Merasa kesal pada dirinya sendiri, ia pun memilih untuk kembali menjadi Park Chanyeol si pemuda brengsek dan dingin. "Kau nilai saja sendiri nanti pacarmu itu, Nona Byun. Tidak lama lagi kau akan tahu."
Tak lama kemudian Chanyeol pun meninggalkan UKS setelah terdengar suara bel tanda pergantian pelajaran.
"Kau lihat, sikap cemburunya itu menggemaskan bukan?" Tanya Haru Seonsaeng-nim yang masih gagal paham tentang hubungan mereka berdua.
Baekhyun pun memikirkan ucapan Chanyeol. Taehyun bukan pemuda yang baik? Apa itu benar? Setahunya Taehyun adalah pemuda yang sangat ramah, baik dan pengertian. Dan apa peduli Chanyeol tentang nya dan Taehyun. Belumkah pemuda itu puas menghancurkan hatinya ,apa kini ia ingin menambahnya dengan menghancurkan hubungannya dengan Taehyun?
"Aku pulang!" Teriak Luhan begitu sampai ke rumah.
Coffe shop nampak lumayan ramai seperti biasa. Mungkin karena sedang jam makan siang.
Eomma yang sibuk melayani pelanggan saat melihat kedatangan gadis kuncir dua itu pun segera menghampirinya setelah melayani pelanggan.
"Luhan, kau sudah pulang?" Tanya Eomma pada Luhan.
"Iya Eomma. Hari ini aku pulang cepat."
"Kau pulang sendiri?" Tanya Eomma lagi.
"Tadi diantar Jongin. Baru saja ia pulang." Jelas Luhan sambil menunjuk ke luar.
Eomma pun mengangguk paham.
"Luhan bisa kau temani Sehun mengantarkan pesanan kue?" Tanya Eomma pada Luhan.
"Dimana Sehun Oppa, Eomma?"
"Ia didalam. Ia sedang mengemas kue."
Luhan pun segera masuk ke dalam rumah dan mencari Sehun. Pemuda itu nampak di garasi, dekat dapur rumah. Di meja makan terlihat Sehun yang sedang memindahkan kue ke dalam sebuah kotak.
Gadis berkuncir dua itu kemudian membantu Sehun.
"Hai Luhan! Pulang cepat?" Ucap Sehun saat melihat Luhan membantunya.
Luhan mengangguk dan tersenyum. "Eomma menyuruhku untuk menemanimu mengantarkan kue."
Sehun pun mengangguk, mungkin ini yang di maksud Eomma nya semalam untuk membawa Luhan berjalan-jalan.
"Baiklah, kalau begitu ganti pakaian mu. Bagaimana sepulang mengantarkan kue, kita pergi ke Lotte World? Ini biar aku yang urus." Kata Sehun praktis dan memasukkan kotak kue itu ke dalam bagasi mobil.
Mata rusa Luhan kontan berbinar saat mendengar kata Lotte World. Luhan hanya bisa mengangguk dengan senyuman sumringah di wajahnya. Sedangkan Sehun terkekeh melihat remaja itu begitu kegirangan.
"Yasudah kalau begitu, cepat ganti baju! Apa mau ku tinggal?" Ancam Sehun sepenuhnya bercanda.
Gadis itu pun dengan langkah terburu-buru bergegas lari menuju kamarnya.
Dari luar mobil, Luhan berlari menuju Sehun. Gadis bermata rusa itu segera masuk ke dalam mobil dan duduk di jok depan mendampingi Sehun. Pemuda berwajah datar itu hanya memakai kemeja putih polos dan celana jeans, namun nampak sangat-amat-tampan. Mata Luhan berbinar melihatnya.
Luhan pun sudah berdandan spesial untuk kali ini,
"Tumben sekali kau tidak menguncir dua rambutmu."
Itulah komentar pertama Sehun saat melihat Luhan dalam balutan mini dress bernuansa sailor warna biru navy dan list merah. Rambut Luhan yang ikal di bawah tergerai sampai pinggang. Sneaker putih dan slingbag berwarna serupa menjadi tambahan. Belum lagi riasan ringan menghiasi penampilan Luhan kali ini.
Luhan nampak begitu cantik, manis, dan menggemaskan. Orang yang melihat nya mungkin akan mengira gadis itu seorang model remaja, atau idol dari girl group. Namun tetap saja di mata Sehun ia adalah adik kecil yang merepotkan namun ia sayang.
"Hmm.. aku bosan di kuncir terus." Jawab Luhan singkat pula. Menyembunyikan rasa kecewa karena Sehun tidak memuji penampilan nya.
