.
.
.
Twister
Disclaimer:
Kuroko no Basuke milik Fujimaki Tadatoshi-sensei
Twister milik saya sendiri dengan beberapa adegan terinspirasi dari cerita cerita lain yang saya berikan terimakasih sebanyak banyaknya
Warning :
OOC, Typo(s), Penulisan tidak benar, Inspirasi dadakan
Happy Reading*kissu*
.
.
.
Kuroko Tetsuya, As a Girl: The Messy Day
Chaos.
Kelas tadi benar-benar chaos. Selain gadis-gadis yang menghimpitnya dengan berbagai pertanyaan. Lelaki yang memandangnya tidak percaya sekaligus merendahkan. Belum lagi Kisedai yang—ah entahlah.
Ia lelah. Kuroko Tetsuya lelah. Baru sehari masuk sekolah, tapi rasanya seperti marathon setiap detiknya.
"Tetsu-chan". Gadis bersurai pink disebelahnya memanggilnya. Menyadarkannya yang sempat melamun. Cuaca hari ini mendung, atap sekolah menjadi sejuk dan cocok untuk merenung seperti ini.
"Momoi-san, aku lebih senang kau menyebutku dengan suffix -kun"
Kuroko masih belum mengalihkan pandang dari hamparan lapangan sekolah dibawahnya. Ia melihat anak anak berlalu lalang kesana kemari mencari tempat yang nyaman untuk makan siang. "Satsuki, Tetsu. Duduk sini, ayo makan"
Dibelakangnya duduk berjejer dengan manis kepala berbeda warna. Masing-masing membawa bekal. Terkecuali Murasakibara yang juga membawa snack-chinnya.
Tapi Kuroko sama sekali tidak lapar. Ia lebih suka berdiri dipinggir pagar, melipat tangannya diatas sana, dan melihat kearah manapun yang Ia suka.
Ia butuh istirahat. Dan diam adalah salah satunya.
"Kalian makan saja. Aku tidak lapar"
"Kuro-chin bisa kenyang walaupun tidak makan? Sugoi". Ya, bisa kalian tebaklah kalimat itu terlontar dari mulut siapa. Siapa lagi kalau bukan titan berupa wujud Murasakibara.
Berikutnya tidak ada bantahan yang terdengar. Momoi sudah menghilang dari sampingnya. Akhirnya Ia bisa kembali berkonsentrasi terhadap waktu istirahatnya.
Lima belas menit berlalu dan Kuroko masih betah pada tempatnya. Kicauan ribut dari kepala pelangi dibelakangnya pun tak mengganggu acara diam nya. Bahkan tatapan Akashi yang serasa menusuk dibalik punggungnya tak bisa mengganggu dirinya.
Ia terlihat rapuh dari belakang.
Akashi bangkit berdiri sambil melepas jasnya. Kuroko hanya memakai sweater tipis sekolah selain kemeja kebesaran miliknya yang belum diganti. Hanya beberapa langkah lagi dan Akashi akan berhasil menyampirkan jas nya dipundak mungil milik Kuroko.
WUUUUUUSSSSSSSSHHHHHHHHHHHH
Angin kencang datang tiba tiba beserta hawa dingin. Akashi melotot. Murasakibara, Aomine, Kise mengerjap ngerjap tak percaya, selain kemasukan debu. Midorima mendapat pemandangan paling bersih. Terima kasih atas kacamatanya. Momoi dengan sigap menutup roknya yang tertiup angin, sebuah refleks seorang wanita yang….
Belum dipunyai Kuroko Tetsuya.
Rok pendek belakang milik Kuroko tersingkap keatas, terhenti karna bersentuhan dengan sweater miliknya. Sukses memperlihatkan celana dalam putih mulus tanpa cela. Belum lagi bentuknya yang errr—lupakan.
Kuroko Tetsuya masih belum tersadar. Masih tidak bergeming dari acara istirahatnya.
Insting Akashi bekerja dua kali lipat lebih berbahaya. Ia mengambil langkah besar, mengikat jas miliknya di pinggang kecil milik Kuroko. Kegiatan itu, sukses membuat Kuroko mengubah haluan kepala.
"Akashi-kun?"
"Tetsuya, perhatikan angin dan rokmu"
"Eh?". Kuroko masih mengerjap tidak paham. Akashi berbalik menuju kepala pelangi, pemandangan yang dilihatnya sungguh membuat kesabarannya hampir habis. Momoi membulatkan mulutnya. Aomine, Kise dan Midorima wajahnya memerah hebat. Murasakibara hanya diam walau sedikit tersipu.
Mata Akashi mengerling tajam. Atmosfir diudara tiba-tiba mencekam. Langit tiba tiba gelap. "Lupakan hal yang tadi atau neraka menunggu kalian"
Kuroko hanya memperhatikan roknya dan berpandangan diantara Akashi dan kawan-kawannya.
Tunggu, angin? Rok? Apakah…?
"Akashi-kun". Kuroko memberanikan diri bersuara. "Apa… yang terjadi… pada rok ini?"
