HAPPY READING
Penerbangan Sakura siang itu landing di Bandara Internasional LA, Amerika Serikat. Menggenggam koper besar di tangan, memakai kaca mata hitamnya. Sakura sibuk mencari sosok paman tercinta di area koridor bandara.
Itu dia!
"Paman!" lambai Sakura antusias.
Kakashi, dengan setelan celana jeans dan jaket kulit, menatap tidak suka kehadiran keponakannya yang berlari ke arahnya itu.
"Aku merindukanmu, Paman Kakashi." Gadis rambut pink itu menghambur pelukan.
Kakashi balas memeluknya. "Kenapa kau datang ke LA tiba-tiba, Sakura? Apa Jepang tak cukup menyenangkan untuk menghabiskan libur musim panasmu?"
Sakura merengut. Ia melepas pelukannya dan menatap Kakashi, sebal.
"Siapa yang datang tiba-tiba? Buktinya Paman menjemputku, 'kan?"
"Paman pun baru tahu saat Kizashi menelponku satu jam yang lalu," sahut Kakashi. "Kau datang di waktu yang tidak tepat, Sakura."
"Tidak tepat?" Sakura mengerutkan alis. "Memangnya ada apa?"
Sakura dapat melihat garis wajah Kakashi mengeras. Seperti khawatir akan suatu hal. Ada apa? Biasanya juga Sakura sering berlibur ke rumah pamannya di Amerika. Ia bahkan selalu baik-baik saja.
Kakashi kembali berkata, "Pokoknya kau harus kembali ke Jepang."
"Eh?"
Kakashi menarik lengan Sakura tanpa basa-basi, gadis itu kebingungan. Sakura diseret paksa menuju loket. Ia semakin tidak paham. Kenapa pamannya terlihat tidak senang ia berkunjung ke Amerika? Apa karena pamannya itu marah padanya? Seingat Sakura, ia tidak melakukan hal yang salah.
"Satu tiket penerbangan ke Jepang," ujar Kakashi pada seorang resepsionis. Di sebelahnya, di depan meja loket, Sakura menggeleng tidak percaya.
"Maaf, Tuan. Dimulai dari pukul dua siang, bandara kami tutup. Penerbangan dinon-aktifkan sementara hingga besok pagi. Jika ingin melakukan booking tiket, silahkan kembali lagi besok pada jam operasional atau melalui situs online kami."
Kakashi tercenung tidak percaya. "Maksud Anda penerbangan dari Jepang tadi adalah yang terakhir?"
"Iya, Tuan. Maaf untuk ketidaknyamannya. Ini sudah peraturan dari perusahaan dan negara."
"Sial," geram Kakashi.
Melihat pamannya begitu frustrasi, Sakura semakin heran. Sebenarnya ada apa?
"Paman kenapa, sih?" tanya Sakura tak kalah geramnya. "Paman tidak suka aku datang? Katakan saja, aku tidak masalah. Aku bisa menginap di hotel."
"Bukan begitu, Sakura." Sial. Kakashi kehabisan kata-kata. "Hanya saja malam ini adalah..."
Kakashi menggantung kalimatnya. Wanita resepsionis mendelik pada Kakashi, pria itu membungkam. Diliriknya Sakura yang masih kebingungan.
Mendengus pasrah, Kakashi mencoba tersenyum pada keponakannya itu. Ia menggenggam kedua pundak Sakura. "Bagaimana kalau kita ke gereja setelah ini?"
"Ke gereja?" tanya Sakura memiringkan kepala. "Untuk apa?"
"Berdoa untuk keselamatan kita, Sakura."
TBC
