"Akashi-kun, kita jadi tontonan seluruh sekolah"
Lirihan Kuroko terasa begitu berat sebab hidungnya terasa mampet secara tiba-tiba. Kepalanya jadi agak sedikit pusing. Tapi katanya, kalau darahmu mengalir sampai ke otak, kau bisa berpikir dengan jernih. Dan satu hal yang Kuroko tau: hal itu tak selalu terjadi dan benar adanya.
"Abaikan saja. Biasanya juga kau tidak begitu peduli kan."
"Akashi-kun, tidak berat?"
"Tidak juga. Sepertinya karna tubuhmu berubah, bobotmu juga semakin berkurang"
Kuroko mendengus. Lagi-lagi harga dirinya diinjak oleh Akashi tampan satu ini. Begini begini jiwa Tetsuya itu masih utuh laki-laki! Dan laki-laki mana yang senang dibilang berbobot ringan seperti tadi?
Dasar Akashi-kun tukang menghalalkan segala cara, batinnya sambil menoel-noel kepala belakang Seijuro yang malah dibalas dengan semakin eratnya lingkar tangan kekar nya dipinggul Tetsuya.
"Aku janji tidak kabur lagi. Serius."
"Ya, aku percaya Tetsuya."
"Kalau begitu turunkan aku"
"Kau ini, coba nikmati saja tumpangan gratismu."
"Mana bisa aku menikmatinya?, Akashi-kun―"
"Sudah, kau diam saja." puk puk
"Akashi-kun! Jangan tepuk-tepuk pantatku!"
"Salah sendiri pantatmu dekat-dekat denganku" puk puk
"Itu karna Akashi-kun menggendongku seperti sekarung kentang begini! AKASHI-KUN HENTIKAN MENEPUK NEPUK PANTATKU!"
Sepertinya, seorang Akashi Seijuro punya hobi baru selain menunggang kuda: menepuk nepuk pantat empuk punya Tetsuya.
.
Twister
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
An original AkaKuro fanfiction written by Akari Hanaa
Warning :
OOC, Typo(s), Penulisan tidak benar, Inspirasi dadakan
Happy Reading*kissu*
.
Kuroko Tetsuya, As a Girl: The Game I Started? Or not?
Kelas bukanlah tempat yang diidam idamkan Tetsuya akhir-akhir ini. Apalagi dengan kehadiran cowok bishie bermahkota merah yang memikat itu pasti berada paling tidak tiga meter jauhnya darinya. Tetsuya perlu tempat yang lebih tentram, aman, damai dan sejahtera. Sebut saja perpustakaan misalnya.
Ah, Tetsuya rindu tempat itu. Terhitung tiga hari sudah Tetsuya tidak mampir. Tetsuya memang benar-benar tidak bisa hidup tanpa perpustaakan. Tuhkan, menyebutkan namanya saja Tetsuya sudah geli untuk melenggang pantat kesana.
Kalau bukan karna sekelas dengan Akashi-kun yang punya mata dikepala belakangnya, Tetsuya pasti lebih gampang untuk melarikan diri dari kelasnya.
Jujur saja, waktu kelas satu dulu sebelum Ia sekelas dengan si Emperor mesum itu, hidup Tetsuya selama disekolah lebih banyak digunakan untuk membolos.
Lagipula, aku cuman membolos ke perpustakaan dan membaca disana. Apa bedanya dengan dikelas?, sanggahnya jika makhluk paling buluk seentaro sekolah(baca: Aomine-kun) mulai menceramahinya layaknya seorang mama.
Tetsuya yang bosan memandang lapangan dari jendela. Samar-samar Tetsuya mendengar Akashi-kun sedang membaca dengan kalimat fasih Bahasa eigo didepan sana. And god… saking perginya kewarasan dari kehidupan Tetsuya, Ia sampai lupa kalau sebentar lagi musim akan berganti menjadi musim semi.
Membayangkan pohon sakura besar didepan rumahnya berbunga saja, sudah membuat hati Tetsuya berbunga-bunga. Apalagi kalau Ia dan keluarga nya bisa menikmati sakura dengan minum teh Bersama dibawahnya? Ah Tetsuya sudah tidak sabar.
"-su, Tetsu!"
Seperti ditarik ke dunia nya, Tetsuya mengalihkan pandang dari jendela. Dan menemukan segerombol manusia dengan rambut warna warni dan kerap di cap sebagai kisedai sudah mengelilingi mejanya. Bahkan Akashi-kun juga sudah membalik kurisnya dan menyilangkan tangan didadanya.