"Tersingkap, Tetsuya. Makanya aku bilang perhatikan angin dan rokmu. Seperti Satsuki."
BLUSH!
"AKASHI-KUN NO BAKA!"
—
Mencekam. Kelas 2-A terasa mencekam dari arah mana saja.
Kelas ini yang awalnya chaos, setelah kedatangan Kisedai yang wajahnya sulit diartikan. Belum lagi pipi Akashi yang terlihat seperti bekas tamparan, merubah suasana kelas menjadi diam dan mencekam.
Akashi pundung bersuara. Ia memilih berpindah tempat duduk persis dibelakang Kuroko Tetsuya yang melipat wajahnya kesal. Tangan Akashi berlipat didepan dada. Matanya mengkilap siap untuk menerkam siapa saja yang mengganggunya.
Kuroko bergerak kesana kemari, benar benar tidak bisa konsentrasi karna tatapan Akashi dari belakang. Oke, Ia merasa bersalah pada seluruh kelas karna sudah membuat Akashi mengeluarkan aura seperti ini. Tapi Ia tidak merasa bersalah sama sekali karna telah menamparnya. Ia kesal setengah mati.
Walaupun jas Akashi masih terlilit dipinggangnya dan sekarang malah Ia duduki, Ia tidak perduli.
Secarik kertas yang diremas remas sampai pada mejanya. Kuroko mencari sumber dan ternyata Momoi lah yang mengiriminya pesan. Gadis yang duduknya terpaut jauh itu memberi isyarat agar membaca kertasnya. Kurokopun dengan malas membukanya.
'Akashi-kun tidak salah kok Tetsu-kun, Ia hanya mencoba melindungi mu dari tatapan Dai-chan, Ki-chan, Midorin dan Mukkun. Niatnya baik kok, lihat saja jas nya terlilit di pinggangmu 'kan?'
Kira-kira seperti itu isinya.
Kuroko kembali melirik Momoi yang masih setia menunggu balasannya. Karna malas menulis akhirnya Ia hanya memberikan gestur 'Kalau itupun aku tahu'. Dan Momoi hanya mendesah pasrah. Masih dilihatnya gadis itu beberapa kali menjambak rambut Aomine karna merasa bersalah.
Kuroko akhirnya berniat meminta maaf. Sepulang sekolah, Ia janji.
Tapi tatapan Akashi sedari tadi membuatnya gelisah. Ia menggeser kekanan dan kekiri tempat duduknya beserta meja. Mengalihkan pandang menuju jendela. Memajukan kursinya. Berpura pura pensil terjatuh. Mengibas ngibas rambut kepanasan. Dan yang lain lainnya.
Tunggu, kenapa tubuhnya terasa aneh?
Entahlah, rasanya seperti ada yang bertambah longgar. Tapi masa bodoh. Ia tidak kuat kalau harus berlama-lama ditatap dari belakang seperti ini. Kelasnya baru berakhir sejam lagi, dan itu sama saja dengan neraka duniawi!
Lagi-lagi Kuroko merasakan sesuatu yang aneh.
Diarea tali bra nya…. Kenapa terasa longgar?
Tunggu dulu, benar benar longgar!
Kuroko diam diam menyelipkan tangannya dibalik rambut panjangnya dibelakang. Ia meraba raba punggungnya. Tunggu, kenapa pengaitnya yang seharusnya menonjol itu tidak ada?!
Kuroko panik luar biasa.
'L-Le-Lepas! Pe-pengaitnya lepas! Bagaimana ini?!'
Ia melirik Momoi yang entah kenapa terlihat ketakutan setelah berinteraksi dengannya tadi. Sekilas Ia melirik Akashi yang masih menatapnya lalu bergantian dengan Momoi. Sial! Momoi sudah tidak berani berbicara dengannya. Dan ini semua berkat Akashi. Bagus.
Kuroko berusaha menenangkan diri.
'Tenang, selama masih belum ada yang tahu. Aku harus bersikap biasa saja'
"Kenapa, Tetsuya?"
Sialan.
"T-Tidak ada apa apa, Akashi-kun"
"Sepulang ini jangan kemana-mana. Aku mau bicara"
"A-Ano, tapi aku—"
"Batalkan."
"Eh?"
"Apapun jadwalmu sepulang ini, batalkan."
Kuroko hanya menghela nafas. Ia harus berpikir jernih. Harus.
SKIP TIME, SATU JAM KEMUDIAN
Bel pulang akhirnya berbunyi, namun guru paruh baya itu belum keluar dari kelas dan Kuroko semakin gelisah. Perasaannya tidak enak sama sekali. Dan sedari tadi, Akashi tidak sedikitpun menurunkan aura mencekamnya. Apa Ia segitu marahnya?
Kuroko baru saja melirik Momoi hendak meminta bantuan, namun yang bersangkutan malah sudah keluar kelas sambil menarik Aomine. Mata Kuroko membulat. Dengan sigap, Ia memasukkan seluruh barangnya yang tercecer diatas meja akibat gelisah sepanjang pelajaran. Tidak perduli lagi pensil sudah masuk tas atau belum, yang penting buku catatan tidak ketinggalan.
