.

.

.

Twister

Disclaimer:

Kuroko no Basuke milik Fujimaki Tadatoshi-sensei

Twister milik saya sendiri dengan beberapa adegan terinspirasi dari cerita cerita lain yang saya berikan terimakasih sebanyak banyaknya

Warning :

OOC, Typo(s), Penulisan tidak benar, Inspirasi dadakan

Happy Reading*kissu*

.

.

.

Kuroko Tetsuya, As a Girl: The New Struggle!

"O-Okaa san cukup! A-Aku bisa sendiri!". Teriakan seorang anak perempuan sudah terdengar dari kamar Kuroko Tetsuya semenjak setengah jam yang lalu. Kuroko Misaki hanya bisa mendesah pasrah dari meja makan. Membiarkan kedua wanita itu dalam zona nya. Kalau tidak, bisa bisa Ia yang kena sasaran marah si malaikat biru.

Tapi jam sudah menunjukkan pukul enam, Tetsuya-nya berarti sudah telat dengan jadwal janjinya bersama teman-temannya. Kalau tidak berangkat sekarang malah akan jadi rumit nantinya.

Misaki memberanikan diri mengetok pintu kamar anak lelakinya—salah, anak perempuannya maksudnya. "U-Um, sayang? Ini sudah jam enam. Satsuki dan Daiki pasti—"

"Aku tahu! Seandainya anakmu ini menurut saja denganku, tidak akan selama ini!"

Tuh kan.

Kena marah juga akhirnya.

BRAK

Pintu bernuansa biru itu menjeblak terbuka dari dalam. Dan Tetsuya keluar hanya memakai pakaian dalam. Errrr, plus celana sekolahnya.

Misaki membulat melihat anaknya namun seketika merotasi bola matanya bosan. Rasanya ini sudah berkali kali terjadi dan bisakah berhenti? Terakhir kali malah Ia melihat Tetsuya tanpa apapun. Oke dia memakai celana dalam, tapi apa artinya? Saat itu adalah entah yang keberapa kali Tetsuya menolak memakai bra. Masuk akal memang, tapi tidak wajar juga kalau itu dibiarkan kan?

Tetsuna memandang kesal. "Ayahmu bisa khilaf kalau kau keluar begitu. Masuk!"

Ini lucu sekali, tapi sungguh! Melihat Tetsuya yang hampir menangis dengan pakaian seperti itu rasanya agak... Err—lupakan

Entahlah, tapi Misaki hanya kembali ke meja makan dan membiarkan kedua perempuan itu dalam zona nya lagi. "Lima belas menit lagi aku berangkat. Tetsuya, pastikan kau sudah berpakaian lengkap", ucapnya sambil menenggak kopi yang sudah setengah miliknya.

Tetsuya hanya mengangguk dan masuk kembali ke kamarnya. Ibunya sudah menjadi singa. Dan menurut Tetsuya, ibunya bisa disandingkan dengan Seijuurou yang sedang belang matanya. Sadis memang, tapi terlalu berharga untuk ditolak.

Eh?

.

Lima belas menit berlalu dan Tetsuya sudah siap berangkat. Walau dengan wajah pouting yang anehnya terlihat jelas. Biasanya mau pouting bagaimanapun, anak dari Kuroko Misaki dan Tetsuna ini akan selalu terlihat datar. Ah, mungkinkah ini yang namanya pesona seorang wanita? Tolong, Tetsuna saja dibuat minder oleh Tetsuya—yang notabane seorang perempuan dari lahir.

"Ittekimasu"

"Itterashai"

.

"Tetsu-kun—Ah! Iaa, Tetsu-chan!"

Kuroko memasuki gerbang sekolahnya tepat jam setengah tujuh pagi. Bertanya kenapa sepagi itu? Well, ada banyak hal yang harus Ia urus pagi ini. Salah satunya, barang yang dibawa wanita cantik berambut pink bernama Momoi Satsuki saat ini.