Tetsuya melamun seberapa lama memangnya?
"Kelasnya sudah selesai?", Tanyanya sambil mengerjapkan mata.
"Sudah dari tadi, kau kenapa? Sakit? Sampai melamun begitu". Si dark skin mulai mempraktekan sifat ke-Ibu-annya yang anehnya, hanya berlaku untuk dirinya.
"Aku tidak sakit sama sekali Aomine-kun, terima kasih sudah bertanya"
"Daripada melamun manyun-manyun cantik gitu, lebih baik kita ke kantin"
"Siapa yang cantik?"
"Tetsu-lah, siapa lagi?"
"Jangan bikin kesal deh, Aomine-kun"
"Kalau gak mau dibilang cantik, Yasudah. Imut saja bagaimana?"
"hoek"
"hoek". Acara pura-pura muntah Tetsuya ternyata disponsori oleh seluruh warga rambut warna-warni. Hebatnya lagi, Akashi-sama ikut juga dalam momen ini. Tetsuya saja sampai hampir ternganga.
"Kalian kenapa? Hamil?"
"Otakmu ituloh yang hamil, Ahominechhi"
"Dimana mana hamil itu di perut, dasar kuning bau. Begitu saja tidak tahu"
"Yang bau itu Aominechhi! Makanya mandi pakai sabun manusia-ssu, jangan mandi dengan sabun untuk sapi!"
"Apa kau bilang?!"
"Apa? Memangnya salah?!"
"Menurutmu?! Dasar pirang sok kecantikan"
"Hah?! Kurang ajar kau gangguro nyasar"!
"Dasar make up tebal"
"Ahomine Dakian!"
Dan yah, terjadilah acara lempar-lemparan buku yang hampir-hampir sudah seperti upacara di senin pagi: wajib bagi sang duo kopi-susu.
"Kalian ini berisik-nodayo. Sekali saja tidak absurd bisa tidak?". Mata tajam dan aura keras yang dikeluarkannya sungguh akan selalu membuat orang-orang takut. Kalau kata siswa-siswi satu sekolah, jika Akashi Seijuro adalah pemimpinnya, menusia yang identik dengan surai hijau alias Midorima Shintaro adalah wakilnya.
Sama-sama bejat, sama-sama jahat, dan berwajah seram.
Tapi beda Seijuro, beda Shintaro. Meski inisial nama mereka sama-sama diawali huruf S dan diakhiri dengan O. Seijuro sudah dipastikan tidak akan membawa barang-barang aneh bersamanya(kalau gunting nya tidak diikut sertakan ya). Seperti halnya harini.
Shintaro terkenal dengan kecintaan dan kesetiaan nya pada acara televisi zodiak Oha-asa. Siaran TV yang pagi sekali ditayangkan itu tidak pernah dilewatkan oleh Shintaro. Dan apapun Lucky Item yang disebut Oha-asa sebagai penangkal kesialan bagi sang zodiak cancer, akan dibawanya dengan senang hati.
Dan bertenggerlah dengan manis boneka Barbie berambut pirang panjang ditangannya yang diperban. Dengan gaun pink dengan glitter-glitter disetiap sudut kainnya bisa membuat yang melihat sakit mata.
Dan itulah kenapa: Semarah-marahnya Midorima Shintaro, orang hanya akan tertawa apalagi setelah melihat Lucky Itemnya.
Dan tentu saja itu hanya berlaku jika Ia membawa Lucky Item kelewat absurd seperti itu. Lain cerita lagi kalau Ia membawa Lucky Item malapetaka seperti Chainsaw, pedang samurai, tombak ikan dan barang barang aneh yang kelewat bahaya jika dibawa kemana-mana.
Jika seperti itu, Seijurou akan berpangkat dari setan menjadi iblis untuk menakut-nakuti Shintaro agar Ia tak membawa benda-benda laknat itu masuk kedalam sekolah.
Bisa berbahaya untuk Tetsuya-nya kan?
Halah, modus mu mas mas.
Kembali lagi ke pasangan kombi duo kopi-susu yang hanya melirik Midorima sebentar, kemudian kembali bertengkar layaknya Midorima hanya serangga lewat.
Kalau saja yang kubawa adalah pedang peninggalan sejarah Shinsengumi berupa pedang Izuminokami Kanesada, kepala kalian sudah meninggalkan tubuh kalian dari tadi.