Luhan diam saja sepanjang perjalanan, membuat keadaan menjadi hening. Bukan hening yang nyaman, namun hening yang tidak mengenakkan.
Sedari tadi, mata Sehun tergoda oleh rambut panjang dan bergelombang milik Luhan. Ia sangat menyukai rambut gadis pemilik mata rusa itu. Namun, ia tidak pernah mengatakannya pada gadis itu secara langsung.
Tanpa sadar, tangan Sehun menyentuh rambut Luhan membuat gadis itu tersentak kaget.
Melihat reaksi Luhan, ia pun memilih untuk jujur saja. "Aku suka rambutmu."
Tangan Sehun masih saja mengelus rambut panjang Luhan yang sehalus bayi. Gadis itu memilih untuk diam saja, mencoba mengendalikan debaran jantung, dan fokus saja melihat jalanan di kota Seoul. Entah kenapa kekecewaannya menghilang, dan seluruh perasaan senang ini mengudara disekitar nya.
Luhan pun mengenggam tangan Sehun yang mengelus rambutnya, mencoba melepaskan.
"Aku lebih suka melihatmu tidak mengikat rambut mu. Rambut mu nampak begitu indah, apa kau tahu Luhan?"
Luhan tersipu mendengar pujian Sehun.
"Aku ingin bertanya padamu."
"Silahkan." Jawab Luhan sambil menatap Sehun yang sedang menyetir.
Sehun pun memelankan laju mobilnya. "Kenapa kau selalu menguncir dua rambutmu?"
"Hmm.. karena ibuku, mungkin?" Jawab Luhan agak ragu.
Sehun menaikkan alisnya terkejut. "Ibumu?"
Luhan pun teringat pada masa kecilnya dulu, sewaktu Mama nya masih hidup. "Dulu, Mama selalu menguncir dua rambutku. Ia rajin sekali merawat rambutku, menyisirnya, dan lain-lain. Entah kepada setiap kali aku menguncir dua rambutku, seperti Mama selalu ada untuk ku.." jawab Luhan panjang sambil namun tidak menatap ke arah Sehun.
"Ah maafkan aku, aku membuatmu sedih sekarang." Ucap Sehun menyesal telah bertanya.
Luhan pun tersenyum manis sekali. "Gwaenchana, Oppa."
Sehun mengusak puncak kepala gadis itu sayang. Sedangkan Luhan merasa bahagia sekali saat ini. Ia berharap agar selalu akrab dan dekat dengan Sehun seperti ini.
"Sudah sampai, kau tunggu di mobil saja ya Luhan. Aku hanya sebentar." Ujar Sehun saat sampai ke tujuan mengantarkan kue.
Luhan pun menuruti Sehun, ia duduk manis di dalam mobil, menunggu Sehun Oppa nya kembali. Lalu melanjutkan perjalanan menuju Lotte World, dan bersenang-senang disana.
Suasana hati Luhan sangat senang kali ini, sangat berbeda dengan langit Seoul hari ini. Langit nampak begitu gelap, seperti akan badai. Dan benar saja kan, hujan pun mulai mengguyur kota itu. Untung saja Luhan berada di dalam mobil sehingga ia tidak mungkin kebasahan, atau ia tidak perlu mencemaskan rencana jalan-jalan ke Lotte world karena tempat itu berada di ruangan tertutup. Namun tiba-tiba sesosok pemuda berlari menembus hujan muncul, dan masuk ke dalam mobil.
Sehun Oppa!
Kemeja putih dan celana jeans nya lengket karena kehujanan, Sehun menggigil kemudian mulai menyalakan pemanas mobil.
"Basah sekali Oppa.. kenapa tidak pakai payung?" tanya Luhan saat melihat Sehun begitu basah kuyup.
"Toko sial itu tidak menjual payung, kalau tidak ku tembus hujan ini kau akan menunggu sampai sore Luhan." Gerutunya kesal karena kehujanan.
Tanpa memikirkan di dalam mobil itu terdapat seorang gadis. Sehun membuka semua kancing kemeja nya dan melepasnya. Ditambah lagi, pemuda itu tidak memakai kaus dalaman, sehingga perut sixpack itu terpampang nyata di hadapan Luhan.
Gadis bermata rusa itu kemudian memerah dan segera menutup matanya. "Yak! Oppa kalau mau melepas baju mu bilang dulu!" Protes Luhan kesal.
Sehun cuek saja, malah menjemur kemeja itu di atas dasboard Luhan.