"Yo, Tetsu"

"Ohayou gozaimasu Aomine-kun, Momoi-san. Maaf sudah membuat kalian datang sepagi ini". Kuroko memandang dua teman terbaiknya yang sudah rapi memakai seragam sekolah musim dingin milik sekolahnya. Dan benak Tetsuya langsung melayang.

Ia melirik seragam Satsuki yang terdiri dari kemeja biru, sweater putih, dasi biru tua, dan rok pendek.

Sekali lagi, rok pendek.

Tolong, demi apapun Ia tak mau memakai benda itu.

Sudah cukup dengan bra, kali ini Ia harus memakai rok?

"Yappari seragammu yang lama akan terlihat kebesaran. Tetsu-chan harus mengganti seragam. Ini, aku bawakan pesananmu. Pasti kebesaran, tapi masih bisa Tetsu-chan pakai"

Tetsuya memandang lagi barang yang diberikan Satsuki pagi itu. Entah bagaimana Daiki dan Satsuki menggambarkan wajahnya kali ini. Seperti, gelisah?

"Mou! Tetsu-chan tidak usah khawatir! Semuanya akan baik baik saja! Ayo ke toilet, sebelum anak anak yang lain datang!"

Dan Tetsuya tak bisa menolak sedikit pun tarikan Satsuki. Toilet? Maksudnya apakah toilet laki-laki?

Matanya membulat hebat ketika Satsuki membawanya kedalam toilet dengan ikon wanita itu. Selembut mungkin Ia melepaskan tangan Satsuki. "Momoi-san, maaf jika kau lupa aku adalah laki laki. Seharusnya aku pergi ke toilet laki laki"

Satsuki menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ano, Tetsu-chan. Aku tidak ingin Tetsu-chan masuk ke toilet laki laki, lalu keluar memakai rok dan menjadi tontonan gratis. Apalagi kalau sampai err—di pegang pegang oleh mereka. Oh! Tidak akan kubiarkan"

Sekilas Tetsuya terkejut. Tidak salah memang, tapi dimana harga dirinya sebagai laki-laki kalau sampai hal seperti itu terjadi?

"Iie,Momoi-san tenang saja. Aku tidak akan kenapa kenapa"

Tetsuya pun mengambil rok ditangan Momoi. Dan berhasil masuk ke toilet laki-laki jika sebuah tangan tidak menariknya kencang.

"Tetsuya, kau mau kemana?"

Ruby milik Seijuurou bertaut melirik ke arah Tetsuya. Tetsuya hanya memandang sebentar dan kembali berbalik.

"Toilet, Akashi-kun tidak lihat?"

"Bukan itu maksudku. Kenapa ke toilet laki-laki?"

"Maksud Akashi-kun aku lebih normal jika ke toilet perempuan?""

"Ya, tentu saja"

Tetsuya kesal setengah mati. Kenapa semua orang menyuruhnya masuk ke toilet perempuan? Walaupun tampilannya begini. Dalam hati Ia masih seorang laki-laki tulen!

"Maaf, aku tahu niat Akashi-kun baik. Tapi aku tidak suka. Permisi"

Crap!

Apa Ia membuatnya marah? Ya tentu saja. Bagaimana tidak marah, harga diri Kuroko Tetsuya baru saja Ia injak injak dengan menyuruhnya masuk ke toilet perempuan instead of toilet laki-laki. Bagus, pagi yang cerah memang.

Seijuurou memutuskan untuk berdiam diri saja didepan toilet. Bersama Daiki yang terang terangan melotot tajam setiap siswa yang ingin masuk toilet. Kegiatan itu sukses membuat siswa dan siswi yang datang pada jam tujuh kurang lima belas menit heran. Kenapa lagi dengan Akashi dan Aomine? Apa maksudnya menjaga toilet laki laki itu? Ini masih pagi dan yaampun seseorang hentikan tatapan mengerikan mereka itu!

Lima belas menit lagi berlalu. Kuroko Tetsuya belum juga menunjukkan diri. Apa jangan jangan Ia memakai misdirectionnya dan menghilang?

