Kesunyian malam itu membuat Sakura merasa berada di tengah kuburan manusia. Hanya bisikan angin yang menyapa hingga menubruk ranting-ranting pohon di luar rumah.

Sesekali Kakashi mengintip di balik tirai jendela rumahnya. Memastikan bahwa keadaan sekitar tetap aman. Senapan berisi peluru tak pernah lepas dari tangan Kakashi. Siapa pun yang akan menyerangnya dan Sakura, pasti akan ia buat mati dengan senapan itu.

"Jangan meremehkanku," ujarnya mantap dan menarik pompa senapannya.

Sakura duduk di ruang tengah, di atas sofa, tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya atas purge. Suasana yang terlalu sunyi selalu membuatnya takut. Ia tidak suka sepi. Ia akan merasa aman jika sekitarnya menciptakan suara-suara kecil sampai bising sekalipun.

Jadi, Sakura menyalakan televisi agar mengurangi suasana sunyi itu. Nol siaran. Tidak ada acara apa pun dalam setiap channel di TV 32 inch itu. Hanya semut kecil-Sakura sering menyebutnya-memenuhi layar televisinya.

"Sial," geram Sakura.

Tiba-tiba kedua manusia itu berjengit ketika mendengar suara gedebuk pelan dari arah sebelah rumah. Sakura langsung berdiri. Ia menghampiri Kakashi dengan debaran jantung berdentum-dentum.

"Paman?" panggilnya.

"Ssst," desis Kakashi seraya menempatkan telunjuknya di bibir. "Mundur."

Sakura mengangguk. Kakashi berjalan ke arah jendela, mengarah ke samping rumah. Ia mengintip di sela tirai gorden. Sunyi. Tidak ada siapa pun di luar. Hanya terpaan cahaya bulan cerah malam itu menabrak netra hitamnya.

"Tidak ada apa pun," ujar Kakashi menghadap Sakura. Ia mengembalikan posisi gorden seperti semula. Baru selangkah Kakashi beranjak dari tempatnya, sebuah suara kembali memanggil dari arah jendela.

Kakashi berbalik. Ia geram. Ia seperti dipermainkan. Lalu, ia membuka kasar tirai gorden hingga pemandangan di balik jendela kaca terlihat jelas.

Kakashi hampir melompat mundur melihat pemandangan itu. Kepala anjing dengan darah segar yang menetes, menggantung di depan jendela. Lidah anjing itu menjulur di luar mulut. Membuat Sakura memekik tertahan di balik telapak tangannya. Mata nyaris melotot ketakutan.

"Shit! Para keparat itu ada di sini," umpat Kakashi dan mundur perlahan. Ia mendekati Sakura. "Jika sesuatu terjadi, pergilah ke ruang bawah tanah. Di sana ada pintu keluar, kau paham Sakura?"

Gadis itu mengangguk cepat. Sakura menggenggam salib yang mengalung di lehernya erat-erat. Detik berikutnya, mereka mendengar suara mesin dari arah pintu depan. Berdengung.

"Lari, Sakura!" tegas Kakashi. Ia menjulurkan mulut senapannya ke arah pintu masuk di depannya.

"Tapi, Paman?"

"Cepat pergi!"

Sebenarnya Sakura tidak ingin meninggalkan pamannya sendirian dalam bahaya. Namun, di satu sisi ia pun ketakutan. Mereka melihat ke arah pintu yang dibelah paksa menggunakan gergaji mesin dari luar. Kakashi melangkah mundur tetapi tidak mengubah posisi senapannya.

"Mereka akan masuk!" pekik Sakura.

Napas Sakura memburu. Itu efek dari debaran jantungnya yang meningkat. Kakashi sudah terbiasa berada dalam situasi berbahaya karena tuntutan pekerjaannya. Ia lebih terlihat tenang dibandingkan Sakura. Meskipun sebenarnya, ia tidak bisa membuang sekeping rasa takut yang menyelimuti dirinya. Karena sekuat apa pun orang hebat, mereka tetap manusia biasa.

"Cepat pergi ke ruang bawah tanah, Sakura." Ia melirik Sakura sekilas sebelum kembali fokus ke depan. "Pergilah dari sini selagi ada kesempatan. Dan bawalah pistolku, ambil di dalam jaketku, Sakura."