"Kuncir dua, tolong ambil kan kaus di dalam tas pada jok belakang itu." Perintah Sehun pada Luhan yang masih betah menutup matanya.
Sambil menutup mata, ia pun meraba-raba jok belakang dan menemukan sebuah tas. Ia pun menyerahkan nya kepada Sehun.
"Pakai, Cepat!"
"Iyaa.."
"Sudah belum?" Tanya Luhan pada Sehun, masih memejamkan mata.
Sehun berseringai menyebalkan. "Sudah."
Saat Luhan membuka matanya, justru terlihat Sehun sedang melepas celana nya, hanya memakai boxer dan masih dalam keadaan topless.
"Yak! Oppa kau mengerjai ku terus ya!" Jerit Luhan kemudian memukuli Sehun sekuat tenaganya.
Pukulan dari tangan Luhan tidak berarti apa apa bagi Sehun. Ia malah tertawa kegirangan.
"Kau kan sudah sering melihat ini? Harusnya sudah terbiasa dong." Goda Sehun.
Luhan pun kesal dengan Sehun karena menganggap candaan pemuda itu sama sekali tidak lucu. Meskipun ada sedikit penasaran menyelinap di hatinya untuk mengintip tubuh sempurna milik Sehun. Namun ia memilih untuk memenangkan harga dirinya.
"Jangan marah, Luhan.. Buing-buing.." bujuk Sehun mencoba beraegyo.
Luhan tidak kuasa menahan tawa nya, walaupun sekarang ia sedang marah. Bagaimana tidak bisa tertawa, Sehun yang sedang topless dan abs seksi yang minta untuk di raba itu melakukan aegyo seperti anak TK yang merengek balon. Sangat tidak serasi. Begitu bertabrakan.
Tawa Luhan pun berderai. Sehun menghela nafas lega.
"Yasudah jangan marah lagi, ya. Celana ku basah juga jadi aku ingin mengeringkan nya. Lihat aku sedang memakai kaos ku."
Selesai pemuda itu memakai kaos nya Luhan pun mulai memperhatikan Sehun Oppa nya yang barusan membuat nya tidak jengkel lagi.
Gadis bermata rusa itu tersenyumlah sampai sampai matanya tertutup. "Hanya kau yang bisa membuatku tertawa saat aku marah, Oppa." Ungkap Luhan tulus pada Sehun.
"Benarkah? Baru aku?" Sehun menyahut, sesaat terbius oleh senyuman Luhan namun kemudian segera menyetir melanjutkan perjalanan menuju Lotte world untuk mengalihkan pikirannya.
Luhan mengangguk. "Eum.."
"Bagaimana dengan pacar mu? Apa kau tidak pernah dibuat seperti itu oleh pacarmu?" Tanya Sehun begitu saja.
Pacar? Mana mungkin ia bisa punya pacar kalau Sehun Oppa satu-satunya pemuda yang ia sukai!
Luhan pun menjawab Sehun dengan pelan. "Aku tidak punya pacar, Oppa."
"Kalau begitu apa kau pernah punya pacar?"
Luhan menggeleng cepat. "Tidak."
Sehun tertawa sebentar. "Ah malang sekali."
"Saat ku seusia mu. Mungkin aku sekarang sudah putus dengan pacar ke 14 ku." Sambung Sehun geli membayangkan masa remaja nya dulu.
Luhan terkejut mendengar nya. Rasanya seperti tersedak sesuatu, padahal ia tidak sedang memakan apapun. Mungkin ia tersedak oleh perkataan Sehun.
"Kenapa?"
"Tidak apa, Oppa. Wah, banyak sekali pacar Oppa.." komentar Luhan, mencoba bersikap normal agar Sehun tidak curiga.
"Ya bisa dibilang begitu.. namun, diantara semuanya tidak ada yang benar-benar aku cinta." Jelas Sehun kemudian.
Luhan hanya mengerjabkan matanya sambil mendengarkan Sehun.
"Lebih baik kau punya satu, namun benar-benar kau cinta. Dari pada banyak, tapi tidak ada yang benar-benar kau sukai." Ceramah Sehun pada Luhan. Gadis itu pun mengangguk mengerti.
Seperti pada umumnya, gadis yang patah hati akan menangisi cinta pada fase awal. Fase menengah ia mulai terbiasa, dan terakhir ia pun sudah melupakan patah hatinya. Berbeda dengan pemuda. Di mulai dengan bersuka ria karena telah terbebas dari cinta yang menyakitkan, namun perlahan ia pun merasakan kesepian dan penyesalan yang berkepanjangan.