"Satsuki, coba kau cek ke dalam. Kami akan berjaga diluar. Ini terlalu lama hanya untuk mengganti pakaian"

Satsukipun dengan semangat masuk ke toilet itu. Membuat siswa yang melihatnya hampir saja berteriak jika tatapan itu tidak mencekat suara mereka.

Seijuurou mendengar tapak kaki halus dari dalam. Nampaknya Tetsuya siap keluar. Dan aura intimidasi miliknya semakin melebar. Daiki saja harus menyebut nama Tuhan demi tidak tumbang.

"Sudah jam segini. Dari pada kalian mencampuri urusan kami, lebih baik kalian pergi". Senyum manis nan palsu terkembang diwajah tampannya. Dan, ya tentu saja membuat kabur siswa dan siswi yang bertengger dilorong. Walaupun ada yang memekik semangat 'Kyaaaa! Akashi-sama tersenyum kyaaaaa!' dan tidak lama pingsan.

"Akashi-kun, Aomine-kun kenapa masih disini?"

Suara halus dengan romansa bunga bunga terasa dari balik punggung Seijuurou dan Daiki. Tentu saja tidak dilewatkan oleh keduanya. "Tetsuya, kenapa lama sekali?"

"Aku perlu mempersiapkan mental"

Oh, dan benar saja. Seijuurou baru sadar ketika rok itu tertiup angin sedikit. Sedikit menampilkan pahanya yang mulus dan seputih susu. Tapi Seijuurou tidak seperti Daiki. Yang dengan lantangnya menyuarakan bendera perang terhadap Seijuurou. Lihat saja air liur nya yang menetes tidak sopan itu. Dan dengan polosnya, makhluk biru dengan eksistensi yang tiba tiba merebak bak permaisuri ini bersuara. "Aomine-kun, aku tidak tahu kalau kau bisa tidur berdiri. Apalagi dengan air liur seperti itu" Yang sukses membuat Daiki kembali ke alam sadar

"Akashi-kun, aku harus bagaimana?"

.

"Hah?"

Berpasang mata diruang guru beralih terhadap eksistensi biru dan merah yang dikenali sebagai anak murid mereka. "Akashi-kun maaf. Mungkin telinga sensei agak kurang sehat. Bisa diulangi apa yang terjadi terhadap Kuroko-kun?"

"Sensei mendengarnya dengan sangat jelas. Kuroko Tetsuya berubah menjadi perempuan. Masih belum diketahui detail kejadiannya. Tapi saya akan mengerahkan tenaga saya untuk mencari tahu"

Tetsuya menunduk dalam, memainkan ujung rok yang tidak sadar malah membuat roknya terangkat sedikit. Sebelum gurunya menyadari hal itu, tangan Seijuurou sudah keburu menggenggam tangan Tetsuya dan menariknya kesamping. Tetsuya sempat kaget namun kemudian hanya diam sambil sesekali melirik tangannya yang masih digenggam Seijuurou.

"Kau, Kuroko Tetsuya—errr kun?"

"Ya". Tetsuya menjawab dengan sedikit parau.

Manik coklat tua dari gurunya tertutup kelopaknya. "Ini bukan April fools kan?"

"Bukan"

Okay, bahasa nan santun, kalem dan bersahaja itu bukan milik orang lain selain Kuroko Tetsuya yang Ia kenal. Hanya saja entah kenapa suaranya bertambah feminin. "Baiklah, Akashi-kun kau teman baiknya kan?"

"Ya, tentu saja"

"Sebagai Ketua OSIS, maaf saja jika aku menyerahkan ini kepadamu. Tapi aku percaya dengan laporanmu, akan kutunggu"

"Saya benar benar tidak keberatan". Seijuurou menarik tangan Tetsuya untuk berdiri. Lalu membungkuk sedikit menghadap gurunya. "Kami permisi dulu"

.