Bergegas Sakura mencari pistol di balik saku jaket kulit Kakashi. Ia menemukannya dengan tangan bergetar.

"Jaga dirimu baik-baik sebelum aku menyusul," ujar Kakashi lalu manarik napas pelan. "Berhati-hatilah, di luar sana para sociopath sedang berkumpul. Menyembunyikan diri sementara adalah pilihan terbaik."

Dengungan suara mesin gergaji semakin keras. Sakura begitu panik hingga tidak bisa mengeluarkan kata-kata.

"Cepat pergi!"

Bersamaan dengan bentakan Kakashi, Sakura berlari menuju ruangan bawah tanah. Ia menoleh ke belakang sebelum benar-benar tidak melihat punggung pamannya lagi.

"Paman," katanya.

Pintu depan rumah itu terkoyak, menciptakan lubang besar di bagian tengah. Sakura mundur sedikit dan menyembunyikan dirinya di balik dinding dapur. Gadis itu mengintip. Beberapa pria bertubuh tegap dengan topeng mengerikan yang berbeda-beda masuk ke dalam rumah.

Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima. Enam. Tujuh.

Mata Sakura membola melihat betapa banyaknya orang yang masuk ke dalam rumah, sementara pamannya hanya sendirian.

"Paman..."

Samar-samar ia mendengar suara beberapa laki-laki berbicara kemudian tertawa. Pun suara gergaji mesin membuat suara bising hingga pendengarannya tidak terlalu jelas. Sakura membekap mulutnya sendiri ketika mendengar suara tembakan. Itu pasti pamannya.

"Apa yang terjadi?" Sakura mendengar ada suara langkah kaki masuk lebih dalam ke rumah itu. Sakura segera bergegas meninggalkan dapur menuju ruang bawah tanah. Ia menuruni tangga yang gelap. Langkahnya hampir goyah karena salah berpijak.

Setibanya di sana, Sakura mengunci pintu. Napasnya terdengar satu-satu. Pistol masih bertengger di tangannya meski Sakura ragu bagaimana cara untuk menggunakan pistol itu.

Sakura mundur. Selangkah demi selangkah, pelan ke belakang menatap pintu. Tidak ada suara. Tiba-tiba rumah itu kembali sunyi seperti semula. Ruangan itu tidak terlalu besar namun dipenuhi banyak barang yang tidak terpakai. Sedalam Sakura menghirup udara, hanya bau debu yang ditangkap indera penciumannya.

Gadis itu terlalu takut hingga tidak lepas memandangi pintu. Ia mundur tanpa melihat dan menabrak galon kosong yang berdebu sampai jatuh ke lantai, menciptakan suara gedebuk. Sakura berjengit mendengar suara benda itu padahal ia sendiri yang menjatuhkannya.

"Sial," bisiknya.

Pendengarannya menangkap suara langkah kaki menuruni tangga. Ada seseorang yang menuju ke tempatnya berpijak. Kemudian Sakura bergegas mencari tempat sembunyi. Di balik meja tua. Sakura berlari ke belakang meja yang di tumpuki banyak barang usang di sana.

Dengan rasa takut yang menggebu, Sakura membekap wajahnya sendiri. Ia khawatir suara helaan napas kerasnya dapat terdengar. Seketika itu pula ia mendengar suara pintu dipaksa terbuka.

"Dia mendobrak pintunya," ucap Sakura dalam hati.

Sakura berusaha untuk mengunci suaranya. Pintu itu berhasil dibuka dan seseorang masuk ke dalam ruangan itu.

"Pussy," katanya, orang itu main-main. "Aku mendengar ada suara kucing di sini."

Atmosfer mendadak menipis. Keringat bercucuran melewati alis matanya. Sakura memejamkan mata erat-erat. Ia takut. Ia menggigit bibir bawahnya gemetaran. Doa-doa tidak berhenti mengalun di dalam hatinya.

Lindungi kami.

Lindungi kami.

Sampai orang itu kembali bersuara, membuat lutut-lutut Sakura melemas tidak berdaya.

"Sejauh apa pun kau bersembunyi, aku menemukanmu. Kucing merah muda."

TBC