Irene patah hatinya. Dan ia sedang memasuki fase awal. Ibu nya begitu mencemaskan keadaan Irene. Karena gadis itu mengunci dirinya di dalam kamar seharian. Tidak mau keluar, bahkan makanan yang Ibunya letakkan di depan pintu sama sekali tidak tersentuh.
Meskipun Ibu Irene mengerti betul apa yang menimpa anak gadisnya tetap saja ia tidak tega melihat keadaan putri semata wayangnya.
Dengan harapan agar anak gadisnya cepat pulih dari kesedihannya. Ia pun meletakkan beberapa ratus ribu won ke dalam sebuah amplop yang kemudian di selipkan melalui celah pintu kamar Irene. Di amplop itu tertulis sebuah kalimat singkat 'bersenang-senanglah.'
Hal itu yang membuat Irene berada di sini. Lotte World. Bersama teman nya, Seulgi dan Joy. Kedua temannya turut menemaninya dalam rangka menghibur teman yang patah hati.
Sedari tadi mereka sudah bersenang mengitari area Lotte World yang sangat luas ini.
Tak terhitung rasanya pasang mata lelaki atau perempuan menatap ke arah mereka. Jelas, karena mereka sangat menarik perhatian. Begitu menarik, karena ketiga gadis itu sangatlah cantik jelita, bahkan beberapa orang mengira kalau mereka adalah Grup Idol yang sedang syuting Variety Show disini.
"Irene! Kau lihat ke arah sana! Bukan kah itu Sehun?" Tunjuk Joy kearah pintu masuk Lotte World.
Meskipun tempat itu begitu padat namun Irene dapat mengenali sosok bertubuh tinggi nan atletis tersebut. Dan sosok tersebut sedang menggandeng tangan seorang gadis mungil. Yang tak mungkin ia salah mengenali, Luhan.
"Ia benar. Itu Sehun. Sudah biarkan saja." Jawab Irene memasang ekspresi cuek. Walaupun sebenarnya dalam hatinya tengah sangat pedih.
Tanpa persetujuan Joy dan Irene, Seulgi dengan naif nya memanggil Sehun.
"Hai! Sehun!" Panggil Seulgi saat Sehun dan Luhan melewati mereka.
Refleks, Joy pun menyubit perut datar Seulgi.
"Auww.." ringisnya kesakitan. "Kenapa sih?!" Sergahnya kesal.
Joy pun memelototi Seulgi, berharap gadis itu paham dengan keadaan ini.
Namun terlambat, begitu Sehun melihat ke arah Seulgi, ia mendapati disana ada Irene. Ia pun bergegas menghampiri mereka bertiga. Luhan mengikuti dari belakang.
Irene pun mengatur nafas, sebentar. Berharap ia menjadi lebih tenang.
Begitu Sehun sampai di hadapan mereka, ia pun menyapa. "Hai Seulgi, Joy, Irene."
Para gadis itu pun membalas dengan senyuman di bibir mereka.
"Bermain disini juga, ya?" Tanya Sehun mencoba membuka pembicaraan.
"Iya.." jawab Seulgi dan Joy kompak. Sedangkan Irene hanya diam saja.
Sehun pun mencoba untuk mengajak bicara Irene. "Apa kau baik-baik saja Irene." Tanya Sehun, memasang ekspresi khawatir.
Melihat kekhawatiran di mata Sehun, sepatutnya pemuda itu tidak usah lagi bersikap baik padanya. Terasa sia-sia. Karena yang akan Irene ingat hanya kepedihan atas cinta sebelah tangan.
Irene pun menghela nafas panjang. "Baik."
Sehun menangkap perubahan sikap Irene menjadi sangat dingin kepadanya. Ia pun mengerti. Ia dapat menerimanya, karena ia memang tidak pantas untuk mendapatkan sikap baik dari Irene, setidaknya setelah ia mematahkan hatinya menjadi berkeping-keping.
"Hai, dik.. Sehun siapa nama adik kecil ini, apa ia keponakan mu?" Sapa Seulgi mencoba menyapa Luhan.
Luhan terkejut, dan kesal. Ia pun memaksa kan sebuah senyuman.
"Ah, dia bukan keponakan ku.. Lagi pula dia itu sudah remaja. Tahun ini ia berusia 16 tahun." Jelas Sehun pada Seulgi.
"Namaku Xi Luhan." Ujar Luhan memperkenalkan diri.