"Tetsuya, kau tidak perlu gemetar seperti itu"

"T-Tapi Ak-Akashi-kun. A-Aku benar benar belum siap"

Seijuurou mengambil nafas pelan. Jika saja tidak disekolah, sudah dipastikan Seijuurou akan menyerang Tetsuya habis habisan. Aura nya yang malah entah kenapa terlihat lucu ini membuat Seijuurou semakin mempertanyakan imannya. Dasar mesum.

"Sudahlah, ada aku disini. Lagipula, bukankah kemarin Tetsuya juga yang bilang sudah siap?"

Kali ini Seijuurou membalik tubuh Tetsuya, menangkup dagu milik remaja itu dan kemudian menatap iris Tetsuya intens. "Tatap aku. Percayalah semuanya baik baik saja"

Wajah mereka tidak lebih jauh dari lima sentimeter. Bagaimana Tetsuya bisa mengelak? Lagi pula, tindakan Seijuurou ini malah membuatnya jantungnya semakin berdetak tidak karuan. "A-Akashi—"

"HAHA! KEJAR AKU, DASAR KISE BODOH!"

BRAAKKK—

Pintu kelas sukses terbuka lebar, begitu pula seringaian Daiki yang sedang bermain kejar kejar dengan Ryouta. Pintu yang terbuka berhasil juga menampakkan Tetsuya dan Seijuurou—yang errr, masih dengan kondisi seperti tadi.

"KYAAAA!"

"AKASHI-SAMAAA!"

"SIAPA DIA?!"

"AKASHI-SAMAAA! TIDAAAK!"

To Be Continued

Halooo! Selamat hari senin lagi semuanya! Bagaimana dengan chapter ini? Silahkan yang merasa kurang jangan sungkan untuk bilang ya! Untuk beberapa chapter selanjutnya masih akan berpusat pada kebaruan Tetsuya menjadi seorang perempuan. Jangan bosan dulu ya! Untuk Seijuurou side nya akan kubuat beberapa chapter kedepan. So sabar ya hehe. Udah banyak hutang juga nih sama readers sekalian. Jadi malu.

Disini Author sampaikan, bahwa perubahan Tetsuya menjadi seorang perempuan adalah karna Tuhan. Jadi, demi membalas cinta Seijuurou. Tetsuya pun dirubah menjadi perempuan! Haha. Masih ingat kalimat Seijuurou kan? "I am absolute"

Jaasekian untuk chapter ini! Sekali lagi ditunggu reviewnya ya! Bagi yang menunggu ff saya yang lain mohon bersabar ya:") saya update satu satu:")

See you next chapter!

Reply for reviews on previous chapter-

Akashi Yukina-san: wah benarkah? Aku malah belum pernah nemu doujin seperti ini. Wkwk kali ini Tetsuya berubah menjadi perempuan karna kehendak Tuhan wkwk. Maaf kalau plotnya murahan:"

AomineHikari-san: sudah diupdate yaa! Wah terima kasih atas koreksinya! Sebenarnya, didalam ms word sudah saya pisahkan. Tapi ternyata didalam copy-an ff nya tidak terbaca.

Nakamoto Yuu Na-san: bingung ya? Maaf ya, sudah author jelaskan di atas ya: ) semoga membantu!

Nanas RabbitFox-san: wahaha kita lihat saja kedepannya ya! Apakah Cuya menjadi perempuan selamanya, atau kembali berubah menjadi laki laki? XD terima kasih!

Mxyunz-san: wah iya iya? Aku malah belum pernah baca doujin yang begini wkwk XD. Kuroko laki-laki atau perempuan kalau author sih masih sama saja. Asal yang jadi suaminya Akashi, author rela XD terima kasih!

Terima kasih dan special thanks for:

mxyunz, hikarusherizawa, , ShirShira, Seventyone Square, Nanas RabbitFox, Nakamoto Yuu Na, Akashi Yukina, Akashi Ryuuna, 9k16, hozukii06, evelynedogawa, cipta wijaya, ZENny Park, Lisette Lykouleon, ChintyaRosita, , AomineHikari, Akiko Daisy.