Oi, itu aset negara, Midorima.
Tetsuya beranjak dari duduknya, daripada buang-buang waktu disini, mending ke perpus saja. Batinnya.
Belum juga setengah berdiri, manik heterokrom Akashi mengkilat. "Mau kemana, Tetsuya?"
Hah, sulit sekali kabur dari singa jantan ini. Instingnya luar biasa tajam seperti seorang suami yang sedang menjaga istrinya yang sedang hamil tua.
"Mau ke perpus, Akashi-kun", sekenanya menjawab pertanyaan. Tetsuya mulai berjalan keluar kelas. Diikuti Akashi, tentu saja.
"Akashi-kun ngapain?"
"Jalan"
"Tau, tapi mau kemana?"
"Perpus lah, Tetsuya kan mau ke perpus"
"Tidak kekantin dengan yang lain?"
"Tidak lapar"
Growl
Kuroko berhenti, Akashi juga berhenti. Kuroko menatap Akashi, tapi Akashi malah berpaling.
Menampik kejadian memalukan yang baru saja terjadi, Akashi dengan cepat berbalik lagi menuju Tetsuya yang menatapnya dengan heran. "Tetsuya, tadi itu bukan peru―"
"Akashi-kun", potongnya.
"Yang tadi itu kelewat nyaring kalau sedang di perpustakaan. Daripada malu sendiri, lebih baik Akashi-kun makan saja dengan teman-teman", dan dengan watadosnya. Tetsuya meninggalkan Akashi dikoridor sekolah. Dengan wajah menahan malu, tapi juga tidak bisa dibohongi kalau Ia kelaparan.
Seijuro memang tidak sempat sarapan tadi pagi. Menenggak susu saja tidak sempat, apalagi sarapan. Salahkan mimpinya dengan Tetsuya tadi malam terlalu asik, sampai-sampai seorang Akashi Seijuro harus bangun terlambat dan pergi dengan tergesa-gesa juga, takut kalau Tetsuya sudah pergi dari rumahnya.
Ketika bersyukur Tetsuya masih belum berangkat, si makhluk baby blue itu malah mau main cat and dog dipagi hari bersamanya. Dengan perut kosong akhirnya mau tidak mau (tapi Seijuro suka) aksi kejar-kejar an dipagi hari harus dilakoninya Bersama sang gebetan. Walaupun pada akhirnya, Akashi harus menggendong Tetsuya bak sekarung kentang diatas pundaknya.
Bersyukur juga Tetsuya sekarang memakai legging hitam tebal dibawah roknya, demi menghindari kejadian semalam terjadi lagi. Akashi semakin leluasa menggendongnya.
Bodo amat sama tatapan tetangga, bodo amat juga ketika sampai sekolah para fans nya menggila sampai ada yang masuk UKS karna terkejut betapa beruntungnya Kuroko Tetsuya.
Yah, lain cerita kalau Tetsuya paham dengan kode-kode yang selama ini kau tebar-tebar padanya, Akashi-kun.
"Loh, Akashichhi tidak jadi ke perpus dengan Kurokochhi ssu?"
Dan Akashi mati-matian tidak membotaki Kise Ryota dengan gunting keramatnya.
Haaah, surga.
Tetsuya merasa tidak perlu mati untuk melihat isinya surga bagaimana. Cukup datang ke perpustakan dijam makan siang. Dimana tak ada seorang pun yang berniat membaca.
Disapanya seorang siswi yang tengah piket siang ini sebelum berlanjut menuju keperpustakaan yang lebih dalam. Meninggalkan sang siswi piket yang terheran-heran.
A,b,c, ah ini dia.
Rak dengan tumpukan buku yang agak berdebu dilemari nomer empat itu kali ini menjadi jajahan Tetsuya. Jari jemarinya menyusuri setiap punggung buku demi menemukan judul yang pas.
Kadang kepalanya sedikit ditelengkan demi membaca judul. Dan akhirnya mengambil sebuah buku dirak paling tengah. Membaca sinopsisnya sebentar, kemudian membawa buku itu kesatu bangku kosong dekat dengan jendela yang langsung mengarah pada lapangan basket.
Ah, basket.
Aku harus membuat sebuah keputusan.
TO BE CONTINUED
Halo! Semoga masih ingat dengan cerita ini ya! *hugs*