Kontan kedua gadis itu Joy dan Seulgi menatap ke arah Irene. Terkejut, kalau ternyata lawan saingan gadis secantik Irene adalah seorang gadis kecil. Bahkan salah satu dari mereka mulai menduga kalau Sehun itu terkena sindrom Lolicon.
"Kalau begitu, ayo kita bergabung." Usul Seulgi pada Sehun,
"Tidak usah. Biarkan saja mereka pergi sendiri." Potong Irene, dan langsung berangsur pergi.
Meninggalkan kedua temannya yang merasa tidak enak pada Luhan dan Sehun.
Setelah memasang ekspresi, 'maklumi saja ia', Joy dan Seulgi pun mengejar Irene yang pergi.
Pertemuan mereka dengan Irene dan kawan-kawan entah mengapa membuat atmosfer diantara mereka berubah.
Saat sedang berkeliling, ada sebuah wahana yang menarik perhatian Luhan.
"Oppa, ayo kita naik itu.." tunjuk Luhan pada sekumpulan orang yang sedang mengantre di sebuah wahana.
Sehun pun menuruti gadis itu, dan mengantre bersama.
Sebenarnya, sedari tadi Luhan merasa tegang. Ia merasa tegang karena ini adalah kali pertama nya berjalan jalan dengan seorang pria selain Baba nya. Saking tegang nya ia bertemu Irene dan juga keadaannya berduaan dengan Sehun, ia asal tunjuk saja. Wahana ini adalah wahana Balon Udara. Wahana tersebut bernama Lotty's hot air ballons flight. Mereka akan berkeliling Lotte World dengan Balon Udara!
Setelah mengantre, mereka pun mendapat bagian tempat. Begitu balon udara mulai berjalan. Luhan tidak berhenti berdecak kagum pada pemandangan yang di suguhkan dari atas sini. Ditambah lagi Luhan merasa begitu senang sekarang, dapat menaiki Balon Udara ini dengan pemuda yang ia sukai.
"Wahh.. Sehun Oppa~ Lihat itu, indah sekali, bukan?" Ucap Luhan dengan gembira sambil melihat pemandangan.
Sehun Oppa malah diam. Tidak menyadari Luhan.
Luhan pun terdiam sesaat. Pemuda itu nampak begitu tersesat di dalam pikirannya.
"Ah, maaf. Luhan tadi kau bilang apa?" Tanya Sehun begitu tersadar.
Sekilas, hatinya terasa berdenyut nyeri. Namun ia mencoba menampikkannya. "Tidak, Oppa. Tadi aku berkata pemandangan nya indah, kan?"Jawab Luhan dengan seksama.
Sehun pun mencoba melihat ke sekeliling nya. "Hmm.. benar. Tempat ini indah." Komentar Sehun datar.
"Nampaknya kau sudah sering mengunjungi tempat ini Oppa?" Tanya Luhan pada Sehun, melihat reaksi Sehun nampak biasa saja dengan Lotte World.
Sehun yang sedari tadi terdiam kemudian mulai tersenyum. "Aku kesini setiap tahun, saat Junior High School dan High School dulu. Sampai bosan.."
"Benarkah?" Tanya Luhan tidak percaya.
"Belum lagi di hitung dengan beberapa mantan pacarku yang ku bawa kencan disini.. rasanya aku bisa menjadi salah satu pengunjung setia."
Luhan pun tertawa. Dan juga merasa lega. Akhirnya Oppa nya kembali seperti semula. Luhan merasa ada yang aneh diantara Sehun dan Irene. Atau mungkin, mereka sedang bertengkar?
Gadis bermata rusa itu pun tidak mau ambil pusing dan memilih untuk menikmati hari ini, hari nya bersama Sehun.
Selepas menaiki wahana Balon Udara, Luhan dan Sehun pun berkeliling dan mencoba beberapa wahana lainnya.
Mereka menaiki wahana French Revolution. Salah satu rollercoaster yang paling mematikan menurut Sehun. Ia pun nyaris pasrah saat gadis remaja itu menariknya kesana. Alhasil, ia pun muntah hebat begitu wahana itu selesai. Sehun bahkan sudah tidak memikirkan apa yang akan Luhan ceritakan pada Eomma nya nanti. Namun saat melihat gadis itu tertawa lepas, terhibur akan penderitaannya. Membuat semua kesalnya hilang.