Melihat gerak gerik Kuroko yang seperti orang hendak kabur, Akashi menautkan alis. "Tetsuya, kenapa?"
Kuroko berjengit sebentar lalu kembali sadar. Akashi masih melipat tangan sampai sadar ketika Kuroko tidak lagi dihadapannya. Sial, misdirection benar-benar bekerja disaat seperti ini.
Akashi mengambil langkah lebar keluar dari kelas. Benar saja, Ia melihat Kuroko berjalan cepat sambil sesekali berhenti lalu merapikan bajunya. Rasanya ada yang aneh. Tapi tentu saja Ia tidak bisa diam saja. "Tetsuya, berhenti!"
Teriakannya menggema didalam koridor yang ribut. Kuroko terlihat berhenti lalu melirik kebelakang, hanya mendapatkan Akashi yang berjalan santai kearahnya. Tidak! Ia tidak bisa bicara pada saat seperti ini! Ia harus bertemu Momoi!
Kuroko kembali berjalan, kali ini lebih cepat namun lebih hati hati. Ia mencengkram ujung sweater agar tak ikut naik pada saat dirinya berjalan cepat. Mampus, letak bra nya kini sudah tak karuan. Tidak heran orang-orang menatapnya aneh. Kenapa misdirectionnya tidak bekerja saat ini?!
Akashi terkejut ketika Kuroko kembali berbalik dan berjalan lebih cepat. "Tetsuya! Sudah kubilang berhenti!"
Oke, Ia pada pucuk amarahnya sekarang. Mau main main rupanya. Ini lantai tiga dan Kuroko ingin main cat and dog dengannya? Baiklah!
Akashi melebarkan langkahnya. Kuroko sudah menuruni tangga.
"Sial! Tetsuya kubilang berhenti!"
Dan kali ini Akashi tengah berlari dikoridor. Mau tak mau, Kuroko juga ikut berlari.
Kuroko sampai pada lantai satu dengan terengah engah. Akhirnya Ia menemukan Momoi yang masih menyeret Aomine dengan langkah yang besar. "Momoi-san!"
Ia berteriak sekencang yang Ia bisa.
Drap drap drap
"Tetsuya!"
Mati! Akashi sudah berada diujung tangga. Mau tak mau Kuroko berlari lagi. Kali ini dengan terang terangan Ia menyilangkan tangan didepan dada. "M-Momoi-san!"
"T-T-T-Tetsu-kun?"
"Tetsuya!"
"A-A-A-A-A-Akashi-kun?!"
"Momoi-san!"
Sial, kenapa mereka berdua main kejar-kejaran seperti itu?!
Momoi merinding melihat Akashi dibelakangnya yang mengeluarkan aura-aura aneh. Refleks Ia kembali menarik tangan Aomine dan malah ikut berlari. "D-D-Dai-chan LARIIIII!"
"KE-KENAPA AKU IKUT JUGA? OI SATSUKI BERHENTI MENJAMBAK RAMBUTKU!"
"MOMOI-SAN!"
"TETSUYAAAA!"
"HUWAAA!"
Dan entah kenapa. Sore itu halaman Teiko chuugakou disuguhi permainan aneh diantara Momoi yang menjambak Aomine, Kuroko yang berlari sambil menyilang tangan didepan dada. Rasanya sikapnya itu seperti melindungi diri dari… Akashi?!
Dilain tempat
Melihat kejadian aneh semenjak Akashi keluar dari ruangan. Akhirnya murid kelas sepakat untuk melihat kejadian diluar sana yang menampilkan hal unik—namun berbahaya yang sedang dilakukan empat kepala warna warni.
"Sebenarnya mereka kenapassu?"
"Bodoh, mana aku tahu. Aku juga tidak pedulinodayo"
"Midochin, punya cemilan tidak?"
Seketika murid berpandangan pada ketiga manusia yang dianggap bagian dari chaosnya halaman itu sekarang. "Kalian, tidak ikut main dengan mereka? Rasanya, 'anehnya' kurang kalau kalian tidak ikut"
"HEEEEEEHHH?"
To Be Continued
HAHAHAHA NISTA YAAMPUN
Saya puas disini bikin Kuroko nista dan menderita(Kuroko: Hidoi, kau dipecat jadi author). Tidak apalah bikin Kuroko sedikit OOC, kalau Sei-kunnya saya jujur tidak tahu OOC atau tidak. Haha sepertinya semua orang OOC. YAAAYY HAPPY OOC/ditabok/
Ehem, jadi penulisan ff ini diantara jadwal saya yang masih belum terlalu padat karna baru minggu pertama kuliah lagi. Jadi saya sempet-sempetin. Semoga kedepannya saya bisa terus update tanpa waktu yang lama ya.
Terima kasih untuk pembaca, review, follow dan favoritenya. Tindakan kalian begitu berharga. Muah
Sampai jumpa dichapter selanjutnya!
Akari Hanaa
