Sakura tidak menyangka bahwa ketika dirinya mengalihkan perhatian orang-orang bertopeng yang berada di atas mobil, ternyata Sasuke berlari memutari gedung tempatnya bersembunyi dan menangkapnya dari belakang.

Sekarang Sakura dan Kakashi digiring di sebuah koridor sempit dan gelap oleh rekan-rekan Sasuke. Sedangkan sejak Sakura tiba di tempat itu, ia tidak menemukan Sasuke berada di dekatnya.

"Sakura, kau baik-baik saja?" bisik Kakashi di sebelah keponakannya dengan langkah terseok-seok. Kemeja yang dipakainya semula berwarna putih, kini telah dibercaki oleh noda darah dari luka-luka sayat di tubuhnya.

"Tidak, Paman. Aku tidak bisa mengatakan semua ini baik-baik saja," sahut Sakura. Kedua tangannya terikat dengan ujung tali dipegang erat oleh pria bertopeng bernama Jugo.

"Maafkan Paman."

"Ini bukan salahmu, Paman. Tapi—" belum selesai Sakura berucap, kakinya tersandung karena ditarik terlalu kencang oleh Jugo.

Tiga orang pria rekan Sasuke langsung melihat Sakura yang terduduk di lantai kemudian menariknya agar kembali berdiri.

Sambil mencengkram dan mendorong leher Sakura ke dinding. Dengan geram Jugo berkata, "Jangan berisik dan cepat jalan, Pinky!"

Kemudian mereka kembali berjalan di koridor sempit yang hanya diterangi temaram lilin menempel di dinding. Sejak kedatangannya ke tempat asing itu, Kakashi sudah menyiapkan diri untuk memulai sebuah pemberontakan. Tidak mungkin dengan statusnya yang seorang kepala kepolisian Kakashi akan diam begitu saja ketika tertangkap oleh sekumpulan remaja gila Los Angeles. Tentu saja ia akan melawan.

Kakashi melirik Sakura bersama gerak-gerik bahwa ia akan melakukan sesuatu dan Sakura mengangguk. Sementara ketiga orang jahat itu tidak memerhatikan tawanan di belakangnya dan terus terus berjalan maju.

Dengan gerakan cepat beberapa hal terjadi. Ketika Kakashi melesat ke depan dan mendorong kencang salah satu dari pria bertopeng itu dengan tubuhnya, Sakura menendang selangkangan pria lainnya sampai orang itu berjongkok kesakitan. Dengan cepat, Kakashi bergerak memutar. Menendang senapan yang berada di tangan Jugo. Kemudian menusuk perut pria itu berkali-kali dengan pisau yang sejak tadi ia sembunyikan untuk membuka ikatan tali di tangannya.

Berbalik ke belakang ada pria yang sempat ia dorong, Kakashi merobek dadanya kemudian menendang perut orang itu dengan lutut berkali-kali. Merampas salah satu senapan musuh, Kakashi menembak kepala pria yang tadi sempat ditendang oleh Sakura.

"Dia … mati?" Suaranya bergetar karena baru kali ini Sakura melihat orang mati dibunuh dengan mata kepalanya sendiri.

Kakashi dengan gagah menjawab, "Sudah kukatakan, membunuh seorang kepala kepolisian itu bukanlah hal yang mudah."

"Setelah ini, bagaimana?" tanya Sakura memilih mengabaikan mayat-mayat yang tergeletak di depannya.

Kakashi menangkap keadaan sepi di sepanjang koridor yang gelap. Ia berniat melarikan diri bersama Sakura dari kumpulan gangster Sasuke. Dan ia memilih jalan kembali di mula ketika dirinya dan Sakura tiba di tempat itu.

"Lewat sini!"

Sakura mengikuti Kakashi dari belakang sambil berlari. Sialnya, baru beberapa langkah maju, mereka menemukan rekan Sasuke datang karena mendengar suara tembakan.

Kakashi berkata, "Kita maju saja, Sakura!"

Gadis itu menurut; mengikuti Kakashi seraya menggenggam ujung kemeja pamannya itu. Berlari sekencang mungkin dan mencari tempat persembunyian. Sepanjang kaki ketakutannya melangkah, mereka tidak menemukan jalan keluar maupun tempat untuk bersembunyi. Hanya lorong panjang gelap dengan nuansa mencekam yang ada.

"Tempat ini luas sekali," keluh Sakura.

"Terus berlari, Sakura!"

Bergegas menapak lantai yang berdebu, mereka terus berlari tidak peduli akan menuju ke mana. Beberapa rekan Sasuke yang lain sudah tahu apa yang terjadi ketika mendapati tiga rekannya sudah terbantai penuh darah.