Mereka melanjutkan dengan menaiki wahana ekstrem-menurut Sehun. Tapi luar biasa menyenangkan menurut Luhan. Drunken Basket. Sehun punya beberapa memori buruk tentang wahana tersebut. Saat dirinya berada di sebuah piringan besar, dan diputar dengan sangat kencang dan tidak manusiawi. Luhan nampak berteriak ketakutan. Ia berpegangan begitu erat, takut terhempas dari tempatnya. Karena tidak tega, Sehun pun memegangi Luhan dengan erat. Di tengah ketakutan nya, sesaat terasa perasan senang dan tenang saat Sehun menggenggam jemarinya.
"Kalau wahana ini, aku menyerah.. Oppa.." rintih Luhan saat ia berjalan dengan gontai menjauhi wahana Drunken Basket.
Sehun juga mual. Namun karena ia sudah muntah di ronde pertama, jadinya tidak begitu mual.
"Ayo kita beli minum, atau makanan.. wajahmu pucat sekali, Lu." Ajak Sehun menuju salah satu booth makanan yang berada di Lotte World.
Luhan hanya mengikuti Sehun ia tidak sanggup untuk menolak atau mencoba naik beberapa wahana lagi. Kakinya terasa begitu lemas.
Ia pun memilih berdiri di depan booth, menungggu Sehun memesan makanan dan minuman mereka.
Saat sedang mencari tempat untuk istirahat sebentar Luhan menemui tiga sosok yang tidak asing baginya. Irene, Seulgi dan Joy berdiri sebuah booth pastry. Namun mereka tidak menyadari keberadaan Luhan. Rencananya, Luhan ingin duduk dan bergabung dengan mereka. Namun, Luhan berada di jarak yang cukup dekat dengan mereka, sehingga dapat mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Aku tidak menyangka, ternyata selera Sehun benar-benar buruk." Kata Joy, sambil memakan sebuah Pretzel.
"Betul sekali. Dibanding kan anak kecil, seperti itu, jelas kau lebih cantik. Dan lebih lebih lebih.. jauh di atas anak kecil itu, Irene.." Seulgi pun ikut menimpali tangannya sedang memegang sebuah cup besar ice frappuccino.
Irene hanya diam saja, melihat kedua sahabatnya berkomentar tentang saingannya. "Gadis itu bernama Luhan." Ucap Irene mengingatkan.
"Jadi, Luhan itu masih bersekolah? Aku tidak menyangka.. kurasa Sehun itu Lolicon." Desis Seulgi kemudian, menyeritkan alisnya jijik.
Mendengar tuduhan Seulgi yang sangat tidak masuk akal, Irene melontarkan tatapan tajam tanda tidak setuju.
"Bisa jadi ia Lolicon, Irene. Mana mungkin sih, seorang pemuda normal, lebih memilih gadis kecil, walaupun usianya sudah remaja, tetap saja.. dia nampak seperti anak SD. Seorang pemuda normal pasti akan lebih suka dengan gadis dewasa seperti mu, Irene. Sudah dipastikan kalau Sehun itu Lolicon kan."
Mendengar hal itu, Luhan tanpa sadar menereskan air mata. Hatinya begitu sakit mendengar semua perkataan itu. Tanpa memikirkan apapun, Luhan pun berlari melewati Irene, Joy, dan Seulgi yang asik membicarakan nya.
Mereka bertiga pun terkejut ketika melihat Luhan sambil berderai air matanya, berlari.
"Kurasa ia mendengar semuanya.." tukas Joy dengan lugu, sambil memegangi mulut jahatnya.
Irene pun terkejut, sedikit ada perasaan bersalah pada Luhan.
Tak lama setelah kepergian Luhan, Sehun datang menghampiri mereka bertiga.
"Apa kau lihat Luhan? Anak itu menghilang.." tanya Sehun sedikit kesal dan agak khawatir. Di tangannya dua buah cup besar softdrink dan kentang goreng.
"Tadi aku lihat ia berlari ke arah sana sambil menangis." Tunjuk Joy dengan lugu.
Irene dan Seulgi pun kemudian memelototi Joy. Gadis itu mengatakan sesuatu yang tidak perlu dikatakan.
Sehun pun berucap terimakasih, dan segera mencari Luhan. Sesaat ia teringat kata Joy kalau Luhan menangis. Ia pun kembali lagi.
"Tadi kau bilang apa? Ia menangis?" Selidik Sehun sekali lagi, kali ini sedikit mendesak mereka.
Irene pun mendesah kencang. Yang sedari tadi ia diam saja, kemudian bersuara. "Tadi gadis kecil itu mendengar saat kami membicarakan mu dengan nya. Kenapa kau lebih memilih dia daripada aku. Kami bahkan tidak tau kalau ternyata dia ada di belakang kami dan mendengarkan semua percakapan itu. Dan kemudian dia berlari, sambil menangis." Papar Irene menjelaskan kejadian yang baru saja terjadi.
Sehun merasa sangat kesal. Kenapa Luhan harus mendengarkan itu? Dan tega-teganya Irene melakukan hal itu pada gadis kecil yang tidak tau apa-apa, dan tidak sepatutnya disalahkan karena penolakannya kemarin.
Saking merasa kesalnya, Sehun meremas bungkus kentangnya hingga remuk, kemudian membuangnya sembarang. Ketiga gadis itu ketakutan, merasakan amarah Sehun yang memuncak.
"Kau, keterlaluan.." desis nya diantara rahang gigi yang terkatup karena kesal.
Sehun pun pergi kearah yang ditunjukkan oleh Joy.
Sedangkan Irene mencoba menahan diri agar tidak menangis lagi, karena lagi-lagi Sehun lebih memilih Luhan dibandingkan ia.
Luhan sangat ketakutan. Setelah menangis tadi, ia berlari kemana saja tanpa aturan. Dan sekarang ia pun tersesat.
Ia rasa, ia tersesat di pusat perbelanjaan oleh-oleh Lotte World. Tempat ini terasa begitu asing dan besar juga menakutkan tanpa ada Oh Sehun di samping nya.
Karena kelelahan, ia pun memilih beristirahat di sebuah bangku yang disediakan.
Luhan begitu takut sekarang, mana mungkin ia harus menuju ketempat penampungan anak hilang di Lotte World. Ia sudah begitu besar untuk itu. Luhan pun kembali menangis, membayangkan betapa bodohnya tindakannya, dan juga sekarang pasti Sehun Oppa sedang mencarinya.
Ditengah isakkannya. Seorang Ahjussi menghampiri Luhan. "Hai adik, manis. Kenapa menangis." Sapa Ahjussi itu, sambil mengambil tempat duduk di sebelah Luhan.
Orang asing yang menakutkan, pikir Luhan.
Luhan hanya menggeleng saja dan menunduk ketakutan. Ahjussi itu nampaknya tidak mengindahkan reaksi Luhan yang menolaknya.
Seolah tidak paham, ia lanjut mendekati Luhan. "Apa kau tersesat?" Tanya Ahjussi itu kemudian tangannya mulai kurang ajar merangkul pundak Luhan.
Seseorang tolong aku! Batin Luhan menjerit.
"Kalau begitu ikut Oppa, ayo." Ajak Ahjussi itu sambil menarik tangan Luhan.
Luhan sudah sangat ketakutan. Saat ia ingin menjerit kuat minta pertolongan. Suara yang sangat Luhan kenal menginterupsi gerakan Ahjussi kurang ajar itu.
"Singkirkan tangan kotormu dari gadisku, Dasar Sial!" Ucap Sehun dengan aura mematikan.
Ahjussi itu segera melompat, saat melihat Sehun mendorong tubuhnya menjauh dari Luhan. Ia pun berlari dengan terbirit-birit, ketakutan.
"Pergi jauh-jauh sana kau, Sial!" setelah mengusir Ahjussi kurang ajar itu, Sehun pun segera menanyakan keadaan Luhan. "Apa kau baik-baik saja, Luhan."
Saat bertanya, Luhan membalas dengan memeluk Sehun erat-erat.
"Aku takut." Jawab Luhan sambil menangis di pelukan Sehun.
Sehun pun balas memeluk Luhan erat, betapa takutnya ia barusan kalau ia sampai kehilangan gadis merepotkan ini. Tanpa sepengetahuan Luhan, Sehun mengecup puncak kepala Luhan, saat Luhan menangis di dalam pelukannya. Sehun sangat takut kehilangan Luhan. Ia begitu menyesal atas semua hal buruk yang terjadi pada gadis itu hari ini.
Setelah menenangkan Luhan, Sehun pun memutuskan."Kalau begitu ayo kita pulang." Ajak Sehun pulang, kemudian diikuti oleh Luhan.
Sepanjang perjalanan menuju mobil, Sehun dan Luhan berjalan di depan tanpa bicara. Mereka berjalan dalam keheningan. Padahal di dalam benak keduanya begitu banyak pertanyaan berputar di kepala mereka. Luhan memeluk dirinya sendiri saat merasakan betapa dinginnya cuaca hari ini. Terlebih sehabis hujan tadi siang.
Sehun berjalan dengan sangat cepat. Saking cepatnya, membuat Luhan sulit mengimbanginya. Dibandingkan kaki panjang Sehun, langkah pendek Luhan tidak dapat membandinginya.