"Polisi itu lari!" seru salah satu pria bertopeng membawa senapan api.

Sasuke di belakang rekan-rekannya menyusul dengan langkah cepat. Pria itu berwajah bengis di balik topeng barunya.

Memompa senapannya sekali, dengan geram Sasuke berkata, "Keparat itu … tangkap dia dan Sakura!"

"Ini merepotkan untuk urusanmu itu, Sasuke." Di sebelahnya, Naruto mengunyah permen karet lalu meludahkannya. Kemudian kembali memakai topeng putih yang ia lampirkan ke belakang kepala. Ia memikul senapan di pundak. "Tapi aku suka bermain petak umpet lalu kejar-kejaran."

Sasuke menyeringai di balik topengnya. "'Cause this night is our f*cking party, Bro!"

..o0o..

Terus berlari membawa Kakashi dan Sakura ke perpotongan lorong dengan kamar-kamar. Dari kejauhan Kakashi bisa mendengar langkah kaki menderu datang mendekat. Bergegas, ia menarik Sakura untuk masuk ke dalam salah satu kamar dan bersembunyi di sana.

"Kita akan tertangkap," bisik Sakura. Merunduk dari balik meja persegi panjang menghadap pintu kamar.

"Percayalah," Kakashi menenangkan, "apa pun yang terjadi, aku akan melindungimu. Meskipun itu berarti kau dan aku tertangkap."

Hentak sepatu menggema di lorong sepi semakin terdengar nyaring. Hal itu membuat tubuh Sakura bergetar. Baru kali ini seumur hidupnya ia akan menjadi tokoh utama seperti dalam film yang sering ia tonton, yaitu diburu oleh seorang pembunuh berdarah dingin. Bedanya, kali ini lebih mengerikan. Pembunuh itu tidak hanya seorang diri.

Beberapa terdengar seperti tawa mengejek begitu keras dari para laki-laki bertopeng itu. Semakin dekat. Dan Sakura yakin suara itu menuju ke tempat persembunyiannya.

Bagaimana ini?

"Periksa satu per satu ke seluruh ruangan di gedung ini," suara Sasuke mendominasi, "aku yakin mereka hanya berusaha bersembunyi yang sebenarnya sia-sia."

"Apa pun untukmu, Bos!" sahut Suigetsu bertopeng badut.

Sakura hanya bisa menahan napasnya berkeringat dingin sambil melirik Kakashi. Terdengar dari pintu depan seseorang masuk ke ruangan itu. Kakashi mengisyaratkan Sakura untuk tetap merunduk sementara dirinya mengintip dengan senjata api di tangannya.

Satu pria bertubuh tegap dengan surai perak menjuntai di atas topengnya memeriksa ruangan itu seksama. Tinggal lima langkah lagi Suigetsu akan mencapai meja yang terbuat dari kayu. Ia berjalan ke samping meja sementara Kakashi dan Sakura mengitari meja itu sambil merayap. Ketika Suigetsu sampai, tidak ada siapa pun dari balik meja itu.

"Kupikir ada suara tadi di sini," ujar Suigetsu.

Di belakang pemuda itu, Kakashi berdiri. Memaksa; memutar kepala dengan tangan dan menghantam tengkuk Suigetsu dengan pangkal senapan sampai pemuda itu pingsan.

"Sini!" Kakashi memaju-mundurkan jemarinya agar Sakura mendekat. Mereka bersandar di dinding lalu Kakashi mengeluarkan kepalanya di ujung pintu, mengintip.

Sialnya, seseorang kembali datang. Buru-buru Kakashi menarik diri dan mengisyaratkan Sakura untuk diam. Gadis itu mengangguk saja.

Seorang pria bertopeng hitam memegang senjata api memasuki pintu dan mendapati rekannya, Suigetsu tergeletak di lantai. Sementara dirinya tidak mengetahui bahwa Kakashi dan Sakura berdiri di belakangnya.

"Suigetsu!" panggilnya.

Seperti angin, Kakashi kembali menghantam kuat tengkuk pria bertopeng dengan senapan apinya. Namun, pria itu tidak pingsan dan justru berusaha menembak yang berhasil dipatahkan Kakashi sehingga peluru melesat ke sembarang arah. Lalu Kakashi berputar untuk menendang kepala pria itu sampai pingsan.

Sakura hanya bisa menahan napas sejenak dan menutup mulut dengan tangannya. Hal-hal tentang kekerasan yang ia lihat itu mengusik kejiwaan Sakura secara perlahan.

"Ayo cepat lari, Sakura!" perintah Kakashi, menarik tangan gadis itu.