Karena jalanan terlalu licin, membuat Luhan agak terhuyung saat berjalan, dan tergelincir di jalan. Tiba-tiba saja Sehun berhenti berjalan. Luhan mengira, Sehun akan marah-marah dengannya. Meluapkan kekesalannya, yang sudah menumpuk sedari tadi. Menyesal karena sudah membawanya ke Lotte World. Tapi ternyata, Sehun membungkuk dan berjongkok di hadapan Luhan. Dengan cekatan Sehun memperbaiki tali sepatu Luhan yang terlepas. Sehun bertumpu pada satu lutut, dengan hati-hati ia mengikatnya kembali. Lalu Sehun berdiri dan mengulurkan sebelah tangannya pada Luhan, membimbing Luhan ke tempat tujuan mereka, mobil.
Luhan menatap punggung Sehun yang membelakangi nya, tangan Sehun yang kokoh menggenggam jari Luhan. Luhan sadar mungkin Sehun kesal dengannya, atau mungkin kecewa, tapi pemuda itu tidak menunjukkannya. Hati Luhan menghangat, dan saat itu pun ia tahu sesuatu yang ia yakini lebih dari apapun itu juga.
Aku suka padamu.
Aku cinta padamu.
Oppa.
Sehun Oppa, Aku cinta padamu..
Kata-kata itu terus menghantui Luhan.
Luhan memanggil Sehun, namun ia tidak menoleh dan terus berjalan. Luhan pun berlari kecil agar dapat menyamakan langkah nya dengan Sehun.
"Sehun Oppa. Mungkin aku kekanakan, menyebalkan dan merepotkan. Namun semua yang ku lakukan ini atas dasar perasaan suka ku pada mu. Saranghaeyo.. Oppa."
TBC
A/N
APAKAH DI CHAPTER DEPAN MEREKA AKAN JADIAN? HOHOHOO
STAY TUNED YA GUYS..
LittleHunhan: Iya, udah update ^^ thanks for review ya say..
LuVe94: Pecah telornya, tapi anak ayam nya mana(?) Aku sih konsisten lanjutin cerita ini. Walaupun sengaret apapun, pasti akan ku selesaikan hehe.. thanks for review ^^
Phe19920110: Iya sudah di lanjut. Semoga rasa penasaran mu terbayarkan ya, hehe ^^ thanks for review :)
Fe261: Masa sih? Abis nya dibayang ku Luhan GS itu kayak anak kecil sih hehe.. maaf Lu, ga maksud nistain.. btw thanks for review:)
LittleOoh: Yehee.. udah di update nih.. thanks for review ^^
Rini Kim: hehe, sabar ya.. aku juga pernah kayak gitu.. udah review panjang lebar malah ga ke post. Iya makasih semangatnya. Thanks for Review, dear..
melfanfan: Hehe, Baekhyun udah sabar banget dari dulu. Hunhan momen di chap selanjutnya bakalan penuh banget, hehe.. makasih dukungannya, thanks for review :))
xiHan.a-oh: Seperti nya Chap depan? Atau depannya lagi? Hehe~ thanks for review,Dear..
OhXiSeLu: Maafkan akuu *nunduk* susah banget seriusan ternyata kalau nulis sebuah cerita itu~ awalnya juga aku kira ah, nulis gini doang mah kecil. Ternyata susahnya minta ampun.. apalagi saat diotak udah ada ide tapi..*malahcurcol* seriusan itu bacanya semenit? Aku nulisnya 4 bulan T-T. Iyaa.. ga bakalan Hiatus kok. Makasih loh udah mau nungguin aku. Hehe thanks for review..
Guest: Wauw. Baru kali ini kayaknya ada yang bilang cerita ini keren :)) Thanks for review:)
SeLynLH7: (2) iya Eomma Sehun emang iseng parah.(3)Lagi pada patah hati berjamaah =.=" Hehe.. (4) Terinspirasi sama Ceritanya NaruHina sih, lebih tepatnya..;) (5) hayolooo.. pasti di baca sama Sehun. ^^ (6) Karena Baekkie kena apesnya wkwk.. (7) mereka jadian di Chapter depan atau mungkin depannya lagi. Gatau ah bingung, hehe.. Thanks for Review, Dear. Kamu bacanya maraton ya wkwk..
tctbcxx: Silahkan baca Juseyoo ^^ thanks for review say..
makasih banyak buat yang udah follow, favorit, dan review fanfict ini. tanpa kalian fanfict ini ga akan ada apa-apanya guys... *deepbow* see you next chapter ;)