Suara tembakan dari arah salah satu kamar itu mendorong Sasuke untuk segera menghampiri sumber suara. Pun rekan-rekannya yang lain.

Dari tempatnya berdiri, Sasuke sudah bisa melihat kepala merah muda yang khas membuat Sasuke tersenyum ngeri dari balik topengnya. Ia tidak berlari untuk menyusul, hanya berjalan cepat.

Dor! Dor! Dor!

Sasuke mengulur tangan ke depan, membidik targetnya. Suara tembakan terdengar beringas. Tanpa jeda, Sasuke terus menembak hanya dengan satu tangan. Rekan Sasuke yang lain tidak berniat mendahului langkahnya, mereka hanya berjalan di belakang pria itu sambil bersorak-sorak.

"Mereka berlari ke arah panggung utama," gumam Sasuke. "Menarik sekali."

Sakura yang sudah terengah merunduk bersama pamannya di balik kursi-kursi kayu panjang untuk menghindari tembakan Sasuke. Ia tahu tempat macam apa itu. Ruangan yang cukup luas dengan lentera dan lilin-lilin menyala sebagai penerangan. Altar yang besar di hadapan bangku-bangku yang biasa dipakai orang-orang untuk berdoa.

"Kenapa bisa ada geraja di dalam gedung mengerikan seperti ini?" tanya Sakura entah untuk siapa.

Kakashi menjawab seraya siaga, "Aku tahu tempat ini. Dulunya adalah panti asuhan terbesar di Los Angeles, tapi ditutup dua tahun yang lalu karena masalah sengketa lahan."

Jika bukan dalam situasi terdesak, tentu hal itu akan menjadi cerita yang patut untuk didengar. Hanya saja kini rombongan Sasuke sudah menjajaki area gereja itu dan terus menembak ke arah Sakura dan Kakashi.

"Mau bersembunyi sampai kapan, Chief?" seru Sasuke menggema ke seluruh aula. "Apa sampai peluru ini menembus kepalamu?"

Kakashi tetap gigih, ia terus menembak. Salah satu pelurunya melesat dan melukai rekan Sasuke. Pria itu semakin geram. Sasuke semakin maju dan balas menembak tanpa henti, begitu pun Kakashi. Sampai pada akhirnya peluru senapan milik Kakashi habis. Demi purge yang terkutuk, Kakashi mengumpat kasar yang didengar oleh Sakura.

"Menyerah, Old F*ckin' Man?" kata Sasuke lagi disusul sorak kemenangan rekan-rekannya.

Kakashi meringis frutrasi. Melirik ke samping dan mendapati Sakura dengan mata memerah. Sial. Mereka berdua akan mati malam ini. Tidak, Kakashi tidak ingin Sakura yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan purge di tanah Amerika ini, mati percuma di tempat itu. Kakashi harus melakukan sesuatu.

"Aku ingin bernegoisasi denganmu," ujar Kakashi, membuat suara ribut rekan Sasuke lenyap.

Tampaknya Sasuke tertarik. "Negoisasi seperti apa yang kau inginkan, Chief? Mati dengan peluru? Perut dibelah? Kepala dipenggal? Atau…." Sasuke menggantung kalimatnya.

Sakura berdebar ketika Kakashi berani menampakkan diri dan melihat sekumpulan pria bertopeng dengan senjata di depannya. Mendorong Sakura untuk ikut berdiri.

Sasuke melanjutkan, "Atau, mati melihat keponakanmu tercincang oleh tangan-tangan kami?"

"Tolong jangan sakiti dia," ujar Kakashi mengangkat kedua tangan di udara, "yang kau mau adalah aku. Dia sama sekali tidak ada hubungannya."

"Tentu saja ada," bisik Sasuke berjalan mendekat. "Kebetulan dia bersamamu ketika kami datang ke rumah seorang Chief Hatake Kakashi yang sangat dikagumi di kota ini. Kebetulan aku melihatnya sebelum malam pembersihan ini terjadi. Dan kebetulan lagi, dia adalah keponakanmu, benar?"

Kali ini Sasuke sudah berdiri dua langkah dari Sakura. Gadis itu beringsut mundur, tetapi Sasuke semakin berjalan maju. Kini mereka berdua berhadapan ketika Sasuke sedikit membungkuk untuk menyejajarkan wajahnya di depan wajah Sakura. Saling tatap satu sama lain untuk beberapa saat meskipun Sakura tidak bisa melihat senyum pasif Sasuke dari balik topeng putih itu.

Sasuke berkata, "Dan kebetulan … aku sedang ingin bercinta dengan seorang perempuan."

TBC